RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA - samaggi-phala.or.id Agung Para Buddha...¢  Bab 1 Jarangnya Kemunculan Seorang

  • View
    39

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA - samaggi-phala.or.id Agung Para Buddha...¢  Bab 1 Jarangnya...

  • RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA

    The Great Chronicle of Buddhas

    Buku Ketiga

    Tipiñakadhara Miïgun Sayadaw

  • ii

    Riwayat Agung Para Buddha

    RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA

    Judul Asal The Great Chronicle of Buddhas

    Penulis Tipiñakadhara Miïgun Sayadaw

    Penerjemah Myanmar-Inggris U Ko Lay

    U Tin Lwin

    Penerjemah Inggris-Indonesia Indra Anggara

    Penyunting Inggris-Indonesia Mettàsari Lim

    Handaka Vijjànanda

    Perancang Sampul Handaka Vijjànanda

    Penata Letak Percetakan Tiga Lancar

    Hak Cipta Naskah Myanmar ©1960 Tipiñakadhara Miïgun Sayadaw

    Hak Cipta Naskah Terjemahan Indonesia ©2008 Ehipassiko Foundation & Giri Maïgala Publications

    ISBN 978-979-16934-6-2 Cetakan I, Mei 2008

    Buku Dhammadàna ini terbit berkat kedermawanan para donatur. Bagi yang ingin mendapatkan buku ini dan/atau mendanai

    proyek Dhammadàna berikutnya, silakan menghubungi: Ehipassiko Foundation & Giri Maïgala Publications

    081519656575, ehipassikofoundation@gmail.com, www.ehipassiko.net

  • iii

    Senarai Isi    —————————————————————————

    Sambutan Tipiñakadhara Sayadaw Eindapala Sambutan Mahàthera Dharma Suryabhåmi Riwayat Tipiñakadhara Miïgun Sayadaw

    BUKU KESATU Bab 1 Jarangnya Kemunculan Seorang Buddha Bab 2 Kisah Sumedhà Sang Brahmana Bab 3 Pàramã Bab 4 Delapan Belas Abhabbatthàna Bab 5 Riwayat Dua Puluh Empat Buddha Bab 6 Ringkasan Bab 7 Kisah Dewa Setaketu, Bakal Buddha Bab 8 Upacara Pembajakan Sawah Bab 9 Melihat Empat Pertanda Bab 10 Mencukur Rambut dan Menjadi Petapa Bab 11 Belajar dan Berdiskusi Dengan âëàra dan

    Udaka Bab 12 Bodhisatta Melakukan Praktik

    Penyiksaan Diri Bab 13 Pencapaian Kebuddhaan Setelah

    Mengubah Cara Berlatih Bab 14 Buddha Berdiam di Tujuh Tempat Bab 15 Buddha Merenungkan Dhamma Bab 16 Kisah Dewa Sàtàgira dan Dewa Hemavata Bab 17 Ajaran Praktik Kesempurnaan Moral Bab 18 Yasa, Putra Pedagang Kaya, Menjadi

    Bhikkhu Bab 19 Buddha Mengutus Enam Puluh Arahanta

    Dalam Tugas Membabarkan Dhamma Bab 20 Mengubah Pandangan Tiga Petapa

    Bersaudara dan Seribu Petapa Bab 21 Kunjungan Buddha ke Rajàgaha

    Senarai Isi

    I - vi I - ix I - xi

    1 29 69

    203 207 383 415 489 513 545

    557

    567

    587 653 681 705 737

    757

    779

    793 813

    Senarai Isi

  • iv

    Riwayat Agung Para Buddha

    Bab 22 Kedatangan Dua Petapa Pengembara, Upatissa dan Kolita, ke Hadapan Buddha

    Bab 23 Tathàgata Melakukan Perjalanan ke Kapilavatthu Diiringi Oleh Dua Puluh Ribu Arahanta

    Bab 24 Hujan Daun Teratai di Pertemuan Keluarga Kerajaan

    Bab 25 Seribu Pangeran Sakya Menerima Penahbisan dari Tathàgata

    Bab 26 Enam Pangeran Mencapai Tingkat Kesucian yang Berbeda-beda

    Bab 27 Kisah Sumanà, Penjual Bunga dari Ràjagaha

    Bab 28 Berdirinya Vesàlã Bab 29 Tathàgata Menetap di Vesàlã Selama Masa

    Vassa Kelima Bab 30 Tathàgata Menetap di Gunung Makula

    Selama Masa Vassa Keenam

    BUKU KEDUA Bab 31 Menjalani Masa Vassa Ketujuh,

    Membabarkan Abhidhammà di Tàvatiÿsa

    Bab 32 Vassa Kedelapan di Kota Susumàragira Bab 33 Kisah Orang Kaya Ghosaka dari Kosambi Bab 34 Kunjungan Buddha ke Desa

    Bàlakaloõaka Bab 35 Vassa Kesebelas Buddha di Desa

    Brahmana Nàla Bab 36 Vassa Keduabelas Buddha di Kota

    Veranjà Bab 37 Bhikkhu Sudinna, Putra Pedagang

    Kalanda Bab 38 Vassa Ketiga Belas Buddha di Bukit

    Càlika Bab 39 Vassa Kelima Belas Buddha di

    Kapilavatthu Bab 40 Vassa Ketujuh Belas Buddha di Veëuvana

    839

    889

    917

    939

    955

    1009 1041

    1125

    1171

    1219 1269 1313

    1363

    1395

    1427

    1465

    1507

    1537 1583

  • v

    Bab 41 Kisah Màra Bab 42 Tinggi Badan Buddha Diukur Oleh

    Seorang Brahmana Bab 43 Kisah Raja Ajàtasattu Bab 44 Kisah Sepasang Brahmana yang Adalah

    Orangtua Buddha Pada Masa Lampau Bab 45 Bagaimana âñànàñiya Paritta Diajarkan Bab 46 Bhagavà Mengajarkan Tujuh Faktor

    Ketidakmunduran Bagi Para Penguasa Bab 47 Ucapan-ucapan yang Membangkitkan

    Semangat Religius Bab 48 Dhamma Ratanà

    BUKU KETIGA Bab 49 Empat Puluh Satu Arahanta Thera dan

    Gelar Etadagga Bab 50 Riwayat Para Bhikkhunã Arahanta Bab 51 Riwayat Para Siswa Awam Bab 52 Riwayat Para Siswi Awam Bab 53 Riwayat Para Orang Kaya yang

    Kekayaannya Tidak Dapat Habis Bab 54 Penjelasan Rinci 1 Bab 55 Penjelasan Rinci 2

    Senarai Isi

    1647

    1753 1825

    1861 1893

    2007

    2221 2269

    2423 2849 2941 3001

    3071 3113 3483

  • vi

    Riwayat Agung Para Buddha

  • 2423

    Empat Puluh Satu Arahanta Thera dan Gelar Etadagga

    49 Empat Puluh Satu Arahanta Thera

    dan Gelar Etadagga    —————————————————————————

    Berikut ini adalah kisah dari beberapa Thera yang dikutip dari Ekakaïipàta, Etadagga Vagga dari Komentar Aïguttara Nikàya yang dimulai dari kisah Thera Koõóa¤¤a, yang diambil dari anggota Saÿgha para Siswa Buddha yang memiliki ciri mulia seperti Suppañipannatà.

    (1) Thera Koõóa¤¤a

    Dalam membahas kisah para Thera ini, penjelasan akan diberikan dalam empat tahap: (a) Cita-cita masa lampau, (b) Kehidupan pertapaan yang dijalankan dalam kehidupan sekarang, (c) Pencapaian spiritualitas istimewa, dan (d) Gelar Etadagga (tertinggi) yang dicapai.

    (a) Cita-cita masa lampau

    Balik ke masa lampau dalam bhadda kappa ini, lebih dari seratus kappa yang lalu, muncullah Buddha Padumuttara. Setelah muncul di antara tiga kelompok makhluk, Buddha Padumuttara disertai seratus ribu bhikkhu mengumpulkan dàna makanan dengan mengunjungi sejumlah desa, kota, dan ibukota kerajaan dengan tujuan untuk membebaskan banyak makhluk (dari penderitaan) dan akhirnya

  • 2424

    Riwayat Agung Para Buddha

    tiba di Kota (asal) Haÿsàvatã. Ayah Beliau, Raja ânanda, mendengar berita baik mengenai kunjungan putranya, dan pergi menyambut Buddha bersama banyak pengikutnya. Ketika Buddha memberikan khotbah kepada kerumunan yang dipimpin oleh Raja ânanda, beberapa orang menjadi Sotàpanna, beberapa mencapai kesucian Sakadàgàmã, beberapa mencapai kesucian Anàgàmã, dan yang lainnya mencapai kesucian Arahatta pada akhir khotbah tersebut.

    Raja kemudian mengundang Buddha untuk makan pada keesokan harinya, dan pada keesokan harinya ia mengutus seorang kurir untuk menyampaikan pesan kepada Buddha tentang waktu makan. Ia memberikan persembahan makanan secara besar-besaran kepada Buddha dan seratus ribu bhikkhu di istana emasnya. Buddha Padumuttara membabarkan khotbah penghargaan atas persembahan makanan tersebut, kemudian Beliau kembali ke vihàra. Demikian pula, para penduduk juga memberikan Mahàdana pada keesokan harinya. Pada hari ketiga raja kembali memberikan persembahan. Demikianlah, Mahàdana dilakukan oleh raja dan para penduduk bergantian dalam waktu yang lama.

    Pada waktu itu, seseorang yang baik, kelak menjadi Koõóa¤¤a, terlahir dalam sebuah keluarga kaya. Suatu hari, sewaktu Buddha sedang memberikan khotbah, ia melihat para penduduk Haÿsàvatã membawa bunga, wewangian, dan lain-lain, pergi menuju kediaman Tiga Permata dan ia pergi bersama mereka ke tempat Buddha membabarkan khotbah.

    Ketika itu, Buddha Padumuttara sedang menceritakan pertemuan- Nya dengan seorang bhikkhu tertentu yang merupakan bhikkhu pertama dari seluruh bhikkhu ratta¤¤å (telah lama bergabung dalam Saÿgha) yang menembus Empat Kebenaran dan terbebas dari saÿsàra di dalam masa pengajaran-Nya. Saat si orang baik tersebut mendengar hal itu, ia merenungkan, “Sungguh mulia orang itu! Dikatakan bahwa selain Buddha sendiri, tidak ada orang lain sebelumnya yang telah menembus Empat Kebenaran. Bagaimana jika aku juga menjadi seorang bhikkhu sepertinya dan dapat menembus Empat Kebenaran sebelum yang lainnya dalam masa pengajaran Buddha mendatang!” Pada akhir khotbah Buddha,

  • 2425

    Empat Puluh Satu Arahanta Thera dan Gelar Etadagga

    orang baik tersebut mendekati Buddha dan mengundang Beliau, “Sudilah Buddha Yang Mulia menerima persembahan makanan dariku besok!” Buddha menerima undangan tersebut dengan berdiam diri.

    Mengetahui bahwa Buddha telah menerima undangannya, si orang baik tersebut bersujud kepada Buddha dan kembali ke rumahnya. Semalam suntuk ia menghabiskan waktu dengan menghias tempat duduk dengan bunga-bunga harum dan juga mempersiapkan makanan-makanan lezat. Keesokan harinya ia melayani Buddha dan seratus ribu bhikkhu di rumahnya dengan mempersembahkan makanan-makanan mewah nasi sàli dan makanan-makanan lainnya. Ketika acara makan selesai, ia meletakkan kain buatan Negeri Vaïga yang cukup untuk membuat tiga helai jubah di kaki Buddha. Kemudian ia merenungkan, “Aku tidak mencari posisi religius yang kecil tetapi aku mencari yang besar. Satu hari memberikan Mahàdana seperti ini tidaklah cukup untuk mencapai cita-cita agung. Oleh karena itu aku akan bercita-cita dengan melakukan mahàdàna selama tujuh hari berturut-turut.”

    Orang baik itu memberikan Mahàdana dengan cara yang sama selama tujuh hari. Ketika upacara persembahan makanan selesai, ia membuka gudang kainnya dan meletakkan kain-kain mewah dan halus di kaki Buddha dan mempersembahkan tiga helai jubah kepada masing-mas