Click here to load reader

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM, LEVERAGE, · PDF fileMetode pemilihan sampel adalah purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dengan teknik pengumpulan

  • View
    215

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM, LEVERAGE, · PDF fileMetode pemilihan sampel adalah...

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM, LEVERAGE, PROFITABILITAS,

UKURAN DEWAN KOMISARIS DAN PERTUMBUHAN PERUSAHAAN TERHADAP

PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PADA PERUSAHAAN

MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2013-2015

Hj. Asmaul Husna, SE.Ak., MM., CA; H. Achmad Uzaimi, SE.Ak., M.Si; Rizky Trisna

Fakultas Ekonomi

Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH)

Tanjungpinang, Kepulauan Riau

2017

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah struktur kepemilikan

saham, leverage, profitabilitas, ukuran dewan komisaris dan pertumbuhan perusahaan

berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility

Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia tahun 2013-2015 dengan total populasi sebanyak 148 perusahaan. Metode pemilihan

sampel adalah purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dengan

teknik pengumpulan data secara pustaka dan dokumentasi. Sampel yang diambil sebanyak 12

perusahaan setiap tahunnya. Metode penelitian ini adalah kuantitatif. Analisis yang digunakan

adalah regresi berganda dengan diolah menggunakan program komputer SPSS versi 20 untuk

melakukan pengujian hipotesis.

Berdasarkan hasil analisis data, penelitian ini menemukan hasil bahwa kepemilikan

institusional, kepemilikan asing, leverage, profitabilitas, dan pertumbuhan perusahaan tidak

berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Ukuran dewan komisaris

berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Kata Kunci : pengungkapan corporate social responsibility, kepemilikan institusional,

kepemilikan asing, leverage, profitabilitas, ukuran dewan komisaris dan pertumbuhan

perusahaan.

PENDAHULUAN

Sejak DPR mengesahkan tanggung jawab sosial dan lingkungan atau lebih dikenal

dengan sebutan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai kewajiban perseroan dalam Pasal

74 Undang-undang No. 40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (UUPT) pada 20 juli 2007,

isu CSR bagaikan bola liar yang menjadi sumber polemik antara kalangan pelaku usaha dengan

pemerintah dan DPR. Pro-kontra terkait CSR sebagai kewajiban perseroan hingga kini tak

kunjung selesai (Lako, 2011).

Namun di sisi lain, DPR dan pemerintah tetap tidak bergeming menghadapi penolakan

itu. DPR dan pemerintah bersikeras Corporate Social Responsibility (CSR) harus tetap menjadi

kewajiban perseroan. Alasannya, perseroan dalam melakukan aktivitas bisnis dan mengeruk

keuntungan telah menimbulkan dampak-dampak negatif yang merugikan masyarakat serta

lingkungan. Semakin meningkatnya jumlah penduduk miskin dan kerusakan lingkungan diduga

karena dipicu oleh ulah perilaku bisnis yang tidak etis atau tidak ramah sosial dan lingkungan.

Sementara itu, manfaat yang diterima Negara dari perseroan dalam bentuk pajak, suplai barang

dan jasa, penyediaan lapangan kerja, dan lainnya jauh lebih kecil dibanding pengorbanan Negara

untuk mengatasi serta merehabilitas masalah-masalah sosial dan lingkungan (Lako, 2011).

Berbagai penelitian terdahulu mengenai corporate sosial responsibility sudah pernah

dilakukan dengan melihat pengaruh dari kriteria struktur kepemilikan dan dari karakteristik

perusahaan, namun belum menunjukkan hasil yang konsisten. Variabel dari struktur kepemilikan

yang pernah dilakukakan (Rustiarini, 2014) yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan

institusional dan kepemilikan asing. Namun struktur kepemilikan saham yang digunakan

penelitian ini yaitu kepemilikan institusional dan kepemilikan asing. Karakteristik penilaian

perusahaan menurut (Subiantoro, 2015) yang terdiri dari karakteristik perusahaan, ukuran dewan

komisaris, kepemilikan manajemen. Namun, yang digunakan dalam penelitian ini adalah ukuran

dewan komisaris, profitabilitas, leverage, pertumbuhan perusahaan. Perbedaan penelitian ini

dengan penelitian lain terletak pada variabel, sampel, dan tahun penelitian.

TINJAUAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

Pengertian Tanggung Jawab Sosial (Corporate Social Responsibility)

CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu konsep atau tindakan yang

dilakukan oleh perusahaan sebagai rasa tanggung jawab perusahaan terhadap sosial maupun

lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada, seperti melakukan suatu kegiatan yang dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan menjaga lingkungan, memberikan beasiswa

untuk anak tidak mampu di daerah tersebut, dana untuk pemeliharaan fasilitas umum,

sumbangan untuk membangun desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk

masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada.

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah fenomena dan strategi yang

digunakan perusahaan untuk mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya.

Corporate Social Responsibility (CSR) dimulai sejak era dimana kesadaran akan sustainability

perusahaan jangka panjang adalah lebih penting dari pada sekedar profitability perusahaan.

Pengungkapan Corporate Social Responsibility

Kata pengungkapan memiliki arti tidak menutupi atau tidak menyembunyikan.

Pengungkaapan (disclosure) adalah penyajian sejumlah informasi yang dibutuhkan untuk

pengoperasian secara optimal pasar modal yang efisien (Yuliani, 2014). Pengungkapan dalam

laporan keuangan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (mandatory

disclosure) yaitu, pengungkapan informasi yang wajib dilakukan oleh perusahaan yang

didasarkan pada peraturan atau dasar tertentu, dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure)

yaitu, pengungkapan informasi yang melebihi persyaratan minimum dari peraturan yang berlaku.

Pertanggung jawaban sosial diungkapkan didalam laporan yang disebut Sustaiability

Reporting. Sustaiability Reporting merupakan pelaporan mengenai kebijakan ekonomi,

lingkungan dan sosial, yang mana pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya didalam

konteks pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Sedangkan dalam penelitian ini

mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan pelaporan sosial perusahaan berdasarkan standar

GRI. Global repoting Intiative (GRI) merupakan sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah

mempelopori perkembangan dunia, paling banyak menggunakan kerangka laporan berkelanjutan

dan berkomitmen untuk terus menerus melakukan perbaikan dan penerapan diseluruh dunia.

Kerangka pelaporan GRI ditujukan sebagai sebuah kerangka yang dapat diterima secara umum

untuk melaporkan kinerja ekonomi, lingkungan dan sosial dari organisai.

Struktur Kepemilikan Saham

Kepemilikan Institusional

Investor institusional yang sering disebut sebagai investor yang canggih (sofhisticated

) sehingga seharusnya dapat menggunakan informasi periode sekarang dalam memprediksi laba

masa depan dibandingkan investor non institusional.

Menurut (Yuliani, 2014), kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh

institusi atau lembaga seperti perusahaan, asuransi, bank, perusahaan investasi dan kepemilikan

institusi lain.

Kepemilikan Asing

Kepemilikan asing adalah jumlah yang dimiliki oleh pihak asing (luar negeri) lembaga

terhadap saham perusahaan di Indonesia (Rustiarini, 2014). Sedangkan menurut (Yuliani, 2014),

kepemilikan asing merupakan kepemilikan saham yang dimiliki oleh perusahaan multinasional.

Selama ini kepemilikan asing merupakan pihak yang dianggap concern terhadap pengungkapan

tanggung jawab sosial perusahaan.

Selama ini kepemilikan asing merupakan pihak yang dianggap concern terhadap

pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hal ini kemungkinan dikarenakan perusahaan

asing mendapatkan pelatihan yang lebih dalam bidang akuntansi dari perusahaan induk di luar

negeri, perusahaan asing mungkin memiliki sistem informasi yang lebih efisien untuk memenuhi

kebutuhan internal dan perusahaan induk dan kemungkinan permintaan yang lebih besar pada

perusahaan berbasis asing dari pelanggan, pemasok dan masyarakat umum (Rustiarini, 2014).

Karakteristik Perusahaan

Leverage

Rasio Leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang

(Fahmi, 2011). Biasanya penggunaan rasio solvabilitas (leverage) disesuaikan dengan tujuan

perusahaan. Artinya perusahaan dapat menggunakan rasio leverage secara keseluruhan atau

sebagian dari masing-masing jenis rasio leverage yang ada. Namun variabel pengukuran yang

digunakan untuk penelitian ini yaitu Debt To Asset Ratio (Debt Ratio). Debt Rasio yaitu rasio

total kewajiban terhadap asset. Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan hutang dengan jalan

menunjukkan presentase aktiva perusahaan yang didukung oleh hutang. Rasio ini juga

menyediakan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam mengadaptasi kondisi

pengurangan aktiva akibat kerugian tanpa mengurangi pembayaran bunga pada kreditor.

Profitabilitas

Laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan yang berkaitan dengan besarnya

perusahaan, yang diukur menurut aktiva total yang digunakan, modal jangka panjang

Search related