of 26 /26
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi dan setiap tahunnya menyerang sekitar 1% dari seluruh penduduk Amerika.Meskipun sudah ada kemajuan dalam bidang antibiotic, pneumonia tetap merupakan penyebab keatian keenam di Amerika Serikat.Mnculnya orhanisme nosokomial, yang resisten terhadap antibiotic, ditemukannya organism-organisme baru (seperti Legionella), bertambahnya jumlah pejamu yang lemah daya tahan tubuhnya dan adanya penyakit seperti AIDS semakin memperluas spectrum dan derajat kemungkinan penyebab-penyebab pneumonia, dan ini juga menjelaskan mengapa pneumonia masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok.Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitas mererka masih belum berkembang dengan baik.Pneumonia pada orang tua dan orang yang lemah akibat penyakit kronik tertentu.Pasien peminum alcohol, pasca bedah dan penderita penyakit pernapasan kronik atau infeksi virus juga mudah terserang penyakit ini. Hamper 60% dari pasien-pasien yang kritis di ICU dapat mendeerita 1

Lp + Askep Pneumonia

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Lp + Askep Pneumonia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi dan setiap

tahunnya menyerang sekitar 1% dari seluruh penduduk Amerika.Meskipun

sudah ada kemajuan dalam bidang antibiotic, pneumonia tetap merupakan

penyebab keatian keenam di Amerika Serikat.Mnculnya orhanisme

nosokomial, yang resisten terhadap antibiotic, ditemukannya organism-

organisme baru (seperti Legionella), bertambahnya jumlah pejamu yang

lemah daya tahan tubuhnya dan adanya penyakit seperti AIDS semakin

memperluas spectrum dan derajat kemungkinan penyebab-penyebab

pneumonia, dan ini juga menjelaskan mengapa pneumonia masih

merupakan masalah kesehatan yang mencolok.Bayi dan anak kecil lebih

rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitas mererka masih belum

berkembang dengan baik.Pneumonia pada orang tua dan orang yang lemah

akibat penyakit kronik tertentu.Pasien peminum alcohol, pasca bedah dan

penderita penyakit pernapasan kronik atau infeksi virus juga mudah

terserang penyakit ini. Hamper 60% dari pasien-pasien yang kritis di ICU

dapat mendeerita pneumonia, dan setengah dari pasien-pasien tersebut

akan meninggal.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan dari Pneumonia?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan yaitu:

1

Page 2: Lp + Askep Pneumonia

1.3.1 Tujuan umum

untuk lebih memahami apa itu Pneumonia serta bagaimana

pengobatannya

untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Respirasi

1.3.2 Tujuan Kusus

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Pneumonia

Untuk mengetahui bagaimana etiologi dari Pneumonia

Untuk mengetahui apa saja klasifikasi dari Pneumonia

Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi dari Pneumonia

Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis dai Pneumonia

Untuk mengetahui apa saja komplikasi dari Pneumonia

Untuk mengetahui apasaja pemeriksaan penunjang dari Pneumonia

Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan dari Pneumonia

Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan dari Pneumonia

2

Page 3: Lp + Askep Pneumonia

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 DEFINISI

Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan

dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli.

(Axton & Fugate, 1993).

Peradangan akut

parenkim paru yang

biasanya berasal dari

suatu infeksi, disebut

pneumonia. (Sylvia)

Penumonia

adalah inflasi parenkim

paru, biasanya

berhubungan dengan

pengisian cairan di

dalam alveoli.Hal ini

terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalah adanya

kondisi yang mengganggu tahanan saluran.Trakhabrnkialis, adalah

beberapa keadaan yang mengganggu mekanisme pertahanan sehingga

timbul infeksi paru misalnya, kesadaran menurun, umur tua, trakheastomi,

pipa endotrakheal, dan lain-lain.Dengan demikian flora endogen yang

menjadi patogen ketika memasuki saluran pernapasan.( Ngasriyal,

Perawatan Anak Sakit, 1997)

2.2 ETIOLOGI

3

Page 4: Lp + Askep Pneumonia

Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:

1. Bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah

staphylococcus aureus, streptococus, aeruginosa, legionella,

hemophillus, influenza, eneterobacter. Bakteri-bakteri tersebut

berada pada kerongkongan manusia sehat, setelah system pertahanan

menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri tersebut segera

memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan.

2. Virus penyebab pneumonia diantaranya yaitu virus influenza,

adenovirus,chicken-pox (cacar air). Meskipun virus-virus ini

menyerang saluran pernafasan bagian atas, tetapi gangguan ini dapat

memicu pneumonia, terutama pada anak-anak.

3. Organism mirip bakteri yaituMicoplasma pneumonia. Pneumonia

jenis ini berbeda dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu

pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum

ditemukan ini sering disebut pneumonia yang tidak tipikal.

Mikoplasma ini menyerang segala jenis usia.

4. Jamur penyebab pneumonia yaitu candida albicans

2.4 KLASIFIKASI

Secara garis besar pneumonia dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

1. Aspirasi pneumonia

Terjadi bila bayi tersedak dan ada cairan /makanan masuk ke paru-

paru.Pada bayi baru lahir, biasanya tersedak karena air ketuban atau ASI.

2. Pneumonia karena infeksi virus, bakteri, atau jamur

Umumnya penyebab infeksi paru adalah virus dan bakteri seperti

streptococcus pneumonia dan haemophylus influenzae. Gejala akan

4

Page 5: Lp + Askep Pneumonia

muncul 1-2 hari setelah terinfeksi. Gejala yang muncul mulai dari

demam,batuk lalu sesak nafas.

3. Pneumonia akibat faktor lingkungan

Polusi udara menyebabkan sesak nafas terutama bagi yang alergi.

Bila tidak segera dilakukan pengobatan maka akan mengakibatkan

bronchitis dan selanjutnya menjadi pneumonia.

2.3 PATOFISIOLOGI

Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif

seperti menghirup bibit penyakit di uadara.Ada beberapa mekanisme yang

pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi.Partikel infeksius

difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan

epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-

paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan

juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral.

Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons

inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi

leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag.

Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas

pada foto toraks.Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi

dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan

interstisial.Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran

napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.

Pohon Masalah

5

Page 6: Lp + Askep Pneumonia

2.4 MANIFESTASI KLINIK

6

virus Bakteri jamur

Masuk sasaluran pernafasan

Paru-paru

Bronkus & alveoli

infeksiResiko penyebaran infeksi

Peradangan/ inflamasiReseptor nyeri:

Histamine Prostaglandin bradikinin

Reseptor peradangan

Hipertermi

Nyeri

Micoplasma (mirip bakteri)

hipothalamusMengganggu krj

makrofag

odema produksi skreet mngkat

Bersihan jln napas tdk efektif

dispnea

Gangguan pola napas

batuk

kelelahan

Nadi lemah

Anureksia

Peningkatan Metabolisme

Nutrisi berkurang

Risti terhadap gangguan nutrisi

Pnekanan diafragma

Kringat berlebih

Risti kekurangan cairan &elektrolit

Difusi gas antara O2 & CO2 di alveoli terganggu

Gangguan pertukaran gas

Kapasitas transportasi O2 menurun

Pe tekanan Intra abdomen

Saraf pusat

Page 7: Lp + Askep Pneumonia

Menggigil, demam

Nyeri dada

Takipnea

Bibir dan kuku sianosis

Sesak nafas

Batuk

Kelelahan

2.5 KOMPLIKASI

Efusi pleura

Hipoksemia

Pneumonia kronik

Bronkaltasis

Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-

paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps).

Komplikasi sistemik (meningitis)

2.6 FAKTOR RESIKO

Usia diatas 65 tahun

Aspirasi secret orofaringeal

Infeksi pernapasan oleh virus

Penyakit pernapasan kronik

Kanker

Trakeostomi

Bedah abdominal

Riwayat merokok

Alkoholisme

Malnurisi

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG

7

Page 8: Lp + Askep Pneumonia

1. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar,

bronchial); dapat juga menyatakan abses)

2. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat

mengidentifikasi semua organisme yang ada.

3. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis

organisme khusus.

4. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan

luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.

5. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis

6. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi

7. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda

asing

2.7 PENATALAKSANAAN

Pengobatan umum pasien-pasien pneumonia biasanya berupa pemberian

antibiotik yang efektif terhadap organisme tertentu, terapi O2 untuk

menanggulangi hipoksemia.

Beberapa contoh pemberian antibiotic seperti :

Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.

Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus

Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia

mikroplasma.

8

Page 9: Lp + Askep Pneumonia

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN

1. Data dasar pengkajian pasien

2. Aktivitas/istirahat

Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia

Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

3. Sirkulasi

Gejala : riwayat adanya

Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat

4. Makanan/cairan

Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes

mellitus

Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk,

penampilan kakeksia

(malnutrisi)

5. Neurosensori

Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)

Tanda : perusakan mental (bingung)

6. Nyeri/kenyamanan

Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia,

artralgia.

Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk

membatasi gerakan)

7. Pernafasan

Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.

Tanda :

sputum:merah muda, berkarat

perpusi: pekak datar area yang konsolidasi

premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi

9

Page 10: Lp + Askep Pneumonia

Bunyi nafas menurun

Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku

8. Keamanan

Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan

steroid, demam.

Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar

9. Penyuluhan/pembelajaran

Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis

Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6-8 hari

Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas

pemeliharaan rumah

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan nafas tak efektif b.d inflamasi trachea bronchial,

pembentukan edema, ditandai dengan dipsnea dan adanya secret.

2. Gangguan pertukaran gas b.d gangguan kapasitas pembawa oksigen

darah ditandai dengan sianosis.

3. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk

menetap.

4. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhanb.d peningkatan

kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi

5. Gangguan pola napas b.d peradangan ditandai dengan dispnea

3.3 RENCANA KEPERAWATAN

Dx 1 :Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi

trachea bronchial, peningkatan produksi sputum ditandai dengan:

Perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan

Bunyi nafas tak normal

10

Page 11: Lp + Askep Pneumonia

Dispnea, sianosis

Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.

Jalan nafas efektif dengan kriteria:

Batuk efektif

Nafas normal

Bunyi nafas bersis

Sianosis

No. Intervensi Rasional

1 Kaji frekuensi/kedalaman

pernafasan dan gerakan dada

takipnea, pernafasan dangkal dan

gerakan dada tak simetris sering

terjadi karena ketidaknyamanan.

2 Auskultasi area paru, catat area

penurunan 1 kali ada aliran

udara dan bunyi nafas

penurunan aliran darah terjadi

pada area konsolidasi dengan

cairan.

3 Biarkan teknik batuk efektif batuk adalah mekanisme

pembersihan jalan nafas alami

untuk mempertahankan jalan

nafas paten.

4 Penghisapan (suction) sesuai

indikasi.

merangsang batuk atau

pembersihan jalan nafas suara

mekanik pada faktor yang tidak

mampu melakukan karena batuk

efektif atau penurunan tingkat

kesadaran.

5 Berikan cairan cairan (khususnya yang hangat)

memobilisasi dan mengeluarkan

secret

6 Kolaborasi dengan dokter

untuk pemberian obat sesuai

alat untuk menurunkan spasme

bronkus dengan mobilisasi

11

Page 12: Lp + Askep Pneumonia

indikasi sekret, analgetik diberikan untuk

memperbaiki batuk dengan

menurunkan ketidaknyamanan

tetapi harus digunakan secara

hati-hati, karena dapat

menurunkan upaya

batuk/menekan pernafasan.

Dx 2 :Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa

oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan:

Dispnea, sianosis, takikardia, gelisah/perubahan mental, hipoksia, sianosis,

sesak, gelisah.

No. Intervensi Rasional

1 Kaji frekuensi/kedalaman dan

kemudahan bernafas

manifestasi distress pernafasan

tergantung pada indikasi derajat

keterlibatan paru dan status

kesehatan umum.

2 Observasi warna kulit,

membran mukosa dan kuku.

Catat adanya sianosis perifer

(kuku) atau sianosis sentral.

sianosis kuku menunjukkan

vasokontriksi respon tubuh

terhadap demam/menggigil

namun sianosis pada daun

telinga, membran mukosa dan

kulit sekitar mulut menunjukkan

hipoksemia sistemik.

Kaji status mental. gelisah mudah terangsang,

bingung dan somnolen dapat

menunjukkan hipoksia atau

penurunan oksigen serebral.

Kolaborasi: berikan terapi

oksigen dengan benar misal

: mempertahankan PaO2 di atas

60 mmHg. O2 diberikan dengan

12

Page 13: Lp + Askep Pneumonia

dengan nasal plong master,

master venturi.

metode yang memberikan

pengiriman tepat dalam toleransi.

Dx 3: Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap

ditandai dengan:nyeri dada, sakit kepala, gelisah

No. Intervensi Rasional

1 Tentukan karakteristik

nyeri, misal kejang, konstan

ditusuk.

: nyeri dada biasanya ada dalam

seberapa derajat pada pneumonia,

juga dapat timbul karena pneumonia

seperti perikarditis dan endokarditis.

2 Pantau tanda vital Perubahan FC jantung/TD menu

bawa Pc mengalami nyeri, khusus

bila alasan lain tanda perubahan

tanda vital telah terlihat.

3 Berikan tindakan nyaman

pijatan punggung,

perubahan posisi, musik

tenang / berbincangan.

tindakan non analgesik diberikan

dengan sentuhan lembut dapat

menghilangkan ketidaknyamanan

dan memperbesar efek derajat

analgesik.

5 Kolaborasi: Berikan

analgesik dan antitusik

sesuai indikasi

obat dapat digunakan untuk

menekan batuk non produktif atau

menurunkan mukosa berlebihan

meningkat kenyamanan istirahat

umum.

13

Page 14: Lp + Askep Pneumonia

Dx 4 :Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap

demam dan proses inflamasi ditandai dengan tujuan:

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan:

Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan

Pasien mempertahankan meningkat BB

No. Intervensi Rasional

1 identifikasi faktor yang

menimbulkan mual/muntah,

misalnya: sputum, banyak

nyeri.

pilihan intervensi tergantung pada

penyebab masalah.

3 Berikan makan porsi kecil

dan sering termasuk

makanan kering (roti

panggang) makanan yang

menarik oleh pasien.

tindakan ini dapat meningkat

masukan meskipun nafsu makan

mungkin lambat untuk kembali.

4 Evaluasi status nutrisi

umum, ukur berat badan

dasar.

adanya kondisi kronis keterbatasan

ruangan dapat menimbulkan

malnutrisi, rendahnya tahanan

terhadap inflamasi/lambatnya

respon terhadap terapi.

Dx 5: Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan

dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas

mulut, penurunan masukan oral. Kekurangan volume cairan tidak terjadi

dengan kriteria: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan

dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa

lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil.

14

Page 15: Lp + Askep Pneumonia

No. Intervensi Rasiona

1 Kaji perubahan tanda vital contoh

peningkatan suhu demam

memanjang, takikardia.

suhu/memanjangnya demam

meningkat laju metabolik dan

kehilangan cairan untuk evaporasi.

2 Kaji turgor kulit, kelembapan

membran mukosa (bibir, lidah)

indikator langsung keadekuatan

volume cairan, meskipun membran

mukosa mulut mungkin kering

karena nafas mulut dan O2

tambahan.

3 Catat laporan mual/muntah gejala ini menurunkan masukan oral

4 Kolaborasi: beri obat indikasi

misalnya antipiretik, antimitik.

pada adanya penurunan masukan

banyak kehilangan penggunaan

dapat memperbaiki/mencegah

kekurangan

5 Tekankan cairan sedikit 2400

mL/hari atau sesuai kondisi

individual

pemenuhan kebutuhan dasar cairan

menurunkan resiko dehidrasi.

3.4 IMPLEMENTASI

Dx 1: Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi

trachea bronchial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.

Implementasi keperawatan:

a. Mengkaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada

b. Melakukan pemeriksaan pada daerah paru, dengan cara

auskultasi pada lapang paru.

c. Menganjurkan pasien untuk melakukan batuk efektif.

d. Melakukan penghisapan (suction) 2 kali sehari.

e. Memberi pasien air minum yang hangat

15

Page 16: Lp + Askep Pneumonia

f. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat

sesuai indikasi

Dx 2: Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas

pembawa oksigen darah.

Implementasi keperawatan:

a. Mengkaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas pasien

b. mengobservasi warna kulit, membran mukosa dan kuku

c. Mengkaji status mental

d. Kolaborasi: berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan

nasal plong master, master venturi.

Dx 3: Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk

menetap.

Imlementasi Keperawatan :

a. Menentukan karakteristik nyeri: anamneses kepada pasien

b. Memantau tanda-tanda vital terutama TD

c. Memberikan rasa nyaman dengan cara memijat punggung

pasien, merubah posisi pasien, memutarkan musik tenang.

d. Melakukan kolaborasi dengan dokter yaitu diberikan analgesik

dan antitusik sesuai indikasi.

Dx 4: Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan

dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan

proses infeksi.

Implementasi Keperawatan :

a. Jika psien mual/muntah, mengkaji faktor yang menimbulkan

mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri.

16

Page 17: Lp + Askep Pneumonia

b. Memberikan makanan yang disukai/embalikan nafsu makan

pasien.

c. mengevaluasi status nutrisi umum, serta mengukur berat badan

dasar.

Dx 5: Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan

dengan kehilangan cairan berlebihan, penurunan masukan oral.

Implementasi Keperawatan :

a. Mengkaji perubahan TTV seperti peningkatan suhu demam

b. mengkaji turgor kulit normalnya kulit akan kembali dalam

2detik, serta menginspeksi pada bibir dan lidah untuk

mengetahui kelembapan membran mukosa.

c. Mencatat berapa kali pasien mual/muntah dalam 1hari

d. Melakukan kolaborasi dengan dokter dan diberikan obat

indikasi seperti: antipiretik, antimitik.

17

Page 18: Lp + Askep Pneumonia

DAFTAR PUSTAKA

http://askep-topbgt.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-efusi-

pleura.html

http://askep-asuhankeperawatan.blogspot.com/2009/07/askep-efusi-

pleura.html

Carpenito, Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan edisi 8, EGC , Jakarta

Carpenito, Lynda Juall (1995), Rencana Asuhan dan Dokumentasi

Keperawatan, EGC, Jakarta

Doengoes, Marilyn (1989), Nursing Care Plans Second Edition, FA Davis

Company, Philadelphia

Long, Barbara C (1989), Perawatan Medikal Bedah, Ikatan Alumni

Pendidikan Keperawatan Padjadjaran, Bandung

Luckmann’s Sorensen (1996), Medical Surgical Nursing, WB Saunders,

Philadelphia

Soeparman (1996), Ilmu Penyakit Dalam jilid 2, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Sjamsuhidajat, R (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah edisi revisi, EGC, Jakarta

Baughman C Diane.2000, Keperawatan medical bedah, EGC, Jakrta

Doenges E Mailyn.1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk

perencanaandan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. EGC, Jakarta

Hudak,Carolyn M.1997,Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol.1,

EGC,Jakarta

18

Page 19: Lp + Askep Pneumonia

Purnawan J. Dkk.1982,Kapita Selekta Kedokteran, Ed2. Media Aesculapius.

FKUI

19