of 92/92
PELAKSANAAN BIMBINGAN KEAGAMAAN ISLAM TERHADAP WARGA BINAAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIB KUALA TUNGKAL KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Bimbingan Penyuluah Islam Fakultas Dakwah Oleh GUSTI RANDA NIM: UB 131173 PRODI BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI 2018

PELAKSANAAN BIMBINGAN KEAGAMAAN ISLAM ...repository.uinjambi.ac.id/2867/1/gusti randa_UB131173_BPI...Pembinaan agama, khususnya Islam, merupakan sarana mengimplementasikan akidah,

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PELAKSANAAN BIMBINGAN KEAGAMAAN ISLAM ...repository.uinjambi.ac.id/2867/1/gusti...

  • PELAKSANAAN BIMBINGAN KEAGAMAAN ISLAM TERHADAP

    WARGA BINAAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIB

    KUALA TUNGKAL KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

    SKRIPSI

    Diajukan sebagai salah satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu

    (S1) dalam Ilmu Bimbingan Penyuluah Islam

    Fakultas Dakwah

    Oleh

    GUSTI RANDA

    NIM: UB 131173

    PRODI BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM

    FAKULTAS DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SULTHAN THAHA SAIFUDDIN

    JAMBI

    2018

  • i

  • ii

  • iii

  • iv

    MOTTO

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah

    jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-

    Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maaidah:35).1

    1Tim Penterjemah dan Penafsir al-Qur‟an, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta:

    Departemen Agama RI., 1981), 165.

  • v

    ABSTRAK

    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas sejumlah warga binaan yang

    kurang memahami ajaran agama Islam. perkembangan perilaku keagamaan warga

    binaan Lembaga Pemasyarakatan (lapas) belum banyak perubahan ketika di

    lembaga Pemasyarakatan. Bimbingan keagamaan Islam nampak tidak optimal

    merubah kepribadian warga binaan seperti yang diharapkan. Lingkungan yang

    buruk pasca pembinaan di lapas mendorong warga binaan kembali melakukan

    kejahatan. Peneliti menemukan bentuk-bentuk pelaksanaan bimbingan keagamaan

    Islam terhadap warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kuala

    Tungkal, mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan bimbingan

    keagamaan Islam warga binaan di Lembaga Pemasarakatan, memahami upaya

    pembimbing keagamaan Islam warga binaan di Lembaga Pemasarakatan Lapas

    Kelas II B Kuala Tungkal.

    Pendekatan Penelitian yang penulis gunakan adalah deskriptif kualitatif.

    Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi terhadap aktivitas

    bimbingan keagamaan Islam, wawancara dengan 15 narasumber yang terdiri dari

    2 orang pembimbing keagamaan Islam dan 13 orang warga binaan dan

    dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data

    dan penarikan kesimpulan serta verifikasi keterpercayaan hasil penelitian

    diperoleh dengan teknik triangulasi guna memenuhi kriteria kredibilitas,

    keteralihan, ketergantungan dan obyektifitas.

    Hasil penelitian ini berbentuk bimbingan keagamaan Islam pada awalnya

    hanya belajar membaca Al-Qur‟an, Fiqih, namun warga binaan mengusulkan

    adanya pengajian dan belajar tajwid ini untuk menambah wawasan warga binaan

    tentang Al-Qur‟an. Kendala Pembimbing Keagamaan dalam Membimbing Warga

    binaan, kesibukan bekerja bagi tenaga pembimbing, rendahnya wawasan dan

    kesadaran beragama warga binaan. Upaya pemberian bimbingan keagamaan islam

    oleh pembimbing agama Islam dalam meningkatkan bimbingan keagamaan Islam.

    Memberi pembinaan strategi pembinaan bimbingan keagamaan dan meningkatkan

    kerjasama pembimbing keagamaan Islam dengan pihak-pihak yang dapat

    membantu mereka.

    .

  • vi

    PERSEMBAHAN

    Kupersembahkan Skripsi ini kepada:

    Ayahku terhormat Baharuddin

    Ibundaku termulya Indok Emang

    Serta teman-teman seperjuangan PERSEMBAHAN

    Kupersembahkan Skripsi ini kepada:

    Ayahku terhormat Baharuddin

    Ibundaku termulya Indok Emang

    Serta teman-teman seperjuangan

  • vii

    KATA PENGANTAR

    Ahamdulillahi robbil‟alamin segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena

    atas berkah, rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga penulis Skripsi ini dapat

    diselesaikan dengan judul: “Pelaksanaan Bimbingan Keagamaan Islam

    terhadap Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kuala

    Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat”. Sholawat serta salam semoga

    tetap terlimpah kepada nabi Muhammad SAW yang telah menuntun manusia

    kejalan yang benar, jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Penelitian dan penulisan Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan

    memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) dalam Prodi Bimbingan dan

    Penyuluhan Islam pada Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha

    Saifuddin Jambi.

    Dalam penyelesaian Skripsi ini, penulis banyak mendapatkan arahan ddan

    bimbingan dari berbagai pihak, baik yang bersifat moril maupun materil. Pada

    kesempatan ini penulis menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

    kepada:

    1. Bapak Drs. H. Lahmuddin, M.Ag, dan Arfan, M. Soc.Sc., Ph.D selaku

    Pembimbing I dan II yang telah membimbing saya dalam penyusunan skripsi

    ini.

    2. Bapak Sya‟roni, S.Ag.,M.Pd selaku ketua jurusan BPI (Bimbingan Penyuluhan

    Islam) Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin

    Jambi

    3. Bapak, Samsu, M.Pd.I., P.hD Selaku Dekan Fakultas Dakwah Universitas

    Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

    4. Bapak Dr. Ruslan Abdul Gani, M.Hum Selaku wakil Dekan I Fakultas Dakwah

    Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

    5. Bapak Dr. H. Hadri Hasan, M.A selaku Rektor Universitas Islam Negeri

    Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

    6. Bapak Prof. Dr. H. Su‟aidi As‟ari, M.A. Ph.D selaku Wakil Rektor I, Bapak

    Dr. H. Hidayat, M.Pd selaku Wakil Rektor II, Ibu Dr. Fadhila Jamil, M.Pd

    selaku Wakil Rektor III Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin

    Jambi

    7. Bapak dan Ibu dosen yang mengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam

    Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

    8. Bapak Kabag TU dan Karyawan Fakultas Dakwah dan Bapak Karyawan/I

    Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

  • viii

  • ix

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ................................................................................... i

    NOTA DINAS ............................................................................................. ii

    SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ............................. iii

    PENGESAHAN ........................................................................................... iv

    MOTTO ....................................................................................................... v

    ABSTRAK ................................................................................................... vi

    PERSEMBAHAN ........................................................................................ vii

    KATA PENGANTAR ................................................................................. viii

    DAFTAR ISI ................................................................................................ x

    DAFTAR TABEL ...................................................................................... xii

    DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xiii

    TRANSLITERASI ..................................................................................... xiv

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1 B. Permasalahan ........................................................................ 4 C. Batasan Masalah.................................................................... 5 D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .......................................... 5 E. Metode Penelitian ................................................................. 5 F. Kerangka Teori ..................................................................... 15 G. Studi Relevan ....................................................................... 19

    BAB II PROFIL LAPAS KELAS IIB KUALA TUNGKAL

    A. Historis dan Geografis........................................................... 21 B. Visi dan Misi ......................................................................... 22 C. Stuktur Organisasi ................................................................. 22

    BAB III PROGRAM BIMBINGAN KEAGAMAAN ISLAM

    LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIB KUALA

    TUNGKAL

    A. Program Bimbingan Keagamaan Islam Warga Binaan ....... 29 1. Belajar Tajwid. ............................................................... 29 2. Siraman Rohani .............................................................. 30 3. Belajar Fiqih ................................................................... 36 4. Halaqoh Al-Qur‟an ......................................................... 37 5. Amalan Pribadi ................................................................ 37 6. Latihan Kompangan ........................................................ 38

    B. Program Tahunan .................................................................. 39 C. Teknik Bimbingan Keagamaan di Lembaga

    Pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal ........................... 41

    BAB IV TEMUAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

    A. Pelaksanaan Bimbingan Keagamaan Islam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal .......................... 46

    B. Kendala Pembimbing Keagamaan Islam dalam Membimbing Warga Binaan ................................................. 50

    C. Upaya Pembimbing Keagamaan Islam Meningkatkan Bimbingan Keagamaan terhadap Warga Binaan .................. 53

  • x

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ............................................................................. 58 B. Saran-saran ............................................................................ 59 C. Kata Penutup ......................................................................... 60

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

    CURRICULUM VITAE

  • xi

    DAFTAR TABEL

    Tabel 1: Keadaan Tenaga Pembimbing di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB

    Kuala Tungkal

    26

    Tabel 2: Jdwal Kegiatan Bimbingan Keagamaan

    26

    Tabel 3: Keadaan Warga Binaan dan Jumlah Kamar Hunian

    28

    Tabel 4: Penghuni Lembaga Pemasyarakatan Berdasarkan Agama dan

    Kepercayaan

    28

  • xii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1: Struktur Organisasi Seksi Binadik & Giatja Lapas Kelas IIB Kuala

    Tungkal 23

    Gambar 2: Kesatuan Pengamanan Lapangan Lapas Kelas IIB Kuala Tungkal 24

    Seksi Administrasi Keamanan dan Tatatertib Lapas Kelas IIB Kuala Tungkal 25

  • xiii

    TRANSLITERASI2

    A. Alfabet

    Arab Indonesia Arab Indonesia

    t ط ا z ظ b ة

    „ ع t ث

    gh غ th ث

    f ف j ج

    q ق h ح

    k ك kh خ

    l ل d د

    m م dh ذ

    n ى r ر

    h ه z ز

    w و s ش

    , ء sh ش

    y ي s ص

    d ض

    B. Vokal dan Harakat

    Arab Indonesia Arab Indonesia Arab Indonesia

    i ِاى a َب A َا

    aw َاو á َاى U ُا

    ay َاى u ُاو I ِا

    2Tim Penyusun, PanduanPenulisanKaryaIlmiahMahasiswaFakultasUshuluddin IAIN STS

    Jambi (Jambi: Fak. Ushuluddin IAIN STS Jambi, 2014), 136-137.

  • xiv

    C. Ta’ Marbutah

    Transliterasi untuk ta’marbutah ini ada tiga macam:

    1. Ta’ Marbutah yang mati atau mendapat harakat sukun, maka transliterasinya adalah /h/.

    Arab Indonesia

    Salah صال ة

    Mir‟ah هر ا ة

    2. Ta’ Marbutah hidup atau yang mendapat harakat fathah, kasrah dan dammah, maka transliterasinya adalah /t/.

    Arab Indonesia

    Wizarat al-Tarbiyah وزارة التر بيت

    Mir‟at al-zaman هر اة الس هي

    3. Ta’ Marbutah yang berharakat tanwin maka transliterasinya adalah /tan/tin/tun/.

    Arab Indonesia

    فجئت

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kuala Tungkal Tanjung Jabung Barat

    berdiri pada tanggal 27 April 1978. LP ini telah berstatus kelas II B yang

    berarti penghuni LP tidak boleh lebih dari 500 orang sementara jumlah napi

    berdasrkan pengamatan peneliti di Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Kuala

    Tungkal berjumlah 226 orang jumlah ini setiap satnya mengalami perubahan.3

    Peristilahan Lembaga Pemasyarakatan atau disingkat lapas adalah

    sebutan baru penggati sebutan penjara yang dimulai pada tahun 1995

    mengikuti Undang-Undang Pemasyarakatan. Lahirnya istilah Lembaga

    Pemasyarakatan dipilih sesuai dengan visi dan misi lembaga itu untuk

    menyiapkan para narapidana kembali ke masyarakat. Istilah ini dicetuskan

    pertama kali oleh Rahardjo, yang menjabat Menteri Kehakiman RI saat itu.

    Pemasyarakatan dinyatakan sebagai suatu sistem pembinaan terhadap para

    pelanggar hukum dan sebagai suatu pengejawantahan keadilan yang bertujuan

    untuk mencapai reintegrasi sosial atau pulihnya kesatuan hubungan antara

    warga binaan atau narapi dana sesuai dalam Undang-Undang Nomor 12

    Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, terpidana adalah seseorang yang di

    pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan

    hukum tetap pemasyarakatan dengan masyarakat.

    Bimbingan agama di LP menjadi salah satu faktor penting dalam

    pebinaan warga binaan LP. Pembinaan agama, khususnya Islam, merupakan

    sarana mengimplementasikan akidah, akhlak serta nilai-nilai yang telah

    ditentukan oleh agama Islam. Bimbingan keagamaan Islam juga membantu

    warga binaan untuk menjadi makhluk sosial, yang berpengaruh positif kepada

    orang lain. Meskipun pengaruh bimbingan agama tidak terjadi secara

    3 Wawancara penulis dengan Haswan Affandi, tanggal 06 November 2017 di Lembaga

    Pemasyarakatan Kelas II B Kuala Tungkal.

  • 2

    langsung, tetapi ia menjadi salah satu faktor penentu bagi setiap perubahan

    perilaku manusia ketika hidup bermasyarakat.

    Bimbingan keagamaan Islam di LP juga telah dibantu oleh kemajuan

    teknologi informasi yang berkelanjutan. Bimbingan keaagamaan secara Islam

    adalah ajaran amar ma‟ruf nahi mungkar bertujuan menegakkan agama Allah

    dan menghidupkan sunnah Rasul-Nya tanpa riya‟, dan sikap munafik.4

    Fungsi bimbingan keagamaan bagi warga binaan di dalam Lembaga

    Pemasyarakatan adalah untuk lebih banyak memberikan bekal bagi warga

    binaan lembaga pemasyarakatan dalam menyongsong kehidupan setelah

    selesai menjalani masa hukuman (bebas). Kegiatan keagamaan di dalam

    Lembaga Pemasyarakatan bukan sekedar untuk menghukum atau menjaga

    warga binaan tetapi mencakup proses pembinaan agar warga binaan

    menyadari kesalahan dan memperbaiki diri serta tidak mengulangi tindak

    pidana yang pernah dilakukan yang bertentangan dengan ajaran agama.

    Fungsi pembinaan ini dapat dilihat jika warga binaan Lembaga

    Pemasyarakatan kelak bebas dari hukuman. Mereka dapat diterima kembali

    oleh masyarakat dan lingkungannya dan dapat hidup secara wajar seperti

    sediakala. Fungsi Pemidanaan tidak lagi sekedar pemenjaraan, tetapi juga

    merupakan suatu proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial warga binaan yang

    ada di dalam Lembaga Pemasyarakatan.

    Perkembangan Sistem Pemasyarakatan mulai dilaksanakan sejak tahun

    1964. Perubahan sistem terjadi setelah lahirnya UU No 12 Tahun 1995 tentang

    Pemasyarakatan. Undang-Undang Pemasyarakatan itu menguatkan usaha-

    usaha untuk mewujudkan suatu sistem pemasyarakatan yang merupakan

    tatanan pembinaan baik hukum, agama, ekonomi bagi warga binaan

    pemasyarakatan.5

    Seorang warga binaan ketika menjalani vonis yang dijatuhkan oleh

    pengadilan, maka hak-haknya sebagai warga binaan negara akan dibatasi.

    Sesuai UU No.12 Tahun 1995, narapidana adalah terpidana yang menjalani

    4Abdul Aziz bin Ahmad, Tuhan Tak Pernah Memaksa, (Jakarta: Hikmah, 1996), h. 58.

    5Tim Redaksi Fokus Media, Undang-Undang RI, (Jakarta: 2008), h. 15.

  • 3

    pidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan. Walaupun terpidana

    kehilangan kemerdekaannya, tapi ada hak-hak narapidana yang tetap

    dilindungi dalam sistem pemasyarakatan Indonesia. UU No.12 tahun 1995

    sebagai payung sistem pemasyarakatan Indonesia, menyelenggarakan sistem

    pemasyarakatan yang bertujuan agar narapidana dapat memperbaiki diri dan

    tidak mengulangi tindak pidana yang telah dilakukannya. Sistem itu juga

    bertujuan agar narapidana dapat diterima kembali dalam lingkungan

    masyarakat. Mereka diharapkan kembali aktif berperan dalam pembangunan

    serta hidup secara wajar sebagai seorang warga binaan negara.6

    Proses pembinaan keagamaan di dalam LP dilakukan secara aktif dan

    bertahap. Seorang warga binaan lazimnya menjalani 2/3 masa pidana yang

    sebenarnya atau sekurang-kurangnya 9 bulan. Pada tahap akhir ini kegiatan

    didalam LP meliputi: perencanaan, dan pelaksanaan program integrasi yang

    dimulai sejak berakhirnya tahap lanjutan sampai dengan selesainya masa

    pidana. Pada tahap ini juga, bagi narapidana yang memenuhi syarat diberikan

    cuti menjelang bebas atau pembebasan bersyarat. Pembinaan dilakukan diluar

    Lapas oleh Balai Pemasyarakatan (BAPAS) yang kemudian disebut

    pembimbingan Klien lembaga Pemasyarakatan.

    Narapidana sebagai subjek yang sedang mencari jati dirinya tidak bisa

    tidak memerlukan bimbingan agama secara terus menerus. Mereka perlu

    dibantu mengembangkan segenap potensinya melalui pembiasaan bertingkah

    laku terpuji dan bertanggung jawab, kreatif dan didasari keimanan dan

    ketaqwaan kepada Allah SWT. Pada fase ini terjadi pencarian jati diri yang

    membuat warga binaan mengalami kebingungan dalam mencari sosok untuk

    merujuk. Tokoh agama penting menjadi sosok tauladan dan sumber rujukan

    bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan.

    Berdasarkan grandtour penulis di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B

    Kuala Tungkal Tanjung Jabung Barat yang terlibat dalam memberikan

    bimbingan keagamaan adalah H. Suparto sebagai pembimbing agama, Usman

    Simin, M. Yusuf, Saiful Hadi M. Husaini, M.Nasir, Samian simi dan Tajul

    6 Undang-undang No.12 Tahun 1995, h. 19

  • 4

    Muin mereka ini adalah pembimbing umum yang ikut membantu,7 penulis

    menemukan bahwa: pertama, masih ada warga binaan LP yang tidak

    memahami ajaran agamanya. Ini diperkuat dengan keterangan dari Haswan

    Affandi , salah seorang pengurus Lembaga Pemasyarakatan.8Kedua,

    perkembangan perilaku keagamaan warga binaan lapas belum banyak

    perubahan ketika sudah menjadi warga binaan di lembaga Pemasyarakatan.

    Bimbingan keagamaan nampak tidak optimal merubah kepribadian warga

    binaan Lembaga Pemasyarakatan seperti yang diharapkan. Ketiga, lingkungan

    yang buruk pasca pembinaan di lapas mendorong warga binaan kembali

    melakukan kejahatan dan menghambat warga binaan untuk hijrah

    sepenuhnya.9

    Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti merasa perlu untuk

    mengangkat masalah ini menjadi objek kajian penelitian dan melakukan kajian

    yang lebih dalam, dengan judul: Pelaksanaan Bimbingan Keagamaan Islam

    terhadap Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kuala

    Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

    B. Permasalahan

    Berkaitan dengan latar belakang di atas, maka rumusan masalah

    utama dalam penelitian ini adalah Bagaimana pelaksanaan bimbingan

    keagamaan terhadap warga binaan lembaga pemasyarakatan Kelas II B Kuala

    Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Secara khusus masalah yang akan

    diteliti melalui karya tulis ini yaitu:

    1. Apa saja bentuk-bentuk pelaksanaan bimbingan keagamaan Islam terhadap

    warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kuala Tungkal?

    2. Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan bimbingan

    keagamaan Islam warga binaan di Lembaga Pemasarakatan lapas kelas II

    B Kuala Tungkal?

    7Grandtour dilakukan pada tanggal 06 Nopember 2017

    8 Wawancara Haswan Affandi dilakukan pada 06 November 2017.

    9Observasi 06 Nopember 2017.

  • 5

    3. Bagaimana upaya pembimbing Keagamaan Islam Meningkatkan

    Bimbingan Keagamaan Islam terhadap Warga binaan di Lembaga

    Pemasarakatan Lapas Kelas II B Kuala Tungkal?

    C. Batasan Masalah

    Batasan masalah penulisan ini pelaksanaan bimbingan keagamaan

    khususnya bimbingan Agama Islam di blok A Lembaga Pemasyarakatan

    Kelas II B Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2017.

    Dengan demikian pembahasan diluar topik ini tidak menjadi fokus penulis.

    D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

    1. Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji tentang bagaimana

    pelaksanaan bimbingan keagamaan terhadap warga binaan Lembaga

    Pemasyarakatan Kelas II B Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung

    Barat. Tujuan khusus penelitian yaitu:

    a. Meneliti bentuk-bentuk pelaksanaan bimbingan keagamaan terhadap

    warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kuala Tungkal.

    b. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan

    bimbingan keagamaan warga binaan di Lembaga Pemasarakatan lapas

    kelas II B Kuala Tungkal.

    c. Memahami upaya pembimbing Keagamaan Meningkatkan Bimbingan

    Keagamaan terhadap Warga binaan di Lembaga Pemasarakatan Lapas

    Kelas II B Kuala Tungkal.

    2. Kegunaan Penelitian

    a. Sebagai bahan masukan kepada pihak terkait tentang pelaksanaan

    bimbingan keagamaan warga binaan di lapas kelas II B Kuala tungkal

    b. Sebagai wahana untuk pengembangan ilmu Bimbingan Penyuluhan

    Islam yang bermanfaat guna diaplikasikan dalam kehidupan

    masyarakat.

    E. Metode Penelitian

    Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan

    kualitatif deskriptif, karena data yang akan digunakan merupakan data dalam

    bentuk hasil observasi, pendapat, pandangan, komentar, kritik, alasan dan

  • 6

    sebagainya. Kemudian. Penelitian harus memahami dan menafsirkan makna

    suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia.10

    1. Jenis dan Sumber Data

    Dalam penelitian ini menggunakan 2 (dua) jenis data, yaitu data

    primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh

    langsung dari sumber pertama melalui observasi atau wawancara di

    lapangan. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari

    sumber kedua berupa dokumentasi serta peristiwa yang bersifat lisan dan

    tertulisan seperti data-data pendukung.

    Sumber data primer dalam penelitian ini dari wawancara 15 orang

    informan yaitu 2 orang pembimbing keagamaan Islam dan 13 orang warga

    binaan dari observasi.

    sumber data dokumen catatan seperti masalah statistik warga binaan

    literatur atau berbagai referensiyang menjadi bahan rujukan dan berkaitan

    langsung dengan masalah yang di teliti dan dapat dijadikan dokumen

    penelitian.

    2. Setting dan Subjek Penelitian

    a. Setting Penelitian

    Setting penelitian ini adalah di Lembaga Pemasyaratan kelas II B

    Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Pemilihan lokasi

    penelitian berdasarkan pembacaan penulis terhadap beberapa karya

    ilmiyah sebelumnya bahwa Lembaga Pemasyarakatan tersebut kurang

    mendapat bimbingan keagamaan jika dibandikan dengan lembaga

    pemasyarakatan Kelas IIA Kota Jambi.

    b. Subjek Penelitian

    Subjek penelitian berpusat pada warga binaan di Lembaga

    Pemasyaratan kelas II B Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung

    Barat. Disebabkan adanya kendala tenaga, waktu, dan dana, peneliti

    10

    John W. Creswell, Reseach Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed,

    Terjemahannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 215

  • 7

    terpaksa membatasi banyaknya subjek penelitian disesuaikan dengan

    kemampuan yang ada pada dirinya.11

    3. Teknik Pengumpulan Data

    Prosedur pengumpulan data dalam studi ini menggunakan tiga teknik

    yang dilakukan secara berulang-ulang agar keabsahan datanya dapat

    dipertanggung- jawabkan. Ketiga teknik tersebut adalah:

    a. Observasi

    “Metode observasi merupakan kegiatan pemuatan perhatian semua

    objek dengan menggunakan seluruh indera.”12

    Observasi yang

    dilakukan penulis untuk mendapatkan data tulisan ini melalui izin riset

    dari petugas lembaga pemasyarakatan dan menggunakan panduan

    observasi yang disiapkan untuk memudahkan dan membantu peneliti

    dalam memperoleh data. Panduan tersebut dikembangkan dan

    diperbaharui selama penulis berada di lokasi penelitian.

    Metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

    metode observasi partisipan, yang mana peneliti melibatkan diri secara

    langsung dalam lingkungan penelitian mengenai pelaksanaan

    bimbingan keagamaan di Lembaga Pemasyaratan kelas II B Kuala

    Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

    Pengamatan Tidak Terlibat (non-participant observation)

    menurut Moleong, pengamatan tidak terlibat merupakan pengamatan

    yang dilakukan tanpa keterlibatan peneliti dalam aktivitas yang

    diamati, peneliti dalam hal ini hanya melakukan satu fungsi, yaitu

    mengadakan pengamatan. Fungsi teknik ini selain untuk mencari data

    juga sekaligus untuk mengadakan cross check terhadap data lain

    sehingga hasil pengamatan dapat dimaknai dan diinterpretasikan lebih

    lanjut.13

    Data yang akan di amati peneliti berupa kegiatan pelaksanaan

    11

    Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 119. 12

    Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 156. 13

    Setna Yuwana Sudican, Penuntun Penyusunan Karya Ilmiah (Semarang : Aneka Ilmu,

    1998), h. 39.

  • 8

    bimbingan keagamaan di Lembaga Pemasyaratan kelas II B Kuala

    Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

    b. Wawancara

    “Wawancara adalah “Suatu percakapan dengan maksud tertentu,

    percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang

    mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan

    jawaban pertanyaan tersebut.14

    Jenis wawancara yang digunakan

    dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur atau terpimpin.

    Yaitu wawancara dengan cara hanya mengumpulkan data yang

    relevan dengan permaslahan yang diteliti. Situasi evaluasi tertentu,

    keperluan dari orang yang diwawancarai, dan gaya personal

    pewawancara semuanya secara bersama-sama menciptakan situasi

    yang unik untuk setiap wawancara.15

    Wawancara tidak terstuktur penulis gunakan sebagai instrumen

    pelengkap observasi untuk mengumpulkan data di lapangan tentang

    pelaksanaan bimbingan keagamaan di Lembaga Pemasyaratan kelas II

    B Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

    Sedangkan metode wawancara adalah teknik memperoleh

    informasi secara langsung melalui permintaan keterangan keterangan

    kepada pihak pertama yang dipandang dapat mendirikan keterangan

    atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan.16

    Dalam penelitian

    ini, penulis mewawancarai 15 orang informan 2 orang pelaksana

    bimbingan keagamaan Islam di Lembaga Pemasyaratan kelas II B

    Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan 13 orang warga

    binaan.

    14

    Lexy J. Moleong, (Bandung: PT. Remaja Rosda, 2014), h. 186. 15

    Emizir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif, (Jakarta: PT. Raja

    Grafindo Persada, 2008), h. 169. 16

    Emizir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif, h. 49.

  • 9

    c. Dokumentasi

    Dokumentasi adalah data yang diperoleh dari dokumentasi dapat

    dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan meramalkan.17

    Dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan

    tertulis, seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang

    pendapat, teori atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan

    dengan masalah penelitian.18

    Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data melalui data-

    data dokumenter, berupa catatan, transkrip, buku, surat Kabupatenar,

    majalah. agenda ataupun jurnal yang dapat memberikan informasi

    tentang objek yang diteliti. Data dokumentasi yang digunakan untuk

    melengkapi data yang diperoleh dari wawancara dan observasi berupa

    foto kegiatan-kegiatan, data jumlah warga binaan berdasarkan jenis

    kelamin dan agama. Ketiga teknik pengumpulan data di atas digunakan

    secara simultan dalam penelitian ini, dalam arti digunakan untuk saling

    melengkapi antara data satu dengan data yang lain. Sehingga data yang

    penulis peroleh memiliki validitas dan keabsahan yang baik untuk

    dijadikan sebagai sumber informasi.19

    4. Teknik Analisis Data

    Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model

    analisis data menurut Miles dan Huberman yang pada prinsipnya kegiatan

    analisis data ini dilakukan sepanjang kegiatan penelitian (during data

    collection), dan kegiatan yang paling inti mencakup menyederhanaan data

    (data reduction), penyajian data (data display) serta menarik kesimpulan

    (making conclusion).20

    Analisis data ini dilakukan sejak pengumpulan data secara

    keseluruhan. Data kemudian di cek kembali, secara berulang, dan

    17

    Lexy J. Moleong, Suatu Kajian Penelitian Kualitatif, h. 77. 18

    Sanapiah Faisal, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi, (Malang: Yayasan Asih

    Asuh, 1990), h. 46. 19

    Sanapiah Faisal, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi, h. 64. 20

    Michael A. Huberman dan Matthew B Miles, Analisis Data Kualitatif, (Jakarta: UI,

    1992), h. 16.

  • 10

    disistimatikan dan diinterpretasikan secara logis,sehingga diperoleh data

    yang absah dan kredibel.21

    Suatu analisis melaui data kualitatif dengan menggunakan analisis

    sebagai berikut:

    a. Reduksi Data (Data Reductions)

    Menurut Miles dan Hubberman, mereduksi data berarti

    merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan hal-hal yang

    penting, dicari pola dan temanya. Dengan demikian, mereduksi data

    yang telah di reduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan

    mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

    selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.22

    Dalam hal ini, menggunakan teknik reduksi data adalah untuk

    mereduksikan data yang diperoleh dari lapangan penelitian yang

    bersifat umum tentang pelaksanaan bimbingan keagamaan di

    Lembaga Pemasyaratan kelas II B Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung

    Jabung Barat.

    b. Penyajian data (Display Data)

    Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam

    bentuk uraian singkat, bagan, dan hubungan antar kategori, flowchart

    dan sejenisnya. Namun yang sering digunakan untuk menyajikan data

    dalam metode penelitain ini adalah teks yang bersifat naratif.

    Maka dalam hal ini, peneliti ingin mengalisis datanya

    menggunakan penyajian data agar dapat menganalisis lebih dalam

    gambaran yang terjadi di lapangan.

    c. Penarikan kesimpulan (Conclution Drawing Verification)

    Verification merupakan langkah ketiga analisis data yang berupa

    penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang

    dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak

    21Lexsi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, h. 6. 22

    Lexsi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, h. 163.

  • 11

    ditemukan bukti-bukti yang kuat untuk mendukung pada tahap

    pengumpulan data berikutnya.

    Maka dalam hal ini peneliti ingin menggunakan analisis

    verifikasi agar dapat menyimpulkan data yang diperoleh dilapangan,

    sehingga temuan awal yang sebelumnya masih bersifat sementara akan

    lebih jelas gambaran masalah yang telah diteliti.

    5. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

    Adapun tingkat kepercayaan data (trustworthiness) dalam penelitian

    dilakukan suatu teknik pemeriksaan data antara lain; melakukan

    perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi dan

    diskusi sejawat.23

    Untuk memperoleh data yang terpercaya (trustworthiness) dan dapat

    dipercaya (reliabe), maka peneliti melakukan teknik pemeriksaan

    keabsahan data yang didasarkan atas sejumlah kriteria. Dalam penelitian

    kualitatif, upaya pemeriksaan keabsahan data dapat dilakukan lewat empat

    cara yaitu:

    a. Perpanjangan keikutsertaan

    Pelaksanaan perpanjangan keikutsertaan dilakukan lewat

    keikutsertaan peneliti di lokasi secara Iangsung dan cukup lama,

    dalam upaya rnendeteksi dan memperhitungkan penyimpangan yang

    mungkin mengurangi keabsahan data, karena kesalahan penilaian data

    (data distortion) oleh peneliti atau responden, disengaja atau tidak

    sengaja.

    Distorsi data dari peneliti dapat muncul karena adanya nilai-nilai

    bawaan dari peneliti atau adanya keterasingan peneliti dari lapangan

    yang diteliti Sedangkan distorsi data dari responden, dapat timbul

    secara tidak sengaja, akibat adanya kesalahpahaman terhadap

    pertanyaan, atau muncul dengan sengaja, karena responden berupaya

    memberikan informasi fiktif yang dapat menyenangkan peneliti,

    ataupun untuk menutupi fakta yang sebenarnya.

    23

    Lexsi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif,, h. 175.

  • 12

    b. Ketekunan Pengamatan

    Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara mengadakan

    pengamatan secara teliti, rinci. dan berkesinambungan terhadap

    faktor-faktor yang menonjol dalam penelitian. Faktor-faktor tersebut

    selanjutnya.sehingga peneliti dapat memahami faktor-faktor tersebut.

    Ketekunan pengamatan dilakukan dalam upaya mendapatkan

    karakteristik data yang benar-benar relevan dan terfokus pada objek

    penelitian. Permasalahan dan fokus penelitian. Hal ini diharapkan pula

    dapat mengurangi distorsi data yang mungkin timbul akibat

    keterburuan peneliti untuk menilai suatu persoalan, ataupun distorsi

    data yang timbul dari kesalahan responden yang memberikan data

    secara tidak benar, misalnya berdusta, menipu, dan berpura-pura.

    c. Triangulasi Data

    Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

    memanfaatkan suatu yang lain di luar data itu untuk keperluan

    pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu. Jadi dalam

    hal ini mengecek sumber data yang diperoleh di lapangan berkenaan

    dengan penelitian ini. Ada empat macam triangulasi yaitu dengan

    menggunakan sumber, metode, penyidik dan teori.

    Pertama, Triangulasi sumber yakni membandingkan dan

    mengecek balik derajat kepercayaan atau informasi yang diperoleh

    melalui sumber yang berbeda. Hal ini dapat dicapai dengan jalan

    membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai

    pendapat dan pandangan orang.24

    Trianggulasi dengan sumber berarti membandingkan dan

    mengecek kembali derajat keterpercayaan suatu informasi yang

    diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode

    kualitatif. Konsep trianggulasi dengan metode yang berbeda

    mengimplikasikan adanya model-model pengumpulan data secara

    berbeda (observasi dan wawancara) dengan pola yang berbeda.

    24

    Lexsi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, h. 330-331

  • 13

    Trianggulasi dengan sumber ini dapat dilaksanakan dalam bentuk,

    mengkomparasikan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan

    pengamatan langsung peneliti di lapangan.

    Komparasi ini terutama dilakukan untuk melihat pelaksanaan

    bimbingan keagamaan di Lembaga Pemasyaratan kelas II B Kuala

    Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung BaratKedua, Triangulasi teori

    yaitu membandingkan data dengan teori-teori yang sesuai dengan

    permasalahan dalam penelitian. Trianggulasi dengan teori didasarkan

    pada asumsi bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa

    keterpercayaannya hanya dengan satu teori. Artinya, fakta yang

    diperoleh di dalam penelitian harus dapat dikonfirmasikan dengan dua

    teori atau lebih. Patton menamakan teori ini sebagai penjelasan

    pembanding. Trianggulasi dengan teori ini penulis terapkan dalam

    bentuk. Pelaksanaan bimbingan keagamaan terhadap narapidana di

    lapas kelas II B Kuala tungkal25

    .

    Teknik pemeriksaan data dilakukan dalam penelitian ini

    didasarkan atas satu kriteria kepercayaan (credibility). Standar

    kredibibilitas diperlukan agar hasil penelitian kualitatif dapat

    dipercaya oleh pembaca dan dapat disetujui kebenarannya oleh

    partisipan yang diteliti. Dalam pengecekan keabsahan data ada

    beberapa teknik yang dapat digunakan, yaitu: perpanjangan

    keikutsertaan, ketekunan dan kecermatan pengamatan, triangulasi dan

    diskusi sejawat,26

    yaitu:

    1) Perpanjangan Keikutsertaan

    Perpanjangan keikutsertaan ini menuntut peneliti untuk terjun

    langsung ke dalam lokasi dan dalam waktu yang cukup panjang

    untuk mendeteksi dan memperhitungkan distorsi (penyimpangan)

    yang mungkin akan merusak data, baik distorsi peneliti secara

    25

    Lexsi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, h 1332. 26

    Lexsi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, h 163.

  • 14

    pribadi, maupun distorsi yang ditimbulkan oleh responden; baik

    yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

    Melalui perpanjangan keikutsertaan ini, diharapkan peneliti

    dapat menentukan distorsi yang terjadi dalam penelitian sehingga

    peneliti dapat mengatasi hal ini. Penelitian yang direncanakan

    dilaksanakan tiga bulan, dan dikarenakan peneliti khawatir akan

    terjadinya distorsi baik yang berasal dari peneliti sendiri maupun

    yang distorsi yang berasal dari responden, maka dianggap perlu

    menambah masa penelitian.

    2) Ketekunan dan Kecermatan Pengamatan

    Ketekunan pengamatan merupakan upaya peneliti dalam

    mengamati secara cermat, rinci dan berkesinambungan terhadap

    berbagai gejala atau fenomena yang terjadi. Dengan teknik ini,

    peneliti bermaksud menemukan cirri-ciri dan unsur-unsur dalam

    situasi relevan dengan persoalan yang sedang dicari, lalu

    memuastkan diri pada hal-hal tersebut secara kelaboratif. Teknik

    ini diharapkan akan mengurangi terjadinya berbagai distorsi data

    yang timbul akibat kurang teliinya peneliti dalam menilai suatu

    persoalan.

    Ketelitian pengamatan ini dimaksudkan untuk

    mengidentifikasikan karakteristik dan elemen dalam suatu situasi

    yang sangat relevan dengan permasalahan atau isu yang sedang

    diteliti dan memfokuskannya secara terperinci.

    Peneliti berupaya mengadakan observasi atau pengamatan

    secara teliti dan rinci secara terus-menerus terhadap faktor-faktor

    yang menonjol, dan kemudian peneliti menelaahnya secara terinci

    sampai pada suatu titik sehingga pada pemeriksaan tahap awal akan

    kelihatan salah satu atau keseluruhan faktor yang telah dipahami27

    .

    Triangulasi dengan penyidik yaitu teknik pengecekan data

    melalui perbandingan hasil daya yang diperoleh dari satu pengamat

    27

    Lexsi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, h 330

  • 15

    dengan hasil penyelidikan pengamat lainnya. Cara ini dapat

    dilakukan bila penelitian dilakukan dalam suatu kelompok, di mana

    masing-masing peneliti kemudian membandingkan hasil

    penelitiannya. Trianggulasi dengan teori, yaitu pengecekan

    keabsahan data melalui perbandingan dua atau lebih teori yang

    berbicara tentang hal sama, dimaksudkan untuk mendapatkan

    penjelasan banding tentang suatu hal yang diteliti. Penerapan

    teknik tersebut, dapat dilakukan dengan memasukkan teori-teori

    pembanding untuk memperkaya dan membandingkan penjelasan

    pada teori utama yang digunakan dalam penelitian.

    F. Kerangka Teori

    1. Lembaga Pemasyarakatan

    Lembaga Pemasyarakatan disebut LAPAS adalah tempat untuk

    melaksanakan pembinaan warga binaan dan anak didik Pemasyarakatan.

    (Pasal 1 Angka 3 UU Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan).

    Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia, tempat tersebut di sebut

    dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan merupakan unit

    pelaksana teknis di bawah direktorat Jenderal Pemasyarakatan

    Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dahulu Departemen

    Kehakiman28

    .

    Penghuni Lembaga Pemasyarakatan biasa disebut narapidana

    (napi) atau Warga binaan Pemasyarakatan (WBP) bisa juga yang

    statusnya masih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada dalam

    proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh hakim.

    Pegawai negeri sipil yang menangani pembinaan narapidana dan tahanan

    di lembaga pemasyarakatan disebut petugas Pemasyarakatan, atau dahulu

    lebih dikenal dengan istilah sipir penjara. Konsep pemasyarakatan

    pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman Sahardjo pada tahun 1962.

    Ia menyatakan bahwa tugas jawatan kepenjaraan bukan hanya

    melaksanakan hukuman, melainkan juga tugas yang jauh lebih berat

    28

    https://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pemasyarakatan ( di akses 20 Desember 2017)

    http://id.wikipedia.org/wiki/Penjarahttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Unit_Pelaksana_Teknis&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Unit_Pelaksana_Teknis&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Direktorat_Jenderal_Pemasyarakatanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Kementerian_Hukum_dan_Hak_Asasi_Manusia_Indonesiahttps://id.wikipedia.org/wiki/Narapidanahttps://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Warga_Binaan_Pemasyarakatan&action=edit&redlink=1https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tahanan&action=edit&redlink=1https://id.wikipedia.org/wiki/Hakimhttps://id.wikipedia.org/wiki/Petugas_Pemasyarakatanhttps://id.wikipedia.org/wiki/Sipirhttps://id.wikipedia.org/wiki/Sahardjohttps://id.wikipedia.org/wiki/1962https://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pemasyarakatan

  • 16

    adalah mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana ke dalam

    masyarakat.29

    2. Bimbingan Keagamaan Islam

    Pengertian Keagamaan-Secara Etimologi, istilah keagamaan itu

    berasal dari kata “Agama” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”

    sehingga menjadi keagamaan. Kaitannya dengan hal ini, memberikan arti

    keagamaan sebagai berikut: Keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat

    dalam agama atau segala sesuatu mengenai agama, misalnya perasaan

    keagamaan, atau soal-soal keagamaan. Adapun secara istilah Nurhasanah

    Bakhtiar memberi pengertian “Agama” dapat dilihat dari dua (2) aspek

    yaitu: a. Aspek Subyektif (pribadi manusia), b. Aspek Objektif.

    Aspek subyektif agama mengandung pengertian tingkah laku

    manusia yang dijiwai oleh nilai-nilai keagamaan yang berupa getaran

    batin yang dapat mengatur dan mengarahkan tingkah laku tersebut

    kepada pola hubungan antar manusia dengan Tuhannya dan pola

    hubungan dengan masyarakat serta alam sekitarnya.30

    Aspek objektif agama dalam pengertian ini mengandung nilai-nilai

    ajaran Tuhan yang bersifat manuntun manusia kearah tujuan sesuai

    dengan kehendak ajaran tersebut. Sedangkan bimbingan keagamaan

    adalah menunjukkan, memberikan jalan atau menuntun ke arah tujuan

    yang bermanfaat bagi kehidupan masa kini dan mendatang. Berarti

    tuntunan yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, ada sebuah

    penanganan yang berkelanjutan. Bimbingan keagamaan memperhatikan

    juga penanganan pada pemecahan masalah, tetapi titik beratnya pada

    pencegahan dan pengembangan.31

    Islam sering diidentikkan dengan perilaku kaum Muslim atau umat

    Islam. Padalah, sebagaimana perilaku penganut agama lainnya, perilaku

    29

    Dwidja Priyatno, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara di Indonesia, (Bandung,:Refika

    Aditamma, 2006), h. 8.7 30

    Nurhasanah Bakhtiar, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta:

    Aswaja Pressindo, 2013), h. 1-2 31

    Achmad Juntika Nurihsan, Akur Sudianto, Manajemen Bimbingan dan Konseling di

    SMA,(Jakarta; Grasindo, 2005), h. 9.

  • 17

    seorang Muslim belum tentu mencerminkan ajaran atau syariat Islam.

    Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi

    Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman

    hidup seluruh manusia hingga akhir zaman. Islam (Arab: al-islām, اإلسالم,

    "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu

    Tuhan, yaitu Allah SWT. Dalam Al-Quran, Islam disebut juga Agama

    Allah atau Dienullah (Arab: ِديِن اللّ ِه).

    ٣٨َجُعوَى ِه ُيرۡا َوِإَليۡٗ ها َوَكرۡٗ عِض َطوَۡأرۡلۡٱِث َوَوَٰلسََّوَٰٱَلَن َهي ِفي َأسۡ ۥُٓغوَى َوَلُهللَِّه َيبۡٱَر ِديِي َأَفَغيۡ

    “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah,

    padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit

    dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada

    Allahlah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imran: 83).32

    Dien (agama) sendiri dalam Al-Quran artinya agama (QS 3:83),

    ketaatan (QS 16:52), dan ibadah (QS.40:65). Berikut ini ulasan tentang

    makna, arti, defisi, atau pengertian Islam menurut bahasa, istilah, dan Al-

    Quran. Pengertian Islam secara harfiyah artinya damai, selamat, tunduk,

    dan bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M

    (mim) yang bermakna dasar “selamat” (Salama). Dari pengertian Islam

    secara bahasa ini, dapat disimpulkan Islam adalah agama yang membawa

    keselamatan hidup di dunia dan di akhirat (alam kehidupan setelah

    kematian). Islam juga agama yang mengajarkan umatnya atau

    pemeluknya (kaum Muslim/umat Islam) untuk menebarkan keselamatan

    dan kedamaian, antara lain tercermin dalam bacaan shalat sebagai ibadah

    utama yakni ucapan doa keselamatan "Assalamu'alaikum

    warohmatullah" (اهلل و ر ْحم ُة ع ل ْيُكْن السّ ال ُم) semoga keselamatan dan kasih

    sayang Allah dilimpahkan kepadamu sebagai penutup shalat. Pengertian

    Islam secara harfiyah artinya damai, selamat, tunduk, dan bersih. Kata

    Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang

    32

    Tim Penterjemah dan Penafsir al-Qur‟an, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta:

    Departemen Agama RI., 1981), h. 56

    https://id.wikipedia.org/wiki/Agama

  • 18

    bermakna dasar “selamat” (Salama). Dari pengertian Islam secara bahasa

    ini, dapat disimpulkan Islam adalah agama yang membawa keselamatan

    hidup di dunia dan di akhirat (alam kehidupan setelah kematian). Islam

    juga agama yang mengajarkan umatnya atau pemeluknya (kaum

    Muslim/umat Islam) untuk menebarkan keselamatan dan kedamaian,

    antara lain tercermin dalam bacaan shalat sebagai ibadah utama yakni

    ucapan doa keselamatan "Assalamu'alaikum warohmatullah" (ع ل ْيُكْن السّ ال ُم

    semoga keselamatan dan kasih sayang Allah dilimpahkan (الل و ر ْحم ُة

    kepadamu sebagai penutup shalat.

    Sasaran bimbingan keagamaan Islam adalah membantu individu

    atau kelompok untuk mencegah timbulnya masalah-masalah dalam

    kehidupannya. Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia,

    muncullah kemudian upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut

    dengan bimbingan formal, bentuk isi dan tujuan, serta aspek-aspek

    penyelenggaraan bimbingan formal itu mempunyai rumusan yang

    nyata.33

    Bimbingan keagamaan adalah proses pemberian bantuan terhadap

    individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk

    Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di

    akhirat. Untuk mencapai itu manusia mempunyai dua pedoman utama

    agar tidak tersesat, dan akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di

    akhirat, pedoman tersebut termaktub dalam al-Qur‟an dan al-Hadist.

    Sebagaimana disiplin ilmu lainnya bimbingan keagamaan juga

    mempunyai. Objek (garapan) bimbingan Islam adalah hal-hal yang

    berkaitan:

    a. Upaya-upaya mencegah problem yang berkaitan dengan ketidak

    beragamaan

    b. Upaya-upaya mencegah problem yang berkaitan dengan kesulitan

    memilih agama

    33

    Prayitno dan Errman Ampti, Dasar- Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka

    Cipta, 1999), h. 93.

  • 19

    c. Upaya-upaya mencegah problem yang berkaitan dengan kegoyahan

    iman (kekufuran)

    d. Upaya-upaya mencegah problem yang berkaitan dengan konflik

    pandangan/ wawasan keagamaan

    e. Upaya-upaya mencegah problem yang berkaitan dengan kekurang

    pahaman mengenai syariat Islam

    f. Upaya-upaya mencegah problem yang berkaitan dengan

    ketidakmauan dan ketidakmampuan menjalankan syariat Islam

    dengan baik dan benar.34

    Dari beberapa rumusan tentang pengertian bimbingan keagamaan

    di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan keagamaan merupakan

    proses pemberian bantuan melalui wawancara keagamaan oleh seorang

    yang ahli terhadap individu yang sedang mengalami masalah yang

    bertujuan untuk membantu narapidana mengatasi masalahnya untuk

    mencapai kesejahteraan hidupnya.

    3. Warga binaan

    Pengertian warga binaan kamus besar Bahasa Indonesia

    memberikan arti bahwa warga binaan adalah anggota masyarakat.35

    Sementara itu, menurut kamus induk istilah ilmiah menyatakan bahwa

    warga binaanbinaan adalah warga binaan masyarakat yang menjalani

    proses pembinaan di lemabga pemasyarakatan. Konsep warga binaan

    sama artinya dengan narapidana. Selanjutnya berdasarkan kamus hukum

    narapidana diartikan sebagai berikut: warga binaan adalah orang yang

    menjalani pidana dalam Lembaga Pemasyarakatan.

    Berdasarkan Pasal 1 ayat (7) Undang-Undang Nomor 12 Tahun

    1995 tentang Pemasyarakatan, narapidana adalah terpidana yang

    menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan.

    Menurut Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang

    34

    Prayitno dan Errman Ampti, Dasar- Dasar Bimbingan dan Konseling, h, 411. 35

    Tim Redaksi Fokus Media, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Bandung: Fokusmedia,

    2006), h. 99

  • 20

    Pemasyarakatan, terpidana adalah seseorang yang di pidana berdasarkan

    putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.36

    Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa narapidana

    adalah orang atau terpidana yang sedang menjalani masa hukumannya di

    Lembaga Pemasyarakatan dimana kemerdekaannya hilang. Narapidana

    adalah sebutan yang diberikan kepada individu atau orang-orang yang

    melakukan pelanggaran hukum, yang dikenai pidana. Mantan Menteri

    Hukum dan HAM Hamid Awaludin mengatakan bahwa lembaga

    pemasyarakatan adalah suatu proses pembinaan yang dilakukan oleh

    negara kepada para narapidana dan tahanan untuk menjadi manusia yang

    menyadari kesalahannya. Selanjutnya pembinaan diharapkan agar

    mereka mampu memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana

    yang pernah dilakukannya.

    G. Studi Relevan

    Penelitian ini agar lebih ilmiah dan orisinal, maka berikut ini ada

    beberapa karya ilmiah yang memiliki kedekatan isi dan metodologi dengan

    penulis. Penelitian Fakhrurazi 2013 mengenai”Pemberian Bimbingan

    Keagamaan terhadap Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA

    Teluk dalam Banjarmasin”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

    bagaimana pemberian bimbingan keagamaan di Lapas Klas IIA Teluk Dalam

    Banjarmasin secara kualitas dan kuantitas pembinaan, juga untuk mengetahui

    faktor apa saja yang menjadi penunjang dan penghambat dalam pembinaan

    keagamaan di Lapas, dan juga ingin mengetahui hasil yang telah dicapai dari

    pembinaan yang dilaksanakan.32

    Penelitian Fakhrurazi lebih dekat

    subtansinya dengan penelitian penulis, yaitu tentang Pemberian Bimbingan

    Keagamaan terhadap Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA

    Teluk dalam Banjarmasin sedangkan penelitian penulis tentang Pelaksanaan

    bimbingan keagamaan terhadap warga binaan lembaga pemasyaratan kelas

    36

    Tim Redaksi Fokus Media, Undang-Undang Otonomi daerah, ( Bandung: Fokusmedia,

    2008), h. 24

  • 21

    IIB Kuala Tungkal Tanjung Jabung Barat. Bedanya dengan penelitian penulis

    adalah dari segi pelaksanaan dengan pemberian bimbingan.

    Penelitian Nelson Sihombing tahun 2012 mengenai “Pola Pembinaan

    Narapidana dalam Bidang Keagamaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II

    B Tanjung Jabung Barat”. Penelitian ini menemukan bahwa Pembinaan

    bertujuan agar Narapidana setelah selesai menjalani masa pidananya tidak

    akan mengulangi perbuatannya (kejahatan) dan dapat hidup bermasyarakat

    secara wajar serta ikut berpartisipasi di dalam pembangunan33.

    Bedanya

    penelitian Nelson Sihombing dengan penelitian penulis terletak pada pola

    pembinaan narapida dalam bidang keagamaan sedangkan penulis pelaksanaan

    bimbingan keagamaan.

    Penelitian Sudin, “Pengaruh Bimbingan Rohani Islam Terhadap

    Keberagamaan Narapidana di Lembaga Pemesyarakatan Kelas IIB

    Indramayu”. Bimbingan rohani yang dilakukan di lembaga pemasyarakatan

    kelas IIB Indramayu lebih berpengaruh terhadap keberagamaan narapidana

    dengan tingkat pengaruh yang tinggi,maka dari itu bimbingan rohani di

    Lembaga Pemasyarakatn kelas IIB terus ditingkatkan.37

    Beda penelitian

    Sudin dengan penelitian penulis terletak pada Pengaruh Bimbingan Rohani

    Islam Terhadap Keberagamaan Narapidana sedangkan penelitian penulis

    Pelaksanaan bimbingan keagamaan terhadap warga binaan lembaga

    pemasyarakatan.

    Lain halnya dengan penelitian yang sedang penulis teliti sekarang,

    penelitian ini lebih memusatkan pada Pelaksaan Bimbingan Keagamaan

    Terhadap warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kuala

    Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

    37

    Fakhrurazi, Pelaksanaan Bimbingan Keagamaan Terhadap Narapidana di Lembaga

    Pemasyarakatan Klas IIA Teluk Dalam Banjarmasin, Banjarmasin: Institut Agama Islam Negeri

    Antasari Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam. 2013. 37

    Nelson Sihombing,Pola Pembinaan Narapidana Dalam Bidang Keagamaan di Lembaga

    Pemasyarakatan Kelas II B Tanjung Jabung Barat, Jambi: Universitas Jambi. 2012. 37

    Sudin, Pengaruh Bimbingan Rohani Islam Terhadap Keberagamaan Narapidana di

    Lembaga Pemesyarakatan Kelas IIB Indramayu, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah: 2014.

  • 22

    H. Jadwal Penelitian

    Penelitian ini dilakukan selama enam bulan. Penelitian dilakukan

    dengan pembuatan proposal, kemudian dilanjutnya dengan perbaikan hasil

    seminar proposal skripsi. Setelah pengesahan judul dan izin riset, maka

    penulis mengadakan pengumpulan data, verifikasi dan analisis data dalam

    waktu yang berurutan. Hasilnya penulis melakukan konsultasi dengan

    pembimbing sebelum diajukan kepada sidang munaqasah. Hasil sidang

    munaqasah dilanjutkan dengan perbaikan dan penggandaan laporan penelitian

    skripsi.

  • 23

    BAB II

    PROFIL LAPAS KELAS IIB KUALA TUNGKAL

    A. Historis dan Letak Geografis

    1. Historis

    Lembaga pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal berkedudukan

    di Jalan Teluk Nilau Kecamatan Bram Itam Kiri Kabupaten Tanjung

    Jabung Barat Provinsi Jambi berjarak lebih kuranag 20 Kilo Meter dari

    pusat kota Kuala Tungkal. Lembaga pemasyarakatan kelas IIB Kuala

    Tungkal di bangun pada tahun 2004 dan selesai tahun 2008 dibangun di

    atas tanah seluas 5,7 Hektar yang bersetatus tanah hak pinjam pakai dari

    pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

    Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal diresmikan

    secara simbolis oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Bapak

    Patrialis Akbar pada tanggal 19 Oktober 2010 bersamaan dengan

    peresmian Law Centre Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak

    Asasi Manusia Jambi di Jambi. Baru pada tanggal 10 Januari 2011

    lembaga pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal mulai di operasikan dan

    pada tanggal 17 Januari 2011 diresmikan pengeoprasiannya oleh

    Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Bapak

    Prof. DR. Abdul Bari Azed, SH.,MH

    2. Letak Geografis

    Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal sendiri

    memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

    a. Sebelah Utara berbatasan dengan Perumahan penduduk

    b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Perkebunan penduduk

    c. Sebelah Barat berbatasan dengan Perumahan penduduk

    d. Sebelah Timur berbatasan dengan Perumahan penduduk.38

    38

    Dokumentasi Lemaba Pemasyarakatan 15 Mei 2018

  • 24

    B. Visi dan Misi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal

    1. Visi “Masyarakat Memperoleh Kepastian Hukum”

    2. Misi :

    a. Mewujudkan peraturan perundang-undangan yang berkualitas

    b. Mewujudkan pelayanan hukum yang berkualitas

    c. Mewujudkan penegakan hukum yang berkualitas

    d. Mewujudkan penghormatan, pemenuhan, perlindungan hak asasi

    manusia

    e. Mewujudkan layanan manajemen administrasi kementrian hukum

    dan hak asasi manusia

    f. Mewujudkan aparatur kementerian hukum dan hak asasi manusia

    yang professional dan berintegritas

    C. Struktur Organisasi

    Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal merupakan

    lembaga pemaysarakatan yang memiliki berbagai kegiatan dalam rangka

    pencapaian tujuan pembinaan. Untuk mengatur dan menyusun program

    kegiatan Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal agar dapat

    berjalan dengan lancar dan terorganisir, diperlukan suatu organisasi untuk

    pembagian tugas secara merata dan profesional yakni kepala Lembaga

    Pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal yang sesuai dengan jabatannya

    masing-masing. Struktur organisasi akan kelihatan menjadi kelas dan dapat

    pula menegaskan apabila sudah digunakan dalam kegiatan organisasi

    meskipun organisasi tersebut tidak dibuat struktur organisasinya. Maka

    belumlah dapat kelihatan begitu jelas dalam melaksanakan berbagai aspek

    kegiatan yang sedang dilaksanakan kalau hanya diberikan bahasan saja, akan

    tetapi dapat digambarkan bentuk dari struktur tersebut.

    Dengan adanya organisasi Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Kuala

    Tungkal maka kegiatan-kegiatan dalam suatu Lembaga Pemasyarakatan dapat

    terbentuk, sehingga personil dapat memangku jabatannya pada setiap program

    kegiatan penyelenggaraan di Lembaga Pemasyarakatan dengan lancar dan

    akan tercapai tata kerja yang baik menurut tugasnya masing-masing serta

  • 25

    penempatan dan pengaturan orang-orang dalam kelompok dengan tepat.

    Susunan struktur organisasi pada suatu Lembaga Pemasyarakatan berarti

    merupakan suatu kegiatan atau ikatan yang mempertemukan antara program

    kegiatan-kegiatan dalam Lembaga Pemasyarakatan. Di samping itu juga

    mempermudah pencapaian tujuan pembinaan yang ditetapkan. Adapun

    susunan atau struktur organisasi Lembaga Pemasyarakatan adalah

    sebagai berikut:

    Gambar I

    Struktur Organisasi Seksi Binadik & Giatja Lapas Kelas IIB Kuala

    Tungkal39

    39

    Dokumentasi Lemaba Pemasyarakatan 15 Mei 2018

    KETUA

    Iman Iswoyo,

    Bc.IP,SH

    Kasi Binadik & Giatja

    Haszuan Affandi, SH.,MH

    Kasubsi Kegiatan & Humas

    Danang Purbowo, S.Pd Kasubsi Perawatan

    Iswahyudi, SE Kasubsi Kegiatan &

    Kerja

    Tarmizi

    Staff Regestrasi & Bimkemas

    Hj. Lusi Lovianawati, SH Staff Perawatan

    Ryky Afrizal

    Staff Regestrasi & Bimkemas

    H. Suparto

    Staff Regestrasi & Bimkemas

    Susi Khoirony Nour, S.Kom.I

    Staff Kegiatan Kerja

    Darmanto, SH

  • 26

    Dari struktur organisasi di atas terlihat bahwa kegiatan yang

    dilaksanakan lembaga pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal meliputi baik

    berupa keagamaan maupun umum, dan mereka bertanggung jawab atas

    kelancaran pelaksanaan kegiatan organisasi lembaga pemasyarakatan yang

    bertujuan untuk meningkatkan kreativitas mereka terutama di bidang agama.

    Sebab hal tersebut dilaksanakan bertujuan untuk menciptakan keserasian kerja

    untuk mendapatkan hasil kerja yang semaksimal mungkin.

    D. Kesatuan Pengamanan

    Kepala Kesatuan pengamanan lembaga pemasyarakatan kelas IIB Kuala

    Tungkal (KPLP) dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh 4 regu

    pengamanan dan pengamanan pintu utama (SATGAS P2U) dan beberapa staff

    pembantu kegiatan sebagai berikut:

    Gambar 2

    Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kuala

    Tungkal40

    E. Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib

    Seksi administrasi keamanan dan tata tertib mengkoordinir tugas

    administrasi keamanan dan tata tertib, mengatur jadwal tugas dan penggunaan

    perlengkapan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam

    rangka terciptanya suasana aman dan tertib dilingkungan lembaga

    pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal sebagai berikut:

    40

    Dokumentasi Lemaba Pemasyarakatan 15 Mei 2018

    Ka. KPLP

    BUKHORI, S.Pd

    REGU JAGA

    STAFF KPLP

  • 27

    Gambar 3

    Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib Lembaga Pemasyarakatan

    Kelas IIB Kuala Tungkal41

    F. Keadaan Tenaga Pembimbing Keagamaan

    1. Keadaan Tenaga Pembimbing

    Peranan tenaga Pembimbing atau guru sebagai tenaga Pembimbing

    sangatlah penting didalam memupuk minat dan menumbuhkan semangat

    warga binaan dalam memberikan bekal ilmu pengetahuan melalui program

    bimbingan keagamaan. Keberhasilan dalam setiap bimbingan tentunya

    didukung oleh semangat pembimbing dalam menyampaikan materi

    pelajaran. Tenaga Pembimbing yang baik adalah tenaga Pembimbing yang

    memberikan pelajaran kepada warga binaannya secara efektif dan efesien

    senantiasa membuat pelajaran, baik jangka pendek maupun jangka panjang

    serta berusaha untuk menanamkan, memupuk dan mengembangkan sikap

    cinta kepada pelajaran, serta memberikan semangat dalam setiap proses

    bimbingan keagamaan.

    Tenaga Pembimbing merupakan unsur dari terlaksananya proses

    bimbingan keagamaan dan pembelajaran dalam suatu lembaga

    pemasyaratakan. Tenaga Pembimbing merupakan alat untuk mentransfer

    ilmu pengetahuan kepada warga binaan atau yang disebut sebagai pemberi

    informasi. Tanpa tenaga Pembimbing suatu lembaga pemasyarakatan tidak

    41

    Dokumentasi Lemaba Pemasyarakatan 15 Mei 2018

    Kasi ADM. KAMTIB

    Mahfuz Hamdan

    KASUBSI

    KEAMANAN

    M. Idris

    KASUBSI

    PELAPORAN

    H. Sunarysk, S.Pd

  • 28

    akan berjalan sebagaimana mestinya. Sebagaimana di lembaga

    pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal dimana lembaga

    pemasyarakatan lainnya yang memiliki tenaga-tenaga Pembimbing

    berjumlah 3 orang. Untuk lebih jelas mengenai keadaan tenaga

    Pembimbing di lembaga pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal dapat

    dilihat pada tabel berikut ini:

    Tabel 1. Keadaan Tenaga Pembimbing di Lembaga Pemasyarakatan

    Kelas IIB Kuala Tungkal42

    No Nama L/P Keterangan

    1 H. Suparto L Pembimbing Agama Islam

    2 Usman Simin L Pembimbing Umum

    3 M.Yusuf L Pembimbing Umum

    4 Saiful Hadi L Pembimbing Umum

    5 M.Husaini L Pembimbing Umum

    6 M.Nasir L Pembimbing Umum

    7 Samian Simi L Pembimbing Umum

    8 Tajul Muin L Pembimbing Umum

    Dilihat dari tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa tenaga Pembimbing

    keagamaan warga binaan pada awalnya dipimpin oleh H. Suparto dan

    pembimbing umum yang lainnya.

    Tabel 2. Jadwal Kegiatan Bimbingan Islam Keagamaan Lapas Kelas

    IIB Kuala Tungkal43

    Hari Jam Kegiatan Pembimbing

    Agama Islam

    Senin 09.30-09.55

    10.00-11.00

    12.00

    15.00

    16.00

    Iqra‟ dan Al-Qur‟an

    Belajar Tajwud

    Sholat Zuhur

    Sholat „Asar

    Rotibbul Haddad

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    Tajul Muin

    Selasa 09.30-09.55

    10.00-11.00

    Iqra‟ dan Al-Qur‟an

    Siraman Rohani

    H.Suparto

    H.Suparto

    42

    Dokumentasi Lemaba Pemasyarakatan 15 Mei 2018 43

    Dokumentasi Lemaba Pemasyarakatan 15 Mei 2018

  • 29

    12.00

    15.00

    16.00

    Sholat Zuhur

    Sholat „Asar

    Rotibbul Haddad

    H.Suparto

    H.Suparto

    Tajul Muin

    Rabu 09.30-09.55

    10.00-11.00

    12.00

    15.00

    16.00

    Iqra‟ dan Al-Qur‟an

    Belajar Fiqih

    Sholat Zuhur

    Sholat „Asar

    Rotibbul Haddad

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    Tajul Muin

    Kamis 09.30-09.55

    10.00-11.00

    12.00

    15.00

    16.00

    Iqra‟ dan Al-Qur‟an

    Halakah Al-Qur‟an

    Sholat Zuhur

    Sholat „Asar

    Rotibbul Haddad

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    Tajul Muin

    Jum‟at 09.30-09.55

    10.00-11.00

    12.00

    15.00

    16.00

    Iqra‟ dan Al-Qur‟an

    Amalan Pribasi

    Sholat Jum‟at

    Sholat „Asar

    Rotibbul Haddad

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    Tajul Muin

    Sabtu 09.30-09.55

    10.00-11.00

    12.00

    15.00

    16.00

    Iqra‟ dan Al-Qur‟an

    Latihan Kompangan

    Sholat Zuhur

    Sholat „Asar

    Rotibbul Haddad

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    H.Suparto

    Tajul Muin

    2. Keadaan Warga Binaan

    Keseluruhan proses pendidikan di lembaga binaan, kegiatan

    bimbingan merupakan kegiatan yang paling pokok. Meskipun banyak hal

    yang mempengaruhi dalam keberhasilan bimbingan warga binaan, namun

    yang jelas keberhasilan warga binaan merupakan bagian utama dari

    penyelenggaraan bimbingan keagamaan dan pembelajaran. Jumlah

  • 30

    keseluruhan warga binaan lembaga pemasyarakatan kelas IIB Kuala

    Tungkal 226 orang. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

    Tabel 3. Keadaan Warga Binaan dan Jumlah Kamar Hunian44

    No Nama Blok Jumlah

    Blok

    Keterangan

    1

    2

    3

    4

    5

    6

    7

    A (Arimbi)

    B (Bisma)

    C (Citrayuda)

    D (Duryudana)

    E (Ekalaya)

    H (Hanoman)

    G (Gatot Kaca)

    3

    10

    10

    6

    10

    10

    3

    Khusus tahanan Wanita

    Khusus untuk tahanan

    Khusus narapidana Narkoba

    Straaf Cell/Pengasingan

    Narapidana kreminal umum

    Narapidana pekerja/tamping

    Narapidana pekerja dapur, tamping,

    listrik, air dan Masjid

    Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah ruangan 52

    jumlah blok 7 kapasitas lembaga pemasyarakatan kelas IIB Kuala Tungkal

    240 orang jumlah penghuni lembaga pemasyarakatan saat ini 226 orang

    setiap saat mengalambi perubahan.

    Tabel 4. Penghuni Lembaga Binaan berdasarkan Agama dan

    Kepercayaan45

    No Agama Laki-laki Perempuan Jumlah

    1 Islam 39 24 63

    2 Kristen 24 18 42

    3 Hindu 26 6 32

    4 Budha 38 3 41

    5 Konghucu 33 15 48

    Jumlah 160 66 226

    Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah narapidana

    berdasarkan Agama dan Kepercayaa, Islam 39 laki-laki 24 perempuan, Kristen

    24 laki-laki 18 perempuan, Hindu 26 laki-laki 6 perempuan, Budha 38 laki-laki

    3, Konghucu 33 laki-laki 15 perempuan sehingga jumlah keseluruhan

    narapidana di kelas II B Kuala Tungkal berjumlah 226 orang.

    44

    Dokumentasi Lemaba Pemasyarakatan 15 Mei 2018 45

    Dokumentasi Lemaba Pemasyarakatan 15 Mei 2018

  • 31

    BAB III

    Program Bimbingan Keagamaan Islam Lembaga Pemansyarakatan Kelas

    IIB Kuala Tungkal

    A. Program Bimbingan Keagamaan Islam Warga Binaan

    Bentuk pembinaan keagamaan warga binaan adalah dengan membuat

    program-program kegiatan keagamaan yang berbentuk kegiatan pendukung

    lain yang berkaitan. Program keagamaan Warga Binaan dengan diadakannya

    program khusus pembinaan keagamaan yaitu: Belajar tajwid, siraman rohani,

    belajar fiqih, halakah Al-Qur‟an, amalan pribadi, dan latihan kompangan

    kegiatannya di laksanakan setiap hari kecuali hari minggu libur.

    1. Belajar Tajwid

    Belajar ilmu tajwid yang mana merupakan suatu kewajiban bagi

    kaum muslimin yang merupakan ilmu tentang bagaimana membaca Al-

    Qur‟an dengan baik dan benar. Pembimbing keagamaan di lembaga

    pemasyarakatan adalah orang yang sudah lama berkecimpung dalam

    membina dan mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, ilmu dan ilmu tajwid

    dari zaman dahulu sampai sekarang ini masih mempertahankan ciri-ciri

    lembaga pemasyarakatan sebagai suatu ciri khas yang akan tetap

    dipertahankan oleh pembimbing keagamaandi lembaga pemasyarakatan

    kelas IIB Kuala Tungkal ini. Sebagaimana hasil wawancara penulis

    dengan H. Suparto:

    “[K]ami para pembimbing sangat memperhatikan kelangsungan warga

    binaan ini ke depan, yang oleh sebab itu kami masih mempertahankan

    ciri khas pembelajaran di lembaga pemasyarakatan. Karena lembaga

    pemasyarakatan ini sudah dipercaya oleh masyarakat dari zaman

    dahulu, yang telah banyak menghasilkan warga binaan yang taat

    kepada agamanya dan diharapkan nanti setelah mereka bebas bisa

    menjadi masyarakat yang bail dilingkungan tempat tinggal mereka.46

    Adapun syarat-syarat yang harus dilakukan oleh warga binaan yang

    ingin mengikuti pembelajaran tajwid di lembaga pemasyarakatan menurut

    H.Suparto adalah:

    46

    H.Suparto, Wawancara dengan Penulis 16 Mei 2018

  • 32

    “[S]etiap warga binaan yang ingin mempelajari ilmu tajwid di

    lembaga pemasyarakatan ini, harus bisa membaca Al-Quran, karena

    tanpa bisa membaca Al-Quran sulit nantinya para warga binaan, harus

    mempelajari tajwidnya, karena semua tajwid yang akan mereka

    pelajari berbahasa Arab dan warga binaan juga diharuskan

    mempelajari iqro‟ terlebih dahulu47

    Berdasarkan penjelasan dari H.Suparto tadi jelaslah bahwa membaca

    Al-Quran atau bisa membaca Al-Quran adalah syarat utama yang harus

    dipunyai oleh warga binaan yang ingin mempelajari ilmu tajwid di

    lembaga pemasyarakatan ini. Makanya tidak heran lagi bahwa bagi warga

    binaan pemula tidak bisa langsung belajar tajwid mereka harus terlebih

    dahulu mempelajari iqro‟ bawah yang mempelajari ilmu tajwid harus bisa

    membaca Al-Qur‟an dan mengenal huruf-huruf Al-Qur‟an.

    Dari keterangan di atas penulis dapat menganalisa berdasarkan

    observasi di lapangan bahwa pembimbing keagamaan bila memberikan

    bimbingan atau pelajaran tajwid kepada warga binaan umumnya masih

    menggunakan metode bandongan. Dimana pembimbing sebagai pengajar

    duduk di depan warga binaan dengan menggunakan meja kecil

    membacakan ayat Al-Qur‟an sambil menjelaskan tajwidnya. Sedangkan

    warga binaan mendengar dan membaca atau mengulanginya pada Al-

    Qur‟an sendiri apa yang dijelaskan oleh pembimbing, dan untuk

    sementara, pembelajaran diadakan di Aula atau masjid. Dengan ruang

    terbuka tanpa menggunakan dinding pemisah masing-masing warga

    binaan duduk secara terpisah dan berkelompok dan menggunakan meja

    kecil.

    2. Siraman Rohani

    Wawancara penulis dengan H. Suparto, pembina rohani sebagai

    berikut:

    ”[K]egiatan belajar melalui ceramah agama yang diadakan oleh

    lembaga pemasyarakatan ini sering diikuti oleh Warga Binaan karena

    kegiatan ini sangat positif sekali, dan nara sumber yang mengisi

    47

    H.Suparto, Wawancara dengan Penulis 16 Mei 2018

  • 33

    kegiatan ini adalah orang-orang yang sudah ahli dibidangnya, kegiatan

    ini sangat baik sekali untuk para warga binaan, karena dalam kegiatan

    ini warga binaan bisa langsung berkomunikasi dan diskusi dengan

    nara sumbernya, sehingga apa yang disampaikan atau materi yang

    diberikan nara sumber tersebut, bisa langsung menyerap kedalam diri

    untuk di jadikan pegangan hidup dan juga apa yang ada di dalam diri

    warga binaan yang masih perlu ditanyakan bisa langsung ditanyakan

    kepada nara sumbernya.”48

    Menyimak kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan lembaga

    pemasyarakatan, sudah dapat dipastikan bahwa setiap kegiatan akan

    mendapatkan berbagai masukan pengetahuan yang positif, dan yang lebih

    penting adalah para warga binaan dapat mengisi waktu dengan kegiatan

    yang bermanfaat. Dampak dari pembentukan sikap keagamaan lembaga

    pemasyarakatan terhadap warga binaan adalah; Warga Binaan jadi rajin

    datang kemasjid untuk melaksakan sholat berjama‟ah begitu terdengar

    adzan berkumandang mereka segera kemasjid, sedangkan sebelum

    mengikuti bimbingan keagamaan begitu adzan berkumandang di masjid

    mereka biasa-biasa saja bahkan cuek dan mereka tetap berada di ruang

    tahanan mereka. Dengan demikian, prongram pembinaan keagamaan

    Warga Binaan dapat juga dilakukan dari adanya organisasi tersebut.

    Salah satu sarana pokok dalam menyampaikan pendidikan agama

    adalah melalui bimbingan keagamaan. Saat ini bimbingan keagaam telah

    tumbuh menjadi handal sebagai sarana internalisasi nilai-nilai agama

    kepada warga binaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh H. Suparto,

    tenaga pembimbing keagamaan di lembaga pemasyarakatan tentang

    pentingnya bimbingan keagamaan di lingkungan mereka seperti kutipan

    berikut ini:

    ”[K]edudukan bimbingan keagamaan sebagai lembaga non formal

    menjadi penting antara lain berfungsi untuk 1) Membina dan

    mengembangkan agama Islam dalam rangka membentuk warga binaan

    yang bertaqwa kepada Allah Yang Maha Esa, 2) Sebagai taman rekreasi

    rohani, karena diselenggarakan dengan serius tapi santai, 3) Sebagai

    ajang silaturrahmi yang dapat menghidupkan suburnya pendidikan

    agama dan ukhuwah Islamiyah, 4) Sebagai sarana dialog yang

    48

    H.Suparto, Wawancara dengan Penulis 16 Mei 2018

  • 34

    berkesinambungan antara warga binaan, dan pembimbing keagamaan 5)

    Sebagai media penyampaian gagasan modernisasi yang bermanfaat bagi

    pembangunan umat.”49

    Berdasarkan wawancara di atas dapat ditekahui bahwa kedudukan

    bimbingan keagamaan sebagai lembaga non formal menjadi penting antara

    lain berfungsi untuk 1) Membina dan mengembangkan agama Islam dalam

    rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah Yang Maha

    Esa, 2) Sebagai taman rekreasi rohani, karena diselenggarakan dengan

    serius tapi santai, 3) Sebagai ajang silaturrahmi yang dapat menghidupkan

    suburnya pendidikan agama dan ukhuwah Islamiyah, 4) Sebagai sarana

    dialog yang berkesinambungan antara ulama, umara dan umat dan 5)

    Sebagai media penyampaian gagasan modernisasi yang bermanfaat bagi

    pembangunan umat.

    Sebelum pengajaran dimulai pembimbing keagamaan mengenal

    keadaan yang akan dihadapi misalnya keadaan lingkungan, peserta, tempat

    dan sarana di dalamnya. Pengenalan mengenai peserta tidak saja mengenai

    gambaran umum peserta tetapi juga pengetahuan, status sosial, sifat-sifat

    khusus pada peserta. Pekerjaan, jabatan, ikatan kelompok serta minat dan

    permintaan peserta. Karena ini merasa penting untuk menyusun bahan

    pengajaran pengetahuan metode dan pendekatan serta memerlukan

    motivasi yang kuat bagi peserta dalam pengaturan pengajaran juga harus

    dibuat suatu program yang harus diajarkan. menurut H.Suparto,

    pembimbing keagamaan di lembaga pemasyarakatan yang mengatakan:

    “[A]dapun program kerja yang ada di lembaga pemasyarakatan adalah

    pengajian Al-Qur‟an, shalat Isya berjam‟ah, belajar tajwid, dan fiqih

    peringatan hari-hari besar Islam dan ceramah agama.”50

    Hasil wawancara yang dilakukan dengan pembimbing keagamaan

    tersebut di atas maka terlihat bahwa jumlah program kerja yang

    dilaksanakan oleh pembimbing keagamaan cukup beragam dan meliputi

    49

    H.Suparto, Wawancara dengan Penulis 16 Mei 2018 50

    H.Suparto, Wawancara dengan Penulis 16 Mei 2018

  • 35

    aspek yang ada dalam lembaga pemasyarakatan itu sendiri dan saat

    diobservasi memang terlihat semua kegiatan yang dikatakan oleh Ketua

    pembimbing keagamaan di lembaga pemasyarakatan itu benar.

    Materi kegiatan bimbingan keagamaan dengan sendirinya berisikan

    ajaran Islam dengan segala keluasannya. Oleh sebab itu bahan

    pelajarannya dapat berupa tajwid, fiqih, hadits dan tarikh sebagai ilmu

    alat, maupun masalah kehidupan masyarakat disorot dari segi ajaran Islam.

    Tentu saja pembimbing keagamaan tidak perlu mengambil seluruh materi

    tersebut, melainkan harus memilih dan memilah di antaranya dengan

    mengingat waktu bimbingan yang ditetapkan, kesediaan pembimbing atau

    pengajar, keinginan dan kondisi para peserta Menurut Hamzah

    mengatakan:

    ”[P]eranan pembimbing keagamaan secara umum dapat terlihat dari

    berbagai kegiatan yang telah diselenggarakan. Kegiatan-kegiatan

    tersebut pada akhirnya akan membawa dampak positif bagi jama'ah

    yang selanjutnya menjadi landasan kehidupan sehari-hari. Pembinaan

    keagamaan warga binaan banyak dilakukan di lembaga pemasyarakatan

    tersebut lebih banyak dikelola oleh kaum bapak-bapak, sehingga

    banyak aktivitas-aktivitas keagamaan yang diramaikankan oleh kaum

    bapak-bapak, dan memang kaum bapak-bapaklah yang lebih banyak

    memiliki waktu luang. Kegiatan bimbingan keagamaan sifatnya

    pengajian biasa yang tidak mengikat. Pemberi materi terdiri dari para

    pembimbing keagamaan sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka

    miliki.”51

    Peran pembimbing agama dalam pengembangan wawasan

    keagamaan para warga binaannya, terlihat dari kegiatan-kegiatan yang

    dilaksanakan. Dari berbagai kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung

    para warga binaan di lembaga pemasyarakatan tersebut dapat mengetahui

    dan memahami lebih mendalam tentang wawasan agama Islam dan

    akhirnya menambah pengetahuan mereka tentang Islam sebagai agama

    yang mereka yakini serta mereka jadikan sebagai landasan hidup sehari-

    hari.

    51

    Hamzah, Wawancara dengan Penulis 16 Mei 2018

  • 36

    Suatu organisasi tanpa program kerja yang jelas dan teratur akan

    membuat semua kegiatan yang akan dilaksanakan akan terhambat,

    H.Suparto. pembimbing keagamaan dan tenaga pengajar yang

    mengatakan:

    “[P]rogram bulanan di organisasi lembaga pemasyarakatan memiliki

    beberapa kegiatan seperti ceramah agama yang mana kegiatan ini

    dilaksanakan empat kali dalam satu bulan. Hal ini mengingat

    kesempatan untuk melakukan pertemuan antara warga binaan tidak

    mudah, ini dikarenakan sebagian warga binaan masih belum ada

    memiliki kesadaran tentang pentingnya nilai-nilai agama.”52

    Saat observasi, memang terlihat pembimbing keagamaan melakukan

    kegiatan seperti ceramah agama, kegiatan ini berjalan sesuai dengan

    program yang ada. Banyak warga binaan yang mengikuti kegiatan ini,

    walaupun masih ada beberapa warga binaan yang tidak ikut, tetapi melihat

    fenomenanya sekarang ini, kegiatan ceramah agama inilah yang paling

    banyak membuat minat warga binaan untuk selalu aktif.53

    Wawancara dengan H. Suparto, tenaga pembimbing keagamaan di

    lembaga pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal mengatakan:

    ”[K]ontribusi warga binaan terhadap pelaksanaan kegiatan ceramah

    agama selama ini bisa dibilang sudah cukup baik, hal ini terlihat pada

    pelaksanaan kegiatan ini, yang mana pembimbing keagamaan selalu

    memberikan pengarahan kepada para warga binaan yang mengikuti

    kegiatan tersebut, hal ini tidak lain adalah untuk membentuk

    kepribadian para warga binaan yang bersifat Islami.”54

    Pengamatan penulis terhadap kegiatan di lembaga pemasyarakatan

    Kelas IIB Kuala Tungkal dimana kegiatan ini dilaksanakan 1 kali dalam 1

    minggu. Penceramah didatangkan dari berbagai tempat yang dianggap

    mampu mengisi acara ini. Sedangkan materi ceramah yang disampaikan,

    di samping materi lain yang berkenaan dengan ilmu Islam.55

    Wawancara dengan Taufik, salah satu warga binaan yang

    mengatakan bahwa:

    52

    H.Suparto, Wawancara dengan Penulis 16 Mei 2018 53

    Observasi, Penulis 19 Mei 2018 54

    H.Suparto, Wawancara dengan Penulis 19 Mei 2018 55

    Observasi, Penulis 19 Mei 2018

  • 37

    ”[K]egiatan ceramah agama yang diadakan oleh lembaga

    pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal sering saya ikuti karena

    kegiatan ini sangat positif sekali, dan nara sumber yang mengisi

    kegiatan ini adalah orang-orang yang sudah ahli dibidangnya, kegiatan

    ini sangat baik sekali untuk para warga binaan, karena dalam kegiatan

    ini kita bisa langsung berkomunikasi dan diskusi dengan nara

    sumbernya, sehingga apa yang disampaikan atau materi yang diberikan

    nara sumber tersebut, bisa langsung menyerap kedalam diri untuk kita

    jadikan pegangan hidup kita dan juga apa yang ada di dalam diri kita

    yang masih perlu ditanyakan bisa langsung kita tanyakan kepada nara

    sumbernya.”56

    Menyimak kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan lembaga

    pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal sudah dapat dipastikan bahwa

    setiap kegiatan akan mendapatkan berbagai masukan pengetahuan yang

    positif, dan yang lebih penting adalah para warga binaan dapat mengisi

    waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Dengan demikian, membina

    pendidikan agama pada warga binaan dapat juga dilakukan dari adanya

    kegeiatan bimbingan keagamaan tersebut.

    Sesuai dengan hasil wawancara dengan H. Suparto, tenaga

    pembimbing yang mengatakan bahwa: ”Materi yang diajarkan di lembaga

    pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal, sesuai dengan jadwal yang

    telah terlampir pada BAB II.”57

    Saat penulis observasi adapun hasil yang dicapai dari upaya

    meningkatkan aktifitas keagamaan para warga binaan di lembaga

    pemasyarakatan Kelas IIB Kuala Tungkal ini memang terlihat

    memuaskan, hal ini tampak pada kegiatan ceramah agama, warga binaan

    yang bertanya kepada nara sumber jika ada masalah yang tidak

    diketahui.58

    Program kerja yang dibentuk oleh lembaga pemasyarakatan Kelas IIB

    Kuala Tungkal ini sudah cukup berjalan dengan baik, seperti dalam

    kegiatan ceramah agama, kegiatan ini berjalan sesuai dengan apa yang

    56

    Taufik, Wawancara dengan Penulis 19 Mei 2018 57

    H.Suparto, Wawancara dengan Penulis 19 Mei 2018 58

    Observasi, Penulis 19 Mei 2018

  • 38

    diharapkan, walaupun para warga binaan yang mengikuti kegiatan itu

    masih kurang ramai dan aktif.

    3. Belajar Fiqih

    Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa warga binaan adalah orang

    yang menjalanai masa tahanan atau masa pembinaan, yang diberikan

    pembelajaran tentang fiqih. Karena pembelajaran yang dilaksanakan di

    dalam Masjid yang ada dalam lembaga pemasyarakatan kelas IIB kuala

    Tungkal. Ini berarti, kegiatan yang berorientasi pada Masjid selalu menjadi

    program utama. Di dalam melaksanakan perannya, prioritas pada kegiatan-

    kegiatan peningkatan keislaman, keilmuan dan keterampilan warga binaan

    dalam melaksanakan ibadah melalui pembelajaran fiqih.

    Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan H. Suparto

    Aktivitas warga binaan yang baik adalah yang dilakukan secara terencana,

    kontinyu dan bijaksana; disamping itu juga memerlukan strategi, metode,

    taktik dan teknik yang tepat. Untuk sampai pada aktivitas yang baik

    tersebut, pada masa sekarang diperlukan pemahaman tentang fiqih untuk

    melaksanakan iba