SELAMAT DATANG & SELAMAT BERIBADAH

  • View
    249

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SELAMAT DATANG & SELAMAT BERIBADAH. MENGAPA TUHAN MENGIZINKAN MASALAH MENGHAMPIRI?. Pdt Gerry CJ Takaria. Tragedi Keluarga Mercy. DWI KRISMAWAN. M A S A L A H. Masalah-masalah yang kita hadapi bisa membuat kita JATUH atau BERTUMBUH , - PowerPoint PPT Presentation

Text of SELAMAT DATANG & SELAMAT BERIBADAH

MENGAPA TUHAN MENGIJINKAN MASALAH-MASALAH MENGHAMPIRI

SELAMAT DATANG & SELAMAT BERIBADAH1MENGAPA TUHAN MENGIZINKAN MASALAH MENGHAMPIRI?Pdt Gerry CJ TakariaTragedi Keluarga Mercy

Sebelum mengakhiri hidupnya, ibu dari Malang, Jawa Timur ini, meracuni empat anaknya hingga tewas.

"Selamat jalan sayang, selamat jalan, I love you," ucap Hendri Suwarno (37) lirih. Ia melambaikan tangan ke arah tiga peti jenazah istri dan empat anaknya sebelum dimasukkan ke dalam tungku pembakaran di krematorium di Desa Junrejo, Batu, Malang (Jatim), Rabu (14/3).

Peti pertama berisi jasad istrinya Junania Mercy (36) bersama si bungsu Gabriela Al Cein (16 bulan). Peti di depan tungku berisi anak sulungnya, Athena Latonia (11), Prinsessa Ladova (9), sedangkan satu peti lagi berisi jasad Hendrison (6).

Suasana itu membawa Hendri dan keluarga besarnya larut dalam tangis. Para pengantar yang menjejali krematorium juga tak mampu membendung air mata melihat peristiwa memilukan itu. Suara tangis semakin terdengar keras, saat keluarga Hendri yang diwakili oleh Rudi, Chio, dan Susie, memencet tombol dimulainya pembakaran tiga peti jenazah secara bersamaan.

Setelah memencet tombol, Rudi, adik Hendri, sempat lunglai sebelum akhirnya dipapah oleh kerabat yang lain. Hendri sendiri tampak tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya duduk bersandar di tembok gedung krematorium.

Kepedihan yang dirasakan oleh Hendri memang tak terkatakan. Ia kehilangan orang-orang tercintanya secara bersamaan dengan amat tragis. Mercy istrinya, sebelum melakukan bunuh diri, terlebih dulu meracuni keempat buah hatinya hingga tewas.

Dalam pandangan Hantoko, ketua RT setempat, sebenarnya Mercy bukanlah karakter orang yang tertutup dan pediam. "Mercy itu orangnya ramai dan suka ngobrol. Cuma memang jarang keluar rumah," papar Hantoko.

Bahkan setiap ada kegiatan kampung, keluarga Hendri selalu datang. "Rapat kampung atau acara tujuhbelasan, keluarga Hendri selalu ikut. Kalau Hendri tidak bisa datang, akan diwakili adiknya," tambah Hantoko.

Dalam sebuah percakapan beberapa saat lalu, lanjut Hantoko, Mercy sempat mengungkapkan keluhan. "Di tengah ketidakpastian penghasilan suaminya, ia harus menyekolahkan ketiga anaknya di sekolah internasional dengan biaya yang lumayan tinggi," ujar pegawai bagian keuangan di salah satu SMA di Malang ini.

Sebagai tetangga, Hantoko sempat menyarankan agar ketiga anak Mercy pindah sekolah yang biasa-biasa saja agar beban biaya tidak terlalu besar. "Tapi Mercy menjawab, sekolah anak-anaknya begitu bagus. Sekolah itu bertaraf internasional. Soal makan dan segala sesuatu sudah ditanggung pihak sekolah."

MEMBUNUH DENGAN CINTAKapolresta Malang, AKBP Erwin C. Rusmana, kepada NOVA Rabu (14/3) menjelaskan, dari hasil olah TKP, apa yang dilakukan Mercy begitu matang, rapi, dan dengan pikiran tenang. Salah satunya, Mercy membeli apotas dan memasukkannya ke dalam selongsong kapsul.

Mercy juga mempersiapkan beberapa peninggalan, berupa surat wasiat untuk kerabat dan SMS buat suami. Isi SMS, "Sayang, sori aku sudah bunuh anak-anak. Aku hancurkan hidup dan impian mereka juga impianku tentang anak-anak dan hari tua kita. Hidup yang benar ya sayang, aku dan anak-anak cinta kamu. Tahu kan.... "SMS ini dikirim ke nomor HP milik suaminya, tapi gagal terkirim," jelas Kapolresta.

Dalam surat wasiatnya, Mercy juga sudah menyiapkan baju yang hendak digunakan untuk kremasi. Satu lagi yang membuat bulu kudu berdiri. "Sebelum dan sesudah anak-anaknya meninggal, Mercy sempat merekam dan memotret menggunakan kamera HP!" kata Erwin.

Dari kondisi mayat, lanjut Erwin, Mercy tampak ingin anak-anaknya tetap terlihat rapi. Sebelum diberi "kapsul maut" , anak-anaknya diberi baju tidur bersih bermotif sama. "Bahkan, setelah meninggal sepertinya tubuh anak-anaknya dibasuh dengan handuk basah agar bersih dan kedua tangannya dilipatkan di atas dadanya," papar pjs. Kasatreskrim Polresta Malang, Iptu Deky Hermansyah, yang mendampingi Kapolresta.

Setelah anak-anaknya "rapi" barulah Mercy menyusul anak-anaknya dengan minum kapsul racikannya.

Menanggapi kasus ini, Dr. H. Roekani Hadisepoetro, SpKJ, dokter spesialis kejiwaan dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang mengataan, Mercy melakukan perbuatan ini karena mengalami ketidakseimbangan kejiwaan. "Ia merasa tak punya peganggan hidup akibat penurunan ekonomi," papar ketua Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) cabang Malang ini.

Perubahan ekonomi yang drastis itu memunculkan stres kemudian berlanjut menjadi depresi. "Dalam teori anomic, orang dalam keadaan demikian akan muncul tiga perilaku. Yakni, perilaku ingin membunuh orang lain, ingin membunuh diri sendiri, dan ketiga dibunuh. Dalam kasus Mercy, ternyata perilaku pertama dan kedua muncul secara bersamaan. Yakni membunuh kemudian membunuh dirinya sendiri."

Menurut Roekani, Mercy membunuh anak-anaknya bukan karena benci, tapi justru karena cinta. "Ia khawatir, kalau anak-anak masih tetap hidup, kelak akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Selain itu, kalau anak-anak hidup, Mercy khawatir anak-anaknya akan membebani orang lain."

Roekani mengungkapkan pendidikan spiritual sejak dini harus diterapkan. "Dengan mendalami nilai-nilai agama, pasti seseorang tidak ingin melukai orang lain. Agama mana pun pasti mengajarkan kasih sayang terhadap sesama," pungkas Roekani.

Bagi Mercy Masalah membuat ia tak kuat menghadapi hidup ini.3DWI KRISMAWAN

Diselamatkan Tuhan dari Kecelakaan Pesawat Saat Berlatih

Menjadi seorang pilot merupakan cita-cita Dwi Krismawan sejak kecil. Itulah yang membuat Dwi tidak lantas menyerah ketika gagal saat pertama kali ikut test pendidikan pilot. Hingga akhirnya pada tahun 1996 Dwi bisa lulus test dan diterima sebagai siswa di PLP Curug, Bogor. Tapi sayang, tiga bulan menjelang wisuda, Dwi mengalami kecelakaan maut saat membawa pesawat terbang bermesin tunggal. Apa daya, impiannya pun kandas di tengah jalan. Meski begitu Dwi sangat bersyukur bahwa dirinya bisa selamat dari kecelakaan maut tersebut. Bagaimana kisah selengkapnya?

Tahun 1996, mungkin merupakan tahun yang paling membahagiakan bagi seorang Dwi Krismawan. Di tahun itulah impiannya untuk menjadi seorang pilot akhirnya bisa diwujudkan. Saat mengikuti test Pendidikan dan Latihan Penerbangan (PLP) di Curug, Bogor, Dwi diterima sebagai salah satu siswanya. PLP sendiri merupakan tempat pendidikan untuk menciptakan seseorang menjadi pilot pesawat terbang komersil. Tidak mudah memang untuk bisa masuk ke sana, butuh perjuangan yang berat, apalagi PLP Curug ini berlaku untuk seluruh Indonesia. Ini tentunya merupakan hal yang paling membanggakan bagi Dwi. Apalagi empat tahun sebelumnya (1992) Dwi sempat mengikuti test yang sama namun harus gugur di tengah jalan.Kalah dalam test pertama tidak membuat dirinya patah semangat. Sambil menunggu dibukanya kembali pendaftaran untuk bisa masuk menjadi siswa di PLP Curug Bogor, Dwi kembali pulang ke Bali dan diterima bekerja di perusahaan penerbangan Sempati Air milik Humpuss. Ia ditempatkan di bagian ground handling. Bekerja di perusahaan penerbangan membuat semangatnya untuk bisa mengendalikan pesawat terbang semakin berkobar. Inilah yang membuat Dwi kembali mengikuti test yang kedua di tahun 1996. Saat itu Dwi berada diantara 75 orang yang diterima, dari 2500 orang yang mendaftar. Selain karena tertarik dengan kecanggihan pesawat terbang, dengan menjadi seorang pilot, saya ingin membantu perekonomian keluarga dan mengubah nasib keluarga, ujar Dwi yang saat itu masih berusia 24 tahun dan berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Sebagai anak laki-laki Dwi merasa bertanggung jawab penuh dalam hal yang satu ini. Sebab sedari kecil, Dwi bersama dua saudaranya memang hidup dalam kesederhanaan. Ayahnya hanyalah seorang PNS biasa di BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) di Bali, sementara ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Tanggal 17 Januari 1996, Dwi memulai hari-harinya sebagai siswa di PLP Curug, Bogor. Metode pendidikan yang diterimanya kala itu tak jauh berbeda dengan pendidikan di AKABRI. Di sana ia banyak mendapat gemblengan baik secara fisik maupun mental. Secara bertahap, Dwi bersama siswa lain seangkatannya mulai diajarkan teori tentang mesin pesawat terbang sampai belajar praktek membawa pesawat terbang.Alami Kecelakaan Maut. Satu tahun lamanya Dwi mengikuti pendidikan di Curug, Bogor. Rencananya, pada bulan April 1997, Dwi akan segera diwisuda dan langsung menjadi pilot di maskapai penerbangan Garuda. Namun, tanpa pernah terbayangkan oleh Dwi, 3 bulan menjelang wisuda yaitu Januari 1997, suatu peristiwa yang mengubah keseluruhan jalan hidupnya pun terjadi. Tepatnya pada 28 Januari 1997. Pukul 06.00 pagi WIB, Dwi melakukan test penerbangan (flight test) bersama instrukturnya, Sigit Hani, menggunakan pesawat FG10 yaitu pesawat bermesin tunggal.Tepat pada pukul 06.30, Dwi dan Sigit melakukan start engine, kemudian terbang sekitar pukul 07.00. Saat itu, sebagai instruktur, Sigit hanya bertugas untuk mengawasi Dwi demi keamanan. Ketika itu Dwi merasa secara teori penerbangan, dirinya sudah melakukan semua sesuai prosedur dengan pantauan sang instruktur. Saat itu posisi terbang persis berada di kota Jasinga, Bogor. Tak jauh dari posisinya, ada gunung gede. Di sebelah kanan kiri, terlihat rel kereta api dan sungai. Saat itu dirinya terbang dengan ketinggian 2000 feed sesuai dengan standar prosedur yang ada.Ketika itu, sang instruktur memerintahkan untuk membuat sedikit manuver ke kiri dan ke kanan dalam hitungan derajat. Padahal sebelum melakukan circle waktu itu saya selalu katakan pada instruktur saya, apakah area yang saya lampaui itu all clear artinya posisi terbang saya dalam jangkauan terbang bisa dikatakan area yang aman. Waktu itu instruktur saya mengatakan semuanya dalam keadaan aman, ujar Dwi. Baru sekitar tiga kali melakukan ex