PENGARUH MODEL DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL ilmiah..pdfآ  matematika, (3) sebagai fasilitator dalam

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENGARUH MODEL DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL ilmiah..pdfآ  matematika, (3) sebagai fasilitator...

  • STKIP-PGRI LUBUKLINGGAU Page 1

    PENGARUH MODEL DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL

    BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 7

    LUBUKLINGGAU TAHUN PELAJARAN 2015/2016

    Oleh:

    Efrina Santya 1 , Anna Fauziah

    2 , Dona Ningrum

    3

    STKIP-PGRI Lubuklinggau

    ABSTRAK

    Skripsi ini berjudul “Pengaruh Model Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar

    Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7 Lubuklinggau”. Rumusan masalah:

    (1) Apakah ada pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar

    matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Lubuklinggau? (2) Bagaimana respon

    siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model discovery

    learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh model

    discovery learning terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP

    Negeri 7 Lubuklinggau, (2) respon siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan

    menggunakan model discovery learning. Jenis penelitian ini adalah eksperimen

    murni dengan desain yang digunakan adalah control gruop pre-test-post-test.

    Hasil penelitian menunjukkan: (1) rata-rata tes akhir kelas eksperimen sebesar

    79,02 dan kelas kontrol sebesar 62,41, (2) respon siswa terhadap model discovery

    learning sangatlah positif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji-t.

    Berdasarkan hasil analisis uji-t pada taraf signifikan 05,0 dapat disimpulkan

    bahwa ada pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar matematika

    siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Lubuklinggau.

    Kata Kunci: Discovery Learning, Hasil Belajar, Respon Siswa.

  • STKIP-PGRI LUBUKLINGGAU Page 2

    A. Latar Belakang

    Mata pelajaran matematika diarahkan untuk mendorong siswa lebih

    berpikir kritis sehingga mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Menurut

    Mulyono (2010:251), masih banyak siswa yang memandang matematika sebagai

    mata pelajaran yang paling sulit. Meskipun demikian, mata pelajaran matematika

    harus dipelajari oleh setiap siswa. Hal ini dikarenakan matematika merupakan

    ilmu dasar yang diperlukan oleh siswa dalam mempelajari mata pelajaran lain.

    Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti

    dengan guru mata pelajaran matematika bahwa di kelas VIII SMP Negeri 7

    Lubuklinggau, diperoleh pada ulangan harian matematika masih banyak siswa

    yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Dari keseluruhan

    siswa kelas VIII sebanyak 235 orang, terdapat 95 siswa (40,43%) yang mencapai

    KKM dan sebanyak 140 siswa (59,57%) yang belum mencapai KKM, sedangkan

    KKM yang telah ditetapkan di sekolah tersebut sebesar 75. Hal ini menunjukkan

    bahwa kemampuan berpikir siswa dalam pembelajaran matematika masih lemah,

    sehingga mereka yang belum mencapai KKM harus mengikuti ujian remedial

    atau perbaikan.

    Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar matematika adalah terletak

    pada proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran konvensional.

    Hal ini juga dapat mempengaruhi kurangnya respon siswa terhadap matematika

    karena munculnya sikap apatis, kurang peduli dan tidak aktif sehingga siswa

    malas untuk diajak berpikir analisis pada materi pembelajaran matematika.

    Berdasarkan kondisi tersebut, maka menyebabkan siswa tidak dapat

    mengembangkan konsep sendiri dalam belajar sehingga memungkinkan siswa

    hanya diberikan ilmu tanpa mereka ketahui dari mana konsep itu didapatkan.

    Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar

    siswa pada pembelajaran matematika, maka guru harus berusaha mencari strategi

    dalam menggunakan model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan materi yang

    sedang dipelajari agar siswa mampu menangkap pelajaran dengan mudah,

  • STKIP-PGRI LUBUKLINGGAU Page 3

    menguasai konsep dan memicu siswa untuk berperan lebih aktif lagi dalam

    kegiatan belajar-mengajar di kelas.

    Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian

    yang berjudul “Pengaruh Model Discovery Learning terhadap Hasil Belajar

    Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7 Lubuklinggau Tahun Pelajaran

    2015/2016.

    Adapun yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah: 1) Apakah

    ada pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar matematika siswa

    kelas VIII SMP Negeri 7 lubuklinggau ? 2) Bagaimana respon siswa terhadap

    pembelajaran matematika dengan menggunakan model discovery learning?

    Kemudian dengan adanya penelitian ini, manfaat yang diharapkan adalah:

    (1) dapat melatih untuk terlibat aktif dalam pembelajaran matematika dan proses

    berpikirnya, (2) dapat meningkatkan pengetahuan guru sebagai solusi alternatif

    model baru dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran

    matematika, (3) sebagai fasilitator dalam mengajarkan suatu materi dengan

    menggunakan model discovery learning.

    B. TEORI

    Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa “belajar matematika

    akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan

    struktur-struktur yang tersebut dalam pokok bahasan yang diajarkan, di samping

    hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur” (dalam

    Suherman, dkk., 2001:44). Menurut Bruner, dengan mengenal konsep dan

    struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan, siswa akan

    memahami materi yang harus dikuasainya itu. Ini menunjukkan bahwa materi

    yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan

    diingat siswa.

    Selanjutnya menurut Suherman, dkk., (2001:21) “matematika sebagai ilmu

    deduktif”. Ini berarti proses pengajaran matematika harus bersifat deduktif.

  • STKIP-PGRI LUBUKLINGGAU Page 4

    Matematika tidak menerima generalilasi berdasarkan pengamatan (induktif),

    tetapi harus berdasarkan pembuktian deduktif. Meskipun demikian untuk

    membantu pemikiran, pada tahap-tahap permulaan sering kali kita memerlukan

    bantuan contoh-contoh khusus atau ilustrasi geometris. Matematika sekolah

    adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di

    Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan Pendidikan Menengah (SMU dan SMK).

    Fungsi mata pelajaran matematika, yaitu sebagai alat, pola pikir, dan ilmu atau

    pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan acuan

    dalam pembelajaran matematika disekolah, terutama di SMP (Sekolah Menengah

    Pertama).

    Ada dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran

    matematika, yaitu pembentukan sifat dengan berpikir kritis dan kreatif. Dua hal

    tersebut harus dipupuk dan ditumbuhkembangkan. Siswa harus dibiasakan untuk

    diberi kesempatan bertanya dan berpendapat, agar siswa dapat belajar aktif

    sehingga diharapkan proses pembelajaran matematika lebih bermakna. Prinsip

    belajar aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan sasaran pembelajaran

    matematika yang kreatif dan kritis.

    Tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar

    siswa. Hasil belajar siswa merupakan tolak ukur yang digunakan untuk

    menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam memahami konsep belajar. Hamalik

    (2008:7) menyatakan bahwa hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan

    melainkan pengubahan kelakuan. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:3), hasil

    belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.

    Menurut Suprijono (2009:5) “hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,

    pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan”. Sedangkan

    menurut Slameto (2010:15), hasil belajar adalah suatu perubahan tingkah laku

    yang secara keseluruhan sebagai pengalamannya sendiri dalam berinteraksi.

    Dalam hasil belajar terdapat tiga aspek yaitu: kognitif, afektif, dan

    psikomotor. Aspek kognitif merupakan pusat dan mempunyai peran yang sangat

  • STKIP-PGRI LUBUKLINGGAU Page 5

    penting dalam pengembangan kurikulum dan pengembangan evaluasi berupa tes.

    Aspek kognitif (Dimyati dan Mudjiono, 2006:26) terdiri dari enam tahap yang

    tersusun mulai dari kemampuan berpikir paling rendah sampai pada kemampuan

    berpikir paling tinggi (kompleks). Keenam tahap tersebut adalah mengingat (C1),

    memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mensintesis (C5), dan

    mengevaluasi (C6). Afektif adalah hal-hal yang berhubungan dengan sikap

    sebagai perwujudan dari minat, motivasi, kecemasan, apresiasi perasaan,

    penyesuaian diri, bakat. Perwujudan dari sikap tersebut dapat bermacam-macam,

    bisa bersikap menerima, memberikan respon, menilai, mengorganisasikan, dan

    karakteristikasi, karena kegiatan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang

    disadari, maka perubahan tingkah laku siswa dalam bidang afektif pun harus

    disadari oleh guru maupun oleh siswa sendiri. Evaluasi bidang afektif

    dikategorikan ke dalam evaluasi non-tes, misalnya angket skala sikap. Daerah

    psikomotorik yang berkenaan dengan keterampilan yang sifatnya fisik.

    Menurut Slameto (2010:54), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

    dibedakan menjadi dua kategori, yaitu faktor inter