of 17/17
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dilakukan oleh Kurniasari (2010) dengan menggunakan objek penelitian pada PG Tjoekir Jombang periode 2005 sampai 2007. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan kebijakan piutang pada PG Tjoekir Jombang dinyatakan tidak efektif dikarenakan hasil monitoring piutang dagang cenderung mengalami penurunan. Penelitian yang dilakukan oleh Pebriani (2010) dengan menggunakan objek penelitian pada perusahaan X periode 2006 sampai 2008. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan manajemen piutang pada perusahaan X tidak efektif, dikarenakan bahwa terdapat rasio aktivitas yang berada dibawah standar yang ditetapkan. Perusahaan X juga mengalami masalah keterlambatan pembayaran yang melebihi batas waktu jatuh tempo dan ketidaksesuaian jumlah pembayaran dengan jumlah piutang yang terjadi. Penelitian yang dilakukan oleh Dermawan (2016) menggunakan objek penelitian pada KSU Brosem Batu periode 2010-2014. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan piutang yang diterapkan Brosem masih belum efektif dikarenakan kebijakan penjualan kredit dan penagihan piutang masih sangat lunak da nada beberapa piutang yang tidak tertagih.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/40105/3/BAB II.pdf · 2018. 11. 15. · 11 b. Piutang Wesel/ Wesel Tagih (Note Receivable) Piutang

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/40105/3/BAB...

  • 6

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulu

    Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dilakukan oleh

    Kurniasari (2010) dengan menggunakan objek penelitian pada PG Tjoekir

    Jombang periode 2005 sampai 2007. Hasil dari penelitian ini menunjukkan

    bahwa pengelolaan kebijakan piutang pada PG Tjoekir Jombang dinyatakan

    tidak efektif dikarenakan hasil monitoring piutang dagang cenderung

    mengalami penurunan.

    Penelitian yang dilakukan oleh Pebriani (2010) dengan menggunakan

    objek penelitian pada perusahaan X periode 2006 sampai 2008. Hasil dari

    penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan manajemen piutang pada

    perusahaan X tidak efektif, dikarenakan bahwa terdapat rasio aktivitas yang

    berada dibawah standar yang ditetapkan. Perusahaan X juga mengalami

    masalah keterlambatan pembayaran yang melebihi batas waktu jatuh tempo

    dan ketidaksesuaian jumlah pembayaran dengan jumlah piutang yang terjadi.

    Penelitian yang dilakukan oleh Dermawan (2016) menggunakan objek

    penelitian pada KSU Brosem Batu periode 2010-2014. Hasil dari penelitian ini

    menunjukkan bahwa pengelolaan piutang yang diterapkan Brosem masih

    belum efektif dikarenakan kebijakan penjualan kredit dan penagihan piutang

    masih sangat lunak da nada beberapa piutang yang tidak tertagih.

  • 7

    B. Tinjauan Teori

    1. Pengelolaan Piutang Dagang

    Menurut Brigham dan Houston (2001), pengelolaan piutang dagang

    dimulai dengan keputusan apakah akan memberikan kredit atau tidak, dalam

    mengelola piutang juga ada cara-cara piutang perusahaan dibentuk dan

    beberapa cara alternatif untuk memantau piutang. Sistem pemantauan

    digunakan, karena jika tidak piutang akan menumpuk menjadi suatu yang

    berlebihan, arus kas menurun dan piutang tak tertagih menutupi laba dari

    penjualan.

    Pengelolaan piutang mempelajari bagaimana piutang bisa dikelola

    dengan efisien. Rata-rata saldo piutang ditentukan oleh dua faktor yaitu

    penjualan kredit per hari dan jumlah harihari rata periode pengumpulan

    piutang. Keduanya sangat tergantung pada kebijakan kredit yang dijalankan

    oleh perusahaan. Piutang mengandung risiko berupa kegagalan penagihan

    atau biasa disebut bad debts, kemungkinan risiko ini akan semakin kecil

    apabila perusahaan hanya melakukan penjualan kredit kepada pelanggannya

    yang terkuat saja. Resiko piutang adalah tidak tertagih dan akan

    menimbulkan credit cost (biaya kredit). Biaya kredit tersebut adalah :

    a. Kegagalan memenuhi default (kewajiban) atau kerugian piutang macet.

    b. Biaya penelitian dan penagihan yang lebih tinggi

    Piutang merupakan asset yang cukup material. Oleh karena itu

    diperlukan manajemen pengelolaan piutang yang efektif dan efisien agar

  • 8

    jumlah dana yang diinvestasikan dalam piutang sesuai dengan tingkat

    kemampuan perusahaan sehingga tidak mengganggu aliran kas.

    2. Keputusan Penjualan Kredit dan Piutang Dagang

    Kondisi persaingan yang semakin tajam memaksa perusahaan untuk

    memberikan pelayanan yang maksimal kepada pelanggannya. Salah satu

    cara yang dilakukan yaitu dengan menjual produknya secara kredit.

    Penjualan secara kredit akan memunculkan piutang.. Pemberian piutang

    akan meningkatkan volume penjualan dan menaikkan pangsa pasar, dengan

    pemberian tersebut suatu perusahaan diharapkan mampu bertahan dan

    bersaing dengan perusahaan lainnya.

    Menurut Kasmir (2010:244) penjualan kredit merupakan penjualan

    barang dimana pembayarannya dilakukan secara angsuran (cicilan) sesuai

    kesepakatan yang dibuat antara penjual dan pembeli untuk jangka waktu

    tertentu dengan masing-masing hak dan kewajibannya. Penjualan kredit

    tidak segera menghasilkan penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang

    langganan dan barulah kemudian pada hari jatuhnya terjadi aliran kas masuk

    (cash inflow) yang berasal dari pengumpulan piutang tersebut. Adanya

    tenggang waktu antara penyerahan barang dengan pembayarannya akan

    menimbulkan beberapa resiko yang mungkin timbul yaitu biaya pengelolaan

    kredit dan piutang tak tertagih.

    Perusahaan dalam melaksanakan suatu kegiatan pasti mempunyai

    tujuan tertentu, begitu juga dengan keputusan suatu perusahaan melakukan

  • 9

    penjualan secara kredit. Menurut Halim dan Sarwoko (2008:105) tujuan

    perusahaan melakukan penjualan secara kredit antara lain:

    a. Untuk meningkatkan penjualan, pada umumnya para pelanggan lebih

    menyukai pembelian secara kredit daripada harus membayar secara tunai.

    Maka untuk meningkatkan penjualan, perusahaan melakukan penjualan

    secara kredit.

    b. Untuk meningkatkan laba, akibat dari adanya penjualan secara kredit

    maka akan mengakibatkan kenaikan penjualan, kenaikan ini diharapkan

    dapat menaikkan laba perusahaan.

    c. Untuk menghadapi persaingan, agar posisi perusahaan dapat bertahan

    dalam menghadapi persaingan pasar, maka perusahaan harus melakukan

    penjualan secara kredit.

    Selain memiliki tujuan, penjualan kredit juga memiliki manfaat.

    Menurut Saputro (2000:62) manfaat adanya penjualan secara kredit adalah:

    a. Meningkatkan omset penjualan, pembeli yang biasanya membeli dalam

    jumlah kecil akan terdorong untuk meningkatkan volume pembeliannya

    dengan ditawarkannya pembayaran kredit kepada mereka.

    b. Meningkatkan keuntungan, dengan meningkatnya volume penjualan,

    maka keuntungan diharapkan akan meningkat.

    c. Meningkatkan hubungan dagang antara perusahaan dengan pembeli,

    adanya utang piutang maka hubungan dagang antara perusahaan dengan

    para pembelinya menjadi lebih erat.

  • 10

    Penjualan secara kredit dapat menimbulkan piutang pada

    perusahaan, piutang merupakan hak menagih dari pemberi uang atau jasa

    kepada penerima jasa yang membentuk hubungan dimana yang pihak satu

    berutang dengan pihak pemberi piutang (Hermawan, 2013:29). Piutang

    dapat diklasifikasi menjadi dua yaitu piutang dagang yang timbul dari

    penjualan secara kredit dan piutang non dagang yang timbul dari pinjaman

    karyawan, pinjaman kepada anak perusahaan, serta piutang deviden.

    Menurut Nafarin, M (2007:294) piutang merupakan aktivitas yang

    timbul karena adanya transaksi penjualan secara kredit oleh perusahaan

    kepada pelanggannya. Piutang muncul saat perusahaan menjual barang

    dagangan atau jasa kepada pihak lain. Dapat disimpulkan bahwa piutang

    adalah hak untuk menagih sejumlah uang dari pihak penjual kepada pihak

    pembeli yang timbul karena adanya suatu transaksi penjualan barang atau

    jasa secara kredit.

    3. Klasifikasi Piutang

    Pengklasifikasian piutang dilakukan untuk memudahkan pencatatan

    transaksi. Berikut adalah klasifikasi piutang menurut Kasmir (2010:246)

    diantaranya:

    a. Piutang Usaha (Account Receivable)

    Piutang usaha yaitu piutang yang berasal dari penjualan barang atau

    jasa yang merupakan kegiatan usaha normal perusahaan.

  • 11

    b. Piutang Wesel/ Wesel Tagih (Note Receivable)

    Piutang wesel/ wesel tagih yaitu jumlah terhutang bagi pelanggan jika

    perusahaan telah menerbitkan surat hutang formal. Wesel biasanya

    digunakan untuk jangka waktu yang pembayarannya lebih dari 60 hari.

    Jika wesel diperkirakan akan tertagih dalam jangka waktu satu tahun,

    maka dalam neraca wesel diklasifikasikan sebagai aktiva lancar.

    c. Piutang Lain-lain

    Piutang lain-lain yaitu meliputi piutang bunga, piutang pegawai, dan

    piutang dari perusahaan. Jika piutang lain-lain diperkirakan dapat

    ditagih dalam jangka waktu satu tahun maka piutang ini diklasifikasikan

    sebagai aktiva lancar.

    Dari klasifikasi piutang diatas dapat disimpulkan piutang mempunyai

    beberapa jenis, diantaranya piutang usaha, piutang ini berasal dari penjualan

    barang maupun jasa di suatu perusahaan dan piutang lancar. Piutang lancar

    berarti sama seperti piutang jangka pendek yang waktu pembayarannya

    dalam kurun waktu 1 tahun.

    4. Faktor-Faktor Penentu Besarnya Investasi pada Piutang Dagang

    Sutrisno (2007:55) menyatakan ada beberapa faktor yang

    mempengaruhi besar kecilnya investasi pada piutang yaitu:

    a. Besarnya Volume Penjualan Kredit

    Volume penjualan kredit yang diberikan kepada pelanggan akan

    ikut menentukan besar kecilnya investasi dalam piutang. Semakin besar

  • 12

    jumlah penjualan kredit daripada penjualan tunai maka akan semakin

    besar jumlah investasi dalam piutang. Begitupun sebaliknya jika volume

    penjualan kredit sedikit maka akan terjadi penurunan investasi pada

    piutang. Pembeli atau calon pelanggan akan tertarik membeli barang jika

    diberikannya tenggang waktu pembayaran yang longgar. Tenggang

    waktu yang terlalu pendek tidak mendorong mereka untuk membeli

    dalam jumlah yang lebih banyak dan bahkan akan memilih supplier lain.

    b. Syarat Pembayaran

    Syarat pembayaran berkaitan dengan berakhirnya jatuh tempo

    piutang yang harus dibayar kepada debitur. Semakin panjang waktu

    kredit yang diberikan semakin besar investasi dalam piutang. Demikian

    sebaliknya semakin pendek batas waktu pembayaran kredit berarti

    semakin kecil investasi dalam piutang.

    c. Plafon Kredit

    Plafon kredit ini menggambarkan seberapa besar kredit yang akan

    diberikan kepada pelanggan. Plafon kredit untuk masing-masing

    pelanggan tidak harus sama, tetapi tergantung dari besarnya usaha yang

    dimiliki oleh pelanggan dan tingkat kepercayaan perusahaan terhadap

    pelanggan. Semakin besar plafon kredit yang diberikan untuk pelanggan,

    maka semakin besar investasi dalam piutang dan begitupun sebaliknya.

    d. Kebiasaan Pembayaran Pelanggan

    Apabila kebiasaan pelanggan dalam membayar memanfaatkan

    masa diskon, maka investasi pada piutang semakin kecil, tetapi bila

  • 13

    kebiasaan pelanggan membayar pada saat jatuh tempo maka investasi

    pada piutang semakin besar.

    e. Kebijakan dalam Pengumpulan Piutang

    Perusahaan dalam melakukan pengumpulan piutang ada yang

    menerapkan kebijakan yang sangat ketat (aktif) dan ada juga yang

    longgar (pasif). Perusahaan yang menggunakan kebijakan sangat ketat

    biasanya menggunakan jasa debt collector sehingga pengumpulan

    piutang lebih tepat waktu tetapi perlu tambahan biaya dalam

    pengumpulan piutang tersebut.

    Perusahaan yang menggunakan kebijakan yang longgar (pasif)

    yaitu perusahaan berkeyakinan (percaya) bahwa pelanggan menepati

    janji dalam pembayaran, maka resiko tertunggaknya piutang lebih besar.

    Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin ketat kebijakan pengumpulan

    piutang maka semakin kecil investasi pada piutang dan bila longgar maka

    piutangnya juga akan semakin besar.

    5. Model Pengelolaan Piutang Dagang Efektif

    Menurut Ravianto dalam Masruri (2014:11) Efektifitas adalah

    seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan

    keluaran sesuai dengan yang diharapkan. Ini berarti bahwa apabila sesuatu

    pekerjaan dapat diselesaikan dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya

    maupun mutunya, maka dapat dikatakan efektif.

  • 14

    Menurut Handayaningrat (2002:16) efektifitas merupakan

    pengukuran dalam arti tercapainya sasaran yaitu tujuan yang telah

    ditentukan sebelumnya. Efektifitas merupakan suatu ukuran yang

    memberikan gambaran seberapa jauh tujuan tercapai, baik secara kualitas

    maupun waktu orientasinya pada keluaran yang dihasilkan.

    Beberapa pengertian efektivitas diatas maka dapat disimpulkan

    bahwa efektivitas piutang adalah keadaan dan kemampuan yang dilakukan

    oleh karyawan dalam mengelola piutang secara tepat (kuantitas, kualitas dan

    waktu) sehingga dapat mengantisipasi piutang yang bermasalah dan

    perusahaan dapat mencapai tujuannya sesuai dengan apa yang diharapkan.

    Menurut Sartono (2012:432) untuk menentukan pengelolaan piutang

    efektif dan kredit yang optimal manajer keuangan harus mempertimbangkan

    beberapa variabel yang berkaitan dengan piutang yang meliputi:

    a. Standar kredit

    Standar kredit merupakan salah satu kriteria yang dipakai

    perusahaan untuk menyeleksi para pelanggan yang akan diberi kredit dan

    berapa jumlah yang harus diberikan. Menurut Kasmir (2010:259) ada

    lima dimensi utama (5C) dalam menganalisa pemohon kredit:

    1) Karakter (Character)

    Pemberian kredit kepada calon pelanggan adalah atas dasar

    kepercayaan, jadi yang mendasari suatu kepercayaan yaitu adanya

    keyakinan dari pihak perusahaan bahwa pelanggan mempunyai moral,

    watak maupun sifat-sifat pribadi yang positif serta mempunyai rasa

  • 15

    tanggung jawab baik dalam kehidupan pribadi sebagai manusia,

    kehidupan sebagai anggota masyarakat ataupun dalan menjalankan

    kegiatan usahanya.

    Karakter merupakan faktor yang paling penting, sebab

    walaupun pelanggan mampu menyelesaikan utangnya tetapi kalau

    tidak mempunyai iktikad baik tentu akan membawa berbagai kesulitan

    bagi perusahaan dikemudian hari.

    2) Kemampuan (Capacity)

    Kemampuan (Capacity) adalah suatu penilaian kepada calon

    pelanggan dengan melihat kemampuan pelanggan dalam meraih

    penjualan ataupun pendapatan yang dapat diukur dari penjualan yang

    dicapai pada masa lalu. Hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk

    membayar.

    3) Modal (Capital)

    Modal (Capital) adalah jumlah dana atau modal sendiri yang

    dimiliki calon pelanggan. Biasanya perusahaan mengukur posisi

    keuangan calon pelanggan secara umum dengan memperhatikan

    modal yang dimiliki perusahaan dan juga memperhatikan

    perbandingan hutang dan modal.

    4) Jaminan (Collateral)

    Jaminan (Collateral) adalah barang-barang jaminan yang

    diserahkan oleh calon pelanggan sebagai jaminan atas piutang yang

    diterima. Manfaat jaminan sebagai alat pengaman dalam menghadapi

  • 16

    kemungkinan adanya ketidakpastian pada kurun waktu yang akan

    datang pada saatnya piutang tersebut harus dilunasi.

    5) Kondisi (Condition)

    Kondisi ekonomi (Condition) adalah situasi politik, social,

    ekonomi, budaya dan lain-lain yang memepengaruhi kelancaran usaha

    dari calon pelanggan yang memperoleh piutang tersebut.

    Adanya pemberian kredit kepada para pelanggan maka akan

    memunculkan piutang dagang, yang mana berhubungan dengan risiko

    (masalah) piutang tak tertagih. Karena itu sebelum memberikan kredit

    suatu perusahaan harus menentukan standar kredit dengan baik, agar

    masalah piutang macet bisa dikendalikan.

    b. Persyaratan kredit

    Persyaratan kredit merupakan suatu kondisi yang diisyaratkan

    untuk pembayaran kembali piutang dari para pelanggan. Kondisi tersebut

    meliputi lama waktu pemberian kredit (periode kredit) dan potongan

    tunai serta persyaratan khusus lainnya. Misalnya ada syarat pembayaran

    5/10 – n/60, artinya bila piutang dibayar paling lambat 10 hari dari

    tanggal penjualan, akan diberikan diskon sebesar 5% dan batas akhir

    pembayaran piutang selama 60 hari.

    c. Monitoring piutang dagang

    Langkah selanjutnya yang harus diperhatikan dalam pengelolaan

    piutang yaitu dengan melakukan pemonitoran piutang dagang. Jika

    piutang dagang menunjukkan kecenderungan meningkat dan periode

  • 17

    pengumpulan piutang meningkat maka perusahaan perlu melakukan

    pemonitoran terhadap piutangnya.

    Monitoring piutang dagang bisa dilakukan dengan mengawasi

    periode pengumpulan piutang (Tangkilisan, 2003:247). Ada beberapa

    cara untuk mengawasi piutang, diantaranya:

    1) Tingkat Perputaran Piutang (Receivable Turnover)

    Salah satu cara untuk mengetahui pengelolaan piutang yang

    efektif dapat dilakukan dengan menghitung tingkat perputaran piutang

    dari hasil piutang perusahaan. Tingkat perputaran piutang digunakan

    untuk mengukur seberapa besar aktivitas dari piutang yang dimiliki

    perusahaan. Rasio perputaran piutang ini menggambarkan seberapa

    besar dana dalam piutang perusahaan berputar menjadi kas (Kasmir,

    2010:247).

    Menurut Syamsudin (2000:49) semakin tinggi account

    receivable suatu perusahaan semakin baik pengelolaan piutang.

    Account receivable turnover dapat ditingkatkan dengan cara

    memperketat kebijakan penjualan kredit, misalnya dengan

    memperpendek waktu pembayaran. Tetapi kebijakan ini cukup sulit

    untuk diterapkan, karena dengan semakin ketatnya kebijakan

    penjualan kredit kemungkinan besar volume penjualan akan menurun,

    sehingga hal tersebut bukannya membawa kebaikan bagi perusahaan

    bahkan sebaliknya.

  • 18

    Rasio tingkat perputaran piutang menggambarkan kualitas

    piutang perusahaan dan kesuksesan perusahaan dalam usaha

    penagihan piutang yang dimiliki, tingkat perputaran piutang dihitung

    sebagai berikut:

    Rata-rata piutang dagang di atas diperoleh dari:

    2) Hari Rata-rata Pengumpulan Piutang (Average Age of Account

    Receivable )

    Setelah menentukan seberapa besar tingkat perputaran piutang,

    selanjutnya menentukan hari rata-rata pengumpulan piutang. Hari

    rata-rata pengumpulan piutang merupakan periode pengumpulan

    piutang kepada pelanggan yang sudah melakukan transaksi penjualan

    secara kredit sampai piutang tersebut sudah dilunasi atau dibayarkan

    dengan keseluruhan (Kasmir, 2010:247). Guna mengetahui umur rata-

    rata piutang dapat dilihat dengan cara perhitungan sebagai berikut :

    3) Skedul Umur Piutang

    Skedul umur piutang adalah laporan yang menunjukkan berapa

    lama umur piutang dengan memberi prosentase pada kelompok

    piutang yang belum jatuh tempo dan kelompok piutang yang jatuh

    temponya telah melewati periode tertentu. Umur piutang dalam tabel

  • 19

    biasanya diklasifikasikan menjadi empat kategori yaitu: 1–30hari, 31–

    60hari, 61–90hari, lebih dari 90 hari (Brigham dan Houston,

    2013:287). Dapat dilihat pada Tabel 2.1.

    Tabel 2.1. Skedul Umur Piutang

    Umur Jumlah Persen

    1– 30 hari Xx Xx

    31-60 hari Xx Xx

    61–90 hari Xx Xx

    >90 hari Xx Xx

    Total Xx Xx

    Sumber: (Brigham dan Houston, 2013:287)

    Tabel 2.1 ini digunakan untuk mengetahui persentase piutang

    dagang dan cara mengelompokkan piutang tersebut dalam tingkat

    umur (lamanya piutang terjadi) setelah diketahui umurnya baru

    ditentukan persentase tidak tertagih setiap kelompok umur. Skedul

    umur piutang dagang yang baik menunjukkan prosentase yang kecil.

    d. Kebijakan Pengumpulan Piutang

    Menurut Syamsudin (2000:273) ada beberapa metode dalam

    penagihan piutang kepada pelanggan yaitu seperti :

    1) Penagihan melalui surat, bilamana waktu pembayaran utang dari

    langganan sudah lewat beberapa hari tetapi belum juga dilakukan

    pembayaran maka perusahaan dapat mengirim surat dengan nada

    “mengingatkan” langganan yang belum membayar tersebut bahwa

    utangnya sudah jatuh tempo.

  • 20

    2) Melalui telepon, apabila setelah dikirimkan surat teguran ternyata

    utang-utang tersebut belum juga dibayar maka bagian kredit dapat

    menelpon langganan dan secara pribadi memintanya untuk segera

    melakukan pembayaran. Kalau dari hasil pembicaraan tersebut

    ternyata misalnya langganan mempunyai alasan yang dapat diterima

    maka mungkin perusahaan dapat memberikan perpanjangan sampai

    suatu jangka waktu tertentu.

    3) Mengunjungi personal, pengumpulan piutang dengan cara melakukan

    kunjungan secara personal atau pribadi ke tempat langganan seringkali

    digunakan karena dirasakan sangat efektif dalam usaha-usaha

    pengumpulan piutang.

    4) Tindakan Yuridis, bilamana ternyata langganan tidak mau membayar

    utang-utangnya maka perusahaan dapat menggunakan tindakan-

    tindakan hukum dengan mengajukan gugatan perdata melalui

    pengadilan.

    C. Kerangka Pikir Penelitian

    Pada dasarnya kerangka konsep merupakan uraian konsep pemikiran

    peneliti dalam pemecahan masalah, sehingga kerangka pikir sangat

    menentukan kejelasan proses penelitian secara keseluruhan. Kerangka pikir ini

    dibuat untuk memberikan gambaran penelitian yang akan dilakukan yaitu

    mengenai pengelolaan piutang dagang pada CV Cita Mandiri periode 2015-

  • 21

    2017.Berdasarkan teori-teori yang telah dijelaskan, maka dapat digambarkan

    kerangka pikir sebagaimana yang terlihat pada Gambar 2.1.

    Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pikir Penelitian

    Berdasarkan Gambar 2.1 dapat diketahui bahwa penelitian ini berawal

    dari kebijakan penjualan kredit yang diterapkan di CV Cita Mandiri. Adanya

    penjualan kredit akan memunculkan piutang, apabila suatu piutang yang

    Kebijakan penjualan

    kredit

    Efektivitas Kebijakan

    Piutang

    Kebijakan

    Pemberian Kredit

    Kebijakan Penagihan

    Efektif Tidak Efektif

    Monitoring Piutang

    Dagang

    1. Standar Kredit 2. Persyaratan

    Kredit

    1. Tingkat Perputaran Piutang

    2. Hari rata-rata Pengumpulan

    Piutang

    3. Skedul Umur Piutang

    Usaha Pengumpulan

    Piutang

    Penilaian Keefektifan

    Pengelolaan Piutang

  • 22

    berlebihan dan jumlahnya besar tidak dikelola dengan baik maka akan

    menimbulkan piutang bermasalah atau piutang macet.

    Adanya masalah tersebut menjadikan CV Cita Mandiri perlu melakukan

    pengelolaan piutang yang efektif, pengelolaan dapat dilakukan dengan 3 cara

    di antaranya kebijakan pemberian kredit, monitoring piutang dagang dan

    kebijakan penagihan piutang. Kemudian membandingkan realisasi pengelolaan

    piutang CV Cita Mandiri saat ini dengan target pengelolaan piutang CV Cita

    Mandiri. Kemudian barulah diketahui apakah pengelolaan piutang yang

    dilakukan CV Cita Mandiri sudah efektif atau tidak. Jika tidak efektif maka CV

    Cita Mandiri perlu membuat perubahan atau perbaikan dalam hal pengelolaan

    piutangnya saat ini