makalah blok TM

  • View
    172

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of makalah blok TM

BAB I PENDAHULUAN

1

BAB II ISI 2.1 Pemicu Tn A, 45 tahun, datang ke praktek dokter K, untuk mendapat kejelasan tentang obat tradisional. Tn A mengatakan bahwa dia menderita diabetes dan sudah diresepkan obat antidiabetik oral oleh dokter sebelumnya, namun belum juga sembuh. Tn A mengatakan bahwa tetangganya pernah mengalami hal yang serupa seperti yang dialaminya dan berhasil sembuh dengan mengkonsumsi tanaman obat. Tn A mengatakan bahwa dia hendak menggunakan obat tradisional tersebut. Apa yang sebaiknya dijelaskan oleh dokter K? More Info 1:

2

Dokter K menjelaskan kepada Tn A tentang obat tradisional dan tentang penyakit diabetes. Berdasarkan penjelasan dokter K, Tn A menjadi lebih paham bahwa salah satu bagian dari penatalaksanaan diabetes yaitu exercise (Olahraga) yang benar. Bagaimana olahraga yang tepat bagi Tn A? 2.2 Tujuan pembelajaran A. Mengetahui tentang obat tradisional B. Mengetahui tentang Complementary Alternative Medicine (CAM) C. Mengetahui tentang hubungan dengan olahraga dengan penatalaksanaan diabetes 2.3 Pertanyaan yang muncul dalam curah pendapat A. Jelaskan tentang pengertian, jenis, dan aspek farmakologi obat tradisional B. Jelaskan mengenai mekanisme olahraga menurunkan kadar gula darah (KGD), komponen exercise prescription, program latihan fisik bagi penderita Diabetes Mellitus (DM), dan adaptasi cardiovascular (CVS) terhadap latihan aerobik C. Jelaskan mengenai jenis obat, efek, cara kerja, interaksi obat tradisional DM dengan obat modern DM

3

2.4 Jawaban atas pertanyaan 2.4.1 Obat Tradisional a. DefinisiMenurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) nomor 246/Menkes/Per/V/1990, yang dimaksud dengan obat tradisional adalah setiap bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

b. PenggolonganObat tradisional tersedia dalam berbagai bentuk yang dapat diminum (bubuk, kapsul, tablet), ditempelkan pada permukaan kulit atau mukosa (suppositoria/ yang dimasukkan ke dalam lubang kemaluan atau lubang anus), tetapi tidak dalam bentuk obat suntik atau gas. Obat Tradisional (OT) terdiri dari beberapa jenis yaitu jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka. Adapun kriterianya adalah sebagai berikut :1.

Jamu (Empirical based herbal medicine) Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh penyusun Pada bahan jamu tanaman tersebut jenis ini yang serta menjadi digunakan dengan

secara tradisional. umumnya, dibuat mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turun-menurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan

4

tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu. Berikut adalah kriteria jamu:(a). (b).

Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

(c). (d).

Tingkat pembuktian umum dan medium. Jenis klaim harus diawali dengan kata-kata secara tradisional digunakan untuk atau sesuai dengan yang disetujui pada pendaftaran.

2.

Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine) Obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis. obat herbal terstandar seperti Tolak Angin. Berikut adalah kriteria obat herbal terstandar:(a). (b).

Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/ praklinik dan telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi, serta memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

5

(c).

Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat pembuktian umum dan medium.

3.

Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine) Obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah. Berikut adalah kriteria fitofarmaka:(a). (b).

Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Klaim khasiat harus dibuktikan secara uji klinik dan telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi serta memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

(c).

Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat pembuktian medium dan tinggi.

Adapun tanaman obat keluarga yang dikenal dengan nama TOGA. Taman obat keluarga pada hakekatnya sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman ohat atau bahan ohat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat , khususnya obat yang berasal dari tumbuhtumbuhan.

6

Adapun pemanfaatan TOGA yang digunakan untuk pengobatan gangguan kesehatan keluarga menurut gejala umum seperti demam panas, batuk, sakit perut, dan gatal-gatal. c. Perkembangan obat tradisional Dalam perkembangan obat tradisional, terdapat tahap-tahap yang dimulai dari ditemukannya senyawa baru, uji praklinis yang terdiri dari farmakokinetik, farmakodinamik dan toksikologi. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian klinik yang harus dilalui oleh setiap obat atau intervensi adalah sebagai berikut. 1. Uji klinik fase I. Pada uji klinik fase I ini untuk pertama kalinya obat yang diujikan diberikan pada manusia (sukarelawan sehat), baik untuk melihat efek farmakologik maupun efek samping. Secara singkat tujuan uji klinik pada fase ini adalah: (a). (b). melihat kemungkinan adanya efek samping dan toleransi menilai hubungan dosis dan efek obat, dan subjek terhadap obat yang diujikan, (c).melihat sifat kinetik obat yang meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eksresi. Dengan melakukan uji klinik fase I ini kita akan memperoleh informasi mengenai dosis, frekuensi, cara dan berapa lama suatu obat harus diberikan pada pasien agar diperoleh efek terapetik yang optimal dengan risiko efek samping yang sekecil- kecilnya. Informasi yang diperoleh dari uji klinik fase I ini diperlukan sebagai dasar untuk melakukan uji klinik berikutnya (fase II). 2. Uji klinik fase II Bertujuan untuk melihat kemungkinan efek terapetik dari obat yang diujikan. Pada tahap ini uji klinik dilakukan secara terbuka tanpa kontrol (uncontrolled trial). Mengingat subjek yang digunakan

7

terbatas, hasil dan kesimpulan yang diperoleh belum dapat digunakan sebagai bukti adanya kemanfaatan klinik obat. 3. Uji klinik fase III Dalam tahap ini obat diuji atas dasar prinsip-prinsip metodologi ilmiah yang ketat. Mengingat hasil yang diperoleh dari uji klinik fase III ini harus memberi kesimpulan definitif mengenai ada/ tidaknya kemanfaatan klinik obat, maka diperlukan metode pembandingan yang terkontrol (controlled clinical trial). Di sini obat yang diuji dibandingkan dengan obat standard yang sudah terbukti kemanfaatannya (kontrol positif) dan/atau plasebo (kontrol negatif). 4. Uji klinik fase IV (post marketing surveillance). Uji tahap ini dilakukan beberapa saat setelah obat dipasarkan/digunakan secara luas di masyarakat. Uji ini bertujuan untuk mendeteksi adanya efek samping yang jarang dan serius (rare and serious adverse effects) pada populasi, serta efek samping lain yang tidak terdeteksi pada uji klinik fase I, II dan III. d. Sembilan obat tradisional di Indonesia Berikut adalah ringkasan sembilan obat tradisional terstandar di Indonesia dalam tabel dibawah ini. Ekstrak Herba Curcuma xanthorizae (temu lawak) Efek Farmakologi hipolipidemik antiinflamasi antioksidan selera makan galactogogue Curcuma hipolipidemik Kegunaan dislipidemia Gangguan GI Gangguan hati Anoreksia Peningkatan produksi ASI Perbaikan uterus setelah melahirkan dislipidemia

Peningkatan

8

domestica (kunyit) Andrographis paniculata (sambiloto) Guazuma ulmifolia (jati belanda) Eugenia polyantha (daun salam) Psidium guajava (daun jambu biji) Zingiber officinale (jahe merah) Morinda citrifolia (mengkudu ) Piper

antiinflamasi antispasmodik antipyretic Antiinflammatory Immunostimulant Antispasmodic Antisecretory mucosal protectivle antithrombotic Hypoglycemic antibacterial astringent Diaphroretic Lipase stimulation hypolipidemic astringent carminative hypoglycemic hypotensive Peningkatan produksi thrombosit antiviral antiemetic carminative antispasmodic antiinflammatory alkylating antioxidant hypotensive hypoglikemic antispasmodic

reumatik diare / dyspepsia Gangguan hepar Rheumatic disease common cold chronic leukemia Peptic ulcer atheroselerotic disease DM otitis dyslipidemia diare / dyspepsia Leucorrhoe diare / dyspepsia gastritis DM Hypertension DHF