54
PROSES KEPERAWATAN PROSES KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA KESEHATAN JIWA MA: KEPERAWATAN JIWA I MA: KEPERAWATAN JIWA I Oleh : Sumiati, SKp. MSi. Oleh : Sumiati, SKp. MSi.

Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

  • Upload
    nina

  • View
    50

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

proses keperawatan kesehatan jiwa

Citation preview

Page 1: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

PROSES PROSES KEPERAWATAN KEPERAWATAN

KESEHATAN JIWAKESEHATAN JIWAMA: KEPERAWATAN JIWA IMA: KEPERAWATAN JIWA I

Oleh : Sumiati, SKp. MSi.Oleh : Sumiati, SKp. MSi.

Page 2: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

PENDAHULUANPENDAHULUAN• Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses

terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, keluarga dan masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal

• Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan dan masalah klien, sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi optimal

• Proses keperawatan mempunyai ciri dinamis, siklik, saling bergantung, luwes dan terbuka. Setiap tahap diperbaharui jika keadaan klien berubah. Tahap demi tahap merupakan siklus dan saling bergantung.

Page 3: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Manfaat Proses keperawatanManfaat Proses keperawatanBagi perawat:1. Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan

asuhan keperawatan 2. Tersedia pola pikir/kerja yang logis, ilmiah, sistematis

dan terorganisir3. Pendokumentasian dalam proses keperawatan

memperlihatkan bahwa perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat

4. Peningkatan kepuasan kerja5. Sarana/wahana desiminasi IPTEK Keperawatan6. Pengembangan karier, melalui pola pikir penelitian

Page 4: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

Bagi klien:1. Asuhan yang diterima bermutu dan

dipertanggung jawabkan secara ilmiah2. Partisipasi meningkat dalam menuju

perawatan mandiri (independence care)3. Terhindar dari malpraktik

Page 5: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

• Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa. Hal in penting karena peran perawat dalam asuhan keperawatan jiwa adalah membantu klien untuk dapat menyelesaikan masalah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Page 6: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

PENGKAJIANPENGKAJIAN• Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar

utama dari proses keperawatan• Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data

dan perumusan kebutuhan atau masalah klien• Data yang dikumpulkan meliputi data biologis,

psikologis, sosial dan spiritual• Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat

dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart &larai 2001)

Page 7: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan…Lanjutan…

Formulir pengkajian yang dianjurkan bagi perawat diRumah sakit Jiwa dan mahasiswa keperawatan dapatdilihat pada lampiran A:Isi pengkajian meliputi:1. Identitas klien2. Keluhan utama /alasan masuk3. Faktor predisposisi4. Aspek fisik/biologis5. Aspek psikososial6. Status mental7. Kebutuhan persiapan pulang8. Mekanisme koping9. Masalah psikososial dan lingkungan10. Pengetahuan11. Aspek medik

Page 8: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

Data dapat dikelompokkan menjadi duamacam, yaitu:1. Data objektif2. Data subjektifData yang langsung didapat oleh perawat disebut sebagai data primer dan data yang diambil dari hasil pengkajian atau catatan kesehatan lain disebut sebagai data sekunder.

Page 9: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan…Lanjutan…

• Data yang dikumpulkan dengan menggunakan format pengkajian (LampiranA), perawat langsung merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul.

• Untuk merumuskan masalah tentang diagnosa keperawatan dan masalah kolaboratif hendaknya mengacu pada tabel 1-2

• Umumnya masalah klien saling berhubungan serta dapat digambarkan sebagai pohon masalah

Page 10: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Contoh pohon masalah aspek jiwaContoh pohon masalah aspek jiwa

Risiko perilaku kekerasanTerhadap diri sendiri

Perubahan sensori persepsi:Halusinasi pendengaran

Isolasi sosial; Menarik diri

Duka cita maladaptif Gangguan konsep diri Dan HDR Kronis

Akibat

Masalah utama:Keluhan utama

Penyebab

Page 11: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

• Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien

• Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan penyebab masalah utama. Masalah ini dapat pula disebabkan oleh salah satu masalah yang lain, demikian seterusnya

• Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek/akibat dari masalah utama. Efek ini dapat pula menyebakan efek lain.

Page 12: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

DIAGNOSISDIAGNOSIS• Diagnosis keperawatan adalah penilaian atau

kesimpulan yang diambil dari pengkajian• Diagnosa keperawatan adalah masalah aktual

atau potensial yang mampu diatasi oleh perawat berdasarkan pendidikan dan pengalamannya

• Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons aktual atau potensial dari individu, keluarga atau masyarakat thd masalah kesehatan / proses kehidupan

• Diagnosis keperawatan adalah identifikasi atau penilaian terhadap pola respons klien baik aktual maupun potensial

Page 13: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Standar Diagnosis KeperawatanStandar Diagnosis KeperawatanDiagnosis keperawatan ditetapkan melalui tahapan:1. Analisa data yang ditemukan baik data subjektif

maupun objektif. Data yang ditemukan sebagai hasil pengkajian dikumpulkan sebagai data subjektif dan objektif. Data yang berkaitan erat satu sama lain yang menunjang satu diagnosis keperawatan dikumpulkan menjadi satu untuk merumuskan diagnosa keperawatan

2. Tetapkan rumusan diagnosa keperawatan dalam rumusan diagnosis tunggal. Rumusan diagnosis keperawatan mengacu pada rumusan diagnosa keperawatan NANDA 2005-2006

Page 14: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan…..Lanjutan…..

Diagnosis keperawatan dirumuskan dalam bentuk rumusan tunggal. Rumusannya adalah rumusan “problem” Etiologi dari diagnosa tidak perlu dicantumkan tetapi cukup dimengerti dan dipahami. Rumusan diagnosa keperawatan jiwa berdasarkan NANDA 2005-2006 untuk 10 diagnosa keperawatan utama di keperawatan jiwa:

1. Risiko perilaku kekerasan Perilaku kekerasan2. Gangguan persepsi sensori : halusinasi3. Isolasi sosial4. Harga diri rendah kronis Harga diri rendah situasional5. Gangguan proses pikir : Waham

Page 15: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan…..Lanjutan…..

6. Defisit perawatan diri : kebersihan diri Defisit perawatan diri : Berdandan Defisit perawatan diri : makan minum Defisit perawatan diri : toileting7. Risiko bunuh diri8. Koping keluarga tidak efektif9. Penatalaksanaan regimen terapeutik tidak

efektif10. Anxietas Ketidak berdayaan

Page 16: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

• Rumusan diagnosis dapat berupa PE, yaitu permasalahan (P) yang berhubungan dengan Etiologi dan keduanya memiliki hubungan sebab akibat secara ilmiah.

• Rumusan PES sama dengan PE hanya ditambah Simptom (S) atau gejala sebagai data penunjang.

• Dalam keperawatan jiwa ditemukan diagnosis anak beranak yang jika etiologi sudah diintervensi dan permasalahannya belum selesai. P dijadikan etiologi untuk diagnosis yang baru, demikian seterusnya

Page 17: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Contoh diagnosa KeperawatanContoh diagnosa Keperawatan• Risiko Perilaku kekerasan terhadap diri

sendiri berhubungan dengan halusinasi pendengaran

• Perubahan persepsi sensori halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri

• Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah kronis

Page 18: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

PERENCANAANPERENCANAAN• Perencanaan keperawatan terdiri dari tiga

aspek, yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan.

• Tujuan umum berfokus pada penyelesaian permasalahan (P) dari diagnosa ttt. Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai

• Tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi (E) dari diagnosis tertentu. Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan yang perlu dicapai atau dimiliki klien

Page 19: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

• Umumnya kemampuan klien pada tujuan khusus dapat dibagi menjadi tiga aspek, yaitu kemampuan kognitif yang diperlukan untuk menyelesaikan etiologi dari diagnosis keperawatan, kemampuan psikomotor yang diperlukan agar etiologi dapat teratasi, dan kemampuan afektif yang perlu dimiliki agar klien percaya pada kemampuan menyelesaikan masalah.

Page 20: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

• Rencana tindakan keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai setiap tujuan khusus

• Rencana tindakan keperawatan disesuaikan dengan standar asuhan keperawatan jiwa Indonesia, yang membagi karakteristik tindakan menjadi:

a. tindakan konseling/psikoterapeutik b. pendidikan kesehatan c. perawatan mandiri d. Aktifitas hidup sehari-hari e. terapi modalitas keperawatan, f. Tindakan berkelanjutan f. Tindakan kolaborasi ( terapi somatik dan psikofarmaka

Page 21: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

IMPLEMENTASIIMPLEMENTASI• Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan

dengan rencana tindakan keperawatan. Pada situasi nyata, implementasi seringkali jauh berbeda dengan rencana

• Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh klien saat ini (here and now)

• Perawat juga menilai diri sendiri apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual dan teknikal yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan. juga menilai kembali apakah tindakan aman bagi klien?

Page 22: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan…..Lanjutan…..

• Setelah tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan

• Pada saat akan melaksanakan tindakan keperawatan, perawat membuat kontrak dengan klien yang isinya menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta yang diharapkan dari klien. Dokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respons klien.

Page 23: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

EVALUASIEVALUASI

• Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respons klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan

• Evaluasi dibagi dua, yaitu evaluasi proses atau formatif yang dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan dan evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan antara respons klien dan tujuan khusus serta umum yang telah ditentukan

Page 24: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai pola pikirpendekatan SOAP sebagai pola pikir

S: Respons subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Dapat diukur dengan menanyakan; Bgaimana perasaan ibu setelah latihan nafas dalam?

O: Respon objektif terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Dapat diukur dengan mengobservasi perilaku klien pada saat tindakan dilakukan, atau menanyakan kembali apa yang telah diajarkan atau memberi umpan balik sesuai dengan hasil observasi

Page 25: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

A: Analisis ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada. Dapat juga membandingkan hasil dengan tujuan

P: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisis pada respons klien yang terdiri dari tindakan lanjut klien (PR) dan tindak lanjut oleh perawat.

Page 26: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan…..Lanjutan…..

RTL dapat berupa:1. Rencana diteruskan jika masalah tidak

berubah2. Rencana dimodifikasi jika masalah tetap dan

semua tindakan sudah dijalankan, tetapi hasil belum memuaskan

3. Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ada, diagnosis lama juga dibatalkan

4. Rencana atau diagnosis selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang baru

Page 27: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan…..Lanjutan…..

Klien dan keluarga perlu dilibatkan dalam evaluasi agar dapat melihat adanya perubahan, serta berupaya mempertahankan dan memelihara perubahan tsb. Pada evaluasi sangat diperlukan reinforcement untuk menguatkan perubahan yang positif. Klien dan keluarga juga dimotivasi untuk melakukan self-reinforcement

Dokumentasi implementasi dan evaluasi tindakan kepearawatan oleh perawat serta peserta didik keperawatan, dianjurkan menggunakan formulir yang sama dengan lampiran D.

Page 28: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

PENERAPAN PROSES KEPERAWATAN PENERAPAN PROSES KEPERAWATAN KESEHATAN JIWAKESEHATAN JIWA

Klien dengan masalah utama perilaku kekerasan: Klien ibu E, 42 tahun, masuk RSJ dengan alasan

mengamuk, membanting barang-barang, gelisah tidak bisa tidur, berendam di kamar mandi selama beberapa jam (4jam). Klien telah tiga kali dirawat dengan alasan yang sama, yaitu amuk. Klien biasanya amuk karena ditegur atas kesalahannya (data dari klien dan keluarga). Klien mengatakan mudah kesal dan jengkel, membanting banting barang, merasa semua barang tsb tidak ada harganya. Klien kelihatan sangat bersemangat, wajahnya tegang, muka merah ketika menceriterakan masalahnya, terlebih lagi sewaktu menceriterakan suaminya yang sangat kejam dan sering memukulinya.

Page 29: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan…..Lanjutan…..

Sewaktu klien hamil 6 bulan, suaminya menginjak-nginjak perutnya, suaminya menyuruh klien agar menggugurkan kandungannya, sehingga klien ngamuk dan membanting karaoke. Sejak itu suaminya pergi meninggalkan klien dan tidak kembali sampai sekarang. Kakak dan adiknya adalah dokter dan sarjana hukum. Klien merasa minder bila berada dalam lingkungan keluarga

Page 30: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

Menurut keluarganya (ibu dan adiknya) klien mudah marah, cepat tersinggung dan selalu merusak lingkungan (membanting barang) sejak gagal dalam pendidikan dan perkawinannya. Ayah klien mengatakan sudah frustrasi menghadapi perilaku anaknya. Klien juga biasanya hanya berendam di kamar mandi berjam-jam saat marah. Bila sedang marah ayah klien tambah memarahinya sehingga klien menjadi amuk. Klien tidak mau mandi bila disuruh, klien nampak kotor, rambut kotor, kusut seperti tidak pernah disisir, gigi kotor dan kuning, kuku panjang dan kotor, kulit banyak daki dan kering. Klien mengatakan malas mandi dan mandi kalau perlu saja. Sehabis mandi masih tampak kotor

Page 31: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

MASALAH KEPERAWATANMASALAH KEPERAWATAN

Masalah keerawatan untuk kasus diatas meliputi:1. Risiko cedera2. Perilaku kekerasan3. Gangguan konsep diri : HDR Kronis4. Gangguan pemeliharaan kesehatan5. Defisit perawatan diri: mandi dan berhias6. Ketidakefektifan koping keluarga:

Ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah

7. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik

Page 32: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

pohon masalah aspek jiwapohon masalah aspek jiwa

Risiko perilaku mencederai diri

Perilaku Kekerasan

Gangguan kpnsep diri: HDR Kronis

Ketidak efektifan koping keluarga

Defisit perawatan diri

Akibat

Masalah utama:Keluhan utama

Penyebab

Page 33: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

DIAGNOSA KEPERAWATANDIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Risiko perilaku mencederai diri berhubungan dengan perilaku kekerasan

2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan HDR Kronis

3. Gangguan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan defisit perawatan diri : mandi dan berhias

4. Ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah

Page 34: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

RENCANA KEPERAWATANRENCANA KEPERAWATANtgl No

DxDx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

Risiko perilaku mencederai diri berhubungan dengan perilaku kekerasan

TIU:Klien tidak mencederai diri sendiriTIK1, Klien dapat membina hubungan saling percaya

11. Klien mau membalas salam1.2.Klien mau menjabat tangan1.3. Klien mau menyebutkan nama1.4. Klien mau tersenyum1.5. Klien mau kontak mata1.6. Klien mau mengetahui nama perawat

1. 1.1. Beri salam, panggil nama1.2.1. Sebutkan nama perawat sambhil jabat tangan1.3.1. Jelaskan maksud hubungan interaksi1.4.1.Jelaskan ttg kontrak yang akan dibuat1.5.1. Beri rasa aman dan sikap empati1.6.1. Lakukan kontak singkat tetapi sering

Page 35: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx

Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

2. Klien dapat mengidenrifikasi penyebab perilaku kekerasan

3. Klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan

2.1.Klien mengungkapkan perasaannya2.2. Klien dapat mengungkapkan penyebab perasaan jengkel/ kesal (dari diri sendiri, lingkungan atau orang lain3.1.Klien dapat mengungkapkan perasaan saat marah / jengkel3.2. Klien dapat menyimpulkan tanda dan gejala jengkel / kesal yang dialaminya

2.1.1. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya2.2.1. Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel /kesal

3.1.1. Anjurkan klien mengungkapkan apa yang dialami dan dirasakannya saat jengkel/marah3.1.2.Observasi tanda dan gejala perilaku kekerasan pada klien3.2.1. Simpulkan bersama klien tanda dan gejala jengkel/kesal yang dialami klien

Page 36: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx

Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

4.1. klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

4.2. Klien dapat bermain peran sesuai perilaku kekerasan yang biasa dilakukan4.3. Klien dapat mengetahui cara yang biasa dilakukan untuk menyelesaikan masalah

4.1.1.Anjurkan kuntuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan (verbal, pada orang lain, pada lingkungan dan pada diri sendiri4.2.1.Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

4.3.1. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai

Page 37: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx

Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

5.Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan

6.Klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan

5.1.Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien•Akibat pada klien •sendiri• Akibat pada orang lain•Akibat pada lingkungan

6.1.Klien dapat menyebutkan contoh pencegahan perilaku kekerasan secara fisik:•Tarik nafas dalam•Pukul kasur dan bantal•Dll Kegiatan fisik

5.1.1.Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan klien5.1.2.Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang dilakukan oleh klien5.1.3. Tanyakan kepada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat

6.1.1.Diskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien6.1.2.Beri pujian atas kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien6.1.3.Diskusikan dua cara fisik yang paling mudah dilakukan nuntuk mencegah perilaku kekerasan, yaitu tarik nafas dala dan pukul kasur dan bantal

Page 38: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx

Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

6.2. Klien dapat mendemontrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan

6.2.1.Diskusikan cara melakukan tarik nafas dalam dengan klien6.2.2.Beri contoh kepada klien tentang cara menarik nafas dalam6.2.3.Minta klien untuk mengikuti contoh yang diberikan selama 5 kali6.2.4.Beri pujian positif atas kemampuan klien mendemontrasikan cara menarik nafas dalam6.2.5.Tanyakan perasaan klien setelah selesai6.2.6.Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari sasat marah/jengkel 6.2.7. Lakukan hal yang sama dengan 6.2.1 sampai 6.2.6 untuk cara fisik lain di pertemuan yang lain

Page 39: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx

Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

6.3. Klien mempunyai jadwal untuk melatih cara pencegahan fisik yang telah dipelajari sebelumnya

6.4. Klien mengevaluasi kemampuannya dalam melakukan cara fisik sesuai jadwal yang telah disusun

6.3.1.Diskusikan dengan klien mengenai frekwensi latihan yang akan dilakukan sendiri oleh klien6.3.2.Susun jadwal kegiatan untuk melatih cara yang telah dipelajari

6.4.1.Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan, cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dilakukan6.4.2. Validasi kemampuan klien dalam melaksanakan latihan6.4.3. Berikan pujian atas keberhasilan klien6.4.4.Tanyakan kepada klien : Apakah kegiatan cara pencegahan perilaku kekerasan dapat mengurangi perasaan marah

Page 40: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

7. Klien dapat mendemonstrasikan cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan

7.1.Klien dapat menyebutkan cara bicara (verbal) yang baik dalam mencegah perilaku kekerasan:*Meminta dengan baik*Menolak dengan baik*Mengungkapkan perasaan dengan baik7.2.Klien dapat mendemonstrasikan cara verbal yang baik

7.1.1.Diskusikan cara bicara yang baik dengan klien7.1.2.Beri contoh cara bicara yang baik;*Meminta dengan baik8Menolak dengan baik8Mengungkapkan perasaan dengan baik

7.2.1.Minta klien mengikuti contoh cara bicara yang baik:*Meminta dengan baik “saya minta untuk beli makanan”

Page 41: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

7.3. Klien mempunyai jadwal untuk melatih cara bicara yang baik

*Menolak dengan baik :”Maaf, saya tidak dapat melakukannya karena ada kegiatan lain*Mengungkapkan perasaan dengan baik”Saya kesal karena permintaan saya tidak dikabulkan7.2.2.Minta klien mengulang sendiri7.2.3.Beri pujian atas keberhasilan7.3.1.Diskusikan dengan klien tentang waktudan kondisi cara bicara yang dapat dilatih di ruangan, misalnya minta obat, baju dll. Menolak ajakan merokok dll7.3.2.Susun jadwal kegiatan untuk melatih cara yang dipelajari

Page 42: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

7.4.Klien melakukan evaluasi terhadap kemampuan cara bicara yang sesuai dengan jadwal yang telah disusun

7.4.1.Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan cara bicara yang baik dengan mengisi jadwal kegiatan (self evaluation)7.4.2.Validasi kemampuan klien dalam melaksanakan latihan7.4.3.Berikan pujian atas keberhasilan klien7.4.4. Tanyakan kepada klien bagaimana perasaan budi setelah latihan bicara yang baik? Apakah keinginan marah berkurang?

Page 43: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx

Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

8. Klien dapat mendemonstrasikan cara spiritual untuk mencegah perilaku kekerasan

8.1.Klien dapat menyebutkan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan8.2.Klien dapat mendemonstrasikan cara ibadah yang dipilih8.3.Klien mempunyai jadwal untuk melatih kegiatan ibadah8.4.Klien melakukan evaluasi terhadap kemampuan melakukan kegiatan ibadah

8.1.1.Diskusikan dengan klien kegiatan ibadah yang pernah dilakukan8.2.1.Bantu klien menilai kegiatan ibadah yang dapat dilakukan di ruang rawat8.2.2.8.2.38.3.1.Diskusikan dengan klien tentang waktu pelaksanaan kegiatan ibadah8.3.28.4.1.Klien mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ibadah dengan mengisi jadwal kegiatan harian8.4.28.4.3

Page 44: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

9.Klien dapat mendemonstrasikan kepatuhan minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan

9.1.Klien dapat menyebutkan jenis, dosis dan waktu minum obat serta manfaat dari obat (prinsip 5 benar ) benar orang, obat, dosis, waktu dan cara pemberian

9.2. Klien mendemonstrasikan kepatuhan minum obat sesuai dengan jadwal yang ditetapkan

9.3. Klien mengevaluasi kemampuannya dalam mematuhi minum obat

9.1.1.Diskusikan dengan klien tentang jenis obat yang diminumnya, waktu minum obat dan cara minum obat9.1.2. Diskusikan dengan klien tentang manfaat minum obat secara teratur

9.2.1.Diskusikan tentang proses minum obat9.2.2. Susun jadwal minum obat bersama klien

9.3.1.Klien mengevaluasi pelaksanaan minum obat dengan mengisi jadwal harian (self evaluation0

Page 45: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx

Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

10.Klien dapat mengikuti TAK Simulasi persepsi pencegahan perilaku kekerasan

10.1.Klien mengikuti TAK simulasi persepsi pencegahan perilaku kekerasan

10.2.Klien mempunyai jadwal TAK:stimulasi persepsi pencegahan perilaku kekerasan

10.3. Klien melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tAK

10.1.1.Anjurkan klien untuk ikut TAK10.1.2. Klien mengikuti TAK stimulasi persepsi pencegahan PK10.1.3. 10.1.4.10.2.1.Diskusikan dengan klien tentang jadwal TAK10.2.2.

10.3.1. KLien mengevaluasi pelaksanaan TAK dengan mengisi jadwal kegiatan harian10.3.210.3.3.10.3.4.

Page 46: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

tgl No Dx

Dx Kep

Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

11.Klien mendapatkan dukungan keluarga dalam melakukan cara pencegahan perilaku kekerasan

11.1. Keluarga dapat mendemonstrasikan cara merawat klien

11.1.1. Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien sesuai dengan yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini11.1.2.Jelaskan keuntungan peran serta keluarga dalam merawat klien11.1.3. Jelaskan cara-cara merawat klien11.1.4.Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien11.1.5. Bantu keluarga mengungkapkan perasaanny setelah melakukan demonstrasi11.1.6. Anjurkan keluarga mempraktik kannya pada klien selama di RS

Page 47: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Klien dengan masalah utama Klien dengan masalah utama Isolasi Sosial: menarik diriIsolasi Sosial: menarik diri

Klien nn.B, 24 tahun, anak ke 4 dari 7 bersaudara tempat tinggal di Jakarta Barat. Klien masuk RS tanggal 14 maret 1996. dirawat untuk yang ketiga kalinya dengan keluhan utama, klien sering merobek-robek bajunya, telanjang dan ingin lari dari rumah. Sejak kecil klien dianggap mengalami gangguan jiwa dianggap bodoh sehingga klien tidak disekolahkan. Di rumah selalu dikucilkan dan tidak pernah diajak berkomunikasi, tidak mempunyai teman dekat, tidak ada anggota keluarga yang dianggap teman dekat klien, akibatnya klien sering menyendiri, melamun dan mengatakan bahwa ada suara yang menyuruh pergi. Karena klien tidak mau pergi, sebagai gantinya klien disuruh merobek-robek bajunya dan menggores-gores tubuhnya dengan silet

Page 48: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan….Lanjutan….

Keluarga merasa tidak mampu untuk merawat dan akhirnya membawa klien ke RSJ dengan alasan mau diajak nonton film. Selama di RSJ, ibu tiri klien tidak pernah menjenguk dan kadangkala kakak kandung klien datang ke RSJ untuk membawakan pakaian serta membayar biaya obat-obatan, tetapi kakaknya tidak mengakui klien sebagai adiknya. Dari hasil observasi didapat data tentang klien, yaitu rambut kotor dan bau, banyak kutu, wajah lusuh, tatapan mata kosong, gigi kuning, banyak kotoran, tercium bau yang tidak sedap, telinga kotor, kulit kotor banyak daki, kuku panjang, tidak memakai alas kaki. Klien mengatakan malas mandi. Gaya bicara klien hati-hati, bicara apabila ditanya, jawaban singkat, klien sering duduk sendiri dan banyak tidur

Page 49: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Masalah KeperawatanMasalah KeperawatanMasalah keperawatan untuk kasus di atas adalah:1. Isolasi sosial: menarik diri2. Gangguan sensori/persepsi; halusinasi pendengaran3. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri4. Gangguan konsep diri; HDR kronis5. Ketidak efektifan penatalaksanaan program terapeutik6. Defisit perawatan deiri7. Ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan

keluarga merawat klien di rumah8. Gangguan pemeliharaan kesehatan

Page 50: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

PENUGASAN KELOMPOK 1-4PENUGASAN KELOMPOK 1-4Tentukan:1. Masalah keperawatannya2. Pohon masalah isolasi sosial: menarik diri3. Diagnosis keperawatan4. Perencanaan:Diagnosa keperawatan Perencanaan: - Tujuan umum - Tujuan khusus - Kriteria evaluasi - Rencana intervensi

Page 51: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Klien dengan masalah utama gangguan Klien dengan masalah utama gangguan sensori/persepsi: halusinasi pendengaransensori/persepsi: halusinasi pendengaran

Bapak E seorang duda berusia 41 tahun, mempunyai satu orang anak. Klien sudah 10 tahun bercerai, klien beragama islam dan tamat pendidikan akademi. Saat ini klien tidak bekerja. Klien tinggal di rumah hanya dengan pembantu. Orang terdekat klien adalah ibunya, tetapi ibu klien telah meninggal 2 tahun yang lalu. Klien dirawat di rumah sakit jiwa untuk ke 3 kalinya dengan alasan amuk. Klien dibawa ke rumah sakit jiwa dengan alasan amuk, merusak lingkungan dan tidak mengurus diri. Klien mengatakan bahwa dirinya tidak mampu menjadi kepala keluarga yangbaik dan tidak berdaya untuk melakukan apapun.

Page 52: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Lanjutan……Lanjutan……

Klien juga mengatakan bahwa ia sering mendengar suara-suara yang ingin membunuh dirinya. Suara-suara itu sangat menakutkan sehingga membuat klien kesal, ingin memukul dan melempar barang-barang agar suara tersebut hilang.

Dari observasi didapatkan data: rambut tidak disisir dan

kotor, janggut dan kumis tidak dirawat, kuku panjang dan hitam, baju kotor. Selama di rumah sakit, klien selalu menyendiri duduk di pojok atau tiduran di tempat tidur, kadang-kadang klien berjalan mondar-mandir. Klien sering berbicara sendiri

Page 53: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Diagnosa KeperawatanDiagnosa Keperawatan1. Risiko perilaku mencederai diri berhubungan

dengan Perilaku kekerasan2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan

harga diri rendah3. Gangguan pemeliharaan kesehatan

berhubungan dengan defisit perawatan diri: mandi dan berhias

4. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah

Page 54: Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

Penugasan Kelompok 5-8Penugasan Kelompok 5-8Tentukan:1. Msalah keperawatannya2. Pohon masalah halusinasi pendengaran3. Diagnosis keperawatan4. Perencanaan:Diagnosa keperawatan Perencanaan: - Tujuan umum - Tujuan khusus - Kriteria evaluasi - Rencana intervensi