of 215/215
TIPOL DALAM KONST (Studi pada Pesa Disusun u gun F INSTITUT AG GI PONDOK PESANTREN LASI PEMBAHARUAN PENDI ISLAM ntren-pesantren di Kabupaten SKRIPSI tuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat a Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam Oleh: MIFTAHUDDIN  NIM. 073111105 KULTAS TARBIYAH MA ISLAM NEGERI WALISO SEMARANG 2011 DIKAN udus) GO

Skripsi Tipologi Pondok Pesantren

  • View
    2.858

  • Download
    17

Embed Size (px)

Text of Skripsi Tipologi Pondok Pesantren

TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKA PENDIDIKAN ISLAM (Studi pada Pesantren pesantren di Kabupaten Kudus) Pesantren-pesantren

SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam

Oleh: MIFTAHUDDIN NIM. 073111105

FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011

TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKA PENDIDIKAN ISLAM (Studi pada Pesantren pesantren di Kabupaten Kudus) Pesantren-pesantren

SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam

Oleh: MIFTAHUDDIN NIM. 073111105

FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011i

ABSTRAKJudul Penulis NIM : Tipologi Pondok Pesantren dalam Konstelasi Pembaharuan Pendidikan Islam (Studi pada Pesantren pesantren di Kabupaten Kudus) : Miftahuddin : 073111105

Dunia pesantren kini menampilkan wajah barunya. Pesantren sekarang lebih bersifat dinamis, terbuka, dan mampu menjadi penggerak perubahan yang diinginkan. Setidaknya inilah kesimpulan Gus Dur (alm) melihat realitas akhir dekade ini. Bukan tanpa bukti, meskipun pola perubahan bersifat sporadis yang semestinya berbeda antara satu pesantren dengan lainnya, namun mereka nampak telah mengambil kesepakatan untuk tetap mempertahankan tradisi pesantren yang telah terbangun sejak dulu. Bentuk perubahannya pun bervariasi, ada yang menekankan aspek sistem pendidikan, kurikulum, pola pembelajaran dan lain sebagainya. Bahkan sebagian pesantren sudah ada yang mampu menyelenggarakan pendidikan formal dengan mengikuti kurikulum nasional. Jika pola semacam ini dipertahankan, bukan tidak mungkin institusi pesantren akan mengikuti jejak pondok pesantren Asyariyyah Wonosobo yang mampu mendirikan Universitas. Jadi, salah alamat jika masih ada pihak yang menyatakan bahwa pesantren sebagai sarang kejumudan dan konservatisme. Skripsi ini sebagai bentuk pembuktian mengenai perkembangan pesantren yang sepertinya sudah nyaman menempat dihati masyarakat luas. Ini merupakan sebuah peluang yang dapat diupayakan pesantren menjadi pendidikan alternatif masa depan. Namun, tidaklah mudah mencari format pesantren yang diharapkan tersebut mengingat kuatitasnya yang tidak sedikit. Bahkan menurut prediksi Zamachsjari Dhofier berpotensi mencapai 35.000 pesantren untuk 10 tahun kedepan. Masing-masing pesantren mempunyai tipe yang menjadi ciri khas sesuai dengan perubahan yang diinginkannya sebagaimana apa yang menjadi tujuan pendidikan Islam. Meskipun demikian, dari banyaknya pesantren tersebut penulis memberanikan diri melacak tipe-tipe pembaharuan yang dilakukannya dalam bingkai kajian tipologi pondok pesantren. Sehingga isi skripsi membahas tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam. Kajian yang menjadi latar belakangnya salah satunya adalah proses pembaharuan yang masih setengah hati sehingga nilai-nilai yang diharapkan dalam pembaharuan tersebut kurang efektif karena kurang optimal. Supaya kajian ini lebih mendalam, atas berbagai pertimbangan dengan pihak terkait, maka kajian tipologi ini fokus pada pesantrenpesantren yang ada di Kabupaten Kudus. Di mana data terbaru menunjukkan sekarang ini di Kudus terdapat 86 pesantren yang masih survive memenuhi kebutuhan masyarakat. Studi pada pesantren Kudus ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan : (1) Bagaimana kondisi objektif pesantrenpesantren di Kabupaten Kudus? (2) Bagaimana eksistensi Pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus? (3) Bagaimana tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus? Permasalahan tersebut akan dijawab melalui studi

v

lapangan yang dilaksanakan di 3 (tiga) pesantren sebagai sample, yakni Pondok Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran (PTYQ) pusat Kajeksan Kota Kudus, Pondok Pesantren Yanbuul Quran Mahad Al-Ulumisysyariyyah (MUSYQ) Lil Banin Kwanaran Kota Kudus, dan Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus. Ketiga pesantren tersebut menjadi sumber data untuk mendapatkan potret tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam. Metode pengumpulan datanya menggunakan observasi, interview dan dokumentasi dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Sementara teknik analisis datanya menggunakan analisis kualitatif yang berjenis analisis deskriptif-hermeneutis (analisis kritis hermeneutika sosial). Di mana cara kerja analisis ini bukan hanya sekedar mesdiskripsikan fenomena, melainkan juga menafsirkan proses dialektik yang menjadi realitas untuk menyingkap tabir makna-makna teks sosial. Kajian ini menunjukkan bahwa : (1) 86 pesantren yang ada dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) tipologi, yakni tipe A, B dan C. Tipe A, sistem pendidikan masih tradisional, kurikulum belum jelas dan baku, pola pembelajarannya klasik dan sudah menyelenggarakan madrasah diniyyah. Tipe B, sistem pendidikan integrasi antara sistem pesantren dan madrasah formal, kurikulum sudah terprogram jelas, pola pembelajarannya terpadu dan sudah menyelenggarakan pendidikan formal dengan mengikuti kurikulum nasional. Tipe C, sistem pendidikan tradisonal dan santri doperbolehkan mengikuti jenjang pendidikan formal di luar pesantren, kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum), pola pembelajarannya klasik dan sudah menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk madrasah lokal pesantren. (2) Munculnya pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern umat Islam. Faktor intern menuntut perbaikan pada tubuh pesantren, sementara faktor ekstern menunjukkan kelemahan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga dengan adanya pembaharuan ini, sistem pendidikan yang awalnya sentralistik menjadi desentralistik, kurikulum yang awalnya fokus keagamaan dipadukan dengan kurikulum nasional, pola pembelajaran yang masih tradisional disempurnakan dengan metode-metode transformatif dan pesantren mampu menyelenggarakan pendidikan formal, sekolah umum, madrasah maupun pendidikan kejuruan. (3) Dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam, tipologi pondok pesantren dapat dipetakan pada rangkaian format berikut ini. Dari aspek sistem pendidikan berorientasi pada pendidikan sepanjang waktu (full day learning), aspek kurikulum berorientasi untuk berkomitmen tafaqquh fi al-din, aspek pola pembelajaran menekankan pada metode-metode pembelajaran yang tranformatif dan sistem penyelenggaraan pendidikannya berorientasi pada pendidikan berbasis masyarakat (community based education). Pada rangkaian format ditemukan tipe pesantren yang mampu menyeimbangkan pendidikan agama dan umum, serta dilengkapi dengan pendidikan ketrampilan yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat modern sekarang ini. Bahkan bisa dijadikan sebagai pendidikan alternatif pilihan masyarakat untuk masa depan.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Tipologi Pondok Pesantren dalam Konstelasi Pembaharuan Pendidikan Islam, dengan melakukan studi pada pesantren-pesantren di Kabupaten Kudus. Awalnya, judul yang diajukan adalah Tipologi Pembaharuan Pesantren, namun sempat terjadi dialog argumentatif dengan pihak birokrasi jurusan, lalu akhirnya diambillah judul sebagaimana diatas. Tentu penelitian ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Hambatan dan rintangan pun tak bisa dihindari mengingat tema kajiannya yang cukup luas. Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, dan sumbang saran dari segala pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. H. Muhibbin, MA, Rektor IAIN Walisongo Semarang. 2. Dr. Sujai, M.Ag, Dekan Fakultas Tarbiyah. 3. Nasirudin, M.Ag, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam. 4. Dr. H. Fatah Syukur NC, M.Ag dan Syamsul Maarif, M.Ag selaku dosen pembimbing yang tak henti-hentinya membimbing, mengarahkan dan memberi motivasi penulis sampai proses akhir penyusunan skripsi ini. 5. Drs. Darmuin, M.Ag, dosen wali studi yang sampai saat ini rela meluangkan waktu disela-sela kesibukannya memberi pengarahan penulis. 6. KH. Mc. Ulin Nuha Arwani Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran (PTYQ) Kajeksan Kota Kudus atas izinnya kepada penulis untuk penelitian skripsi ini. 7. KH. M. Arifin Fanani Pengasuh Pondok Pesantren Yanbuul Quran Mahad Al-Ulumisysyariyyah (MUSYQ) Lil Banin juga atas izinnya kepada penulis untuk penelitian skripsi ini. 8. KH. Moch. Khafidz Asnawi Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatuth Tholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus juga atas izinnya kepada penulis untuk penelitian pada pesantren yang Anda asuh.

vi

9. Segenap para nara sumber, pengurus pondok dan para santri-santri Kudus atas data dan dukungan yang kalian berikan semua. 10. Abah KH. Dimyathi Rois dan KH. Saksono Al-Habsyi yang telah membimbing lahir dan batin penulis selama penelitian berlangsung untuk dapat memberikan sedikit kontibrusi pemikiran pada dunia pesantren. 11. LPM Edukasi Fakultas Tarbiyah dan kawan-kawan, baik di intra maupun ekstra yang telah memberi penulis pengetahuan dan pengalaman khususnya mengenai tata cara menulis yang efektif dan mampu menjadi teman diskusi yang menyenangkan. 12. Dan kepada segenap pihak yang telah berjasa dalam penyusunan skripsi yang tidak tersebut, terima kasih yang sebenar-benarnya semoga ini merupakan langkah awal yang belum selesai karena harapan besar kalianlah yang akan meneruskan langkah-langkah selajutnya. Penelitian ini tidaklah pantas dikatakan sempurna dan tidak akan selesai tanpa nama-nama dan pihak-pihak yang telah tersebut di atas. Sebagai bahan perenungan kita bersama, ternyata masih banyak persoalan yang menyelimuti sekaligus mengancam eksistensi dunia pesantren, bahkan sampai sekarang ini belum ada solusi konkritnya. Terlalu sayang jika lembaga pendidikan Islam pertama kali ini hilang ditelan masa dan akhirnya menjadi puing-puing sejarah. Harapan besar semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi dunia pesantren. Semoga ia mampu bertahan serta mempertahankan nilai dan tradisinya, meskipun pada satu sisi ia menampilkan wajah kekiniannya dengan ikut andil di era pembaharuan ini. Akhirnya kepada Allah SWT, penulis berharap semoga tetap di beri hidayah, rahmah, afiyah dan istiqomah pada penelitian-penelitian berikutnya. Amin.

Semarang, 09 Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................... PERNYATAAN KEASLIAN ...................................................................... PENGESAHAN ........................................................................................... NOTA PEMBIMBING ............................................................................... ABSTRAK ................................................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... BAB I : PENDAHULUAN ....................................................................... A. Latar Belakang Masalah....................................................... B. Rumusan Masalah.................................................................. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................... D. Penegasan Istilah.................................................................... E. Kajian Pustaka......................................................................... F. Metode Penelitian.................................................................... BAB II : PONDOK PESANTREN DAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM ............................................................... A. Pondok Pesantren...................................................................... 1. Pengertian dan Elemen elemen Pokok Pesantren ............. 2. Pesantren dalam Lintasan Sejarah......................................... 3. Pertumbuhan dan Perkembangan Pesantren....................... .. 4. Nilai dan Tradisi Pesatren..................................................... B. Tipologi Pondok Pesantren....................................................... 1. Hakikat Pembaharuan............................................................ a. Sistem Pendidikan Pesantren............................................ b. Kurikulum Pesantren........................................................ 28 28 28 34 38 42 44 49 53 55 i ii iii iv v vi vii 1 1 7 8 9 12 17

C. Pembaharuan Pesantren............................................................. 49 2. Prinsip dan Aspek Pembaharuan Pesantren........................... 50

c. Pola Pembelajaran di Pesantren........................................

56

d. Sistem Penyelenggaraan Pendidikan................................ 61 BAB III : PESANTREN DI KABUPATEN KUDUS.................................. A. Gambaran Umum Kabupaten Kudus....................................... B. Sekilas Tentang Pesantren Kudus............................................ C. Tipologi Pesantren Kudus........................................................ 1. Sejarah dan Perkembangan Pesantren............................... a) Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran (PTYQ) Pusat...... b) Pesantren Yanbuul Quran MUSYQ Lil Banin............ c) Pesantren Raudlatut Tholibin........................................ 2. Sistem Pendidikan Pesantren............................................. a) Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran (PTYQ) Pusat...... b) Pesantren Yanbuul Quran MUSYQ Lil Banin............ c) Pesantren Raudlatut Tholibin........................................ 3. Kurikulum........................................................................ a) Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran (PTYQ) Pusat.... b) Pesantren Yanbuul Quran MUSYQ Lil Banin.......... c) Pesantren Raudlatut Tholibin....................................... 4. Pola Pembelajaran............................................................. a) Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran (PTYQ) Pusat..... b) Pesantren Yanbuul Quran MUSYQ Lil Banin.......... c) Pesantren Raudlatut Tholibin....................................... 64 64 70 72 72 72 75 76 79 79 86 93 97 97 99 102 104 104 105 106

5. Sistem Penyelenggaraan pendidikan................................. 106 a) Pesantren Tahfidz Yanbuul Quran (PTYQ) Pusat..... 106 b) Pesantren Yanbuul Quran MUSYQ Lil Banin........... 107 c) Pesantren Raudlatut Tholibin....................................... D. Fenomena Kudus Sebagai Sebagai Pesantren Terbuka........... BAB IV : POTRET TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM.... 112 A. Dinamika Pembaharuan Pesantren di Kudus.......................... viii 112 108 109

1. Sistem Pendidikan Sepanjang Waktu (Full Day Learning)......................................................................... 2. Komitmen Tafaqquh fi al-Din......................................... 3. Metodologi Transformatif............................................... 4. Pendidikan Berbasis Masyarakat (Community Based Education)....................................................................... B. Kontribusi dan Arah Pengembangan Pesantren Kudus.......... C. Tipologi Pesantren Kudus dalam Upaya Melacak Format Pesantren Ideal di Era Pembaharuan....................................... 1. Format Pesantren Ideal..................................................... 2. Tipologi Pesantren Masa Depan....................................... BAB V : PENUTUP.................................................................................... B. Saran........................................................................................ DAFTAR PUSTAKA DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP 133 136 139 143 145 126 129 115 119 124

A. Kesimpulan.............................................................................. 143

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Isu utama pesantren1 saat ini, sebagaimana pernyataan Abdul Djamil pada dasawarsa terakhir nampak sedang memasuki babak baru di tengah-tengah dinamika sosio-kultural masyarakat Indonesia. Fenomena menguatnya kembali peran pesantren dalam membentuk kebudayaan bangsa Indonesia menurutnya semakin signifikan.2 Babak baru tersebut setidaknya dapat dilacak melalui visi pesantren yang di samping sebagai lembaga pengemban intelektual, juga sebagai pembinaan moral masyarakat. Tidak heran pesantren memiliki posisi nilai tawar tinggi karena berbagai macam pemikiran mencoba berdialektika tarik ulur antara idealitas dan realitas dalam memenuhi kebutuhan mereka. Di zaman yang multikompleks ini tentunya pendidikan ideal menjadi sebuah keniscayaan. Namun, tantangan globalisasi kini semakin tak terkendalikan. Ketegangan antara aspek teoritis dan praktis atau subjektifitas dan objektifitas pesantren pun muncul. Akibatnya pendidikan Islam dengan paksa termarginalkan secara tragis ditengah kemelut krisis globalisme. Oleh karenanya pembaharuan pesantren sebagai jendela pembaharuan pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi pendidkan alternatif bagi masyarakat. Sejak awalnya, pesantren merupakan institusi keagamaan yang tidak bisa lepas dari masyarakat. Secara normatif, lembaga ini berusaha meletakkan visi dan kiprahnya dalam rangka transformasi sosial dalam bentuk pengabdian untuk membentuk moral keagamaan dan dikembangkan pada rintisan-rintisanSelain istilah pesantren (Jawa, Sunda, dan Madura), ditemukan juga istilah lain dengan makna yang sama, yakni dayah atau rangkang (Aceh), dan surau (Minangkabau). Lihat Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2009), cet. I, hlm. 14-15. Abdul Djamil, Pesantren : Jati Diri dan Perannya dalam Kebudayaan, dalam Prolog Profil Pesantren Kudus, (Kudus : Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. v.2 1

1

pengembangan yang lebih sistematis dan terpadu. substansial berikhtiar memenuhi kebutuhan riil

3

Rintisan ini secara masyarakat dalam

menyesuaikan era globalisasi, seperti pengembangan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penggunaan teknologi alternatif. Upaya yang dilakukan merupakan bentuk manifestasi pengabdian pada masyarakat oleh pesantren yang meyakini bahwa seluruh kehidupan ini adalah sebagai ibadah.4 Lembaga ini konon disebut sebagai lembaga pendidikan Islam tertua, bahkan sempat dikatakan sudah mapan di zaman para wali. Meskipun demikian, produk pesantren uniknya mampu berkompetitif dalam merespons tantangan zaman. Sebenarnya faktor apa yang mempengaruhi pesantren tetap berkembang dinamis meskipun nilai-nilai pesantren secara bersamaan dipertaruhkan? Bisa jadi pesantren mulai menyadari bahwa penggiatan diri yang hanya berorientasi pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Maka sewajarnya pihak pesantren lebih proaktif dengan memberikan ruang untuk pembenahan. Sehingga pembaharuan pendidikan pesantren dengan senantiasa harus selalu apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespons perkembangan yang ada. Berdasar pembaharuan di atas, Sahal Mahfudz, sebagaimana dikutip oleh M. Nadjib Hassan, sangat tegas menyatakan eksistensi 5 pesantren dengan berbagai perkembangan saat ini masih tetap tetap dipertahankan, meski perubahan atau modernisasi pendidikan Islam diberbagai kawasan dunia muslim terus dilancarkan. Bahkan pesantren sempat mengalami kejayaan dan kokoh sejak era 1980-an dengan banyak menarik minat masyarakat dan mendapatkan perhatian yang signifikan, khususnya di Jawa. 6 Padahal tidak3 4 5

Abd Ala, Pembaharuan Pesantren, (Yogjakarta : Pustaka Pesantren, 2006), cet. I. hlm.2-3 Abd Ala, Pembaharuan Pesantren, hlm. 5.

Menurut MA. Sahal Mahfudz, yang dimaksud eksistensi adalah meliputi kelembagaan, kurikulum, dan tradisi-tradisi khas keilmuwannya. Oleh karena itu, meskipun disebut sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam, pesantren terdeteksi selalu memiliki pemikiran future Oriented. M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren Kudus, (Kudus : Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. 2.6

2

banyak lembaga pendidikan tradisional Islam seperti pesantren yang mampu bertahan. Bahkan kebanyakan punah setelah tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum. Namun, bukan berarti pembaharuan ini tanpa masalah. Fenomena menunjukkan modernitas pesantren ternyata membawa berbagai persoalan yang cukup ruwet baik ditinjau secara nilai 7 maupun secara institutif. Institusi pesantren modern contohnya memberikan peluang sepenuhnya kepada negara untuk campur tangan sehingga dominasi negara dalam hal ini terasa cukup kuat. Dampaknya orientasi pesantren bukan tertuju pada nilai melainkan pada capaian yang bersifat Pesantren formalistik. dan Akhirnya jika sebagian pendidikan dengan pesantren dinamika menunjukkan mulai mengarah pada orientasi ijazah semata.8 pembaharuan, dihadapkan perkembangan pendidikan Islam merupakan dua term yang saat ini sangat menarik untuk dipelajari. Di samping pembaharuan merupakan kajian yang sangat relevan bila dikaitkan dengan konteks keindonesiaan yang sedang dihujani arus modernisasi, pendidikan pesantren saat ini tengah disinyalir merupakan propotipe model pendidikan yang ideal bagi bangsa indonesia. 9 Perlunya mengadakan pembaharuan karena pada akhir-akhir ini pesantren dinilai tidak responsif terhadap perkembangan zaman, artinya sulit atau bahkan tidak mau menerima perubahan. Pesantren tetap merasa kokoh dengan mempertahankan pola pendidikannya yang tradisional (salafiyah). Oleh karena itu, klaim di atas menjadikan pesantren sebagai institusi yang cenderung ekslusif dan isolatif dari kehidupan sosial umumnya. Bahkan lebihSumber tertinggi pesantren yang dari dulu hingga sekarang yang dikembangkan adalah nilainilai luhur, seperti nilai keikhlasan, kesederhaaan, dan kemandirian. Ketiga nilai tersebut dirasa semakin tereduksi dengan munculnya modernisme pesantren baru-baru ini.8 9 7

Abd Ala, Pembaharuan Pesantren, hlm. 5

Ainurrofiq, Pesantren dan Pembaruan : Arah dan Implikasi, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Penerbit PT Grasindo dan IAIN Syatif Hidayatullah Jakarta, 2001), hlm.150-151.

3

sinis lagi ada yang beranggapan pendidikan pesantren tergantung selera kyai. Masih banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap pesantren. Namun, menurut Ismail SM, justru dengan tradisionalitas pesantren tersebut, tidak bisa dipungkiri, semakin survive di tengah masyarakat yang mampu bertahan berabad-abad. Bahkan menurutnya pesantren dianggap sebagai alternatif dalam glamouritas dan hegemoni modernisme yang pada saat bersamaan mencatat tradisi sebagai masalah.10 Setelah melalui beberapa kurun waktu, pesantren tumbuh dan berkembang secara subur dengan tetap menyandang ciri-ciri tradisionalnya. Sebagai lembaga pendidikan indigenous, pesantren memiliki akar sosio-historis yang cukup kuat sehingga membuatnya mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya dan sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan. Jika diadakan pengamatan lebih lanjut, pembaharuan yang dilaksanakan di pesantren memiliki karakteristik bila dibandingkan dengan pembaharuan lainnya. Bahkan tidak salah jika dikatakan punya keunikan tersendiri, yakni unik pada kealotan dan kuatnya proses tarik ulur antara sifat dasar pesantren yang tradisional dengan potensi dasar modernisasi yang progesif dan berubahubah. Sehingga ditinjau dari segi komponen pembentuknya, pesantren mempunyai ragam jenis, mulai dari jenis pesantren besar yang mempunyai program baik formal maupun non-formal, bahkan memiliki universitas, sampai jenis pesantren pengajian kitab yang banyak memiliki pondok dan masjid Pertumbuhan pesantren yang semula rural based institution, meminjam istilahnya Azyumardi, menjadi juga lembaga pendidikan urban yang bermunculan juga di Kabupaten-kabupaten besar. Bahkan tidak sedikit

Ismail SM, Signifikansi Peran Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat Madani, dalam MA. Sahal Mahfudhz, et all, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani, (Yojakarta : Pustaka Pelajar, 2000), cet. I, hlm. 171.

10

4

pesantren melakukan sumbangsih pembaharuan untuk masyarakat luas sehingga lulusan pesantren tetap marketable.11 Di antara Kabupaten besar yang terdapat banyak pesantren adalah di Kabupaten Kudus yang sampai sekarang dianggap sebagai kota santri. Culture religius yang sudah terbentuk sedemikian apik tidak lepas dari jasa para pendahulunya, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Kedua sunan tersebut mampu membentuk subkultur, Abdurrohman Wahid mengistilahkannya, sehingga sampai sekarang ini lahir puluhan pesantren di Kabupaten tersebut. Pada akhir tahun 2005 tercatat di Kudus terdapat 86 pesantren dari 9 kecamatan. Kesemuaan pesantren tersebut bisa dikatakan produktif dalam melakukan perubahan-perubahan pada tubuh pesantrennya. Dari banyaknya pesantren yang tercatat di atas, tentu memiliki karakteristik tersendiri jika dilihat dari visi, misi, dan orientasi keilmuwan pesantren menjadi varian menarik untuk diteliti lebih mendalam. Fenomena semakin digandrunginya pesantren di tengah kemelut bangsa ini tentu tidak lepas dari spesifikasi pesantren. Oleh karena itu, spesifikasi pesantren menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Terlebih jika penelitian ini dikaitkan dengan agenda pembaharuan pendidikan Islam yang sedang di gadang-gadang oleh para pembaharunya. Oleh karena itu, penelitian ini nantinya akan berikhtiar mengumpulkan semua pesantren yang ada di Kabupaten Kudus kemudian dikategorisasikan menurut karakternya masing-masing. Selanjutnya, ditipologikan menurut teori tipologi pembaharuan pesantren yang digunakan dalam penelitian ini. Meskipun demikian, dari banyaknya pondok pesantren tersebut dalam bebagai aspek setidaknya dapat ditemukan kesamaan-kesamaan umum. Jika ditelusuri lebih lanjut, maka akan ditemukan variabel-variabel struktural seperti

Ahmad Muthohar, Ideologi Pendidikan Pesantren ; Pesantren di Tengah Arus IdeologiIdeologi Pendidikan, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2007), cet. I, hlm . 5.

11

5

bentuk kepemimpinan, orientasi pesantren, organisasi pengurus, susunan rencana pelajaran (kurikulum), karakteristik keilmuwan, dan variabel-variabel lain yang apabila dibandingkan dengan antara satu pesantren dengan pesantren lainnya, dari satu daerah ke daerah lainnya, maka akan ditemukan tipologi pondok pesantren. Di mana dalam penelitian ini diharapkan akan menemukan kontribusi format pendidikan pesantren ideal sehingga dengan ini dapat merumuskan bagaimana tipologi pesantren masa depan yang berpotensi menjadi pilihan bagi masyarakat. Fenomena pondok pesantren di Kudus menunjukkan muncul sejumlah pesantren yang mempunyai keunikan tersendiri. Banyak juga pesantren yang mempunyai pondokan (asrama), masjid yang besar dan disediakan berbagai ketrampilan di dalamnya, bahkan banyak juga yang mengembangkan sistem modern. Merekapun juga tetap eksis menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Namun uniknya di Kudus juga muncul pesantren yang tidak mempunyai pondokan, akan tetapi memiliki ratusan santri yang berjubel-jubel. Hal di atas menunjukkan bahwa realitas tersebut menjadi fenomena tersendiri bagi khasanah pesantren Kudus. Ini artinya, respon pesantren Kudus tunjukkkan dengan berada ditengah-tengah antara menolak dan mengikuti polapola terbaru. Demikian, jenis pesantren yang menerapkan pola semacam ini dinamakan jenis pesantren berjargon al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Pesantren tersebut pada pola pembaharuannya sangat selektif mengadaptasi pola-pola modern yang bisa mendukung kelanggengan pendidikan pesantren yang sudah terbina sejak dulu. Kudus mempunyai banyak khasanah intelektual keislaman. Banyak peneliti menyebut Kabupaten ini kental akan dimensi sosial dan kaya akan kebudayaan. Maka tidak heran, puluhan pondok pesantren yang berkembang dan survive sampai saat ini. Baik dari pesantren tradisional, pesantren yang sudah mampu menyelenggarakan pendidikan formal, maupun pesantren yang hanya membuka asrama bagi santri yang bersekolah umum. Pembaharuan

6

pesantren di Kudus nampak menunjukkan perkembangan yang sporadis. Namun, begitu juga tak mungkin dihindari perhelatan dan pertautan pembaharuan pesantren satu ke pesantren lainnya. Apalagi masing-masing pesantren pasti mempunyai lokalitas sendiri-sendiri. Oleh karena itu, sangat penting jika pola dan corak pembaharuannya, serta arah pendidikan tersebut dicermati lebih seksama dalam sebuah penelitian yang tujuannya membingkai pola pembaharuan pesantren tersebut. Fenomena kyai banyak santri tanpa pondok pesantren merupakan realitas variabel menarik yang layak untuk diteliti. Terlebih diklasifikasikan tipologi masing-masing dengan harapan agar dapat mempermudah cara pemahaman dalam mengkajinya. Dengan mempertimbangkan uraian di atas beserta berbagai permasalahan yang melatar belakanginya, maka penelitian yang studi pada pesantrenpesantren di Kabupaten Kudus ini secara tegas dengan judul, TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI PADA PESANTREN-PESANTREN DI KABUPATEN KUDUS). B. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah di atas, secara eksplisit penelitian ini bertujuan untuk menjawab, bagaimana tipologi pondok pesantren dan pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus? dan secara implisit rumusan tersebut mengandung pertanyaan-pertanyaan : 1. Bagaimana kondisi objektif pesantren-pesantren di Kabupaten Kudus? 2. Bagaimana eksistensi pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus? 3. Bagaimana tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam di Kabupaten Kudus?

7

C.

Tujuan dan Manfaat Penelitian Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah: 1. Mendeskripsikan tipologi dan karakter pondok pesantren di Kabupaten Kudus sebagai pemberdayaan potensi pesantren dengan menjadikannya sebagai model pendidikan Islam alternatif. 2. Menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan pondok pesantren di Kudus serta dinamikanya di tengah arus pembaharuan pendidikan Islam. 3. Menggambarkan bahwa tidak semua lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren tertinggal, bahkan dianggap tidak responsip terhadap perkembangan zaman di tengah-tengah deru modernisasi. Tetapi justru menunjukkan eksistensinya yang dinamis, baik kelembagaan maupun sistem pendidikannya. 4. Melihat secara kritis kondisi objektif pondok pesantren di Kudus dalam menghadapi tantangan modernisasi sebagai kebutuhan dalam proses pencarian tipe pendidikan ideal yang mampu menciptakan generasi yang cerdas akal (otak), emosi, sosial dan spiritualnya sehingga menjadi generasi yang unggul, berintregitas tinggi dan penuh kemandirian. 5. Mencari format tipologi pendidikan ideal di kalangan pesantren yang memang sistem pendidikan dan tradisi keilmuwannya benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sarana untuk membangun jiwajiwa kemandirian yang mempunyai mentalitas ikhlas limardlotillah. 6. Mengkategorisasikan pesantren-pesantren di Kabupaten Kudus dengan berbagai variannya sesuai dengan tipologi, maupun dengan visi yang dibawa dalam menegakkan tujuan pendidikan Islam sehingga dapat mempermudah kekurangannya. masyarakat untuk menilai keunggulan dan

8

Dengan memperhatikan hasil penelitian ini secara menyeluruh, maka diharapkan akan memperoleh manfaat sebagai berikut : 1. Memberikan kontribusi pada khasanah keilmuan Islam dalam studi pendidikan Islam, khususnya tentang sejarah dan perkembangan lembaga pendidikan Islam tradisional, yaitu pesantren. 2. Memberikan kontribusi pemikiran kepada praktisi dan atau institusiinstitusi yang berkompeten terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. 3. Mempermudah masyarakat dalam usaha untuk memperoleh informasi tentang tipe-tipe pesantren yang ada di Kabupaten Kudus sehingga lahir amal kebaikan bagi peneliti sendiri terutama secara khusus, dan secara umumnya semua pihak yang telah membantu, baik dari kalangan pesantren sendiri maupun sumber-sumber dari luar pesantren. D. Penegasan Istilah 1. Tipologi Tipologi dapat diartikan sebagai ilmu watak golongan-golongan menurut tipe, corak watak masing-masing. Jasa ilmu ini bisa dimanfaatkan untuk melacak potensi-potensi pondok pesantren yang tengah bergelut dengan perkembangan zaman. Terlebih jika pondok pesantren tersebut dihadapkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga memaksa dengan sadar pihak pesantren untuk merubah dirinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih dari geliat pesantren ini juga merupakan fenomena tersendiri untuk dilakukan penelitian. 2. Pondok Pesantren Menurut Sudjoko, sebagaimana di kutip oleh Ridlwan Nasir menyatakan bahwa pondok pesantren berasal dari gabungan kata pondok dan pesantren. Istilah pondok berasal dari kata funduk yang berarti rumah

9

penginapan atau asrama. Sedangkan pesantren secara etimologis asalnya pesantri-an yang mempunyai tempat santri. Santri atau murid yang belajar agama pada seorang kyai atau syeikh di pondok.12 Namun dalam konteks ke-Indonesia-an, pesantren di Indonesia khususnya di Jawa lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu rumah sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupaka asrama atau pondok bagi santri. Sementara menurut Mastuhu, sebagaimana di kutip oleh Fatah Syukur, mengatakan secara definitif pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaranajaran agama Islam (tafaqquh fi al-din) dengan mementingkan moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari.13 Pada dasarnya, pesantren merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional tempat para santrinya tinggal bersama dan belajar di bawah pengajaran kyai. Asrama bagi santri inilah yang disebut pondok. Sehingga Zamachsjari Dhofier mengatakan bisa dikatakan pesantren jika telah memenuhi elemenelemen dasar, diantaranya pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kyai.14 3. Konstelasi Konstelasi dapat diartikan sebagai gambaran, tatanan, atau keadaan yang dibayangkan. 15 Keadaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keadaan pembaharuan dalam pendidikan Islam. Artinya, dalam menghadapiRidlwan Nasir, Mencari Format Tipologi Pendidikan Ideal Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2005), cet. I, hlm. 80. Fatah Syukur NC, Dinamika Madrasah dalam Masyarakat Industri, (Semarang : Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu KeIslaman dan Pesantren and Madrasah Development Centre, 2004), cet. I, hlm. 26. Zamachsjari Dhofier, Tradisi Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : Penerbit LP3ES, 1982), hlm. 44.15 14 13 12

http://www.artikata.com/arti-336079-konstelasi di akses pada tanggal 18 Juni 2011

10

tantangan zaman, pesantren mau tidak mau harus menerima secara inklusif berbagai perubahan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, kata konstelasi bisa diartikan sebagai seluk beluk beluk suatu persoalan atau kumpulan. 16 Meskipun demikian, penelitian ini condong pada arti kata sebelumnya dengan alasan yang sudah dijelaskan. 4. Pembaharuan Menurut Harun Nasution, sebagaimana dikutip oleh Yusran Asmuni, pembaharuan identik dengan kata modernisasi yang lahir dari dunia Barat. Di mana modern sendiri artinya terbaru, mutakhir, atau sikap dan cara berpikir serta bertindak dengan tuntutan zaman. Sehingga modernisasi merupakan sebuah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini. Harun menambahkan, modern bukan hanya membaharui paham-paham, sikap atau adat istiadat, melainkan lebih luas lagi mencakup pembaharuan institusiinstitusi yang dipandang lama untuk disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaan-keadaan yang baru.17 Sedangkan menurut Dawam Raharjo, pembaharuan lebih identik dengan kata reformation yang merupakan derivasi dari kata reform yang mempunyai arti (seseorang, lembaga, prosedur, sistem atau tradisi). Reformasi yang dikehendaki bisa terlaksana dengan adanya pembaharuan.18 Pengertian semacam ini senada dengan tawaran pembaharuan pesantren Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menegaskan bahwa pesantren bersifat dinamis, terbuka dengan perubahan, dan mampu menjadi penggerak yang diinginkan. Tawaran pembaharuan Gus Dur tersebut meliputi penyusunan

16 17

Farida Hamid, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, (Surabaya : Apollo, tth), hlm. 306

M. Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dunia Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001), cet. III, hlm. 1.18

Ainurrofiq, Pesantren dan Pembaruan, hlm. 152.

11

kurikulum, peningkatan sarana, pembenahan manajemen kepemimpinan, pengembangan watak mandiri, dan lain sebagainya.19 5. Pendidikan Islam Menurut Ahmadi, pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam. 20 Pendidikan dewasa ini terlihat goyah terutama karena orientasi yang semakin tidak jelas. Konsep dan praktek pendidikan Islam dirasakan terlalu sempit, artinya terlalu menekankan pada kepentingan akhirat, sedangkan ajaran Islam menekankan pada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yang akan diproses menuju masyarakat madani. Apalagi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dimiliki sekarang ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang. Hal ini sesuai dengan pengertian pendidikan Islam menurut hasil konferensi pertama tahun 1977 di Mekkah, yang menyatakan bahwa istilah pendidikan Islam tidak lagi hanya berarti pengajaran teologik atau pengajaran al-Quran, hadits dan fiqih, tetapi memberi arti pendidikan di semua cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan dari sudut pandang Islam.21

Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi Esai-esai Pesantren, (Yogjakarta : LKiS, 2010), cet.III, hlm.vi. Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam Paradigma Humanisme Teosentris, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2005), cet.I, hlm. 28-29.21 20

19

Achmadi, Ideologi Pendidikan, hlm. 29.

12

E.

Kajian Pustaka Di antara alasan kenapa pesantren selalu menarik untuk diteliti yaitu : Pertama, pesantren dinilai tetap eksis sejak ratusan tahun di Indonesia meskipun tergerus oleh arus modernisme. Kedua, pesantren mempunyai keunikan tersendiri dimana antara satu pesantren dengan pesantren yang lain mempunyai kekhasan masing-masing serta sama-sama dapat mempertahankan karakter khasnya. Ketiga, definisi tentang tradisional dan modern yang ditujukan pada pesantren kurang komprehensf sehigga menarik untuk terus diteliti. Keempat, perkembangan pesantren semakin kompleks dan multidimensi.22 Alasan di atas menunjukkan bahwa penelitian yang dimaksud merupakan tantangan tersendiri karena bahan kajiannya selalu berkembang dinamis mengikuti deras laju kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, studi yang peneliti lakukan ini tak lepas dari jasa-jasa peneliti terdahulu yang telah memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Berkaitan dengan fokus kajian penelitian ini, maka berikut ini peneliti paparkan hasil studi tentang pesantren secara umum dan pesantren Kudus secara khususnya sebagai acuan dalam penelitian ini, antara lain : Zamachsjari Dhofier dalam disertasinya yang berjudul The Pesantren Tradition : A Study the Role of the Kyai in Maintenance of the Traditional Idiologi of Islam in Java (1980) yang telah di terbitkan oleh LP3ES pada tahun 1982 dengan judul Tradisi Pesantren : Sudi tentang Pandamgan Hidup Kyai. Dalam bukunya tersebut, Dhofier sengaja melakukan penelitian tentang dua pesantren, yakni pesantren Tegalsari di Kabupaten Semarang Jawa Tengah dan pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur. Di mana kedua pesantren tersebut memang berbeda sistem dan kelembagaannya. Sehingga dalam proses

22

Ahmad Muthohar, Ideologi Pendidikan, hlm. 5.

13

penelitiannya itu sedikit banyak ditemukan berbagai fenomena khususnya strategi kyai dalam memelihara tradisi keilmuwan pesantrennya. Indikasi adanya sebuah network, menurut Dhofier menyatakan penjagaan tradisi bisa melalui transmisi pengetahuan yang bisa membentuk genealogi intelektual maupun perkawinan yang endogamous. Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (1994) yang diterbitkan oleh INIS di Jakarta. Dalam salah satu pemikirannya, Mastuhu berusaha ingin menjelaskan fenomena dari banyaknya pesantren yang ada di Indonesia di lihat dari tujuan pendidikannya. Antara satu pesantren dengan pesantren lainnya terdapat perbedaan dalam tujuan, meskipun semangatnya sama, yakni untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat serta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Dengan perbedaan ini, ia menilai terdapat keunikan masing-masing pesantren dan sekaligus menjadi karakteristik kemandirian dan independensinya. Dengan meneliti 6 pesantren, ia menggunakan pendekatan sosiologis-antropologis dan fenomenologis dengan harapan dapat menembus tabir rahasia nilai-nilai kehidupan pesantren sehingga dapat mengembangkannya dalam sistem pendidikan nasional. Fatah Syukur NC & Nishino Setsuo, dalam Bulletin of Academic Frontier Project 2005 yang berjudul Tradisi Masyarakat dan Pendidikan Islam di Kudus Jawa Tengah (2006). Penelitian bersama yang dilakukan untuk Asia Reserch Center, Toyo University ini secara cerdas mampu memotret kondisi pesantren-pesantren di Kudus yang dilengkapi dengan balutan realitas yang sudah menjadi tradisi masyarakat pada waktu itu. Disebutkan pada penelitian tersebut, tiga pesantren terbesar di Kudus, yakni Pondok Tahfidz YanbuulQuran, Pondok Pesantren Darul Falah, dan Pondok Pesantren al-Muayyad Kudus. Sebagai kesimpulanya, Fatah Syukur menguatkan fenomena bahwa pesantren di Kudus beserta tradisinya merupakan bukti keunikan budaya dan pendidikan di Kabupaten tersebut.

14

Fatah Syukur NC, dalam tesisnya yang dibukukan dan berjudul Dinamika Madrasah dalam Masyarakat Industri (2004). Meskipun orientasi buku ini tidak menyinggung banyak tentang pesantren, namun secara eksplisit dapat memberikan gambaran tentang kondisi masyarakat Kudus karena peneliti menyadari bukan dari bagian masyarakat tersebut. Penelitian yang dilakukan mengambil studi kasus di Madrasah Muallimin NU Kudus dan Madrasah TBS Kudus. Kedua madrasah tersebut tidak jauh dari objek penelitian ini, oleh karena itu bisa diperkirakan kondisi sosial kemasyarakatannya adalah tidak jauh berbeda. Tim peneliti CeRMIN (Central Riset dan Manajemen Informasi) dalam hasil penelitiannya yang berjudul Profil Pesantren Kudus yang diterbitkan pada tahun 2005. Dalam hasil penelitiannya tersebut menemukan banyak informasi yang menyangkut tentang berbagai macam profil dari pesantren yang ada di Kabupaten Kudus, baik mengenai karakteristik dan tradisi keilmuwannya. Diantara karakteriknya adalah fenomena pesantren Kudus sebagai pesantren terbuka. Namun, dalam penjelasan buku tersebut peneliti belum menemukan bagaimana geliat pesantren-pesantren tersebut dalam menghadapi modernisasi atau pembaharuan dalam pendidikan Islam. Pendekatan yang digunakan pun mash menggunakan deskriptif. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan diupayakan untuk mengkaji upaya pembaharuan yang dilakukan pesantren Kudus dengan menggunakan pendekatan hermeneutika sosial. Abdurrahman Masud, et.all, dalam buku berjudul Dinamika Pesantren dan Madrasah (2002). Buku yang berisi kumpulan artikel dan makalah oleh para peneliti dan Dosen IAIN Walisongo ini bagi peneliti bisa dijadikan konstruksi dasar pemikiran pondok pesantren yang berkembang di kalangan IAIN. Meskipun pada buku tersebut metodologi penulisannya berbeda-beda antara satu penulis dengan penulis lain, namun setidaknya teori-teori yang digunakan dapat peneliti manfaatkan untuk memperkuat argumen penelitian yang akan dilakukan ini.

15

Ahmad Muthohar, A.R. dalam skripsinya yang berjudul Ideologi Pendidikan Pesantren ; Studi Analisis Pemikiran Mastuhu Tentang Sistem Pendidikan Pesantren (2002). Penemuan Muthohar ini berakhir pada kesimpulan bahwa pesantren tidak memiliki sifat general dalam bingkai ideologi karena setiap unsur yang ada kecenderungan yang heterogen. Muthohar mengatakan secara tegas tidak semuanya pesantren itu berideologi tradisionalkonservatif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muthohar cukup membuat geli para akademisi IAIN terutama tim peneliti puslit IAIN bahkan sampai penelitian tersebut mendapatkan award. Hingga akhirnya diterbitkan menjadi buku dengan ada sedikit perubahan teks menjadi Ideologi Pendidikan Pesantren ; Pesantren di Tengah Arus Ideologi-ideologi Pendidikan. Abd Ala, Pembaharuan Pesantren, yang diterbitkan oleh pustaka pesantren tahun 2006 seolah-olah memberikan jalan terang bagaimana seharusnya penelitian ini secara metodologis dilakukan. Meskipun Abd Ala hanya melakukan reflektif dalam penyajian datanya, namun hasil yang diperoleh cukup menakjubkan. Dengan metode pendekatan hermeneutika, Abd Ala berusaha menafsirkan teks-teks kehidupan pesantren dan perkembangannya sampai sekarang ini. Kajian hermeneutik pesantren Abd Ala ini berhasil menemukan titik temu bahwa sebuah pesantren bukanlah museum purba, temat benda-benda unik dan kuno disimpan dan dilestarikan. Ia juga bukan penjara, di mana setiap tindakan dan pikiran dikontrol serta dikendalikan habis-habisan. Pesantren adalah sebentuk ruang laboratorium, di mana setiap pemikiran dikaji dan diuji ulang. Ahmad Zamharir (3100161), skripsi jurusan PAI (2005) Fakultas Tarbiyah dengan judul Peranan Pesantren dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Pondok Pesantren Pabelan Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah). Penelitian ini menemukan efektivitas pesantren dalam proses pemberdayaan masyarakat. Tranformasi nilai yang dilakukan pesantren menurut penelitian tersebut terbilang cukup efektif dalam upaya

16

mendukung terwujudnya masyarakat madani. Peran nilai efektivitas yang dimaksud adalah peranan instrumental dan fasilitator, peran mobilisasi, peran sumber daya manusia, peran sebagai agent of development, dan peran sebagai center of exelence. Amin Muallim (3102214), skripsi jurusan PAI (2006) dengan judul Transformasi Sistem Pendidikan Pesantren (Tinjauan Historis Terhadap Pondok Pesantren Al-Hikmah Brebes). Dari penelitian yang dilakukan oleh Amin Muallim ini hanya menyoroti transformasi dari sudut pandang historis. Penemuannya pun masih sekitar upaya pesantren tersebut dalam mengembangkan sistem pendidikan yang sudah dilakukan sebelumnya. Dari hasil eksplorasi peneliti terhadap berbagai sumber dan bahan pustaka tidak atau belum menjumpai pembahasan yang spesifik sama sekali dengan permasalahan yang akan di sajikan dalam penelitian ini, yaitu dengan analisis hermeneutika sosial peneliti akan berusaha mengkaji tipologi pondok pesantren yang tidak kecil peranannya dalam ikut serta mencerdaskan masyarakat serta menjadikannya sebagai sebuah alternatif sistem pendidikan Islam yang dapat terwujudnya generasi unggul. F. Metode Pembahasan Dari banyaknya pondok pesantren yang ada di Kabupaten Kudus dengan sendirinya menuntut penelitian ini dilakukan secara intens (meskipun dalam analisis peneliti mengambil representasinya saja). Dalam konteks khusus, penelitian ini secara metodologis berupaya untuk membangun pandangan subyek yang diteliti secara rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit. Oleh karena itu, jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitaif yang dalam tatanan kerjanya bertugas untuk menyajikan dunia sosial dan perspektifnya, konsep, perilaku, dan persepsi subyek yang diteliti. 23 SehinggaLexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi), (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007), cet. XXIV. hlm. 6.23

17

penelitian ini butuh kecermatan dan keakuratan untuk memahami fenomena dibalik teks-teks sosial yang dialami dan dilakukan oleh subyek penelitian. Menurut Lofland dan Lofland, sebagaimana di kutip oleh Moeloeng, sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.24

Oleh

karenanya, peneliti akan tertuntut untuk untuk mendiskripsikan fenomena atas subyek yang diteliti. Di antara deskripsi tersebut seperti dinamika pesantren, tantangan pembaharuan dengan respon yang ditunjukkan, orientasi pesantren, dan karakteristik pesantren. Selanjutnya, peneliti akan mengkategorisasi data tersebut dengan bersandar pada tipe-tipe pesantren yang dipolakan oleh Depag (sekarang Kemenag). Mengingat waktu yang disediakan dalam penelitian ini tidak lama, maka hanya diambil tiga pondok pesantren yang menjadi representasi dari masing-masing tipologi. Ketiga pondok pesantren tersebut adalah pesantren Yanbuul Quran Pusat di Kajeksan kecamatan Kota, pesantren Yanbuul Quran Mahad Al-Ulumisysyariyyah (MUSYQ) di Kwanaran kecamatan Kota, dan pesantren Roudlatut Tholibin di Kerjasan kecamatan Kota. Paradigma manusia sebagai instrumen dalam penelitian kualitatif, nampaknya menuntut penelitian ini membutuhkan pendekatan fenomenologi untuk fokus melacak pengalaman-pengalaman subjektif. Fenomenologi berusaha menyelidiki pengalaman kesadaran, yang berkaitan dengan pertanyaan seperti : bagaimana pembagian antara subjek (ego) dengan objek (dunia) muncul dan bagaimana sesuatu hal di dunia ini diklasifikasikan.25 Di samping itu, pendekatan ini juga menekankan bahwa objek ilmu bukan hanya terletak pada pengalaman empiris, melainkan mencakup fenomena dibalik persepsi, pemikiran, kemauan maupun keyakinan subjek tentang suatu yang transenden.24 25

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 157. Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitia, hlm. 15.

18

Salah satu yang digunakan dalam mendekati pengalaman kesadaran adalah dengan kesadaran sejarah. Batas-batas kesejarahan ini, menurut Amin Abdullah teori-teori, paradigma, ekspresi intelektual dan refleksi filosofis subjek secara konsisten berkaitan dengan kepentingan, asumsi, dan konteks.26 Oleh karena itu, harus ada kesadaran sejarah dalam menjelaskan makna teks sosial dan membuatnya rasional. Selanjutnya bukan hanya kesadaran sejarah, kesadaran praktis pun juga dibutuhkan dalam menafsirkan makna teks. Kesadaran praktis digunakan secara teoritis sebagai dasar pijakan untuk melakukan tindakan praktis.27 Tindakan praktis yang dimaksud dalam penelitian adalah untuk mengungkap pentingnya pembaharuan pendidikan Islam. Sedangkan untuk mencari kontribusi pesantren, maka dibutuhkan nilainilai tradisi yang menyejarah dan berkembang sampai sekarang ini. Kajian fenomenologi bisa membantu dalam menyikap nilai tradisi pesantren tersebut. Nilai-nilai tradisi tidak terletak pada subjek melainkan pada elaborasi terus menerus untuk menafsirkan realita dan mentransformasikan fakta-fakta menjadi nilai-nilai. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pesantren-pesantren di Kabupaten Kudus (86 pesantren) kemudian memilih tiga pesantren sebagai representasi dari masing-masing tipologi, maka analisisnya mau tidak mau digunakan constant comparative method (metode perbandingan tetap).28 metode ini sesuai dengan cara kerjanya secara tetap membandingkan satu pesantren dengan pesantren lainnya dan membandingkan satu tipologi satu dengan tipologi lainnya.

Amin Abdullah, Islamice Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2006), cet. I, hlm. 60. Husain Heriyanto, Tinjauan Hermeneutika : Cara Pandang Ilmuwan Barat dan Muslim, Jurnal Universitas Paramadina, (vol. 2 No. 2, Januari / 2003), hlm. 2.28 27

26

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 288.

19

Jadi, dengan berdasar pada teori-teori yang ada, maka untuk mendukung validitas data yang peneliti kumpulkan, maka di bawah ini akan dijelaskan metode penelitiannya. 1. Metode Pengumpulan Data Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana tipologi pesantren yang ada di Kabupaten Kudus, peneliti dalam proses pengumpulan datanya merasa perlu merangkul semua pihak yang berkaitan dengan objek penelitian ini, pondok pesantren dengan berbagai variannya, kyai yang dalam hal ini sebagai pengasuh beserta perangkatnya, dan dokumendokumen penting yang berhubungan dengan pondok pesantren. Oleh karena itu, metode pengumpulan data yang peneliti terapkan antara lain : a. Metode observasi Maksud dari metode observasi ini adalah untuk mengetahui bentuk pembaharuan yang dilakukan pesantren melalui observasi secara langsung. Bentuk observasi yang dilakukan dengan cara partisipasi pasif karena peneliti menyadari bukan termasuk komunitas dari masyarakat Kudus. Oleh karena itu, peneliti termasuk jenis peneliti pemeranserta sebagai pengamat. Artinya, perananan peneliti tidak sepenuhnya sebagai pengamat tetapi melakukan fungsi pengamatan. Peneliti menjadi anggota pura-pura, jadi tidak melebur dalam arti sesungguhnya.29 Meskipun demikian, tidak mengurangi semangat peneliti untuk mengkaji lebih dalam mengenai tujuan dari penelitian ini. Secara umum, observasi yang dilakukan peneliti adalah observasi deskripsi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang varian pondok pesantren di Kudus yang meliputi sejarah berdiri, visi dan misi pesantren, dan aspek pengembangan29

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 177.

20

pendidikan pesantren. Bukan hanya itu, peneliti juga akan melakukan observasi mengenai pelaksanaan kurikulum, metode pembelajaran, dan lain sebagainya dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik masing-masing pesantren. Sehubungan dengan peristiwa yang diobservasi, peneliti menggunakan strategi mengarahkan perhatian dengan fokus pada kepekaan perasaan. Menurut Patton (1980), konsep demikian dinamakan dengan sentizising consepts (konsep yang dirasakan). sentizising consepts berjasa menjadi kerangka dasar untuk menarik yang penting dari suatu peristiwa, kegiatan, atau perilaku tertentu.30 b. Metode interview Interview (wawancara) adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu interviuwer (pewawancara) sebagai pengaju pertanyaan dan interviewee (terwawancara) sebagai pemberi jawaban. Tujuan dari metode interview ini adalah mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain sebagainya.31 Dalam penelitian ini interview dilakukan agar mendapatkan data dari sumbernya secara langsung untuk kepentingan validitas data. Interview peneliti lakukan kepada para pengasuh pondok pesantren, terhadap para pengurus pondok pesantren yang peneliti rasa kapabel dan kompeten, maupun terhadap masyarakat sekitar sebagai penunjang data yang peneliti ketahui sebelumnya. Interview yang dilakukan dengan menggunakan teknik secara terstruktur maupun tak terstruktur. Secara terstruktur dimaksudkan30 31

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian., hlm. 178-179. Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian., hlm. 186.

21

untuk

mengetahui

persamaan

antar

masing-masing

pondok

pesantren. Dengan begitu, peneliti dapat menemukan keunggulan satu pesantren dibanding pesantren yang lain, dan kelemahan satu pesantren dibanding pesantren yang lain. Sehingga jika data sudah terkumpul semua, peneliti dapat melakukan kategorisasi menurut tipologi masing-masing pesantren. Terstruktur artinya peneliti menegaskan berbagai pertanyaan dan berusaha memunculkan masalah sendiri yang akan diajukan. Bukan hanya demikian, interview tak terstruktur pun juga peneliti lakukan untuk mengetahui data-data tunggal yang sebelumnya peneliti belum mendapatkannya. c. Metode dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian dimaksudkan untuk mengetahui dokumen-dokumen penting tentang pondok pesantren yang bersangkutan, baik mengenai jumlah santri, profil pesantren, bentuk kegiatan, struktur kepengurusan pondok pesantren, staf pengajar, tradisi keilmuwan yang dipelajari, penting dan ini lain tidak sebagainya. semata-mata data bisa Pengumpulan tahap ini dokumen

mengumpulkan semua data yang peneliti peroleh, namun dalam dilakukan seleksi data agar akurasi dipertanggung jawabkan secara legal-formal. Maka, dokumen yang dimaksud mencakup dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen pribadi digunakan untuk melacak catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaannya. Tujuannya itu untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi soaial dan arti berbagai faktor di sekitar subjek penelitian. Sedangkan dokumen resmi digunakan untuk melacak berbagai macam bentuk instruksi, aturan lembaga yang terkait, pengumuman, keputusan pemimpin (kyai, kepala

22

madrasah), majalah, buletin, dan berbagai macam dokumen lainnya. Tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk tentang gaya kepemimpinan dan menelaah konteks sosial. 2. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian kualitatif ini merupakan rangkaian proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja. Secara umum, proses analisis ini dijalankan sesuai dengan prosedur sebagai berikut : 1) Mencatat hasil yang diperoleh dari lapangan kemudian diberi kode supaya sumber data tetap bisa ditelusuri, 2) Mengkategorisasikan : Mengumpulkan, memilah-milah, dan klasifikasi data, 3) Mensintesiskan : Membuat ikhtisar (ringkasan), dan membuat indeksnya, 4) Melakukan pemikiran dengan jalan membuat kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubunganhubungan, dan membuat temuan-temuan umum.32 Sehingga berbagai data yang diperoleh dari lapangan, baik dari observasi, interview, dan dokumentasi selanjutnya teknik analisis datanya dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif yang berjenis analisis deskriptif-hermeneutis. Inti dari analisis jenis ini adalah terletak pada tiga proses yang berkaitan, yaitu : 1) Mendeskripsikan fenomena, 2) Mengklasifikasikannya, 3) Melihat bagaimana konsep-konsep yang muncul itu satu dengan yang lainnya berkaitan.3332

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 248.

23

Namun, penelitian ini bukan hanya mendeskripsikan data, melainkan dilengkapi dengan analisis kritis hermeneutis sosial. Analisis hermeneutis ini diterapkan sebagai alat untuk menafsirkan proses dialektika pemahaman dan reinterpretasi 34 terus menerus untuk menyingkap tabir makna-makna teks sosial.35 Setelah mendapatkan deskripsi utuh sesuai dengan cara kerja analisis di atas, maka analisis selanjutnya adalah analisis tipologi pesantren. Dalam analisis tipologi ini disertai dengan melakukan representasi karena mengingat waktu penelitian relatif singkat. Analisis ini bertugas melacak sistem pendidikan yang diterapkan oleh pesantren, bagaimana kurikulum yang digunakan, bagaimana juga pola pembelajarannya dan penyelenggaraan pendidikannya. Tujuan dari analisis tipologi yang dimaksud adalah memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola atau tipologi, dan mencari hubungan di antara dimensidimensi uraian. Oleh karena itu, langkah-langkah yang akan ditempuh secara sistematis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tahap 1 : Mendeskripsikan hasil data Hal pertama yang dilakukan peneliti adalah menelaah secara deskriptif seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, baik dari interview, observasi, maupun dokumentasi. Tahap 2 : Mereduksi data Reduksi data merupakan salah satu bentuk upata untuk mengidentifikasi data meskipun data yang terkecil namun33 34

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 289.

Upaya menafsirkan ulang dengan merancang kerangka berpikir baru dengan tujuan untuk memperjelas pengertian tersembunyi di balik teks-teks sosial menjadi sebuah makna yang jelas. Sindung Tjahyadi, Teori Kritik Jurgen Habermas : Asumsi-asumsi Dasar Menuju Metodologi Kritik Sosial, Jurnal Fisafat,( vol.XXXIV, No. 34 No.2, Agustus/ 2003), hlm. 2.35

24

jika dikaitkan dengan fokus penelitian akan menjadi data yang berguna. Reduksi data di sini akan dilakukan dengan cara melakukan abstraksi, yakni usaha membuat rangkuman yang inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dipertahankan. Tahap 3 : Mengklasifikasikan Klasifikasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan pengelompokan data menurut pola pesantren masng-masing setelah melalui proses pereduksian data. Pengelompokan data ini mengenai berdasarkan visi dan orientasi keilmuwan pesantren. pengklasifikasian pesantren ini akan dilakukan tiap-tiap kecamatan di Kabupaten Kudus. Tahap 4 : Mengkategorisasikan Kategorisasi merupakan upaya memilah-milah data setiap kelompok ke dalam bagian-bagian yang memiliki kesamaan. Setiap kategori pada nantinya akan diberi nama (label). Tahap 5 : Mensintesiskan Mensintesiskan berarti mencari kaitan antara satu kategori dengan kategori lainnya. Upaya ini berdasar pada teori-teori yang sudah ditetapkan pada penelitian ini kemudian disintesiskan dengan realitas yang ada di masyarakat. Hasil dari sintesa ini menjadi prasyarat untuk bisa menetapkan tipologi pesantren yang hendak diteliti lebih rinci. Tahap 6 : Memberikan tipologi Tipologi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemberian pola pesantren beserta arah pengembangan yang dilakukan menurut sistem pendidikan pesantren tersebut.

25

Akan dijelaskan dalam dalam tipologi ini sistem pendidikan, kurikulum, pola pembelajaran, dan sistem penyelenggaraan pendidikannya. Tahap 7 : Merepresentasikan Peneliti akan melakukan representasi tipologi pesantren mengingat banyaknya pesantren yang akan diteliti. Karena jumlah tipologi yang sudah ditetapkan berjumlah tiga tipologi berdasar kategorisasinya masing-masing, maka representasinya pun tiga pondok pesantren. Peneliti mengharapkan dipilihnya satu pesantren sebagai representasi satuannya dapat mewakili tipologi yang lainnya. Tahap 8 : Interpretasi data Peneliti dalam menganalisis tidak serta memakai cara pandang peneliti sendiri, melainkan meggunakan bantuan hermeneutik agar hasil dari penelitian ini sesuai dengan realitas masyarakat yang ada. Peneliti melakukan penafsiran sekaligus melakukan kritik yang terjadi. Namun secara sederhana langkah-langkah di atas dapat dirinci sesuai dengan analisisnya masing-masing sesuai dengan teknik kerjanya. Rincian tersebut sebagai berikut : 1. Analisis deskriptif Secara umum pada analisis ini yang termasuk adalah tahap deskripsi data. 2. Analisis proses Pada analisis ini, garapan peneliti mencakup tahap mereduksi data, mengklasifikasikan, dan mengkategorisasikan. 3. Analisis hermeneutik Pada analisis ini, peneliti membagi membagi empat tahapan, yakni tahap mensintesiskan data, memberikan tipologi,

26

merepresentasikan, dan menafsirkan data melalui prosedur gerak lingkar hermeneutis. Dengan langkah-langkah dan analisis di atas peneliti berharap dapat menggambarkan konstelasi pembaharuan pendidikan Islam menurut kategorisasi yang sudah ditetapkan. Kategorisasi yang pada akhirnya dengan hermeneutika sosial ini peneliti dapat merumuskan kontribusi tipologi pesantren di Kudus terhadap masyarakat. Di samping itu juga dalam analisis akan diurai bagaimana format pesantren ideal dan tipologi pesantren yang mampu dijadikan sebagai pendidikan alternatif pesantren.___________________

27

BAB II PONDOK PESANTREN DAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM Kajian pesantren dan pembaharuan menarik untuk diteliti. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, kini pesantren memunculkan wajah baru. Fungsi pesantren bukan lagi hanya lembaga keagamaan, melainkan juga sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Kajian semacam ini jika dilanjutkan akan ditemukan tipetipe pesantren sesuai dengan pengembangan sebagai ciri khasnya. Oleh karena itu, pada pembahasan ini dimaksudkan untuk mendasari penelitian dengan memaparkan teori tipologi pesantren dan aspek-aspek pembaharuan pesantren, diantaranya meliputi sistem pendidikan, kurikulum, pola pembelajaran dan sistem penyelenggaraan pendidikan. A. Pondok Pesantren 1. Pengertian dan Elemen-elemen Pokok Pesantren a. Pengertian Pondok Pesantren Zamachsjari Dhofier mendefinisikan pondok berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti hotel atau asrama.1 Dengan maksud yang sama, Haidar Putra Daulay mengartikan sebagai hotel, tempat bermalam. 2 Baik Dhofier maupun Haidar menyengaja menggunakan kata hotel karena pondok bagi santri merupakan tempat tinggal sewaktu tholabul ilmi. Sebuah pesantren idealnya memiliki tempat tinggal sebagai ajang komunikasi antara santri dan kyai.

Zamachsjari Dhofier, Tradisi Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : Penerbit LP3ES, 1982), hlm.18 Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007), cet. II, 62.2

1

28

Sedangkan pesantren, Dhofier mengatakan berasal dari kata santri yang diawali dengan awalan pe dan akhiran an yang berarti sebagai tempat tinggal para santri.3 Sementara Manfred Ziemek, sebagaimana di kutip oleh Haidar Putra Daulay menguatkan dengan menyatakan secara etimologi pesantren adalah pesantrian yang berarti tempat santri. 4 Begitu juga Abdurrahman Wahid, yang di kutip oleh Ismail SM secara teknis pesantren dinyatakan sebagai, a place where santri (student) live.5 Hampir ada kesepakatan mengenai terminologi pesantren ini jika istilah pesantren digunakan setelah datangnya Islam. Namun, jika memandang kata tersebut sebelum datangnya Islam, maka Prof. Johns berpendapat santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji.6 Begitu juga C.C Berg menyatakan kata santri berasal dari istilah shastri yang merupakan bahasa India yang berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu.7 Sehingga pondok pesantren berdasar pada pendapat-pendapat di atas bisa diartikan sebagai tempat tinggal sementara para santri yang jauh dari asalnya. Ahmad Syafii Noer menguatkan tempat tinggal tersebut merupakan tempat di mana kyai dan santri dapat melakukan pengajian sesuai jadwal yang sudah ditetapkan oleh kyai.8

pondok santri biasanya tidak jauh dengan ndalem

kyainya. Hal ini bertujuan untuk lebih mempermudah mengontrol kehidupan

3 4 5

Zamachsjari Dhofier,Studi Pandangan, hlm. 18. Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 61.

Ismail SM, Pengembangan Pesantren Tradisional (Sebuah Hipotesis Mengantisipasi Perubahan Sosial), dalam Abdurrahman Masud, Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, 2002), cet.I, hlm. 50.6 7 8

Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 61. Zamachsjari Dhofier,Studi Pandangan, hlm. 19.

Ahmad Syafii Noer, Pesantren : Asal-usul dan Pertumbuhan Kelembagaan, dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Penerbit PT Grasindo dan IAIN Syatif Hidayatullah Jakarta, 2001), hlm. 90.

29

sehari-hari para santri terutama mengenai pendidikan moral. Sehingga titik sentral kyai ini jika dianalisis lebih lanjut masih sepaham dengan pendapat Dawam Raharjo yang mengartikan secara institusi pesantren bukanlah sekolah atau madrasah, meskipun dalam lingkungan pesantren sekarang ini banyak didirikan unit-unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus.9 Ketradisionalan pesantren yang bukan sekolah ataupun madrasah ini menjadikannya sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Untuk mengenai pendapat mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya, ada beberapa pendapat yang mengatakan : Pertama, transformasi sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam di Indonesia, lembaga pesantren sudah ada di negeri ini. Kedua, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri yaitu tradisi tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid-wirid tertentu yang dipimpin oleh seorang kyai. Oleh sebab itu, tujuan umum terbentuknya pondok pesantren adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya mencetak ulama-ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama. Sedangkan tujuan khususnya adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang

M. Dawam Raharjo, Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan, dalam M. Dawam Raharjo (ed), Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta : LP3ES, 1988), cet. IV, hlm. 25.

9

30

diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat, dan mendidik muslim yang dapat melaksanakan syariat agama.10 b. Elemen-elemen Pokok Pesantren Menurut Zamachsjari Dhofier, elemen atau unsur-unsur sebuah pondok pesantren ada 5 (lima), yaitu : 1) Pondok Menurut bahasa pengertian pondok sudah dijelaskan di atas. Pada pembahasan ini akan dijelaskan alasan pentingnya didirikan sebuah pondok bagi sebuah pesantren. Di antara alasan tersebut adalah : Pertama, banyaknya santri-santri yang berdatangan dari daerah yang jauh untuk tholabul ilmi pada seorang kyai yang sudah termashur keahliannya. Mereka membutuhkan tempat untuk menginap supaya memudahkan untuk menerimana pelajaran dari kyai kapan saja. Kedua, kebanyakan pesantren itu terletak di desa-desa sehingga para santri yang ingin nyantri di pondok pesantren tersebut belum ada tempat perumahan bagi mereka. Meskipun pada sebagian pesantren ada santri yang dititipkan pada rumah-rumah warga yang berdekatan dengan pesantren. Ketiga, diharapkan munculnya feedback antara kyai dan santri, di mana santri dianggap oleh kyai sebagai anak sendiri. Begitu juga sebaliknya para santri menganggap kyai sebagai orang tuanya sendiri. 2) Masjid Masjid menurut lughah dapat diartikan sebagai tempat bersujud. Di dalam masjid ini di samping berfungsi sebagai tempat untuk beribadah, masjid juga bisa dialihfungsikan sebagai tempat pelaksanaan pendidikan dan lain sebagainya. Di zaman Rasulullah pun

A. Rafiq Zainul Munin, Peran Pesantren dalam Education For All di Era Globalisasi, Jurnal Pendidikan Islam, (vol. I, No.01, Juni/ 2009), hlm. 10.

10

31

masjid dijadikan sebagai tempat untuk mendiskusikan masalahmasalah kemasyarakatan. Penempatan masjid sebagai pusat pendidikan ini mencerminkan tradisi pesantren yang selama ini dipegang teguh oleh para kyai-kyai pemimpin pesantren. Bahkan sekarang banyak juga masjid-masjid yang ada di masyarakat yang dijadikan sebagai tempat pembelajaran al-Quran atau lebih di kenal dengan Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) dan lain sebagainya. 3) Santri Menurut Haidar Daulay, santri dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu : a) Santri mukim, yakni para santri yang berdatangan dari luar daerah yang jauh sehingga tidak memungkinkan untuk pulang ke rumahnya, maka akhirnya dia mondok (menetap/menempat/mukim) di pesantren. Oleh karena menjadi santri mukim, maka ia harus mengikuti tata tertib yang berlaku di pesantren. b) Santri kalong, yakni para santri yang berasal dari daerah sekitar yang sangat memungkinkan mereka pulang ke daerah masingmasing. Santri kalong ini datang ke pondok hanya untuk mengikuti pelajarannya saja, habis itu ia pulang ke rumahnya sendiri dan tidak mengikuti aktifitas yang lainnya.11 4) Pengajaran Kitab-kitab Islam klasik Kitab klasik dalam pesantren yang dimaksud adalah kitab kuning. Bukan berarti warna kitab ini kuning, melainkan yang dimaksud adalah kitab yang ditulis oleh para ulala salaf abad pertengahan yang berisikan huruf arab gundul atau tanpa harokat yang harus diabsahi11

Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 64

32

menggunakan huruf arab pegon. Hanya santri-santri yang sudah mahir saja yang mampu melakukan ini ini dengan benar sesuai tuntunan. Oleh karena itu kemahiran santri tersebut harus mempelajari secara mendalam ilmu-ilmu alatnya, yakni ilmu nahwu, shorof, balaghoh, maani, bayan, dan lain sebagainya. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memperdalam kitab-kitab yang dimaksud, sehingga kriteria tolol ukur lulus atau tidaknya santri adalah kemahiran dalam membaca dan menjelaskan isi kandungan kitab kuning tersebut. Bahkan sampai sekarang pun meskipun sebagian pesantren sudah memasukkan pelajaran umum, pengajian kitab kuning tetap dilaksanakan karena pengajian ini juga salah satu tradisi di pesantren yang harus dijaga. Jenis-jenis kitab kuning, menurut Dhofier dapa dikategorikan menjadi 8 (delapan) kelompok, yakni : kitab nahwu/shorof, kitab fiqih, kitab ushul fiqih, kitab hadits, kitab tafsir, kitab tauhid, kitab tasawwuf dan etika, serta cabang-cabang ilmu lainnya seperti kitab tarikh dan balaghoh.12 5) Kyai Kata kyai dalam bahasa Jawa di pakai untuk tiga gelar yang berbeda yang tersebut di bawah ini : a) Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat seperti kyai garuda kencana yang dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di keraton Yogjakarta. b) Sebagai gelar kehormatan kepada orang-orag tua pada umumnya. c) Sebagai gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang yang ahli dalam agama Islam yang memiliki12

Zamachsjari Dhofier,Studi Padangan, hlm. 50.

33

pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada santrinya.13 Kyai yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah gelar kyai yang ketiga. Kyai merupakan tokoh sentral dalam sebuah pesantren. Wibawa dan kharisma kyai menentukan maju atau mundurnya sebuah pesantren. 2. Pesantren dalam Lintasan Sejarah Perspektif historis pesantren sebenarnya tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous) 14 karena beberapa penelitian menyebutkan lembaga serupa pesantren ini sudah ada di Nusantara sejak zaman kekuasaan Hindu-Budha.15 Meskipun belum diketahui secara jelas kapan pesantren pertama kali didirikan, namun ketika masa walisongo (abad 16 17 M) sudah terlacak sebuah pesantren yang didirikan Syeikh Maulana Malik Ibrahim di Gresik.

13 14

Zamachsjari Dhofier,Studi Pandangan, hlm. 55.

Menurut sebagian pakar pendidikan Islam menyatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan lanjutan dari lembaga pendidikan keagamaan pra-Islam, yang disebut dengan mandala. Konon mandala ini telah ada sejak zaman sebelum majapahit dan berfungsi sebagai pusat pendidikan (semacam sekolah) dan keagamaan. Mandala dianggap oleh orang Hindu-Budha sebagai tempat suci karena disitu tinggal para pendeta atau pertapa yang memberikan kehidupan yang patut dicontoh masyarakat sekitar karena kesalehannya. Mandala juga disebut sebagai wanasrama yang dipimpin oleh siddapandita yang bergelar muniwara, munindra, muniswara, maharsi, mahaguru atau dewaguru. Lihat Ismawati, Melacak Cikal Bakal Pesantren Jawa, dalam Anasom (ed), Merumuskan Kembali Interrelasi Islam-Jawa, (Yogjakarta : Penerbit Gama Media dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang, 2004), hlm. 95 - 96. Pendapat lain yang mengatakan pesantren adalah kelanjutan dari mandala adalah IP Simanjuntak (1973) yang mengatakan pesantren telah mengambil model dan tidak mengubah struktur organisasi dari lembaga pendidikan mandala masa Hindu. Pesantren hanya mengubah isi agama yang dipelajari, bahasa sebagai sarana pembelajaran, dan latar belakang santri. Namun, Abdurrahman Masud (2000) lebih condong mengatakan pesantren memiliki kesinambungan dengan lembaga pendidikan Gurucula yang telah ada di masa pra-Islam di Jawa. Lihat Abdurrohman Masud, Pesantren dan Walisongo : Sebuah Interaksi dalam Dunia Pendidikan, dalam Islam dan Kebudayaan Jawa (Yogjakarta : Penerbit Gama Media, 2000), hlm. 223.15

34

Konon pesantren yang didirikan tersebut merupakan pesantren pertama dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.16 Bermula dari pesantren pertama ini, telah berkembang ribuan pesantren, besar dan kecil, tumbuh, berkembang dan akhirnya mati. Begitupun dengan pesantren lainnya, tumbuh, berkembang dan akhirnya mati juga. Kini, ribuan pesantren dipertanyakan eksistensinya. Boleh jadi pesantren-pesantren tersebut akan menyusul pendahulunya. Hal ini dikarenakan, daya tarik yang sangat mempengaruhi besar kecilnya pesantren, maju atau tidaknya pesantren tersebut bergantung kepada kapasitas kyai pendirinya, serta kesadaran tanggung jawab keturunannya.17 Tantangan pesantren saat ini bisa jadi akan masih tetap mempertahan ketradisionalannya, atau mampu bergerak menyesuaikan kondisi dan kebutuhan zaman. Sejarah mencatat, bahwa Minangkabau,18 merupakan salah satu daerah di Sumatra Barat yang oleh kebanyakan peneliti dianggap sebagai embrio masuknya ide-ide modernis ke Nusantara. Pesantren inilah yang memberikan inspirasi pesantren lainnya dalam menyikapi perubahan yang ada. Salah satu yang menjadi alasannya adalah hubungan masyarakat Minangkabau terjalinFatah Syukur NC, Dinamika Madrasah dalam Masyarakat Industri, (Semarang : Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman dan Pesantren and Madrasah Development Centre, 2004 ), cet. I, hlm. 26. Mokh. Akhyadi, Pesantren, Kiai, dan Tarekat : Studi Tentang Peranan Kiai di Pesantren dan Tarekat, dalam Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : PT Grasindo, 2001), hlm. 135. Dalam catatan sejarah, pembaharuan pendidikan Islam di Minangkabau terjadi dalam 2 (dua) fase. Pertama, gerakan padri (1803) yang dimobilisasi oleh Haji Sumanik, Haji Miskin, dan Haji Piobang setelah kepulangan mereka dari tanah suci Mekkah. Menurut Armai Arief (2001) di sebut sebagai gerakan fundamentalis Islam yang coraknya tidak jauh beda dengan Wahabiyah yang ada di Mekkah. Armai sendiri beranggapan apa yang mereka lihat tentang Wahabi nampak begitu berkesan dan terpengaruh dengan ideologinya hingga mereka ingin pula melaksanakan pemurnian yang sama di kampung halamannya. Kedua, gerakan pemikiran Syeikh Ahmad Khatib yang sudah menyebarkan pemikiran-pemikirannya dari tahun 1880-1915 M, baik melalui tulisan-tulisannya sendiri yang dipublikasikan oleh murid-muridnya di indonesai maupun secara kontak langsung ketika naik haji ke mekkah. Lihat, Deliar Noer, The Modernist Muslim Movement In Indonesia 1900-1942 yang diterjemahkan menjadi, Gerakan Moderen Islam Di Indonesia 1900-1942, (Jakarta : PT Pustaka LP3ES, 1994), cet.VII, hlm. 38.18 17 16

35

mesra dengan para pembaharu Arab melalui media haji sehingga berbagai ideide pembaharuan banyak dimanfaatkan. Di samping itu pula, masyarakat tersebut mulai menyadari bahwa mereka tidak akan mampu unggul dalam berkompetisi jika mereka terus melanjutkan pembaharuan dengan cara-cara tradisional dalam menegakkan Islam.19 Kesadaran akan kelemahan dan mau mengadakan pebaharuan inilah yang disebut oleh Abdul Djamil sebagai dinamika perkembangan pesantren. Bagaimana tidak, berkat pembaharuan nilai-nilai etika pesantren masih menjadi pilihan alternatif yang cukup menjanjikan. Pesantren tampil dalam format yang variatif mulai dari pesantren yang masih bertahan dengan tradisi kitab kuning saja, sampai dengan yang mau berinteraksi dengan aspek-aspek kemodernan.20 Menarik untuk sekedar dijadikan discourse, bahwa pesantren yang akulturatif antara kebudayaan dan tradisi Jawa inilah yang menjadikan pesantren diidentifikasi sebagai lembaga keagamaan kelanjutan dari mandala di zaman kekuasaan Hindu. Di mana Abdul Djamil mencontohkan pesantren Tegalsari Ponorogo sebagai model pesantren semacam ini. Namun, yang menjadi pertanyaannya apakah semua pesantren merupakan kelanjutan dari mandala tersebut? Menanggapi permasalahan di atas, Hanun Asrohah dalam Disertasinya menepis anggapan tersebut dengan menyatakan jika sebuah pesantren didirikan di atas sebuah tanah perdikan,21 maka boleh jadi pesantren tersebut19 20

Deliar Noer, The Modernist Muslim, hlm. 39.

Abdul Djamil, Pesantren : Jati Diri dan Perannya dalam Kebudayaan, dalam Prolog Profil Pesantren Kudus, (Kudus : Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. vii Tanah perdikan atau tanah sima adalah tanah yang diberikan oleh raja karena dengan dasar ingin membalas jasa kepada seseorang yang berbuat jasa, atau karena desa ataupun daerah tersebut dikhawatirkan melakukan pemberontakan atau melepaskan diri dari kekuasaan raja. Tanah ini juga dianugerahkan oleh raja kepada bangsawan atau kaum kerabat raja sebagai tanah lungguh (kedudukan) yang bisa dimanfaatkan hasilnya sebagai biaya penyelenggaraa pendidikan keagamaan asrama atau mandala. Lebih lanjut lihat Ismawati, Melacak Cikal, hlm. 105-106.21

36

mempunyai tradisi dan struktur yang sama dengan mandala. Contoh pesantren pada abad ke-18 yaitu pesantren Tegalsari di Ponorogo, Banjarsari dan Sewulan di Madiun atau pada abad ke-19 seperti pesantren Maja Pajang dekat Surakarta dan Mlangi dekat Yogjakarta.22 Namun, jika model pesantren yang dimaksud tidak didasarkan pada akulturasi kebudayaan dan tradisi, maka pesantren tersebut bukan kelanjutan dari mandala, melainkan model para ulama Jawa yang belajar di Makkah dan Madinah. Sebagaimana pendapat George Maksidi, menyampaikan bahwa lembaga pendidikan pesantren di Indonesia menyerupai madrasah di Baghdad pada awal abad ke-11 dan ke-12 M.23 Pendapat ini menguatkan pernyataan bahwa lahirnya pesantren di Jawa akibat dari tekanan kesultanan yang memarginalkan penyelenggarakan pendidikan Islam sehingga para ulama banyak yang menimba ilmu di Mekkah dan Madinah. Kemudian pulang ke tanah kelahiran di Jawa dengan mengadakan pembaharuan pendidikan Islam terutama pesantren. Pembaharuan yang dimaksud bukan berarti harus mengadaptasikan diri sepenuhnya, namun pembaharuan yang mampu mengubah perubahan pada masyarakat dan tidak meninggalkan karakter khas 24 pesantren selama ini. Contoh historis, perubahan/modernisasi yang dibawa oleh kaum paderi dalam aspek pendidikan Islam adalah keberhasilan paderi membuat perubahan peran22

Hanun Asrohah, Pelembagaan Pesantren, Asal- usul dan Perkembangan di Jawa, dalam Anasom (ed), Merumuskan Kembali Interrelasi Islam-Jawa, (Yogjakarta : Penerbit Gama Media dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang, 2004), hlm.112-113. Madrasah yang dimaksud adalah madrasah Klasik Timur Tengah yang memiliki karakteristik sebagai berikut. Pertama, lembaga administratif bidang pendidikan yang dibangun dengan tanah wakaf. Kedua, adanya pemondokan tempat bagi santri. Ketiga, terdapat makam disekitar pemondokan. Keempat, terdapat perpustakaan. Kekhasan karakter pesantren bisa ditandai dengan pesantren sebagai transmisi ilmu-ilmu tradisional yang termuat dalam kitab kuning, sebagai penjaga dan pemelihara keberlangsungan Islam tradisonal yang mengikuti paham ahlussunnah wal jamaah, dan karakter sebagai sumber reproduksi ulama. Lihat Zubaedi, Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren, ( Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2007), cet.I, hlm. 227.24 23

37

surau.25 Meskipun tidak dipungkiri perubahan tersebut mendapat perlawanan yang signifikan oleh kaum adat yang anti terhadap modernitas. Bahkan Deliar Noer mensinyalir sebenarnya pihak paderi sudah mengadakan negosiasi dengan kaum adat, akan tetapi kaum adat merasa kekuasaannya akan teralihkan hingga para akhirnya kaum adat mencari bantuan pada pihak Belanda. Kerjasama antara kaum adat inilah yang menjadikan Minangkabau setelah itu dijajah oleh Belanda. Meskipun berbagai kebijakan Belanda telah ditentang oleh berbagai gerakan Islam di Indonesia, namun tetap membawa nuansa baru di bidang pendidikan. Ide-ide pembaharuan yang diterappkan kolonial Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan Islam tradisional, dimana metode yang diterapkan lebih maju dari sistem pendidikan tradisional.26 Dengan hadirnya lembaga kolonial tersebut menjadikan posisi pesantren yang awalnya sudah mapan menjadi terancam. Kemapanan pesantren terlihat jelas dangan sistem pendidikannya yang nonklasikal, metode pembelajaran dengan sorogan, wetonan, dan hafalan, dan materi pebelajaran terpusat pada kitab-kitab klasik.27 3. Pertumbuhan dan Perkembangan Pesantren Perkembangan awal pesantren ini bisa dilihat dari menguatnya identitas pesantren yang khas sebagai lembaga pendidikan agama, meminjam istilahnya Abdul Djamil, dikatakan amat kosmopolit. Pada tahap ini, eksistensi pesantren telah selaras dan sesuai dengan sebagaimana apa yang diperlihatkan oleh para wali dan santrinya yang mengambil peran-peran strategis di bidang

Surau merupakan lembaga pendidikan keagamaan di Minang Kabau dimana oleh generasi kaum muda padri dilanjutkan untuk mencorong transformasi peran suarau menjadi madrasah kemudian berkembang menjadi dan pelopor lahirnya pendidikan Islam modern yang sistemnya dipadukan antara tradisi surau dengan sistem modern ala Barat.26 27

25

Hanun Asrohah, Pelembagaan Pesantren, hlm. 153. Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan, hlm. 50.

38

sosial, ekonomi dan politik. 28 Kemudian pada tahap selanjutnya lebih diakulturasikan dengan kebudayaan dan tradisi jawa yang berkembang. Maka, dari peran Syeikh Maulana Malik Ibrahim inilah kemudian lahir ribuan muballigh yang menyebar ke seluruh Tanah Jawa dan daerah-daerah sekitarnya. Faktor yang mempengaruhi mengapa pertumbuhan pesantren diantaranya kebiasaan santri yang setelah selesai atau tamat dari belajar pada seorang kyai, ia di beri izin untuk atau ijazah oleh kyai untuk membuka dan mendirikan pesantren baru di daerah asalnya. Dengan begini, perkembangan pesantren semakin merata di berbagai daerah, terutama di perdesaan. Menurut Zamachsjari, jumlah lembaga pendidikan pesantren di seluruh Indonesia pada kurun waktu 2 dekade terakhir berkembang sangat cepat. Terhitung pada bulan desember 2008 telah mencapai kuantitas sebanyak 21.521 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 3.557.713 santri. Sebelumnya Zamachsjari telah menguraikan jumlah tersebut semenjak tahun 1977 berjumlah 4.176 pesantren, tahun 1987 berjumlah 6.579 pesantren. Namun untuk dekade berikutnya belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Baru tahun 1997 mulai bertambah menjadi 8.342 pesantren, tahun 2000 sebanyak 12.012 pesantren, tahun 2003 sebanyak 14.666 pesantren.29 Dan 5 tahun kemudian bertambah 6.855 pesantren sehingga total seluruh pesantren se-Indonesia tahun 2008 berjumlah 21.521 pesantren. Perkembangan di atas, menurut Zamachsjari dikarenakan pesantren kini ditunjang oleh UU Sisdiknas No. 2 Tahun 1989 yang memberikan legalitas yang sama dengan sekolah-sekolah negeri tingkat dasar dan menengah terhadap madrasah-madrasah tingkat dasar dan menengah yang dikembangkan di pesantren. Oleh karenanya, diperkirakan tahun 2020 mendatang jumlah28 29

Abdul Djamil, Pesantren : Jati Diri. hlm.vi

Zamachsjari Dhofier, Tradisi Pesantren : Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa, (Yogjakarta : Pesantren Nawesea Press, 2009), hlm. 660-661.

39

lembaga pendidikan pesantren kemungkinan akan mencapai sekitar 35.000 pesantren.30 Keadaan demikian merupakan peluang bagi pihak pesantren untuk lebih membuka menerima perubahan. Berbagai pola pengembangan telah dilakukan oleh beberapa pesantren akhir-akhir ini. Demikian menurut Abdurrahman Wahid, pola pengembangan yang ada di tubuh pesantren dapat terbagi menjadi 3 (tiga) pola, yaitu : a. Pola pengembangan sporadis (berdasar pada aspirasi masing-masing pesantren) Pola ini ditempuh oleh beberapa pesantren utama secara sendirisendiri, tanpa tema tunggal yang mengikat kesemua upaya mereka itu. Meskipun demikian, mereka terbukti memiliki intensitas kerja cukup tinggi dan mempunyai pengaruh yang mendalam. Adapun bentuk kegiatan pokok dari jenis pengembangan sporadis ini antara lain : 1) Mengambil bentuk berdirinya beberapa sekolah non-agama (SMP dan SMA) selain sekolah-sekolah agama tradisional yang telah ada di pesantren, seperti yang terjadi di pesantren Tebu Ireng dan Rejoso (Jombang). 2) Menyempurnakan kurikulum campuran (agama dan umum) yang telah diramu oleh beberapa lembaga pendidikan tingkat tinggi. Seperti pematangan kurikulum yang dilakukan oleh pondok modern Gontor (Ponorogo) sehingga melahirkan Institut Pendidikan Darussalam (IPD). 3) Mengembangkan pola pesantren yang lain dari pada sebelumnya, seperti berdirinya beberapa belas PKP (pondok karya

30

Zamachsjari Dhofier, Memadu Modernitas, hlm. 167.

40

pembangunan) dengan mengambil pembinaan dari pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan yang ada. b. Pola pengembangan pendidikan ketrampilan (dikelola oleh Kementrian Agama) Pola semacam ini telah diikuti oleh lebih dari seratus buah pesantren di Indonesia. Pendidikan ketrampilan ini, menjadi bagian dari kurikulum yang diwajibkan oleh pemerintah bagi sekolah-sekolah agama yang ingin memperoleh persamaan dengan sekolah-sekolah non-agama. Adapun pengembangan pendidikan ketrampilan ini di pecah menjadi komponen-komponen yang berbeda-beda, diantaranya yaitu : 1) Pendidikan kepramukaan 2) Pendidikan kesehatan 3) Pendidikan kejuruan (pertanian, pertukangan, dan kejuruan dasar elektronika). c. Pola pengembangan latihan pengembangan masyarakat (dirintis oleh LP3ES) LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) d