of 19/19
ETNOBOTANI TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT ETNIS DAYAK MERATUS LOKSADO KALIMANTAN SELATAN DAN UPAYA KONSERVASI DI KHDTK SAMBOJA Oleh : Noorcahyati dan Zainal Arifin ABSTRAK Etnis Dayak Meratus Desa Haratai di Kalimantan Selatan memiliki pengetahuan pengobatan tradisional dengan menggunakan berbagai jenis tumbuhan berkhasiat obat yang berada disekitar mereka mulai dari hutan, kebun karet tua, ladang, hingga pekarangan. Pengetahuan tersebut, umumnya dikuasai kaum tua dengan menggunakan proses transfer pengetahuan secara lisan dari generasi ke generasi tanpa ada pendokumentasian secara tertulis. Jika tidak dilakukan pendokumentasian, dikhawatirkan pengetahuan pengobatan tradisional akan hilang, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan hilangnya jenis tumbuhan berkhasiat obat. Untuk itulah peran ilmu etnobotani membantu dalam mendokumentasikan pengetahuan pengobatan tradisional tentang jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat, cara meramu, bagian tumbuhan yang digunakan, serta habitat atau pun tempat dimana tumbuhan berkhasiat obat diambil. Makalah ini memberikan gambaran mengenai jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat, cara meramu, dan bagian tumbuhan yang digunakan serta pemanfaatannya untuk mengobati penyakit yang digunakan oleh etnis dayak meratus di lokasi penelitian. Tercatat 110 jenis tumbuhan dan lebih dari 57 famili yang dimanfaatkan untuk bahan pengobatan. Informasi tersebutberguna untuk keperluan pelestarian dan pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat itu sendiri. Sebagai bentuk upaya konservasi, beberapa jenis tumbuhan berkhasiat obat yang diperoleh dari lokasi penelitian juga dibuat koleksi hidup pada Plot Tumbuhan Berkhasiat Obat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja. Kata kunci : Etnobotani, dayak meratus, konservasi PENDAHULUAN Keanekaragaman hayati merupakan aset bangsa yang sangat penting untuk dijaga kelestarian dan pemanfaatannya. Kalimantan dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya juga didukung oleh potensi pengetahuan tradisional yang dimiliki berbagai etnis asli di Kalimantan. Kekayaan keanekaragaman hayati ini memiliki keterikatan dengan budaya masyarakat setempat. Salah satunya melalui pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan dalam pengobatan tradisional etnis lokal, terutama yang berada disekitar kawasan hutan. Pengetahuan pengobatan tradisional ini telah teruji secara empiris dari generasi ke generasi. Salah satu etnis di Kalimantan yang masih

PENDAHULUAN - database.forda-mof.orgdatabase.forda-mof.org/uploads/1_Etnobotani_Tumbuhan_Berkhasiat... · METODOLOGI Penelitian merupakan survey eksploratif dengan teknik pengambilan

  • View
    221

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENDAHULUAN -...

ETNOBOTANI TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT ETNIS DAYAK MERATUS LOKSADO KALIMANTAN SELATAN

DAN UPAYA KONSERVASI DI KHDTK SAMBOJA

Oleh : Noorcahyati dan Zainal Arifin

ABSTRAK

Etnis Dayak Meratus Desa Haratai di Kalimantan Selatan memiliki

pengetahuan pengobatan tradisional dengan menggunakan berbagai jenis tumbuhan

berkhasiat obat yang berada disekitar mereka mulai dari hutan, kebun karet tua, ladang,

hingga pekarangan. Pengetahuan tersebut, umumnya dikuasai kaum tua dengan

menggunakan proses transfer pengetahuan secara lisan dari generasi ke generasi tanpa

ada pendokumentasian secara tertulis. Jika tidak dilakukan pendokumentasian,

dikhawatirkan pengetahuan pengobatan tradisional akan hilang, bahkan lebih cepat

dibandingkan dengan hilangnya jenis tumbuhan berkhasiat obat. Untuk itulah peran ilmu

etnobotani membantu dalam mendokumentasikan pengetahuan pengobatan tradisional

tentang jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat, cara meramu, bagian tumbuhan yang

digunakan, serta habitat atau pun tempat dimana tumbuhan berkhasiat obat diambil.

Makalah ini memberikan gambaran mengenai jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat, cara

meramu, dan bagian tumbuhan yang digunakan serta pemanfaatannya untuk mengobati

penyakit yang digunakan oleh etnis dayak meratus di lokasi penelitian. Tercatat 110 jenis

tumbuhan dan lebih dari 57 famili yang dimanfaatkan untuk bahan pengobatan. Informasi

tersebutberguna untuk keperluan pelestarian dan pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat

itu sendiri. Sebagai bentuk upaya konservasi, beberapa jenis tumbuhan berkhasiat obat

yang diperoleh dari lokasi penelitian juga dibuat koleksi hidup pada Plot Tumbuhan

Berkhasiat Obat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja.

Kata kunci : Etnobotani, dayak meratus, konservasi

PENDAHULUAN

Keanekaragaman hayati merupakan aset bangsa yang sangat penting untuk dijaga

kelestarian dan pemanfaatannya. Kalimantan dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya

juga didukung oleh potensi pengetahuan tradisional yang dimiliki berbagai etnis asli di

Kalimantan. Kekayaan keanekaragaman hayati ini memiliki keterikatan dengan budaya

masyarakat setempat. Salah satunya melalui pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan

berkhasiat obat yang digunakan dalam pengobatan tradisional etnis lokal, terutama yang

berada disekitar kawasan hutan. Pengetahuan pengobatan tradisional ini telah teruji

secara empiris dari generasi ke generasi. Salah satu etnis di Kalimantan yang masih

memanfaatkan pengetahuan lokal dalam pengobatan melalui berbagai jenis tumbuhan

adalah etnis Dayak Meratus (Dayak Bukit) di Desa Haratai Kecamatan Loksado, Kabupaten

Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Umumnya pengetahuan pengobatan tradisional hanya dikuasai oleh kaum tua.

Generasi muda saat ini kurang termotivasi untuk menggali pengetahuan dari kaum tua, dan

lambat laun mulai ditinggalkan karena berbagai faktor penyebab. Kondisi seperti ini,

menjadikan warisan tradisional lambat laun akan mengalami kepunahan di tempat aslinya

(Noocahyati, 2012).Karena itu, perlu ada upaya untuk mendokumentasikan pengetahuan

pengobatan tradisional yang seiring dengan upaya pelestarian tumbuhan berkhasiat obat

untuk pengetahuan, konservasi dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara

pendokumentasian tersebut adalah melalui kajian etnobotani tumbuhan berkhasiat obat.

Etnobotani secara terminologi dapat dipahami sebagai hubungan antara botani

(tumbuhan) yang terkait dengan etnik (kelompok masyarakat) di berbagai belahan bumi,

dan masyarakat umumnya. Studi etnobotani bermanfaat ganda, karena selain bermanfaat

bagi manusia dan lingkungan, dan perlindungan pengetahuan tersebut, melalui

perlindungan jenis jenis tumbuhan yang digunakan (Suryadarma 2008).Menurut

Munawaroh dan Purwanto (2000) Etnobotani merupakan ilmu yang mempelajari

hubungan timbal balik secara menyeluruhantara masyarakat lokal dengan alam

lingkungannya yang meliputi pengetahuan tentangsumberdaya alam tumbuhan. Karena itu,

etnobotani berpotensi mengungkapkan sistempengetahuan tradisional dari suatu

kelompok masyarakat atau etnik mengenai keanekaragamansumberdaya hayati,

konservasi dan budaya.

Makalah ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan Balai Penelitian Teknologi

Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) Samboja untuk mengungkap pengetahuan

etnis Dayak Meratus di Desa Haratai dalam memanfaatkan sumber daya alam tumbuhan di

sekitarnya, khususnya tumbuhan berkhasiat obat. Selain itu, juga tersedianya data

keanekaragaman jenis tumbuhan obat dan konsep pengobatan masyarakat lokal serta

berguna untuk keperluan konservasi, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

METODOLOGI

Penelitian merupakan survey eksploratif dengan teknik pengambilan data melalui

observasi dan wawancara langsung kepada tokoh kunci, serta pengguna tumbuhan

berkhasiat obat yang ada di lokasi penelitian. Tokoh kunci adalah orang yang dianggap

memahami tentang pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan. Biasanya mereka adalah kaum tua

dan memiliki warisan pengetahuan dari generasi sebelumnya yang diturunkan secara lisan.

Untuk mengetahui jenis tumbuhan berkhasiat obat dilakukan survey langsung ke

habitatnya untuk pengambilan spesimen guna keperluan identifikasi dan pengujian lebih

lanjut. Identifikasi dilakukan di Herbarium Wanariset Balitek KSDA Samboja. Selain

keperluan identifikasi, spesimen herbarium yang diperoleh juga sebagai bahan koleksi

kering serta bukti otentik keberadaan tumbuhan berkhasiat obat di lokasi penelitian.

Pengambilan data primerdilakukan di Desa Haratai yang berada di kawasan

Pegunungan Meratus.Secara geografis kawasan Pegunungan Meratus terletak di antara

1153800" hingga 1155200" Bujur Timur dan 22800" hingga 205400" Lintang Selatan.

Pegunungan ini menjadi bagian dari 8 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu:

Hulu Sungai Tengah (HST), Balangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Kotabaru,

Tanah Laut, Banjar dan Tapin. Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang

bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah.

Desa Haratai secara administratif berada di Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu

Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Jarak tempuh dari Desa Haratai ke ibukota

Propinsi (kota Banjarmasin) sekitar 185 km dengan waktu sekitar 5 jam perjalanan. Desa

yang menjadi lokasi penelitian ini cukup terkenal di Kab. HSS dikarenakan terdapat objek

wisata air terjun Harataiyang menjadi salah satu tujuan wisata terkenal di Kalimantan

Selatan.

Desa Haratai terdiri dari 3 anak desa (dusun) yakni Haratai 1, Haratai 2 dan Haratai

3. Lokasi penelitian tepatnya berada di Desa Haratai 1 yang menjadi induk dari dua dusun

lainnya. Lokasi Desa Haratai berada di kaki pegunungan Meratus.Pegunungan Meratus

merupakan kawasan pegunungan yang membelah Propinsi Kalimantan Selatan menjadi

dua, membentang sepanjang 600 km2 dari arah tenggara dan membelok kearah utara

hingga perbatasan Kalimantan Timur. Disepanjang pegunungan ini terdapat banyak

perkebunan karet, begitu juga dengan kondisi Desa Haratai. Selain terdapat perkebunan

karet tua dan muda, di Haratai juga terdapat hamparan perkebunan kayu manis. Peta

lokasi penelitian dapat dilihat pada gambar 1 berikut.

Gambar 1. Lokasi penelitian di Kecamatan Loksado, Kab. HSS, Kalsel

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persepsi Terhadap Penyakit

Penduduk di Desa Haratai I adalah etnis Dayak Meratus. Desa ini berada dalam

bagian Hutan Lindung Haratai yang dikelola oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Sebagian besar etnis Dayak

Meratus masih tergantung pada tumbuhan yang ada di sekitarnya dalam memenuhi

kebutuhan hidup sehari-hari. Begitu pula dengan pengobatan tradisional melalui

pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan berkhasiat obat. Menurut Setyowati

(2010)pengobatan tradisional merupakan upayapenyembuhanterhadap penyakit yang

dilakukanberdasarkan kepercayaan turun-temurun, baikdengan menggunakan bahan

alami yang tersediadan diyakinimempunyai khasiat dapatmenyembuhkan maupun melalui

perantaraseseorang (dukun) yang diakui mempunyaikekuatan tertentu di dalam dirinya

untukmenghilangkan penyakit.

Rahayu, et.al (2006) menyebutkan Persepsi mengenai konsep sakit, sehat, dan

kaitannya dengan pemanfaatan tumbuhan obat secara tradisional terbentuk melalui

sosialisasi yang secara turun temurun dipercaya dan diyakini kebenarannya. Persepsi etnis

Dayak Meratus di Desa Haratai terhadap penyakit dibedakan menjadi dua bagian besar,

yakni : penyakit yang disebabkan oleh makanan dan penyakit yang disebabkan oleh

perbuatan. Atas dasar ini cara pengobatan yang dilakukan pun akan berbeda. Pengobatan

dilakukan melalui ramuan obat tradisional yang terdiri dari tumbuhan, mineral dan hewan.

Ada pula pengobatan yang diakukan melalui pembacaan doa dan mantra yang diikuti ritual

dalam adat dayak meratus yang dikenal dengan Batandik. Pengobatan dengan

berbagai jenis tumbuhan ada yang berupa ramuan yakni terdiri dari campuran berbagai

jenis bagian tumbuhan, bagian hewan dan atau mineral. Selain itu, ada pula bagian

tumbuhan yang digunakan sebagai obat secara tunggal atau terdiri dari satu jenis

tumbuhan.

Keragaman Tumbuhan Berkhasiat Obat

Sebagian besar etnis Dayak Meratus (Bukit) di Desa Haratai, Loksado masih tetap

mempertahankan tradisi pengobatan tradisional yang sudah dipraktekkan nenek moyang

mereka secara turun temurun. Sehingga secara empiris, pemanfaatan tumbuhan berkhasiat

obat sudah teruji sejak lama. Pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat tersebut selain untuk

pengobatan penyakit juga untuk perawatan kesehatan. Jauhnya akses masyarakat dengan

pelayanan kesehatan menjadikan pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tumbuhan

berkhasiat obat yang ada di sekitar mereka masih mendapat tempat pada etnis ini.

Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh kunci dan penduduk setempat tercatat

jenis tumbuhan yang dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit dan

kosmetika (tabel lampiran). Tumbuhan tersebut terdiri dari berbagai famili yang disajikan

pada tabel 1.

Tabel 1. Famili tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan

No. Famili Spesies Jumlah Spesies

1 Acanthaceae Nomaphila stricta 1 2 Ancistrocladaceae Ancistrocladus tectorius 1 3 Annonaceae Annona muricata, Artabotryssuaveolens sp. 2 4 Apocinaceae Alstonia scholaris 1 5 Araliaceae Schefflera sp. 1

6 Araceae Alocasia scabriuscula, Amyrum sp., Homalomena sp.

3 (NN=1)

7 Arecaceae Areca catechu, Arenga pinnata, Metroxylon sagu

3

8 Asteraceae Ageratum conyzoides 1 9 Bombacaceae Durio zibethinus 1

10 Compositae Eupathorium inulaefolium, Wedelia biflora, Micania scandens, Blumea balsamifera, Blumea sp.

5

11 Connaraceae Connarus sp., Cnestis platantha, Rourea mimosoides

3

12 Convolvulaceae Meremmia peltata 1 13 Cyatheaceae Cyathea recommutata 1 14 Cyperaceae Scleria laevis Willd. 1 15 Dilleniaceae Tetracera sp. 1 16 Euphorbiaceae Baccaurea lanceolata, Acalypa caturus,

Macaranga bancana, Macaranga sp1, Macaranga sp2., Cratoxylum tignum

6

17 Fabaceae Bauhinia sp., Archidendron jiringa 2 18 Flacourtiaceae Flacourtia rukam 1 19 Gesneriaceae Cyrtandra sp. 1 20 Gleicheniaceae Dicranopteris curranii 1 21 Graminae Saccharum spontaneum, Bambusa vulgaris 2 22 Labiatae Hyptis capitata 1 23 Lamiaceae Ocimum sp. 1 24 Lauraceae Eusideroxylon zwageri, Luvunga sp.,

Cinnamomum burmanii, Litsea elliptica 4

25 Leaceae Leea indica 1 26 Leguminosae Mucuna sp., Senna alata, Spatholobus

sangueneus, Dalbergia discolor, Parkia roxburghii, Cajamus cajan, Entanda borneensis,

7 (NN=1)

27 Liliaceae Cordiline petiolaris 1 28 Loganiaceae Fagraea racemosa 1 29 Loranthaceae Helixanthera cylindrical 1 30 Malvaceae Sida rhombifolia 1 31 Marantaceae Donax caniformis 1 32 Menispermaceae Fibraurea tinctoria, Pycnarrhena tumefacta 2 33 Melastomataceae Melastoma malabathricum 1 34 Meliaceae Lansium domesticum 1 35 Moraceae Ficus cf. quercifolia 1 36 Myrtaceae Tristaniopsis sp. 1 37 Myristicaceae Myristica maxima 1 (NN=2) 38 Oleaceae Chionanthus sp 1 39 Ophioglossaceae Helminthostachys zeylanica 1

40 Palmae Ceratolobus sp. 1 41 Piperaceae Piper aduncum, Piper betle, Piper sp. 3 42 Poaceae Imperata cylindrica 1 43 Rhamnaceae Alphitonia excelsa 1 44 Rubiaceae Morinda citrifolia, Ixora sp., Oxyceros sp. 3 45 Rutaceae Melicope glabra 1 46 Sapindaceae Lepisanthes amoena 1 47 Schizaeaceae Ligodium circinnatum 1 48 Selaginellaceae Selaginella plana 1 49 Simaroubaceae Eurycoma longifolia, Brucea javanica 2 50 Solanaceae Capsicum sp. 1 (NN=1) 51 Sterculiaceae Sterculia sp. 1 52 Taccaceae Tacca sp. 1 (NN=2) 53 Thelypteridaceae Pronephrium rubicundum 1 54 Umbelliferae Hydrocotile sibthorpioides 1 55 Urticaceae Leucosike capitallata, polikilospermum sp.,

Dendrocnide sp1.,Dendrocnide sp2., Villebrunea sp.

5

56 Verbenaceae Peronema canescens, Lantara camara, Clerodendrum sp.

1

57 Zingiberaceae Costus speciosus, Zingiber purpureum 2

Berdasarkan tabel tersebut diketahui terdapat 57 famili tumbuhan yang digunakan

etnis Dayak Meratus dalam pengobatan tradisional yang mereka lakukan. Jenis-jenis yang

digunakan tersebut bervariasi mulai dariherba, rumput, liana, parasit hingga pohon.

Jumlah jenis pada famili leguminosae menempati jumlah terbanyak yakni 8 jenis yang

terdiri dari 7 jenis telah teridentifikasi spesiesnya dan 1 jenis masih belum teridentifikasi.

Tumbuhan berkhasiat obat dikumpulkan dari berbagai habitat terutama kebun

karet tua dan hutan di sekitar desa. Beberapa jenis dapat dijumpai di pekarangan, pinggir

jalan serta kebun dan ladang. Tumbuhan berkhasiat obat yang dimanfaatkan etnis Dayak

Meratus digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dari ringan hingga penyakit berat.

Selain itu terdapat beberapa spesies yang digunakan sebagai afrodisiak, untuk persalinan

dan pasca melahirkan serta kosmetik. Data selengkapnya disajikan pada lampiran.Dari 110

jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional, terdapat beberapa jenis

yang sudah dikategorikan langka/rentan seperti : akar arau/akar kuning (Fibraurea

tinctoria), Pulantan/Pulai (Alstonia scholaris), dan Pasak Bumi (Eurycoma longifolia).

Fibraurea tinctoria termasuk dalam famili Menispermaceae. Tumbuhan yang

merupakan liana ini dikenal sebagai akar arau pada etnis Dayak Meratus di Desa Haratai.

Penamaan lokal dari berbagai daerah antara lain akar kuning, merkunyit, akar koneng,

kukunyit, aka bila. DaerahpersebaranFibraurea tinctoria meliputi Sumatera, Kalimantan,

Sulawesi, Halmahera, Filipina, Thailand, Indocina dan Malaya. Termasuk dalam famili

Menispermaceae. Dapat dijumpai ketinggian tempat yang beragam dari dataran rendah

sampai ketinggian 1000 m dpl. Umumnya tumbuh secara liar di hutan sekunder atau

semak belukar. Berdasarkan red list IUCN tumbuhan ini telah dinyatakan langka

(Setyowati, et.al, 2007).Keberadaan Fibraurea tinctoria dan beberapa famili Menisperceae

lainnya yang juga dimanfaatkan sebagai bahan baku obat terus mengalami penurunan di habitat

aslinya.

Fibraurea tinctoria secara empiris tidak hanya digunakan etnis Dayak Meratus, hampir

semua etnis asli di Kalimantan menggunakannya untuk mengobati berbagai penyakit, seperti

sakit kuning, malaria dan hepatitis (Noorcahyati, 2010). Tidak hanya teruji secara empiris,

tumbuhan ini juga telah teruji secara ilmiah melalui beberapa penelitian yang dilakukan. Isolasi

senyawa aktif dengan metode Bioassay Guided Isolationtelah dilaporkan oleh Wahyuono dkk

(2006) bahwa senyawa bioaktifnya mampu menghambat 20%pertumbuhan kanker in vitro.

Alstonia scholaris dikenal etnis Dayak Meratus dengan nama lokal Pulantan / Pulai.

Pohon ini dimanfaatkan sebagai obat bisul dengan menggunakan getah dari batang maupun

daun. Meskipun pada etnis ini penggunaan getah Alstonia scholaris untuk bisul, sebenarnya jenis

ini telah dimanfaatkan oleh berbagai etnis untuk mengobati berbagai penyakit, diantaranya

berpotensi sebagai antidiabetes. Daerah persebaran Alstonia scholarismeliputi Jawa, Sumatera,

Kalimantan Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tumbuh liar pada hutan primer,

sekunder dan pinggiran ladang di perkampungan. Dapat dijumpai mulai dari dataran rendah

sampai ketinggian 1000 m dpl. Di Desa Haratai, tumbuhan ini tumbuh di tempat yang lembab

dan banyak mengandung humus, berada di ketinggian sekitar 400 m dpl. Berdasarkan redlist

IUCN saat ini status konservasiAlstonia scholaris tercatatLower Risk/Least Concernberdasarkan

data tahun 1998. Tentu saja saat ini diduga sudah meningkat status kelangkaannya.

Pasak bumi (Eurycoma longifolia) merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang

sudah sangat terkenal di Kalimantan. Penggunaan tumbuhan ini terutama sebagai bahan

untuk afrodisiak. Daerah persebarannya meliputi Sumatera, Kalimantan, Semenanjung

Malaya, Birma, Thailand dan Vietnam. Pasak bumi menyukai tanah agak masam dan

berpasir, pada hutan primer dan sekunder (Setyowati, 2007). Penggunaan Eurycoma

longifolia di Desa Haratai saat ini tidak banyak karena sudah sulit menemukan Eurycoma

longifolia di Desa ini, sehinga masyarakat menggantinya dengan Lepisanthes amoena yang

juga disebut sebagai pasak bumi oleh sebagian masyarakat pada etnis ini. Status

konservasi Eurycoma longifolia menurut Rifai (1992) berada pada status terkikis.

Selain ketiga jenis tersebut, jenis lainnya juga sudah mulai sulit ditemukan pada

habitatnya seperti kedaung (Parkia roxburghii)danSangga Langit (Helmintostachys

zeylanica). Kedaung adalah satu diantara 30 spesies tumbuhan obat langka di Indonesia

yang populasinya terus menurun, bahkan mulai jarang dijumpai di habitat aslinya (Zuhud,

207).

Pemanfaatan bagian tumbuhan dari Fibraurea tinctoria dan Eurycoma longifolia

adalah bagian batang dan akar, juga beberapa spesies lainnya. Sedangkan pulantan atau

Alstonia scholarisbagian yang dimanfaatkan adalah getah pada batang atau daun.

Penggunaan bagian tumbuhan seperti akar adalah penggunaan yang sangat mengancam

kelestarian tumbuhan tersebut. Karena akar dan batang adalah bagian utama dari

kehidupan tumbuhan. Menurut Norhidayah et al. (2006),pemanenan tumbuhan obat

langsung dari alam apabila dilakukan tanpa memperhatikan kelestarian dapat

menyebabkan kelangkaan dan akhirnya kepunahan.

Upaya Konservasi Tumbuhan Berkhasiat Obat

Meskipun etnis Dayak Meratus di Desa Haratai masih memanfaatkan berbagai

tumbuhan dalam pengobatan tradisional yang mereka praktekkan sehari-hari, lambat laun

pengetahuan pengobatan tradisional dapat menjadi punah. Hal ini disebabkan beberapa

hal yakni : adanya sistem pewarisan pengetahuan pengobatan yang hanya melalui lisan

tanpa ada catatan tertulis dari generasi ke generasi. Selain itu, generasi muda sedikit demi

sedikit terlihat kecenderungan meninggalkan pengobatan tradisional dan tidak tertarik

untuk mempelajarinya dari kaum tua. Menurut Caniago dan Siebert (1998) hasil survei di

perkampungan Dayak Ransa diKalimantan Barat, penduduk yang berusia lebih dari 25

tahun terutama perempuan berusia tuamempunyai pengetahuan yang lebih banyak

mengenai pemanfaatan tumbuhan obat dibandingkandengan laki-laki dan perempuan yang

lebih muda. Di Desa Haratai, usia penduduk yang menguasai pengobatan tradisional

berkisar 40 tahun ke atas. Bahkan untuk mewariskan pengetahuan pengobatan tradisional

dari seorang pengobat (tabib), umumnya diberikan pada usia 35 tahun ke atas.

Dari sisi habitattumbuhan berkhasiat obat, seiring bertambahnya jumlah penduduk

dan pembukaan lahan akan mempersempit habitat dan berimbas pula terhadap kelestraian

tumbuhan berkhasiat obat tersebut. Penggunaan dan pemanfaatan tumbuhan tanpa ada

upaya budidaya akan menyebabkan terganggunya kelestarian tumbuhan. Selain itu

berbagai jenis tumbuhan berkhasiat obat yang diambil langsung dari alam memiliki

kemampuan regenerasi alami yang sangat rendah. Regenerasi yang berlangsung lambat

hendaknya mendapat campur tangan manusia untuk konservasi dan pengembangannya.

Di Desa Haratai, pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat sebagian besar masih

mengandalkan dari alam, meskipun sudah ada yang mulai menanam di pekarangan. Jika

diperlukan, maka anggota keluarga yang bersangkutan akan mencari langsung dari

habitatnya seperti di hutan sekitar desa, kebun, ladang dan pekarangan. Upaya budidaya

belum dilakukan maksimal. Dalam etnis Dayak Meratus ada anggapan bahwa tumbuhan

berkhasiat obat akan memiliki khasiat yang baik jika tumbuh di habitat alaminya. Karena

itu perlu adanya upaya pelestarian baik terhadap tumbuhan berkhasiat obat maupun

pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan. Menurut

Moeljono (1998), tumbuhan obatmerupakan salah satu hasil hutan yangbermanfaat dari

segi ekologi, sosial budaya,maupun ekonomi yang harus dikelola denganmemperhatikan

kebutuhan generasi masa kini danmasa mendatang.Melihat kondisi di Desa Haratai,

diperlukan adanya transfer pengetahuan budidaya berbagai jenis tumbuhan berkhasiat

obat yang sudah terbukti secara ilmiah dan sesuai dengan kondisi iklim dan habitat

tumbuhnya. Khusus jenis kayu manis (Cinnamomum burmanii) diperlukan transfer

pengetahuan mengenai pengolahan produk simplisia agar masyarakat mendapat nilai

tambah dari perkebunan kayu manis yang telah ada di Desa tersebut. Kayu manis tidak

hanya bermanfaat sebagai bahan rempah penyedap masakan dan minuman saja. Kayu

manis juga berguna untuk pengobatan diantaranya sebagai antimikroba, antidiare, demam

hingga influenza. Secara empiris pun didaerah lainnya digunakan untuk hipertensi, batuk,

sakit kuning, kolesterol dan diabetes.

Pelestarian tumbuhan berkhasiat obat dapat dilakukan baik secara in-situ maupun

eks-situ. Selain perlindungan yang bersifat umum atau menyeluruh, perlindungan yang

bersifat lebih khususterhadap suatu elemen, tempat atau habitat khusus suatu sasaran

konservasi perlu dilakukan. Habitatatau tempat khusus tersebut dapat merupakan tempat

hidup dari suatu jenis tumbuhan tertentu ataudapat juga merupakan tempat hidup atau

tempat beraktivitasnya jenis-jenis binatang, dan lain-lain (Sidiyasa, dkk., 2006).

Dalam rangka tersebut, KDHTK Samboja telah merintis pembangunan Plot

Tumbuhan Berkhasiat Obat seluas 5,6 Ha sebagai upaya konservasi tumbuhan berkhasiat

obat yang ada di Kalimantan termasuk yang berasal dari Desa Haratai, Loksado. Seperti

yangdikemukakan Setyawati (2009) bahwa tujuan upaya pelestarian pohon berkhasiat

obat adalahuntuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan

sekitar hutan sertamelestarikan ilmu pengetahuan tradisional tentang ramuan obat yang

selama ini sudah diwariskansecara turun temurun dari nenek moyang kita. Hendaknya

konservasi in-situ juga dilakukan di Desa Haratai dengan melibatkan pihak terkait.

PENUTUP

Hasil penelitian di Desa Haratai Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan,

Kalimantan Selatan memperoleh data keragaman berbagai jenis tumbuhan berkhasiat obat

dan kosmetika sebanyak 110 jenis dari 57 famili. Terdapat 3 jenis diantara tumbuhan yang

dimanfaatkan termasuk kategori langka, sehingga perlu upaya untuk menyelamatkan

keberadaan tumbuhan berkhasiat obat tersebut.

Upaya konservasi tumbuhan berhasiat obat yang dilakukan salah satunya melalui

pembangunan Plot Tumbuhan Berkhasiat Obat di KHDTK Samboja seluas 5,6 Ha. Selain itu,

sangat penting dilakukan budidaya tumbuhan hutan berkhasiatobat yang terancam punah

dan jenis-jenis yang diambil akarnya untuk pengobatan.

Inventarisasi dan pendokumentasian tumbuhan berkhasiat obat serta pengetahuan

tradisionalnya perlu terus dilakukan untuk kepentingan pengetahuan dan konservasi serta

kesejahteraan masyarakat pemilik pengetahuan tersebut. Pembuktian secara ilmiah

berdasarkan bukti empiris yang ada juga sebaiknya terus ditingkatkan.

Daftar Pustaka

Caniago, I. and F.S. Siebert. 1998. Medicinal plant ecology, knowledge and conservation in Kalimantan, Indonesia. Economic Botany 52(3) : 229-250. The New York Botanical Garden.USA.

Moeljono, S, 1998, Suatu Telaah tentang PemanfaatanKeanekaragaman Jenis Tumbuhan olehMasyarakat Suku Menyah Di DaerahPegunungan Arfak Kabupaten

Manokwari,Prosiding Seminar Nasional Etnobotani III 5-6Mei 1998, LIPI, Denpasar-Bali

Munawaroh E. dan I.P. Astuti. 2000. Peran etnobotani dalam menunjang konservasi ex-situ

KebunRaya. http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/2536/2537.pdf.

Noorcahyati. 2010. Kajian Etnobotani Pohon Potensial Berkhasiat Obat Antidiabetes dan

Kolesterol di Kalimantan. (Laporan hasil penelitian). Samboja: Balai Penelitian TeknologiKonservasi Sumber Daya Alam.(Tidak dipublikasikan).

Noorcahyati. 2012. Tumbuhan Berkhasiat Obat Etnis Asli Kalimantan. Balai Penelitian

Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam. Badan Litbang Kementrian Kehutanan. Samboja

Noorhidayah, K. Sidiyasa& I. Hajar. 2006. Potensi dan keanekaragaman tumbuhan obat di

hutan Kalimantan dan upaya konservasinya. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan 3 (2):95 107. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta.

Purwanto, Y. 2000. Etnobotani dan konservasi plasma nutfah hortikultura : peran sistem

pengetahuan lokal pada pengembangan dan pengelolaannya. Prosiding Seminar Hari Cintapuspa dan Satwa Nasional. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle /123456789/52308/Daftar_Pustaka.pdf.

Rahayu, M., Sunarti, S., Sulistiarini, D.,& Prawiroatmodjo, S. (2006). Pemanfaatantumbuhan

obat secaratradisional oleh masyarakat lokal diPulau Wawonii, Sulawesi Tenggara.Biodiversitas 7(3), 245-250.

IUCN Red List.org. 2014. Diakses 28 November 2014. Setyawati, T. 2009. Potensi, regenerasi dan pemanfaatan pohon obat di Cagar Alam Besowo

danManggis, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Info Hutan, Vol VI (2): 145-157. PusatPenelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Setyowati, F.M. 2010. Etnofarmakolgi dan Pemakaian Tanaman Obat Suku Dayak Tunjung

Di Kalimantan Timur. Setyowati, F.M, Wardah. 2007. Keanekaragaman Tumbuhan Obat Masyarakat Talang

Mamak di Sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Riau. Jurnal Biodiversitas Volume 8 Nomor 3. 228-232.

Sidiyasa, K., Zakaria, Ramses, I. 2006. Hutan Desa Setulang dan Sengayan Malinau,

Kalimantan Timur, Potensi dan Identifikasi Langkah-Langkah Perlindungan dalam Rangka Pengelolaannya Secara Lestari. CIFOR. Bogor.

http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/download%20DatabyId/%20253http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/download%20DatabyId/%20253

Suryadarma IGP. 2008. Diktat Kuliah Etnobotani. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta.

Wahyuono, S., Setiadi, J., Santosa, Dj.,Wahyuningsih, M. S. H., Soekotjo,Widyastuti, S. M.

2006. PotensiSenyawa Bioaktif dari Akar Kuning(Fibraurea chloroleuca Miers.)

Koleksidari hutan Kalimantan Tengah sebagaiAntikanker. Majalah Obat

Tradisional,vol. 11 (36), April-Juni, 22-8

Zuhud, E.A.M. 2007. Bio-Ekologi Tumbuhan Obat Kedawung (Parkia timoriana (DC) Merr.) di

Hutan Alam Taman Nasional Meru Betiri. Artikel. Diakses tanggal 25. November 2014.

LAMPIRAN

Tabel 1. Tumbuhan yang dimanfaatkan etnis Dayak Bukit sebagai bahan obat di Desa Haratai, Loksado

No Nama ilmiah Nama lokal Bag yg digunakan KegunaanCara penggunaan POACEAE 1. Imperata cylindrica Padang;Halalang Akar Sakit pinggang Direbus, minum Rebung/Pucuk Sakit dada akibat Ditumbuk,oleskan angin duduk ASTERACEAE 2. Ageratum conyzoides Rumput Sandawa Daun Gatal akibat Digosokkan ke ulat bulu kulit

Daun Mecret Dipanaskan, tempel ke puser

Daun Sakit kepala Dipanaskan, tem Pel ke dahi BOMBACACEAE 3. Durio zibethinus Durian Kulit Btg Sakit sampar Direbus: diminum, dimandikan ARECACEAE 4. Areca catechu Pinang* Akar Sakit pinggang Direndam, minum 5.Arenga pinnata Aren Akar Sakit pinggang Direndam, minum 6. Metroxylon sagu Rumbia Akar Pasca melahirkan Direndam, minum LAURACEAE 7. Eusideroxylon zwageriUlin* Akar Sakit pinggang Direndam, minum Akar Sakit gigi Direbus, kumur2 RUTACEAE 8. Luvunga sp. Seluang Belum* Akar Sakit pinggang Direndam, minum SIMAROUBACEAE 9. Eurycoma longifolia Pasak bumi Akar Sakit pinggang Direndam, minum 10. Brucea javanica RacunAyam Daun Sakit gigi Diperas ke ubun2 Akar Sakit kuning Direndam,minum Buah Sakit kuning Dicuci,makan ZINGIBERACEAE 11. Costus speciocus Tetawar Air batang Panas/demam Disadap

diminum Umbi Mencegah jengkolanDirebus dg jengkol URTICACEAE 12. Leucosike capitallata Ky Yayahi Air batang Panas Disadap, minum Kulit batang Gigitan ular berbisa Dikupas,dililitkan diatas luka PIPERACEAE

13. Piper aduncumBasirih Daun Gatal Diremas, oleskan Daun Perut kembung Diremas, oleskan MELASTOMATACEAE 14. Melastoma malabathricum Uduk-Uduk Akar Mencegah jengkolan Direbus dg jengkol URTICACEAE 15. Polikilospermumsp Kuku-Kuku Pucuk daun Sakit perut Diremas, oleskan Pucuk daun Pasca melahirkan Diremas, oleskan RUTACEAE 16. Melicope glabra Wawangun Pucuk daun Sakit kepala Diremas, diikat ke Kepala COMPOSITAE 17. Eupathorium Jelama* Pucuk daun Luka Ditumbuk, inulaefolium tempelkan LEGUMINOSAE 18. Mucuna sp. Akar ulur Air akar Luka Akar dipotong,air Oleskan 19. Senna alata Gelinggang* Akar Sakit gigi Rebus,kumur Daun Gatal (kulit) Diremas, oleskan 20. Spatholobus sangueneus Carikan Darah Akar Mencret/sakit perut Ditumbuk,minum 21. Dalbergia discolor Akar Laka Akar Pasca melahirkan/Nifas Direndam,minum 22. Parkia roxburghii Kidaung Biji Malaria Dibakar, diminum Biji Kembung Dibakar, minum 23. Cajamus cajan Akar Gudai Akar Spilis Direndam, minum Pucuk daun Sakit gigi Dihaluskan,ke lubang Gigi 24. - Tambalikit Akar Sari rapet Direndam, minum 25. Entanda borneensis Akar Biluru Akar batang Menghilangkan ketombe Ditumbuk, keramas Akar batang Borok Membersihkan borok APOCINACEAE 26.Alstonia scholaris Pulantan Getah daun/batang Bisul Oleskan sekitar Bisul SOLANACEAE 27. Capsicum sp. Cabe Rawit Akar Gatal (kulit) Diremas, oleskan 28. - Terong Hintalu Akar Gatal (kulit) Diremas, oleskan PIPERACEAE 28. Piper sp. Sirih Cambai Daun Sakit perut Digosokkan ke Perut OPHIOGLOSSACEAE 29. Helminthostachys Sangga Langit Umbi Kejang Dihaluskan, dioles zeylanica Umbi Kaku persendian Dihaluskan, dioles UMBELLIFERAE 30. Hydrocotile Jelukap* Daun Pra melahirkan Digosok, oleskan sibthorpioides ke perut NN 31. - Birik* Kulit batang Pra melahirkan Digosok, oleskan ke perut MARANTACEAE 32. Donax caniformis Bamban Air dalam Sakit mata Diteteskan Pucuk daun ARALIACEAE 33. Schefflera sp. Talimpuh Daun Pasca melahirkan Dipanaskan, tempel ke perut Akar Stroke Direndam,minum NN 34. ? Kamburah Daun muda Melancarkan ASI Dipanaskan, tempelkan NN 35. - Pilungsur Daun Perlancarpersalinan Diremas,mandi Sawa

CONNARACEAE 36. Connarus sp. Tampurai Kai Akar Pasca melahirkan Rendam, endapkn minum CYPERACEAE 37. Scleria laevis Willd. Hiring Umbut daun Maag Dikunyah, telan Umbut daun Mual Dikunyah, telan

Umbut daun Sakit gigi Dikunyah, masuk kan lubang gigi

GRAMINAE 38. Saccharum spontaneum Perupuk Umbut daun digunakan untuk pengobatan NN 39. - Singkuungan Getah Sakit inrak ???????????? RUBIACEAE 40. Morinda citrifolia Mingkudu Buah Stroke Diperas,minum 41. Ixora sp. Jarum- Akar Sakit pinggang Direndam,minum Jarum 42. Oxyceros sp. Tatamba Marin Akar Kencing batu Direndam,minum LOGANIACEAE 43. Fagraea racemosa Mingkudu Akar Stroke Direndam,minum Hutan Akar Pasca melahirkan Direndam,minum DILLENIACEAE 44. Tetracera sp. Hampalas Daun digunakan untuk pengobatan VERBENACEAE 45. Peronema canescens Sungkai Lendir dlm Sakit gigi Lendir dimasuk Kulit batang kanpd gigi berlubang Daun Meriang Diremas, minum LAURACEAE 46. Cinnamomum burmanii Kayu Manis Kulit batang Sakit pinggang Direbus,minum 47. Litsea elliptica Mirawas* Daun Meriang Direbus,mandikan STERCULIACEAE 48. Sterculia sp. Tawia Daun digunakan untuk pengobatan CONVOLVULACEAE 49. Meremmia peltata Balaran Getah Bisul Dioleskan sekitar Mata bisul MORACEAE 50. Ficus cf. quercifolia Ampunini Getah Disengat lebah Dioleskan Getah Digigit nyamuk Dioleskan Getah Flek pada wajah Digosokkan ARACEAE 51. Alocasia scabriuscula Keladi Getah Sengatan lebah Dioleskan Kijang pelepah 52. Amyrum sp. Akar Lendir batang Melancarkan Dioleskan ke Karamalungan persalinan perut 53. - NN 55 Daun Gatal Diremas, oleskan 54. Homalomena sp. Kamuyang Darah Daun Penawar sakit Dipercikkan dg air LEACEAE 55. Leea indica Pilancau Daun Tawar sakit Digosokkan ke (kepuhunan) badan TACCACEAE 56.Tacca sp. Tampaisi Umbi Batuk Dikupas,telan Umbi Kebagusan Diserut,oleskan NN 57. - Jungkal Umbi batang Bisul Diserut,oleskan Kebagusan Panaskan,tempel NN 58. - Keladi Umbi Bisul Dikerik,oleskan Bangsul COMPOSITAE 59. Wedelia biflora Pulut Tai Daun muda Demam pd Diperas di ubun2 Babi anak

Daun muda Sakit kepala Dihaluskan,ikat ke kepala Daun Kuku rusak Digosok,oleskan Daun Sakit gigi Diremas,tempel 60.Micania scandens Akar 91 Daun Luka Digosok,teteskan 61. Blumea balsamifera Capa Daun Bengkak Dipanaskan,tempel Daun Batuk Diperas, minum Daun Pasca melahirkan Ditempelkan perut 62. Blumea sp. Daun Sakit (kepuhunan) Digosokkan badan MELIACEAE 63. Lansium domesticum Langsat* Akar Kolesterol Direndam,minum Akar Melangsingkan bdn Direndam,minum FABACEAE 64. Bauhinia sp. Pilanggang Akar Melancarkan haid Direndam,minum Bulan 65. Archidendron jiringa Jaring Akar Pasca melahirkan(nifas) Direndam, minum

GESNERIACEAE 66. Cyrtandra sp. Sambung Daun Gatal kulit Diremas,oleskan Sekalat Daun Masuk angina Diremas, oleskan ANNONACEAE 67. Annona muricata Nangka Walanda Pucuk daun Sakit perut Dipanaskan,tempel ke perut 68. Artabotryssuaveolens Blume Akar Larak Air batang Menambah nafsu makan Akar dipotong, airnya diminum OLEACEAE 69. Chionanthus sp. Taguh Sahari/ Akar Afrodisiak Lalapik Adam FLACOURTIACEAE 70. Flacourtia rukam Akar Rukam Akar Berak berdarah Direndam,minum Akar Ambeien Direndam,minum EUPHORBIACEAE 68.Baccaurea lanceolata Limpasu Akar Lemah lesu,stamina Direndam, minum 69. Acalypa caturus Tampurai Kai Akar Melancarkan persalinan Direndam, minum Manik2 Garintingan Daun Penawar sakit Dipercikkan dg air 70. Macaranga bancana Mahang Kapur* Daun Sakit ganjil (kepuhunan) Digosok, oleskan 71. Macaranga sp 1 Mahang Laki Daun Sakit ganjil (kepuhunan) Digosok, oleskan 72. Macarangasp 2 Mahang Bini Daun Sakit ganjil (kepuhunan) Digosok, oleskan URTICACEAE 73. Dendrocnide sp.1 Jelatang Tulang* Akar Batuk Direndam, minum 74. Villebrunea sp. Bagintalan Pucuk daun Melancarkan persalinan Diremas,oleskan ke Perut Batang Bengkak Dikikis, oleskan 75. Dendrocnide sp.2 Akar Batuk Direndam, minum LABIATAE 76. Hyptis capitata Pupulut Bai* Akar Sakit perut Dipanaskan,tempel ACANTHACEAE 77. Nomaphila stricta NN 40* Akar Sakit perut Dipanaskan,tempel MALVACEAE 81. Sida rhombifolia Manggasang Aing Daun,batang Rambut rontok Direbus, keramas CONNARACEA 82. Cnestis platantha Akar Sambung Maut Akar Pasca melahirkan Direndam, minum (Kalalah) 83. Rourea mimosoides Akar Api-Api* Daun Bengkak Ditumbuk, oleskan Daun Sakit urat Ditumbuk, oleskan NN 84.- Akar Papaha Hayam Umbi Bengkak Dipanaskan, keprak Ditempelkan Umbi Keseleo Dipanaskan, tempel MENISPERMACEAE 85. Fibraurea tinctoria Akar Arau Akar, batang Sakit kuning Direndam, minum

Akar, batang Malaria Direndam, minum 86. Pycnarrhena tumefacta Sangkuak Akar Malaria Direndam, minum SCHIZAEACEAE 87. Ligodium circinnatum Litu* Akar Melangsingkan badan Direndam, minum NN 88. - Bambu Tantali* Akar Melangsingkan badan Direndam, minum LORANTHACEAE 89. Helixanthera cylindrical Kayu Singgah Daun KB Alami Dihaluskan, ditelan EUPHORBIACEAE 91. Cratoxylum tignum Kamandrah Akar Sakit gigi Dikerik,dimasukkan Lubang gigi, kumur2 LAMIACEAE 92. Ocimum sp. Kambang Ruku Daun Sakit gigi Diremas, tempelkan Daun Kulit gatal Digosokkan ke kulit THELYPTERIDACEAE 93. Pronephrium rubicundum Singgagai Akar&Daun Sakit perut Digosok, oleskan Akar&Daun Masuk angina Digosok, oleskan SELAGINELLACEAE 94. Selaginella plana Riu-Riu* Daun Meriang Direbus, mandikan CYATHEACEAE 95. Cyathea recommutata Paku Habu Lendir pucuk Sengatan lebah Dioleskan LILIACEAE 96. Cordiline petiolaris Halinjuang Pucuk Masuk angin Diremas,dibalurkan GLEICHENIACEEA 97. Dicranopteris curranii Alang Am Akar Panas Direndam, minum ANCISTROCLADACEAE 98. Ancistrocladus tectorius Gagasang Akar Pasca melahirkan Direndam, minum Minjangan* VERBENACEAE 99. Lantara camara Sahang-Sahang Daun Masuk angina Digosok,oleskan 100. Clerodendrum sp. Mata Pilanduk Pucuk daun Step/Kejang Diremas, peras ke Bagian ubun-ubun RHAMNACEAE 100. Alphitonia excelsa Kalindayau/Balik Kulit batang Gatal, terkena ulat Dihaluskan,oleskan Angin SAPINDACEAE 101. Lepisanthes amoena Pasak Bumi Akar Afrodisiak Direndam, minum PALMAE 102. Ceratolobus sp. Pikak/Siit Umbut Pasca melahirkan Direbus, makan Umbut Mencret Direbus, makan GRAMINEAE 104. Bambusa vulgaris Buluh Kuning* Akar Sakit kuning Direndam, minum MYRTACEAE 105. Tristaniopsis sp Palawan Air batang Panas Batang ditebang, Minum airnya Kulit batang kering Bekas luka Dibakar,haluskan Oleskan MYRISTICACEAE 107. Myristica maxima Badarah Pinang Kulit batang Sakit gigi Direbus,kumur-kumur NN 108. - Kayu Tutulak Batang Bisul Dikikis, oleskan NN 109. - Pilungsur Sawa Daun Melancarkan persalinan Digosok, oleskan

ZINGIBERACEAE 110. Zingiber purpureum Banglai Umbi Bengkak Dikerik, ditempelkan