BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sirosis Hati 2.1.1 Definisi 2.1 ... II.pdf · dari fibrosis parenkim hati

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sirosis Hati 2.1.1 Definisi 2.1 ... II.pdf · dari fibrosis parenkim hati

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sirosis Hati

2.1.1 Definisi

Sirosis Hati (SH) adalah penyakit hati menahun yang merupakan stadium lanjut

dari fibrosis parenkim hati secara progresif dan menyebabkan kerusakan parenkim

hati difus dan disertai pembentukan nodul (Sorensen dkk., 2007).

2.1.2 Epidemiologi

SH merupakan penyakit yang banyak dijumpai di seluruh negara termasuk

Indonesia dan angka kejadian sirosis hati semakin lama semakin meningkat. Pada

tahun 2000, di Amerika Serikat terdapat 360.000 orang penderita dirawat oleh karena

sirosis hati (Hidelbaugh dan Bruderly, 2006) sedangkan berdasarkan studi Roderick

dkk. (2004), terdapat 76 per 100.000 penduduk menderita SH di Inggris pada tahun

2001 dimana lebih dari separuh disebabkan oleh hepatitis alkoholik. Berdasarkan data

World Health Organization (WHO) pada tahun 2004 diperkirakan terdapat 800.000

kematian akibat SH dan menduduki peringkat 18 kematian tertinggi di dunia.

Prevalensi SH di Indonesia bervariasi pada setiap rumah sakit pendidikan.

Penelitian yang dilakukan oleh Karina dan Djagat.(2002) di Rumah Sakit Umum

Pusat (RSUP) Dr. Kariadi, Semarang, selama bulan Januari 2002 sampai Desember

2006 terdapat 637 orang dirawat dengan SH dengan angka kematian 97,0 yang

sebagian besar disebabkan oleh ensefalopati hepatikum (48,4%). Sedangkan di RSUP

Sanglah, penelitiaan yang dilakukan Somia dkk.(2004) terdapat 95 pasien SH dengan

usia rerata 54,3212,60 tahun. Penderita SH lebih banyak pada laki-laki

dibandingkan dengan wanita dengan perbandingan 2,06 : 1.

2.1.3. Patogenesis

Proses peradangan pada sel hati dapat menyebabkan nekrosis pada sel-sel hati

tersebut, dimana apabila nekrosis meliputi daerah yang luas dapat menyebabkan

terjadinya kolaps dari lobulus hati dan memacu timbulnya jaringan parut yang dapat

disertai terbentuknya septa fibrosis difus dan nodul sel hati (Sorensen dkk., 2007).

Walaupun etiologinya berbeda, gambaran histologi SH hampir sama atau sama. Septa

terbentuk dari sel retikulum yang kolaps dan berubah menjadi jaringan parut.

Jaringan parut ini dapat menghubungkan daerah porta yang satu dengan yang lainnya

atau porta dengan sentral (bridging necrosis). Beberapa sel akan tumbuh kembali dan

membentuk nodul dengan berbagai ukuran dan proses ini dapat menyebabkan distorsi

percabangan pembuluh hepatik dan gangguan dan hambatan aliran darah porta,

sehingga dapat menimbulkan hipertensi portal (Sherlock dan Dooley, 2002; Chung

dan Daniel, 2005; Tarigan, 2002; Sorensen dkk., 2007).

Tahap berikutnya adalah terjadi peradangan dan nekrosis pada sel duktulus,

sinusoid, dan sistem retikuloendotelial yang dapat menyebabkan terjadinya

fibrogenesis dan septa aktif. Fibrogenesis merupakan proses penyembuhan hati yang

ditandai oleh akumulasi matriks ekstraseluler disertai pembentukan jaringan parut,

namun hal ini menyebabkan rusaknya arsitektur hati yang normal. Sel yang

mempunyai peran sentral dalam fibrogenesis adalah sel-sel stelate hati (Hepatic

Stellate Cell: HSC), yang terletak di daerah perisinusoid. Pada hati normal HSC

hanya mengekspresikan kolagen tipe 1 dalam jumlah sangat sedikit. Sebaliknya pada

sel hati yang nekrosis, HSC akan mengalami proliferasi berubah menjadi matriks

ekstraseluler dalam jumlah besar (Sherlock dan Dooley, 2002; Chung dan Daniel,

2005).

2.1.4. Gambaran Klinis

SH pada tahap awal sering tidak memberikan gejala klinis dimana sebagian

besar penderita tetap asimtomatis hingga munculnya tanda-tanda dekompensasi

(Hidelbaugh dan Bruderly, 2006). Gambaran klinis SH secara umum disebabkan oleh

adanya kegagalan faal hati dan hipertensi portal (Sherlock dan Dooley, 2002;

Hidelbaugh dan Bruderly, 2006).

2.1.5. Derajat Penyakit Sirosis Hati

Derajat penyakit SH adalah katagori beratnya gangguan fungsi hati. Sampai

saat ini parameter yang digunakan adalah modifikasi kriteria Child- Turcotte-Pugh

(CTP), berdasarkan pemeriksaan klinis adanya ensefalopati hepatikum, asites serta

pemeriksaan kadar albumin, bilirubin serum, dan waktu protrombin atau

International Normalized Ratio (INR). Sesuai kriteria tersebut pasien SH

diklasifikasikan menjadi CTP A, B dan C (Sorensen dkk., 2007, Wolf., 2004).

Tabel 2.1. Klasifikasi Sirosis Modifikasi Kriteria Child-Turcotte-Pugh

Variabel Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3

Ensefalopati - Stadium 1-2 Stadium 3-4

Asites - Ringan Sedang-berat

Albumin (g%) >3,5 2,8 3,5 < 2,8

Bilirubin (mg%) 3,0

Protrombin Time (detik) 6

INR INR 2,3

Keterangan :

Jumlah nilai 5 6 : CTP A ( gangguan fungsi hati ringan )

Jumlah nilai 7 9 : CTP B ( gangguan fungsi hati sedang )

Jumlah nilai 10 15 : CTP C ( gangguan fungsi hati berat )

2.2. Kardiomiopati Sirosis

2.2.1 Definisi

KS merupakan gangguan jantung yang merupakan komplikasi dari SH (Moler

dan Henriksen ,2008).

2.2.2 Kriteria Diagnosis KS

Kriteria diagnosis KS berdasarkan kongres gastroenterologi dunia di Montreal

tahun 2005 adalah ditemukan lebih dari satu kelainan berupa gangguan diastolik atau

sistolik pada SH, perubahan struktur ruang jantung (pembesaran atrium kiri),

gangguan elektrofisiologi (pemanjangan interval QT), dan peningkatan peptida

natriuretik seperti NT-proBNP (Waleed dan Lee,2006).

2.2.3 Epidemiologi

KS merupakan salah satu komplikasi dari SH. Angka kejadian KS sangat

bervariasi. Menurut studi Raedle dkk. (2008) terdapat 80,6% DD pada SH, sedangkan

menurut studi Adigun dkk. (2005) terdapat lebih dari 50% gangguan repolarisasi

jantung pada SH yang ditandai oleh interval QTc 440 mdetik. Penelitian yang

dilakukan Snowden dkk. (2003), didapatkan 56% pasien SH yang akan dilakukan

transplantasi hati menderita KS. Studi serupa juga ditemukan oleh Della dkk. (2008),

terdapat 70% pasien kandidat transplantasi hati menderita KS. Di Indonesia belum

terdapat data tentang prevalensi kardiomiopati pada SH.

2.2.4 Patogenesis

Kerusakan parenkim hati menyebabkan terjadinya penumpulan respons reseptor

beta di otot jantung, peningkatan endokanabioid, Nitric Oxide (NO), karbon

monoksida (CO), dan kekakuan dinding miokardium yang dapat menyebabkan

terjadinya gangguan sistolik, diastolik, dan gangguan elektrofisiologi (Moller dan

Henriksen, 2010). Kriteria CTP menggambarkan beratnya kerusakan parenkim hati

sehingga semakin berat derajat penyakit SH berhubungan dengan semakin beratnya

gangguan jantung pada SH

DS merupakan gangguan kontraksi ventrikel kiri dalam memompakan darah ke

seluruh tubuh untuk memenuhi perfusi jaringan. Kontraksi jantung terjadi oleh karena

beberapa jalur seperti jalur adrenergik, endokanabioid, dan jalur lainnya berupa Nitric

Oxide (NO) dan karbon monoksida (CO). Kontraksi jantung terutama diregulasi oleh

sistem saraf simpatis melalui reseptor beta adrenergik. Pada waktu agonis beta

mengikat subunit beta 1 dan beta 2 reseptor beta adrenergik, terjadi aktivasi adenyl

cyclase melalui stimulasi protein G sehingga terjadi pembentukan cyclic adenosine

monophosphate (cAMP) dari adenosine triphosphate (ATP). Selain itu, protein G

juga menyebabkan terjadinya aktivasi langsung dari L-type Calcium channel pada

sarkolema. Terbentuknya cAMP ditambah Protein Kinase A (PKA) menyebabkan

terjadinya fosforilasi dari berbagai macam substrat dan terjadi influks ion kalsium ke

dalam sitosol sehingga terjadi ikatan silang aktin dan miosin yang menyebabkan

terjadinya kontraksi otot jantung. Gangguan kontraksi ventrikel jantung pada SH

oleh karena terjadi respons yang abnormal dari stimulasi simpatis, penurunan densitas

reseptor beta adrenergik, penurunan protein G, gangguan aktivitas adenyl cyclase

yang menyebabkan terjadi penurunan cAMP (Alqahtani, 2008; Moller, 2001). Namun

menurut Ceolotto dkk.(2008), pada KS terjadi ekspresi berlebihan pada gen dari

beberapa protein inhibisi dan terjadi down expression dari gen yang mengatur adenyl

cyclase sehingga terjadi gangguan kontraksi otot jantung pada KS. Gangguan

kontraksi ventrikel kiri pada DS menyebabkan terjadinya Volume Overload sehingga

terjadi peregangan ventrikel kiri yang akan mengeluarkan peptida natriuretik.

Gambar 2.1 Patogenesis Kardiomiopati Sirosis (Moller dan Henriksen, 2001)

Endokanabioid merupakan suatu kanabioid endogen dimana bekerja

menghambat protein G di dua buah reseptor canabinoid (CB), CB 1 dan CB2.

Endokanabinoid dikenal mempunyai efek vasodilator pertama kali dilaporkan pada

tahun 2001 (Batkai dkk.,2001). Berdasarkan studi Varga dkk.(1998), pada SH

terdapat bakteri endotoksin yang menstimulasi produksi endokanabinoid.

Endokanabinoid mempunyai efek inotropik negatif pada manusia dan binatang,

dimana pada ot