Click here to load reader

Bab 1 Faktor Perkecambahan

  • View
    16

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

faktor perkecambahan

Text of Bab 1 Faktor Perkecambahan

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBIAKAN TANAMAN

ACARA 8FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKECAMBAHAN BIJI PEPAYAURIFA

131510501204

GOLONGAN C / KELOMPOK 5PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2014BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Teknologi memang dapat menciptakan suatu yang baru, apabila teknologi dipadukan dengan seni, hasilnya akan lebih mempesona. Hal ini dapat dilakukan pada tanaman. Cara memperbanyak tanaman sangat banyak ragamnya. Mulai yang sederhana sampai yang rumit. Ada yang tingkat keberhasilannya tinggi, ada pula yang rendah. Hal tersebut sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain cara perbanyakan yang kita pilih, jenis tanaman, waktu memperbanyak, keterampilan pekerja, dan sebagainya.Perbanyakan tanaman bisa kita golongkan menjadi dua golongan besar, yaitu secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan tanaman secara generatif atau seksual adalah perbanyakan dengan menggunakan biji. Biji merupakan suatu organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya.Pepaya merupakan spesies tanaman yang budidayanya menggunakan bahan tanam benih, maka dalam proses awal tumbuhnya bergantung dari perkecambahan benih. Biji atau benih setelah ditanam pada kondisi lingkungan yang menguntungkan akan berkecambah. Bila biji dikecambahkan pada media tanam akan muncul bibit. Umumnya struktur yang pertama yang kemudian di ikuti dengan keluarnya calon pucuk dan alon akar yang pada pertumbuhan menjadi akar primer dan kemudian tumbuh akar sekunder. Sementara pucuk atau titik tumbuh tanaman yang tertutup oleh daun, sel-sel meristem akan membentuk batang muda, daun kecil dan cabang.

Benih pepaya memiliki perbedaan dengan benih lain, yaitu sewaktu masih berada dalam buah, kulit benihnya dilapisi oleh zat berwarna keputihan lunak dan agak bening yang disebut dengan aril. Aril ini mengandung protein kasar dan abu yang ternyata berpengaruh negatif terhadap perkecambahan benih. Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Komponen biji pepaya yang lain diantaranya seperti calon akar (radicle), colon daun/batang (plumule) dan sebagainya. Sebelum embrio memulai aktivitasnya, selalu didahului dengan proses fisiologis hormon dan enzim. Dengan demikian, ada dua jenis aktivitas di sini, yaitu aktivitas mor-fologi dan aktivitas kimiawi. Aktivitas morfologi ditandai dengan pemunculan organ-organ tanaman seperti calon akar dan calon batang Sedangkan aktivitas kimiawi diawali dengan aktivitas hormon dan enzim yang menyebabkan terjadinya perombakan zat cadangan makanan didalam biji pepaya seperti karbohidrat, protein, lemak dan sebagainya. Proses kimiawi berperanan sebagai penyedia energi yang akan digunakan dalam proses morfologi, dengan demikian kandungan bahan kimia yang terdapat dalam biji merupakan faktor yang sangat menentukan dalam perkecambahan biji pepaya.

Bagian benih pepaya berupa selubung yang menutupinya kemungkinan bersifat impermiable atau kedap terhadap air dan udara yang dibutuhkan untuk perkecambahan.Faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang bersifat internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promoter dan inhibitor perkecambahan, terutama asam gliberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). Faktor eksternal dipengaruhi oleh oksigen, suhu, dan cahaya. Oksigen dipakai dalam proses oksidasi sel untuk menghasilkan energi. Perkecambahan memerlukan suhu yang tepat untuk aktivasi enzim. Perkecambahan tidak dapat berlangsung pada suhu yang tinggi, karena suhu yang tinggi dapat merusak enzim. Pertumbuhan umumnya berlangsung baik dalam keadaan gelap. Perkecambahan memerlukan hormone auksin dan hormone ini mudah mengalami kerusakan pada intensitas cahay yang tinggi. Karena itu di tempat gelap kecambah tumbuh lebih panjang daripada di tempat terang.1.2 Tujuan 1. Mahasiswa mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih.

2. Mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih pepaya.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKAKalie (2007), pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman tropis yang berasal dari Amerika tropis. Pepaya termasuk dalam family Caricaceae dan genus Carica. Pusat penyebaran tanaman dari daerah Nikaragua dan Meksiko bagian selatan. Tanaman ini menyebar ke Benua Afrika dan Asia serta negara India pada abad ke-16 bersama pelayar bangsa Portugis. Dari India, tanaman ini menyebar ke berbagai negara tropis lainnya, termasuk Indonesia dan pulau-pulau di Lautan Pasifik di abad ke-17. Buah pepaya tergolong buah yang populer dan digemari oleh hampir seluruh penduduk dunia. Hal ini disebabkan karena daging buahnya yang lunak dengan warna merah atau kuning, rasanya manis dan menyegarkan serta banyak mengandung air. Buah pepaya mengandung nilai gizi yang tinggi antara lain mengandung provitamin A dan vitamin C, kandungan fosfor, lemak yang rendah, juga mineral dan kalsium. Buah pepaya dalamkehidupan sehari-harin digunakan sebagai konsumsi, buah pepaya juga memiliki khasiat mempermudah buang air besar. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, pepaya juga dapat diolah menjadi saus, selai, manisan buah dan produk turunan yang memanfaatkan khasiat dari enzim pemecah protein atau enzim proteolitik yang disebut papain. Papain umumnya digunakan dalam industri makanan dan minuman, farmasi, tekstil, kosmetik dan penyamak. Tanaman pepaya merupakan tanaman semusim sehingga buah ini dapat tersedia setiap saat (Otsuki et al., 2009).Menurut Anandan dkk. (2011), pepaya merupakan salah satu buah tropika unggulan yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Pepaya secara konvensional diperbanyak dengan biji untuk perkebunan komersial. Pengembangan pepaya membutuhkan ketersediaan benih secara berkesinambungan, sebab peremajaan tanaman selalu diperlukan untuk mendapatkan produksi yang baik. Selain untuk kepentingan komersial, penanganan benih pepaya juga penting untuk pengelolaan plasma nutfah yang selama ini lebih banyak dikelola secara in situ karena daya simpan benihnya yang relatif singkat. Upaya memperpanjang daya simpan benih papaya merupakan salah satu permasalahan yang perlu dipecahkan, menggolongkan benih pepaya sebagai benih ortodok, namun kenyataannya daya simpannya relatif singkat dibandingkan benih ortodok umumnya.

Menurut Owino dan Ouma (2011), benih pepaya diselimuti oleh sarcotesta, suatu lapisan yang mengandung senyawa fenolik, khususnya Phydroxybenzoic acid. Fenol merupakan salah satu antioksidan yang mampu menghambat deteriorasi. Selama ini penghilangan sarcotesta selalu disarankan dalam penanganan benih pepaya karena sarcotesta dapat menghambat proses perkecambahan. Benih papaya digolongkan dalam kelompok benih intermediate, yaitu tidak tahan bila kadar air benih < 8%. Sementara itu menurunnya perkecambahan pada benih pepaya yang dikeringkan hingga kadar air 5% sebenarnya bukan disebabkan oleh hilangnya viabilitas, melainkan karena terjadinya induksi dormansi. Terjadinya induksi dormansi dan pemecahannya perlu dipelajari agar benih dapat disimpan dengan aman pada kadar air rendah, untuk menekan laju metabolisme dan meningkatkan daya simpannya (Sebayang, dkk., 2014).

Menurut Rukmana (2003), buah pepaya yang akan diambil bijinya untuk digunakan sebagai benih harus memenuhi persyaratan seperti buah yang akan digunakan harus matang di pohon, berasal dari jenis atau varietas yang unggul dan tidak terserang hama atau bebas dari hama yang disebabkan oleh pemeraman. Ada beberapa faktor internal yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain: tingkat kematangan benih, ukuran benih, berat benih, kondisi persediaan makanan dalam benih, ketidakmampuan embrio, kulit biji yang tebal, kulit biji impermeable, daya tembus air dan oksigen terhadap kulit biji. Faktor eksternal yang mempengaruhi seperti suhu, air, oksigen, media pekecambahan dan cahaya juga mempengaruhi perkecambahan benih. Perkecambahan benih tidak dapat terjadi jika benih tidak dapat menyerap air dari lingkungan (Husain dan Rully, 2012).Menurut Rattan dan Tomar (2013), cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan dan pertumbuhan tanaman. Banyak spesies yang menanggapi lingkungan dengan optimal pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan cahaya yang diterima oleh tanaman. Beberapa benih berkecambah sama dalam terang dan gelap, sementara yang lain lebih mudah baik di bawah cahaya atau kondisi gelap. Persyaratan cahaya untuk perkecambahan dapat berbeda dengan suhu. Beberapa spesies tanaman membutuhkan suhu dan cahaya konstan berkecambah dan tumbuhan lain dapat berkecambah baik di bawah cahaya atau kondisi gelap sesuai dengan fluktuasi suhu. Dalam spesies lain, stratifikasi atau suhu tinggi menggantikan cahaya persyaratan untuk perkecambahan.Perkecambahan dimulai dari dormansi benih dapat disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji terhadap air atau permeabilitas yang rendah terhadap gas, atau resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio. Imbibisi adalah tahap pertama yang sangat penting karena menyebabkan peningkatan kandungan air benih yang diperlukan untuk memicu perubahan biokimiawi dalam benih sehingga benih berkecambah. Kulit benih adalah struktur penting sebagai suatu pelindung antara embrio dan lingkungan di luar benih, mempengaruhi penyerapan air, pertukaran gas dan bertindak sebagai penghambat mekanis dan mencegah keluarnya zat penghambat dari embrio. dormansi yang disebabkan oleh kulit benih dapat terjadi karena adanya komponen penyusun benih baik yang bersifat fisik dan atau kimia (Widyawati, 2009).Dormansi ini disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji. Lapisan kulit yang keras menghambat penyerapan air dan gas ke dalam biji sehingga proses perkecambahan tidak terjadi. Selain itu, kulit beni

Search related