The present document can't read!
Please download to view
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
...

cassia indonesia

by qodri-harnis

on

Report

Category:

Documents

Download: 0

Comment: 0

102

views

Comments

Description

Download cassia indonesia

Transcript

C. Laboratorium Minyak Atsiri Dan Bahan Penyegar C.1 Minyak Atsiri Ada 9 macam minyak atsiri yang diuji di Laboratorium minyak atsiri dan bahan penyengar          Minyak Daun Cengkeh Minyak Kenanga Minyak Fuli Minyak Pala Minyak Kayu Putih Minyak Nilam Minyak Sereh Minyak Cendana Minyak Akar Wangi SNI 06-2387-2006 SNI 06-3949-1995 SNI 06-2322-1991 SNI 06-2388-2006 SNI 06-3954-2006 SNI 06-2385-2006 SNI 06-3953-1995 SNI 06-0009-1987 SNI 06-2386-2006 Berikut ini adalah pengertian dari beberapa contoh minyak atsiri yang ada di laboratorium minyak atsiri dan bahan penyengar : A. Minyak Daun Cengkeh Minyak daun cengkeh adalah minyak yang diperoleh dari penyulingan daun cengkeh (Sprenget Bullock et Horrison) family Myrtacae. B. Minyak Kenanga Minyak Kenanga adalah minyak yang diperoleh dari penyulingan bunga tanaman kenanga (Canangium Odoratum Baill). C. Minyak Fuli Minyak fuli adalah minyak yang diperoleh dari penyulingan fuli yang dikeringkan. Yang dimaksud dengan fuli adalah serat tipis (Areolus) yang berwarna merah atau kuning muda yang terdapat diantara daging dan biji buah pala (Myristica Fragrans Houtt dan Myristica Argentica Linn). Minyak fuli digolongkan kedalam satu jenis mutu. D. Minyak Pala Minyak pala adalah minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan biji tanaman pala (myristica fragrans) (Houtt). E. Minyak kayu Putih Minyakkayu putih adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan cara penyulingan daun dan ranting dari tanaman kayu putih (melaleuca leucadendron). F. Minyak Nilam Minyak nilam adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan cara penyulingan daun tanaman nilam pogostemon cablin BENTH. G. Minyak Sereh Minyak sereh adalah minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan daun tanaman andropogon nardus de jong. Minyak sereh digolongkan dalam satu jenis mutu dengan nama “java citronella oil”. H. Minyak Cendana Minyak cendana adalah minyak yang diperoleh dari penyulingan batang, dahan dan akar tanaman cendana (santalum album LINN). I. Minyak Akar Wangi Minyak akar wangi adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan cara penyulingan akar tanaman akar wangi (vetiveria zizanioides) (L. Nash). C.2. Bahan Penyegar Disini yang termasuk bahan penyegar adalah :   Biji kopi Biji kakao SNI 01-2907-2008 SNI 01-2323-2008 C.2.1. Biji Kopi (SNI 01-2907-2008) C.2.2. Istilah dan definisi Kopi Biji dari tanaman Coffe spp dalam bentuk bugil dan belum disangrai. Biji Hitam Biji kopi yang setengah atau lebih dari bagian luarnya berwarna hitam baik yang mengkilap maupun keriput. Biji Hitam Sebagian Biji kopi yang kurang dari setengah bagian luarnya berwarna hitam atau suatu bintik hitam kebiru-biruan tetapi tidak berlubang atau ditemukan lubang berwarna hitam yang lebih besar dari lubang tersebut. Biji hitam pecah Biji kopi berwana hitam tidak utuh, berukuran sama dengan atau kurang dari ¾ bagian biji utuh, atau biji hitam sebagian pecah. Kopi gelondong Buah kopi kering yang masih terbungkus dalam kulit majemuknya, baik dalam keadaan utuh maupun besarnya sama atau lebih dari ¾ bagian kulit majemuk yang utuh. Biji coklat Biji kopi yang setengah atau lebih bagian luarnya berwarna coklat, yang lebih tua daripopulasinya, baik yang menkilap maupun keriput.Biji coklat yang pecah dinilai sebagai biji pecah. Kulit kopi (Husk) ukuran besar Kulit majemuk dari kopi gelondong dengan atau tanpa kulit ari dan kulit tanduk didalamnya, yang berukuran lebih besar dari ¾ bagian kulit majemuk yang utuh. Kulit Kopi Berukuran Sedang Kulit majemuk dari kopi gelondong dengan atau tanpa kulit ari dan kulit tanduk didalamnya, yang berukuran ½ sampai dengan ¾ bagian kulit majemuk yang utuh. Kulit Kopi Ukuran Kecil Kulit majemuk dari kopi gelondong dengan atau tanpa kulit ari dan kulit tanduk didalamnya, yang berukuran kurang dari ½ bagian kulit majemuk yang utuh. Biji Berkulit Tanduk Biji kopi yang masih terbungkus oleh kulit tanduk, yang membungkus biji tersebut dalam keadaan utuh maupun besarnya sama dengan atau lebih besar dari ¾ bagian kulit tanduk utuh. Kulit Tanduk Ukuran Besar Kulit tanduk yang terlepas atau tidak terlepas dari biji kopi, yang berukuran lebih besar dari ¾ bagian kulit tanduk utuh. Kulit Tanduk Ukuran Sedang Kulit tanduk yang terlepas atau tidak terlepas dari biji kopi yang berukuran ½ sampai ¾ bagian kulit tanduk utuh. Kulit Tanduk Ukuran Kecil Kulit tanduk yang terlepas atau tidak terlepas dari biji kopi yang berukuran kurang dari ½ bagian kulit tanduk utuh. Biji Pecah Biji kopi yang tidak utuh yang besarnya sama atau kurang dari ¾ bagian biji yang utuh. Biji Muda Biji kopi yang kecil dan keriput pada seluruh bagian luarnya. Biji Berlubang Satu Biji kopi yang berlubang satu akibat serangga-serangga. Biji Berlubang Lebih Dari Satu Biji kopi yang berlubang lebih dari satu akibat serangga-serangga. Biji Bertutul-tutul Biji kopi yang bertutul-tutul pada ½ atau lebih bagian luarnya. Ketentuan ini hanya berlaku untuk kopi yang diolah dengan cara pengolahan basah. Ranting, Tanah, atau Batu Berukuran Besar Ranting, tanah atau batu berukuran panjang atau diameter lebih dari 10 mm. Ranting, Tanah atau Batu Berukuran Sedang Ranting, tanah atau batu berukuran panjang atau diameter 5 mm-10 mm. C.2.3. Syarat Mutu Tabel 1-Syarat Mutu Umum No 1. 2. 3. 4. Kriteria Serangga hidup Biji berbau busuk atau berbau kapang Kadar air Kadar kotoran Satuan % fraksi massa % fraksi massa Persyaratan Tidak ada Tidak ada Maks. 12,5 Maks 0,5 C.2.4. Syarat mutu khusus Berdasarkan ukuran biji Tabel 2- Syarat Mutu Khusus Kopi Robusta Pengolahan Kering Ukuran Besar Kecil Kriteria Tidak lolos ayakan berdiameter 6,5 mm (Sieve No. 16) Lolos ayakan diameter 6,5 mm, tidak lolos ayakan berdiameter 3,5 mm (Sieve No. 9) Satuan % fraksi massa % fraksi massa Persyaratan Maks lolos 5 Maks lolos 5 Tabel 3- Syarat Mutu Khusus Kopi Robusta Pengolahan Basah Ukuran Besar Sedang Kriteria Tidak lolos ayakan berdiameter 7,5 mm (Sieve No. 19) Lolos ayakan diameter 7,5 mm, tidak lolos ayakan berdiameter 6,5 mm (Sieve No. 16) Lolos ayakan diameter 6,5 mm, tidak lolos ayakan berdiameter 5,5 mm (Sieve No 14) Satuan % fraksi massa % fraksi massa Persyaratan Maks lolos 5 Maks lolos 5 Kecil % fraksi massa Maks lolos 5 Tabel 4-Syarat Mutu Khusus Kopi Arabica Ukuran Besar Sedang Kriteria Tidak lolos ayakan berdiameter 6,5 mm (Sieve No. 16) Lolos ayakan diameter 6,5 mm, tidak lolos ayakan berdiameter 6 mm (Sieve No. 15) Lolos ayakan diameter 6 mm, tidak lolos ayakan berdiameter 5 mm (Sieve No 13) Satuan % fraksi massa % fraksi massa Persyaratan Maks lolos 5 Maks lolos 5 Kecil % fraksi massa Maks lolos 5 Tabel 5- Mutu Khusus kopi Peaberry dan Kopi Polyembrio Jenis Kriteria Peaberry Tanpa ketentuan lolos ayakan Polyembrio Tanpa ketentuan lolos ayakan dan tidak masuk klasifikasi biji pecah Satuan % fraksi massa Persyaratan Maks lolos 5 - Berdasarkan system nilai cacat Tabel 6-Syarat Penggolongan Mutu Kopi Robusta dan Arabika Mutu persyaratan Mutu 1 Jumlah nilai cacat maksimum 11* Mutu 2 Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25 Mutu 3 Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44 Mutu 4a Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60 Mutu 4b Jumlah nilai cacat 61 samapai dengan 80 Mutu 5 Jumlah nilai cacat 81 samapai dengan 150 Mutu 6 Jumlah nilai cacat 151 samapai dengan 225 CATATAN Untuk kopi arabika mutu 4 tidak dibagi menjadi sub mutu 4a dan 4b penentuan besarnya nilai cacat dari setiap biji cacat dicantumkan dalam table 7.  Untuk kopi peaberry dan polyembrio Tabel 7 Penentuan besarnya nilai cacat biji kopi No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Jenis Cacat Nilai Cacat 1 (satu) biji hitam 1 (satu) 1 (satu) biji hitam sebagian ½ (setengah) 1 (satu) biji hitam pecah ½ (setengah) 1 (satu) biji gelondong 1 (Satu) 1 (satu) biji coklat ¼ (seperempat) 1 (satu) biji kopi ukuran besar 1 (satu) 1 (satu) biji ukuran sedang ½ (setengah) 1 (satu) kulit kopi ukuran kecil 1/5 (seperlima) 1 (satu) biji berkulit tanduk ½ (setengah) 1 (satu)kulit tanduk ukuran besar ½ (setengah) 1 (satu) kulit tanduk ukuran sedang 1/5 (seperlima) 1 (satu) kulit tanduk ukuran kecil 1/10 (sepersepuluh) 1 (satu) biji pecah 1/5 (seperlima) 1 (satu) bijimuda 1/5 (seperlima) 1 (satu) biji berlubang satu 1/10 (sepersepuluh) 1 (satu) biji berlubang lebih dari satu 1/5 (seperlima) 1 (satu) biji bertutul – tutul 1/10 (sepersepuluh) 1 (satu) ranting, tanah, atau batu 5 (lima) berukuran besar 19 1 (satu) ranting, tanah, atau batu 2 (dua) berukuran sedang 20 1 (satu) ranting, tanah, atau batu 1 (satu) berukuran kecil KETERANGAN Jumlah nilai cacat dihitung dari contoh uji seberat 300 g. jika satu biji kopi mempunyai lebih dari satu nilai cacat, maka penentuan nilai cacat tersebut didasarkan pada bobot nilai cacat terbesar. C.3. Biji Kakao (SNI 2323-2008)  Jenis-jenis Komoditi Kakao 1. Klasifikasi botani tanaman kakao dapat digambarkan sebagai berikut : divisi termasuk kedalam spermatophyte, sub divisi adalah angiospermae, kelas adalah dicotyledonae, keluarga adalah sterculiaceace, genus adalah theobroma dan merupakan species theobrama cacao L. jenis kakao yang terbanyak dibudidayakan adalah jenis (criollo amerika tengah dan amerika selatan), Forastero, dan trinitaro, jenis criollo (criollo amerika tengah dan amerika selatan) menghasilkan biji kakao bermutu sangat baik dan dikenal sebagai kakao mulia, fine flavour cacao choiced cacao, atau edel cacao. Jenis forastero menghasilkan biji kakao bermutu sedang dan dikenal sebagai ordinary cacao atau bulk cacao. Jenis trinitario yang merupakan hibrida alami dari criollo dan forastero sehingga menghasilkan biji kakao yang dapat termasuk fine flavour cacao atau bulk cacao. Jenis trinitario yang banyak ditanam di Indonesia adalah hybrid djati runggo (DR) dan uppertimazone hybrid (kakao lindak). 2. Pasar kakao dunia membedakan antara dua kategori utama kakao yaitu “fine or flavour” dan “bulk or ordinary”. Secara umum, kakao jenis fine atau flavour di produksi dari pohon kakao jenis criollo atau trinitario, sementara kakao jenis bulk berasal dari pohon kakao jenis forastero. Nama Criollo, Forastero, dan Trinitario menunjukkan tiga jenis atau kelompok utama dari populasi pohon kakao (theobrama cacao).  Ruang Lingkup Standar ini menetapkan penggolongan, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji syarat lulus uji, syarat penandaan, pengemasan dan rekomendasi biji kakao.  Acuan Normatif SNI 19-0428-1998  Istilah dan Defenisi petunjuk pengambilan contoh padatan Biji Kakao Biji tanaman kakao (Theobroma Cacao L) yang berasal dari biji kakao mulia atau kakao lindak yang telah melalui proses pemeraman, dicuci atau tanpa dicuci, dikeringkan dan dibersihkan. Biji Kakao Mulia Biji kakao yang berasal dari tanaman kakao jenis criolo dan trinitario serta hasil persilangan. Biji Kakao Lindak Biji kakao yang berasal dari tanaman kakao jenis forastero. Biji Pecah Biji kakao dengan bagian yang hilang berukuran setengah (1/2) atau kurang dari bagian biji kakao yang utuh. Biji Cacat Biji kakao yang berjamur, salty, biji berserangga, biji pipih, biji berkecambah. Biji Berjamur Biji kakao yang di tumbuhi jamur di bagian dalamnya dan apabila di belah dapat terlihat dengan mata. Biji Berserangga Biji kakao yang bagian dalamnya terdapat serangga pada stadia apapun atau terdapat. Bagian – bagian dari tubuh serangga atau yang memperlihatkan kerusakan karena serangga yang dapat dilihat oleh mata. Biji Pipih Biji kakao yang tidak mengandung keeping biji atau keping bijinya tidak dapat di belah. Biji Berkecambah Biji kakao yang kulitnya telah pecah atau berlubang karena pertumbuhan lembaga. Biji Tidak Terfermentasi ( Biji Statty) Pada kakao lindak memperlihatkan separuh atau lebih permukaan irisan keping biji berwarna keabu-abu seperti sabak atau biru keabu-abuan bertekstur padat dan pejal dan pada kakao yang mulia permukaannyaberwarna putih kotor. Biji Fermentasi Biji yang memperlihatkan ¾ atau lebih permukaan irisan keping biji berwarna coklat, berongga dan beraroma khas kakao. Pecahan Biji Biji kakao yang berukuran kurang dari ½ bagian biji kakao yang utuh. Pecahan Kulit Bagian kulit biji kakao tanpa keping biji. Benda Asing Benda-benda lain yang bukan berasal dari tanaman kakao. Kotoran (waste) Benda-benda berupa plasenta, biji dempet (cluster), pecahan biji, pecahan kulit, biji pipih, ranting, dan benda lainnya yang berasal dari tanaman kakao. Keping Biji Biji kakao tanpa biji Biji Berbau Asap Abnormal atau Benda Asing Biji yang berbau asap, berbau amis atau bau asing lainnya yang ditentukan metode uji. Serangga Hidup Serangga pada stadia apapun yang ditemukan hidup pada partai barang. Serangga Hidup Biji kakao yang melekat (dempet) tiga atau lebih yang tidak dapat dipisahkan dengan satu tangan. Plasenta Bagian dari buah kakao tempat melekatnya biji.  Penggolongan Menurut jenis tanaman, biji kakao digolongkan dalam : 1. Jenis mulia ( fine cocoa/f) 2. Jenis lindak (Bulk cocoa/B) Menurut jenis mutunya, biji kakao digolongkan dalam 3 jenis mutu : 1. Mutu 1 2. Mutu 2 3. Mutu 3 Menurut ukuran beserta bijinya, yang dinyatakan dengan jumlah biji per 100 gram contoh, biji kakao digolongkan dalam 5 golongan ukuran dengan penandaan. AA : maksimum 85 biji perseratus gram A : 86 – 100 biji perseratus gram B : 101 – 110 biji perseratus gram C : 111 -120 biji perseratus gram S : Lebih Besar Dari 120 Biji  - Syarat Mutu Syarat Umum - Tabel 1- Persyaratan Mutu No. Jenis UJi Satuan Persyaratan 1 Serangga hidup Tidak ada 2. Kadar air % fraksi massa Maksimum 7,5 3. Biji berbau asap atau Tidak ada hammy dan berbau asing lainnya 4. Kadar benda asing Tidak ada  Syarat Khusus Tabel 2 – Persyaratan mutu Satuan dalam persen Persyaratan Kadar biji Kadar biji Kadar biji Kadar berjamur staty berserangga kotoran (biji/biji) (biji/biji) (biji/biji) waste Maks. 2 Maks. 4 Maks. 4 Maks. 3 Maks. 8 Maks. 20 Maks. 1 Maks. 2 Maks. 2 Maks. 1,5 Maks. 2,0 Maks. 3,0 Jenis Mutu Kakao Kakao Mulia Lindak (Fine (Bulk Cocoa) Cocoa) I–F I–B II – F II – B III – F III – B Kadar biji berkecambah (biji/ biji) Maks. 2 Maks. 3 Maks. 3 C. Laboratorium Minyak Atsiri Dan Bahan Penyegar 5.1.1. PENENTUAN BILANGAN ASAM MINYAK NILAM Alat:    Erlenmeyer Neraca analitik Buret Bahan:  Minyak nilam  Etanol  KOH  Indicator pp Prosedur kerja: 1. Timbang Erlenmeyer kosong 2. Tambahkan 4 gr minyak nilam 3. Tambahkan 5 ml etanol 4. Tambahkan 5 tetes indicator pp 5. Tunggu sampai tanda tetesan berwarna merah muda. Perhitungan: Bilangan asam = 56,1xVxN M 56 ,1x1,7 x0,1 = 3,99 9,537 = 3,99 = 2,3902 5.1.2. PENENTUAN BOBOT JENIS MINYAK SEREH Alat:  Neraca analitik  Piknometer  Penangas air Bahan:  Minyak sereh  Etanol  Aquades Prosedur kerja: 1. Cuci dan bersihkan piknometer, kemudian basuh berturut- turut dengan etanol 2. Keringkan bagian dalam piknometer tersebut dengan arus udara kering dan sisipkan tutupnya 3. Biarkan piknometer didalam lemari timbangan selama 30 menit dan timbang (M) 4. Isi piknometer dengan aquades, keringkan 5. Celupkan piknometer kedalam penangas air pada suhu 20oC ± 0,2oC selama 30 menit. Sisipkan penutupnya dan keringkan piknometernya. 6. Biarkan piknometer didalam lemari timbang selama 30 menit, kemudian timbang dengan isinya (M1). 7. Kosongkan piknometer tersebut, cuci dengan etanol, kemudian keringkan dengan arus udara kering. 8. Isi piknometer dengan contoh minyak (M. sereh) dan hindari adanya gelembunggelembung udara. 9. Celupkan kembali piknometer kedalam penangas air pada suhu 20oC ± 0,2oC selamat 30 menit. Sisipkan tutupnya dan keringkan piknometer tersebut. 10. Biarkan piknometer didalam lemari timbang selamat 30 menit dan timbang (M2) Keterangan: Bobot jenis: d2020 = M2M M1  M M1= massa piknometer berisi aquades M = massa dalam gram, piknometer kosong M2 = massa, piknometer berisi contoh M (M. sereh) Perhitungan: d2020 = M2M (14/119) M1  M d2020= M2M (223/14) M1  M 53,2304  31,0561 38,0534  29 ,1732 = 56 ,1076  31,0561 = 39 ,1970  29 ,1732 = 22 ,1743 25 ,0515 = 8,8802 10 ,0238 = 0,8851= 0,8859 5.1.3. PENENTUAN KADAR AIR KOPI DENGAN METODE OVEN Alat:     Neraca analitik Cawan Oven Desikator Bahan:  Kopi Prosedur kerja: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Timbang cawan kosong Tambahkan 10 gr kopi Masukkan ke oven dengan suhu 130oC selama 16 jam (ditutupannya dibuka) Setelah 16 jam keluarkan cawan tersebut Masukkan ke desikator, dinginkan hingga suhu ruangan Setelah dingin, timbang cawan beserta isinya. Perhitungan: M1  M 2 x 100% M 1  Mo 102 ,6147  101,1786 = x 100% 102 ,6147  92 ,578 1,4361 = x 100% 10 ,0367 = 0,1430 x 100% = 14,3 % = keterangan: Mo= Berat cawan kosong M1= Berat cawan tutup sebelum pengeringan M2= Berat cawan tutup sesudah pengeringan 5.1.4. PENENTUAN KADAR AIR KOPI DENGAN ALAT CERATESTER Alat:  Ceratester Bahan:  Kopi Prosedur kerja: 1. Timbang 100 gr sampel kopi 2. Masukkan ke ceratester 3. Lihat kadar air kopi pasaran Perhitungan: Y = 1,13 x – 2,403 = 1,13.11,5 – 2,403 = 12,995 – 2,403 = 10,592 = 10,6 5.1.5. MENCARI JENIS BIJI KAKAO Alat-alat yang digunakan : - Kaca arloji - Neraca Analitika - Pisau Carter : Biji Kakao Bahan yang digunakan Prosedur Kerja : 1. Hitunglah berat kaca arloji 2. Kemudian timbang 100 gr kakao 3. Lalu kakao dibelah menjadi 2 bagian dengan menggunakan pisau carter 4. Kemudian lihatlah bagian dalamnya dan termasuk dalam golongan yang mana 5. Lalu hitunglah dengan menggunakan rumus x x100% 300 Perhitungan : Jumlah biji kakao keseluruhan = - Biji slaty - Biji berserangga = 9 - Biji berjamur = =1 = = 14 = Berat cawan 38.0185 100.2061 138.2246 Jumlah biji kakao keseluruhan 108 biji / 100 gram UPT. BPSMB – MEDAN DINAS DEPERINDAGSU FORMAT Judul : Hasil Analisa Kopi Sistem Nilai Cacat Kode / No Halaman Terbit/Tgl/Versi FIle : F / 024 : 1 dari 1 : 1/05 – 05 – 06/1 : F / HAKSNC - RS LAPORAN HASIL ANALISA - No. Contoh Tgl. Terima Contoh Tgl Analisa Tgl. Selesai Analisa Grade : 1207 : 15-8-2011 : 16-9-2011 : 16-9-2011 :6 NILAI CACAT 1 ½ ½ 1 ¼ 1 ½ 1/5 ½ ½ 1/5 1/10 1/5 1/5 1/10 1/5 1/10 5 2 1 JUMLAH CACAT 13 116 JUMLAH NILAI CACAT 13 58 PARAF PELAKSANA PENYELIA LIA NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18 19. 20. JENIS CACAT biji hitam biji hitam sebahagian biji hitam pecah biji gelondongan biji coklat husk ukuran besar husk ukuran sedang husk ukuran kecil biji berkulit tanduk kulit tanduk uk besar kulit tanduk uk sedang kulit tanduk uk kecil biji pecah biji muda biji berlubang 1 biji berlubang lebih dari satu biji bertutul-tutul (proses basah) Ranting, tanah, batu ukuran besar Ranting, tanah, batu ukuran sedang Ranting, tanah, batu ukuran kecil TOTAL NILAI CACAT - 302 75,5 208 42 75 41,6 4,2 15 756 : tidak ada : tidak ada : 10,6 : :0% : Mutu 6 207,3 Adanya serangga hidup Biji berbau busuk dan atau berbau kapang Kadar air (%) Lolos ayakan (%) (b/b) Ø 7,5 mm, Ø 6,5 Dan Ø 5,5 mm, Ø 6 mm, Ø 5 mm, Ø 3,5 Kadar kotoran Hasil analisa / kesimpulan ………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………………………... .
Fly UP