Rigid Pavement Di Bandara

  • View
    73

  • Download
    25

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Rigid Pavement Di Bandara

Text of Rigid Pavement Di Bandara

  • PENGETAHUAN DASAR PEKERJAAN RIGID PAVEMENT DI BANDARA

    BAB I

    ISTILAH DAN SIMBOLDALAM LINGKUP PEKERJAAN BETON RIGID

    I. Istilah dan Simbol

    1. Dowel 40 = Besi polos baja dengan diameter 40

    Adalah sepotong baja lurus yang dipasang pada setiap jenis sambungan melintang dengan maksud sebagai sistim penyalur beban sehingga plat yang berdampingan dapat bekerja sama tanpa terjadi perbedaan penurunan yang berarti.

    Fungsi :

    - Sebagai sarana penyambung plat beton (rigid) yang sudah putus atau diputus.

    - Sebagai tulangan sambungan melintang, sambungan kembang susut, dan sambungan pelaksanaan.

    - Berbentuk polos dan berukuran besar

    - Sebagai sliding dan transfer load devices

    Bagian batang dowel yang bisa bergerak bebas, harus dilapisi dgn bahan pencegah karat. Sesudah bahan pencegah korosi kering (dicat), maka bagian ini harus dilapisi dgn lapisan tipis pelumas ( dengan cara menyapukan) segera sebelum dowel dipasang. Ujung dowel yg dapat bergerak bebas harus dilengkapi dengan tupi/penutup topi. Pelapis dowel dari jenis plastik yang telah teruji dapat digunakan sebagai pelumas, atau menggunakan jenis pelapis lain yang dimaksudkan untuk mencegah lekatan ada atau karat.

    - Satu sisi lekat pada plat beton dan sisi lainnya tidak (sliding)

    - Berlokasi pada tebal plat dan sejajar dengan as konstruksi.

    - Tidak overlap dengan tie bar

    SIMPLE KNOWLEDGE OF RIGID PAVEMENT / ADJI ELEX / 2008-2013 Page 1

  • 2. Sengkang 8 230 = Besi diameter 8 dgn jarak masing-masing 230

    3. 412 = Besi diameter 12 berjumlah 4

    4. U32 = Tegangan leleh karakteristik atau tegangan karakteristik yang memberikan regangan tetap 3,200 kg/cm2.

    SIMPLE KNOWLEDGE OF RIGID PAVEMENT / ADJI ELEX / 2008-2013 Page 2

  • PENGETAHUAN DASAR PEKERJAAN RIGID PAVEMENT DI BANDARA

    5. fs 45 kg/cm2 = Istilah untuk kekuatan suatu Pelat Beton dengan kuat karakteristik 45 kg/ cm2

    6. Tie Bar D40

    = Tiebar Deformed 40 artinya Batang baja yang diprofilkan (besi ulir) dengan diameter 40 (berdasarkan hitungan pabrikan)

    - Tie bar digunakan dengan arah tegak lurus pada sisi sambungan susut dan sambungan kunci untuk menjaga sisi yang disambungkan tetap berada dalam jarak yang ditentukan.

    - Sebagai unsliding dan rotation devices- Baja berulir atau deformed- Kedua sisi lekat dengan plat beton- Berlokasi pada tempat sambungan, pada elevasi tebal plat- Tidak overlap dengan dowel atau tulangan lainnya.

    7. Bahan pengisi sambungan (Joint filler)

    Adalah suatu bahan yang bersifat plastis yang dipasang pada celah sambungan muai, guna mencegah masuknya benda-benda asing kedalam celah.

    SIMPLE KNOWLEDGE OF RIGID PAVEMENT / ADJI ELEX / 2008-2013 Page 3

  • 8. Bahan penutup sambungan (joint sealant)

    Adalah suatu bahan yang bersifat elastis yang dipasang pada bagian atas dari sambungan yang dimaksudkan untuk mencegah masuknya benda-benda asing kedalam celah.

    9. Batang yang diprofilkan (Deformed Bars)

    Adalah batang tulangan prismastis atau dipuntir yang permukaannya diberi rusuk-rusuk yang terpasang tegak lurus atau miring terhadap muka batang, dengan jarak antara rusuk-rusuk tidak lebih dari 0,7 diameter batang pengenalnya.

    10. Dudukan tulangan (Reinforcement chairs)

    Adalah tulangan yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai dudukan dan sarana pemegang tulangan arah memanjang dan melintang.

    11. Sambungan Muai (Expansion Joint)

    Adalah jenis sambungan melintang yang dibuat untuk membebaskan tegangan pada perkerasan beton dengan cara menyediakan ruangan untuk pemuaian.

    12. Sambungan Pelaksanaan (Construction Joint)

    Adalah jenis sambungan melintang atau memanjang yang dibuat untuk memisahkan bagian-bagian yang di cor/dihampar pada saat yang berbeda. Ditempatkan diantara beton hasil penghamparan lama dengan hasil penghamparan baru.

    13. Sambungan Susut ( Contraction Joint)

    Adalah jenis sambungan melintang yang dibuat dgn maksud untuk mengendalikan retak sudut beton, serta membatasi pengaruh tegangan lenting yg timbul pada pelat akibat pengaruh perubahan temperatur dan kelembaban, jarak antara tiap sambungan susut umumnya dibuat sama.

    14. D10-150

    Deformed/diameter 10 (besi ulir) dgn jarak terpasang 150 mm, diameter yg disyaratkan berdasarkan hitungan pabrikan.

    SIMPLE KNOWLEDGE OF RIGID PAVEMENT / ADJI ELEX / 2008-2013 Page 4

  • PENGETAHUAN DASAR PEKERJAAN RIGID PAVEMENT DI BANDARA

    15. Water Semen Ratio (wcr) / Faktor Air Semen adalah berat air dibagi dengan berat semen

    16. Pasta , semen Campuran antara air dengan semen

    17. Mortar , pasta semen ditambah dengan agregat halus

    18. Beton Bertulangan

    Beton yang menggunakan tulangan dengan jumlah dan luas tulangan tidak kurang dari nilai minimum yang disyaratkan, dengan atau tanpa pratekan dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahan gaya yang bekerja.

    19. Beton Pracetak

    Elemen beton tanpa atau dengan tulangan yang dicetak ditempat yang berbeda dari posisi akhir elemen dalam struktur.

    20. Beton prestress (pratekan)

    Beton bertulang dimana telah diberikan tegangan dalam untuk mengurangi tekanan tarik potensial dalam beton akibat pemberian beban yang bekerja

    SIMPLE KNOWLEDGE OF RIGID PAVEMENT / ADJI ELEX / 2008-2013 Page 5

  • BAB IIBAHAN PEMBUAT BETON RIGID

    II.1. Semen

    Semen Portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan dalam pekerjaan beton. Menurut ASTM C-150,1985, semen Portland didefinisikan sebagai semen hidrolik yang dihasilkan dengan menggiling klinker yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik, yang umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya. Semen Portland yang digunakan di Indonesia harus memenuhi syarat SII.0013-81 atau UJi Bahan Bangunan Indonesia 1986, dan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar tersebut (PB.1989:3.2-8).Peraturan Beton 1989 (SKBI.1.4.53.1989) membagi semen Portland menjadi 5 jenis (SK.SNI T-15-1990-03:2), yaitu :

    - Type I, semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan persyaratan khusus seperti jenis-jenis lainnya.

    - Type II, semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang.

    - Type III, semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan kekuatan awal yang tinggi dalam fase permulaan setelah pengikatan terjadi.

    - Type IV, semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan panas hidrasi yang rendah.

    - Type V, semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan yang tinggi terhadap sulfat.

    SIMPLE KNOWLEDGE OF RIGID PAVEMENT / ADJI ELEX / 2008-2013 Page 6

  • PENGETAHUAN DASAR PEKERJAAN RIGID PAVEMENT DI BANDARA

    Komposisi kimia dari kelima jenis semen tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.3. (Nawy,1985:11).

    Komposisi dalam

    persen (%)

    Karakteristik Umum

    C3S

    C2S C3A C4AF

    CaSO4

    CaO

    MgO

    Type I, normal 49

    25 12 8 2.9 0.8 2.4 Semen untuk semua tujuan

    Type II,Modifikasi 46

    29 6 12 2.8 0.6 3 Relatif sedikit pelepasan panas, digunakan untuk struktur besar

    Type III,Kekuatan Awal Tinggi

    56

    15 12 8 3.9 1.4 2.6 Mencapai kekuatan awal yang tinggi pada umur 3 hari

    Type IV, Panas Hidrasi Rendah

    30

    46 5 13 2.9 0.3 2.7 Dipakai pada bendungan beton

    Type V, tahan sulfat

    43

    36 4 12 2.7 0.4 1.6 Dipakai pada saluran dan struktur yang diekspos terthadap sulfat

    Note : C3S = Trikalsium Silikat, senyawa ini apabila terkena air akan cepat bereaksi dan menghasilkan panas yang akan mempengaruhi kecepatan mengeras sebelum hari ke-14.

    C2S = Dikalsium Silikat, Senyawa ini lebih lambat bereaksi dengan air dan hanya berpengaruh terhadap semen setelah umur 7 hari.

    C3A = Trikalsium Aluminat, memberikan kekuatan awal yang sangat cepat pada 24 jam pertama.

    C4AF = Tertrakalsium aluminoferrit, kurang begitu besar pengaruhnya terhadap kekerasan semen atau beton sehingga kontribusinya dalam peningkatan kekuatan kecil.

    Dalam SII 0013-1981 dan Ulasan PB 1989 :- Semen Type I digunakan untuk bangunan-bangunan umum yang tidak

    memerlukan persyaratan khusus.

    - Semen Type II digunakan untuk konstruksi bangunan dan beton yang terus menerus yang berhubungan dengan air kotor atau air tanah atau untuk pondasi yang tertanam di dalam tanah yang mengandung air agresif (garam-garam sulfat) dan saluran air buangan atau bangunan yang berhubungan langsung dengan rawa.

    - Semen Type III digunakan pada daerah yang bertemperatur rendah, terutama pada daerah yang mempunyai musim dingin (winter season)

    SIMPLE KNOWLEDGE OF RIGID PAVEMENT / ADJI ELEX / 2008-2013 Page 7

  • - Semen Type IV digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang besar dan masif, umpamanya untuk pekerjaan bending, pondasi berukuran besar atau pekerjaan besar lainnya.

    - Semen Type V digunakan untuk bangunan yang berhubungan dengan air laut, air buangan industri, bangunan yang terkena pengaruh gas atau uap kimia yang agresif yang mengandung sulfat dalam prosentase tinggi.

    Persyaratan Fisika Semen Portland(Cara Pemeriksaan Semen Sesuai SII 0013-81)

    NO URAIANJENIS

    I II III IV V1 Kehalusan :

    Sisa di atas ayakan 0,09 mm, %, maksimum 10 10 10 10 10Dengan alat Blaine, kg/cm2, minimum 2800 2800 2800 2800 2800

    2 Waktu Pengikatan :Dengan Alat Vicat :

    Awal, menit, minimum 45 45