dialek Loloan Timur, dan oleh penutur dialek Loloan Barat dihasilkan durasi sekitar 90,39 milidetik

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of dialek Loloan Timur, dan oleh penutur dialek Loloan Barat dihasilkan durasi sekitar 90,39 milidetik

  • DINAMIKA SISTEM BUNYI PANJANG DALAM BAHASA MELAYU DI BALI

    I Nyoman Suparwa1); A.A. Pt. Putra2)

    Fak Sastra dan Budaya, Universitas Udayana

    E-mail: suparwa_nym@yahoo.co.id

    Abstrak

    Penutur bahasa Melayu di Bali adalah komunitas Orang Loloan yang merupakan campuran berbagai etnik

    di Indonesia, seperti Melayu-Pontianak (Kalimantan), Bugis (Sulawesi), Arab, Jawa, dan Bali. Karena orang Melayu-

    Pontianak sebagai pemuka agama dan ke-linguafranca-an bahasa Melayu, bahasa Melayu digunakan sebagai

    bahasa untuk komunitas tersebut. Dalam perkembangannya, bahasa ini digerakkan oleh daya sentripetal

    (pemertahanan) dan sentrifugal (akomodatif). Tujuan kajian ini adalah untuk menemukan dinamika bunyi prosodi

    panjang dengan teori Generatif serta metode deskriptif ekplanatori didukung pula dengan metode fonetik

    eksperimental.

    Hasil kajian menemukan bahwa dinamika ditemukan dalam sistem bunyi bahasa Melayu di Bali, khususnya dalam bunyi prosodi panjang. Perubahan tersebut didukung oleh fenomena lingual, terutama segmental

    berupa (a) pelemahan /i/ [], seperti bebir /bebir/[bebr] bibir' dalam realisasi fonetis; (b) perendahan /u/

    /o/, seperti lurus dalam bahasa Indonesia lorus /lorus/ dalam bahasa Melayu Bali; (c) pelesapan schwa // ,

    seperti ke ulu (struktur batin) kulu /kulu/ ke ulu(struktur lahir); (d) pelesapan /h/, seperti seh sih (struktur

    batin) direalisasikan sebagai se sih(struktur lahir).Dinamika bunyi prosodi panjang juga didukung oleh bunyi

    suprasegmentalnya berupa (a) pemendekan bunyi panjang, seperti tu di bawah talanan [tudi bawa:htalanan]itu di

    bawah talenanterdapat bunyi /a/ panjang yang berdurasi sekitar 589, 98 milidetik menjadi lebih pendek dengan

    durasinya sekitar 107,39 milidetik pada perbandingan penutur golongan tua dan muda, ditemukan juga

    pemendekan pada konsonan panjang /r/, seperti tu telor ayam [tutlrrayam]itu telor ayam yang berdurasi sekitar

    73,70 milidetik menjadi sekitar 49,21 milidetik; (b) fenomena dialektal juga memperkuat bahwa terjadi pemendekan

    pada dialek Loloan Barat. Dari data ditemukan bahwa durasi sekitar 589,98 milidetik dihasilkan oleh penutur

    dialek Loloan Timur, dan oleh penutur dialek Loloan Barat dihasilkan durasi sekitar 90,39 milidetik. Dengan

    demikian, dinamika bahasa Melayu di Bali memperlihatkan perubahan struktur batin ke struktur lahir, golongan

    tua ke muda, dialek Loloan Timur ke Loloan Barat sebagai akibat dari perubahan base lame bahasa lama ke base

    karangni bahasa sekarang yang cenderung berubah menjadi lebih pendek.

    Kata kunci: dinamika, sistem bunyi, prosodi, durasi, generatif

    Abstract

    Malay language in Bali spoken by the Loloan speech community was established as a mixture of various

    ethnic groups in Indonesia, such as Malay-Pontianak (Kalimantan), Bugis (Sulawesi), Arabic, Java, and Bali. Due to

    the Malay-Pontianak were mostly religious leaders, as well as the language they brought was easy, simple, and

    convenient to use, therefore, Malay are spoken as the lingua franca of the community. During its development, the

  • Malay language has been driven by centripetal (retention) and centrifugal force (accommodating). Therefore, the

    purpose of this study was to find the dynamic of sound length by applying the theory of generative, explanatory

    descriptive method, as well as supported by the experimental phonetics method.

    The results of the study showed that the dynamics of the sound length system were found in Malay

    language in Bali. The changes were supported by the lingual phenomenon such as the segmental factor of (a) vowel

    weakening, example /i/ [], in bebir /bebir/[bebr+ lips'; (b) vowel shifting (high to low), example /u//o/, in

    lurusstraightlorus /lorus/ in Malay language; (c) vowel deletion, such as // , in ke ulu (deep structure)

    kulu /kulu/ to the headwater (surface structure); and (d) consonant deletion /h/, such as seh interjection like

    you know! (deep structure) was realized as se (surface structure). Furthermore, the dynamics were also found in

    the suprasegmental factors, such as the shortening of a long sound. The dynamics happened when the same

    utterances were compared by several variables. First was in between the elderly and young speakers, example tu di

    bawah talanan *tu di bawa:h talanan+thats under the cutting board was in 589,98 ms, when said by the elderly,

    then it became shorter of about 107, 39 ms, when uttered by the young speaker. Besides, there were also found the

    shortening of the long consonant sound, example, the sound of /r/, in tu telor ayam [tu tlr rayam+ that is an egg

    which lasted about 73.70 ms by the elderly speaker, then about 49.21 ms by young speaker. Second was seen from

    the dialectal phenomenon that also strengthen the shortening occurred. Example, in East Loloan dialect, the

    duration was 589.98 ms, meanwhile in West Loloan dialect about 90.39 ms. Overall, the dynamics of the Malay

    language in Bali showed that the changes from deep to surface structure of the elderly to the young, East to West

    Loloan dialect were the result of changes happened in base lame 'old language' to base karangni 'current language'

    which tend to be shorter.

    Keywords: dynamics, sound system, prosody, duration, generative

    1. PENDAHULUAN Etnis pendukung bahasa Melayu di Bali (disebut juga bahasa Melayu Loloan atau bahasa Melayu

    Bali) adalah campuran etnis, seperti Melayu-Pontianak (Kalimantan Barat), Bugis (Sulawesi), Trengganu

    (Malaysia), Arab, Jawa, dan Bali serta berdiam di Desa Loloan, Negara, Jembrana, Bali. Pemakaian BMB

    sebagai bahasa pengantar antaretnis tersebut tidak terlepas dari kenyataan bahwa etnis Melayu-

    Pontianak dan Malaysia merupakan pemimpin (agama, perdagangan, pasukan perang) kelompok

    tersebut; di samping faktor lain seperti bahasa Melayu merupakan lingua franca dan secara

    intralinguistik bahasa Melayu lebih sederhana daripada bahasa daerah lain di Indonesia karena bahasa

    ini tidak memiliki tingkatan bahasa yang rumit.

    Kajian bahasa Melayu Loloan Bali sebagai warisan sejarah bangsa sangat menarik untuk ditelaah

    dan dikaji. Bahasa Melayu Loloan Bali sekarang ini masih digunakan sebagai salah satu bahasa daerah di

    Indonesia. Keterkaitan bahasa Melayu Loloan Bali sekarang dengan bahasa Melayu Kuna dan bahasa

    Melayu Klasik serta dengan bahasa Indonesia merupakan fenomena yang menarik untuk dibahas.

    Perkembangan bahasa Melayu tersebut tentu tidak lepas dari daya sentripetal dan sentrifugal

    (Kridalaksana, 1996:1). Daya sentripetal merupakan usaha penutur bahasa untuk mempertahankan

    bahasanya karena bahasa Melayu Loloan itu merupakan ciri identitas Melayu Islam di Jembrana. Daya

    sentrifugal merupakan usaha akomodasi bahasa tersebut dalam perkembangannya sebagai alat

    komunikasi di dalam pergaulan intraetnis dan antaretnis. Dalam hal ini pengaruh bahasa Bali sebagai

  • bahasa mayoritas di Jembrana dan di Bali serta bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional di Indonesia

    tidak bisa dihindari.

    Penelitian bahasa Melayu (Loloan) di Bali menjadi menarik karena bahasa itu memiliki ciri dan

    berada dalam ekologi bahasa tersendiri yang membedakannya dengan bahasa daerah atau bahasa Melayu

    yang lain di Indonesia, baik secara sosial-kebahasaan (makrolinguistik) maupun kebahasaan

    (mikrolinguistik). Keberadaan bahasa Melayu Loloan sebagai bahasa minoritas di lingkungan bahasa

    mayoritas (bahasa Bali) menyebabkan bahasa ini berinteraksi secara ekstralingual. Penutur bahasa

    Melayu Loloan, umumnya, dwibahasawan (menguasai bahasa Melayu Loloan dan bahasa Indonesia serta

    mengerti bahasa Bali) dengan pemakaian bahasa Melayu Loloan dalam ranah informal, seperti

    intrakeluarga, upacara adat, dan pengajian.

    Suatu bentuk perubahan fonologis suprasegmental yang umumnya berada pada tataran kalimat

    pernah diteliti oleh Halim (1969) dengan judul Intonation in Relation to Syntax in Indonesia. Penelitian

    tersebut membuktikan bahwa proses perubahan intonasi (salah satu macam suprasegmental) berhubungan

    dengan kalimat bahasa Indonesia. Di dalam gramatika bahasa, intonasi berada dalam posisi setelah

    struktur lahir (surface structure)yang diikuti dengan penerapan kaidah secara siklis menurut komposisi

    fonologis (cyclic phonological mapping rules) serta kondisi pembentukan yang benar (well-formedness

    conditions). Hal itu menghasilkan bentuk fonologis purnasiklis dan logis.

    Halim (1984:7374) memberikan contoh penerapan kaidah intonasi dalam kalimat bahasa

    Indonesia berikut.Jangan sekarang!

    2- 31t #

    Kalimat tersebut merupakan kalimat struktur lahir dari struktur batin Buku ini jangan dikembalikan

    sekarang. Hal itu diargumentasikan berdasarkan konteks pemakaian kalimat tersebut dalam dialog.

    Kalimat itu diawali dengan kalimat Bagaimana kalau saya kembalikan saja buku ini? Kemudian, terjadi

    pelesapan subjek buku ini karena telah dituturkanpada kalimat sebelumnya. Demikian juga terjadi

    pelesapan dikembalikan (opsional) dengan alasan yang sama, yaitu dituturkan sebelumnya. Setelah

    terbentuk struktur lahir barulah dilengkapi dengan intonasi suruh, sehingga terbentuk kalimat suruh

    seperti di atas.

    Keadaan kebahasaan, termasuk keadaan fonologis, yang meliputi perubahan struktur batin ke

    struktur lahir (dalam kajian Generatif) atau perubahan dari basa lame (bahasa lama/dulu) dengan basa

    karang ni (bahasa sekarang) dalam bahasa Melayu (Loloan) di Bali dimasukkan k