BAB IV INDUSTRI PRIORITAS - UKSW 2018. 11. 28.¢  BAB IV. INDUSTRI PRIORITAS . Sesuai dengan Undang-Undang

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB IV INDUSTRI PRIORITAS - UKSW 2018. 11. 28.¢  BAB IV. INDUSTRI PRIORITAS . Sesuai...

  • 13

    BAB IV INDUSTRI PRIORITAS

    Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, dijelaskan bahwa secara garis besar, industri pengolahan ikan laut dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu kelompok pengolah ikan serta kelompok penambahan nilai ikan. Kelompok pengolah ikan merupakan upaya melakukan pengawetan ikan secara tradisional dengan hasil akhir masih berupa ikan, terdiri dari pengalengan, pemindangan, pengeringan/ penggaraman, pengasapan/ pemanggangan dan pembekuan. Sedangkan penambahan nilai ikan merupakan hasil olahan turunan dari ikan baik dari daging, kulit maupun tulang ikan. Kelompok ini terdiri dari surimi (daging ikan giling), fillet dan turunannya seperti bakso ikan, nugget ikan, otak-otak, kaki naga, kerupuk ikan, terasi dan olahan lainnya. Secara terperinci, hasil pengolahan ikan tergambarkan dalam pohon industri ikan (Gambar 4.1). Pohon industri ikan menunjukkan beragamnya produk untuk industri ikan, yang terdiri dari ikan hidup, ikan utuh (meliputi ikan segar dan ikan beku), ikan olahan (fillet), ikan kaleng, ikan asap, ikan pindang, ikan asin, ikan kering dan produk lainnya (meliputi ekstrak ikan, kecap ikan, tepung ikan serta minyak ikan). Jika difokuskan pada industri olahan ikan, maka produk untuk industri pengolahan ikan meliputi ikan utuh (meliputi ikan segar dan ikan beku), ikan olahan (fillet), ikan kaleng, ikan asap, ikan pindang, ikan asin, ikan kering dan produk lainnya (meliputi ekstrak ikan, kecap ikan, tepung ikan serta minyak ikan).

  • PENGEMBANGAN INDUSTRI PRIORITAS: RENCANA AKSI DAN AKSELERASI (Studi Pada Industri Pengolahan Ikan)

    14

    Ikan

    Ikan Hidup (Live Fish)

    Ikan Utuh (Whole Fish)

    Ikan Olahan

    Ikan Kaleng

    Ikan Asap

    Ikan Pindang

    Ikan Asin

    Ikan Kering

    Lainnya

    Ikan Segar (Fresh Fish)

    Ikan Beku (Frozen Fish)

    Ekstrak Ikan

    Kecap Ikan

    Fillet

    Minyak Ikan

    Tepung Ikan

    Sumber: Potensi Pengembangan Industri di Jawa Tengah, 2015

    Gambar 4.1. Pohon Industri Ikan

    Mengingat jenis industri yang tergabung dalam industri pengolahan ikan maka untuk kepentingan pengembangan perlu ditentukan jenis industri pengolahan ikan mana yang menjadi prioritas pengembangan. Dalam pemilihan prioritas industi dilakukan analisis rantai nilai mulai dari sektor hulu hingga sektor hilir.

    4.1 Sektor Hulu

    Sektor hulu dalam studi ini menggambarkan input dalam sebuah rantai nilai, meliputi jumlah tempat pelelangan ikan dan produksi di tempat pelelangan ikan

    a. Input

    Input dalam sebuah proses produksi meliputi bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja dan overhead pabrik lainnya. Namun demikian, yang menjadi input utama adalah bahan baku dan tenaga kerja (yang dalam istilah akuntansi disebut sebagai prime cost). Terkait dengan bahan baku, produk hasil industri

  • Industri Prioritas

    15

    pengolahan ikan memiliki bahan baku seperti yang tersaji dalam tabel 4.1

    Tabel 4.1. Bahan Baku Produk Pengolahan Ikan NO PRODUK Bahan Baku 1 Ikan segar Ikan tongkol, kakap, kerapu, udang, lele, 2 Ikan beku Kakap, kerapu, bawal, udang, tengiri, tongkol 3 Ikan fillet Tengiri, tongkol, nila, mujair, patin 4 Ikan kaleng Tuna, rajungan, cakalang 5 Ikan asap Ikan Layang, Ikan Kembung, Ikan Lemuru,

    Ikan Tembang 6 Ikan pindang Belanak 7 Ikan asin Ikan Layang, Ikan Kembung, Ikan Lemuru,

    Ikan Tembang, Ikan Selar 8 Ikan kering Cumi-cumi, teri, 9 Lainnya Sisa pengolahan ikan fillet

    Sumber: Potensi Pengembangan Industri di Jawa Tengah, 2015 dan Klasifikasi dan Definisi Komoditas Hasil Pertanian, 2013

    Dari bahan baku tersebut diatas, akan dianalisis mengenai kecukupan bahan baku yang dilihat dari hasil produksi dibandingkan dengan bahan baku yang tersedia.

    Tabel 4.2. Jumlah Bahan Baku Masing-Masing Produk Olahan Ikan (dalam ton)

    PRODUK Penangkapan Tambak Total

    Ikan segar 12,720.20 9,942.20 22,662.40

    Ikan beku 112,716.30 6,229.50 118,945.80

    Ikan fillet 13,848.30 1,730.90 15,579.20

    Ikan kaleng 689.10 689.10

    Ikan asap 59,083.80 59,083.80

    Ikan pindang 418.70 418.70

    Ikan asin 59,083.80 59,083.80

    Ikan kering 3,430.20 3,431.20 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, 2012

    Tabel 4.2 menunjukkan bahwa bahan baku untuk ikan beku memiliki ketersediaan bahan baku yang tertinggi yaitu 118.945,8 ton dilanjutkan dengan bahan baku untuk ikan asap dan ikan asin yaitu masing-masing sebesar 59.083,80 ton. Sementara ketersediaan dari ikan pindang memiliki volume yang paling kecil yaitu 418.70 ton. Jika dibandingkan dengan

  • PENGEMBANGAN INDUSTRI PRIORITAS: RENCANA AKSI DAN AKSELERASI (Studi Pada Industri Pengolahan Ikan)

    16

    volume produksi yang dihasilkan oleh masing- masing produk pengolahan maka semua produk ikan menunjukkan bahwa bahan baku memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan hasil produksi (Grafik 4.2). Hal ini diduga karena bahan baku sebagian didatangkan dari luar Jawa Tengah.

    Gambar 4.2. Perbandingan antara Bahan Baku dan Hasil Produksi

    Olahan Ikan

    Gambar 4.2 diatas menunjukkan bahwa semua jenis produk memilki volume produksi diatas volume bahan baku. Bahan baku yang digunakan sebagai basis data adalah yang merupakan hasil tangkapan dan hasil budidaya. Namun demikian, jika dilihat dari prosentase ditemukan bahwa selisih terendah adalah untuk ikan asap yang hanya 5.84% dibandingkan dengan volume produksinya. Selisih terendah selanjutnya adalah untuk ikan asin dan ikan beku yaitu 48% dan 62.74% dibandingkan dengan volume produksinya.

    Tabel 4.3 Gap Bahan Baku dan Volume Produksi Produk Olahan Ikan

    Produk Bahan

    Baku (ton) Produksi

    (ton) Gap

    %

    Ikan segar 22,662.40 66,442.00 43,779.60 65.89% Ikan beku 118,945.80 319,216.00 200,270.20 62.74% Ikan kaleng 689.10 55,790.00 55,100.90 98.76% Ikan asap 59,083.80 62,750.00 3,666.20 5.84% Ikan pindang 418.70 133,787.00 133,368.30 99.69% Ikan asin 59,083.80 113,624.00 54,540.20 48.00% Ikan kering 3,431.20 113,624.00 110,192.80 96.98%

    Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, 2012

    22,662.40

    118,945.80

    689.10

    59,083.80

    418.70

    59,083.80

    3,431.20

    66,442.00

    319,216.00

    55,790.00 62,750.00

    133,787.00 113,624.00 113,624.00

    -

    50,000.00

    100,000.00

    150,000.00

    200,000.00

    250,000.00

    300,000.00

    350,000.00

    Ikan segar

    Ikan beku

    Ikan kaleng

    Ikan asap

    Ikan pindang

    Ikan asin

    Ikan kering

    Bahan Baku

    Produksi

  • Industri Prioritas

    17

    b. Jumlah Tempat Pelelangan Ikan

    Jumlah TPI juga merupakan salah satu pertimbangan penentuan lokus, khususnya terkait dengan penyediaan bahan baku. Ranking lima besar dari jumlah TPI untuk Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2014 berdasar data BPS adalah (1) Kabupaten Jepara dengan 12 TPI; (2) Kabupaten Rembang dengan 10 TPI; (3) Kabupaten Cilacap dengan 10 TPI; (4) Kabupaten Kebumen dengan 8 TPI; (5) Kabupaten Pati dengan 8 TPI.

    Tabel 4.4. Jumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, 2011-2014

    Kabupaten/ Kota

    2011 2012 2013 2014

    Kab. Cilacap 11 11 10 10 Kab. Kebumen 8 8 8 8 Kab. Purworejo - 3 3 3

    Pantai Selatan 19 22 21 21 Kab. Rembang 12 12 10 10 Kab. Pati 7 7 8 8 Kab. Jepara 11 11 12 12 Kab. Demak 2 2 2 2 Kab. Kendal 5 5 5 5 Kab. Batang 4 4 4 4

    Kab. Pekalongan 2 2 2 2 Kab. Pemalang 5 5 5 5 Kab. Tegal 3 3 3 2 Kab. Brebes 8 8 6 6 Kota Semarang 1 1 1 1

    Kota Pekalongan 1 1 1 1 Kota Tegal 3 3 3 3

    Pantai Utara 64 64 62 61

    Jawa Tengah 83 86 83 82 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2014

    c. Produksi di Tempat Pelelangan Ikan

    Menurut data BPS, jumlah produksi dan nilai produksi perikanan laut yang dijual di TPI di Jawa Tengah cenderung mengalami peningkatan, yaitu dari jumlah produksi sebesar 145.524 ton, dengan nilai produksi sebesar 1.147.610 (juta

  • PENGEMBANGAN INDUSTRI PRIORITAS: RENCANA AKSI DAN AKSELERASI (Studi Pada Industri Pengolahan Ikan)

    18

    rupiah) pada tahun 2011 menjadi sebesar 193.933 ton, dengan nilai produksi 1.678.186 (juta rupiah) di tahun 2014.

    Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2014

    Gambar 4.3. Produksi dan Nilai Produksi Perikanan Laut yang dijual di TPI di Jawa Tengah, 2011-2014

    Apabila dilihat lebih lanjut dari jumlah produksi dan nilai produksi perikanan laut yang dijual di TPI menurut data BPS (Tabel 4.4) untuk Kabupaten/Kota di Jawa Tengah pada tahun 2014, maka jumlah produksi dan nilai produksi di Pantai Utara yaitu 180.635.688 kg dan 1.540.525.424 (ribu rupiah) adalah lebih tinggi daripada jumlah produksi sebesar 13.297.260 kg dan nilai produksi sejumlah 137.330.178 (ribu rupiah) di Pantai Selatan. Ranking lima besar untuk Kabupaten/Kota di Jawa Tengah berdasarkan jumlah produksi (kg) secara berturut-turut adalah (1) Kabupaten Rembang yaitu 59.828.255; (2) Kabupaten Batang sebesar 27.974.811; (3) Kabupaten Pemalang sebesar 27.233.619; (4) Kota Tegal sebesar 23.746.575; (5) Kabupaten Pati sebesar 15.816.096.