PENGARUH GAYA SUPERVISI BIDAN SENIOR …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789... · 2.1.3 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Bidan Desa ... dan kesejahteraan keluarga

  • View
    219

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of PENGARUH GAYA SUPERVISI BIDAN SENIOR …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789... ·...

  • i

    PENGARUH GAYA SUPERVISI BIDAN SENIOR TERHADAP KINERJA

    BIDAN DESA DI KECAMATAN PONDOK AREN TAHUN 2010

    PENELITIAN

    Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Dokter

    Oleh

    Nama : Muhammad Kartika Widianto

    NIM : 107103000904

    Program Studi : Pendidikan Dokter

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2010 M/1431 H

  • ii

    LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

    Dengan ini saya menyatakan bahwa:

    1. Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk

    memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

    sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau

    merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

    sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Ciputat, 8 Oktober 2010

    Muhammad Kartika Widianto

  • iii

    PENGARUH GAYA SUPERVISI BIDAN SENIOR TERHADAP KINERJA

    BIDAN DESA DI KECAMATAN PONDOK AREN TAHUN 2010

    Laporan Penelitian

    Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan

    Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

    Kedokteran (S.ked)

    Oleh

    MUHAMMAD KARTIKA WIDIANTO

    NIM: 107103000904

    Pembimbing

    Prof. DR. dr. H. Sardjana, SpOG(K),SH

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2010

  • iv

    PENGESAHAN PANITIA UJIAN

    Laporan Penelitian berjudul Pengaruh Gaya Supervisi Bidan Senior Terhadap

    Kinerja Bidan Desa Di Kecamatan Pondok Aren Tahun 2010 yang diajukan

    oleh Muhammad Kartika Widianto (NIM:107103000904), telah diujikan dalam

    sidang di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan pada 8 Oktober 2010. Laporan

    penelitian ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

    Kedokteran (S. Ked) pada Program Studi Pendidikan Dokter.

    Jakarta, 8 Oktober 2010

    DEWAN PENGUJI

    Ketua Sidang Pembimbing Penguji

    Prof. DR. dr. H. Sardjana, Prof. DR. dr. H. Sardjana, dr. Ahmad Husein,

    SpOG(K), SH SpOG(K), SH SpOG

    PIMPINAN FAKULTAS

    Dekan FKIK UIN Kaprodi PSPD FKIK UIN

    Prof. Dr.MK. Tadjudin, SpAnd DR. Syarief Hasan Lutfie, Sp. RM.

  • v

    RIWAYAT HIDUP

    Nama : Muhammad Kartika Widianto

    Tempat, Tgl Lahir : Bagan Batu, 9 Juni 1990

    Jenis Kelamin : Laki-Laki

    Agama : Islam

    Status : Belum Menikah

    Alamat : Paket G Harapan Makmur Kecamatan Bagan Sinembah

    Kabupaten Rokan hilir RIAU

    Telpon/Hp : 0812-8494-7909

    Email : [email protected]

    Riwayat Pendidikan:

    - SD : SD Negri 010 Harapan Makmur, Rokan hilir

    - SMP : SMP Negeri 1 Bagan Sinembah, RIAU

    - SMA : SMA Negeri 1 Bagan sinembah, RIAU

    - Universitas : Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan

    Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah,

    Jakarta Selatan

  • vi

    KATA PENGANTAR

    Assalamualaikum wr wb.

    Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan

    karunia-Nya sehingga laporan riset berjudul Pengaruh Gaya Supervisi Bidan

    Senior Terhadap Kinerja Bidan Desa Di Kecamatan Pondok Aren dapat

    diselesaikan dengan baik. Laporan riset ini disusun untuk memenuhi syarat

    memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Dokter pada Program Studi Pendidikan

    Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah.

    Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. DR. dr.

    H. Sardjana, SpOG(K), SH selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu,

    tenaga, pikiran, untuk mengarahkan dan membimbing sejak proposal, pelaksanaan

    penelitian, hingga penyusunan laporan ini.

    Selanjutnya, ucapan terima kasih tak lupa disampaikan kepada kedua orang tua

    tercinta yaitu Ayahanda Warsono dan Ibunda Sumiyati semua saudara kandung

    yang saya sayangi, seluruh staf pengajar atas bekal ilmu pengetahuan, bimbingan

    selama masa kuliah, serta seluruh teman-teman pendidikan dokter angkatan 2007

    yang telah memberikan dukungan selama ini, semoga segala bantuan tersebut

    mendapat balasan dari Allah SWT.

    Tak dapat dipungkiri bahwa penulis hanyalah makhluk ciptaan Allah SWT

    yang tidak sempurna, maka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang

    membangun untuk penyempurnaan hasil laporan penelitian ini.

    Wabillahitaufiq wal hidayah Wassalamualaikum wr wb

    Jakarta, 8 Oktober 2010

    Penulis

  • vii

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

    RISET, 4 Oktober 2010

    MUHAMMAD KARTIKA WIDIANTO, NIM: 107103000904

    JUDUL : PENGARUH GAYA SUPERVISI BIDAN SENIOR

    TERHADAP KINERJA BIDAN DESA DI KECAMATAN

    PONDOK AREN TAHUN 2010

    ABSTRAK

    Gaya Kepemimpinan/Supervisi merupakan suatu cara yang dimiliki oleh

    seseorang dalam mempengaruhi sekelompok orang atau bawahan untuk bekerja

    sama dan berdaya upaya dengan penuh semangat dan keyakinan untuk mencapai

    tujuan yang telah ditetapkan. Keberhasilan suatu organisasi baik sebagai

    keseluruhan maupun berbagai kelompok dalam suatu organisasi tertentu, sangat

    tergantung pada efektivitas kepemimpinan yang terdapat dalam organisasi yang

    bersangkutan. Dapat dikatakan bahwa mutu kepemimpinan yang terdapat dalam

    suatu organisasi memainkan peranan yang sangat dominan dalam keberhasilan

    organisasi tersebut dalam menyelenggarakan berbagai kegiatannya terutama

    terlihat dalam kinerja para pegawainya. Pada pokoknya ada tiga gaya yang utama

    dalam supervisi yakni : gaya supervisi autokrasi, gaya supervisi anarki, dan gaya

    supervisi demokrasi. Gaya supervisi ini digunakan juga oleh bidan senior dalam

    menjalankan tugasnya sebagai supervisor.

    Penelitian ini dimaksud untuk melihat pengaruh gaya supervisi bidan

    senior terhadap kinerja bidan desa did kecamatan Pondok Aren tahun 2010,

    dengan desain penelitian kuantitatif.

  • viii

    Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan nilai pv sebesar 0,0367

    dimana pada 5% menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi bidan yang

    kinerjanya buruk antara yang menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya

    supervisi anarki dengan yang yang menyatakan bahwa bidan senior menggunakan

    gaya supervisi demokrasi. Atau ada pengaruh antara gaya supervise bidan senior

    dengan kinerja bidan. Dan diperoleh nilai OR sebesar 4,750 artinya gaya

    supervise anarki mempunyai kecenderungan untuk mempengaruhi kinerja bidan

    menjadi buruk sebesar 4,750 kali dibandingkan gaya supervisi demokrasi.

    Daftar bacaan : 14 ( 1978-2004)

  • ix

    DAFTAR ISI

    Lembar judul....................................................................................................i

    Lembar Pernyataan Keasliaan Karya...............................................................ii

    Lembar Persetujuan Pembimbing....................................................................iii

    Lembar Pengesahan ........................................................................................iv

    Riwayat Hidup ................................................................................................v

    Kata Pengantar.................................................................................................vi

    Abstrak............................................................................................................vii

    Daftar Isi..........................................................................................................ix

    Daftar Gambar................................................................................................xii

    Daftar Tabel................................................................................................xiii

    Daftar Grafik..............................................................................................xiv

    BAB I PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang............................................................................................1

    1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................4

    1.3 Pertanyaan penelitian..................................................................................4

    1.4 Tujuan Penelitian........................................................................................4

    1.5 Manfaat Penelitian......................................................................................5

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Tinjauan Umum.......................................................................................6

    2.1.1 Pengertian Bidan di desa.................................................................6

    2.1.2 Tujuan Penampilan Bidan di desa..................................................6

  • x

    2.1.3 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Bidan Desa.........................6

    2.1.4 Kegiatan Bidan Desa...................................................................7

    2.1.5 Pembinaan dan Pengawasan............................................................8

    2.2 Landasan Teori........................................................................................9

    2.2.1 Pengertian dan Definisi Supervisi..................................................9

    2.2.2 Gaya Supervisi..............................................................................10

    2.2.3 Kinerja Bidan................................................................................12

    2.2.4 Pelayanan Masyarakat..................................................................12

    2.2.5 Pengaruh Gaya Supervisi Terhadap Kinerja Bidan......................12

    2.3 Kerangka Teori......................................................................................14

    BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

    3.1 Kerangka Konsep.................................................................................15

    3.2 Definisi Operasional.........................................16

    3.3 Hipotesis Penelitian..............................................................................16

    BAB IV METODE PENELITIAN

    4.1 Desain Penelitian......................................................................17

    4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian...17

    4.3 Populasi dan Sampel................................17

    4.3.1 Populasi...................................................................................17

    4.3.2 Besar sampel...............................................................................17

    4.4 Instrumen Penelitian..............................................................................18

    4.5 Prosedur Pengumpulan data..................................18

  • xi

    4.6 Pengolahan dan Analisis Data...........18

    4.7 Analisis Data..................................19

    4.7.1 Analisis Univariat...19

    4.7.2 Analisis Bivariat.19

    BAB V HASIL PENELITIAN

    5.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian.....................................................21

    5.2 Analisis Univariat.....................................................................................22

    5.2.1 Gaya supervisi..................................................................................22

    5.2.2 Kinerja Bidan...................................................................................23

    5.3 Analisis Bivariat.......................................................................................23

    5.3.1 Pengaruh Gaya Supervisi Bidan Senior Terhadap Kinerja Bidan

    Desa......23

    BAB VI PEMBAHASAN

    6.1 Keterbatasan Penelitian............................................................................25

    6.2 Gambaran Gaya Supervisi.......................................................25

    6.3 Gambaran Kinerja Bidan Desa........................................................26

    6.4 Pengaruh Gaya Supervisi Bidan Senior Terhadap Kinerja Bidan Desa..26

    BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

    7.1 Kesimpulan..............................................................................................28

    7.2 Saran............................................................................28

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • xii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1 Suatu proses bimbingan antara pembimbing dan pihak yang

    dibimbing

    Gambar 2.2 Kerangka konsep

  • xiii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 1.1 Tabel Angka Kematian Bayi di Kabupaten Tangerang Tahun 2004-2008

    Tabel 4.1 Definisi operasional

    Tabel 4.2 Kriteria gaya supervisi menurut skor

    Tabel 5.1 Distribusi Responden Menurut Gaya Supervisi

    Tabel 5.2 Distribusi Responden Menurut Kinerja Bidan

    Tabel 5.3 Distribusi Responden Menurut Gaya Supervisi dan Kinerja Bidan

  • xiv

    DAFTAR GRAFIK

    Grafik 1.1 Grafik Jumlah Kematian Ibu did Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun

    2001-2007

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Tujuan pembangunan kesehatan adalah mencapai kemampuan hidup sehat bagi semua

    penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal (Depkes RI, 2004). Untuk

    itu pembangunan kesehatan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang cerdas dan produktif.

    Pembangunan manusia sebagai insan harus dilakukan dalam keseluruhan proses

    kehidupannya, mulai dari dalam kandungan, bahkan jauh sebelumnya yaitu dengan

    memperhatikan tingkat kesejahteraan para calon ibu, kemudian sebagai bayi, balita, usia

    sekolah, remaja, pemuda, usia produktif, sampai pada usia lanjut.

    Salah satu masalah yang dihadapi di Indonesia adalah tingginya angka kematian ibu,

    yang menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2005 Angka Kematian

    Ibu (AKI) sebasar 362/100.000 kelahiran hidup, angka ini lebih tinggi dari AKI di negara-

    negara Asean (Depkes RI, 2005.b)

    Hasil Survei Demografi Kesehatan Ibu (SDKI) tahun 2001 menunjukan bahwa ibu

    yang melahirkan dengan menggunakan dukun bayi sebagi penolong sebesar 63,7% sedangkan

    menurut SKRT tahun 2002 sebesar 65%. Sumber lain dari SDKI tahun 2004 mengenai

    pertolongan pasien juga menunjukan bahwa peranan dukun bayi di pedesaan masih sangat

    besar, yang terlihat dari tingginya cakupan pertolongan persalinan oleh dukun di pedesaan

    sebesar 75,7% di bandingkan dengan daerah perkotaan sebesar 34,2% (Depkes RI,2004.a).

    Sementara itu, berikut ini adalah AKB dan AKI di kabupaten Tangerang.

    Tabel 1. 1 Tabel Angka Kematian Bayi di Kab. Tangerang Th. 2004 - 2008

    Tahun Angka Kematian Bayi

    2006 43

    2007 31,28

    2008 31,28

  • 2

    Grafik 1.1 Grafik Jumlah Kematian Ibu di Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun 2001-

    2007

    Berdasarkan fakta tersebut menunjukkan bahwa bidan yang bertugas belum mampu

    melaksanakan tugas dan fungsinya dengan maksimal. Berdasarkan laporan hasil pemantauan

    di lapangan oleh Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (Pusdiknakes). Bidan di desa belum

    mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik karena pengetahuan dan

    keterampilannya belum memadai. Selain itu dipengaruhi oleh kemampuan juga dipengaruhi

    oleh motivasi.

    Motivasi ini menurut Sugiyono (2004) diperoleh oleh

    1 Kondisi fisik tempat kerja seperti cahaya, temperatur, ventilasi, waktu istirahat,

    keselamatan kerja, musik, tata ruang.

    2 Kebutuhan individu, antara lain aktivitas individu. Tugas administrasi yang di tuntut oleh

    puskesmas, sering tidak bisa diselesaikan dengan baik dengan berbagai faktor.

    3 Kondisi Sosial

    a. Lingkungan tempat kerja, Lingkungan tempat kerja selain geografi dan demografi juga

    hal-hal yang terkait dengan sosialisasi pada masyarakat setempat, sehingga dapat

    menumbuhkan iklim interaksi yang kondusif. Hal ini dapat dipahami mengingat

    kebanyakan bidan yang tempatnya di desa tertentu tidak berasal dari daerah setempat,

    sehingga bahasa sebagai sarana komunikasi, adab kebiasaan masyarakat yang berbeda

    dalam kenyataannya banyak menghambat pelaksanaan tugas bidan (Istiarti T, 2006).

    b. Kesiapan masyarakat menerima bidan desa. Hasil penelitian Istiarti T di Kabupaten

    Semarang (2006), kesiapan masyarakat dalam menerima kehadiran bidan desa di

    Kabupaten Semarang tergantung pada letak wilayah. Di desa-desa yang relatif dekat

    dengan pusat kecamatan atau kota yang jenis pekerjaan penduduknya bervariasi, tidak

    diketahui masalah yang bersangkutan dengan kehadiran bidan desa. Di sebagian desa

    yang dekat dengan puskesmas, fungsi bidan desa kurang diminati oleh warga

  • 3

    setempat. Hal ini disebabkan masyarakat lebih senang memperoleh pelayanan di

    puskesmas karena dokter dan bidanya senior. Di desa-desa yang jauh dan terisolir

    yang lebih homogen dalam pekerjaan dan kulturnya, kehadiran bidan desa masih

    merupakakn sesuatu yang baru. Pola panutan dan minta nasehat tentang kesehatan

    dan kesejahteraan keluarga berubah. Peran para tokoh sedikit tergeser oleh bidan

    desa. Bagi bidan desa yang tinggal di desa-desa terisolir, tugas mereka lebih berat

    karena mereka harus berperan sebagai tokoh yang patut dianut untuk masalah-masalah

    kesehatan. Untuk menghadapi kelancaran tugas pelayanan pada masyarakat terisolir,

    bidan desa dituntut untuk dapat berperilaku atau menjadi panutan. Sebagian

    masyarakat yang tinggal di desa-desa yang jauh dan terpencil ini kadang-kadang

    mengeluh atas kehadiran bidan di desa. Di satu sisi masyarakat belum siap di sisi

    lain mereka merasa tidak sampai hati atas sambutan yang kurang pada tempatnya

    terhadap kehadiran bidan desa. Kesulitan komunikasi sering ditemui, khususnya

    apabila bidan desa berasal dari kultur yang berbeda dengan kemampuan berbahasa

    setempat (Istiarti T, 2006).

    c. Dukungan organisasi

    Dukungan organisasi dipengaruhi oleh pembinaan oleh instansi vertikal, baik oleh

    bidan koordinator maupun oleh puskesmas atau kandepkes Daerah tingkat II.

    Berdasarkan informasi di lapangan, bidan koordinator sebagai Pembina teknis profesi

    belum berfungsi sebagai mestinya, satu tahun hanya dilakukan dua kali supervisi,

    diasumsikan proses superfiasi tidak berjalan secara efektif, kelancaran pekerjaan

    terganggu, sehingga penampilan kerja bidan di desa sampai saat ini masih rendah

    yang tercermin pada rendahnya persalinan oleh tenaga kesehatan. Hal ini akan

    menghambat program dan juga menghambat kelancaran pengembangan staf.

    Penampilan kerja bidan di desa selama ini tidak di pantau, sehingga kontribusinya

    terhadap pelayanan kebidanan tidak diketahui.

    4 Jastifikasi

    Manajemen kesehatan merupakan salah satu kunci keberhasilan pembagunan kesehatan,

    meskipun sudah banyak dilakukan berbagai upaya peningkatan, masih dirasakan kurang

    memadai hasilnya. Salah satu sebab adalah belum mantapnya pelaksanaan supervisi dari

    tiap jenjang tingkat administrasi. Menurut informasi di lapangan, proses supervisi yang

    ada tidak berjalan secara efektif, kelancaran pekerjaa terganggu, sehingga penampilan

    kerja bidan di desa sampai saat ini masih rendah yang tercermin pada rendahnya

    persalinan oleh tenaga kesehatan. Hal ini akan menghambat program dan kelacaran

  • 4

    pengembangan staf. Untuk menghindarinya, supervisi oleh puskesmas dan Daerah

    Tingkat II perlu ditingkatkan.

    3.1 Masalah

    Tugas dan fungsi seorang bidan dapat tergambar melalui kinerjanya. Seperti yang

    dipaparkan diatas, bahwa motivasi dipengaruhi juga oleh kebutuhan individu, dukungan

    organisasi dan jastifikasi yang mempengaruhi motivasi untuk menghasilkan kinerja yang baik.

    Dimana kinerja seorang bidan salah satunya dipengaruhi oleh Peranan seorang

    pembimbing/supervisor sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi yang diinginkan

    termasuk IBI (Ikatan Bidan Indonesia) yang secara tidak langsung berkaitan dengan

    peningkatan kinerja bidan dalam melaksanakan pekerjaannya. Berdasarkan latar belakang

    tersebut, maka perlu diteliti: Pengaruh Gaya Supervisi Bidan Senior Terhadap Kinerja Bidan

    di Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan Tahun 2010. Peneliti tertarik untuk

    melakukan penelitian tersebut karena sebelumnya belum dilakukan penelitian di lokasi

    tersebut.

    3.2 Pertanyaan penelitian

    Bagaimana gambaran gaya supervisi bidan senior di kecamatan Pondok Aren

    Bagaimana gambaran kinerja bidan desa di kecamatan Pondok Aren

    Bagaimana pengaruh antara gaya supervisi terhadap penampilan kerja bidan desa di

    kecamatan Pondok Aren

    3.3 Tujuan

    3.3.1 Tujuan umum

    Mengetahui pengaruh antara gaya supervisi terhadap penampilan kerja bidan desa di

    kecamatan Pondok Aren

    3.3.2 Tujuan khusus

    Mengetahui gambaran gaya supervisi bidan senior di kecamatan Pondok Aren

    Mengetahui gambaran kinerja bidan desa di kecamatan Pondok Aren

    Menganalisa pengaruh antara gaya supervisi terhadap penampilan kerja bidan desa di

    kecamatan Pondok Aren

  • 5

    3.4 Manfaat

    3.4.1 Bagi peneliti

    Peneliti dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dari bangku perkuliahan.

    3.4.2 Bagi Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN

    Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi kalangan akademis sebagai informasi

    terhadap penelitian selanjutnya.

    3.4.3 Bagi responden dan masyarakat

    Memberikan pengetahuan kepada responden pada khususnya dan masyarakat pada

    umumnya tentang pengaruh gaya supervisi terhadap kinerja bidan di Kecamatan

    Pondok Aren. Sehingga diharapkan kepada responden/masyarakat untuk lebih

    memperhatikan mutu pelayanan bidan terhadap kehamilan, proses melahirkan dan

    pasca melahirkan agar dapat mengupayakan keturunan yang sehat.

    3.4.4 Bagi instansi terkait

    Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dan bahan masukan untuk instansi

    terkait dalam peningkatan motivasi bidan dalam pelaksanaan tugas di wilayah

    kerjanya.

  • 6

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Tinjauan Umum

    2.1.1 Pengertian Bidan di desa

    Yang di maksud bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan

    pendidikan bidan yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan

    yang berlaku (Permenkes RI no.572/ Menkes/PER/VI/1996). Lulusan pendidikan bidan

    tersebut akan ditempatkan di desa-desa dengan kriteria tertentu dalam rangka melaksanakan

    upaya kesehatan puskesmas dan pembina posyandu yang lazim disebut bidan di desa.

    2.1.2 Tujuan Penampilan Bidan di desa

    Penempatan bidan di desa betujuan untuk meningkatkan mutu dan pemeratan

    pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan posyandu dalam rangka menurunkan angka

    kematian ibu, bayi, anak balita dan menurunkan angka kelahiran,serta meningkatkan

    kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Di samping itu untuk:

    a. menigkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat,

    b. meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan khususnya 5 program prioritas di desa,

    c. meningkatkan mutu pelayanan ibu hamil, pertolongan persalinan, perawatan nifas dan

    perinatal, serta pelayanan kontrasepsi,

    d. menurunkan jumlah kasus-kasus yang berkaitan dengan penyulit kehamilan,

    persalinan dan perinatal,

    e. menurunkan jumlah balita dengan gizi buruk dan diare,

    f. meningkatkan kemampuam keluarga untuk hidup sehat dengan membantu pembinaan

    kesehatan kelompok Dasawisma ,

    g. meningkatkan peran serta masyarakat melalui pemdekatan PKMD termasuk gerakan

    dana sehat .

    2.1.3. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Bidan Desa

    Kedudukan bidan di desa yaitu bidan yang ditetapkan dan bertugas di desa,

    mempunyai wilayah kerja 1 sampai 2 desa, dan dalam melaksanakan tugas pelayanan medik

    baik di dalam maupun di luar jam kerjanya bidan harus tetap bertanggung jawab langsung

    kepada Kepala Puskesmas.

  • 7

    Sedangkan Tugas Pokok dari Bidan desa yaitu:

    1) Melaksanakan kegiatan puskesmas di desa wilayah kerjanya berdasarkan urutan

    prioritas masalah kerja yang dihadapi, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki dan

    diberikan.

    2) Menggerakkan dan membina masyarakat desa di wilayah kerjanya agar tumbuh

    kesadarannya untuk dapat berperilaku hidup sehat.

    Selain itu, fungsi bidan di wilayah kerjanya yaitu:

    1) Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di rumah-rumah, menangani

    persalinan, pelayanan keluarga berencana dan pengayoman medis kontrasepsi,

    2) Menggerakkan dan membina peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan, dengan

    melakukan penyuluhan kesehatan yang sesuai dengan permasalahan kesehatan

    setempat,

    3) membina dan memberikan bimbingan teknik kepada kader serta dukun bayi,

    4) membina kelompok dasa wisma di bidang kesehatan,

    5) membina kerjasama lintas program,lintas sektoral dan lembaga swadaya masyarakat.

    6) melakukan rujukan medis maupun rujukan kesehatan ke puskesmas kecuali dalam

    keadaan darurat harus dirujuk ke fasilitas kesehatan lainya,

    7) mendeteksi secara dini adanya efek samping dan komplikasi pemakaian kontrasepsi

    serta adanya penyakit-penyakit lain dan berusaha mengatasi sesuai dengan

    kemampuan.

    2.1.4 Kegiatan Bidan Desa

    Sesuai dengan kewenangan bidan yang diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan

    No.363/Menkes/Per/IX/1980, maka kegiatan bidan yang ditempatkan di desa adalah sebagai

    berikut :

    1) mengenai wilayah, struktur kemasyarakatan dan komposisi penduduk, serta sistem

    pemerintahan desa,

    2) mengumpulkan dan menganalisa data serta mengidentifikasi masalah kesehatan

    untuk merencanakan penanggulanganya,

    3) menggerakkan peran serta masyarakat melalui pendekatan PKMD dengan

    melaksanakan pertemuan tingkat desa (PTD), survei mawas diri (SMD) dan

    musyawarah masyarakat desa (MMD) yang diikuti dengan menghimpun dan melatih

    kader sesuai dengan kebutuhan,

  • 8

    4) memberikan bimbingan teknis kepada kader dan memberikan pelayanan langsung

    di meja 5 pada setiap kegiatan posyandu dalam wilayah kerjanya, terutama pelayanan

    KIA dan KB serta membantu pelaksanaan imunisasi,

    5) melaksanakan pembinaan anak pra sekolah di TK dan masyarakat,

    6) memberikan pertolongan persalinan,

    7) memberikan pertolongan pertama pada pasien (orang sakit), kecelakaan dan

    kedaruratan,

    8) melakukan kunjungan rumah untuk melakukan perawatan kesehatan keluarga,

    9) melatih dan membina dukun bayi agar mampu melaksanakan penyuluhan dan

    membantu deteksi dini ibu hamil resiko tinggi,

    10) melatih dan membina Ketua Kelompok Dasa Warsa (persepuluh) dalam bidang

    kesehatan secara berkala sesuai dengan kebutuhan setempat,

    11) menggerakkan masyarakat agar melaksanakan kegiatan dana sehat di wilayah

    kerjanya,

    12) mencatat semua kegiatan yang dilakukan dan melaporkan serta berkala kepada

    puskesmas sesuai dengan ketentuan,

    13) bekerja sama dengan rekan staf puskesmas dan tenaga sektor lain yang ada didesa,

    antara lain PLKB, dan pamong setempat dalam rangka pelayanan kesehatan dan

    pembinaan peran serta masyarakat,

    14) menghadiri rapat staf (Lokakarya Mini ) puskesmas setiap bulan,

    15) melaksanakan Upaya Kesehatan Sekolah di desa wilayah kerjanya,

    16) merujuk penderita dengan kelainan jiwa, dan melakukan perawatan (pengobatan)

    tindak lanjut pasien dengan kelainan jiwa yang dirujuk oleh puskesmas (DepKes

    RI,1989).

    2.1.5 Pembinaan Dan Pengawasan

    Pembinaan dan pengawasan terhadap praktek bidan dilakukan secara berjenjang oleh

    puskesmas, Dinas Kesehatan, Kantor Wilayah Departemen Kesehatan sampai Direktur

    Jenderal. Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan diikutsertakan organisasi profesi

    terkait (Permenkes RI No.572/MenKes/PER/VI1996). Dalam hal ini organisasi terkait yaitu

    IBI (Ikatan Bidan Indonesia).

  • 9

    2.2. Landasan Teori

    2.2.1. Pengertian Dan Definisi Supervisi

    Supervisi atau pembimbingan merupakan salah satu komponen fungsi manajemen

    untuk mencapai hasil guna dan daya guna pelaksanaan suatu kegiatan.

    Bimbingan itu sendiri dapat dianggap sebagai salah satu bentuk hubungan antar manusia.

    Dapat pula diartikan bahwa bimbingan itu tentu menyangkut paling tidak dua pihak, yaitu

    pihak yang dibimbing dan pihak yang membimbing. Hubungan timbal balik antara pihak yang

    di bimbing dan pihak membimbing itu disebut suatu proses pembimbingan.

    Gambar 2.1: Suatu Proses Bimbingan antara Pembimbing dan pihak yang dibimbing.

    Sumber : Suwondo AP dalam Kepemimpinan Dalam Bimbingan Pengembangan.

    Dengan gambaran tersebut, maka sebenarnya antar hubungan manusia itu dapat

    menciptakan suatu situasi, dan situasi itu sendiri akan memungkinkan suatu proses. Bila

    situasi yang memungkinkan situasi proses tersebut berlangsung dalam bentuk tertentu, maka

    bentuk itu mungkin dapat disebut dengan bentuk hubungan yang bersifat bimbingan. Oleh

    karena itu maka bimbingan itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu bantuan yang diberikan

    oleh seseorang atau sekelompok orang, kepada seseorang atau kelompok orang lainnya, yang

    dilaksanakan secara sadar dan segaja. Bantuan tersebut secara moral dapat dipertanggung

    jawabkan dan tujuan agar yang dibimbing dapat mencapai tujuan yang diharapkan (Suwondo

    .,2006).

    Supervisi merupakan seni kerja sama dengan sekelompok orang, dimana terhadap

    mereka dipergunakan wewenang sedemikian rupa, sehingga dalam pelaksanaan pekerjaanya

    dapat memperoleh hasil kerja gabungan yang sebesar-besarnya (Van Dersal W, 1978).

    Lingkaran Proses

    Pembimbing

    Yang

    Dibimbing

  • 10

    Supervisi adalah suatu kelompok kegiatan yang bersifat administrative dan edukatif.

    Suatu pembinaan yang bertujuan untuk menjamin bahwa tugas dan kewajiban sehari-hari di

    puskesmas dapat berjalan lancar.terlaksana sesuai dengan rencana, jadwal dan program yang

    telah disusun. Di samping itu dapat ditumbuhkan kegairahan kerja petugas untuk selalu

    meningkatkan daya guna dan hasil guna (Martodipuro,dkk, 2003).

    Supervisi didefinisikan sebagai pengukuran secara keseluruhan untuk menjamin

    bahwa personil dapat meningkatkan aktifitas secara efektif dan lebih kompeten terhadap

    pekerjaannya (Flahault D,et al,1998).

    Supervisi adalah salah satu upaya pengarahan dengan pemberian petunjuk dan saran,

    setelah menemukan alasan dan keluhan pelaksana dalam mengatasi permasalahan yang

    dihadapi (DepKes RI, 2003).

    2.2.2. Gaya Supervisi

    Supervisi merupakan seni memberikan petunjuk, instruksi dan dorongan inisiatif pada

    staf, supervisi harus dilihat sebagai sesuatu yang berharga dan karyawan yang diawasi harus

    melihatnya sebagai suatu dorongan dan cara untuk meningkatkan kemampuan. Dalam

    kepustakaan dijelaskan berbagai metode pengawasan atau supervisi, yakni metode langsung

    yang menerapkan interaksi antara supervisi (pengawas) dan supervisi (yang diawasi) dan

    metode tak langsung yang lebih didasarkan pada analisa dokumentasi dan didasarkan pada

    jenis tingkatan administrasi. Pada prakteknya seorang supervisor yang baik pada tingkat

    daerah, seperti pada tingkatan-tingkatan lainnya, akan selalu harus memilih jenis supervisi

    yang paling sesuai pada setiap situasi (Flahault D,et al, 1998).

    Pada pokoknya ada tiga gaya yang utama dalam supervisi yakni : gaya supervisi

    autokrasi, gaya supervisi anarki, dan gaya supervisi demokrasi (Flahault D,et al, 1998).

    a) Gaya supervisi autokrasi

    Gaya supervisi ini, seorang supervisor seolah-olah hanya memberikan perintah. Pada

    pokoknya, gaya supervisi ini berusaha untuk melihat, mengetahui, dan memahami segala

    sesuatu dan berusaha untuk berada dimanapun, tidak melimpahkan tanggung jawab dan sering

    mengacaukan atoritas dan dominasi; senang memberikan perintah dan melihat kalau tugas

    telah dilaksanakan dengan disiplin (Flahault D,et al, 1998).

    Gaya supervisi ini sering menjadi kurang efisien dan berhasil ketika supervisor berada

    di tempat yang jauh dan berakibat pada sering terjadinya kesulitan-kesulitan yang bersifat

    psikologis, seperti ketakutan, keengganan, kurangnya percaya diri, dan perasaan yang tidak

  • 11

    aman. Penggunaan gaya supervisi ini mungkin saja dapat dilakukan dengan pertimbangan

    kontemporer dan hati-hati untuk tugas-tugas yang memerlukan tindakan yang cepat, seperti

    suatu keadaan darurat, staf yang memiliki pengalaman atau skill yang terbatas dan tidak

    dapat diandalkan.

    b) Gaya Supervisi Anarki atau Laissez-faire

    Gaya ini berkaitan dengan motto lakukan yang kamu kehendaki.

    Seorang supervisor mempercayai para karyawannya dan bahkan dalam kasus-kasus yang

    ekstrim membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka kehendaki, dengan

    konsekuensi yang bisa dipredeksi sebelumnya seperti kurangnya koordinasi aktifitas,

    melainkan tugas-tugas penting, duplikasi serta kurangnya minat dalam belajar (Flahault D,et

    al, 1998).

    c) Gaya Supervisi Demokrasi

    Supervisi yang demokratis akan mengatakan kita setujui saja apa yang akan kita

    lakukan , dan akan mencari keseimbangan antara kebutuhan para pengguna, kebutuhan staf

    serta persyaratan-persyaratan program (Flahault D.et al,1998).

    Gaya supervisi demokrasi ini terutama sesuai untuk pekerjaan yang memerlukan

    kreativitas, seperti riset (penelitian), orang-orang yang sangat berkompenten dan

    berpengalaman, orang yang diketahui bisa diandalkan dan orang-orang yang bersedia untuk

    bertanggungjawab dan mengambil keputusan. Gaya supervisi ini sebagian dipengaruhi oleh

    kepribadian supervisor, dan sebagian besar dipengaruhi keadaan sekitar, keperluan kerja, dan

    kemampuan karyawan. Kebanyakan orang lebih suka bekerja pada kondisi manajemen yang

    demokratis. Bagaimanapun juga ini tidak berarti bahwa gaya supervisi demokrasi selalu

    merupakan yang terbaik.

    Pada keadaan tertentu, supervisi harus dilakukan secara otoriter sebagaimana instruksi

    yang diberikan tanpa melakukan diskusi. Kadang-kadang gaya supervisi anarki dianjurkan,

    karena perlu menempatkan rasa percaya diri para karyawan dan memberikan mereka minat

    dan motivasi yang lebih besar dalam tugas-tugas mereka. Dari uraian teori tersebut dapat

    disimpulkan bahwa supervisi perlu dilakukan, terutama untuk menigkatkan kemampuan dan

    motivasi pada supervisi, serta terdapat berbagai gaya dalam melakukan supervisi (Flahault

    D,et al, 1998).

  • 12

    2.3. Kinerja Bidan

    Kinerja dapat diartikan sebagai gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan

    suatu kegiatan atau program atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi

    organisasi yang tertuang dalam rencana strategi suatu organisasi. Menurut Dessler (1997),

    kinerja merupakan prosedur yang meliputi (1) penetapan standar kinerja; (2) penilaian kinerja

    aktual pegawai dalam hubungan dengan standar-standar ini; (3) memberi umpan balik kepada

    pegawai dengan tujuan memotivasi orang tersebut untuk menghilangkan kemerosotan kinerja

    atau terus berkinerja lebih tinggi lagi.

    Mengenai ukuran-ukuran kinerja pegawai, Ranupandojo dan Husnan (2000)

    menjelaskan secara rinci sejumlah aspek yang meliputi:

    1. Kualitas kerja adalah mutu hasil kerja yang didasarkan pada standar yang ditetapkan.

    Kualitas kerja diukur dengan indikator ketepatan, ketelitian, keterampilan dan

    keberhasilan kerja. Kualitas kerja meliputi ketepatan, ketelitian, kerapihan dan

    kebersihan hasil pekerjaan.

    2. Kuantitas kerja yaitu banyaknya hasil kerja sesuai dengan waktu kerja yang ada, yang

    perlu diperhatikan bukan hasil rutin tetapi seberapa cepat pekerjaan dapat terselesaikan.

    Kuantitas kerja meliputi output, serta perlu diperhatikan pula tidak hanya output yang

    rutin saja, tetapi juga seberapa cepat dia dapat menyelesaikan pekerjaan yang ekstra.

    3. Dapat tidaknya diandalkan termasuk dalam hal ini yaitu mengikuti instruksi, inisiatif,

    rajin, serta sikap hati-hati.

    4. Sikap, yaitu sikap terhadap pegawai perusahaan dan pekerjaan serta kerjasama.

    Dimana dalam profesinya bidan memegang peranan penting dalam menolong

    persalinan ibu hamil dan bayinya. Yang setiap proses perkembangan dan kelahirannya

    merupakan hal penting untuk diperhatikan yang dapat menetukan generasi dimasa yang akan

    datang.

    2.4. Pelayanan Masyarakat

    Hakikat berdirinya suatu pusat layanan masyarakat seperti Puskesmas adalah

    bertujuan melayani kepentingan masyarakat di wilayah kerjanya. Pelayanan yang diberikan

    oleh Puskesmas termasuk dalam bentuk pelayanan umum. Menurut Keputusan Menteri

    Negara Aparatur Negara No. 63 Tahun 2003, pelayanan umum adalah segala bentuk kegiatan

    pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, di daerah, dan di lingkungan

  • 13

    badan usaha milik negara/daerah dalam bentuk barang atau jasa dalam rangka pemenuhan

    kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-

    undangan. Dari definisi pelayanan umum tersebut, dapat dikatakan bahwa Puskesmas

    merupakan suatu organisasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka

    pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dimana pembinaan dan bimbingan yang dilakukan tidak

    terlepas dari Organisasi profesi IBI (Ikatan Bidan Indonesia)

    Parasuraman dkk (dalam Zeithamil dan Bitner, 1996) mengemukakan indikator-

    indikator pelayanan masyarakat sebagai berikut

    1. Responsiveness atau responsivitas adalah kemampuan birokrasi untuk mengenali

    kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan, serta

    mengembangkan program-program pelayanan sesuai kebutuhan dan aspirasi

    masyarakat.

    2. Reliability atau reabilitas adalah kemampuan organisasi untuk menyelenggarakan

    pelayanan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.

    3. Assurance atau kepastian adalah pengetahuan dan kesopanan para pekerja dan

    kemampuan mereka dalam memberikan kepercayaan kepada customers.

    2.5. Pengaruh Gaya Supervisi Terhadap Kinerja Bidan

    Gaya Kepemimpinan/Supervisi merupakan suatu cara yang dimiliki oleh seseorang

    dalam mempengaruhi sekelompok orang atau bawahan untuk bekerja sama dan berdaya upaya

    dengan penuh semangat dan keyakinan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

    Keberhasilan suatu organisasi baik sebagai keseluruhan maupun berbagai kelompok dalam

    suatu organisasi tertentu, sangat tergantung pada efektivitas kepemimpinan yang terdapat

    dalam organisasi yang bersangkutan. Dapat dikatakan bahwa mutu kepemimpinan yang

    terdapat dalam suatu organisasi memainkan peranan yang sangat dominan dalam keberhasilan

    organisasi tersebut dalam menyelenggarakan berbagai kegiatannya terutama terlihat dalam

    kinerja para pegawainya (Siagian, 1999).

    Pemimpin yang terdapat pada organisasi harus memiliki kelebihan-kelebihan

    dibandingkan dengan bawahannya, yaitu pegawai yang terdapat di organisasi yang

    bersangkutan, sehingga dapat menunjukkan kepada bawahannya untuk bergerak, bergiat,

    berdaya upaya yang tinggi untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi

    hanya mengerahkan seluruh pegawai saja tidak cukup, sehingga perlu adanya suatu dorongan

  • 14

    agar para pegawainya mempunyai minat yang besar terhadap pekerjaanya. Atas dasar inilah

    selama perhatian pemimpin diarahkan kepada bawahannya, maka kinerja pegawainya akan

    tinggi.

    Sesuai dengan konsep Schermerhorn bahwa kinerja/penampilan kerja merupakan hasil

    dari ciri-ciri pribadi individu, upaya yang dilakukan dan dukungan organisasi. Ketiga faktor

    ini harus ada untuk mencapai performance atau kinerja yang tinggi. Dukungan organisasi

    dalam hal ini adalah supervisi. Menurut Flahault supervisi mempunyai beberapa gaya. Di sini

    terdapat keterkaitan antara gaya supervisi dengan penampilan kerja, sehingga dapat

    disimpulkan gaya supervisi ikut memberikan kontribusi dalam meningkatkan kinerja atau

    penampilan kerja.

    2.6 Kerangka Teori

    Gaya Supervisi

    Variabel bebas Variabel penghubung Variabel Tergantung

    KINERJA BIDAN

    DESA

    AUTOKRASI

    ANARKI

    DEMOKRASI

    MOTIVASI

    SIKAP SITUASI

    KEMAMPUAN

    PENGETAHUAN

    KETRAMPILAN Mempengaruhi

    Pelayanan Masyarakat

  • 15

    BAB III

    KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

    3.1 Kerangka Konsep

    Berikut ini dikemukakan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini untuk

    memahami fenomena kepemimpinan pada organisasi IBI (Ikatan Bidan Indonesia), khususnya

    tentang pengaruh gaya supervisi terhadap kinerja bidan. Terdapat berbagai faktor yang

    mempengaruhi gaya supervisi yang diterapkan seorang pemimpin dalam suatu organisasi.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya supervisi yang diterapkan digolongkan dalam tiga

    kategori yaitu: faktor karakteristik pemimpin, faktor karakteristik pegawai dan faktor situasi.

    Gaya supervisi yang digunakan seorang pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja bidan.

    Untuk kepentingan penelitian ini, kinerja bidan dipandang sebagai hasil kerja yang

    dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai wewenang dan

    tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan organisasi. Ukuran-ukuran kinerja bidan ini

    meliputi kualitas kerja, dan kuantitas kerja.

    Kinerja bidan selain dipengaruhi oleh gaya supervisi yang diterapkan oleh

    pemimpinnya (Ketua IBI), juga dipengaruhi oleh karakteristik pegawai yang bersangkutan

    serta situasi yang terdapat pada lingkup organisasi. Kinerja bidan akan berpengaruh terhadap

    Kinerja dalam pelayanan di Puskesmas terhadap masyarakat. Untuk lebih jelasnya

    diterangkan sebagai berikut.

    Gambar 3.1 Kerangka Konsep

    Gaya Supervisi Bidan

    Senior

    Kinerja Bidan desa

    Variabel independen Variabel dependen

  • 16

    3.2. Definisi Operasional

    Tabel 4.1 Definisi operasional

    No Variabel Definisi Cara ukur Alat

    ukur

    Hasil ukur Skala

    1. Gaya

    Supervisi

    Pola atau cara supervisor

    melihat langsung kegiatan yang

    berhubungan dengan tugas

    pokok dan fungs bidan di

    desa,seperti memberi perintah

    langsung,membiarkan supervise

    bekerja sendiri,bekerja bersama

    dengan supervise.

    Responden

    Mengisi

    kuesioner

    kuesioner 1. Autokrasi

    (skor 1-16)

    2. Anarki

    (skor 17-

    26)

    3. Demokrasi

    (skor 27-32

    )

    Ordinal

    2. Kinerja

    bidan

    hasil kerja yang telah dicapai

    seseorang menurut aturan yang

    berlaku bagi pekerjaan atau

    tugas yang bersangkutan dalam

    penelitian ini adalah hasil yang

    di capai oleh bidan di desa

    dalam melaksanakan 16

    kegiatan pokok bidan di

    desa,terutama yang berkaitan

    dengan kemampuan dan

    motivasi. Indikator :akumulasi

    hasil penilaian kemampun dan

    motivasi

    Responden

    Mengisi

    kuesioner

    kuesioner 1. Baik (skor

    1-23)

    2. Buruk

    (skor 24-

    30)

    Ordinal

    3.3 Hipotesis Penelitian

    1. Ada pengaruh gaya supervisi bidan senior terhadap kinerja bidan desa di kecamatan

    Pondok Aren Kota tangerang Selatan tahun 2010

  • 17

    BAB IV

    METODE PENELITIAN

    4.1 Desain Penelitian

    Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain potong

    lintang atau rancangan penelitian cross sectional, dimana data variabel independen dan

    variable dependen diambil secara bersamaan. Penelitian ini bersifat analitik untuk mengetahui

    pengaruh gaya supervisi bidan senior terhadap kinerja bidan desa di Kecamatan Pondok Aren

    tahun 2010.

    4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

    Lokasi penelitian yaitu di Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan. Waktu

    penelitian ini dilaksanakan selama bulan Agustus -September 2010.

    4.3 Populasi dan Sampel

    4.3.1 Populasi

    Populasinya adalah bidan desa di Kecamatan Pondok Aren. Dimana terdapat 3

    Puskesmas dimana tiap puskesmas mempunyai bidan desa yang dinaungi oleh suatu

    organisasi IBI (Ikatan Bidan Indonesia) untuk jumlah bidan desa sendiri yaitu ada 25 orang

    yang terdiri dari Puskesmas Pondok Aren 10 orang, Puskesmas Parigi 7 orang dan Puskesmas

    Jurang Mangu 8 orang.

    4.2.3 Besar Sampel

    Kriteria sampel pada penelitian ini adalah bidan desa yang bekerja di Puskesmas yang

    mendapatkan bimbingan organisasi IBI (Ikatan Bidan Indonesia) Kecamatan Pondok Aren.

    {Z1-/2 + Z1- }2

    n =

    (p1 - p2)2

    (sumber : Ariawan, 1998)

    Keterangan :

    n = jumlah sampel minimal yang diperlukan

    Z1- = kekuatan uji

  • 18

    = menggunakan 1-= 80%= 0.84

    Z1-/2 = derajat kepercayaan = menggunakan CI= 95% = 1.96

    p1 = proporsi bidan dengan kinerja buruk dan menyatakan bidan senior

    menggunakan gaya supervisi anarki = 0,5

    p2 = proporsi bidan dengan kinerja buruk dan menyatakan bidan senior

    menggunakan gaya supervisi demkrasi = 0,5

    P = rata-rata proporsi

    p1 + p2 0,5 + 0,5

    P = = = 0,5

    2 2

    n =

    = ~ orang

    Sehingga, Jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh

    populasi yang ada yang memenuhi kriteria saat penelitian berlangsung dijadikan sebagai

    sampel dalam penelitian ini.

    4.4 Instrumen Penelitian

    Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang

    disusun peneliti untuk memperoleh data mengenai gaya supervisi bidan senior di puskesmas,

    dan kinerja bidan desa yang diisi oleh bidan koordinaor tiap Puskesmas.

    4.5 Prosedur Pengumpulan Data

    Semua data primer didapat dengan menggunakan kuesioner yang disusun. Responden

    yang terdiri dari bidan desa di 3 Puskesmas (Pondok Aren, Parigi, dan Jurang Mangu) di

    Kecamatan Pondok Aren, didatangi di puskesmas masing-masing, mengisi kuesioner yang

    telah di siapkan dan di awasi langsung oleh peneliti.

    4.6 Pengolahan Dan Analisis Data

    Pengolahan data yang telah dikumpulkan dilakukan dengan proses komputerisasi

    melalui beberapa langkah:

    1. Editing

    {1,96 2. 0,5 (1-0,5) + 0,84 0,5 (1-0,5) + 0,5 (1-0,5)}2

    (0,5 - 0,5)2

  • 19

    Data yang telah dikumpulkan diperiksa kelengkapannya terlebih dahulu

    2. Coding

    Sebelum dimasukkan komputer, dilakukan proses pemberian koding pada setiap

    jawaban pertanyaan dimana urutan poin 1-4 menunjukkan bobot dari pertanyaan

    variabel gaya supervisi dan jawaban pertanyaan dengan urutan poin 1-3 untuk

    variabel kinerja bidan.

    3. Entry

    Memasukkan data dengan menggunakan komputer untuk analisa lebih lanjut.

    4. Cleaning

    Pengecekan kembali untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dengan data

    yang dimasukkan baik dalam pengkodean maupun kesalahan dalam membaca

    kode. Dengan demikian data telah siap dianalisis menggunakan program SPSS for

    windows.

    4.7 Analisis Data

    4.7.1 Analisis Univariat

    Analisis univariat dilakukan untuk menyajikan dan menggambarkan distribusi

    frequensi dari setiap variable yang diteliti dalam bentuk persentase dan disajikan dalma

    bentuk tabel. Analisis univariat dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran

    variabel independennya yaitu gaya supervisi dan variabel dependen nya yaitu kinerja bidan.

    4.7.2 Analisis Bivariat

    Analisis bivariat digunakan untuk menguji hipotesis yang ada antara variabel

    dependen dengan variabel independen. Analisis bivariat yang dilakukan menggunakan uji chi-

    square untuk melihat hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen, dengan

    tingkat kemaknaan sebesar 0,05. Uji chi-square dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

    X2 =

    DF = (k-1)(b-1)

    Ketersngsn :

    X2 = chi-square

    O = Nilai Observasi

    E = Nilai Ekspetasi

    (0 - E) 2

    E

  • 20

    K = Jumlah kolom

    B = Jumlah baris

    Melalui uji stastistik chi square akan diperoleh nilai P, dimana dalam

    penelitian ini digunakan tingkat kemaknaan sebesar 0,05. Penelitian antara dua variabel

    dikatakan berhubungan jika mempunyai nilai p0,05.

  • 21

    BAB V

    HASIL PENELITIAN

    5.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian

    Kota Tangerang Selatan (Tangsel)dibentuk dengan dasar hukum UU No. 32/2007,

    tanggal 29 Oktober 2008, meliputi Kecamatan Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok

    Aren, Serpong, Serpong Utara dan Setu. Sebelah timur berbatasan dengan Kota Jakarta

    Selatan (DKI Jaya) dan Kota Depok (Jawa Barat), sebelah selatan berbatasan dengan Kota

    Depok dan Kabupaten Bogor (Jawa Barat), sebelah utara berbatasan dengan Kota Tangerang,

    dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tangerang. Kota Tangerang Selatan meliputi

    luas wilayah 210,49 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 966 ribu, dengan kepadatan

    penduduk mencapai 4.589 jiwa per km.

    Kecamatan Pondok Aren merupakan sentra pengembangan kawasan pemukiman dan

    bisnis. Di Pondok Aren misalnya telah berkembang pemukiman Bintaro Jaya dengan berbagai

    kelengkapan infrastruktur perkotaannya. Selain itu di beberapa kelurahan seperti Parigi,

    Pondok Pucung dan Jurangmangu Barat saat ini berkembang industri rumah tangga untuk

    komoditi sepatu, tas dan handuk. Tidak jauh berbeda dengan Kecamatan Serpong, Ciputat dan

    Pondok Aren, meskipun tidak berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, Kecamatan

    Pamulang pun mengalami pertumbuhan yang pesat, bahkan tingkat kepadatan penduduknya

    melampaui kawasan lain, saat ini sudah melampaui 8.000 jiwa per km2. Khusus Kecamatan

    Cisauk masih banyak memiliki ruang terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut, baik untuk

    pemukiman, industri atau bisnis agro. Kepadatan penduduk Cisauk masih sekitar 2.000 jiwa

    per km2.

    a. Letak wilayah

    Letak wilayah Puskesmas Pondok Aren terletak di Kecamatan Pondok Aren

    Kabupaten Tangerang Selatan yang berbatasan dengan :

    Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan

    Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Ciledug,Tangerang Selatan

    Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Ciledug, DKI Jakarta

    Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan

    b. Jarak Wilayah

    Jarak Puskesmas Pondok Aren dengan pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang

    Selatan lebih kurang 45 km, sedangkan luas wilayahnya lebih kurang 3037 ha, dengan

    ketinggian 35 m dari permukaan laut dan dengan curah hujan rata-rata 35 m/bulan.

  • 22

    c. Jumlah Kelurahan

    Jumlah kelurahan wilayah kerja Puskesmas Pondok Aren terdiri dari 11

    Kelurahan, 115 RW dan 721 RT.

    d. Sarana Kesehatan

    o Puskesmas Kecamatan : 3 buah

    o Pos Kesehatan Desa : 0 buah

    o Balai Pengobatan Swasta : 19 buah

    o Praktek Dokter Umum Swasta : 59 buah

    o Praktek Dokter Gigi Swasta : 25 buah

    o Praktek Dokter Spesialis : 6 buah

    o Praktek Bidan Swasta : 19 buah

    o Laboratorium Klinik Swasta : 5 buah

    o Optik : 8 buah

    o Apotik : 19 buah

    o Rumah Sakit Swasta : 1 buah

    o Rumah Bersalin Swasta : 4 buah

    o Pengobatan Tradisional : 20 buah

    o Puskesmas Keliling : 1 buah

    5.2 Analisis Univariat

    Jumlah sampel yang berhasil terkumpul, diolah dan dianalisis yaitu sebanyak sampel

    yang terdiri dari bidan desa di kecamatan Pondok Aren.

    5.2.1 Gaya Supervisi

    Table 5.1 Distribusi responden menurut Gaya Supervisi

    Gaya Supervisi Jumlah (orang) Persentase (%)

    Autokrasi

    Anarki

    Demokrasi

    0

    2

    23

    0

    8,0

    92,0

    Total 25 100,0

    Hasil penelitian memperlihatkan hanya 8% atau 2 responden yang menyatakan bahwa

    bidan senior menggunakan gaya supervisi anarki. Dan 92,0 % atau 23 responden yang

  • 23

    menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi demokrasi. Sedangkan tidak

    ada responden yang menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi autokrasi.

    5.2.2 Kinerja Bidan

    Table 5.2 Distribusi responden menurut Kinerja Bidan

    Kinerja Bidan Jumlah (orang) Persentase (%)

    Buruk

    Baik

    5

    20

    20,0

    80,0

    Total 25 100,0

    Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 20% atau 5 responden memiliki kinerja buruk

    sedangkan sebanyak 80% atau 20 responden memiliki kinerja baik.

    5.3 Analisis Bivariat

    5.3.1 Pengaruh Gaya Supervisi Bidan Senior Terhadap Kinerja Bidan Desa

    Table 5.3 Distribusi responden menurut gaya supervisi dan kinerja bidan

    Gaya

    Supervisi

    Kinerja Bidan Total

    Buruk Baik N %

    N % N %

    Autokrasi

    Anarki

    Demokrasi

    0

    1

    4

    0

    50

    17,4

    0

    1

    19

    0

    50

    82,6

    0

    2

    23

    0

    100

    100

    Total 5 20 20 80 25 100

    Nilai p = 0,367

    Pada bidan yang kinerjanya buruk dan menyatakan bahwa bidan senior menggunakan

    gaya supervisi anarki yaitu sebanyak 1 responden atau 50%, sedangkan bidan yang kinerjanya

    buruk dan menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi demokrasi yaitu

    sebanyak 4 responden atau 17,4 %.

    Selain itu, pada bidan yang kinerjanya baik dan menyatakan bahwa bidan senior

    menggunakan gaya supervisi anarki yaitu sebanyak 1 responden atau 50%, sedangkan bidan

    yang kinerjanya baik dan menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi

    demokrasi yaitu sebanyak 19 responden atau 82,6 %.

  • 24

    Dari hasil uji statistik, didapatkan nilai pv sebesar 0,367 dimana pada 5%

    menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan proporsi bidan yang kinerjanya buruk

    antara yang menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi anarki dengan yang

    yang menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi demokrasi. Atau ada

    pengaruh antara gaya supervise bidan senior dengan kinerja bidan. Dan diperoleh nilai OR

    sebesar 4,750 artinya gaya supervise anarki mempunyai kecenderungan untuk mempengaruhi

    kinerja bidan menjadi buruk sebesar 4,750 kali dibandingkan gaya supervisi demokrasi.

  • 25

    BAB VI

    PEMBAHASAN

    6.1 Keterbatasan Penelitian

    Oleh karena keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga, penelitian ini menggunakan desain

    cross sectional yang hanya dapat memperlihatkan hubungan dengan cara mengamati variable

    independen dan dependen pada saat yang bersamaan. Sehingga tidak dapat ditentukan

    hubungan sebab akibat antara keduanya.

    Instrument penelitian ini berupa kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang

    dijawab oleh responden. Alat ukur ini memiliki kelemahan pada jawaban responden yang

    subjektif dari sudut pandang responden saja. Dan ada responden yang tidak mencantumkan

    namanya sehingga dihawatirkan timbulnya bias dalam pengolahan data.

    6.2 Gambaran Gaya Supervisi

    Analisis univariat memperlihatkan hanya 8% atau 2 responden yang menyatakan

    bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi anarki. Dan 92,0 % atau 23 responden yang

    menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi demokrasi. Sedangkan tidak

    ada responden yang menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi autokrasi.

    Persentase ini menunjukkan fakta bahwa Gaya supervisi demokrasi cukup

    mendominasi karena sesuai untuk pekerjaan yang memerlukan kreativitas, seperti pekerjaan

    seorang bidan dilakukan oleh orang-orang yang sangat berkompenten dan berpengalaman,

    orang yang diketahui bisa diandalkan dan orang-orang yang bersedia untuk bertanggungjawab

    dan mengambil keputusan. Dan selain itu juga Gaya supervisi ini sebagian dipengaruhi oleh

    kepribadian supervisor, dan sebagian besar dipengaruhi keadaan sekitar, keperluan kerja, dan

    kemampuan karyawan.

    Jika dibandingkan dengan gaya supervisi anarki yang membiarkan mereka melakukan

    apa saja yang mereka kehendaki, dengan konsekuensi yang bisa dipredeksi sebelumnya

    seperti kurangnya koordinasi aktifitas, melainkan tugas-tugas penting, duplikasi serta

    kurangnya minat dalam belajar. Maka persentasenya pun hanya 8% dari total jumlah

    responden. Karena hal tersebut kurang sesuai dengan iklim pekerjaan di puskesmas yang

    menuntut banyak koordinasi sosial.

    Sedangkan untuk gaya supervise autokrasi gaya supervisi ini, seorang supervisor

    seolah-olah hanya memberikan perintah. Dan Gaya supervisi ini sering menjadi kurang

    efisien dan berhasil ketika supervisor berada di tempat yang jauh dan berakibat pada sering

  • 26

    terjadinya kesulitan-kesulitan yang bersifat psikologis, seperti ketakutan, keengganan,

    kurangnya percaya diri, dan perasaan yang tidak aman. Sehingga hal tersebut akan berdampak

    buruk terhadap kinerja bidan desa. Dan pada penelitian ini tidak ada responden yang

    menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervise autokrasi, karena sebagian

    besar responden menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervise demokrasi

    yang dijalankan dalam pembinaan para bidan desa.

    6.3 Gambaran Kinerja Bidan Desa

    Analisis univariat memperlihatkan bahwa 20% atau 5 responden memiliki kinerja buruk

    sedangkan sebanyak 80% atau 20 responden memiliki kinerja baik. Persentase ini

    menunjukkan bahwa kinerja bidan desa di kecamatan Pondok Aren sebagian besar baik yang

    dapat dilihat dari segi kualitas kerja atau mutu hasil kerja yang didasarkan pada standar

    standar seperti indikator ketepatan, ketelitian, keterampilan dan keberhasilan kerja.

    Sedangkan kuantitas kerja dilihat dari banyaknya pekerjaan yang dihasilkan dengan tepat

    waktu.

    Selain itu untuk bidan desa yang memiliki kinerja yang buruk yaitu sebanyak 20% dari

    jumlah responden karena pekerjaan bidan menuntut ketepatan dan kecepatan hasil, karena

    selain tuntutan laporan dari pihak atasan, para bidan juga bekerja di puskesmas para bidan

    juga ada yang harus membuka praktek di rumah sehingga semakin berat pekerjaan yang harus

    dituntaskannya, maka tidak bisa dihindari jika hasilnya ada yang kurang memuaskan.

    6.4 Pengaruh Gaya Supervisi Bidan Senior terhadap Kinerja Bidan Desa

    Dari hasil analisis Bivariat menunjukkan pada bidan yang kinerjanya buruk dan

    menyatakan bahwa bidan senior menggunakan gaya supervisi anarki yaitu sebanyak 1

    responden atau 50%, sedangkan bidan yang kinerjanya buruk dan menyatakan bahwa bidan

    senior menggunakan gaya supervisi demokrasi yaitu sebanyak 4 responden atau 17,4 %. Hal

    ini menujukkan bahwa, dominasi bidan yang memiliki kinerja baik menyatakan bahwa gaya

    supervisi bidan senior adalah gaya supervise demokrasi yang lebih banyak menuntut diskusi

    dan kerjasama antar bidan senior dan bidan desa dan lebih menghargai sesama profesi bidan.

    Hal ini juga mendukung peningkatan kinerja bidan jika gaya supervise

    pembimbingnya adalah demokrasi dibanding dengan gaya supervise anarki atau autokrasi

    yang kurang mengayomi dan membimbing bidan desa yang menjalankan pekerjaannya. Dan

    dari penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara gaya supervisi bidan

  • 27

    senior dengan kinerja bidan dengan nilai OR sebesar 4,750 artinya gaya supervise anarki

    mempunyai kecenderungan untuk mempengaruhi kinerja bidan menjadi buruk sebesar 4,750

    kali dibandingkan gaya supervisi demokrasi. Sesuai dengan teori kepemimpinan bahwa mutu

    kepemimpinan yang terdapat dalam suatu organisasi memainkan peranan yang sangat

    dominan dalam keberhasilan organisasi tersebut dalam menyelenggarakan berbagai

    kegiatannya terutama terlihat dalam kinerja para pegawainya (Siagian, 1999).

  • 28

    BAB VII

    KESIMPULAN DAN SARAN

    7.1 Kesimpulan

    Hasil penelitian tentang pengaruh gaya supervise bidan senior terhadap kinerja bidan desa di

    Kecamatan Pondok Aren dapat disimpulkan sebagai berikut:

    1. Persentase bidan senior yang menerapkan gaya supervise anarki meningkatkan kinerja

    bidan desa menjadi buruk sebesar 50%

    2. Ada pengaruh yang signifikan antara gaya supervise bidan senior terhadap kinerja

    bidan desa di Kecamatan Pondok Aren

    3. Sebagian besar responden yang menyatakan bahwa bidan senior menerapkan gaya

    supervisi demokrasi memiliki kinerja yang baik.

    7.2 Saran

    1. Perlunya dilakukan pembinaan secara intensif dan berkesinambungan oleh

    pembimbing kepada bidan-bidan yang menjalankan pekerjaannya baik di puskesmas

    maupun praktek swasta agar dapat meningkatkan motivasinya dalam perbaikan derajat

    kesehatan masyarakat.

    2. Bidan desa dan Pembimbing harus meningkatkan koordinasi dan kerjasama

    dilapangan serta menjalin hubungan yang baik antar sesamanya agar tercipta suasana

    kerja yang kondusif dan saling mendukung

    3. Adanya sanksi yang tegas kepada petugas kesehatan khususnya bidan yang dengan

    sengaja tidak melaksanakan pekerjaannya dengan baik, menunda-nunda pekerjaan dan

    tidak memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat.

    4. Untuk penelitian selanjutnya, dapat dilihat pengaruh motivasi kerja bidan terhadap

    angka Kematian Ibu dan Anak.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Ariawan, Iwan, 1998. Besar dan Metode Pada Sampel Penelitian Kesehatan, Jurusan

    Biostatistik dan Kependudukan, Fakultas Kesehatan Masyarakat,

    Universitas Indonesia.

    Departeman Kesehatan RI, 1984. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.

    Departeman Kesehatan RI,1989. Paduan Bidan di Tingkat Desa

    Bagian I. Jakarta: Ditjen Binkesmas.

    Departemen Kesehatan RI,1989. Paduan Bidan di Tingkat Desa Bagian 11.

    Jakarta:Ditjen Binkesmas.

    Departemen Kesehatan RI, 1990. Pedoman Pembimbing/Supervisi. Upaya Kesehatan

    Puskesmas. Jakarta. Ditjen Binkesmas.

    Departemen Kesehatan RI, 1994. a. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.

    Departemen Kesehatan RI, 1994.b. Rencana Pembangunan Lima Tahun keenam.

    Jakarta.

    Departemen Kesehatan RI, 1996. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor. 572

    /Menkes/PER/VI/1996 tentang registrasi dan Praktek Bidan.

    Flahault D., Piot M., Franklin A., 1988. The Supervision of health personnel at

    district level. WHO, Geneva.

    Istiarti T., 1996. Pemanfaatan Tenaga Bidan Desa. Yogyakarta. Pusat penelitian

    Kependudukan UGM.

    Martodipoero S., soetedjo H., Suyono., Suiharti., Rahanto S., Prayoga., 1983.

    Pelaksanaan Supervisi di Puskesmas. Surabaya : Puslitbang Kesehatan.

  • Siagian SP., 1989. Toeri Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta.Penerbit Bina Aksara.

    Sugiyono, 2004. Metode Penelitian Administrasi. Bandung ; Alfabeta.

    Suwondo A.P., 1980. Kepemimpinan Dalam Bimbingan Pengembangan, P4K,

    Surabaya.

    Van Dersal W., 1978. Prinsip dan tehnik Supervisi dalam pemerintahan. Terjemahan

    Handoyo. Jakarta : Bhratara Karya Aksara.

  • Lampiran 1

    Nomor Responden :

    KUESIONER PENELITIAN

    Pengaruh Gaya Supervisi Bidan Senior Terhadap Kinerja Bidan Desa Di

    Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan Tahun 2010

    Jawaban saudara tidak akan mempengaruhi prestasi dan nama saudara akan

    dirahasiakan, jadi diharapkan saudara bisa mengisi jawaban yang betul-betul sesuai

    dengan pendapat saudara. Atas bantuan dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih.

    Identitas Responden 1. Nama :

    2. Umur :

    3. Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan*

    4. Pendidikan :

    5. Golongan / Jabatan :

    Keterangan : * Coret yang tidak perlu

    Petunjuk Pengisian :

    Berilah tanda silang () pada jawaban pertanyaan yang sesuai dengan pilihan Bapak/Ibu.

    A. Gaya Supervisi Diisi oleh

    peneliti

    1. Bagaimanakah cara pembimbing (Ketua IBI) dalam pemecahan masalah

    berkaitan dengan kesejahteraan bidan?

    1.Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dilakukan oleh

    pembimbing.

    2.Pembimbing mendelegasikan pengambilan keputusan dan pemecahan

    masalah

    kepada anggota IBI (bidan).

    3.Pengambilan keputusan dan pemecahan masalah dilakukan oleh

    pembimbing

    setelah mendengarkan masukan/saran dari anggota IBI (bidan).

    4.Pembimbing dan anggota IBI (bidan) sama-sama terlibat dalam

    pengambilan

    keputusan dan pemecahan masalah.

    A1 [ ]

  • 2. Bagaimanakah cara pembimbing (Ketua IBI) anda, ketika anda

    memberikan saran/masukan?

    1. Tidak menerima saran/masukan.

    2. Menerima saran/masukan dan keputusan sepenuhnya ditentukan

    anggota IBI (bidan).

    3. Menerima tetapi keputusan sepenuhnya ditentukan pembimbing.

    4. Menerima dan mendiskusikan saran/masukan dengan anggota IBI

    (bidan).

    3. Bagaimanakah cara pembimbing (Ketua IBI) ketika memperoleh tugas

    dari tingkat yang lebih tinggi seperti dari organisasi IBI tingkat Kota

    Tangsel ?

    1. Pembimbing melaksanakan dan mengambil keputusan sendiri.

    2. Pembimbing mendelegasikan tugas dan pengambilan keputusan

    kepada anggota IBI (bidan).

    3. Pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan

    dengan tugas tersebut dilakukan oleh pembimbing setelah

    mendengarkan masukan/saran dari anggota IBI (bidan).

    4. Pembimbing dan anggota IBI (bidan) sama-sama terlibat dalam

    pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

    4. Bagaimanakah perlakuaan yang anda terima ketika sedang melaksanakan

    tugas pekerjaan?

    1. Anggota memiliki kebebasan dalam melaksanakan pekerjaan.

    2. Pembimbing memberikan keleluasaan anggota dalam melaksanakan

    pekerjaan.

    3. Pembimbing melakukan pengawasan pekerjaan yang ketat.

    4. Pembimbing memberikan tanggung jawab pekerjaan kepada anggota

    tetapi dalam pengawasan pembimbing.

    5. Ketika anda mengerjakan tugas yang diberikan pembimbing,

    bagaimanakah tindakan pembimbing?

    1. Anggota memiliki kebebasan dalam melaksanakan pekerjaan.

    2. Pembimbing memberikan keleluasaan anggota dalam melaksanakan

    pekerjaan.

    3. Pembimbing melakukan pengawasan pekerjaan yang ketat.

    4. Pembimbing memberikan tanggung jawab pekerjaan kepada anggota

    tetapi dalam pengawasan pembimbing.

    A2 [ ]

    A3 [ ]

    A4 [ ]

    A5 [ ]

  • 6. Bagaimana cara pembimbing dalam pengambilan keputusan pelaksanaan

    pekerjaan berkaitan dengan pelayanan kesehatan kepada masyarakat?

    1. Pengambilan keputusan dilakukan oleh pembimbing.

    2. Pembimbing mendelegasikan pengambilan keputusan kepada anggota

    IBI (bidan).

    3. Pengambilan keputusan dilakukan oleh pembimbing setelah

    mendengarkan masukan/saran dan anggota IBI (bidan).

    4. Pembimbing dan anggota IBI (bidan) sama-sama terlibat dalam

    pengambilan keputusan.

    7. Bagaimanakah cara pembimbing ketika terjadi konflik diantara sesama

    bidan?

    1. Pembimbing memberi hukuman kepada bidan yang terlibat konflik.

    2. Pembimbing menyerahkan penyelesaiannya kepada bidan.

    3.Pembimbing mendiskusikan penyelesaian konflik yang terjadi tetapi

    tetap memberikan hukuman kepada bidan yang terlibat konflik.

    4. Pembimbing bersama bidan menyelesaikan konflik dengan

    musyawarah.

    8. Bagaimanakah tindakan pembimbing ketika terdapat bidan yang

    melakukan kesalahan kerja?

    1. Pembimbing memberi hukuman kepada bidan.

    2. Pembimbing menyerahkan penyelesaiannya kepada bidan.

    3. Pembimbing mendiskusikan penyelesaian masalah yang terjadi tetapi

    tetap memberikan hukuman kepada bidan.

    4. Pembimbing bersama bidan menyelesaikan masalah dengan

    musyawarah.

    A6 [ ]

    A7 [ ]

    A8 [ ]

  • Lembar ini diisi oleh Koordinator bidan di masing-masing puskesmas di

    Kecamatan Pondok Aren

    Nama bidan yang dinilai :

    Puskesmas :

    B. Kinerja Bidan Diisi oleh

    peneliti

    a. Kualitas hasil kerja

    1. Apakah hasil kerja Anda memiliki ketepatan dalam menjalankan tugas

    sesuai dengan pekerjaan?

    a. Tidak pernah tepat

    b. Tepat.

    c. Selalu tepat.

    2. Apakah hasil kerja Anda memiliki ketelitian dalam menjalankan tugas

    sesuai dengan pekerjaan?

    a. Tidak pernah teliti

    b. Teliti

    c. Selalu teliti.

    3. Apakah Anda teliti dalam memeriksa kembali pekerjaan yang telah

    diselesaikan sebelum pekerjaan tersebut diperiksa pembimbing?

    a. Tidak pernah teliti

    b. Teliti

    c. Selalu teliti.

    4. Apakah hasil kerja Anda selalu menghasilkan pekerjaan yang rapi?

    a. Tidak pernah rapi.

    b. Rapi.

    c. Selalu rapi.

    5. Apakah hasil kerja Anda selalu mengahasilkan pekerjaan yang bersih?

    a. Tidak pernah bersih

    Ba1 [ ]

    Ba2 [ ]

    Ba3 [ ]

    Ba4 [ ]

    Ba5 [ ]

  • b. Bersih

    c. Selalu bersih

    b. Kuantitas hasil kerja

    6. Apakah setiap bidan pernah dituntut untuk menyelesaikan tugas sehari-

    hari dengan cepat dan baik?

    a. Tidak dituntut

    b. Kadang-kadang dituntut.

    c. Selalu dituntut.

    7. Seberapa besar persentase jumlah pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam

    sehari?

    a. < 75 %

    b. 90 76 %

    c. > 90 %

    8. Seberapa besar persentase Anda dalam menunda pekerjaaan?

    a. < 75 %

    b. 90 76 %

    c. > 90 %

    9. Apakah Anda selalu melaksanakan tugas pekerjaan yang diberikan oleh

    pembimbing dengan tepat waktu?

    a. Tidak pernah tepat waktu.

    b. Kadang-kadang tepat waktu.

    c. Selalu tepat waktu.

    10. Apakah Anda pernah mendapatkan teguran dari pembimbing karena

    tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu?

    a. Selalu mendapat teguran

    b. Kadang-kadang.

    c. Tidak pernah.

    Bb6 [ ]

    Bb7 [ ]

    Bb8 [ ]

    Bb9 [ ]

    Bb10[ ]

  • Lampiran 2

    Frequencies

    Statistics

    gayasprvisi

    KINERJA_BIDA

    N

    N Valid 25 25

    Missing 0 0

    gayasprvisi

    Frequency Percent Valid Percent

    Cumulative

    Percent

    Valid anarki 2 8.0 8.0 8.0

    demokrasi 23 92.0 92.0 100.0

    Total 25 100.0 100.0

    KINERJA_BIDAN

    Frequency Percent Valid Percent

    Cumulative

    Percent

    Valid buruk 5 20.0 20.0 20.0

    baik 20 80.0 80.0 100.0

    Total 25 100.0 100.0

    Crosstabs

    Case Processing Summary

    Cases

    Valid Missing Total

    N Percent N Percent N Percent

    gayasprvisi *

    KINERJA_BIDAN 25 100.0% 0 .0% 25 100.0%

  • gayasprvisi * KINERJA_BIDAN Crosstabulation

    KINERJA_BIDAN

    Total buruk baik

    gayasprvisi anarki Count 1 1 2

    % within gayasprvisi 50.0% 50.0% 100.0%

    demokrasi Count 4 19 23

    % within gayasprvisi 17.4% 82.6% 100.0%

    Total Count 5 20 25

    % within gayasprvisi 20.0% 80.0% 100.0%

    Chi-Square Tests

    Value df

    Asymp. Sig. (2-

    sided)

    Exact Sig. (2-

    sided)

    Exact Sig. (1-

    sided)

    Pearson Chi-Square 1.223a 1 .269

    Continuity Correctionb .034 1 .854

    Likelihood Ratio .994 1 .319

    Fisher's Exact Test .0367 .0367

    Linear-by-Linear Association 1.174 1 .279

    N of Valid Casesb 25

    a. 3 cells (75.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .40.

    b. Computed only for a 2x2 table

    Risk Estimate

    Value

    95% Confidence Interval

    Lower Upper

    Odds Ratio for gayasprvisi

    (anarki / demokrasi) 4.750 .243 92.970

    For cohort KINERJA_BIDAN

    = buruk 2.875 .554 14.932

    For cohort KINERJA_BIDAN

    = baik .605 .149 2.451

    N of Valid Cases 25