Studi kelayakan bisnis

  • Published on
    28-Nov-2014

  • View
    24.503

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

Transcript

<ul><li> 1. STUDI KELAYAKAN BISNIS RUMAH COKLAT Disusun Oleh: Yusniar Adelia Ningrum 100810201022 Cinthia Valentina Iswahyudi 100810201042 Rizqi Ila Khoiriyah 100810201138 Dita Kusumawati 100810201161 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS JEMBER 2013 </li></ul><p> 2. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cokelat dihasilkan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat cokelat di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko. Dokumentasi paling awal tentang cokelat ditemukan pada penggunaannya di sebuah situs pengolahan cokelat di Puerto Escondido, Honduras sekitar 1100 -1400 tahun SM. Residu yang diperoleh dari tangki-tangki pengolahan ini mengindikasikan bahwa awalnya penggunaan kakao tidak diperuntukkan untuk membuat minuman saja, namun selaput putih yang terdapat pada biji kokoa lebih condong digunakan sebagai sumber gula untuk minuman beralkohol. Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh suku Maya kuno di Ro Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat di sekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon kakawa yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman xocoltl yang berarti minuman pahit. Menurut mereka, minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun, tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran. Cara menyajikannya pun tak sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah lain di tanah, penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter) namun kadang-kadang ditambahkan juga busa tambahan. Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat. Biji dari pohon kakao ini sendiri sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperolah. Setelah dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa. Diperkirakan kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450 SM - 500 SM. Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, ataurempah- rempah lain. Minuman Xocoatl juga dipercaya sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari kandungan theobromin di dalamnya. Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec, biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa 3. Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa merupakan makanan para dewa (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kokoa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah. Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika, dalam kebudayaan mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao bean) sering digunakan sebagai mata uang [3] . Sebagai contoh suku Indian Aztec menggunakan sistem perhitungan dimana satu ayam turki seharga seratus biji kokoa dan satu buah alpukat seharga tiga biji kokoa [4] Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat. Semua cokelat Eropa awalnya dikonsumsi sebagai minuman. Baru pada 1847 ditemukan cokelat padat. Orang Eropa membuang hampir semua rempah-rempah yang ditambahkan oleh orang Meso-Amerika, tetapi sering mempertahankan vanila. Juga mengganti banyak bumbu sehingga sesuai dengan selera mereka sendiri mulai dari resep khusus yang memerlukan ambergris, zat warna keunguan berlilin yang diambil dari dalam usus ikan paus, hingga bahan lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering ditambahkan adalah gula. Sebaliknya, cokelat Meso-Amerika tampaknya tidak dibuat manis. Cokelat Eropa awalnya diramu dengan cara yang sama dengan yang digunakan suku Maya dan Aztec. Bahkan sampai sekarang, cara Meso-Amerika kuno masih dipertahankan, tetapi di dalam mesin industri. Biji kokoa masih sedikit difermentasikan, dikeringkan, dipanggang, dan digiling. Namun, serangkaian teknik lebih rumit pun dimainkan. Bubuk cokelat diemulsikan dengankarbonasi kalium atau natrium agar lebih mudah bercampur dengan air (dutched, metode emulsifikasi yang ditemukan orang Belanda), lemaknya dikurangi dengan membuang banyak lemak kokoa (defatted), digiling sebagai cairan dalam gentong khusus (conched), atau dicampur dengan susu sehingga menjadi cokelat susu (milk chocolate). Perkembangan Coklat di Indonesia Ternyata perkembangan coklat yang sangat pesat di Eropa juga memberikan dampak pada perkembangan coklat di Indonesia. Pada jaman Kolonial coklat mulai berkembang disini, dimana coklat mulai dikenal di pulau Jawa pada awal abad ke 18, yang dimulai dari Batavia pada tahun 1780-1790 tetapi sayang hasilnya tidaklah maksimal. kemudian coklat 4. mulai berkembang ke wilayah Indonesia lainnya seperti Menado pada tahun 1822, Ambon pada tahun 1830, Halmahera pada tahun 1867 dan pulau Bacan pada tahun 1880. Pada masa itu mulai terlihat adanya pengembangan olahan coklat yang dilakukan oleh perusahaan swasta. Tapi pengolahan coklat ini memberikan keuntungan bagi para petani setempat, namu karena otoritas dari Kolonial maka pengolahan coklat ini pun bisa berlangsung terus hingga tahun 1896. Perkebunan coklat di Indonesia terus dikembangkan dengan berbagai alternatif, hingga pada akhirnya pada tahun 1960 produksi coklat di Indonesia semakin meningkat. pada tahun 1970 para petani mulai tertarik untuk menanam coklat setelah melihat perkembangan coklat dinegara tetangga, Malaysia. dari sinilah coklat di Indonesia benar-benar mulai berkembang, hingga sekarang tercatat ada 3 wilayah sebagai penghasil coklat terbesar di Indonesia, yaitu Jawa Timur, Sumatra Utara dan daerah Timur. Latar Belakang Didirikannya Rumah Coklat Coklat adalah makanan yang sangat digemari berbagai kalangan, tidak peduli usia, gender, status ekonomi dll. Hal ini bisa dilihat bagaimana antusiasme seluruh orang didunia terhadap makanan dan minuman berbahan dasar coklat, baik itu dibuat berupa kue, es krim, minuman, dll. Sedangkan Jember sendiri merupakan suatu kabupaten yang sedang berkembang. Hal ini dikarenakan berbagai macam faktor, salah satunya adalah dari segi pendidikan, Jember memiliki Universitas Negeri yang banyak diminati oleh para pelajar yang hendak melanjutkan tingkat pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan banyaknya pelajar dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke Jember dengan tujuan untuk menempuh pendidikan di Universitas Negeri Jember. Sedangkan dari pengalaman kami sebagai mahasiswa atau sebagai pemuda-pemudi Jember, masyarakat Jember sangat antusisas terhadap tempat-tempat nongkrong yang menyediakan berbagai macam makanan unik dan menarik, memiliki tempat yang nyaman, dan desain yang menarik, dan yang paling penting adalah harga. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk membuat Rumah Coklat hal ini berdasarkan pantauan kami terhadap hobi para muda-mudi untuk sekedar nongkrong atau kumpul-kumpul denga kawan-kawan mereka memilih tempat yang nyaman dan desain yang unik, dan hal ini dimanfaatkan untuk berjualan makanan dan minuman berbahan dasar coklat yang notabene masih belum ada di Jember. 5. BAB II PEMBAHASAN A. Aspek Pasar dan Pemasaran 1. Segmentasi , Targeting, Positioning a. Segmentasi Yang menjadi segmentasi dari usaha ini semua kelas, yakni mulai kelas menengah keatas maupun menengah kebawah . b. Targeting Yang menjadi target pasar adalah para muda-mudi baik itu pelajar maupun mahasiswa dan masyarakat sekitar. c. Positioning Produsen ingin menciptakan image atau citra bagi resto ini dibenak para konsumen adalah resto cokelat yang melayani sepenuh hati tanpa mematikan kantong konsumen tanpa mengurangi kualitas yang sudah terjamin. 2. Permintaan a. Perkembangan permintaan saat ini Dewasa ini, cokelat sudah mulai menjadi salah satu trend makanan bagi anak muda dan permintaan saat ini mulai merangkak naik. b. Prospek permintaan akan datang Coklat akan tetap diminati oleh semua orang dari semua kalangan karena kenikmatannya. Selain itu, trend makan berbahan dasar coklat selalu berkembangnya setiap tahunnya. 3. Penawaran a. Perkembangan penawaran saat ini Perkembangan penawaran saat ini di wilayah Jember dan sekitarnya untuk kedai spesialisasi cokelat masih sangat jarang sedangkan permintaan selalu meningkat. b. Prospek penawaran akan datang Mengingat adanya peluang yang besar dalam usaha resto cokelat yang akan datang. Maka perlu adanya produk yang memberikan nilai lebih. Oleh karena itu, bagi pelaku usaha disektor ini perlu melakukan penawaran yang inovatif untuk menarik pasar. 6. 4. Analisis persaingan Dengan melihat kondisi dimana rumah coklat belum ada disekitar kampus, hal ini menyimpulkan bahwa belum terjadi persaingan antara usaha cokelat satu dengan yang lain. Namun hal itu tidak menutup kemungkinan terjadi persaingan dengan makanan ringan lainnya. Tapi dengan keunikan yang ada pada Rumah Cokelat, hal ini tidak akan menjadikan sesuatu berarti. Selagi pemasar dapat memasarkan produknya seinovatif mungkin. 5. Produk Produk yang akan dihasilkan berupa makanan dan minuman berbahan dasar coklat. Dengan menggunakan bahan-bahan yang terpilih, cokelat yang akan diproduksi dapat dikatakan sebagai produk yang berkualitas. Karena produsen bukan hanya mengutamakan kuantitas namun juga kualitas dari hasil yang akan diproduksi. Dengan pemilihan bahan- bahan yang akan digunakan, hal ini akan menjadikan nilai tambah dari hasil produk. Material yang digunakan: Bahan: Coklat batang Coklat bubuk Cocoa Keju Roti tawar Pancake instant Buah-buahan segar Ice cube Gula cair, gula bubuk Madu Susu kental manis all variant Ice cream all variant Susu bubuk coklat dan vanilla Sirup blueberry, strawberry, orange Mayonaise Saus tomat + saus sambal Kopi hitam, cappucino, mochacino Saus strawberry, saus blueberry Soda Bahan dasar cake 7. Menu Makanan Coklat: Choco lava with ice cream Choco lava original Ice cream wafer choco Choco sundae Banana Split Pancake : - Strawberry - Vanilla - Coklat Waffle : - Strawberry - Vanilla - Coklat Cupcake berbagai macam varian Sandwich, kentang goreng, roti bakar Menu Minuman Aneka Jus Ice Snow White Ice Deep Purple Es Buah Orange Squash Italian Soda Strawberry Bliss Milkshake Soda Gembira Cola Float Strawberry Float 6. Harga Harga yang ditetapkan untuk: a. Makanan all variant Rp 8.000 b. Minuman all variant Rp 6.000 c. Cupcakes Rp 10.000 8. 7. Distribusi Distribusi produk dilakukan secara langsung ke konsumen, hal ini dikarenakan pembeli datang langsung ke tempat penjualan. 8. Promosi Kegiatan promosi yang dilakukan untuk memperkenalkan produk cokelat ini melalui berbagai promosi yaitu: 1. Social network / media sosial Media sosial yang digunakan disini seperti facebook, twitter dan media sosial lainnya, tidak ada biaya khusus dan tergolong murah. 2. Menyebar brosur, leaflet Promosi lainnya yang akan dilakukan adalah dengan menyebarkan brosur-brosur dan leaflet yang berisi promosi dari produk cokelat yang akan dijual. 9. Strategi Pemasaran 1. Kegiatan promosi Kegiatan promosi harus digalakkan dengan mempromosikan lewat media cetak seperti, pamphlet,leaflet ataupun,banner, maupun promosi melalui media sosial network seperti facebook, twitter dll. Selain itu adanya cokelat gratis pada beberapa pembeli pertama sebagai promosi awal berdirinya usaha. 2. Tingkat pelayanan Mahasiswa yang lebih menyukai keefektifan dan efisiensi waktu juga harus diperhatikan. Sehingga, dalam melayani harus dapat memuaskan konsumen. Seperti dalam melayani konsumen diterapkan 3S (Senyum,Salam dan Sapa), dan keefektifian waktu melayani. 3. Product Life Cycle (PLC) Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk. Dengan menggunakan PLC, diharapkan dapat mempertahankan kelangsungan usaha. 9. Dalam keempat tahap dari analisa Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini memiliki beberapa strategi: Perkenalan Pertumbuhan Kedewasaan Penurunan Produk Menawarkan produk dasar Menawarkan variasi produk baru Pembedaan produk berdasakan jumlah permintaan Tidak memproduksi menu yang jarang dibeli konsumen Harga Memberikan harga dasar sesuai kesepakatan Memberikan harga yang dapat diterima pasar Harga yang sama atau lebih baik dari pesaing Menurunkan harga Promosi Penjualan Menggunakan banyak promosi menarik untuk mendapatkan konsumen Mengatur promosi agar mendapatkan lebih banyak keuntungan dari permintaan konsumen Kembali membuat promosi- promosi menarik yang mampu mempertahankan perhatian konsumen Kurangi promosi untuk memaksimalkan laba. 10. PLC dalam Rumah Coklat dilakukan guna mempertahankan eksistensi usaha. Tabel menjelaskan strategi-strategi yang dapat digunakan untuk menghindari terjadinya kerugian dalam usaha. 10. Analisis SWOT Kekuatan (Strenght) Letak lokasi usaha di dekat kampus sangat strategis, bersih Memiliki tenaga kerja yang ahli di bidangnya Kelemahan (Weakness) Belum dikenal oleh masyarakat secara luas Produk yang ditawarkan berupa makanan yang mudah basi, sehingga ketika produk tidak laku dijual, dibutuhkan penanganan khusus agar tidak ada bahan yang terbuang. Misalnya, adonan yang belum terproses menjadi menu makanan jadi hendaknya disimpan di dalam kulkas. Peluang (Opportunity) Bekerja sama dengan pihak sponsor penyedia bahan dasar makanan dan minuman (coklat, susu, dan soda). Ancaman (Thread) Pesaing dari kedai lain yang sudah banyak pelanggan yang mengadaptasi menu yang telah tersedia di kedai kami sebagai menu tambahan di kedai mereka. 11. Keputusan Strategi Strategi produk yang lebih murah Strategi produk prestise Strategi inovasi produk Strategi penekanan biaya Strategi promosi yang intensif Dari analisis aspek pasar dan pemasaran, dapat dikatakan usaha ini layak untuk dijalankan karena telah memiliki dasar pemasaran yang kuat sehingga dalam proses berjalannya diharapkan mampu mendukung penjualan. B. Aspek Manajemen 1. Perencanaan (Planning) 11. Sisi Pendekatan Perencanaan Rumah Coklat menggunakan pendekatan kombinasi dalam pembuatan suatu perencanaan yaitu Pendekatan Atas-Bawah (Top-Down) dan Pendekatan Bawah-Atas (Bottom-Up).Dipilihnya dua pendekatan agar terjadi hubungan baik antara atasan dan bawahan sehingga jika terjadi suatu masalah di dalam pekerjaan, karyawan dapat mengungkapkannya kepada atasan agar atasan dapat segera mengambil tindakan atas masalah yang terjadi di lapangan. Sisi Program Kerja Rumah Cokelat berusaha melaksanakan aktivitas produksi untuk mencapai target dan omzet yang telah ditentukan sebelumnya.Dalam pemasarannya, Rumah Cokelat merencanakan untuk memberikan sesuatu yang unik...</p>