of 108 /108
SKRIPSI MODERNISASI DALAM SISTEM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN (Studi Di Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa PurwajayaKecamatan Banjar MargoTulang Bawang) Oleh: MAR ATUS SHOLIHAH NPM. 14114741 Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)METRO TAHUN 1440 H/2019 M

SKRIPSI MODERNISASI DALAM SISTEM PENDIDIKAN PONDOK ... · PONDOK PESANTREN (Studi Di Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa ... memberikan kontribusi positif bagi Sistem Pendidikan Pondok

  • Author
    others

  • View
    15

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of SKRIPSI MODERNISASI DALAM SISTEM PENDIDIKAN PONDOK ... · PONDOK PESANTREN (Studi Di Pondok...

  • SKRIPSI

    MODERNISASI DALAM SISTEM PENDIDIKAN

    PONDOK PESANTREN

    (Studi Di Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa

    PurwajayaKecamatan Banjar MargoTulang Bawang)

    Oleh:

    MAR ATUS SHOLIHAH

    NPM. 14114741

    Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

    Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)METRO

    TAHUN 1440 H/2019 M

  • MODERNISASI DALAM SISTEM PENDIDIKAN

    PONDOK PESANTREN

    (Studi Di Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya

    Kecamatan Banjar MargoTulang Bawang)

    Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagai Syarat Memperoleh

    Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd)

    Oleh:

    MAR ATUS SHOLIHAH

    NPM. 14114741

    1. Pembimbing I: Dr. Hj. AKLA, M.Pd 2. Pembimbing II : H. BASRI, M.Ag

    Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

    Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

    TAHUN 1440 H/2019 M

  • ABSTRAK

    MODERNISASI DALAM SISTEM PENDIDIKAN

    PONDOK PESANTREN

    (Studi Di Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya

    Kecamatan Banjar MargoTulang Bawang)

    OLEH:

    MAR ATUS SHOLIHAH

    NPM. 14114741

    Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren (Studi Di Pondok Pesantren

    Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan Banjar MargoTulang Bawang),

    kajiannya dilatar belakangi oleh perubahan dan pengembangan sistem pendidikan

    pesantren yang semakin lama semakin terbuka dengan pola dari luar, untuk

    menjawab tuntutan zaman. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah

    untuk mengetahui dan menjawab permasalahan: (1) Arti penting modernisasi

    sistem Pendidikan pesantren di pondok pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya

    Kecamatan Banjar Margo Tulang Bawang (2) Bagaimana proses modernisasi

    sistem Pendidikan pesantren di Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan Banjar

    Margo Tulang Bawang.

    Skripsi ini termasuk jenis penelitian kualitatif lapangan, studi tersebut

    dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan

    Banjar Margo Tulang Bawang. Selain dari pondok pesantren tersebut juga

    digunakan studi kepustakaan yang dijadikan sumber data. Pengumpulan data

    dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi. selanjutnya analisis

    data dalam penelitian ini lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan

    dengan pengumpulan data.

    Analisis data selama di lapangan menggunakan analisis data deskriptif.

    Aktifitas dalam analisis datanya yaitu: pemaparan data, penyajian data, dan

    kesimpulan. Dari hasil penelitian bahwa pelaksanaan Modernisasi Sistem

    Pendidikan Pesantren cukup baik, meliputi: (1) Arti penting modernisasi sistem

    Pendidikan di pondok pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan Banjar

    Margo Tulang Bawang adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem

    pendidikan Islam yang ada di pesantren Darul Ishlah, dengan tujuan agar para

    santrinya bisa secara cepat beradaptasi dalam setiap bentuk perubahan peradaban

    dan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, karena mereka memiliki

    kemampuan yang siap pakai. (2) Proses modernisasi sistem pendidikan pesantren

    adalah dengan mengembangkan komponen-komponen yang saling menguatkan

    seperti: cara berpikir yang ilmiah, administrasi, kurikulum, struktur organisasi,

    sarana prasarana, dan metode Pendidikannya. Dalam pengembangan tersebut

    pondok pesantren Darul Ishlah harus benar-benar selektif dalam menerima dan

    mengadopsi pola-pola dari luar, Agar tidak kehilangan ciri khas dari pesantren itu

    sendiri. Dalam penelitian tersebut peneliti menemukan kekurangan dalam

    kurikulum pendidikannya yakni mengenai penambahan materi pendidikan umum

    dan pengembangan bidang ketrampilan dan pelatihan untuk menyalurkan dan

    mengembangkan potensi yang dimiliki santri, Selain itu mengenai metode

    pengajarannya masih menggunakan metode lama. Sehingga masih perlu

    menambah dengan metode modern.

  • MOTTO

    َرا ... َرا َبش ِّ ... تُ نَ ف َِّرا َولَ َوَعل َِّما َوَيس ِّ

    Artinya : “Gembirakan dan permudahlah. Ajarkanlah ilmu dan janganlah kalian

    berlaku tidak simpati”.1

    1 Abdullah Nasih Ulwan (selanjutnya disebut Ulwan), Pendidikan Anak dalam Islam. Jilid

    II. Diterjemahkan oleh Jamaluddin Miri, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), h. 142.

  • PERSEMBAHAN

    Dengan rasa Syukur dan Rendah Hati Skripsi ini Saya persembahkankepada :

    1. Ayahanda Bapak Suwondo dan Ibu Yeti Sumiati yang senantiasa selalu

    menasihati, memotivasi untuk segera menyelesaikan studiku saat ini dan tak

    hentinya selalu mendo’akan demi kelancaran dan keberhasilanku dalam

    bertholabul ilmi.

    2. Adikku yang selalu mendukungku dan mendo’akan keberhasilanku dalam

    studiku.

    3. Teman-temanku Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di IAIN

    Metro Angkatan 2014.

    4. Almamaterku IAIN Metro.

  • DAFTAR ISI

    HALAMAN SAMPUL ................................................................................... i

    HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii

    NOTA DINAS ................................................................................................. iii

    HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iv

    HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ v

    ABSTRAK ...................................................................................................... vi

    ORISINALITAS PENELITIAN ................................................................... vii

    HALAMAN MOTTO .................................................................................... viii

    HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... ix

    KATA PENGANTAR .................................................................................... x

    DAFTAR ISI ................................................................................................... xi

    DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiii

    DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiv

    BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 1 B. Pertanyaan Penelitian ..................................................................... 4 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...................................................... 5 D. Penelitian Relevan .......................................................................... 6

    BAB II KERANGKA TEORI

    A. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren ............................................ 8 1. Pengertian Sistem Pendidikan Pondok Pesantren .................... 8 2. Dasar-Dasar Sistem Pendidikan Pondok Pesantren ................. 12 3. Pentingnya Sistem Pendidikan Pondok Pesantren .................. 13

    B. Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren ....................... 16 1. Pengertian Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren 16 2. Pentingnya Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok

    Pesantren .................................................................................. 17

    3. Ciri-Ciri Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren .. 20

  • 4. Dampak Positif dan Negatif Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren ..................................................................... 23

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    A. Jenis dan Sifat Penelitian ............................................................... 28 B. Sumber Data ................................................................................... 30 C. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 32 D. Teknik Penjamin Keabsahan Data ................................................. 35 E. Teknik Analisis Data ...................................................................... 37

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Gambaran Umum Tempat Penelitian ............................................. 40 1. Sejarah Berdirinya Pesantren Darul Ishlah .............................. 40 2. Visi dan Misi Pondok Pesantren Darul Ishlah ......................... 41 3. Keadaan Ustad dan Ustadzah Pesanten Darul Ishlah ............... 44 4. Keadaan Santri Pesantren Darul Ishlah .................................... 45 5. Keadaan Sarana dan Prasarana Pesantren Darul Ishlah ........... 45 6. Struktur Organisasi Pesantren Darul Ishlah ............................. 47

    B. Modernisasi dalam Sistem Pendidikan Pondok Pesantren (Studi di Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan Banjar

    Margo Tulang Bawang ................................................................... 48

    C. Pembahasan .................................................................................... 52

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan .................................................................................... 54 B. Saran ............................................................................................... 55

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 1 Keadaan Ustad dan Ustadzah Pesantren Darul Ishlah ........................ 44

    Tabel 2 Keadaan Santri Pesantren Darul Ishlah ............................................... 45

  • DAFTAR LAMPIRAN

    1. Surat Bimbingan Skripsi (SK) ...................................................................... 59 2. Surat Izin Pra-Survey .................................................................................... 60 3. Surat Balasan Pra Survey .............................................................................. 61 4. Surat Izin Research ....................................................................................... 62 5. Surat Tugas.................................................................................................... 63 6. Surat Balasan Izin Research .......................................................................... 64 7. Surat Bebas Jurusan ...................................................................................... 65 8. Surat Bebas Pustaka ...................................................................................... 66 9. Outline ........................................................................................................... 67 10. Alat Pengumpual Data (APD) ....................................................................... 70 11. Kartu Konsultasi Bimbingan Skripsi ............................................................ 73 12. Dokumentasi ................................................................................................. 85 13. Daftar Riwayat Hidup ................................................................................... 89

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di

    Indonesia, eksistensinya sampai sekarang masih ada. Pertumbuhan dan

    perkembangan pondok pesantren tidak telepas hubungannya dengan

    masuknya Islam di Indonesia. Namun sekarang dapat terlihat bahwa

    perkembangan dan kemajuan zaman yang sangat pesat di segala aspek dan

    peranan agama yang lebih kompleks, dalamperkembangan selanjutnya pondok

    pesantren di pengaruhi oleh perkembangan pendidikan dan tuntutan dinamika

    masyarakat.

    Pondok pesantren diharpahkan mampu melakukan perkembangan-

    perkembangan keilmuan ke arah yang lebih baik, yang tentunya sesuai dengan

    tuntutan perkembangan zaman pada saat ini.

    Sebagaimana dijelaskan di dalam UU No. 20 Tahun 2003, tentang

    Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 yang berbunyi:

    “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan

    dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dan

    rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

    berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman

    dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

    berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang

    demokratis serta bertanggung jawab”.2

    2 Firdaus, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan

    Dosen Serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas,

    (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2006),hal.49

  • Demikian jelaslah bahwa pendidikan yang dilakukan oleh lembaga

    Pendidikan Pondok Pesantren harus mampu melakukan pengembangan segala

    bidang baik inteletualitas maupun kemampuan kecerdasan rohaniah (religius

    keagamaan), serta mampu melakukan pengembangan keilmuan ke arah yang

    lebih baik, yang tentunya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

    Patut kita akui bahwasannya pondok pesantren sebagai salah satu

    lembaga penyelenggara pendidikan, sedikit banyak telah memberikan

    kontribusi positif terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Pada saat ini

    yang lebih sering disebut oleh sebagian orang zaman modern atau era

    globalisasi, dimana semakin beratnya tantangan dan semakin ketatnya

    persaingan dalam segala hal, terutama dalam ilmu pengetahuan. Untuk

    menyikapi hal tersebut, tentunya perlu kiranya ada sebuah upaya untuk

    menyeimbangkan keilmuan dan keimanan pada diri masing-masing umat,

    yang diakibatkan oleh adanya modernisasi. Dalam hal ini harus dilakukan oleh

    pondok pesantren melalui penyelarasan serta pengembangan-pengembangan

    sistem pendidikan, kurikulum, kegiatan belajar mengajar, pola pembelajaran,

    dan metode pembelajaran, bahkan pembekalan keterampilan di pondok

    pesantren.

    Kita ketahui, modernisasi sangat mempengaruhi sistem pendidikan

    pondok pesantren sehingga banyak merubah berbagai paradigma pendidikan

    di pondok pesantren, diantaranya dalam jenjang pendidikan yang awal

    mulanya dapat dilakukan berulang-ulang namun setelah masuknya

    modernisasi terhadap pondok pesantren, jenjang pendidikan pada saat ini

  • mulai membentuk kelas-kelas yang berjenjang dalam waktu 1 tahun. Oleh

    karena itu, pondok pesantren senantiasa dapat meyikapi dampak dari

    modernisasi dunia luar terhadap kehidupan pondok pesantren, sehingga ke

    khasan pondok pesantren tersebut dapat terjaga kemurniannya atau perubahan

    besar dalam pendidikan pondok pesantren itu sendiri, baik dampak positif

    maupun dampak negatif. Dampak negatif dari modernisasi diantaranya

    berkurangnya kajian kitab kuning, dikarenakan di dalam pembelajaran di

    suatu pondok pesantren banyak mengadobsi ilmu umum untuk dipelajari di

    dalamnya, sehingga watu yang ada terbagi untuk mengkaji ilmu pengetahuan

    umum.

    Sedangkan dampak positif dari modernisasi yaitu ilmu pengetahuan

    bisa didapatkan dari mana saja, baik dari buku, majalah, internet dan

    sebagainnya, karena seorang kyai bukan lagi menjadi satu-satunya sumber

    ilmu pengetahuan.

    Kaitannya dengan hal tersebut penulis tertarik untuk melakukan

    penelitian di pondok pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan

    Banjar Margo Tulang Bawang yang dapat dijadikan satu sumber penelitian,

    dimana pondok pesantren tersebut merupakan pondok pesantren salafiyah

    yang telah mengadopsi dan mengaplikasikan sistem pendidikan modern dalam

    kegiatan pembelajaran.

    Berdasarkan hasil Survey yang dilakukan pada tanggal 24 November

    2017 melalui wawancara dengan Pengurus Pondok Pesantren Bapak Tohir

    Muntaha diketahui bahwa Pondok Pesantren Darul Ishlah awal mulanya

  • menggunakan sistem salaf, karena seiring perkembangan zaman dan tuntutan

    yang ada pada masyarakat kini pondok pesantren Darul Ishlah telah mulai

    menerapkan sistem pendidikan klasikal, yaitu dapat dilihat dari telah di

    adakannya lembaga pendidikan formal yaitu Pendidikan Usia Dini Darul

    Ishlah (PAUD Darul Ishlah), Taman Kanak-kanak Darul Ishlah (TK Darul

    Ishlah), Sekolah Dasar Darul Ishlah (SD Al-Qur’an Darul Ishlah), Sekolah

    Lanjut Tingkat Pertama (SMP Plus Darul Ishlah), Sekolah Menengah Tingkat

    Atas (SMK Darul Ishlah).

    Berangkat dari masalah yang ada di Pendidikan pondok pesantren,

    maka itulah yang melatar belakangi dan mendorong penulis untuk melakukan

    penelitian yang berkenaan dengan Modernisasi Dalam Sistem Pendidikan

    Pondok Pesantren (Studi Di Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya

    Kecamatan Banjar Margo Tulang Bawang), yang nantinya penelitian yang

    dilakukan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi upaya

    pengembangan Pendidikan di Pondok Pesantren dan semoga dapat

    memberikan kontribusi positif bagi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren.

    B. Pertanyaan Penelitian

    Berdasarkan latar belakang masalah di atas untuk memudahkan

    pelaksanaan Penelitian, maka masalah yang akan diteliti oleh peneliti secara

    operasional yaitu “Bagaimana Modernisasi Dalam Sistem Pendidikan Pondok

    Pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan Banjar Margo Tulang

    Bawang”.

  • C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan penelitian

    Adapun tujuan dari penelitian ini aitu untuk mengetahui bagaimana

    Modernisasi Dalam Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ishlah

    Desa Purwajaya Kecamatan Banjar Margo Tulang Bawang.

    2. Manfaat Penelitian

    a. Manfaat secara Teoritis

    Secara teoritis penelitian yang dilakukan ini memberikan

    pemahaman kepada masyarakat luas terhadap adanya modernisasi

    dalam pengaruhnya terhahadap pondok pesantren serta pola

    perkembangan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren yang dilakukan

    sebagai upaya peningkatan mutu dan kualitas Pendidikan di Pondok

    Pesantren pada era modern seperti saat ini.

    b. Manfaat secara Praktis

    Secara praktis penelitian yang dilakukan ini dapat memberikan

    kontribusi positif bagi para pengelola Pondok Pesantren dalam rangka

    upaya pengembangan Pendidikan di Pondok Pesantren yang lebih baik

    lagi demi terwujudnya generasi yang insan kamil, yakni generasi yang

    kreatif, mandiri, berakhlak mulia, beriman, bertaqwa kepada Allah

    SWT dan berguna bagi nusa dan bangsa.

  • D. Penelitian Relevan

    Bagian ini memuat uraian secara sistematis mengenai hasil Penelitian

    terdahulu (prior research) tentang persoalan yang akan dikaji. Peneliti

    mengemukakan dan menunjukan dengan tegas bahwa masalah yang akan

    dibahas belum pernah diteliti atau berbeda dengan Penelitian sebelumnya.3

    Sebenarnya penelitian yang membahas tentang modernisasi pesantren

    bukanlah hal yang baru, sudah banyak para peneliti yang meneliti tentang

    modernisasi pesantren, namun penelitian yang saya lakukan tentunya tidaklah

    sama dengan para peneliti lainnya, sebab tulisan ini mempunyai fokus

    tersendiri yang menjadikannya berbeda dari studi tentang pesantren yang

    dilakukan oleh peneliti lain, di antara penelitian tentang modernisasi pesantren

    adalah :

    1. Muhammad Zamroji“Modernisasi Sistem Pendidikan pondok pesantren

    Sekolah Tinggi Agama Islam At- Tahdjzib Jombang Indonesia ”.4

    2. Eko Setiawan “ Modernisasi Pola Sistem Pendidikan Pesantren (Studi

    Studi Kasus Pondok Pesantren Modern Darul Fikri Mulyoagung Dau

    Malang Universitas Briwijaya Malang).5

    Semua penelitian dan tulisan tentang modernisasi pesantren sudah

    banyak dilakukan, akan tetapi penulis belum menemukan penelitian tentang

    modernisasi sistem pendidikan pesantren dilakukan pada pondok pesantren

    3 Zuhairi, et.al. Pedoman Penelitian Karya Ilmiah, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2016),

    h. 39. 4Muhammad Zamroji,(Modernisasi Sistem Pendidikan pondok pesantren Sekolah Tinggi

    Agama Islam At- Tahdjzib Jombang Indonesia) 5 Eko Setiawan “ Modernisasi Pola Sistem Pendidikan Pesantren (Studi Studi Kasus

    Pondok Pesantren Modern Darul Fikri Mulyoagung Dau Malang Universitas Briwijaya Malang)

  • Darul Ishlah. Oleh karena itu penulis mengasumsikan bahwa pembahasan dan

    penelitian terhadap modernisasi sistem pendidikan pesantren di pondok

    pesantren Darul Ishlah belum ada yang melakukannya. Di samping itu penulis

    ingin mendeskripsikan bagaimana proses modernisasi sistem pendidikan yang

    berlangsung di pondok pesantren Darul Ishlah seperti model kepemimpinan,

    jenjang pendidikan, Kurikulum, metode pembelajaran dan pengembangan

    manajemen dan sumber daya manusia dari tenaga pendidik.

  • BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

    1. Pengertian Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

    Sistem adalah suatu sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan,

    cara untuk mencapai tujuan tertentu di mana dalam penggunaannya

    bergantung kepada berbagai faktor yang erat hubungannya dengan usaha

    pencapaian tujuan tersebut.6

    Definisi tradisinonal menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat

    komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu

    tujuan. Definisi modern yaitu totalitas yang tersusun dari bagian-bagian

    yang bekerja secara sendiri-sendiri (independent) atau bekerja bersama-

    sama untuk mencapai hasil atau tujuan yang diinginkan.7

    Sistem pendidikan pondok pesantren sejauh ini terdiri dari dua

    kategori, yaitu salafi dan khalafi. Pesantren dikategorikan salafi jika

    memiliki komponen kiai, santri, mushalla/masjid, pengajian kitab-kitab

    Islam klasik, dan pondok/asrama dengan kurikulum seratus persen

    berisikan ilmu-ilmu agama yang disajikan secara sorogan, bandongan,

    atau weton. Kategori salafi itu akan berubah jika terjadi suatu inovasi yang

    bisa memunculkan komponen baru, seperti keterampilan, sistem

    pendidikan madrasah, sistem pendidikan sekolah umum, lembaga

    pengembangan masyarakat, atau yang lainnya. Kategori khalafi selamanya

    akan mengandung multitafsir akibat ketidakjelasan definisnya. Sebab,

    6 Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003),h.

    245 7 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Cetakan Kesembilan,

    h.19

  • kategori yang disebut terakhir ini memang memiliki pola yang sangat

    beragam dan tidak mungkin diseragamkan.8

    Pondok pesantren merupakan salah satu subsistem pendidikan di

    Indonesia, maka gerak dan usaha harus serta arah pengembangannya harusnya

    berada di dalam ruang lingkup tujuan pendidikan nasional itu.

    Pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional

    sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang

    Sistem Pendidikan Nasional.

    UUD Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 dijelaskan

    bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujud kan

    suasana belajar dan proses pembelajaran agar pesertadidik secara aktif

    mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

    keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

    serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

    Negara.9

    Setiap sistem pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari semua

    komponen atau bagian-bagiannya diarahkan dari tercapainya tujuan tersebut.

    Karena itu, proses pendidikan merupakan sebuah sistem yang disebut sebagai

    sistem pendidikan.10

    Secara etimologis, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan

    sekolah luar sekolah dan masyarakat yang secara langsung dikelola oleh

    masyarakat dan bahkan merupakan milik masyarakat karena tumbuh dari dan oleh

    masyarakat".11

    8 Abd. Halim Soebahar, Modernisasi Pesantren Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan

    Sistem Pendidikan Pesantren, (Yogyakarta:Lkis, 2013), h, 183 9 Hipunan Peraturan Perudang Undanagan, Undang-Undang Sisdiknas Sistem Pendidikan

    Nasional, (Bandung: Fokus Media, 2013),h. 2. 10

    Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 2012), h. 123. 11

    M. Bahri Ghazali, PendidikanPesantrenBerwawasan, (Jakarta: PedomanIlmu Jaya,

    2001),h.15

  • Sedangkan menurut Tim Perkembangan Ilmu pendidikan, Pesantren adalah

    lembaga pendidikan dan sosial yang selalu adaptif terhadap perubahan dan

    perkembangan yang terjadi di lingkungan.”12

    Sistem pendidikan Indonesia yang telah di bagun dari dulu sampai

    sekarang ini, ternyata masih belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan dan

    tantangan global untuk masa yang akan datang, Program pemerataan dan

    peningkatan kulitas pendidikan yang selama ini menjadi fokus pembinaan masih

    menjadi masalah yang menonjol dalam dunia pendidikan di Indonesia ini.

    Pondok pesantren adalah lembaga keagamaan, yang memberikan

    pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama

    Islam, yang dalam pesantren Indonesia lebih disamakan dengan lingkungan

    padepokan yang dipetak-petak dalam bentuk kamar sebagai asrama bagi para

    santri. Sedangkan pesantren merupakan gabungan dari kata pe-santri-an yang

    berarti tempat santri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren

    adalah tempat atau asrama bagi santri yang mempelajari agama dari seorang Kyai

    atau Syaikh.

    Modernisasi merupakan suatu proses ketika masyarakat yang sedang

    memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang

    dimiliki masyarakat modern.”13

    Modernisasi berdasarkan perubahan dalam modernisasi, yaitu

    perubahan tersebut sifatnya progresif (maju) bukan sebaliknya regresif,

    perubahan yang menyeluruh dalam berbagai segi kehidupan manusia.

    12

    Tim Perkembangan Ilmu pendidikan , ilmu dan Aplikasi Pendidikan, (Jakarta: IMTIMA,

    2007), h. 458. 13

    Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial Perspektif Klasik Modern Posmodern dan

    Poskolinial (Jakarta: Rajawali Pres, 2014), h. 172.

  • Pergeseran kehidupan yang bukanhanya dari segi material (keduniawian)

    namunjuga mencakup segi spiritualnya (ukhrawi) yang lebihbaik dan,

    modernisasi adalah upaya manusia dalam mengusahakan segala sesuatu

    dalam kehidupan agar menjadi baru dan selaras dengan kemajuan iptek

    yang berkesinambungan tanpa harus mengesamping kan kehidupan

    akhirat.

    Bila kita mempergunakan istilah sistem pendidikan dan pengajaran

    pondok pesantren, maka yang dimaksud adalah sarana berupa perangkat

    organisasi yang diciptakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan

    pengajaran yang berlangsung dalam pondok pesantren.14

    Pondok pesantren adalah sistem pendidikan yang melakukan

    kegiatan sepanjang hari. Santri tinggal di asrama dalam satu kawasan

    bersama guru, kiai dan senior mereka. Oleh karena itu hubungan yang

    terjalin antara santri, guru, kiai dalam proses pendidikan berjalan intensif,

    tidak sekedar hubungan formal ustadz-santri di dalam kelas. Dengan

    demikian kegiatan pendidikan berlangsung sepanjang hari, dari pagi

    hingga malam hari.

    Penjelasan tersebut diatas dapat dipahami bahwa sistem pendidikan

    Pondok Pesantren adalah sistem yang melakukan kegiatan sepanjang hari,

    proses belajar mempunyai frekuensi yang tinggi, adanya proses

    pembiasaan akibat interaksinya setiap saat sesama santri, ustadz dan kiai,

    14

    Djamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, h.114

  • disamping itu sistem pondok pesantren adalah penyediaan sarana untuk

    mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran dipondok pesantren.

    2. Dasar-Dasar Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ishlah

    Pendidikan merupakan suatu usaha untuk membimbing para warganegara

    Indonesia menjadi pancasila, yang berpribadi, berdasarkan akan Ketuhanan

    berkesadaran masyarakat dan mampu membudayakan alam sekitar. Serta tujuan

    dari pendidikan nasional itu yakni membangun kualitas manusia yang bertakwa

    kepada Tuhan yang Maha Esa dan selalu dapat meningkatkan kebudayaan

    dengan-Nya sebagai warganegara yang berjiwa pancasila mempunyai semangat

    dan kesadaran yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur dan berkepribadian yang

    kuat, cerdas, terampil, dapat mengembangkan dan menyuburkan sikap

    domokrasi, dapat memelihara hubungan yang baik antara sesama manusia dan

    dengan lingkungannya, sehat jasmani, mampu mengembangkan daya estetik,

    berkesanggupan untuk membangun diri dan masyarakatnya, dasar pendidikan

    atara lain adalah:

    1. Pendidikan Nasional berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar negara republik Indonesia tahun 1945.

    2. Pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

    dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

    berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

    beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia,

    sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara

    yang demokratis serta bertanggung jawab.15

    Berdasarkan penjelasan diatas dapat dipahami bahwa dasar sistem

    pendidikan pondok pesantren yaitu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional,

    karena pondok pesantren merupakan salah satu subsistem pendidikan di

    15

    Ibid, hal. 5-6

  • Indonesia, maka gerak dan usaha serta pengembangannya harus berada di dalam

    ruang lingkup tujuan pendidikan nasional itu sendiri.

    3. Pentingnya Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

    Sistem pondok pesantren selalu diselenggarakan dalam bentuk

    asrama atau komplek asrama dimana santri mendapatkan pendidikan

    dalam suatu situasi lingkungan sosial keagamaan yang kuat dalam ilmu

    pengetahuan yang dilengkapi pula dengan atau tanpa ilmu pengetahuan

    umum. Perkembangan selanjutnya, pondok pesantren disamping

    memberikan pelajaran ilmu agama, juga ilmu pengetahuan umum dengan

    sistem madrasah atau sekolah.

    Modernisasi atau inovasi pendidikan pesantren dapat diartikan

    sebagai upaya untuk memecahkan masalah pendidikan pesantren. Atau

    dengan kata lain, inovasi pendidikan pesantren adalah suatu ide, barang,

    metode yang dirasakan sebagai hal yang baru bagi seseorang atau

    sekelompok orang, baik berupa hasil penemuan (invention) maupun

    discovery yang digunakan untuk mencapai tujuan atau memecahkan

    masalah pendidikan pesantren. Inovasi (modernisasi) pendidikan adalah

    sebagai berikut:

    1. Sistem Asrama Sistem asrama merupakan system dimana santri tinggal di dalam asrama

    selama 24 jam dengan semua kegiatan dan rutinitas yang ada. Dengan

    sistem tersebut diharapkan terciptanya sebuah dinamika kehidupan santri

    yang merefleksikan nilai-nilai Islam dalam proses pendidikan dan

    suasana kehidupan dalam asrama.

    2. Sistem Kelompok (Club, Komunitas)

  • Yaitu sistem yang di bentuk di mana santri melakukan aktivitas tertentu

    dalam kapasitas kelompok. Seperti kelompok olah raga,

    kesenianketerampilan, keilmuan, kepramukaan, dll. Sistem ini sengaja

    diciptakan guna memacu daya saing antar santri dan kelompok, serta

    menjadi wadah bagimasing-masingbidang yang di gemari oleh santri itu

    sendiri.

    3. Penugasan Salah satu bentuk metode pendidikan penugasan. Dalam hal ini, selain

    tugas belajar, santri juga menjalankan roda organisasi sanrti yang di

    kenal dengan Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Organisasi

    tersebut memiliki beberapa bagian, diantaranya Koperasi Pelajar, Kantin,

    Koperasidapur, Bagian Kesehatan, Bagian Keamanan, BagianKesenian,

    BagianOlahraga, dll.

    4. Disiplin, nilai dan sunnahpondok Sebagai sebuah lembaga pendidikan pesantren, memiliki disiplin, nilai

    dan sunnah pondok yang wajib dilak sanakan oleh pimpinan, guru, santri

    dan seluruh warga pondok. Dalam hal ini disiplin, nilai dan sunnah

    semuanya diciptakan dari santri, oleh santri dan untuksantri.16

    Terlihat dengan adanya pondok pesantren dari dulu hingga sekarang, yang

    tentunya mempunyai peranan yang penting, dalam pendidikan, pondok pesantren

    masuk dalam sistem pendidikan yang perlu diperhitungkan khususnya dalam

    mempelajari ilmu agama, dan juga tidak ketinggalan dalam pengetahuan

    umumnya. Selain itu, berbagai kegiatan non formal pun di dalam pondok

    pesantren dapat diikuti para santri untuk mengasah bakat mereka. Disisi lain,

    pondok pesantren juga mulai menampakkan keberadaannya sebagai lembaga

    pendidikan Islam yang mumpuni, dimana didalamnya didirikan sekolah baik

    formal maupun non formal.

    16

    M. Ihsan Dacholfany, Pendidikan Karekter Ala , Pesantren Gontor, (Jakarta: Wafi Media

    Tama , 2001), h. 39-40

  • Ada tiga pola inovasi sistem pendidikan yang dikembangkan di pesantren,

    yaitu pola inovasi model Departemen Agama, pola inovasi model LP3ES/P3M,

    dan pola inovasi sporadis.

    1. Pola Inovasi Model Departemen Agama Pola inovasi yang diprakarsai oleh Departemen Agama ini

    berupa kurikulum keterampilan, ditujukan sekadar sebagai

    tambahan terhadap kurikulum yang sudah ada di pesantren.

    2. Pola Inovasi Model LP3ES dan P3M Pola ini bekerja sama dengan pemerintah dan swadaya

    masyarakat, tujuannya adalah agar antara pesantren dan

    masyarakat terjalin suatu hubungan kemitraan yang leibh

    produktif.

    3. Pola Inovasi Sporadis Pola inovasi sistem pendidikan secara sporadis dikembangkan

    melalui berbagai cara di tiap-tiap pesantren. Pola inovasi ini

    relatif aman dari kontroversi karena pengadopsian inovasinya

    dilekukan tanpa keterlibatan pihak luar.17

    Berdasarkan penjelasan diatas dapat dipahami bahwa pondok

    pesantren sangatlah berperan penting dalam pendidikan, maka dari itu

    sistem pendidikan pondok pesantren harus dilakukan perkembangan dan

    perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan yang ada pada

    masyarakat saat ini.

    17

    Abd. Halim Soebahar, Modernisasi Pesantren Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan

    Sistem Pendidikan Pesantren,h.183-186

  • B. Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

    1. Pengertian Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

    Modernisasi merupakan suatu proses ketika masyarakat yang sedang

    memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang

    dimiliki masyarakat modern.”18

    Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu

    perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek

    dalam kehidupan di masyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa

    modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-

    cara baru yang lebih maju, di mana dimaksudkan untuk meningkatkan

    kesejahteraan hidup masyarakat.19

    Modernisasi berdasarkan perubahan dalam modernisasi, yaitu

    perubahan tersebut sifatnya progresif (maju) bukan sebaliknya regresif,

    perubahan yang menyeluruh dalam berbagai segi kehidupan manusia.

    Pergeseran kehidupan yang bukan hanya dari segi material (keduniawian)

    namun juga mencakup segi spiritualnya (ukhrawi) yang lebih baik dan,

    modernisasi adalah upaya manusia dalam mengusahakan segala sesuatu

    dalam kehidupan agar menjadi baru dan selaras dengan kemajuan iptek

    yang berkesinambungan tanpa harus mengesampingkan kehidupan akhirat.

    Pesantren modern berupaya memadukan tradisionalitas dan

    modernitas pendidikan. Sistem pengajaran formal ala klasikal (pengajaran

    di dalam kelas) dan kurikulum terpadu diadopsi dengan penyesuaian

    tertentu. Dikotomi ilmu agama dan umum juga dieleminasi. Kedua bidang

    18

    Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial Perspektif Klasik Modern Pos Modern

    dan Poskolinial (Jakarta: Rajawali Pres, 2014), h. 172. 19

    Abdulsyani, Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002),

    Cetakan Kedua, h. 176-177

  • ilmu ini sama-sama diajarkan, namun dengan proporsi pendidikan agama

    lebih mendominasi. Sistem pendidikan yang digunakan di pondok modern

    dinamakan sistem Mu’allimin.

    Pondok pesantren modern telah mengalami transformasi

    yang sangat signifikan baik dalam sistem pendidikannya maupun

    unsur-unsur kelembagaannya. Pesantren ini telah dikelola dengan

    manajemen dan administrasi yang sangat rapi dan sistem

    pengajarannya dilaksanakan dengan porsi yang sama antara

    pendidikan agama dan pendidikan umum, dan penguasaan bahasa

    Inggris dan bahasa Arab.20

    Berdasarkan penjelasan diatas dapat jelaskan bahwa modernisasi

    sistem pendidikan pondok pesantren adalah perubahan yang dialami pada

    sistem pendidikan, metode, maupun unsur-unsur yang lain yang ada pada

    pondok pesantren tersebut, disamping itu modernisasi sistem pendidikan

    pondok pesantren harus mengalami perubahan yang sifatnya progresif

    (maju).

    2. Pentingnya Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

    Pengertian modernisasi hampir identik dengan pengertian

    rasionalisasi, yaitu proses perombakan pola berpikir dan tata kerja lama

    yang tidak rasional dan menggantinya dengan pola berpikir dan tata kerja

    baru yang rasional. Hal itu dilakukan dengan menggunakan penemuan

    20

    Abdul Tolib, Pendidikan Di Pondok Pesantren Modern, (Universitas Wiralodra

    Indramayu: Risalah, ISSN. 2085-2487, 2015), Vol, 1, h. 62

  • mutakhir manusia di bidang ilmu pengetahuan.21

    Berdasarkan penjelasan tersebut, sesuatu dapat disebut modern

    kalau ia bersifat rasional, ilmiah, dan kesesuaian hukum-hukum yang

    berlaku dalam alam. Sebagai contoh sebuah mesin hitung termodern

    dibuat dengan rasionalitas yang optimal, menurut penemuan ilmiah yang

    terbaru.

    Modernisasi meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk dunia

    pesantren. Sejarah yang amat panjang itu, pesantren terus berhadapan

    dengan banyak rintangan, di antaranya pergaulan dengan modernisasi.

    Dunia pesantren memperlihatkan dirinya bagaikan bangunan luas, yang

    tak pernah kunjung berubah. Ia menginginkan masyarakat luar berubah.

    Sedangkan sistem pendidikan adalah segala strategi atau metode

    yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan

    agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam

    dirinya.22

    Jadi berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa sistem

    pendidikan adalah suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen

    yang ada dalam proses pendidikan, dimana antara satu komponen dengan

    komponen lainnya saling berhubungan dan berinteraksi untuk mencapai

    tujuan pendidikan.

    Perkembangan pondok pesantren tidaklah semata-mata tumbuh

    atas pola lama yang bersifat tradisional dengan pola pengajaran yang ada,

    21

    Yasmadi, Modernisasi Pesantren, (Kritik Nurcholis Madjid Terhadap Dunia Pendidikan

    Islam Tradisional), cet. Ke-1 (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 76 22

    A. Qomar, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PENA, 2011), h. 54

  • melainkan dilakukan suatu inovasi dalam pengembangan suatu sistem.

    Disamping pola tradisinonal yang termasuk ciri pondok-pondok Salafiyah,

    maka gerakan khalafiyah telah memasuki perkembangan pondok

    pesantren, yakni dapat dilakukan melalui elemen sistem pendidikan

    berikut:

    a. Pelaku (guru, murid dan penjaga). b. Perangkat Keras (Masjid, tempat tinggal guru, pondokan, tempat

    tinggal kiyai, gedung madrasah, lapangan olahraga, pertanian,

    peternakan, kolam ikan dan makam).

    c. Perangkat Lunak (tujuan, kurikulum, buku-buku, nilai-nilai, aturan, perpustakaan, pusat dokumentasi dan informasi, metode

    pengajaran, keterampilan, pusat pengembangan masyarakat, serta

    fasilitas pengajaran lainnya).23

    Wujud sistem pendidikan terpadu pondok pesantren terletak dari tiga

    komponen:

    a. Belajar, yakni mempelajari jenis-jenis ilmu baik yang berkatian dengan ilmu umum dan titik tekannya dengan ilmu yang berkaitan dengan

    masalah-masalah ajaran agama yang pada akhirnya dipraktekkan dalam

    kehidupan sehari-hari dalam lingkungan masyarakat atau warga

    pesantren di dalam pondok pesantren.

    b. Pembinaan, yang dilakukan dalam masjid sebagai wadah pengisian rohani.

    c. Praktek, maksudnya mempraktekkan segala jenis ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh selama belajar dan adanya pembinaan yang

    dilakukan dalam masjid memungkinkan mereka untuk

    memanifestasikannya dalam pondok. Disamping itu secara tidak

    langsung kehidupan yang ditempuh dalam pondok itu sebagai inti

    pendidikannya. Sebab pendidikan berarti menjadikan seseorang menjadi

    dewasa perilakunnya dalam arti kejiwaan.24

    Atas dasar pembentukan kemandirian itu maka sistem pendidikan

    dan pengajaran pondok pesantren adalah sistem terpadu. Kemandirian itu

    nampak dari keberadaan bangunan sekolah, pondok dan masjid sebagai

    23

    Abdul Qodir, dalam Jurnal, Pembaharuah Sistem Pendidikan Pesantren dalam

    Pembentukan Kemandirian (Studi Kasus Pesantren Al-Muhajirin Palangka Raya Kalimantan

    Tengah), (Kalimantan: Studi Agama dan Masyarakat: 2004), Volume2 I, Nomor 1, h. 59 24

    M. Bahri Gazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta: Pedoman

    Ilmu Jaya, 2001), h. 31-33

  • wadah pembentukan jati diri. Sekolah adalah wadah pembelajaran, pondok

    sebagai ajang pelatihan dan praktek, sedangkan masjid tempat pembinaan

    para santri. Ketiga wadah pendidikan itu digerakkan oleh kiyai, yang

    merupakan pribadi yang selalu ikhlas dan menjadi teladan santrinya.

    3. Ciri-Ciri Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesasanren

    Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam Indonesia yang dianggap

    tepat karena sistem pesantren tetap mempertahankan tradisi belajar “kitab-kitab

    klasik” yang ditunjang dengan upaya internalisasi unsur keilmuan “modern”.

    Selain diharapkan dapat memberikan responsi atas tuntutan era mendatang yang

    meliputi dua aspek, universal dan nasional.

    Dengan adanya transformasi, baik kultur, sistem dan nilai yang ada

    di pondok pesatren yang dikenal dengan salafiyah (kuno) kini telah

    berubah menjadi khalafiyah (modern). Transformasi tersebut sebagai

    jawaban atas kritik-kritik yang diberikan pesantren dalam tranformasi ini,

    sehingga dalam sistem dan kultur pesantren terjadi perubahan yang drastis,

    misalnya, a). Perubahan sistem pengajaran dari perseorangan atau sorogan

    menjadi sistem klasikal yang kemudian kita kenal dengan istilah madrasah

    (sekolah). b). Pemberian pengetahuan umum disamping masih

    mempertahankan pengetahuan agama dan bahasa arab. c). Bertambahnya

    komponen pendidikan pondok pesantren, misalnya keterampilan sesuai

    dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat, kesenian yang Islami, d).

    Lulusan pondok pesantren diberikan syahadah (ijazah) sebagai tanda tamat

    dari pesantren tersebut dan ada sebagian syahadah tertentu yang nilainya

    sama dengan ijazah negeri.25

    Ciri-ciri modernisasi pendidikan pesantren adalah salah satu upaya untuk

    menciptakan lembaga pendidikan yang mempunyai identitas kultural yang lebih

    sejati sebagai konsep pendidikan masyarakat Indonesia baru. Selain di dalamnya

    25

    Abdul Tolib, Pendidikan Di Pondok Pesantren Modern,h.62-63

  • diharapkan dapat ditemukan nilai-nilai universalitas Islam yang mampu

    melahirkan suatu peradaban masyarakat Indonesia masa depan. Ada beberapa hal

    yang dapat diajukan untuk memodernisasikan sistem pendidikan pesantren.

    Diantaranya:

    a. Merevitalisasi Paradigma pendidikan pesantren. b. Menyelaraskan antara iptek dan imtaq. c. Upaya menghilangkan dualisme pendidikan. d. Mereformasi sistem sorogan dan bandongan menjadi sistem klasikal dan

    penjenjangan.

    e. Membuat kurikulum yang lebih jelas.26

    Berdasarkan lima ciri di atas bahwa sistem pendidikan pesantren

    berdasarkan filsafat pendidikannya bersifat theosentric, yaitu pandangan yang

    menyatakan bahwa semua kejadian berasal, berproses, dan kembali kepada

    kebenaran Tuhan. Semua aktifitas pendidikan dipandang sebagai ibadah kepada

    Tuhan. Ada beberapa perilaku yang menjadi tradisi para santri dalam menimba

    ilmu di pesantren, yang tentunya dilatarbelakangi oleh adanya pandangan

    theosentic tadi. Yaitu: 1). Sukarela dan mengabdi, 2). Kearifan, 3).

    Kesederhanaan, 4). Kolektifitas, 5). Mengatur kegiatan bersama, 6). Kebebasan

    terpimpin, 7). Mandiri, 8). Menjadikan pesantren tempat menimba ilmu dan

    mengabdi, 9). Mengamalkan ajaran agama, 10). Tanpa Ijasah, 11). Restu kyai-

    kyai.

    Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren. Pesantren merupakan lembaga

    pendidikan yang berakar panjang pada budaya bangsa Indonesia. Ia berkembang

    dengan pranata yang khas selama berabad-abad sebagai lembaga pendidikan

    Islam yang mandiri dan bebas dari pengaruh pendidikan kolonial Barat-Eropa.

    Modernisasi sistem pendidikan pesantren senantiasa berevolusi, berkembang

    26

    Syarifah Gustiawati Mukri, Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren:, JURNAL I

    Fakultas Agama Islam UIKA Bogor NSANIA,Vol. 13, No. 2, ssn, 307849509, Mei-Agustus

    2013, h. 13-17

  • secara perlahan menuju perbaikan yang terus menerus. Perubahan tersebut

    diupayakan dengan mengikuti perkembangan zaman bersama tuntutan keadaan

    yang tak terbendung. Hal ini terlihat dari sistem pendidikan pesantren yang

    menjelma menjadi madrasah. Dari metode tradisional ke sistem klasikal, dari

    sistem halaqah menjadi sistem berjenjang, dari kurikulum tradisional ke

    kurikulum modern, dari pendidikan klasik ke pembaharuan pendidikan, hingga

    pada aspek manajemennya.

    Melihat pentas persaingan regional dan global, modernisasi sistem

    pendidikan pesantren tersebut diupayakan mampu mempertahankan eksistensinya

    sebagai lembaga pendidikan yang menjaga identitas bangsa, selain

    memperhatikan identitas pendidikan yang berbasiskan keilmuwan dan nilai-nilai

    keislaman.

    Sebagaimana gambaran tentang nilai-nilai pendidikan dalam

    pondok pesantren yang erat kaitannya dengan kelahiran pemimpin-

    pemimpin masyarakat binaan pondok pesantren. Ciri-ciri pendidikan

    pondok pesantren adalah sebagai berikut:

    a. Ada hubungan akrab antara santri dengan kiyai-kiyai itu mmperlihatkan sekali santrinya.

    b. Tunduknya santri kepada kiyai. Para santri menganggap bahwa menentang kiyai selain dianggap kurang sopan juga bertentangan

    dengan agama.

    c. Hidup hemat dan sederhana benar-benar dilakukan dalam pondok pesantren. Hidup mewah tidak terdapat dalam pondok pesantren.

    d. Semangat menolong diri sendiri amat terasa dan kentara di kalangan santri di pondok pesantren.

    e. Jiwa tolong menolong dan persaudaraan sangat mewarnai pergaulan di pondok pesantren.

    f. Pendidikan disiplin sangat ditekankan dalam kehidupan pondok pesantren.

    g. Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan adalah salah satu pendidikan yang diperoleh santri dalam pondok pesantren.

    h. Kehidupan agama yang baik dapat diperoleh santri di pondok pesantren itu, karena memang pondok pesantren adalah tempat

    pendidikan dan pengajaran agama.27

    27

    M. Bahri Gazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, h.34

  • Penjelasan diatas dapat dipahami bahwa ciri-ciri sistem pendidikan

    pondok pesantren modern yakni adanya transformasi, baik kultur, sistem

    dan nilai yang ada di pondok pesatren yang dikenal dengan salafiyah

    (kuno) kini telah berubah menjadi khalafiyah yang dapat dilihat atau

    ditandai dengan adanya perubahan sistem, pemberian pengetahuan umum,

    bertambahnya komponen pendidikan pondok pesantren, lulusan pondok

    pesantren diberikan ijazah. Disamping itu ciri sistem pendidikan pondok

    pesantren modern yaitu adanya merevitalisasi paradigma pendidikan

    pesantren, penyelarasan antara iptek dan imtaq, adanya upaya

    menghilangkan dualisme pendidikan, mereformasi sistem sorogan dan

    bandongan menjadi sistem klasikal dan penjenjangan, membuat kurikulum

    yang lebih jelas.

    4. Dampak Positif dan Negatif Modernisasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

    Sebagian masyarakat telah mengidentikkan begitu saja istilah

    modernisasi dengan istilah westernisasi. Padahal terdapat perbedaan

    esensial antara pengertian modernisasi dengan westernisasi. Westernisasi

    adalah mengadaptasi gaya hidup barat, meniru-niru, dan mengambil alih

    cara hidup Barat. Jadi orang yang meniru-niru, dan mengambil alih cara

    hidup Barat, mengadaptasi gaya hidup orang Barat itulah yang lazim

    disebut westernisasi. 28

    Berdasarkan uraian tersebut, bahwa westernisasi mempunyai

    pengertian yang tidak sama dengan modernisasi, modernisasi bukan

    28

    Husni, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos Raharjo, 2001), h. 67

  • pengambilalihan gaya dan cara hidup barat.

    Dampak-dampak positif dari modernisasi sebagai berikut: Dampak

    negatif modernisasi diantaranya adalah kesadaran masyarakat akan

    pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan, kesiapan masyarakat

    dalam menghadapi perubahan-perubahan dalam segala bidang, keinginan

    masyarakat untuk selalu mengikuti perkembangan situasi disekitarnya,

    serta sikap hidup mandiri.29

    Pesantren pada awal mulanya merupakan lembaga

    pendidikan yang concern pada pendidikan keagamaan (tafaqquh fi

    al din) sebagai bentuk keterpanggilan hati betapa pendidikan itu

    penting di atas kepentingan apapun.

    Dalam menanggapi gagasan ini, tampak kalangan pesantren

    terbelah menjadi dua, yaitu pro dan kontra. Adanya kontroversi ini

    mungkin telah disebabkan pada perbedaan pendapat mereka

    tentang bagaimana sikap pesantren dalam menghadapi era

    globalisasi. Mereka yang pro mengatakan bahwa modernisasi

    pesantren akan memberi angin segar bagi pesantren. Mereka

    menganggap bahwa banyak sisi positif yang akan diperoleh dengan

    modernisasi pendidikan di pesantren. Diantara sisi positif tersebut

    adalah sebagai berikut:

    a. Sebagai bentuk adaptasi pesantren terhadap perkembangan era globalisasi. Hal ini dilakukan agar pesantren tetap eksis.

    b. Sebagai upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam sistem pendidikan pesantren.

    30

    Sementara itu dampak negatif modernisasi bagi dunia pesantren

    adalah adanya pergeseran nilai dan kultur inklusif.

    a. Pergeseran nilai

    Pesantren merupakan satu lembaga yang bercorak

    29

    Abdullah, Kajian Historis Lembaga Pendidikan Pesantren (Jakarta: Bulan Bintang,

    2003), h.24 30

    Eko Setiawan, Modernisasi pola Sistem Pendidikan Pesantren (Studi Kasus Pondok

    Pesantren Modern Daaul Fikri Mulyoagung Dua Malang), (Universitas Brawijaya Malang),

    Jurnal Pascasarjana Sosiologi Fakultas Pertanian, h. 14-15

  • tradisionalisme religious. Karena adanya arus modernisasi nilai-nlai

    tradionalisme dan religious peesantren memudar. Contoh dari statemen

    tersebut tampak dalam pergaulan sesama santri. Dahulu corak

    kehidupan santri dijiwai dengan semangat kekeluargaan dan

    kebersamaan, namun kehidupan santri telah bergeser ke midernis dan

    individualistis.31

    Dari pendapat diatas seiring berkembangnya nilai-nilai

    pembaharuan dalam pesantren itu sendiri. Seperti yang kita ketahui

    saat ini pesantren modern lebih menonjolkan sisi individual santri dari

    pada kebersamaan.

    b. Kultur inklusif

    Pada sisi yang lain modernisasi juga telah secara pelan tapi pasti

    merubah kultur lokal menjadi lebih terbuka (inclusive) dengan

    mengikuti perubahan yang terjadi. Pada titik ini, budaya lokal yang

    dianggap sakral dalam dunia pesantren dan selalu dijadikan pijakan

    dalam setiap tindakannya lambat laun mengalami pergeseran. “Fakta

    ini mengindikasikan bahwa pada dasarnya manusia adalah dinamis

    sehingga arus perubahan yang masuk tidak di respon dalam bentuk

    resistensi, namun sebaliknya masyarakat mencoba lebih terbuka

    (Open-Minded) dengan tradisi baru yang dianggap memberikan makna

    positif dalam rangka mendorong sebuah kemajuan.32

    Dua bagian tentang dampak modernisasi dalam dunia pesantren

    31

    Ibid, h.78 32

    Arifin, Metode Pembelajarn Agama Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm 2005),

    h.10

  • sebagai berikut: dampak positif terdiri dari perubahan tata nilai dan sikap.

    Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan

    pergeseran nilai dan sikap masyarakat pesantren yang semua irasional

    menjadi rasional. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Dengan berkembangnya ilmu pengetauan dan teknologi masyarakat

    pesantren menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk

    berpikir lebih maju. Tingkat kehidupan yang lebih baik. Dampak negatif:

    pola konsumtif, bersikap individualistik, gaya hidup kebarat-baratan dan

    kesenjangan sosial.33

    Berdasarkan uraian diatas dampak positif maupun negatif

    globalisasi tersebut, maka sebagai bangsa Indonesia harus berhati-hati dan

    selektif terhadap bentuk globalisasi. Globalisasi harus disikapi dengan

    bijaksana. Apanila sembarang mengadopsi maka kehancuran budaya

    nasional akan segera tiba.

    Modernisasi juga mempunyai dampak bagi kehidupan

    bermasyarakat pada masyarakat yang menganut modernisasi. Modernisasi

    memiliki dampak negatif dan positif. Ampak positif modernisasi

    diantaranya perubahan tata nilai dan sikap, berkembangya ilmu

    pengetahuan dan teknologi, tingkat kehidupan yang lebih baik. Dampak

    negatif dari modernisasi diantaranya pola hidup konsumtif, sikap

    individualistik. Gaya hidup kebarat-baratan, kesenjangan sosial,

    kriminalitas.

    33

    Ibid, h.17

  • BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Jenis dan Sifat Penelitian

    1. Jenis Penelitian

    Jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian kualitatif.

    Penelitian kualitatif yaitu suatu penelitian yang ditujukan untuk

    mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap,

    kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.34

    Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang

    mengungkapkan suatu fenomena melalui deskripsi bahasa non-statistik secara

    holistik.35

    Berdasarkan pengertian tersebut maka penelitian kualitatif sangat

    menekankan pada proses analisis.

    Penelitian kualitatif lapangan ini bertujuan untuk mempelajari secara

    intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan

    sesuai unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.36

    Penelitian ini

    dilakukan dengan menghimpun data dalam keadaan sewajarnya,

    mempergunakan cara bekerja yang sistematis, terarah dan dapat

    dipertanggungjawabkan, sehingga tidak kehilangan sifat ilmiahnya atau

    serangkaian kegiatan atau proses menjaring data/informasi yang bersifat

    sewajarnya.

    Bentuk penelitian ini yaitu penelitian studi kasus, yaitu studi yang

    mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan

    34

    Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja

    Rosdakarya, 2010), h. 60. 35

    Zuhairi,et.al. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2016),

    h.23. 36

    Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 80.

  • data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian

    ini dibatasi oleh waktu dan tempat.

    2. Sifat Penelitian

    Penelitian yang akan penulis gunakan ini adalah penelitian yang bersifat

    penelitian deskriptif karena bertujuan untuk membuat pencandraan (deskriptif)

    secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta yang ada. Penelitian

    deskriptif adalah Penelitian yang bermaksud untuk membuat gambaran

    mengenai situasi atau kejadian-kejadian.37

    Secara umum penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk

    menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik obyek atau subyek

    yang diteliti secara tepat, maka berkenaan dengan judul penelitian, peneliti

    menekankan pada penelitian deskriptif, maka dalam penelitian ini lebih

    menekankan pada pandangan mengenai gambaran peristiwa yang dibentuk oleh

    kata-kata secara ilmiah. Jadi, penelitian deskriptif adalah penelitian yang

    menerangkan tentang kejadian keadaan dan kenyataan prilaku manusia,

    memotivasi serta memberikan gambaran bagi semua pihak yang membutuhkan

    serta penelitian yang berusaha melihat makna yang terkandung dibalik objek

    penelitian.

    B. Sumber Data

    Sumber data adalah subjek dimana data diperoleh.38

    Apabila peneliti

    menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber

    data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-

    pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis atau lisan.

    37

    Ibid.,h.76. 38

    Edi Kusnadi, Metodologi Penelitian, (Metro: STAIN Metro dan Ramayana Pers, 2008),

    h.77.

  • Apabila peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa

    berupa benda, gerak atau proses sesuatu. Apabila peneliti menggunakan

    dokumentasi, maka dokumen atau catatanlah yang menjadi sumber data, sedang isi

    catatan subjek penelitian atau variabel penelitian.39

    Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan,

    selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.40

    Adapun sumber

    data yang penulis gunakan dalam penelitian ini dapat dibagi menjadi dua macam

    yaitu:

    1. Sumber Data Primer

    Sumber data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari

    objek yang diteliti, baik dari objek individual (responden) maupun dari suatu

    instansi yang mengolah data untuk keperluan dirinya sendiri.41

    Pengertian lain data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh

    peneliti (petugas-petugasnya) dari sumber pertanyaannya.42

    Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan

    wawancara kepada Kepala, Ustadz dan ustadzah atau tenaga pendidik di

    Pondok Pesantren Darul Ishlah terkait dengan modernisasi dalam sistem

    pendidikan pondok pesantren.

    2. Sumber Data Sekunder

    Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung

    untuk mendapatkan informasi (keterangan) dari objek yang diteliti.43

    Pengertian

    39

    Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka

    Cipta, 2010), h. 172. 40

    Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

    2014), h. 157. 41

    Andi Supangat, Statistika dalam Kajian Deskriptif, Inferensi, dan Nonparametrik,

    (Jakarta: Kencana Premada Media Group, 2010), h.2. 42

    Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian., h.39. 43

    Andi Supangat, Statistika dalam Kajian., h. 2.

  • lain data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis

    (tabel, catatan, notule rapat, SMS, dan lain-lain), foto-foto, film, rekaman video,

    benda-benda dan lain-lain yang memperkarya data primer.44

    Data sekunder dalam penelitian ini adalahprofil Pondok Pesantren Darul

    Ishlah, dokumen tentang sejarah singkat Pondok Pesantren Darul Ishlah, letak

    geografis, serta jumlah ustadz dan ustadzah atau tenaga pengajar, struktur

    organisasi Pondok Pesantren Darul IshlahDesa Purwajaya Kecamatan Banjar

    Margo Tulang Bawang.

    C. Teknik Pengumpulan Data

    Pengumpulan data merupakan langkah awal yang harus ditempuh dalam

    sebuah penelitian.Prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan data saat

    pelaksanaanpenelitian adalah sebagai berikut:

    1. Observasi

    Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara

    sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.45

    Menurut

    pendapat lain observasi adalah sebuah proses penggalian data yang dilakukan

    langsung oleh peneliti dengan cara melakukan pengamatan mendetail terhadap

    manusia sebagai objek observasi dan lingkungan.46

    Ditinjau dari pelaksanaannya observasi dibedakan menjadi dua jenis

    yaitu:

    a. Observasi Partisipan (Participant observation), Observasi Partisipan dalam penelitian ini, peneliti terlibat dengan kegiatan

    sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan

    sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan,

    peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data,

    dan ikut merasakan suka dukanya.

    44

    Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian.,h.22. 45

    S. Margono, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),h. 158. 46

    Haris Herdiansyah, Wawancara, Observasi, dan Fokus Groups , (Jakarta: Raja Grafindo

    Persada, 2013), h. 130-131.

  • b. Observasi Nonpartisipan, dalam penelitian ini, peneliti tidak telibat dan hanya sebagai pengamat independen.

    47

    Metode observasi yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini

    adalah observasi nonpartisipan, yaitu peneliti melakukan pengumpulan data

    yang tidak ikut berperan dalam kegiatan sehari-harinya, tetapi hanya sebagai

    pengamat independen saja.

    Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti melakukan pengamatan atau

    obeservasi untuk mengetahui sistem pendidikan pondok pesantren metode,

    maupun unsur-unsur yang lain yang ada pada pondok pesantren tersebut,

    disamping itu apakah sistem pendidikan pondok pesantren Darul Ishlah

    mengalami perubahan yang progresif.

    Penelitian ini adalah pengamatan secara langsung yang peneliti

    lakukan di Pondok Pesantren Darul Ishlahterkait dengan modernisasi dalam

    sistem pendidikan pondok pesantren desa Purwajaya kecamatan banjar

    margo tulang bawang.

    2. Wawancara (Interview)

    Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi

    semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.48

    Menurut pendapat lain, wawancara adalah bentuk komunikasi antara

    dua orang, melihatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari

    seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan

    tujuan tertentu.49

    47

    Sugiyono, Metodologi Penelitian., h. 204-205. 48

    S. Nasution, Metode Research, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 113. 49

    Deddy Mulyana, Metodology Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

    2010), h. 180.

  • Pengertian lain wawancara ialah tanya jawab lisan antara dua orang

    atau lebih secara langsung. Pewawancara disebut intervieuwer, sedangkan

    orang yang diwawancarai disebut interviewee.50

    Berdasarkan beberapa uraian di atas Metode wawancara digunakan

    untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan informasi secara lisan

    dari seorang responden, dengan cara bercakap-cakap atau komunikasi dan

    berhadapan langsung dengan orang tersebut.

    Ada beberapa macam wawancara, yaitu wawancara

    terstruktur, wawancara semiterstuktur, dan wawancara tidak

    terstruktur.

    a. Wawancara terstruktur, digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan

    pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu

    dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan

    instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang

    alternatif jawabannya pun telah disiapkan.

    b. Wawancara semiterstruktur, Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept interview, di mana dalam pelaksanaannya

    lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan

    dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan

    secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara

    diminta pendapat dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara,

    peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang

    dikemukakan oleh informan.

    c. Wawancara tak berstruktur, wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah

    tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan

    datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-

    garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.51

    Sedangkan menurut pendapat lain, wawancara secara garis besar

    dibagi dua, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tak terstruktur.

    a. Wawancara terstruktur, yaitu wawancara yang susunan pertanyaannya sudah ditetapkan sebelumnya dengan pilihan-pilihan jawaban yang

    juga sudah disediakan.

    b. Wawancara tak terstruktur, yaitu wawancara yang bersifat luwes, susunan pertanyaannya dan susunan kata-kata dalam setiap pertanyaan

    dapat diubah pada saat wawancara, disesuakan dengan kebutuhan dan

    50

    Husain Usman, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h.57-58. 51

    Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta,

    2013), h.233-234.

  • kondisi saat wawancara, termasuk karakteristik sosial-budaya

    responden yang dihadapi.52

    Berdasarkan jenis wawancara di atas, maka penulis menggunakan

    wawancara terstruktur. Subjek yang akan diwawancarai dalam penelitian ini

    adalah Kepala dan tenaga pendidik Pondok Pesantren Darul Ishlahterkait

    dengan modernisasi dalam sistem pendidikan pondok pesantren desa

    Purwajaya kecamatan banjar margo tulang bawang.

    3. Dokumentasi

    Metode dokumentasi adalah Mencari data mengenai hal-hal atau

    variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prestasi,

    notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.53

    Metode dokumentasi ini penulis gunakan untuk memperoleh data

    mengenai profil Pondok Pesantren Darul Ishlah desa purwajaya kecamatan

    banjar margo tulang bawang.

    D. Teknik Penjamin Keabsahan Data

    Teknik penjamin keabsahan data merupakan cara-cara yang dilakukan

    peneliti untuk mengukur derajat kepercayaan (credibelity) dalam proses

    pengumpulan data penelitian. Teknik pemeriksaan keabsahan data pada penelitian

    yang penulis lakukan ini adalah dengan menggunakan trianggulasi.

    Trianggulasi data adalah salah satu pengukuran derajat kepercayaan

    (credibility) yang bisa digunakan dalam proses pengumpulan data penelitian”.54

    Trianggulasi yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan

    52

    Deddy Mulyana, Metodology Penelitian., h. 181. 53

    Suharsimi Arikuno, Prosedur Penelitian., h. 274. 54

    Zuhairi, et.al. Pedoman Penulisan., h. 40.

  • waktu. Sehingga ada trianggulasi dari sumber/informasi, trianggulasi dari teknik

    pengumpulan data, dan trianggulasi waktu.55

    1. Trianggulasi Sumber

    Cara meningkatkan kepercayaan penelitian adalah dengan mencari data

    dari sumber yang beragam yang masih terkait satu sama lain. Peneliti perlu

    melakukan eksplorasi untuk mengecek kebenaran data dari beragam sumber.

    Triangulasi sumber adalah untuk menguji kredibilitas data dilakukan

    dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.56

    2. Trianggulasi Teknik

    Trianggulasi teknik adalah penggunaan beragam teknik pengumpulan

    data yang dilakukan kepada sumber data. Menguji kredibilitas data dengan

    trianggulasi teknik yaitu mengecek data dengan sumber yang sama dengan

    teknik yang berbeda.

    Triangulasi teknik adalah untuk menguji kredibilitas data dilakukan

    dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

    Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi atau

    dokumentasi.57

    Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini

    adalah observasi, wawancara, dokumentasi.dan tes lisan.

    3. Trianggulasi Waktu

    Peneliti dapat mengecek konsistensi, kedalam dan ketepatan/kebenaran

    suatu data dengan melakukan trianggulasi waktu. Menguji kredibilitas data

    55

    Djamal Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:

    ALFABETA, 2014), h. 170. 56

    Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitaif, (Bandung: Alfabeta, 2014), hal. 125-127. 57

    Ibid.,h. 373.

  • dengan trianggulasi waktu dilakukan dengan cara mengumpulkan data pada

    waktu yang berbeda.58

    Berdasarkan penjelasan di atas teknik penjamin keabsahan data dalam

    penelitian yang peneliti lakukan ini adalah dengan menggunakan trianggulasi

    teknik.

    E. Teknik Analisis Data

    Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai

    sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-

    macam(trianggulasi) dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.59

    Analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data.

    Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data

    yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,

    sehingga dapat mudah difahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang

    lain.60

    Analisis digunakan untuk memahami hubungan dan konsep dalam data

    sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan dievaluasi.

    Teknik analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan

    bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan yang

    dapat dikelola, mensistensikan, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang

    penting dan apa yang dipelajari, dan menemukan apa yang dapat diceritakan kepada

    orang lain.61

    58

    Djamal Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian., h. 170-171. 59

    Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R & D, (Bandung: Alfabeta, 2013),

    h.243. 60

    Ibid., h. 244. 61

    Lexy J. Moleong, Metode Penelitian., h. 248.

  • Tujuan utama dari analisis data dalam penelitian kualitatif ialah untuk

    meringkaskan data dalam bentuk yang mudah dipahami dan mudah ditafsirkan,

    sehingga hubungan antara problem penelitian dapat dipelajari dan ditest.62

    Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan

    berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.

    Aktivitas dalam analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan pengambilan

    kesimpulan dan ferifikasi.63

    1. Reduksi Data

    Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok,

    memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.64

    Berdasarkan reduksi data di atas dengan demikian data yang telah

    direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah

    peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

    2. Penyajian Data (Display Data)

    Setelah data direduksi, maka tahap selanjutnya adalah display data.

    Melalui data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam bentuk pola

    hubungan sehingga akan mudah dipahami. Dalam penelitian kualitatif,

    penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan

    antar kategori, dan sejenisnya.65

    62

    Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian Kuantitatif-Kualitatif , (Malang: UIN-Maliki

    Press, 2008), h. 354. 63

    Sugiyono, Metode Penelitian., h. 246. 64

    Ibid., h.247. 65

    Ibid., h. 249.

  • Melalui mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk

    memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa

    yang telah dipahami tersebut.

    3. Pengambilan Kesimpulan dan Verifikasi

    Tahap ketiga dalam analisis ini adalah pengambilan kesimpulan dan

    verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan

    akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada

    tahap pengumpulan data berikutnya, tetapi apabila kesimpulan yang

    dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bikti yang valid dan

    konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka

    kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.66

    Kesimpulan dapat berupa deskriptif atau gambaran suatu objek yang

    sebelumnya masih remang-remang, sehingga setelah diteliti menjadi jelas.

    Dengan demikian, setelah data terkumpul maka penulis memilah-milahnya dan

    menyajikannya, selanjutnya menarik kesimpulan.

    66

    Ibid.,h.252.

  • BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Gambaran Umum Tempat Penelitian

    1. Sejarah Berdirinya Pesantren Darul Ishlah

    PROFIL

    YAYASAN PON. PES. DARUL ISHLAH

    Nama Pon. Pes : Yayasan "Darul Ishlah"

    Pendiri / pengasuh : KH. Shodiqul Amin

    Alamat :

    Kampung : Purwajaya Unit I

    Kecamatan : Banjar Margo

    Kabupaten : Tulang Bawang

    Propinsi : Lampung

    No. Telp/Hp : 081 272 66466 / 085 258 384 689

    No. Rek. : BRI Britama 0605-01-015734-50-9

    A/n : Yayasan Darul Ishlah Banjar Margo

    Tahun Berdiri : 2003

    Keadaan Akhir : Maret 2015

    Jumlah Santri Menetap : 297 Orang

    Laki-laki : 115 Orang

    Perempuan : 182 Orang

    Pesantren Darul Ishlah merupakan pesantren yang bercorak

    salafiyah yaitu pesantren yang menyelenggarakan pengajaran Al-Qur’an

    dan ilmu-ilmu agama Islam dengan mengacu kepada kitab-kitab kuning

    (kitab klasik) sebagai inti pelajarannya, dan dalam proses pembelajarannya

    diselenggarakan dengan cara klasikal (ibtidiyah, tsanawiyah, dan aliyan).

    sedangkan dalam metode pembelajarannya, pesantren Darul Ishlah

    menggunakan metode sorogan, wetonan/ bandongan, hafalan, diskusi

  • majlis taklim, muhdahoroh, bahtsul kutub, dan ditambah dengan metode

    karya nyata.

    Pesantren Darul Ishlah terletak di wilayah yang strategis. Ia

    terletak di sebelah Timur jalan Buncit Raya yang dilalui kendaraan dari

    arah Ragunan menuju buncit, Mampang dan Kuningan. Tepatnya berada

    diwilayah Rt 05 Rw 06 Kelurahan Kalibata kecamatan Pancoran

    Kotamadya Jakarta Selatan. Wilayah ini biasa dikenal dengan nama

    Kalibata Pulo, Karena letaknya yang di kelilingi sehingga mirip sebuah

    pulau.

    Pesantren Darul Ishlah mulai berdiri semenjak tahun 1987

    yaitutahun dimana KH. Amir Hamzah mulai merintisnya. Baru pada

    tahun1990 saat santri sudah mulai bertambah dan tempat tidak memadai

    lagidilakukan pengembangan fisik bangunan pesantren terlebih

    setelahmendapat wakaf dari H. Mohammad Ali Yusuf seluat 500 M2,

    makabangunan fisik dan sarana belajar pesantren Darul Ishlah

    semakinmembaik.

    2. Visi dan Misi Pondok Pesantren Darul Ishlah.

    VISI “Mencetak Generasi Berintelektual Tinggi Dan Berahlaqul

    Karimah”

    Indikator

    a. Meningkatnya pengembangan kurikulum pesantren.

    b. Terwujudnya peningkatan sumber daya manusia pendidik dan tenaga

    kependidikan.

    c. Meningkatnya proses pembelajaran pesantren

    d. Terwujudnya rencana induk pengembangan sarana prasarana

    pendidikan

  • e. Terwujudnya peningkatan kualitas lulusan dalam bidang akademik

    maupun non akademik

    f. Terwujudnya pelaksanaan manajemen berbasis pesantren dan

    peningkatan mutu kelembagaan.

    g. Terjalinnya program penggalangan pembiayaan pesantren.

    h. Unggul dalam Imtaq, prestasi akademik, non akademik.

    MISI

    a. Melaksanakan pengembangan kurikulum pesantren :

    1) Melaksanakan pengembangan kurikulum pesantren satuan

    pendidikan

    2) Melaksankan pengembangan pemetaan kompetensi dasar semua

    mata pelajaran pesantren.

    3) Melaksanakan pengembangan silabus.

    4) Melaksanakan pengembangan rencana pembelajaran pesantren.

    5) Melaksanakan pengembangan system penilaian.

    b. Melaksanakan Pengembangan Tenaga Kependidikan.

    1) Melaksanakan pengembangan profesionalitas dewan Asatidz.

    2) Melaksanakan peningkatan kompetensi dewan Asatidz

    3) Melaksanakan peningkatan kompetensi TU dan tenaga

    kependidikan lainnya.

    4) Melaksanakan monitoring dan evaluasi kepada dewan Asatidz, TU

    dan tenaga kependidikan lainnya.

    c. Melaksanakan Pengembangan Proses pembelajaran pesantren.

    1) Melaksanakan pengembangan metode pengajaran pesantren.

  • 2) Melaksanakan pengembangan strategi pembelajaran pesantren

    3) Melaksanakan pengembangan strategi penilaian.

    4) Melaksanakan pengembangan bahan ajar/sumber pembelajaran

    pesantren.

    d. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan Fasilitas Pendidikan

    1) Mengadakan media pembelajaran pesantren

    2) Mengadakan sarana prasarana Pendidikan pesantren.

    3) Menata lingkungan belajar sehingga tercipta lingkungan belajar

    yang kondusif.

    e. Melaksanakan Pengembangan/Peningkatan Standar Ketuntasan dan

    Kelulusan.

    f. Melaksanakan Pengembangan Kelembagaan dan Manajemen

    Pesantren.

    1) Mengadakan kelengkapan administrasi pesantren melalui system

    administrasi pesantren terpadu.

    2) Melaksanakan monitoring dan evaluasi.

    3) Melaksanakan supervise klinis.

    g. Melaksanakan Program Penggalangan Pembiayaan Pesantren

    1) Melaksanakan Pengembangan Jalinan Pinjaman Dana

    2) Melaksanakan Usaha Peningkatan Penghasilan Pesantren

    3) Pendayagunaan Potensi Pesantren (Lingkungan)

    h. Melaksanakan Pengembangan Penilaian

  • 1) Melaksanakan engembangan Perangkat/ Model-Model

    Pembelajaran pesantren

    2) Melaksanakan program evaluasi pembelajaran pesantren

    3) Menyiapkan siswa melalui kegiatan pengembangan bidang

    akademis, non akademis dan imtaq.

    4) Mengikuti kegiatan lomba akademis dan non akademis dan

    keagamaan.

    3. Keadaan Ustad dan Ustadzah Pesantren Darul Ishlah

    Adapun keadaan ustad dan ustadzah Pesantren Darul Ishlah dapat

    dilihat pada tabel berikut:

    Tabel. 1

    Keadaan Ustad dan Ustadzah Pesantren Darul Ishlah

    NO UNIT PENDIDIKAN

    JENIS

    KELAMIN TENAGA

    ADMINISTRASI JUMLAH

    L P

    01 Pengasuh Pesantren 2 2 - 4

    02 Ustadz Pondok putra 12 - 2 14

    03 Ustadz Pondok putri - 12 2 14

    04 Madrasah Diniyyah 16 12 2 30

    05 TK DARUL ISHLAH - 3 2 5

    06 SD IUT DARUL ISHLAH 3 6 1 10

    06 SMP DARUL ISHLAH 8 9 1 18

    07 MA DARUL ISHLAH 7 6 1 14

    08 SMK HADI 7 6 1 14

    JUMLAH 55 56 12 115

    4. Keadaan Santri Pesantren Darul Ishlah

    Adapun keadaan Santri Pesantren Darul Ishlah dapat dilihat pada

    tabel berikut:

    Tabel. 2

    Keadaan Santri Pesantren Darul Ishlah

    NO UNIT PENDIDIKAN

    JENIS

    KELAMIN JUMLAH KETERANGAN

    P L

  • 01

    02

    03

    04

    05

    06

    07

    08

    Madrasah Diniyyah

    TPA Darul Ishlah

    PAUD Darul Ishlah

    TK Darul Ishlah

    SD - A Darul Ishlah

    SMP Plus Darul Ishlah

    MA Darul Ishlah

    SMK HADI

    98

    50

    12

    42

    35

    74

    32

    20

    88

    30

    13

    28

    25

    48

    26

    10

    186

    80

    25

    70

    60

    137

    58

    30

    JUMLAH

    5. Keadaan Sarana dan Prasarana Pesantren Darul Ishlah

    Dalam proses pembelajaran, santri di Pesantren Daarul Ishlah

    diselenggarakan dengan cara klasikal dan berjenjang. Sedangkan untuk

    masa pembelajaran untuk setiap kelas dalam satu marhalah, biasanya

    selama satu tahun. Dimana awal tahun dimulai dari pertengahan bulan

    Syawal dan berakhir satu atau dua minggu menjelang bulan Ramadhan.

    Waktu pembelajaran pesantren biasanya dimulai setelah sholat

    shubuh berjama’ah sampai pukul 06.30 WIB di musholla yang sekaligus

    sebagai tempat belajar. Selain musholla yang juga berfungsi sebagai

    tempat taklim, pondok pesantren Daarul Ishlah juga memiliki sarana dan

    prasarana belajar yang lain yang menopang untuk kegiatan pembinaan

    santri yaitu:

    1. 1 Masjid DARUL ISHLAH.

    2. 1 Lab. IPA

    3. 1 Kantor Lab. IPA

    4. 1 Aula Putri

    5. 7 Kamar Asrama Putri.

    6. 6 Kamar Asrama Putra.

    7. 2 Dapur umum

    8. 1 Kantin / Koperasi

    9. 1 Kantor pesantren putra

  • 10. 1 Kantor pesantren putri

    11. 1 Ruang pengiriman putri

    12. 6 Kamar mandi / wc putri

    13. 4 Kamar mandi / wc putra

    14. 1 Kantor yayasan

    15. 1 Kantor MA DI

    16. 1 Kantor SMP Plus DI

    17. 1 Kantor Paud/TK DI

    18. 1 Kantor Madrasah Diniyah DI

    19. 3 Ruang kelas MA DI / SD Al Qur’an DI

    20. 3 Ruang kelas SMP Plus DI

    21. 3 Ruang kelas Paud/TK DI

    22. 6 Ruang kelas Madrasah Diniyah DI

    23. 1 Musolla Putri Pesantren

    24. 3 Lokal SMK HADI

    25. Dan Lain-lain.

    6. Struktur Organisasi Pesantren Darul Ishlah

    Adapun struktur Organisasi Pesantren Darul Ishlah yaitu sebagai

    berikut:

    a. Pelindung

    1) MUSPIKA Kec. Banjar Margo

    2) KUA Kec. Banjar Margo

    3) Kepala Kampung Purwajaya

    b. Penasehat

  • 1) H.M.Untung Subagyo

    c. PEMBINA

    1) KH. Nur Wahid

    2) Hi. Ma’mun Hidayat

    d. Dewan Pendewan Asatidzs Harian

    1) Ketua Yayasan : KH. Shodiqul Amin

    2) Sekretaris : M.Thohir Muntaha,S.Pd,M.Pd.I

    3) Bendahara : Ny. Siti Qomariah

    e. Kepala Bagian

    1) Kabag Pon.Pes : Bp. M. Thohir Muntaha,S.Pd,M.Pd.I

    2) Kabag Pembangunan : Bp. Subandi

    3) Kabag Pendidikan : Bp. Tamyiz, S.Pd

    4) Lurah Pondok : Bp. Lukman Hakim

    5) Keamanan : Bp. Eva Junaidi

    6) Kesehatan : Bp. Fauzi Misbahul Munir

    7) Kabag Kopontren : Ibu Leni, A.Md

    8) Humas : Bp. Suwanto

    9) Tata Usaha : Abdur Rohman67

    B. Modernisasi dalam Sistem Pendidikan Pondok Pesantren (Studi Di

    Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan Banjar

    Margo Tulang Bawang)

    67

    Dokumentasi Pondok Pesantren Darul Ishlah Desa Purwajaya Kecamatan Banjar

    Margo Tulang Bawang

  • Modernisasi telah merambah berbagai bidang kehidupan umat manusia

    termasuk pesantren. Modernisasi suatu proses transformasi dari suatu

    perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek

    dalam kehidupan di masyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa

    modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara

    baru yang lebih maju, di mana dimaksudkan untuk meningkatkan

    kesejahteraan hidup masyarakat.

    Berdasarkan observasi yang sudah dilakukan oleh Peneliti melalui

    pengamatan di Pondok Pesantren Darul Ishlah tentang tujuan khusus

    modernisasi dalam sistem pendidikan pondok pesantren, maka didapatkan

    beberapa penjelasan sebagai berikut:

    Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan tertua yang tumbuh

    dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Meskipun berbagai institusi

    pendidikan bermunculan dengan berbagai tawaran program dan keahlian,

    namun tampaknya pondok pesantren masih akan tetap eksis, karena memiliki

    penunjang tersendiri. Dukungan tersebut tidak serta merta diperoleh tanpa

    usaha keras lembaga ini.Sampai saat ini banyak pesantren yang masih

    konsisten kepada tafaqquh fiddien, mengajar