of 34/34
6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Pakar 2.1.1 Definisi Sistem pakar adalah suatu sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke dalam komputer agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para pakar (Turban dan Frenzel, 1992, p74). Sistem pakar yang baik dirancang untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru prinsip kerja dari para pakar. Sistem ini membantu orang awam dalam menyelesaikan masalah yang cukup rumit yang hanya dapat diselesaikan dengan bantuan para pakar. Bagi para pakar sendiri, sistem ini akan membantu aktivitasnya sebagai seorang asisten yang sangat berpengalaman. Sistem pakar mengkombinasikan kaidah-kaidah penarikan kesimpulan (inference rules) dengan basis pengetahuan tertentu yang diberikan oleh satu atau lebih pakar dalam bidang tertentu. Kombinasi dari kedua hal tersebut disimpan dalam komputer, yang selanjutnya digunakan dalam proses pengambilan keputusan untuk penyelesaian masalah tertentu. Beberapa pendapat mengenai definisi sistem pakar, antara lain : 1. Jackson (2002, p2).

11. BAB 2 - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/bab2/2009-2-00594-if bab 2.pdf6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Pakar 2.1.1 Definisi Sistem pakar adalah suatu sistem yang berusaha

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of 11. BAB 2 - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/bab2/2009-2-00594-if bab 2.pdf6 BAB 2 LANDASAN...

6

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Pakar

2.1.1 Definisi

Sistem pakar adalah suatu sistem yang berusaha mengadopsi

pengetahuan manusia ke dalam komputer agar komputer dapat

menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para pakar

(Turban dan Frenzel, 1992, p74). Sistem pakar yang baik dirancang untuk

dapat menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru prinsip

kerja dari para pakar. Sistem ini membantu orang awam dalam

menyelesaikan masalah yang cukup rumit yang hanya dapat diselesaikan

dengan bantuan para pakar.

Bagi para pakar sendiri, sistem ini akan membantu aktivitasnya

sebagai seorang asisten yang sangat berpengalaman. Sistem pakar

mengkombinasikan kaidah-kaidah penarikan kesimpulan (inference

rules) dengan basis pengetahuan tertentu yang diberikan oleh satu atau

lebih pakar dalam bidang tertentu. Kombinasi dari kedua hal tersebut

disimpan dalam komputer, yang selanjutnya digunakan dalam proses

pengambilan keputusan untuk penyelesaian masalah tertentu.

Beberapa pendapat mengenai definisi sistem pakar, antara lain :

1. Jackson (2002, p2).

7

Sistem pakar adalah sebuah program komputer yang

merepresentasikan dan mempertimbangkan dengan pengetahuan dari

beberapa subyek spesial dengan sebuah pandangan untuk

menyelesaikan masalah-masalah atau memberikan nasehat.

2. Giarratano dan Riley (2005, p5).

Sistem pakar adalah suatu sistem komputer yang mengemulasi

kemampuan pembuatan keputusan dari seorang pakar.

3. Rich dan Knight (1991, p574).

Sistem pakar adalah suatu sistem yang memiliki tujuan untuk

menyelesaikan masalah yang biasa dilakukan oleh seorang pakar.

2.1.2 Konsep Dasar Sistem Pakar

Sistem pakar mencakup beberapa persoalan mendasar, antara lain

siapa yang disebut pakar, apa yang dimaksud dengan keahlian,

bagaimana keahlian dapat ditransfer, dan bagaimana sistem bekerja.

Menurut Turban dan Frenzel (1992, p78), konsep dasar sistem pakar

terdiri atas:

1. Kepakaran (Expertise)

Kepakaran merupakan penguasaan pengetahuan di bidang tertentu

yang diperoleh dari serangkaian pelatihan, membaca, atau

pengalaman. Bentuk pengetahuan tersebut adalah :

Fakta fakta dalam lingkup permasalahan.

Teori teori dalam lingkup permasalahan.

8

Aturan dan prosedur baku berkenaan dengan lingkup

permasalahan.

Strategi untuk menyelesaikan permasalahan.

Meta knowledge.

2. Pakar (Expert)

Seorang pakar adalah orang yang memiliki pengetahuan,

penilaian, pengalaman, metode khusus, serta kemampuan untuk

menerapkan bakat ini dalam memberi nasihat dan memecahkan

masalah. Pakar memiliki beberapa konsep umum, yaitu:

Harus mampu memecahkan persoalan dan mencapai tingkat

performa yang secara signifikan lebih baik dari orang

kebanyakan.

Pakar adalah relatif. Pakar pada satu waktu atau satu

wilayah mungkin tidak menjadi pakar di waktu atau wilayah

lain. Misalnya, mahasiswa hukum mungkin disebut pakar

dalam permasalahan hukum dibanding petugas administrasi,

tetapi bukan pakar di pengadilan.

3. Pengalihan Kepakaran

Tujuan utama sistem pakar adalah mengalihkan kepakaran

seorang pakar ke dalam komputer yang akan digunakan oleh

pihak lain yang bukan pakar, untuk menemukan solusi atas

permasalahan. Pengetahuan yang disimpan dalam mesin disebut

dengan nama basis pengetahuan.

9

4. Penalaran (inference)

Salah satu fitur yang harus dimiliki oleh sistem pakar adalah

kemampuan untuk menalar. Jika kepakaran sudah tersimpan

sebagai basis pengetahuan dan tersedia program yang mampu

mengakses basis data, maka komputer harus dapat diprogram

untuk membuat inferensi (inference). Proses kesimpulan ini

dikemas dalam bentuk motor inferensi (inference engine).

5. Aturan aturan (Rules)

Sebagian besar sistem pakar adalah sistem berbasis aturan. Aturan

tersebut biasanya berbentuk IF THEN. Aturan digunakan

sebagai prosedur untuk memecahkan permasalahan.

6. Kemampuan Penjelasan (Explanation Capability)

Kemampuan menjelaskan merupakan komponen tambahan dari

sistem pakar yang berfungsi untuk memberikan penjelasan

kepada user mengapa suatu pertanyaan ditanyakan oleh sistem

pakar, bagaimana kesimpulan dapat diperoleh, kenapa solusi

tertentu ditolak, dan apa rencananya untuk mencapai solusi.

10

2.1.3 Struktur Sistem Pakar

Menurut Turban dan Frenzel (1992, p81), sistem pakar disusun

oleh dua bagian utama, yaitu lingkungan pengembangan (development

environment) dan lingkungan konsultasi (consultation environment).

Lingkungan pengembangan digunakan sebagai pembangun sistem pakar

baik dari segi pembangun komponen maupun basis pengetahuan.

Lingkungan konsultasi digunakan oleh seseorang yang bukan pakar untuk

memperoleh pengetahuan pakar.

Gambar 2.1 Struktur Sistem Pakar (Sri Kusumadewi, 2003, p114)

Komponen komponen (Turban dan Frenzel 1992, pp81-85) yang ada

pada sistem pakar adalah :

1. Subsistem akuisisi pengetahuan

Bagian ini digunakan untuk memasukkan pengetahuan,

mengkonstruksi atau memperluas pengetahuan dalam basis

11

pengetahuan. Pengetahuan itu bisa berasal dari pakar, buku, basis

data, penelitian, dan gambar.

2. Basis pengetahuan

Berisi pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami,

memformulasikan dan menyelesaikan masalah.

3. Mesin inferensi (inference engine)

Program yang berisi metodologi yang digunakan untuk melakukan

penalaran terhadap informasi-informasi dalam basis pengetahuan dan

blackboard, serta digunakan untuk memformulasikan konklusi.

4. Antarmuka (User Interface)

Digunakan untuk media komunikasi antara pengguna dan program.

5. Blackboard

Merupakan area dalam memori yang digunakan untuk merekam

kejadian yang sedang berlangsung termasuk keputusan sementara.

Ada tiga tipe keputusan yang dapat direkam, yaitu:

a. Rencana: bagaimana menghadapi masalah.

b. Agenda: aksi-aksi yang potensial yang sedang menunggu

untuk dieksekusi.

c. Solusi: calon aksi yang akan dibangkitkan.

6. Subsistem penjelasan

Digunakan untuk melacak respon dan memberikan penjelasan tentang

kelakuan sistem pakar secara interaktif melalui pertanyaan:

Mengapa suatu pertanyaan ditanyakan oleh sistem pakar?

12

Bagaimana konklusi dicapai?

Mengapa ada alternatif yang dibatalkan?

Rencana apa yang digunakan untuk mendapatkan solusi?

7. Sistem penyaring pengetahuan

Sistem ini digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem pakar itu

sendiri untuk melihat apakah pengetahuan-pengetahuan yang ada

masih cocok untuk digunakan di masa mendatang.

2.1.3.1 Akuisisi Pengetahuan

Akuisisi pengetahuan adalah akumulasi, transfer dan

transformasi dari keahlian pemecahan masalah dari beberapa

sumber pengetahuan ke program komputer untuk konstruksi atau

perluasan basis pengetahuan. Berdasarkan Turban dan Frenzel

(1992, pp126-128) proses akuisisi pengetahuan dibagi ke dalam

lima tahap, yaitu :

1. Identifikasi

Pada tahapan ini diidentifikasi masalah yang akan dikaji.

Masalah bisa dibagi menjadi beberapa sub-masalah jika

perlu, partisipan (pakar dan pengguna) diidentifikasi, dan

sumber daya diuraikan. Knowledge engineer mempelajari

situasi dan menyetujui maksud dari pembuatan aplikasi

kecerdasan buatan.

13

2. Konseptualisasi

Konseptualisasi merupakan tahapan dalam menentukan

konsep untuk menggambarkan pengetahuan yang relevan

dengan mengambil keputusan untuk situasi yang sangat

beragam sehingga perlu ditentukan konsep dan

hubungannya.

3. Perumusan

Pengetahuan diperoleh untuk direpresentasikan ke dalam

basis pengetahuan. Bagaimana pengetahuan diorganisasikan

dan direpresentasikan dapat menentukan metodologi

akuisisi.

4. Implementasi

Pada tahap ini, dilakukan pemrograman dari pengetahuan ke

dalam komputer. Perbaikan pengetahuan dibuat dengan

penambahan akuisisi atau perubahan. Sebuah prototipe

sistem pakar dikembangkan pada tahapan ini.

5. Pengujian

Seorang knowledge engineer akan menguji sistem dengan

memakai contoh-contoh kasus yang ada. Kemudian hasilnya

akan ditunjukan kepada pakar-pakar dan aturan-aturannya

akan direvisi bila diperlukan. Dengan kata lain validitas dari

pengetahuan diperiksa.

14

2.1.3.2 Representasi Pengetahuan

Representasi pengetahuan adalah suatu teknik untuk

merepresentasikan basis pengetahuan yang diperoleh ke dalam

suatu skema atau diagram tertentu sehingga dapat diketahui relasi

atau hubungan antara suatu data dengan data yang lain. Menurut

Turban dan Frenzel (1992, pp170-187) terdapat beberapa cara

untuk merepresentasikan pengetahuan, yaitu :

1. Logika (Logic)

Dua bentuk komputasi logika adalah logika proposisi

(propotional logic) dan logika predikat (predicate logic).

Gambar 2.2 Proses Logika

a. Logika Proposisi

Logika proposisi adalah sebuah pernyataan yang bisa

bernilai benar atau salah yang dapat menjadi premis

yang dapat digunakan untuk menurunkan proposisi

baru. Aturan digunakan untuk menentukan kebenaran

(true) atau kesalahan (false) pada proposisi baru. Pada

logika proposisi digunakan simbol seperti huruf alfabet

Proses Logika

Input Premis

atau fakta

Output Inferensi

atau Konklusi

15

untuk menampilkan berbagai proposisi, premis, atau

kesimpulan. Contoh:

Pernyataan A : Hasan pergi kuliah setiap hari Selasa

dan Sabtu

Pernyataan B : Hari ini adalah hari Senin

Kesimpulan : Hasan tidak pergi kuliah pada hari ini.

b. Logika Predikat

Logika predikat merupakan bentuk logika yang lebih

kompleks dimana konsep dan aturan yang digunakan

sama dengan logika proposisi. Logika predikat

digunakan untuk merepresentasikan hal-hal yang tidak

dapat direpresentasikan dengan menggunakan logika

preposisi. Pada logika predikat kita dapat

merepresentasikan fakta-fakta sebagai suatu

pernyataan yang disebut dengan wff (well-formed

formula). Contoh diketahui fakta fakta sebagai

berikut :

Andi adalah seorang laki laki : A

Ali adalah seorang laki laki : B

Amir adalah seorang laki laki : C

Anto adalah seorang laki laki : D

Agus adalah seorang laki laki : E

Fakta tersebut dapat ditulis : Laki2 (x)

16

2. Jaringan Semantik (Semantic Network)

Jaringan semantik merupakan gambaran grafis dari

pengetahuan yang terdiri dari simpul (node) dan hubungan

antar node (link) yang menunjukkan hubungan antar

berbagai obyek. Obyek disini dapat berupa benda atau

peristiwa. Gambar 2.3 menjelaskan tentang jaringan

semantik.

Gambar 2.3 Jaringan Semantik

3. Naskah (Script)

Script merupakan representasi pengetahuan yang sama

dengan frame, yaitu merepresentasikan pengetahuan

berdasarkan karakteristik yang sudah dikenal sebagai

pengalaman - pengalaman. Perbedaannya, frame

17

menggambarkan obyek sedangkan script menggambarkan

urutan peristiwa. Dalam menggambarkan urutan peristiwa,

script menggunakan slot yang berisi informasi tentang

orang, obyek, dan tindakan-tindakan yang terjadi dalam

suatu peristiwa. Elemen-elemen script meliputi :

1. Kondisi masukan (Entry condition), yaitu kondisi yang

harus dipenuhi sebelum terjadi atau berlaku suatu

peristiwa dalam script.

2. Jalur (Track), yaitu variasi yang mungkin terjadi dalam

suatu script.

3. Pendukung (Prop)berisi obyek obyek pendukung yang

dugunakan selama peristiwa terjadi.

4. Peran (Role), yaitu peran yang dimainkan oleh seseorang

dalam peristiwa.

5. Adegan (Scene), yaitu adegan yang dimainkan yang

menjadi bagian dari suatu peristiwa.

6. Hasil, yaitu kondisi yang ada setelah urutan peristiwa

dalam scrip terjadi.

Berikut ini adalah contoh script kejadian yang ada di

rumah makan siap saji :

Jalur : rumah makan siap saji.

Peran : pelanggan, penyaji.

Pendukung : counter, baki, makanan, uang, serbet, garam,

merica, sedotan.

18

Kondisi Masukan : pelanggan yang lapar, pelanggan yang

memiliki uang.

Adegan 1 : Pelanggan memasuki rumah makan.

1. Pelanggan memarkir mobil.

2. Pelanggan memasuki rumah makan.

3. Pelanggan antri di depan counter.

4. Pelanggan membaca menu dan membuat keputusan apa

yang akan dipesan.

Adegan 2 : Pemesanan.

1. Pelanggan melakukan pemesanan.

2. Penyaji meletakkan pesanannya di atas baki.

3. Pelanggan membayar.

Adegan 3 : Pelanggan makan.

1. Pelanggan mengambil serbet, sedotan, garam, dan lain-

lain.

2. Pelanggan membawa baki ke meja yang kosong.

3. Pelanggan mulai makan.

Adegan 3A : Makanan dibawa pulang.

Pelanggan mengambil makanan, kemudian

meninggalkan rumah makan.

19

Adegan 4 : Pelanggan meninggalkan rumah makan.

1. Pelanggan membersihkan meja.

2. Pelanggan membuang sampah.

3. Pelanggan meninggalkan rumah makan.

4. Pelanggan pulang dengan mengendarai mobilnya.

Hasil:

1. Pelanggan tidak lagi lapar.

2. Uang pelanggan berkurang.

3. Pelangan merasa bahagia.

4. Pelanggan merasa tidak bahagia.

5. Pelanggan terlalu kenyang.

6. Pelanggan merasa tidak nyaman pada bagian perutnya.

4. Daftar (List)

List adalah daftar tertulis dari hal hal (items) yang saling

berhubungan. Bisa berupa daftar orang yang anda kenal,

barang-barang yang harus dibeli dipasar swalayan, hal-hal

yang harus dilakukan minggu ini, atau produk- produk

dalam suatu katalog. Gambar 2.4 adalah representasi

pengetahuan dengan list.

20

Gambar 2.4 List

5. Tabel Keputusan.

Tabel keputusan adalah pengetahuan yang diatur dalam

bentuk format lembar kerja (spreedsheet), menggunakan

kolom dan garis. Representasi pengetahuan dengan tabel

keputusan dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Tabel Keputusan

21

6. Pohon Keputusan

Pohon keputusan merupakan struktur penggambaran pohon

yang berhubungan dengan tabel keputusan. Representasi

pengetahuan dengan Pohon keputusan dapat dilihat pada

gambar 2.5.

Gambar 2.5 Pohon Keputusan

7. Objects, Attribute, dan Values

Salah satu cara yang paling umum untuk merepresentasikan

pengetahuan adalah menggunakan objects, attribute, dan

values (O-A-V triplet). Objects dapat berupa fisik atau

konseptual. Attribute adalah karakteristik dari object. Values

adalah ukuran spesifik dari attribute dalam situasi tertentu.

Representasi pengetahuan dengan O A V triplet dapat

dilihat pada tabel 2.2.

22

Tabel 2.2 O A V Triplet

Objects Atrributes Values

Rumah Kamar tidur 2, 3, 4

Rumah Warna Hijau, putih,

coklat

Penerimaan di

universitas

Rata-rat nilai ujian

masuk

3.0, 3.5, 3.7

Kontrol inventori Level dari inventori 15, 20, 30

Kamar tidur Ukuran 9 x 10, 10 x

12

8. Bingkai (Frame)

Bingkai (Frame) adalah struktur data yang berisi semua

pengetahuan tentang obyek tertentu. Pengetahuan ini diatur

dalam suatu struktur hirarki khusus yang memperbolehkan

diagnosa terhadap independensi pengetahuan. Bingkai

(Frame) pada dasarnya adalah aplikasi dari pemograman

berorientasi obyek untuk kecerdasan buatan dan sistem

pakar. Representasi pengetahuan menggunakan frame dapat

dilihat pada gambar 2.6.

23

Gambar 2.6 Bingkai (Frame)

9. Kaidah Produksi (Production Rules)

Ide dasar dari sitem ini adalah pengetahuan yang

digambarkan sebagai kaidah produksi dalam bentuk

pasangan kondisi aksi. Contoh representasi pengetahuan

dengan kaidah produksi adalah:

Aturan 1 : IF pemerintah tidak konsisten, THEN dolar

naik.

Aturan 2 : IF inflasi naik, THEN harga barang mahal.

24

Aturan 3: IF pemerintah tidak konsisten dan AND inflasi

naik, THEN beli Dolar

2.1.3.3 Metode Inferensi

Menurut Giarratano dan Riley (1998, p.143) metode

inferensi untuk memecahkan suatu persoalan dalam sistem pakar

dapat dilakukan dengan merangkai rantai produksi (Chaining).

Jenis rantai produksi (Chaining) tersebut adalah :

1. Forward Chaining

Pemecahan masalah dari fakta fakta kepada sebuah

kesimpulan berdasarkan fakta fakta yang ada. Dengan kata

lain, pelacakan dimulai dari keadaan awal (informasi atau

fakta yang ada) dan kemudian dicoba untuk mencocokan

dengan tujuan yang diharapkan.

Gambar 2.7 Forward Chaining

25

2. Backward Chaining

Diagram dimana menghubungkan hipotesa berdasarkan fakta-

fakta yang mendukung sebuah hipotesa. Dengan kata lain

dapat dikatakan bahwa penalaran dimulai dari tujuan atau

hipotesa, kemudian dicocokkan dengan keadaan awal atau

fakta-fakta yang ada.

Gambar 2.8 Backward Chaining

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan

backward atau forward dalam memilih metode penalaran,

antara lain:

1. Banyaknya keadaan awal dan tujuan. Jika jumlah

keadaan awal lebih kecil daripada tujuan, maka

digunakan penalaran forward. Sebaliknya, jika jumlah

keadaan awal lebih banyak daripada tujuan, maka

digunakan metode penalaran backward.

26

2. Rata rata jumlah simpul (node) yang dapat diraih

secara langsung dari suatu simpul. Lebih baik dipilih

yang jumlah simpul tiap cabangnya lebih sedikit.

3. Apakah program butuh menanyai pengguna (user) untuk

melakukan justifikasi terhadap proses penalaran? Jika

ya, maka alangkah baiknya jika dipilih arah yang lebih

memudahkan pengguna.

4. Bentuk kejadian yang akan memicu penyelesaian

masalah. Jika kejadian itu berupa fakta baru, maka lebih

baik dipilih penalaran forward . namun jika kejadian itu

berupa query, maka lebih lebih baik dipilih penalaran

backward.

2.2 Sistem dan Aplikasi Berbasis Web (WebApps)

2.2.1 World Wide Web

World Wide Web (WWW) atau dikenal dengan sebutan web saja,

merupakan sistem yang menyebabkan pertukaran data di internet menjadi

mudah dan efisien (Ellsworth, 1997, p4).

Web pada awalnya ruang informasi dalam internet, dengan

menggunakan teknologi hypertext, pengguna dituntun untuk menemukan

informasi dengan mengikuti link yang disediakan dalam dokumen web

yang ditampilkan oleh web browser. Dewasa ini internet indentik dengan

web, karena kepopuleran web sebagai standar interface pada layanan-

layanan yang ada pada internet. Seiring terjadinya peningkatan akses

27

internet oleh masyarakat, maka banyak sekali aplikasi dan sistem yang

dibangun berbasis web.

2.2.2 Ciri Sistem dan Aplikasi Berbasis Web

Menurut Roger (2001, p771) sistem dan aplikasi berbasis web

(WebApps) berbeda dengan sistem dan aplikasi lain karena hal hal

dibawah ini :

1. Network intensive. Sifat dasar dari WebApps adalah sistem ini

ditujukan utuk berada di jaringan dan memenuhi kebutuhan

komunitas yang berbeda

2. Content-Driven. Sebagian besar fungsi dari WebApps adalah untuk

menyajikan informasi dalam bentuk teks, grafik, audio, dan video.

3. Continous evolution. WebApps selalu berkembang secara terus

menerus.

2.2.3 Manfaat Sistem dan Aplikasi Berbasis Web

Sistem dan aplikasi berbasis web (WebApps) memiliki beberapa

manfaat antara lain:

1. Aplikasi memerlukan sedikit ruang penyimpanan di komputer client.

2. Fitur- fitur aplikasi dapat di upgrade dengan mudah

3. Aplikasi dapat digunakan di berbagai platform sistem operasi.

28

2.2.4 Perancangan Sistem Pakar Berbasis Web

Sistem pakar berbasis web dapat dibangun dengan

menggabungkan proses pengembangan sistem pakar dan situs web.

Subprojects ini dapat digabung dengan cara, pekerjaan pertama dapat

dilakukan secara paralel dengan pekerjaan kedua dan pekerjaan kedua

dapat memberi masukan dan informasi penting untuk pekerjaan pertama

dan sebaliknya.

Gambar 2.9 Perancangan Sistem Pakar Berbasis Web

Langkah-langkah:

1. Selama proses akuisisi pengetahuan dan, khususnya selama

pertemuan antara knowledge engineer dan domain ahli, pertanyaan

29

yang ditanyakan ke domain ahli bertujuan sebagai perhatian

persyaratan aplikasi web.

2. Pengetahuan yang diperoleh selama proses akuisisi pengetahuan juga

digunakan dalam tahap desain data untuk menentukan struktur data

yang dapat diterapkan.

3. Selama tahap desain hypertext, objek-objek halaman web yang

ditetapkan dan digunakan itu disamakan di seluruh proses

perancangan sistem apakar. Motivasi apapun yang terjadi selama

proses kemudian ke objek-objek halaman web, dapat terjawab saat

kembali ke tahap design hypertext.

4. Perubahan yang dilakukan selama seluruh proses perancangan sistem

pakar terpaksa diubah ke desain arsitektur dan sebaliknya.

5. Selama proses verifikasi dan validasi sistem pakar, identifikasi

beberapa masalah oleh ahli memaksa memperbaiki perubahan, tidak

hanya dalam sistem pakar tetapi juga dalam situs web/aplikasi dan

sebaliknya.

6. Basis pengetahuan sistem pakar meluas dan menampakkan proses

perkembangan informasi penting dan masukan-masukan yang

digunakan untuk perkembangan aplikasi/situs web.

2.2.5 HTML

HTML merupakan singkatan dari Hypertext Text Markup

Language. HTML digunakan untuk membangun suatu halaman web.

HTML bukan suatu bahasa pemrograman melainkan markup atau

30

penandaan terhadap suatu dokumentasi teks. Tanda tersebut digunakan

menentukan format atau style dari teks yang ditandai (Kurniawan, 2001,

p7).

Dokumen HTML disebut markup language karena mengandung

tanda-tanda (tag) yang didahului tanda

yang digunakan untuk menentukan tampilan teks dalam suatu dokumen.

HTML merupakan bahasa standar yang digunakan oleh semua web

browser. HTML merupakan bahasa yang tidak tergantung pada platform

tertentu, yang artinya dapat dipindahkan dari satu komputer ke komputer

lainnya yang jenisnya berbeda.

Dokumen HTML adalah file teks regular (yang disebut juga file

ASCII) yang dibuat dengan menggunakan teks editor (notepad dari

windows), dengan program pengolahan data (word processor, seperti

Microsoft Word) dan program HTML generator seperti Microsoft Front

Page.

2.3 Hukum Waris dalam Islam

2.3.1 Definisi Waris

Waris dalam bahasa Arab adalah Faraid yang merupakan bentuk

jamak dari al-faridhah yang bermakna sesuatu yang diwajibkan, atau

pembagian yang telah ditentukan sesuai dengan kadarnya masing-masing.

Syariat Islam mengajarkan ilmu faraid, yaitu ilmu yang mempelajari

tentang perhitungan dan tata cara pembagian harta warisan untuk setiap

ahli waris berdasarkan syariat Islam.

31

Menurut Pasal 49 huruf b UU RI No. 3 Tahun 2006 Tentang

Peradilan Agama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan waris

adalah penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, penentuan

mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris

dan pelaksanaan pembagian harta peninggalan tersebut serta penetapan

pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang

menjadi ahli waris, penentuan bagian masing-masing ahli waris.

2.3.2 Sumber Hukum Waris

Hukum waris dalam Islam adalah bagian dari syariat Islam yang

bersumber dari :

1. Al-Quran.

2. Hadits.

3. Ijma atau kesepakatan ulama.

2.3.3 Rukun Waris

Rukun waris terdiri dari tiga rukun. Jika salah satu dari rukun

waris ini tidak ada maka tidak akan terjadi pembagian warisan. Rukun

tersebut adalah:

1. Pewaris.

Orang yang meninggal dunia yang meninggalkan sejumlah harta dan

peninggalan lainnya yang dapat diwariskan.

32

2. Ahli waris.

Seseorang atau sekelompok orang yang berhak untuk menguasai atau

menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan

kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan, atau lainnya.

3. Harta warisan.

Harta peninggalan milik pewaris yang ditinggalkan ketika ia wafat.

Harta warisan ini berupa segla jenis benda atau kepemilikan yang

ditinggalkan pewaris, seperti uang, emas, perak, kendaraan bermotor,

asuransi, komputer, peralatan elektronik, binatang ternak, rumah,

tanah, sawah, kebun, toko, perusahaan, dan segala sesuatu yang

merupakan milik pewaris yang di dalamnya ada nilai materinya.

2.3.4 Syarat Waris

Syarat waris ada tiga, yaitu:

1. Telah meninggalnya pewaris baik secara nyata maupun secara hukum

(misalnya dianggap telah meninggal oleh hakim, karena setelah

dinantikan hingga kurun waktu tertentu, tidak terdengar kabar

mengenai hidup matinya). Hal ini sering terjadi pada saat datang

bencana alam, tenggelamnya kapal di lautan, dan lain-lain.

2. Adanya ahli waris yang masih hidup secara nyata pada waktu pewaris

meninggal dunia.

3. Seluruh ahli waris telah diketahui secara pasti, termasuk

kedudukannya terhadap pewaris dan jumlah bagiannya masing-

masing.

33

2.3.5 Sebab Mendapatkan Hak Waris

Terdapat tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak

waris, yaitu:

1. Adanya ikatan kekerabatan

Memiliki ikatan kekerabatan secara hakiki, yang ada ikatan nasab

murni atau ikatan darah, seperti kedua orang tua, anak, saudara,

paman, dan seterusnya.

2. Adanya ikatan pernikahan

Terjadinya akad nikah legal yang telah disahkan secara syar'i antara

seorang laki-laki dan perempuan, sekalipun belum atau tidak terjadi

hubungan intim antar keduanya. Adapun pernikahan yang batil atau

rusak, seperti nikah mutah, kawin kontrak dan sebagainya tidak bisa

menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. Bagaimana bisa ada

hak waris, sedangkan pernikahannya itu sendiri adalah tidak sah.

3. Al-Wala.

Terjadinya hubungan kekerabatan karena membebaskan budak.

Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan

kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia yang merdeka.

Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi

terhadap budak yang dibebaskan, dengan syarat budak itu sudah tidak

memiliki satupun ahli waris, baik ahli waris berdasarkan ikatan

kekerabatan ataupun karena adanya tali pernikahan.

34

2.3.6 Penggugur Hak Waris

Tidak semua ahli waris bisa mendapatkan harta warisan. Terdapat

beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang menjadi gugur untuk

mendapatkan harta warisan. Penggugur hak waris ini ada tiga,

diantaranya adalah:

1. Budak.

Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk

mewarisi sekalipun dari saudaranya. Sebab segala sesuatu yang

dimiliki budak, secara langsung menjadi milik tuannya. Baik budak

itu sebagai budak murni, budak yang akan dinyatakan merdeka

seandainya tuannya meninggal, ataupun budak yang telah

menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya, dengan

persyaratan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Jadi

bagaimanapun keadaannya, semua jenis budak merupakan penggugur

hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak

mempunyai hak milik, terkecuali jika ia telah merdeka. Namun jika

budak tersebut sudah benar-benar merdeka, misalnya karena

dibebaskan oleh tuannya, maka barulah ia berhak untuk mendapatkan

hak waris dan juga mewariskan, karena status dia sudah sebagai orang

merdeka. Untuk di zaman kita sekarang ini, sudah banyak undang-

undang di berbagai negara yang melarang perbudakan, oleh karena itu

jarang sekali kita menemukan budak, atau mungkin sudah tidak ada

sama sekali.

35

2. Pembunuhan.

Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris, misalnya seorang

anak membunuh ayahnya, maka ia tidak berhak mendapatkan

warisan. Imam Malik memberi pengecualian untuk kasus

pembunuhan yang tanpa disengaja, misal karena suami sedang

memegang pisau yang hendak digunakan untuk menyembelih ternak,

kemudian tiba-tiba istrinya jatuh terpeleset dan tepat mengenai pisau

yang dibawa suaminya tersebut. Maka suami tersebut wajib

membayar diyat kepada keluarga atau wali istrinya, namun ia tetap

mendapatkan waris dari harta milik istrinya tersebut. Pembunuhan

yang disengaja karena pembelaan diri, misal ia diserang dan terancam

jiwanya, maka pembunuhan seperti ini tidak menghalangi hak

warisan si pembunuhnya.

3. Berlainan agama.

Seorang muslim tidak dapat mewarisi harta warisan orang non

muslim walaupun ia adalah orang tua atau anak, dan begitu pula

sebaliknya. Menurut pendapat syaikh Al-Utsaimin, khusus untuk

orang munafik, jika ia terlihat jelas kemunafikannya, maka ia masuk

ke dalam kategori orang kafir, sehingga ia tidak dapat saling waris-

mewarisi bersama kerabatnya yang muslim. Namun jika

kemunafikannya tidak terlihat secara zhahir, maka ia tetap dianggap

sebagai seorang muslim. Pendapat ini berseberangan dengan Syaikhul

Islam Ibnu Taimiyyah, yang berpendapat bahwa tidak ada penghalang

saling waris-mewarisi antara seorang muslim dengan seorang

36

munafik, karena seorang munafik dihukumi muslim secara zhahir. Ia

juga berpendapat bahwa seorang muslim dapat mewarisi harta dari

kerabatnya yang murtad dan kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang

tidak memerangi umat Islam dan agama Islam, dan hidup atau tinggal

di negeri kaum muslimin yang diikat dengan perjanjian untuk tunduk

dan patuh terhadap peraturan yang berlaku di negeri tersebut.

2.3.7 Kelompok Ahli Waris

Terdapat empat kelompok ahli waris yang berhak menerima harta

warisan, yaitu :

1. Ashhabul Furudh.

Kelompok ahli waris yang pertama kali diberi bagian harta warisan.

Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam

Al-Quran, Hadits, dan ijma' secara tetap. Mereka berjumlah tujuh

orang, yaitu :

1. Ibu.

2. Saudara laki-laki seibu.

3. Saudara perempuan seibu.

4. Nenek dari ayah.

5. Nenek dari ibu.

6. Suami.

7. Istri.

37

2. Ashabah.

Kelompok ahli waris yang menerima sisa harta warisan setelah

dibagikan kepada ashhabul furudh. Bahkan, jika ternyata tidak ada

ashhabul furudh serta ahli waris lainnya, ia berhak mengambil

seluruh harta peninggalan yang ada. Begitu juga, jika harta waris

yang ada sudah habis dibagikan kepada ashhabul furudh, maka

merekapun tidak mendapat bagian. Mereka berjumlah dua belas, yaitu

sepuluh dari kerabat yang merupakan kerabat pewaris berdasarkan

silsilah keluarga dari garis laki-laki (nasab) dan dua lagi dari luar

kerabat, yaitu karena ia yang telah memerdekakan pewaris jika status

pewaris sebelumnya adalah sebagai budak dia. Sepuluh ashabah yang

merupakan kerabat laki-laki tersebut adalah:

1. Anak laki-laki.

2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya kebawah.

3. Saudara laki-laki sekandung.

4. Saudara laki-laki seayah.

5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung.

6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah.

7. Paman sekandung.

8. Paman seayah.

9. Anak laki-laki dari paman sekandung.

10. Anak laki-laki dari paman seayah.

38

Sedangkan dua orang diluar kerabat adalah:

1. Laki-laki yang memerdekakan budak.

2. Perempuan yang memerdekakan budak.

Dari seluruh ashabah diatas, ada satu ashabah yang paling kuat, yaitu

anak laki-laki. Walau banyaknya ashhabul furudh yang merupakan

ahli waris, maka anak laki-laki ini pasti mendapatkan bagian warisan,

karena ia dapat menghalangi sejumlah ashhabul furudh dan ashabah

lainnya untuk mendapatkan bagian warisan.

3. Ashhabul Furudh atau Ashabah

Kelompok ahli waris yang pada kondisi tertentu bisa menjadi

ashhabul furudh atau bisa juga menjadi ashabah, hal itu tergantung

dengan kondisi yang menjadi syarat utamanya. Mereka adalah:

1. Anak perempuan.

2. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya

kebawah.

3. Saudara perempuan sekandung.

4. Saudara perempuan seayah.

Mereka akan digolongkan kedalam kelompok ashhabul furudh,

selama tidak ada saudara laki-laki mereka. Namun jika ada saudara

laki-laki mereka, walaupun hanya berjumlah satu orang, maka mereka

digolongkan ke dalam kelompok ashabah.

4. Ashhabul Furudh dan Ashabah

Kelompok ahli waris yang pada kondisi tertentu bisa menjadi

ashhabul furudh, bisa juga menjadi ashabah, dan bisa juga sebagai

39

gabungan dari keduanya, yaitu sebagai ashhabul furudh dan ashabah

secara sekaligus dalam satu waktu, hal itu tergantung dengan kondisi

yang menjadi syarat utamanya. Mereka adalah:

1. Ayah.

2. Kakek (bapak dari ayah).

Hal ini terjadi karena semua ahli waris dari kelompok ashhabul

furudh yang ada sudah menerima bagiannya, namun masih ada harta

waris yang tersisa, sedangkan disana tidak ada ashabah yang lain,

maka sisanya diberikan kepada kelompok ini.