of 44/44
PERANAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAN INFORMASI PADA GENERASI MUDA DI PEDESAAN (Suatu Penelitian Deskriptif Kualitatif di Desa Trinurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta) SKRIPSI Disusun Oleh: FERDINANDUS DOMINICUS CEME MOLA 13530023 PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNANAN MASYARAKAT DESA “APMD” YOGYAKARTA 2019

PERANAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA ...repo.apmd.ac.id/634/1/SKRIPSI_FERDINANDUS DOMINICUS CEME...PERANAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAN INFORMASI PADA GENERASI MUDA DI PEDESAAN

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PERANAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA ...repo.apmd.ac.id/634/1/SKRIPSI_FERDINANDUS DOMINICUS...

  • PERANAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASIDAN INFORMASI PADA GENERASI MUDA DI PEDESAAN

    (Suatu Penelitian Deskriptif Kualitatif di Desa Trinurti, KecamatanSrandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta)

    SKRIPSI

    Disusun Oleh:

    FERDINANDUS DOMINICUS CEME MOLA13530023

    PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASISEKOLAH TINGGI PEMBANGUNANAN MASYARAKAT DESA

    “APMD” YOGYAKARTA2019

  • v

    MOTTO

    “Jangan bertanding dengan siapa pun kecuali diri sendiri. Jangan berusahamengalahkan siapa pun kecuali diri sendiri. Kemenangan terbesar adalah menang

    atas diri sendiri. Sebelum berusaha mengubah orang lain. Ubahlah diri sendiri”(Oscar Wirawan)

    “Keberhasilan ditentukan oleh 99 % perbuatan dan hanya 1 % pemikiran”(Albert Eisntein)

    “Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata "Ibu", dan panggilanyang paling indah adalah "ibuku". Ini adalah kata yang penuh harapan dan cinta,

    kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati”(Kahlil Gibran)

    “Gone But Not Forgotten”(Kurt Cobain)

    “Cinta itu indah. Jika bagimu tidak, mungkin karena salah milih pasangan.”(Pidi Baiq)

  • vi

    HALAMAN PERSEMBAHAN

    Menyadari bahwa proses pendidikan yang saya tempuh hingga saat ini

    tidak dapat saya selesaikan dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan

    pribadi, karena itu karya (Skripsi) ini saya persembahkan kepada mereka yang

    telah ambil bagian dalam liku-liku pendidikan dan hidup saya:

    Rasa syukur yang dalam dan tulus kepada Tuhan Yesus Kristus, tanpa

    berkat dankekuatan dari pada-Nya rasanya mustahil pendidikan yang telah kulalui

    bisa berjalan dengan baik, liku-liku kehidupan yang telah terlewati membuatku

    semakin kuat dan tegar, terimakasih Tuhan dengan rendah hati kunaikkan

    syukurku kehadiratMu.

    Terimakasih Bapak, Mama’ku (Daniel Mola dan Yolenta Igo) kalian

    adalah permata yang sangat berharga dalam hidupku, tanpa keringat dan cucuran

    airmata kalian sungguh tak bisa dibayangkan aku bisa melanjutkan pendidikan

    ketingkat yang lebih tinggi seperti sekarang ini (aku sangat mencintai kalian).

    Almamater kebanggaan saya, yang selalu menjadi kawah candra dimuka

    dalam membentuk kader – kader bangsa yang “berpikir global, bertindak lokal”,

    Semoga APMD semakin Jaya ….. !!!

    Untuk Dosen pembimbing saya Bapak Tri Agus Susanto, S.Pd., M.Si.

    terimakasih yang tak terhingga saya sampaikan atas kesabaran dalam

    membimbing dan memberikan masukan tentang inkonsistensi waktu saya yang

    selalu molor dalam mengerjakan skripsi ini.

    Untuk Pemerintah Desa Trimurti Kecamatan Srandakan Kabupaten Bantul,dengan rasa hormat saya ucapkan terimakasih yang tak terhingga atas waktu dan dan

    kesediaan menerima saya untuk melakukan penelitian tentang Peranan Media sosialsebagai media komunikasi dan informasi pada generasi muda di pedesaan.

    Kawan-kawan seperjuangan, teman teman IMAKO (Ikatan Mahasiswa IlmuKomunikasi) semuanya

    Terimakasih secara khusus untuk Bapak kos Ahmad Toha yang selalu

    sabar dan penuh pengertian terhadap persoalan uang kos yang selalu nunggak,

    matur sembah nuwun Pak De.

    Untuk saudara, sahabat, konco dewe dan sesepu PASUKAN KERSEN

  • vii

    JANTI: Mbak Dhea {Makasi pengorbanan waktunya untuk mencuci pakian saya}

    , Rodjero {Cepat nyelesaiin skripsinya bro}, Slash Jambo {langgeng terus sama

    pekerjaannya bro}, Romy {Sukses untuk proses penggemukan badanmu, tempat

    tinggal mu sebenarnya dimana?}, Vapen Lia {Ojo pindah-pindah kampus lagi yo

    bro}, Bryan {Rektor AKPRIND ada tanya kau ....}, Yaris Paba {Jangan terlalu

    poker bro ingat sama skripsi mu}, Dejan dan Nelli {Bekerjalah yang tekun ingat

    sama Raden}, Tino, Bosan {Kapan kita nge bil lagi di platinum?}, Odaf {si

    rabun jauh} Paman Dedi, K Vian, K Bravo, K Chen, K Willy {Legend of judi},

    Om Tb, K Siwe, K Icat, K Gopal, K Alvis, K Atan, K Jois, K Farul, K Mansi, K

    Pocko, Dodi Rana {Menteri Pendidikan janti}, Jekson Alpacino {Mafia

    Nangaroro}, Bacok {si penulis grafity}, Basten, Ariston, Obeth, Isto, Cendi,

    Bastian dan semuanya yang tidak sempat saya sebutkan namanya, terimakasih

    untuk semuanya Jah Bless.

    Untuk guys-guys Frando 2011: Ando Kua, Sles Jambo Vapen, Savio,

    Rodjer, Jen Anggal, Ervin Du’e, Celsi Nagi, Iron, Wiwin No’o,Celi Soro, Ret

    Toyo, Ani Bati dan Aten Tutu terimakasih untuk senyuman, canda tawa dan

    kebersamaan kita di Kota Istimewa. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

  • viii

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa

    atas anugerah dan penyertaan-Nya yang sempurna kepada penulis sehingga

    proses penyusunan skripsi ini berjalan dengan baik dan lancar hingga selesai.

    Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan proses penyusunan

    skripsi ini karena bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, ucapan terimakasih

    yang sebesar – besarnya tidak lupa penulis sampaikan kepada :

    1. Bapak. Dr.H. Sutoro Eko Yunanto, M.Si. selaku Ketua STPMD “APMD”

    yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis.

    2. Bapak Habib Muhsin S.Sos, M.Si selaku Ketua Prodi dan semua staf

    pengajar Prodi Ilmu Pemerintahan yang telah memberikan ilmu dan

    pengetahuan selama kuliah.

    3. Bapak Tri Agus Susanto, S.Pd., M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah

    meluangkan waktu dan pikiran untuk memberikan masukan, kritik dan saran

    dalam proses penyusunan skripsi ini.

    4. Kepada semua yang telah membantu saya, baik secara langsung maupun

    tidak langsung, Doa saya semoga Tuhan membalas semuanya… !!

    Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari

    sempurna. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan masukan dan saran dari

    semua pihak agar dapat memperbaiki karya sederhana ini pada waktu-waktu

    yang akan datang. Akhir kata, Semoga karya ini bermanfaat bagi semua

    pembaca.

    Yogyakarta, 26 Maret 2019

    Penyusun

    Ferdinandus D. C. Mola13530023

  • ix

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL............................................................................................... i

    LEMBAR PERNYATAAN..................................................................................... iii

    HALAMAN PENGESAHAN..............................................................................…iv

    HALAMAN PERSEMBAHAN .............................................................................. vi

    KATA PENGANTAR ............................................................................................viii

    DAFTAR ISI............................................................................................................ ix

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ............................................................................... 1

    B. Rumusan Masalah .......................................................................... 5

    C. Tujuan Penelitian............................................................................ 6

    D. Manfaat........................................................................................... 6

    E. Tinjauan Pustaka............................................................................. 7

    F. Kerangka Pikir .............................................................................. 27

    G. Metode Penulisan.......................................................................... 29

    BAB II PROFIL DESA TRIMURTI

    A. Kondisi Geografis ............................................................................................ 33

    B. Kondisi Demografis ......................................................................................... 34

    C. Sarana dan Para Sarana .................................................................................... 38

    D. Struktur Pemerintahan Desa Trimurti .............................................................. 43

    E. Struktur Pemerintahan Desa Trimurti............................................................... 46

  • x

    BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Identitas Informan ............................................................................................ 50

    B. Hasil Penelitian................................................................................................. 53

    BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

    A. Kesimpulan ...................................................................................................... 70

    B. Saran 71

    DAFTAR PUSTAKA

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Dalam era globalisasi seperti sekarang perkembangan ilmu pengetahuan dan

    teknologi (IPTEK) sudah sangat pesat dan nyaris tidak terbendung lagi. Salah satu

    dampak perkembangan tersebut adalah kemajuan dalam berbagai bidang

    termasuk teknologi informasi dan komunikasi yang tercermin pada berbagai

    medianya. Dalam hal ini media massa baik media cetak maupun media elektronik

    merupakan alat yang paling tepat untuk menyampaikan berbagai informasi

    tentang keadaan dan kenyataan yang terjadi secara lengkap dan akurat.

    Komunikasi lewat media massa disebut komunikasi massa. Membahas

    komunikasi massa berarti membahas mengenai media massa sebagai elemen

    terpenting dalam komunikasi massa. Dalam era modern seperti sekarang harus

    diakui kalau hidup sangat tergantung pada media massa, sehingga tidak

    berlebihan kalau dikatakan media massa menjadi salah satu faktor penentu

    kehidupan masa kini. Oleh karena itu berbagai aspek yang melekat pada media

    massa termasuk kelebihan dan kekuranganya media tersebut sudah selayaknya

    harus menjadi perhatian masyarakat.

    Media massa dalam komunikasi massa tersebut memiliki banyak bentuk.

    Suyanto (2013) mengelompokkan berbagai bentuk media massa tersebut atas

  • 2

    media cetak (surat kabar, tabloid, majalah) buku, film dan media elektronik,

    radio, dan televisi). Dalam perkembangan komunikasi massa dewasa ini,

    ditambah lagi dengan media massa berbasis internet.

    Indrajit (2013) menyebutkan bahwa internet merupakan salah satu bentuk

    media komunikasi modern yang memiliki daya tarik luar biasa bagi masyarakat.

    Hal ini dikarenakan internet tidak hanya menyajikan informasi hiburan dan

    pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu internet telah memfasilitasi masyarakat

    dalam rangka menyampaikan suatu maksud kepada seseorang atau sekelompok

    orang tertentu. Internet merupakan jaringan longgar dari ribuan jaringan komputer

    yang menjangkau jutaan orang di seluruh dunia. Dikatakan longgar karena

    jaringan ini memungkinkan orang dari seluruh penjuru dunia berkomunikasi

    melalui zona waktu yang berbeda tanpa saling bertatap muka dan informasinya

    tersedia selama 24 jam sehari dari ribuan tempat. Internet telah membantu

    menciptakan media komunikasi yang sangat cepat dan efektif.

    Keberadaan komputer dan internet sebagai medium dalam berkomunikasi

    dan berinteraksi dengan sesama pengguna menciptakan realitas virtual (Angger,

    2004 dalam Solanta, 2017). Realitas virtual berarti mengacu pada orang-orang

    yang terhubung dengan dunia dan orang lain melalui sarana elektronik seperti

    internet, televisi dan ponsel. Virtualitas adalah pengalaman yang online dan

    menggunakan komputer, serta merupakan suatu keadaan yang mengacu pada

    cara tertentu mengalami dan berinteraksi dengan dunia (Solanta, 2017).

  • 3

    Era pasca ruang merupakan suatu yang baru ditandai oleh adanya perluasan

    pola interaksi sosial. Dalam hal ini media elektronik mampu menepis kegelisahan

    publik akan upaya untuk mengetahui informasi yang terjadi di tempat lain. Pola

    interaksi sosial tidak lagi dalam ranah yang nyata, melainkan lebih cenderung

    terjadi dalam realitas media (virtual).

    Dari uraian di atas diketahui bahwa salah satu perkembangan dari adanya

    internet dan komputer adalah hadirnya media online seperti tabloid berita online,

    Facebook (FB), Whatsapp (WA), Blackberry Mesenger (BBM), Line, dan

    sebagainya. Semua media ini secara umum dikenal dengan sebutan media sosial

    (Medsos). Medsos tersebut dalam era digital seperti sekarang sudah bukan

    menjadi barang asing lagi melainkan menjadi keseharian bagi banyak pihak

    terutama generasi muda atau generasi milenial (generasi kelahiran tahun 2000an).

    Dewasa ini hampir mustahil memisahkan kehidupan generasi muda tersebut

    dengan media sosial. Tidak berlebihan bila Joy Roesma dan Nadia Mulya (2018)

    berkesimpulan kalau kebutuhan untuk tetap eksis di dunia digital seakan naik

    pangkat menjadi kebutuhan utama kaum urban (dan tinggal tunggu waktu saja

    sampai hal ini menjadi kebutuhan semua manusia di muka bumi) selain sandang,

    pangan, papan dan colokan.

    Namun sesungguhnya keberadaan dan peran medsos tersebut bagi generasi

    muda ibarat pedang bermata dua. Kalau dimanfaatkan dengan baik, medsos akan

    bernilai guna, namun bila disalahgunakan akan berdampak negatif bagi generasi

    muda. Medsos bagaimanapun merupakan media komunikasi dan media

  • 4

    pendidikan yang cukup efektif dan efisien bagi pengembangan generasi muda.

    Tetapi keberadaan medsos yang tidak terkendali justru akan memunculkan sikap

    egois dan individualisme yang bila berlebihan akan menghambat proses interaksi

    sosial, sehingga juga akan memudarkan tingkat kepekaan sosial dan solidaritas

    sosial dengan sesama yang ada di sekitar (Solanta, 2017). Namun demikian

    hampir mustahil memisahkan generasi muda dengan medsos. Walaupun medsos

    mungkin saja berdampak negatif pada perkembangan diri generasi muda, namun

    mengabaikan peran medsos akan mengakibatkan perkembangan generasi muda

    tidak optimal, bahkan banyak mengalami hambatan.

    Hal ini menunjukkan pada era globalisasi seperti ini keberadaan medsos

    merupakan keniscayaan, keberadaan medsos ikut menentukan kehidupan generasi

    muda ke depannya. Dengan kata lain, pengembangan generasi muda dewasa ini

    banyak bergantung pada keberadaan medsos. Hal ini tidak terlepas karena

    keberadaan medsos akan dengan mudah mempengaruhi sikap dan perilaku

    generasi muda. Oleh karena itu medsos perlu diaktualisasikan sebagai media

    komunikasi dan informasi bagi pengembangan generasi muda.

    Desa Trimurti, salah satu desa di Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul,

    Propinsi Daerah Istimewah Yogyakarta (DIY) tentu saja termasuk desa yang juga

    terpengaruh oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai aspek

    kehidupan di desa ini disadari maupun tidak pasti terdampak oleh adanya medsos

    sebagaimana di desa-desa lainnya. Perbedaannya, pemerintahan desa Trimurti

    menyadari hal itu dan secara sadar mau memanfaatkan medsos sebagai media

  • 5

    komunikasi dan informasi bagi pemberdayaan masyarakat di desanya termaksud

    generasi muda termaksud genarasi muda. Sebagai contoh, selama ini pemerintah

    desa dan Pembina karang taruna di Desa Trimurti sudah terbiasa memanfaatkan

    medsos baik sebagai media komunikasi dan informasi, baik antar generasi muda,

    maupun antara generasi muda dengan generasi tua termasuk pembina karang

    taruna dan pemerintah desa. Media sosial dimanfaatkan sebagai media

    komunikasi dan informasi bagi pengembangan masyarakat umumnya dan

    generasi muda khususnya. Hal ini menunjukkan melalui penggunaan medsos

    sebagai media komunikasi dan informasi, pemerintah desa dan pembina Karang

    Taruna berupaya memberdayakan masyarakat khususnya generasi muda. Selain

    itu melalui penggunaan media sosial generasi muda akan dibekali informasi

    sehingga dapat memanfaatkan IPTEK secara baik dan benar, juga mempersuasi

    generasi muda agar besikap dan berperilaku sesuai yang diidealkan sebagai warga

    Negara. Untuk mengetahui mengenai peran medsos sebagai media komunikasi

    dan informasi pada generasi muda di pedesaan maka penulis tertarik melakukan

    penelitian pada Karang Taruna di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan,

    Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang seperti di atas maka rumusan masalahnya

    adalah: ”Bagaimanakah peranan media sosial sebagai media komunikasi dan

  • 6

    informasi dalam pengembangan/ pemberdayaan generasi muda di Desa Trimurti,

    Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY selama ini?”

    C. Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan media sosial

    sebagai media komunikasi dan informasi dalam pengembangan/ pemberdayaan

    generasi muda di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul,

    Propinsi DIY selama ini.

    D. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Teoritis

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu dan pengetahuan

    mengenai komunikasi massa khususnya yang berkaitan dengan media sosial

    (medsos).

    2. Manfaat Praktis

    a. Bagi Kampus

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi penelitian

    sejenis selanjutnya.

    b. Bagi masyarakat

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dalam upaya

    pemanfaatan medsos secara baik dan benar.

  • 7

    c. Bagi Peneliti

    Melalui penelitian ini peneliti belajar melakukan penelitian ilmiah.

    Hasilnya diharapkan dapat memperkaya pengetahuan peneliti selanjutnya

    tentang medsos.

    E. Tinjauan Pustaka

    1) Peranan

    Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 369) mengenal dua kata

    “peranan” dan “peran”, dua kata ini sering dipakai bergantian, dengan

    pengertian yang hampir sama. Peran diartikan sebagai perangkat tingkah laku

    yang diharapkan dapat dimiliki oleh seseorang atau organisasi/ lembaga yang

    berkedudukan atau berstatus tertentu dalam masyarakat. Peranan diartikan

    sebagai tindakan yang dilakukan seseorang atau lembaga dalam suatu

    peristiwa. Istilah “peran” atau “peranan” ini sesungguhnya dapat dipadankan

    dengan istilah ”role” dalam bahasa Inggris yang bisa diterjemahkan sebagai

    tugas atau fungsi (Echols dan Shadily, 1995: 489). Hal ini menunjukkan

    istilah peran (role) dapat diartikan sebagai perilaku yang diharapkan dari

    seseorang atau sesuatu (lembaga/ organisasi) yang dilakukan karena statusnya.

    Horton dan Hunt (1999 :135) mengartikan status atau kedudukan sebagai

    posisi seseorang atau sesuatu lembaga dalam masyarakat, sedangkan peran

    diartikan sebagai perilaku yang diharapkan dari seseorang atau sesuatu

    lembaga yang memiliki status atau kedudukan tertentu.

  • 8

    Peranan atau peran, dalam penelitian ini, merujuk pada tugas dan

    fungsi media sosial. Maksudnya merujuk pada perilaku yang diharapkan dari

    media sosial, ketika menjalankan fungsi dan tugasnya dalam pengembangan

    generasi muda, dalam hal ini di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan,

    Kabupaten Bantul, DIY. Dalam hal ini menelaah bagaimana media sosial

    berperan sebagai media komunikasi, sebagai media hiburan, sebagai media

    pendidikan, dan sebagai media kontrol (Suyanto, 2013). Tujuan dari upaya-

    upaya tersebut adalah supaya generasi muda di pedesaan tersebut semakin

    berdaya sehingga dapat bersikap secara baik dan benar.

    Ndraha (1990), dalam Margaretha, 2011: 16) mengartikan peran

    sebagai aspek dinamis dari suatu lembaga atau organisasi. Lembaga atau

    organisasi dinilai telah berperan dengan baik bila dapat melaksanakan

    kewajibannya dengan baik sesuai dengan status dan kedudukannya. Dalam

    penelitian ini media sosial akan dilihat apakah tetap berperan sebagai media

    komunikasi, media hiburan, media pendidikan dan media kontrol sehingga

    pengembangan generasi muda perdesaan berjalan dengan baik dan benar,

    berjalan efektif dan efisien.

    2) Media Sosial

    a) Pengertian Media Sosial

    Fuchs (2014: 35- 36 ) menghimpun beberapa pengertian atau defenisi

    media sosial dari berbagai pakar komunikasi. Pertama, menurut Mandibergh

  • 9

    (2012) yang mengartikan media sosial sebagai media yang mewadahi kerja

    sama diantara pengguna yang menghasilkan konten (User-Generated

    Content). Kedua, Shirky (2008), media sosial dan perangkat lunak sosial

    merupakan alat untuk meningkatkan kemampuan pengguna untuk berbagi

    (to share), bekerjasama (to co-operate) di antara pengguna dan melakukan

    tindakan secara kolektif yang semuanya berada di luar kerangka

    institusional maupun organisasi. Ketiga, Boyd (2009) mengartikan media

    sosial sebagai kumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu

    maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikasi, dan dalam

    kasus tertentu saling berkolaborasi atau bermain. Media sosial memiliki

    kekuatan pada User Generated Content (UGC) dimana dihasilkan oleh

    pengguna, bukan oleh editor di institusi media massa.

    Keempat, Van Dijk (2013), media sosial adalah platform media yang

    memfokuskan pada pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitas

    maupun berkolaborasi. Karena itu, media sosial dapat dilihat sebagai

    medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antara pengguna

    sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial. Kelima, Mieke dan Young (2012)

    mengartikan media social sebagai konvergensi antara komunikasi personal

    dalam arti saling berbagi diantara individu ( to be shared one-to-one) dan

    media publik untuk berbagi kepada siapa saja tanpa ada kekhususan

    individu.

  • 10

    Nasrullah (2015:11) mengartikan media sosial sebagai medium di

    internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun

    berinteraksi, bekerjasama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain,

    dan membentuk ikatan secara virtual. Media sosial (social media) adalah

    salah satu aplikasi yang menunjang kebutuhan komunikasi manusia dalam

    bentuk komunikasi tertulis (teks), Komunikasi suara, dan komunikasi

    audiovisual (Ibrahim dan Iriantara, 2017: xi). Media sosial menjadi salah

    satu tulang punggung kegiatan komunikasi manusia mutakhir. Ia memenuhi

    dan mengubah kebutuhan manusia dalam berkomunikasi. Aplikasi seperti

    Facebook, Twitter, Instagram, atau Whatsapp menjadi aplikasi populer yang

    digunakan ratusan juta orang di seluruh dunia untuk berkomunikasi.

    Roesma dan Mulya (2018: 20) menyebutkan kalau media sosial adalah

    bintang yang kini bersinar paling terang. Walaupun media tradisional seperti

    media cetak dan dunia penyiaran masih ada, perannya jauh mengerdil. Tidak

    mengherankan bila banyak majalah membuat versi online dan stasiun

    televisi membuat live streaming di situsnya. Media sosial berbasis internet

    yang kian berkembang dan bisa memperbarui berita dengan cepat,

    membuatnya nyaris menggantikan peran media massa konvensional dan

    hampir segala hal.

    Tidaklah berlebihan bila Patricia Gou (dalam Roesma dan Mulya,

    2018: 2) mengatakan kalau media sosial adalah media zaman sekarang.

    Kalau dulu media ya hanya TV, radio, koran, majalah yang bersifat satu

  • 11

    arah. Media sosial bersifat multiarah dan melahirkan banyak kesempatan,

    seperti peluang usaha untuk UMKM. Media sosial juga membuat orang

    semakin penasaran atau ingin tahu dan update tentang kehidupan orang-

    orang.

    Medsos adalah saluran atau sarana secara sering di dunia maya

    (internet). Para pengguna (User atau netizen/ warganet) berinteraksi dengan

    mereka yang berada di jejaring sosialnya (Network) atau bahkan bisa dengan

    audience yang tidak mereka kenal sekalipun melalui blog, vlog, jejaring

    sosial, podcast, wiki, ataupun forum (Roesma dan Mulya,2018: 21)

    Sudah sejak lama manusia mendambakan adanya alat yang

    memungkinkan berkomunikasi secara mudah, cepat dan pribadi.

    Ketersediaan jaringan internet, komputer, dan ponsel cerdas telah

    memungkinkan lahirnya aplikasi dalam berbagai jenis, bentuk dan nama

    untuk berkomunikasi, baik antar pribadi maupun antara pribadi dengan

    kelompok (Ibrahim dan Iriantara, 2017: 220). Perusahaan pengelola dan

    pembuat aplikasi untuk media sosial terus berlomba menyajikan fitur-fitur

    yang diperlukan pengguna dan memenuhi kebutuhan pengguna sebagai

    solusi komunikasinya.

    Menurut pandangan Matusita (2007, dalam Indrajit, 2013) internet

    yang menjadi wadah media sosial, pada dasarnya merupakan kombinasi

    interaksi tekstual dan dunia virtual yang memungkinkan manusia bisa

    berkomunikasi satu sama lain. Internet menyediakan perangkat komunikasi

  • 12

    tersebut, seperti Multi-user Domains (MUDS), e-mail, dan saluran untuk

    mengobrol (Chat lipes). Manusia pada dasarnya dibentuk melalui interaksi

    sosialnya kini interaksi sosial tersebut mulai menggunakan internet,

    termasuk menggunakan media sosial.

    Interaksi sosial lewat internet mulai berkembang cepat pada abad ke-

    20, khususnya setelah komputer dan internet mulai dipergunakan dalam

    kegiatan manusia. Pada tahun 1980-an, media sosial yang cukup populer

    adalah Internet Relay Chat (IRC) yang kemudian meredup pada 1990-an.

    Namun pemicu meledaknya media sosial adalah blog yang mulai

    berkembang pada penghujung 1990-an (Ibrahim dan Iriantara, 2017: 221).

    Menurut Boyd dan Ellison (2008, dalam Ibrahim dan Iriantara, 2017:

    222) perkembangan pesat media sosial berlangsung sejak tahun 2003 ketika

    bermunculan situs jejaring sosial. Tiap-tiap media sosial menyebut dirinya

    dengan sebutan Yet Another Sosial Networking Service (YASNS). Beberapa

    diantaranya Linkedin, Visible Path, dan Xing, ada juga dogster, carez,

    couchsurfing.

    Lalu status jejaring sosial yang cukup popular, Facebook mulai

    diperkenalkan pendirinya Mark Zuckerberg pada tahun 2004 untuk para

    mahasiswa di Universitas Hanvord. Ternyata diminati banyak orang,

    sehingga diperkenalkan ke khalayak umum. Hanya dalam tempo setahun,

    tahun 2005 Facebook sudah bisa mengalahkan popularitas friendster. Tahun

    2006 Facebook semakin meluas penggunaanya, sehingga tahun 2007

  • 13

    Microsoft Corporation membeli sebagian saham Facebook, yang kemudian

    membuat akun Facebook bisa dimiliki siapapun diseluruh dunia.

    Menurut Danesi (2009, dalam Ibrahim dan Iriantara, 2017: 225), dari

    perkembangan media sosial, khususnya Facebook diketahui bahwa

    teknologi-teknologi komunikasi massa membentuk cara kita berkembang

    secara kognitif, cultural, dan sosial. Facebook menjadi salah satu yang

    menunjukan hal tersebut. Adanya Facebook membuat semakin banyak orang

    terbiasa untuk menikmati kesenangan atau mengatasi kesusahan dengan

    menggunakan Facebook tersebut.

    Kini hampir setiap orang sudah memiliki akun media sosial sendiri.

    Bukan hanya satu, melainkan beberapa akun. Ada yang memiliki akun

    Facebook tetapi juga memiliki Whatsapp (WA) dan Twitter untuk

    berkomunikasi dengan teman-temannya. Apalagi setelah media sosial juga

    menyediakan aplikasi mobile yang dapat diakses dari ponsel cerdas, situs

    jejaring sosial ini semakin popular. Orang bisa memposting foto apa yang

    dilakukan saat itu juga. Fenomena selfie semakin berkembang sehingga

    menjadi bagian penting dari gaya hidup yang ditawarkan teknologi digital.

    b) Karakteristik Media Sosial

    Nasrullah (2016:16) menyebutkan beberapa karakteristik media sosial,

    antara lain : (1) Jaringan (network), (2) Informasi (information), (3) Arsip

    (Archive), (4) Interaksi (Interactivity), (5) Simulasi Sosial (Simulation Of

    Society), dan (6) Konten oleh pengguna (User – Generated Content).

  • 14

    Media sosial memiliki karakter jaringan sosial. Media sosial terbangun

    dari struktur sosial yang terbentuk di dalam jaringan atau internet. Struktur

    atau organisasi sosial yang terbentuk di internet berdasarkan jaringan

    informasi yang pada dasarnya beroperasi berdasarkan teknologi informasi

    dalam mikroelektronik. Jaringan yang terbentuk antar pengguna (users)

    merupakan jaringan yang secara teknologi dimediasi oleh perangkat

    teknologi, seperti komputer, telepon genggam dan tablet.

    Karakter media sosial adalah membentuk jaringan di antara

    penggunanya. Tidak peduli apakah di dunia nyata (offline) antar pengguna

    itu saling kenal atau tidak, namun kehadiran media sosial memberikan

    medium bagi pengguna untuk terhubung secara mekanisme teknologi.

    Jaringan yang terbentuk antar pengguna ini pada akhirnya membentuk

    komunitas atau masyarakat secara sadar maupun tidak dan memunculkan

    nilai-nilai yang ada di masyarakat sebagaimana ciri masyarakat dalam teori-

    teori sosial. Walaupun jaringan sosial di media sosial terbentuk melalui

    perangkat teknologi, internet tidak sekedar alat (tools). Internet juga

    memberikan kontribusi terhadap munculnya ikatan sosial di internet, nilai-

    nilai dalam masyarakat virtual, sampai pada struktur sosial secara online.

    Informasi menjadi identitas penting dari media sosial. Pada internet,

    pengguna media sosial mengkreasikan representasi identitasnya,

    memproduksi konten, dan melakukan interaksi berdasarkan informasi.

  • 15

    Informasi diproduksi, dipertukarkan, dan dikonsumsi yang menjadikan

    informasi komoditas bernilai (Margaretha: 2011)

    Informasi di media sosial bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, media

    sosial merupakan medium yang bekerja berdasarkan informasi. Dari sisi

    institusi, media sosial dibangun berdasarkan informasi yang dikodekan

    (ecoding) yang kemudian didistribusikan melalui berbagai perangkat sampai

    terakses ke pengguna (decoding). Dari sisi pengguna, informasi menjadi

    landasan pengguna untuk saling berinteraksi dalam membentuk masyarakat

    berjejaring di internet. Kedua, informasi menjadi komoditas yang ada di

    media sosial setiap orang yang ingin masuk ke media sosial harus

    menyerahkan informasi pribadinya terlepas data itu asli atau dibuat–buat

    untuk memiliki akun dan akses. Data yang diunggah ini menjadi komoditas

    yang dari sisi bisnis bisa diperdagangkan. Data ini pula yang menjadi

    representasi identitas dari pengguna.

    Bagi pengguna media sosial, arsip menjadi sebuah karakter yang

    menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa diakses kapanpun dan

    melalui perangkat apapun. Inilah kekuatan media sosial, sebagai bagian dari

    media baru, yang tidak hanya bekerja berdasarkan jaringan dan informasi

    semata, tetapi juga memiliki arsip dalam kerangka teknologi komunikasi,

    arsip mengubah cara menghasilkan, mengakses hingga menaruh informasi.

    Arsip di dunia maya tidak hanya dipandang sebagai dokumen resmi semata

    yang tersimpan. Arsip di internet tidak pernah benar-benar tersimpan, ia

  • 16

    selalu berada dalam jaringan, terdistribusi sebagai sebuah informasi, dan

    menjadi mediasi antara manusia mesin dan sebagainya.

    Karakter dasar dari media sosial adalah terbentuknya jaringan antar

    pengguna, juga terbangun interaksi antar pengguna tersebut. Interaksi dalam

    kajian media merupakan salah satu pembeda antara media lama (old media)

    dengan media baru (new media). Dalam konteks ini, David Holmes (2005)

    menyatakan bahwa dalam media lama pengguna atau khalayak yang pasif

    dan cenderung tidak mengetahui yang satu dengan lainnya, sementara di

    media baru pengguna bisa berinteraksi, baik diantara pengguna itu sendiri

    maupun dengan produser konten media.

    Pada media sosial interkasi yang ada memang menggambarkan bahkan

    mirip dengan realitas, akan tetapi interaksi yang terjadi adalah simulasi dan

    terkadang berbeda sama sekali. Di media sosial identitas menjadi cair dan

    bisa berubah-ubah. Perangkat pada media sosial memungkinkan siapapun

    untuk menjadi siapa saja, bahkan bisa menjadi pengguna yang berbeda sekali

    dengan realitanya seperti pertukaran identitas jenis kelamin, hubungan

    perkawinan sampai foto profil (Nasrullah, 2015 :28).

    Karakteristik media sosial lainya adalah konten oleh pengguna atau

    lebih popular disebut User – Generated Content ( UGC ). Term ini

    menunjukan bahwa di media sosial konten sepenuhnya milik dan

    berdasarkan kontribusi pengguna atau pemilik akun. UGC merupakan relasi

    simbiosis dalam budaya media baru yang memberikan kesempatan dan

  • 17

    keleluasaan pengguna untuk berpartisipasi (Nasrullah,2015:31) Situasi ini

    jelas berbeda jika dibandingkan dengan media lama (Tradisional ) dimana

    khalayaknya sebatas menjadi objek atau sasaran yang pasif dalam distribusi

    pesan. Media baru, termasuk media sosial, menawarkan perangkat atau alat

    serta teknologi baru yang memungkinkan khalayak (konsumen) untuk

    mengarsipkan, memberi keterangan, menyesuaikan, dan menyirkulasi ulang

    konten media dan ini membawa pada kondisi produksi media yang Do – It –

    Yourself (Nasrullah,2015:31).

    Penyebaran (share/ sharing) merupakan karakter lainnya dari media

    sosial. Medium ini tidak hanya menghasilkan konten yang dibangun dari dan

    dikonsumsi oleh penggunanya, tetapi juga didistribusikan sekaligus

    dikembangkan oleh penggunanya. Praktik ini merupakan ciri khas dari

    media sosial yang menunjukan bahwa khalayak aktif menyebarkan konten

    sekaligus mengembangkannya.Maksud dari pengembangan ini adalah

    konten yang ada mendapatkan, misalnya, komentator yang tidak sekedar

    opini, tetapi juga data atau fakta terbaru (Nasrullah, 2015 : 33 ).

    Tujuan orang bermedia sosial ini yang paling mencolok di Indonesia

    adalah untuk berkomunikasi dan berbagi informasi. Selain itu, untuk

    mengekspresikan diri (self expression) dan pencitraan diri (personal

    branding) (Roesma dan Mulya, 2018: 20). Media sosialpun semakin

    popular. Melalui media sosial orang saling bertukar informasi dan hiburan.

    Informasi mengenai peristiwa aktual yang belum disajikan di media massa

  • 18

    sudah tersaji di media sosial. Foto peristiwa dengan mudah tersebar ke

    banyak orang. Informasi suatu kejadian juga menyebar dengan mudah

    melalui media sosial. Banyak orang menggantungkan kebutuhan

    informasinya pada media sosial karena kecepatannya, bukan karena akurasi

    dan kelengkapan informasinya.

    Media sosial memang mengubah bagaimana kita hidup. Sekarang ini

    semakin lumrah orang mengirimkan undangan perkawinan dalam bentuk

    foto melalui media sosial. Undangan rapat juga sering disampaikan melalui

    media sosial. Dalam banyak cara, kita semakin terbiasa menggunakan media

    sosial. Banyak kepala pemerintah juga memanfaatkan media sosial untuk

    memperoleh informasi muthakir dan factual dari warga masyarakat. Mereka

    juga memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan himbauan, perintah

    maupun mempersuasi masyarakat. Sebaliknya masyarakat juga biasa

    menyampaikan kritik ataupun saran melalui media sosial. Dalam konteks ini

    media sosial menjadi alat kontrol bagi kekuasaan.

    Media sosial sebagaimana media mainstream memiliki empat peran

    penting, yaitu (1) sebagai alat kontrol sosial, (2) sebagai amanat hati nurani

    rakyat (3) sebagai alat perjuangan, dan ($) sebagai pembentuk opini publik

    (Ruses, 2005). Sebagai alat kontrol sosial, berarti media dalam skala mikro

    harus berani melakukan kontrol terhadap kekuasaan, maksudnya media

    harus mampu membuat masyarakat kritis terhadap jalannya pembangunan

    dan pemerintahan, yang salah diluruskan, yang tidak benar perlu

  • 19

    diungkapkan agar diperbaiki. Adanya ketidakpuasan, ketidakjujuran atas

    pendapat maupun suatu kondisi bisa dengan mudah disuarakan melalui

    media, apalagi media sosial. Hal ini karena berbeda dengan media

    konvensional, peran media sosial lepas dari kendali sensor pemerintah dan

    menyebar dari satu akun ke akun lain dengan mudahnya tanpa bisa

    dikendalikan oleh apapun (Ibrahim dan Iriantara, 2017: 220).

    Sebagai amanat hati nurani rakyat, maksudnya media harus bisa

    memperjuangkan kepentingan rakyat yang menderita dsan tertindas. Artinya

    media harus mampu mengartikulasikan setiap persoalan yang dihadapi

    masyarakat. Hanya dngan berupaya menyuarakan apa yang menjadi amanat

    masyarakat, media bisa berperan menyuarakan suara hati rakyat. Khususnya

    media sosial akan lebih mudah mengekspresikan apa yang diinginkan

    masyarakat.

    Sebagai alat perjuangan maksudnya media harus bisa berperan sebagai

    alat perjuangan bagi masyarakat untuk mengatasi ketidakadilan, kemiskinan,

    kebodohan, kepalsuan, manipulasi, dan lain-lain. Media harus kritis dan

    objektif menyikapi semua situasi, tidak boleh mengorbankan masyarakat

    kecil.

    Sebagai pembentuk opini publik, maksudnya media harus bisa

    membangun kesadaran dan pendidikan kepada publik dengan kesadaran

    tersebut diharapkan bisa menuntun publik menyelesaikan masalah yang

  • 20

    dihadapi, atau setidak-tidaknya memiliki opini atau pendapat tertentu

    terhadap suatu masalah. Opini dan pendapat publik tersebut bila cukup kuat

    akan mempengaruhi pengambilan keputusan.

    Hal ini menunjukan media termasuk media sosial pertama-tama dan

    utama harus media komunikasi. Melalui medsos tersebut orang harus bisa

    saling bertukar informasi dan hiburan. Dewasa ini sering sekali terjadi

    informasi mengenai peristiwa aktual muthakir yang belum disajikan di

    media massa tetapi sudah tersaji di media sosial. Demikian pula informasi

    atas suatu kejadian juga menyebar dengan mudah dan cepat melalui media

    sosial. Akibatnya banyak orang menggantungkan kebutuhan informasi pada

    media sosial bukan karena akurasi dan kelengkapan informasinya, melainkan

    karena kecepatannya.

    Selain itu, media sosial juga harus berperan sebagai media pendidikan

    atau media pendidikan. Maksudnya, melalui media sosial Orangtua/ Guru/

    Pemerintah akan mengajarkan banyak hal yang dibutuhkan generasi muda,

    sehingga generasi muda bisa belajar banyak hal melalui media sosial.

    Sebaliknya, melalui media sosial juga para orang yang dituakan bisa belajar

    mengetahui apa yang diinginkan oleh generasi muda sehingga bisa

    memberikan pendidikan dan pembinaan yang terbaik.

  • 21

    Selanjutnya, melalui medsos masyarakat dibina dan dididik untuk

    dapat memanfaatkan IPTEK dan berbagai kemajuannya secara baik dan

    benar. Hal itu menunjukkan bahwa melalui medsos generasi muda dapat

    dengan mudah dipersuasi agar bersikap dan berprilaku sesuai dengan yang

    dilakukan. Dalam hal ini agar masyarakat dapat berpendapat atau beropini

    terhadap setiap masalah yang dihadapi.

    Kaplan dan Haenlein dalam Roesma dan Mulya (2018: 22)

    mengelompokan medsos atas beberapa jenis, antara lain : (1) Proyek

    kolaborasi, yaitu website yang mengizinkan user mengubah, menambah,

    atau menghilangkan konten, Contohnya Wikipedia, (2) Blog dan microblog,

    sebagai ajang ekspresi diri seperti twitter dan blogspot. (3) Konten, yaitu

    medsos yang bertujuan mengunggah konten seperti foto, video, musik, e-

    book, dan lain-lain, seperti youtube, pinterest, dan snapchat. (4) Jejaring

    sosial, yang bertujuan untuk bersosialisasi atau menjalin jejaring, dengan

    mengunggah konten pribadi seperti foto dan video. Ini bisa ditemukan di

    Facebook, Path dan Instagram. (5) Virtual game world, bagi para gamer,

    pengalaman bermain langsung dalam dunia virtual dan berinteraksi dengan

    gamer lain dalam bentuk avatas, dan (6) Virtual social world, sama seperti

    virtual game world namun lebih luas lagi, contohnya second life.

    c) Pengaruh Media sosial

  • 22

    Dalam media sosial, konten merupakan komoditas bisnis. Pada era

    digital, informasi merupakan produk yang menjadi komoditas unik dan

    berbeda dengan produk yang selama ini dikenal dalam pasar tradisional

    termasuk bagaimana komunitas digital itu dikonsumsi. Sebab, mengonsumsi

    komoditas digital, dalam hal ini informasi di perlukan apa yang disebut

    Work Of Consumption bahwa kualitas dan kuantitas dari aktivitas kerja dan

    pelibatan atas kemampuan, keahlian, atau kompetensi khalayak (users)

    tertentu akan mempengaruhi hasil kerja konsumsi tersebut. Work Of

    Consumption pada dasarnya juga akan melahirkan material baru terhadap

    informasi tersebut. Hal ini menunjukan bahwa saat khalayak mengonsumsi

    informasi ia juga pada dasarnya tengah melakukan Work of production

    dengan pengertian bahwa khalayak dalam posisi aktif ( Nasrullah, 2015 :

    97).

    Kerja konsumsi dan produksi komoditas digital bias dicontohkan

    dalam media sosial. Sebuah cuitan (tweet) yang diproduksi oleh pengguna

    akun tersebar dan masuk kedalam timeline atau kronologi yang bias dibaca

    oleh pengakses dan telah terhubung dengan pengguna tadi. Cuitan di twitter

    adalah komoditas yang tidak habis terkonsumsi sebagaimana materi dalam

    pengertian konsumsi material. Ketika cuitan itu ditanggapi (retweet) oleh

    pengakses, komoditas itu menjadi produk atau material baru. Sirkulasi ini

    disebut work in progress sebagai sebuah konsep yang menjelaskan adanya

  • 23

    upaya ketika khalayak di media sosial mengonsumsi sekaligus memproduksi

    ulang informasi yang dikomsumsinya.

    Terpusatnya konten di media sosial ke arah khalayak, sebagai produksi

    maupun sekaligus konsumen, memberikan kesadaran baru tentang daya

    tawar dan posisi khalayak dengan media sosial. Khalayak pada media sosial

    bisa dikatakan tidak sebagai khalayak yang prosumer yang utuh dan murni.

    Khalayak dalam media sosial dalam pandangan kritis bisa ditempatkan

    sebagai pekerja digital sukarela atau digital free labour (Fuchs, 2014). Ada

    kenyataan dibawah alam sadar pengguna bahwa media sosial beroperasi

    dengan cara halus untuk memberdayakan pengguna sebagai pekerja digital.

    Pemanfaatan khalayak oleh media sosial juga bisa dianggap sebagai

    komodifikasi sebuah konsep yang bisa dimaknai sebagai proses perubahan

    nilai guna menjadi nilai tukar. Komodifikasi budaya di media sosial ini biasa

    dilihat dari bagaimana pengguna merasa terhibur dengan kehadiran media

    sosial padahal ia membayar akses terhadap media sosial dalam bentuk

    berapa byte yang dihabiskan selama mengakses melalui koneksi internetnya.

    Juga, konten yang diproduksi di media sosial adalah komoditas yang bisa

    dimanfaatkan oleh industri lain, tidak hanya industri media sosial, tetapi juga

    pihak pengiklan dan perusahaan perusahaan yang memanfaatkan media

    sosial demi menggapai khalayak.

    Media sosial memberikan ruang kepada pengguna untuk menyuarakan

    pikiran dan opininya dalam proses demokratisasi. Perangkat yang ada di

  • 24

    media sosial seolah- olah memberikan panggung kepada pengguna sebagai

    warga negara untuk turut serta menyampaikan apa yang menjadi perhatian

    mereka yang selama ini tidak terdengar (Nasrullah, 2015 : 128).

    Hal ini menunjukan peran media sosial sebagai penyalur aspirasi. Hal

    ini menjadi lebih memungkinkan karena media sosial tidak serumit media

    konvensional yang mempunyai mekanisme tersendiri, yang justru kadang

    sulit ditembus.

    Ruang virtual di internet memang mendorong munculnya budaya

    politik. Di media sosial mereka akan lebih bebas menyampaikan aspirasi dan

    kritiknya. Hal ini tidak terlepas karena dimedia sosial tidak berlaku hirarki

    sebuah isu bisa dikreasikan oleh siapa saja dan didiskusikan menjadi topik

    perdebatan yang boleh diikuti oleh siapapun.

    3) Generasi Muda

    Rifai (2004) mengartikan generasi muda sebagai pemuda atau pemudi

    yang berada pada masa perkembangan yang disebut “adolosensi“ (masa

    menuju kedewasaan). Masa ini merupakan suatu tahap perkembangan dalam

    kehidupan manusia, di mana tidak lagi dikategorikan sebagai anak-anak tetapi

    belum dikategorikan sebagai orang dewasa.

    Gunarsa dan Gunarsa (2006) mengartikan masa muda sebagai masa

    peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa muda adalah

    suatu masa dari umur kehidupan seorang manusia yang paling banyak

    mengalami perubahan yang membawa individu beralih dari masa anak-anak

  • 25

    menuju masa dewasa. Perubahan-perubahan terjadi meliputi aspek jasmani,

    rohani, pikiran, perasaan dan aspek sosial. Perubahan-perubahan pada aspek

    yang satu tentunya disertai perubahan-perubahan pada aspek yang lainnya.

    Masa muda ini merupakan periode yang sangat penting dalam siklus

    perkembangan seseorang, karena perkembangan pada masa ini sangat

    menentukan perkembangan pada masa-masa selanjutnya.

    Herdiansiska dan Ediana (2009) menggariskan bahwa ada tujuh aspek

    perkembangan pemuda. Ketujuh aspek tersebut meliputi (1) Perkembangan

    kepribadian, (2) Perkembangan identitas diri, (3) Perkembangan sosial, (4)

    Perkembangan emosi, (5) Perkembangan kognitif, (6) Perkembangan moral,

    dan (7) Perkembangan peran seks. Kepribadian adalah susunan sistem-sistem

    psikofisik yang dinamis dalam diri suatu individu yang menentukan

    penyesuaian individu yang unik terhadap lingkungan (Hurlock, 2006). Aspek

    perkembangan kepribadian pemuda yang terpenting adalah konsep diri.

    Konsep diri merupakan gambaran pemuda tentang dirinya, yang meliputi

    penilaian diri, penilaian sosial dan citra diri. Penilaian diri mengandung arti

    bahwa pemuda mengetahui keinginan atau dorongan dari dalam dirinya.

    Penilaian sosial mengandung arti bahwa pemuda mampu mengevaluasi

    penilaian sosial terhadap dirinya. Citra diri menunjuk pada “siapa saya?”,

    ”saya ingin menjadi apa?”, dan “bagaimana orang lain memandang atau

    menilai saya?” keberhasilan pemuda dalam mengembangkan kepribadiannya

    akan sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan, pengalaman awal dalam

  • 26

    lingkungan keluarga, dan pengalaman-pengalaman dalam kehidupan

    selanjutnya.

    Perkembangan identitas diri adalah kemampuan dalam menjalankan

    peran-peran social menurut jenis kelamin masing-masing. Maksudnya,

    mampu dan mau menerima jenis kelamin secara kodrati sehingga mempunyai

    perasaan puas terhadap diri sendiri, mempelajari dan menerima peran masing-

    masing sesuai dengan ketentuan dan norma-norma masyarakat.

    Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berprilaku yang

    sesuai dengan tuntutan sosial.

    Pada masa muda terjadi perluasan area sosial. Pemuda mulai

    memperluas nilai sosialnya dengan teman sebaya, karena dorongan yang kuat

    untuk bergaul dengan orang lain dan ingin diterima orang lain khususnya

    yang sebaya (Hurlock, 2006). Ciri khas kelompok pemuda ini adalah gejala

    selalu ingin menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok sebaya.

    Perkembangan emosi sangat berperan dalam penyesuaian pribadi dan

    sosial. Perkembangan emosi dikendalikan oleh proses pematangan dan proses

    belajar. Beberapa ciri perkembangan emosi pemuda, antara lain : (1) Emosi

    lebih banyak bergejolak dan biasanya diekspresikan secara meledak-ledak, (2)

    Kondisi emosi berlangsung cukup lama, (3) jenis-jenis emosi mudah lebih

    bervariasi, (4) mulai muncul ketertarikan terhadap lawan jenis yang

    melibatkan emosi dan (5) sangat peka terhadap cara orang lain memandang

    dirinya sehingga menjadi mudah tersinggung dan malu (Hurlock, 2006).

  • 27

    Pemuda memiliki perkembangan Kognitif berupa kemampuan berpikir

    secara abstrak, idealis, dan logis. Kemampuan demikian membuat pemuda

    kritis dan rasional, memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan egosentris

    (Gunarsa dan Gunarsa, 2006).

    Perkembangan moral adalah perkembangan perilaku yang sesuai

    dengan tuntutan moral kelompok sosial. Perkembangan moral generasi muda

    terdiri dari dua tahap, yaitu (1) tahap realism moral atau moralitas

    pembatasan dan (2) tahap moralitas otonomi atau moralitas oleh kerjasama/

    hubungan timbal balik (Hurlock, 2006)

    Perkembangan seks adalah gabungan sejumlah sifat yang oleh

    seseorang diterima sebagai karakteristik pria dan wanita dalam budayanya.

    Perkembangan peran seks pemuda mencakup pembentukan hubungan baru

    dan yang lebih matang dengan lawan jenis. (Hurlock, 2006).

    F. Kerangka Pikir

    Dalam UU No.6 Tahun 2014 Tentang Desa, pasal 18 disebutkan

    bahwa kewenangan desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan

    Pemerintah Desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan

    kemasyarakatan desa dan pemberdayaan masyarakat desa berdasarkan

    prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat. Salah satu bentuk

    perwujudan pembinaan kemasyarakatan desa dan pemberdayaan masyarakat

    desa adalah pembinaan dan pengembangan generasi muda. Pemerintah desa

    jelas berkewajiban melakukan pembinaan dan pengembangan generasi muda.

  • 28

    Medsos, dalam era digital seperti sekarang sudah bukan menjadi

    barang asing lagi melainkan keseharian bagi generasi muda. Hampir mustahil

    memisahkan kehidupan dan keseharian generasi muda dengan medsos. Oleh

    karena itu pemerintah desa perlu memanfaatkan medsos sebagai sarana

    pembinaan dan pengembangan generasi muda. Hal itu tidak terlepas dari

    fungsi atau peran medsos baik sebagai media komunikasi, media pendidikan,

    media opini publik dan media control.

    Melalui pemanfaatan medsos tersebut akan ditelaah pengaruhnya

    terhadap komunikasi baik antargenerasi muda maupun antara generasi muda

    dengan yang dituangkan. Apakah dengan medsos tersebut informasi menjadi

    lebih akurat dan terpercaya, dan bagaimana hal itu berdampak pada tingkat

    partisipasi generasi muda dalam pembangunan desa.

    Dari kerangka pikir demikian, dapat digambarkan korelasi antar

    bagiannya sebagai berikut.

    Gambar. 1. Kerangka Pikir

    Pemerintah Desa

    PembinaanKemasyrakatanDesa

    PemberdayaanMasyarkat Desa

    Medsos

    Mediakomunikasi

    Mediapendidikan

    Media opinipublik

    Media kontrol Tingkat partisipasimeningkat

    Informasi akurat

    Komunikasi lancar

    Generasi Muda

  • 29

    G. Metode Penulisan

    1. Jenis penelitian

    Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif – kualitatif, suatu tipe

    penelitian yang bukan dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi

    hanya menggambarkan mengenai suatu gejala, keadaan, atau fenomena

    tertentu (Widodo dan Mukthar, 2008).

    Penelitian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan infomasi mengenai

    status suatu tema, gejala atau keadaan yang ada yaitu keadaan, gejala, atau

    fenomena menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.

    2. Lokasi dan waktu Penelitian

    Penelitian ini dilakukan di Desa Trimurti, salah satu desa di Kecamatan

    Srandakan, Kebupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

    Desa ini dipilih karena sepengetahuan peneliti di desa ini pemerintahan

    desanya sudah terbiasa memanfaatkan medsos sebagai media komunikasi

    dan media pendidikan bagi pemberdayaan masyarakat khususnya pembinaan

    dan pengembangan generasi mudanya. Selain itu karena pemerintahaan Desa

    Trimurti secara informal telah menyatakan kesediaanya untuk dijadikan

    lokasi penelitian. Waktu penelitian bulan November 2018 sampai dengan

    bulan Desember 2018.

  • 30

    3. Data dan Sumber Data

    a. Data primer berupa infomasi dari narasumber.

    b. Data sekunder berupa arsip dan studi kepustakaan.

    4. Teknik Pengumpulan Data

    a. Studi Kepustakaan

    Suatu teknik pengumpulan data dengan memanfaatkan kepustakaan yang

    ada yang membahas topik yang ditelaah

    b. Observasi

    Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti

    dengan melakukan pengamatan atas peristiwa-peristiwa dan gejala sesuai

    dengan indra peneliti

    c. Wawancara Mendalam

    Wawancara mendalam adalah suatu teknik pengumpulan data dengan

    cara mengadakan tanya jawab secara langsung dengan para narasumber.

    Dalam hal ini pertanyaan diajukan secara terstruktur dan stematis

    berdasarkan tujuan penelitian.

    d. Dokumentasi

    Dokumentasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara

    menganalisis dokumen – dokumen yang ada kaitannya dengan objek

    penelitian.

  • 31

    5. Penelitian Informasi/ Narasumber

    Teknik penelitian informan/ narasumber menggunakan teknik sampling

    purposive (Furqom, 2012). Maksudnya penentuan informan dilakukan oleh

    peneliti sendiri dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang dimaksud

    bahwa yang terpilih sebagai informan adalah yang tahu bagaimana peranan

    media sosial sebagai media komunikasi dan informasi dalam pengembangan

    dan pemberdayaan generasi muda di Desa Trimurti.

    Atas dasar pertimbangan tersebut yang dipilih sebagai informan adalah

    generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna di Desa Trimurti, serta

    pihak-pihak yang terkait dalam pengembangan dan pemberdayaan generasi

    muda, yaitu Pemerintah Desa dan Tokoh Masyarakat Desa Trimurti. Jumlah

    informan yang dipilih sebanyajk 10 orang, terdiri dari empat(4) oranfg

    perwakilan Karang Taruna, dan enam (6) orang perwakilan Pemerintah Desa

    dan tokoh masyarakat.

    6. Teknik Analisis Data

    Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif –

    kualitatif. Analisis data kualitatif dilakukan dengan cara mencari data,

    mengorganisasikan data, memilah – milahkan menjadi satuan yang dapat

    dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa

    yang penting dan apa yang dicari, dan memutuskan apa yang akan

    dipaparkan kepada pembaca (Moleong, 2007). Proses analisis data kualitatif

    meliputi :

  • 32

    1. Mencatat data – data yang diperoleh dari berbagai sumber data.

    2. Mengumpulkan, memilah – milah mengklarifikasikan, mensistesiskan

    membuat ikhtisar, dan membuat indeks.

    3. Menganalisis sehingga diperoleh berbagai temuan.

  • 33

    BAB II

    PROFIL DESA TRIMURTI

    Penelitian ini dilaksanakan di Desa Trimurti, salah satu desa dari antara dua

    desa yang terletak dalam wilayah Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Provinsi

    Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam bab ini akan dibahas profil Desa

    Trimurti, desa yang terletak di ujung barat Kabupaten Bantul, dan berbatasan

    langsung dengan Kabupaten Kulon Progo.

    A. Kondisi Geografis Desa Trimurti

    Desa Trimurti adalah salah satu desa di Kecamatan Srandakan, selain Desa

    Poncosari. Desa ini memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

    a. Utara : berbatasan dengan Kali Progo dan Kabupaten Kulon Progo

    b. Selatan : berbatasan dengan Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan

    c. Barat : berbatasan dengan Kali Progo dan Kabupaten Kulon Progo

    d. Timur : berbatasan dengan Desa Triharjo dan Desa Caturharjo,

    Kecamatan Pandak

    Desa Trimurti yang Ibukotanya/ pusat pemerintahannya terletak di jalan Raya

    Srandakan, secara orbitusi, jaraknya dari pusat pemerintahan kecamatan (Kecamatan

    Srandakan) ± 0,15 km, sedangkan jaraknya dengan ibukota provinsi (Provinsi DIY)

    adalah ± 25 km. Desa Trimurti adalah desa yang terletak di daerah dataran rendah,

    terletak pada ketinggian ± 15 meter di atas permukaan laut (mdpl). Hampir sebagian

    besar wilayahnya merupakan dataran, hanya sebagian kecil merupakan perbukitan.

  • 34

    Sebagaimana daerah tropis lainnya, suhu harian di Desa Trimurti berkisar

    antara 22o – 37oC. Curah hujannya setiap tahun cukup tinggi mencapai 1.000 mm/

    tahun. Desa Trimurti ini mempunyai luas wilayah 618.8313 hektar, dengan

    peruntukan sebagai berikut:

    Tabel II.1. Luas Desa Trimurti dan Peruntukannya

    No Peruntukan Jumlah(Ha)

    Presentase

    1. Tanah Sawah 156.4213 25,282. Tanah Kering 420.6724 67,983. Tanah Basah 6.0662 0,984. Tanah Fasilitas Umum 3.8378 0,625. Lainnya 31.8436 5,14

    Total 618.8313 100Sumber: Monografi Desa Trimurti (2016)

    Tabel II.1 memperlihatkan bahwa sebagian besar wilayah Desa Trimurti

    merupakan tanah kering yang dimanfaatkan untuk tempat tinggal, pekarangan, dan

    tegalan (67,98%). Lainnya, untuk persawahan (25,28%), artinya lahan persawahan di

    Desa Trimurti relatif masih cukup luas. Sisanya dimanfaatkan untuk fasilitas umum

    (0,62%) dan lainnya (5,14%).

    B. Kondisi Demografis Desa Trimurti

    Menurut Monografi Desa Trimurti (2016) jumlah penduduk Desa Trimurti

    adalah 18.495 orang, dan terdiri atas 5.788 Kepala Keluarga (KK). Distribusi

    penduduk tersebut berdasarkan jenis kelamin, usia, dan sebagainya diperlihatkan di

    bawah ini.

    HALAMAN JUDULHALAMAN PERNYATAANHALAMAN PENGESAHANMOTTOHALAMAN PERSEMBAHANKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUANA.Latar BelakangB.Rumusan MasalahC.Tujuan PenelitianD.Manfaat PenelitianE.Tinjauan PustakaF.Kerangka PikirG.MetodePenulisan

    BAB II PROFIL DESA TRIMURTIA.Kondisi Geografis Desa TrimurtiB.Kondisi Demografis Desa TrimurtiC.Sarana dan Prasarana Desa TrimurtiD.Struktur Pemerintahan Desa TrimurtiE.Struktur Karang Taruna Desa Trimurti

    BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA.Identitas InformanB.Hasil Penelitian

    BAB IV KESIMPULAN DAN SARANA.KesimpulanB.Saran

    DAFTAR PUSTAKA