Click here to load reader

LONGSOR PTB

  • View
    226

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pemukiman Tanggap Bencana lonsor untuk di indonesia. membahas bencana tanah longsor di indonesia ,

Text of LONGSOR PTB

BAB IPENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGAlam merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, oleh karena itu manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Alam memang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia, akan tetapi selain menguntungkan alam juga dapat merugikan bagi manusia, contohnya akhir-akhir ini banyak sekali bencana alam khususnya di Indonesia. Melihat fenomena tersebut sehausnya manusia dapat berpikir bagaimana untuk dapat hidup selaras dengan alam. Karena alam tidak dapat ditentang begitu pula dengan bencana.Secara geografis wilayah Indonesia ini berada pada kawasan rawan bencana alam, dan salah satu yang sering terjadi di Indonesia ini adalah bencana longsor. Di Indonesia terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Setiap tahunnya kerugian yang ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar Rp 800 miliar, sedangkan jiwa yang terancam sekitar 1 juta.Perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan tanah, atau material campuran tersebut yang bergerak ke bawah atau keluar lereng. Longsor atau gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah.Salah satu contoh tempat yang terkena bencana longsor adalah Dusun Bulu, Kecamatan Temanggung, Jawa Tengah. Letak Dusun Bulu sendiri berada pada kemiringan yang paling tajam mencapai 70 derajat dimana hal itu menjadikan Dusun Bulu menjadi salah satu Dusun yang rawan terhadap bencana longsor. Wilayah Dusun Bulu merupakan salah satu dari 20 Dusun di Kecamatan Temanggung. Salah satu dari 19 desa/kelurahan di Dusun Bulu adalah Desa Bulu yang terletak di ketinggian 700 m dari permukaan laut dan berjarak 0 km dari ibu kota Dusun Bulu dan 2,71 km dari ibu kota Kecamatan. Dengan luas 146,85 ha yang terbagi dalam lahan sawah 124,20 ha dan lahan bukan sawah 22,65 ha. Dari Lahan sawah bukan sawah dipergunakan untuk bangunaan/pekarangan dan lahan lainnya. Dusun Bulu sendiri untuk pertama kalinya terkena bencana longsor pada tahun 2014 dikarenakan kerusakan hutan selama 10 tahun berturut-turut. Kerusakan hutan yang cukup parah membuat dusun yang berantakan. Kerusakan diterima dusun tidak terlalu parah dan juga tidak ada korban jiwa.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAHSeperti penjelasan dari latar belakang di atas, Dusun Bulu terdapat pada dataran dengan kemiringan hingga 700. Serta, kerusakan hutan dikarenakan penebangan liar dan lain-lain menyebabkan bencana longsor terjadi.

1.3 RUMUSAN MASALAHDari identifikasi masalah mengenai Dusun Bulu, maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah:1. Bagaimanakah upaya pencegahan untuk menghindari terjadinya bencana tanah longsor ?2. Bagaimana cara menanggulangi bencana longsor di Dusun Bulu?3. Bagaimanakah prinsip penanggulangan bencana tanah longsor ?4. Rekomendasi desain penanggulangan bencana longsor di Dusun Bulu?

1.4 BATASAN MASALAHPembatasan masalah dalam riset bencana longsor di Dusun Bulu adalah meliputi penjelannya dapat dipaparkan pada uraian berikut:1. Lokasi difokuskan pada Dusun Bulu, Kecamatan Temanggung2. Penanggulangan terhadap bencana longsor di Dusun Bulu, Kecamatan Temanggung.

1.5 TUJUANTujuan dari penelitian ini adalah untuk menanggulangi bencana longsor di Dusun Bulu sehingga bencana longsor ini tidak terjadi lagi di masa depan.

1.6 MANFAATBagi keilmuan:Penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan kedepan untuk menanggulangi bencana longsor di setiap tempat di Indonesia.Bagi Masyarakat:Penelitian diharapkan dapat membantu masyarakat kedepannya untuk persiapan mengahadapi bencana longsor juga sebagai usaha preventif mengahadai bencana tersebut.

BAB ITINJAUAN PUSTAKA2.1 Gambaran Umum 2.1.1 Tanah LongsorTanah longsor atau dalam bahasa Inggris disebut Landslide, adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng (Wikipedia, 2007).Hampir semua daerah di Indonesia memiliki beberapa kabupaten dan kota yang rawan pergerakan tanah. Daerah yang memiliki relief morfologi kasar dengan lereng-lereng yang terjal secara umum lebih rawan untuk terjadi gerakan tanah. Di samping itu, kondisi batuan yang tidak kompak dan mudah mengalami degradasi umumnya lebih mudah untuk terjadi gerakan tanah. Setidaknya terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Setiap tahunnya kerugian yang ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar Rp 800 miliar, sedangkan jiwa yang terancam sekitar 1 juta.

Tabel. Daerah Rawan Longsor di Indonesia

Gejala-gejala umum yang biasanya timbul sebelum terjadinya bencana tanah longsor adalah :1. Muncul retakan memanjang atau lengkung pada tanah atau pada konstruksi bangunan, yang biasa terjadi setelah hujan.1. Terjadi penggembungan pada lereng atau pada tembok penahan.1. Tibatiba pintu atau jendela rumah sulit dibuka, kemungkinan akibat deformasi bangungan yang terdorong oleh massa tanah yang bergerak.1. Tibatiba muncul rembesan atau mata air pada lereng.1. Apabila pada lereng sudah terdapat rembesan air/mata air, air tersebuT tibatiba menjadi keruh bercampur lumpur.1. Pohonpohon atau tiangtiang miring searah kemiringan lereng.1. Terdengar suara gemuruh atau suara ledakan dari atas lereng.1. Terjadi runtuhan atau aliran butir tanah/kerikil secara mendadak dari atas lereng.

2.2. Jenis Tanah LongsorAda 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan (Nandi, 2007 & Gatot M Sudrajat, 2008). 1. Longsoran Translasi Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

Gb. Longsoran Translasi

1. Longsoran Rotasi Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.

Gb. Longsoran Rotasi

1. Pergerakan Blok Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.

Gb. Longsoran Pergerakan Blok

1. Runtuhan Batu Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

Gb. Longsoran dikarenakan Runtuhan Batu

1. Rayapan Tanah Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

Gb. Longsoran dikarenakan Rayapan Tanah

1. Aliran Bahan Rombakan Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

Gb. Longsoran dikarenakan Aliran bahan Rombakan

2.3. Penyebab Tanah LongsorPada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan (Moch Bachri, 2006 & Nandi, 2007).13. Hujan Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.

13. Lereng terjal Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar. 13. Tanah yang kurang padat dan tebal Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas. 13. Batuan yang kurang kuat Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng yang terjal. 13. Jenis tata lahan Tanah longsor banyak t