makalah blok 14

  • View
    5

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

skn 2

Text of makalah blok 14

Nyeri Sendi pada Jari-Jari Tangan dan Pergelangan Tangan

Yuniete EiffeliaMahasiswa Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJalan Arjuna Utara No. 6, Jakartayunieteeiffelia@yahoo.com______________________________________________________________________________ PendahuluanArtritis Reumatoid (AR) adalah penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi kronik dan progresif, dimana sendi merupakan target utama. Manisfestasi klinik klasik AR adalah poliartritis simetris terutama mengenai sendi-sendi kecil pada tangan dan kaki. Selain lapisan sinovial sendi, AR juga bisa mengenai organ-organ di luar persendian seperti kulit, jantung, paru-paru, dan mata. Mortalitasnya meningkat akibat adanya komplikasi kardiovaskular, infeksi, penyakit ginjal, keganasa, dan adanya komorbiditas. Menegakkan diagnosis secara tepat dan memulai terapi sedini mungkin dapat menurunkan progresivitas penyakit. Metode terapi yang dianut saat ini adalah pendekatan piramid terbalik yaitu pemberian DMARD (Disease Modifying Anti-Rheumatoid Drugs) sedini mungkin untuk menghambat perburukan penyakit. Bila tidak mendapat terapi yang adekuat, akan terjadi destruksi sendi, deformitas, dan disabilitas, dan komplikasi penyakit yang lainnya. Artritis reumatoid lebih sering menyerang perempuan daripada laki-laki. Insidens meningkat dengan bertambahnya usia, terutama pada perempuan. Selama decade terakhir ini telah banyak dilakukan penelitian tentang AR yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam konsep AR sebagai penyakit berbagai bidang termasuk etiologi, diagnosis, pathogenesis, penatalaksaan dan pencegahan.1

Anamnesis Anamnesis adalah tahap awal dari rangkaian pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien (auto-anamnesis), maupun secara tidak langsung melalui keluarga atau relasi terdekat (allo-anamnesis). Tujuan anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan. Kronologi dan dampak gejala pada pasien harus diketahui. Keluhan utama biasanya berhubungan dengan sendi atau area di sekitar sendi: nyeri, kaku, deformitas, dan penurunan fungsi.Anamnesis dibagi dua menjadi anamnesis biasa dan spesifik. Anamnesis biasa menanyakan riwayat penyakit, yaitu riwayat penyakit secara kronologi, faktor-faktor pemberat penyakit, dan riwayat pengobatan yaitu obat-obatan yang sudah pernah dikonsumsi sebelum mengunjungi klinik. Sedangkan, anamnesis spesifik meliputi:2 Nyeri sendi. Lokasi nyeri dan punctum maksimum harus dipertanyakan. Pertanyakan apakah ada penekanan radiks / syaraf; pertanyakan rasa nyeri yang dirasakan dan frekuensinya, apakah hanya pagi hari atau siang hari, atau tidak menentu muncul rasa nyerinya; pertanyakan pula adakah nyeri mekanis (nyeri tekan) dan reaksi inflamasi. Kaku sendi. Bagaimana rasa kaku yang dirasakan? Apakah rasanya seperti diikat? Bengkak sendi. Pertanyakan apakah sendi membesar dan apakah ada benjolan pada sendi tersebut. Pertanyakan juga perubahan warna, bentuk sendi dan posisi sendi dalam struktur ekstremitas. Deformitas sendi. Pertanyakan apakah sendi berada dalam posisi yang salah atau tidak karena jika salah bisa saja sendi mengalami dislokasi atau subluksasi. Disabilitas sendi. Pertanyakan apakah otot, sendi, atau sistem muskuloskeletal tidak dapat berfungsi secara adekuat atau tidak.Gejala ini bisa timbul dari sendi atau struktur periartikular. Tanda-tanda radang (derajat nyeri dan durasi kaku di pagi hari) harus diselidiki dengan teliti. Gejala ekstra-artikular bisa membantu secara diagnostik dengan mengarahkan pada penyakit yang sangat berhubungan dengan artritis.Pada dugaan penyakit multisistem, keterlibatan organ spesifik (paru, ginjal, sistem syaraf) harus dicari berdasarkan gejala klinis dan melalui pemeriksaan penunjang spesifik. Gejala konstitusional termasuk demam, malaise, penurunan berat badan, atau kelelahan bisa menunjukkan proses radang yang meluas.2

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan meliputi inspeksi, palpasi, gerakan (look, feel, move). Pemeriksaan ini mulai dilakukan saat melihat pasien dengan mengobservasi penampilan, postur, dan cara berjalan. Mula-mula yang diperhatikan adalah keadaan umum dan lokal (status lokalis). Keadaan umum meliputi kesadaran pasien, tekanan darah, suhu, denyut nadi, dan frekuensi pernapasan. Keadaan lokal atau status lokalis dilihat dari teknik look, feel, move.31. Inspeksi (Look)Melihat tempat yang sakit yang merupakan keluhan utama pasien. Hal yang harus diperhatikan dalam inspeksi adalah: Apakah terjadi perubahan struktur dan fungsi dari persendian yang diamati Kesimetrisan bagian yang sakit-satu atau kedua sisi tubuh; salah satu atau beberapa sendi Deformitas atau ketidaksejajaran tulang Perubahan jaringan lunak di sekitarnya seperti perubahan kulit, nodul subkutaneus, atrofi otot, dan adanya krepitasi Keterbatasan rentang gerak, kelemahan ligamentum Perubahan kekuatan otot Perhatikan tanda inflamasi dan artritis; pembengkakkan, hangat, nyeri tekan, kemerahan.Untuk inspeksi pergelangan tangan, tangan, dan jari maka yang harus diperhatikan adalah gerakan pergelangan tangan (fleksi dan ekstensi) pada pergelangan tangan, tangan, jari, kontur pergelangan tangan, tangan, jari, dan telapak tangan. Jika ditemukan deformitas maka kemungkinannya adalah artritis reumatoid dan degeneratif. Jika dilakukan inspeksi telapak tangan didapatkan atrofi tenar pada kondisi kompresi nervus medianus maka kemungkinan pasien menderita carpal tunnel. Jika ada atrofi pada hipotenar, mungkin ada kompresi pada nervus ulnaris. Pada penderita artritis reumatoid terkadang didapatkan nodul reumatoid pada permukan ekstensor ekstremitas.2

2. Palpasi (Feel)Pada palpasi pergelangan tangan yang dilakukan adalah untuk mengetahui kemungkinan adanya pembengkakkan pada RA, nyeri tekan pada ulnar stiloid yang dapat dijumpai fraktur colles, pada tangan adalah meraba sendi metacarpophalanx (MCP), proximal interphalanx (PIP), dan distal interphalanx (DIP). Jika didapat pembengkakkan pada MCP maka dicurigai RA dan apabila ditemukan nodulus pada PIP dan DIP kemungkinannya juga RA. Jika ditemukan nodulus proksimal kemungkinannya juga RA namun jika nodulus distal maka dicurigai osteoartritis (OA).2

3. Gerakan (Move)Pemeriksaan gerakan dilakukan dengan menggerakan sendi pasien baik secara aktif maupun pasif. Gerakan aktif apabila meminta pasien menggerakkan sendinya sendiri, sedangkan pasif apabila pemeriksa yang menggerakkan sendi pasien. Pada RA, pemeriksaan dilakukan dengan melakukan gerakan fleksi, ekstensi, inversi, eversi pergelangan tangan dan pada jari dilakukan abduksi dan adduksi serta oposisi. Selain itu melakukan gerakan digiti I manus dengan melakukan abduksi, adduksi, dan rotasi. Perhatikan pola dan keterbatasan pada gerak sendi: Keterbatasan di seluruh arah gerak aktif dan pasif menunjukkan sinovitis peradangan pada sendi yang terkena. Nyeri pada akhir gerakan dan keterbatasan (seringkali disertai dengan krepitasi) menunjukkan OA. Krepitasi adalah suara yang timbuk karena adanya gesekan antara tulang pada gerak pasif yang biasanya menunjukkan kerusakan sendi lanjut. Nyeri hanya pada sisi tertentu atau pada gerak spesifik menunjukkan masalah periartikular atau mekanis lokal. Gerak menahan aktif yang menekan struktur yang terkena bisa memperberat semua tendinitis, entesitis, dan bursitis. Penyakit yang sudah lama berlangsung bisa menyebabkan deformitas seperti fleksi terfiksasi.2

Pemeriksaan Penunjang Tidak ada diagnosis tunggal yang definitif untuk konfirmasi diagnosis AR. The American College of Rheumatology Subcomite on Rheumatoid Arthritis (ACRSRA) merekomendasikan pemeriksaan laboratorium dasar antara lain: darah perifer lengkap, faktor reumatoid, laju endap darah atau CRP.2Pemeriksaan pencitraan yang bisa digunakan untuk menilai penderita AR antara lain: Foto Polos. Pada tahap awal penyakit, biasanya tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan radiologi kecuali pembengkakan jaringan lunak. Perubahan radiologis baru terlihat lama setelah terjadi gejala klinis. Pemeriksaan radiologi konvensional merupakan hal penting dalam menegakkan diagnosa AR dan kelainan sendi lainnya. AR cenderung memiliki distribusi yang simetris, paling sering mengenai tangan dan kaki. Setiap sendi synovial dapat terlibat, tanda tanda yang paling signifikan pada AR adalah pembengkakan jaringan lunak periarticular, osteoporosis periartikular, penyempitan celah sendi yang simetris, erosi marginal, kista subkondral dan erosi tulang adalah manifestasi dari kerusakan lebih lanjut oleh pannus, kesejajaran sendi yang tidak baik dan deformitas disebabkan oleh kelemahan terhadap kapsular, ligament, dan tendon.2 Magnetic Resonance Imaging (MRI) Telah digunakan untuk memperlihatkan kelainan inflamasi sendi dini pada AR. MRI dapat digunakan sebagai modalitas dalam mendiagnosis dan memantau penyakit AR karena kemampuan MRI yang sensitif dalam memperlihatkan erosi, kalsifikasi, sinovitis, tenosinovitis, dan tanda-tanda AR dini.3

Gambar 1. Radiogram tangan reumatoid.Sumber: http://wisnuekos.blogspot.com/2010/11/rheumatoid-arthritis-ra.html

Pemeriksaan Patologik Anatomik. Pada penderita reumatoid artritis, terlihat adanya hipertrofi dari vili pada sendi, penebalan jaringan sinovial, adanya sebukan sel-sel radang mendadak dan menahun, jaringan fibrosit dan pusat-pusat nekrosis. Semua ini akan menghasilkan pembengkakan sendi yang amat nyeri, baik dalam keadaan diam maupun saat digerakkan. Dan pembentukan pannus yang amat cepat akan menerobos tulang rawan sendi, periosteum, dan seterusnya sehingga pada akhirnya sendi tersebut akan penuh dengan pannus yang berlapis-lapis. Bila pannus ini sudah mengisi seluruh rongga sendi, maka pannus ini lambat laun merupakan anyaman yang bertaut, sehingga akhirnya timbul ankilosis di mana sendi tidak dapat digerakkan. Proses penerobosan pannus ke dalam tulang akan berlangsung terus sehingga pada suatu saat tulang jadi rapuh dan hancur. Akibatnya timbul deformitas, subluksasi, luksasi