SWOT (IFAS_EFAS)

  • Published on
    18-Jul-2015

  • View
    1.505

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>Pendekatan Analisis SWOT Dengan Pemberian SkorSecara prinsip analisis yang digunakan dalam pemberian skor, utamanya dalam pemberian peringkat dan penyusunan tabel-tabel Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) dan Matriks Evaluasi Faktor Internal (EFI) mengacu kepada pendekatan yang digunakan oleh Fred R. David (1995, 1997, 1999, 2001, 2003). Perbedaannya ialah David memberikan peringkat 1 dan 2 untuk faktor-faktor kunci yang merupakan ancaman dan kelemahan, dan memberikan peringkat 3 dan 4 pada faktor-faktor kunci yang merupakan peluang dan kekuatan. Hasil skoring (perkalian bobot dengan peringkat) baik pada tabel EFE dan tabel EFI dijumlah untuk menentukan apakah peluang lebih besar dari pada ancaman atau sebaliknya serta apakah kekuatan lebih besar dari pada kelemahan atau sebaliknya. Karena jumlah bobot=1 maka hasil penjumlahan skor (bobot x peringkat) akan berada pada kisaran 1 dan 4 atau rata-rata 2,50. Apabila hasil penjumlahan pada tabel EFE &gt; 2,50 maka peluang lebih besar dari pada ancaman atau sebaliknya, dan apabila hasil penjumlahan pada tabel EFI &gt; 2,50 maka kekuatan lebih besar dari pada kelemahan atau sebaliknya. Alih-alih menggunakan peringkat 1 dan 2 untuk ancaman dan kelemahan serta 3 dan 4 untuk peluang dan kekuatan, Analisis dengan skor menggunakan peringkat 1 dan 2 baik untuk faktor-faktor kunci yang merupakan ancaman dan kelemahan maupun untuk faktor-faktor kunci yang merupakan peluang dan kekuatan. Pada tabel EFE dan EFI hasil skoring faktor-faktor kunci yang merupakan peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan dijumlahkan secara terpisah. Apabila hasil penjumlahan skoring faktor-faktor kunci yang merupakan peluang lebih besar dari pada penjumlahan skoring faktor-faktor kunci yang merupakan ancaman pada tabel EFE maka peluang lebih besar dari pada ancaman atau sebaliknya, dan apabila hasil penjumlahan skoring faktor-faktor kunci yang merupakan kekuatan lebih besar dari pada penjumlahan skoring faktor-faktor kunci yang merupakan kelemahan pada tabel EFI maka kekuatan lebih besar dari pada kelemahan atau sebaliknya. Pilihan pendekatan seperti ini karena lebih mudah dimengerti dan lebih dikenal di lingkungan bisnis atau badan usaha misalnya BUMD.</p> <p>Contoh Analisis SWOT Dengan Pemberian SkorContoh kasus yang dianalisis disini ialah suatu organisasi atau lembaga keuangan, yaitu Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR). Langkah-Langkah: 1. Analisis Faktor-Faktor Eksternal Analisis faktor-faktor eksternal mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. b. Mengenali kekuatan kunci faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kinerja organisasi ; Mengumpulkan data dan informasi mengenai faktor-faktor tersebut.; 1</p> <p>2 c. d. e. Apabila dianggap perlu, membuat proyeksi mengenai perkembangan faktor-faktor tersebut selama periode perencanaan; Mengidentifikasikan faktor-faktor eksternal tersebut yang secara strategis merupakan peluang dan ancaman terhadap organisasi Mentabulasi dengan memberi bobot dan rating serta memperbandingkan peluang dengan ancaman, yang dihadapi.</p> <p>Dalam contoh ini (PD BPR) secara umum, kekuatan kunci faktor-faktor eksternal yang berpengaruh adalah sebagai berikut.: a. b. c. d. Kekuatan perekonomian makro Kekuatan politik, pemerintahan dan hukum Kekuatan demografi, social, budaya dan lingkungan Kekuatan teknologi</p> <p>Rincian dari kekuatan faktor-faktor eksternal yang perlu dimonitor dan dievaluasi berikut sumbernya - contoh untuk PD BPR disajikan pada tabel berikut ini: Tabel 3. Kekuatan-Kekuatan Eksternal Yang Perlu Dimonitor Faktor KunciKekuatan-Kekuatan Perekonomian1. 2. 3. 4. Kecenderungan pertumbuhan perekonomian egional (Produk Domestik Regional Bruto /PDRB) Kecenderungan peningkatan hasil panen dan produk-produk industri kecil dan menegah di kabupaten/kota dan kecamatan lokasi perusahaan Ketersediaan kredit dengan bunga rendah dari Pemerintah dan Bank Indonesia Kegiatan perekonomian wilayah kabupaten/kota dan kecamatan yang spesifik (produk pertanian dan industri kecil yang dominan, pasar-pasar tradisional, pasarpasar khusus seperti pasar induk dan tempat pelelangan produk-produk pertanian tertentu, misalnya ikan) Kecenderungan Kebijakan Pemerintah di Bandung moneter (pengendalian jumlah uang yang beredar untuk mengendalikan inflasi melalui tingkat suku bunga SBI) dan kebijakan fiskal (kebijakan APBN/APBD yang bertujuan mengendalikan pertumbuhan ekonomi) Pasar ekspor komoditas-komoditas hasil pertanian dan produkproduk industri kecil dan menegah di kabupaten/kota dan kecamatan lokasi perusahaan</p> <p>5.</p> <p>6.</p> <p>Kekuatan Politik, Pemerintahan dan Hukum1. 2. Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah mengenai usaha kecil menengah UKM Regulasi dan deregulasi yang dilaksanakan Pemerintah Pusat dan Daerah mengenai dan desentralisasi dan otonomi daerah (PP, Keppres, SKB, Kepmen, Surat Edaran Menteri, Perda, SK Kepala Daerah dan lain-lain 3. UU Perbankan dan Kebijakan Pengawasan Bank Indonesia terhadap perbankan umum dan BPR mengenai kecukupan modal 4. UU dan kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah mengenai ekspor dan impor yang berdampak terhadap perkembangan kegiatan perekonomian wilayah kabupaten/kota dan kecamatan yang spesifik 5. UU Perlindungan Konsumen - Dinas dan instansi terkait 6. Kebijakan Bank Pembangunan Daerah setempat mengenai pembinaan PD BPR/BKK/Bank Pasar 7. Renstrada, Propeda dan dokumen perencanaan daerah lainnya seperti PDPP. 8. Perhatian dan dukungan eksekutif dan legislatif daerah terhadap perkreditan mikro</p> <p>3 Faktor Kunci9. dan UKM (masalah kecukupan modal, penyaluran dana-dana khusus seperti dana kompensasi kenaikan BBM Intervensi eksekutif dan legislatif daerah terhadap manajemen perusahaan</p> <p>Kekuatan Teknologi1. 2. Perkembangan teknologi informasi yang dapat mendukung pengembangan sisten informasi manajemen (MIS) dan komunikasi melalui internet. Perkembangan teknologi yang dapat mendukung pengembangan system kartu ATM (misalnya dengan memanfaatkan fasilitas Bank Umum seperti Bank Pembangunan Daerah)</p> <p>Kekuatan Teknologi1. 2. Perkembangan teknologi informasi yang dapat mendukung pengembangan sisten informasi manajemen (MIS) dan komunikasi melalui internet. Perkembangan teknologi yang dapat mendukung pengembangan system kartu ATM (misalnya dengan memanfaatkan fasilitas Bank Umum seperti Bank Pembangunan Daerah)</p> <p>Kekuatan Persaingan1. 2. 3. 4. 5. Data mengenai para pesaing di wilayah kerja / daerah pemasaran perusahaan (BRI unit Desa, BPR/Bank Pasar milik swasta, Koperasi Simpan Pinjam dan lembaga keuangan non-bank lainnya, tengkulak, rentenir dan lain-lain. Kekuatan para pesaing. Kelemahan para pesaing. Sasaran Dan Strategi Para Pesaing Utama Data mengenai perkiraan pangsa pasar perusahaan sejenis.</p> <p>Faktor-faktor yang dimonitoring berikut hasil monitoring dimasukkan ke Lembar Kerja Evaluasi Faktor-Faktor Eksternal untuk diidentifikasi, apakah faktor-faktor tersebut merupakan peluang atau ancaman dan untuk kemudian diberi bobot dan peringkat. Faktor-Faktor Eksternal Yang Perlu Dimonitor. Langkah-langkah untuk monitor adalah sebagai berikut. a. Identifikasi faktor-faktor kunci eksternal mana saja yang merupakan peluang dan beri tanda P pada kolom Sifat (kolom 2), dan faktorfaktor mana saja yang merupakan ancaman dan beri tanda A pada kolom tersebut. Beri bobot untuk setiap faktor, yaitu faktor tidak penting diberi bobot 0,00 sampai dengan 1,00 untuk faktor penting, pada kolom Bobot (kolom 6). Bobot menunjukkan kepentingan relatif dari faktor terhadap organisasi, agar organisasi bisa berhasil dalam industri organisasi (misalnya: PD BPR: kredit mikro, PDAM: sistem penyediaan air bersih perpipaan, RSD: pelayanan kesehatan masyarakat). Jumlah seluruh bobot yang diberikan baik untuk faktor-faktor yang merupakan peluang maupun faktor-faktor yang merupakan ancaman harus sama dengan 1,00. Untuk memudahkan pembobotan, beri nilai 0 sampai dengan 4 pada kolom Nilai (kolom 5): 0 = tidak penting; 2 = agak penting; 3 = penting; dan 4 = sangat penting. Setelah semua faktor-faktor kunci eksternal diberi nilai, nilai tersebut dijumlah, dan bobot untuk suatu faktor kunci eksternal adalah nilai yang diberikan kepada faktor dibagi dengan jumlah nilai semua faktor. Dan apabila semua bobot faktor-faktor kunci eksternal</p> <p>b.</p> <p>4 dijumlahkan, akan diperoleh nilai satu. Faktor-faktor yang diberi nilai lebih besar dari pada nol (&gt;0) hendaknya faktor yang benar-benar mempunyai pengaruh yang signifikan. Kalau ada dua faktor atau lebih yang mirip yang sama-sama merupakan peluang atau sama-sama merupakan ancaman atau kedua faktor itu mempunyai hubungan sebabakibat, yang diberi nilai lebih besar dari pada nol hanya salah satu saja. c. Berikan peringkat 1 dan 2 pada kolom (9) untuk faktor-faktor kunci eksternal yang merupakan peluang dan peringkat 2 dan 1 pada kolom (12) untuk faktor-faktor kunci eksternal yang merupakan ancaman untuk menentukan seberapa jauh strategi organisasi waktu ini dapat merespon (memanfaatkan untuk faktor-faktor peluang dan menghindari untuk faktorfaktor yang merupakan ancaman). Untuk peluang: 1 = rendah (kurang efektif) dan 2 = tinggi (cukup efektif), sedangkan untuk ancaman 2 = rendah (kurang efektif) dan 1 = tinggi (cukup efektif). Contoh Lembar Kerja Faktor-Faktor Eksternal disajikan pada Tabel 4 berikut :</p> <p>5 Tabel 4. Contoh Lembar Kerja Evaluasi Faktor-Faktor EksternalPengaruh No (1) 1 1.1 Faktor-Faktor Yang Harus Dimonitor (2) Kekuatan-Kekuatan Perekonomian Kecenderungan pertumbuhan perekonomian regional (Produk Domestik Regional Bruto /PDRB). Kecenderungan peningkatan hasil panen dan produk-produk industri kecil dan menegah di kabupaten/kota dan kecamatan lokasi perusahaan. Hasil Monitor (3) a. Perekonomian daerah tumbuh rata-rata 4% pertahun a. Hasil panen mengalami peningkatan rata-rata 5% per tahun. b. Produksi industri kecil dan menengah meningkat rata-rata sebesar 10% pertahun. Kredit bunga rendah dari BI diperkirakan masih akan tersedia selama 3 5 tahun kedepan. Kegiatan perekonomian wilayah di dominasi oleh sektor pertanian dan industri kecil. Sifat (4) P Nilai (0-4) (5) 0 Bobot (6) 0.00 Peringkat Efektifitas Strategi Organisasi Untuk Merespon Peluang Ancaman Rendah Tinggi Point Rendah Tinggi Point (7) (8) (9) (10) (11) (12)</p> <p>1.2</p> <p>P P</p> <p>0 2</p> <p>0.00 0.06 X 1</p> <p>1.3</p> <p>Ketersediaan kredit dengan bunga rendah dari Pemerintah dan Bank Indonesia. Kegiatan perekonomian wilayah kabupaten/kota dan kecamatan yang spesifik (produk pertanian dan industri kecil yang dominan, pasar-pasar tradisional, pasar-pasar khusus seperti pasar induk dan tempat pelelangan produk pertanian tertentu, misalnya ikan).</p> <p>P</p> <p>3</p> <p>0.09</p> <p>X</p> <p>2</p> <p>1.4</p> <p>P</p> <p>0</p> <p>0.00</p> <p>6Pengaruh No Faktor-Faktor Yang Harus Dimonitor Hasil Monitor Sifat Nilai (0-4) 0 Bobot 0.00 Peringkat Efektifitas Strategi Organisasi Untuk Merespon Peluang Ancaman Rendah Tinggi Point Rendah Tinggi Point</p> <p>1.5</p> <p>Kecendrungan Kebijakan Pemerintah di bidang moneter (pengendalian jumlah uang yang beredar untuk mengendalikan inflasi melalui tingkat suku bunga SBI) dan kebijakan fiskal (kebijakan APBN/APBD yang bertujuan mengendalikan pertumbuhan ekonomi). Pasar ekspor komoditas-komoditas hasil pertanian dan produk-produk industri kecil dan menengah di kabupaten/kota kecamatan lokasi perusahaan.</p> <p>Tingkat inflasi cukup rendah</p> <p>P</p> <p>1.6</p> <p>Tidak tersedianya pasar ekspor komoditas unggulan daerah.</p> <p>A</p> <p>0</p> <p>0.06</p> <p>2 2.1</p> <p>Kekuatan Politik, Pemerintahan dan HukumKebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah mengenai usaha kecil menengah UKM Regulasi dan deregulasi yang dilaksanakan Pemerintah Pusat dan Daerah mengenai dan desentralisasi dan otonomi daerah (PP, Keppres, SKB, Kepmen, Surat Edaran Menteri, Perda, SK Kepala Daerah dan lain-lain a. Perhatian Pemerintah terhadap perkembangan UKM cukup besar a. Regulasi dan deregulasi pemerintah berdampak positif pada perkembangan BPR P 2 0.06 X 1</p> <p>2.2</p> <p>P</p> <p>0</p> <p>0.06</p> <p>7Pengaruh No Faktor-Faktor Yang Harus Dimonitor Hasil Monitor Sifat Nilai (0-4) 4 Bobot Peringkat Efektifitas Strategi Organisasi Untuk Merespon Peluang Ancaman Rendah Tinggi Point Rendah Tinggi Point X 1</p> <p>2.3</p> <p>UU Perbankan dan Kebijakan Pengawasan Bank Indonesia terhadap perbankan umum dan BPR mengenai kecukupan modal</p> <p>a. Peraturan BI tentang kecukupan modal bagi BPR masih sulit dipenuhi Pemda.</p> <p>A</p> <p>0.12</p> <p>2.4</p> <p>UU dan kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah mengenai ekspor dan a. Kebijakan Pemerintah impor yang berdampak terhadap mengenai impor beras perkembangan kegiatan perekonomian merugikan petani. wilayah kabupaten/kota dan kecamatan yang spesifik UU Perlindungan Konsumen Kebijakan a. Adanya UU perlindungan konsumen membuat Perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi. Bank Pembangunan Daerah setempat mengenai pembinaan PD BPR/BKK/Bank Pasar a. Kebijakan BPD yang meminta PD BPR untuk membayarkan haji Pemda yang tinggal di luar kota Kabupaten. a. Renstrada menegaskan pengembangan usaha kecil menengah</p> <p>A</p> <p>0</p> <p>0.00</p> <p>2.5</p> <p>A</p> <p>0</p> <p>0.00</p> <p>2.6</p> <p>P</p> <p>0</p> <p>0.00</p> <p>X</p> <p>2</p> <p>2.7</p> <p>Renstrada, Propeda dan dokumen perencanaan daerah lainnya seperti PDPP.</p> <p>P</p> <p>0</p> <p>0.00</p> <p>8Pengaruh No Faktor-Faktor Yang Harus Dimonitor Hasil Monitor Sifat Nilai (0-4) 0 Bobot Peringkat Efektifitas Strategi Organisasi Untuk Merespon Peluang Ancaman Rendah Tinggi Point Rendah Tinggi Point</p> <p>2.8</p> <p>Perhatian dan dukungan eksekutif dan legislatif daerah terhadap perkreditan mikro dan UKM (masalah kecukupan modal, penyaluran dana-dana khusus seperti dana kompensasi kenaikan BBM Intervensi eksekutif dan legislatif daerah terhadap manajemen perusahaan</p> <p>a. Eksekutif dan legislatif belum sepenuhnya memberikan perhatian terhadap lembaga perkreditan makro dan UKM. a. Adanya campur tangan dalam perekrutan pegawai dan penyaluran kredit menjadikan BPR terhambat perkembangannya.</p> <p>A</p> <p>0.00</p> <p>2.9</p> <p>A</p> <p>4</p> <p>0.12</p> <p>X</p> <p>2</p> <p>3 3.1</p> <p>Kekuatan Sosial, Budaya, Demografi dan Lingkungan Kepadatan dan kecenderungan pertumbuhan penduduk a. Pertumbuhan penduduk rendah karena tingginya migrasi ke Kota provinsi dan Jakarta. a. Sebagian besar penduduk daerah berprofesi sebagai nelayan dan pengrajin sovenir. A 0 0.00</p> <p>3.2</p> <p>Struktur mata pencaharian penduduk di kabupaten/kota dan kecamatan lokasi perusahaan</p> <p>P</p> <p>0</p> <p>0.00</p> <p>9Pengaruh No Faktor-Faktor Yang Harus Dimonitor Hasil Monitor Sifat Nilai (0-4) Bobot Peringkat Efektifitas Strategi Organisasi Untuk Merespon Peluang Ancaman Rendah Tinggi Point Rendah Tinggi Point</p> <p>3.3 .</p> <p>Tingkat pendapatan rumah tangga dan sikap masyarakat terhadap menabung</p> <p>a. Pendapatan rumah tinggi cukup tinggi. b. Kemauan masyarakat untuk menabung masih rendah. a. Sebagian ulama setempat mengharamkan bungan. a. Sebagian besar PNS membeli kendaraan secara kredit/angsuran. a. Lokasi PD BPR berdekatan dengan pasar seni/art shop. a. Setiap tahun selalu terjadi banjir yang dapat mengancam panen masyarakat.</p> <p>P A</p> <p>0 3</p> <p>0.00 0.09 X 2</p> <p>3.4</p> <p>Sikap pemuka agama dan masyarakat umum di daerah pemasaran terhadap bunga bank Kebiasaan kelompok masyarakat ter...</p>