Struktur Komunitas Gastropoda (Moluska) Hutan Mangrove ... Pada hasil pengamatan di Kawasan Hutan Mangrove

Embed Size (px)

Text of Struktur Komunitas Gastropoda (Moluska) Hutan Mangrove ... Pada hasil pengamatan di Kawasan Hutan...

  • 1   

    Struktur Komunitas Gastropoda (Moluska) Hutan Mangrove Sendang Biru, Malang Selatan

    Dian Saptarini1, Indah Trisnawati2, dan Mardian Anugrah Hadiputra3

    1,2,3 Jurusan Biologi, FMIPA_ITS

  • 2   

    diperkirakan sekitar 4,25 juta ha (sekitar 27 % luas hutan mangrove dunia) (Irwanto, 2006). Menurut Giesen (1993), hutan mangrove di Jawa Timur berkurang dari luasan 7.750 ha menjadi 500 ha dan kawasan mangrove yang tersisa diperkirakan kurang dari 1%. Untuk itu diperlukan upaya konservasi melalui upaya inventarisasi dan mengetahui kondisi keanekaragaman flora, fauna dan jasad renik maupun ekosistemnya (Rugayah dan Suhardjono, 2007).

    Ekosistem wilayah pantai dan perairan laut yang paling dominan di Sendang Biru adalah hutan mangrove dan terumbu karang. Hutan mangrove Sendang Biru merupakan kawasan dengan topografi pesisir berupa perairan semi tertutup berbentuk seperti laguna dengan aliran air masuk maupun keluar berada pada satu lokasi. Tipe pasang surut Sendang Biru adalah tipe diurnal (2 kali pasang dan surut dalam sehari). Zonasi hutan mangrove Sendang Biru (Pantai Celungup) banyak didominasi oleh jenis Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, dan Rhizopora mucronata. Hutan mangrove di Sendang Biru (Pantai Celungup) memiliki ketebalan yang cukup tinggi ± 0,76 km atau ± 756,82 m walaupun di beberapa area terlihat adanya penebangan oleh penduduk sekitar terutama jenis Ceriops tagal dan Bruguiera gymnorrhiza untuk dimanfaatkan kayunya. Dengan adanya aktifitas penebangan yang cukup intensif tersebut, maka perlu adanya upaya konservasi mangrove beserta fauna asosiasinya. Perubahan kawasan hutan mangrove menjadi areal untuk kepentingan lain akan menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem mangrove itu sendiri serta biota-biota yang hidup di dalamnya, termasuk fauna Moluska kelas Gastropoda, yang memanfaatkan mangrove sebagai habitat dan fungsi ekologi lainnya. Oleh karena itu, diperlukan kajian tentang Gastropoda sebagai salah satu kelas dari filum Moluska yang dominan pada ekosistem mangrove. Kajian tentang komunitas Gastropoda di dalam kawasan hutan mangrove Sendang Biru meliputi keanekaragaman jenis dan distribusinya. Metodologi Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan Desember 2010. Lokasi pengambilan sampel berada di hutan mangrove wilayah Sendang Biru, Pantai Celungup, Malang Selatan. Pengamatan dan identifikasi gastropoda dilakukan di Laboratorium Ekologi Program Studi Biologi FMIPA ITS Surabaya. Pengambilan sampel makrofauna bentik (Moluska kelas Gastropoda) dilakukan pada 7 lokasi (stasiun 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7). Pemilihan stasiun didasarkan pada dominansi dan keanekaragaman jenis mangrove yang terdapat di lokasi pengambilan sampel. Peta lokasi pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 3.1

  • 3   

    Gambar 3.1 Lokasi Pengambilan Sampel di Hutan Mangrove Sendang Biru, Malang Selatan

    Keterangan: Stasiun 1 = area mangrove yang didominasi oleh jenis Ceriops sp. (1) Stasiun 2 = area mangrove yang didominasi oleh jenis Rhizophora sp. (1) Stasiun 3 = area mangrove yang didominasi oleh jenis Bruguiera sp. (1) Stasiun 4 = area mangrove yang didominasi oleh jenis Rhizophora sp. (2) Stasiun 5 = area mangrove yang didominasi oleh jenis Ceriops sp. (2) Stasiun 6 = area mangrove yang didominasi oleh jenis Xylocarpus sp. Stasiun 7 = area mangrove yang didominasi oleh jenis Bruguiera sp. (2) = masukan & keluaran air laut = air tawar Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat transek dan plot analisa vegetasi mangrove meliputi peta wilayah (topografi) Sendang Biru, GPS @Garmin tipe Itrex, roll meter, meteran, tali rafia, jangka sorong, kamera, dan kantung plastik. Untuk pengambilan sampel makrofauna bentik di mangrove, alat dan bahan yang digunakan meliputi sekop kecil, clip plastic, termometer merkuri/alkohol, kertas pH, DO Meter, hand-refracto salinometer ATC FG-217, dan formalin sea water 5 %. Sampel Gastropoda yang didapatkan diidentifikasi sampai dengan tingkat spesies. Buku panduan identifikasi yang digunakan yaitu The Living Marine Resources of Western Central Pacific Volume 1 (Poutiers, 1998) dan Indonesian Shells I & II (Dharma, 1992). Sedangkan sampel mangrove yang didapatkan diidentifikasi sampai dengan tingkat spesies. Buku panduan identifikasi yang digunakan yaitu A Guide To The Mangroves of Singapore I (Sivasothi and Peter, 2002) dan Buku Panduan Mangrove di Indonesia (Bali dan Lombok) (Kitamura et al., 1997). Pengamatan serta

  • 4   

    identifikasi Gastropoda dilakukan di Laboratorium Ekologi Program Studi Biologi FMIPA ITS Surabaya. Komponen-komponen analisis yang digunakan untuk menentukan struktur komunitas moluska, yaitu:

    a) Keanekaragaman Keanekaragaman spesies dapat dikatakan sebagai keteherogenan spesies dan

    merupakan ciri khas dari struktur komunitas. Rumus yang digunakan untuk menghitung keanekaragaman spesies adalah rumus dari indeks diversitas Shannon- Wiener (Magurran, 1983), yaitu: H’ = - ∑ [(ni/N) x ln (ni/N)] dimana: H’: indeks Diversitas Shannon-Wiener ni : jumlah individu spesies ke-i N : jumlah total individu semua spesies Kriteria hasil keanekaragaman (H’) untuk moluska gastropoda menurut Wibisono (2005), yaitu sebagai berikut:

    Indeks Keanekaragaman Kategori > 2.41 Sangat baik

    1.81 – 2.4 Baik 1.21 – 1.8 Sedang 0.61 – 1.2 Buruk

    < 0.6 Sangat buruk b) Kepadatan

    Kepadatan adalah jumlah individu per satuan luas (Brower dan Zar, 1977) dengan rumus sebagai berikut: D = Ni/A dimana: D : kepadatan moluska (ind/m2) Ni: jumlah individu A : luas petak pengambilan contoh (m2)

    c) Keseragaman Keseragaman dapat dikatakan sebagai keseimbangan, yaitu komposisi individu

    tiap spesies yang terdapat dalam suatu komunitas. Rumus indeks keseragaman (Brower dan Zar, 1977) adalah sebagai berikut: E = H’/H max dimana: E : indeks kemerataan (Eveness) H’ : indeks keanekaragaman H max : 3,3219 Log S

  • 5   

    S : jumlah taksa/spesies Nilai indeks keseragaman ini berkisar antara 0-1. Jika indeks keseragaman

    mendekati nilai 0, hal tersebut menunjukkan bahwa penyebaran individu tiap spesies tidak sama dan di dalam ekosistem tersebut terdapat kecenderungan terjadinya dominansi spesies yang disebabkan oleh adanya ketidakstabilan faktor-faktor lingkungan maupun populasi. Jika indeks keseragaman mendekati nilai 1, hal tersebut menunjukkan bahwa ekosistem tersebut berada dalam kondisi relatif stabil, yaitu jumlah individu tiap spesies relatif sama.

    d) Dominansi Untuk mengetahui ada tidaknya dominasi dari spesies tertentu digunakan Indeks

    Dominansi Simpson (Brower dan Zar, 1977), yaitu: dimana: D : indeks dominansi Ni: jumlah individu spesies ke-i N : jumlah total individu S : jumlah taksa/spesies pi : nilai ni/N

    Nilai indeks dominansi berkisar antara 0-1. Jika indeks dominansi mendekati nilai 0, dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada individu yang mendominasi dan biasanya diikuti dengan indeks keseragaman yang besar. Sementara jika indeks dominansi mendekati nilai 1, berarti terdapat salah satu genera yang mendominasi dan nilai indeks keseragaman semakin kecil.

    Metode ordinasi dilakukan dengan menggunakan program Canoco for Windows 4.5. Pembuatan tabel data menggunakan Microsoft Excel 2007, kemudian di export ke dalam format Canoco melalui WCanoImp. Setelah itu data kemudian akan diordinasikan oleh Canoco. Setelah data diordinasikan maka selanjutnya dapat diketahui Lenght of Gradient sebagai suatu nilai untuk memodelkan data dengan menggunakan metode linier, Principal Components Analisis/PCA, atau Redundancy Analysis/RDA, atau metode unimodal Correspondence Analysis/CA, Detrended Correspondence Analysis/DCA, atau Canonical Correspondence Analysis/CCA. Jika Lenght of Gradient < 3 maka digunakan metode Linier tetapi jika Length of Gradient > 4 maka digunakan metode Unimodal. Setelah Running melalui CANOCO maka hasil dan kesimpulan program akan diinput oleh data dengan membuat diagram (grafik) melalui CanoDraw. Sedangkan untuk mengkorelasikan data spesies dengan faktor lingkungan yang ada maka variabel lingkungan tersebut diuji dengan menggunakan Monte-carlo permutations test sehingga dapat dilihat hasil nilai P-value dan F- rationya (Leps, 1953).

  • 6   

    Hasil dan Pembahasan Pengambilan sampel gastropoda menggunakan metode bingkai plot. Pengambilan sampel juga meliputi pengambilan parameter fisik kimia lingkungan dan analisis tipe sedimen. Berikut merupakan hasil data parameter Fisika Kimia Lingkungan dan Tipe Sedimen masing-masing stasiun pengamatan.

    Tabel 4.1 Hasil Data Parameter Fisika Kimia Lingkungan dan Tipe Sedimen

    Stasiun Suhu air (°C) pH

    Substrat Salinitas

    (‰) DO

    (ppm) TOM (%)

    Tipe Sedimen

    1 (Ceriops 1) 35 6 33 4,67 10,39 sandy clay 2 (Rhizophora 1) 37,3 5,8 18 6,54 11,82 clay 3 (Bruguiera 1) 35 6 30 5,06 22,28 silty clay 4 (Rhizophora 2) 35 6,2 34 5,13 17,62 clay 5 (Ceriops 2) 33 6,2 11,3 4,94 9,22 clay 6 (Xylocarpus) 32,3 5,9 30,3 4,71 22,11 silty clay 7 (Bruguiera 2) 34 6,1 30,7 4,41 5,88 sand Pada hasil pengamatan di Kawasan Hutan Mangrove Sendang Biru ditemukan 17

    spesies dari 5 famili Gastropoda dalam 7 stasiun pengamatan. Pemilihan stasiun didasarkan pada dominansi dan keanekaragaman jenis mangrove yang terdapat di lokasi pengambilan sampel. Identifikasi sampel dilakukan di Laboratorium Ekologi Program Studi Biologi FMIPA ITS. Klasifikasi kelas Gastropoda mengikuti acuan pada buku-buku mengenai ide