LAP Sistem Pakar

  • View
    23

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Sistem Pakar Mendeteksi Penyakit

Text of LAP Sistem Pakar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Karena hampir 51% penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Berbagai macam tanaman pertanian dapat tumbuh subur di Indonesia, tanaman pertanian tersebut antara lain adalah tanaman jagung. Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji bijian dari keluarga rumput-rumputan yang memiliki nama ilmiah zea mays. Di Indonesia, daerah penghasil utama tanaman jagung tersebar hampir di seluruh nusantara, antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Medan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus di Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya. Tanaman kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang penting dalam rangka ketahanan pangan penduduk Indonesia.Produktifitas tanaman jagung di Indonesia masih rendah. Hal itu disebabkan karena kurangnya pengetahuan petani tentang hama dan penyakit tanaman jagung serta cara penanggulangannya. Sebab lain adalah kurangnya pakar pertanian dan penyuluh pertanian yang memberikan penyuluhan kepada petani tentang jenis hama dan penyakit tanaman jagung lengkap dengan cara penanggulangan dan pencegahannya. Rendahnya produktivitas tanaman jagung menyebabkan kerugian yang besar bagi petani. Kurangnya pengetahuan untuk menindaklanjuti permasalan yang ada tidak hanya dirasakan oleh petani, tapi juga dirasakan oleh penyuluh pertanian. Petani dan penyuluh pertanian kadang mengalami hal yang sama, yaitu kesulitan dalam mengidentifikasikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman jagung, walaupun sudah terlihat perubahan fisik pada tanaman. Bahkan kadang petani dan penyuluh pertanian tidak tahu obat yang digunakan untuk memberantas hama dan penyakit pada tanaman jagung dan tersebut. Penyuluh pertanian juga mengalami kesulitan dalam memberikan penjelasan kepada petani tentang gejala-gejala yang ada pada tanaman jagung apabila tanaman jagung itu terserang hama atau penyakit. Seiring dengan perkembangan teknologi, tugas pakar pertanian dapat digantikan oleh komputer, sehingga akan mempermudah pekerjaan penyuluh pertanian. Aplikasi komputer yang dapat menggantikan tugas pakar pertanian adalah kecerdasan buatan. Salah satu cabang dari kecerdasan buatan yang akan mengadopsi pengetahuan pakar pertanian ke komputer dan menyelesaikan masalah diagnosa hama dan penyakit tanaman jagung adalah sistem pakar. Sistem pakar diagnosa hama dan penyakit tanaman jagung dibuat menggunakan metode forward chaining, sebuah metode yang akan mencari kesimpulan berdasarkan fakta- fakta yang ada dan kemudian diuji kebenarannya dalam bentuk hipotesis. Namun terkadang dalam proses pelacakan kesimpulan untuk memperoleh suatu keputusan, sering mengalami faktor penghambat. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan terhadap pengetahuan yang menyebabkan proses penentuan kesimpulan juga mengalami perubahan. Peristiwa ini di dalam sistem pakar disebut sebagai faktor ketidakpastian. Agar dalam pencarian kesimpulan memperoleh kepastian dibutuhkan suatu metode untuk mengatasi ketidakpastian yang ada. Sistem pakar dengan pelacakan forward chaining memungkinkan seseorang aman dalam melakukan pekerjaan seorang pakar, sekaligus dapat mengetahui probabilitas atau prosentase dari penyakit yang mungkin diderita. Dengan demikian dapat meyebabkan produktivitas kerja semakin meningkat dan waktu yang digunakan menyelesaikan pekerjaan semakin singkat. Oleh karena itu, sistem pakar diagnosa hama dan penyakit tamanan jagung. Sistem pakar ini berisi tentang bermacam-macam gejala hama dan penyakit tanaman jagung dan kedelai disertai dengan cara penggulangannya.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana merancang dan mengimplementasikan sistem pakar yang dapat digunakan untuk mendiagnosa hama dan penyakit pada tanaman jagung dengan menggunakan metode pelacakan forward chaining ?1.3. Tujuan Penelitian

1. Merancang dan mengimplementasikan Sistem Pakar dalam Mendiagnosa Hama dan Penyakit Tanaman Jagung dengan Memanfaatkan metode pelacakan forward chaining yang disertai terapinya.

2. Mendokumentasikan informasi dan pengetahuan dari pakar atau penyuluh pertanian tentang diagnosa dan cara penanggulangan hama dan penyakit pada tanaman jagung.1.4. Manfaat Penelitian

a. Membantu petani mendianosa jenis hama dan penyakit tanaman jagung dan kedelai yang gejala awalnya sudah terlihat pada tanaman.

b. Membantu petani menentukan langkah yang harus diambil untuk menanggulangi hama dan penyakit pada tanaman jagung dan kedelai.

BAB II

LANDASAN TEORI2.1. Sistem Pakar Secara umum, sistem pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Ada beberapa definisi tentang sistem pakar, diantaranya : a. Menurut Durkin : Sistem pakar adalah suatu program komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan penyelesaian masalah yang dilakukan seorang pakar.

b. Menurut Ignizio : Sistem pakar adalah suatu model dan prosedur yang berkaitan, dalam suatu domain tertentu, yang mana tingkat keahliannya dapat dibandingkan dengan keahlian seorang pakar.

c. Menurut Giarratano dan Riley : Sistem pakar adalah suatu sistem komputer yang bisa menyamai atau meniru kemampuan seorang pakar .

d. Menurut Turban : Sistem pakar (expert system) adalah paket perangkat lunak pengambilan keputusan atau pemecahan masalah yang dapat mencapai tingkat performa yang setara atau bahkan lebih dengan pakar manusia di beberapa bidang khusus dan biasanya mempersempit area masalah. Ide dasar dari sistem pakar, teknologi kecerdasan buatan terapan adalah sederhana. Keahlian ditransfer dari pakar ke suatu komputer. Knowledge ini kemudian disimpan didalam komputer, dan pengguna menjalankan komputer untuk nasihat spesifik yang diperlukan. Sistem pakar menanyakan fakta-fakta dan dapat membuat inferensi hingga sampai pada kesimpulan khusus. Kemudian layaknya konsultan manusia, sistem pakar akan memberi nasihat kepada nonexpert dan menjelaskan, jika perlu logika dibalik nasihat yang diberikan. Knowledge dalam sistem pakar mungkin saja seorang ahli, atau knowledge yang umumnya terdapat dalam buku, jurnal, website dan orang yang mempunyai pengetahuan tentang suatu bidang. Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru kerja dari para ahli (Kusumadewi, 2003). Sebuah sistem pakar harus memberikan suatu dialog dan setelah diberikan suatu jawaban, sistem pakar dapat memberikan nasehat atau solusi. Tujuan utama sistem pakar bukan untuk menggantikan kedudukan seorang ahli atau seorang pakar, tetapi untuk memasyarakatkan pengetahuan dan pengalaman pakar. Bagi para ahli atau pakar, sistem pakar ini juga dapat membantu aktivitasnya sebagai asisten yang sangat berpengalaman. Sistem pakar memungkinkan seseorang dapat meningkatkan produktifitas, memperbaiki kualitas keputusan dan bisa memecahkan masalah yang rumit, tanpa bergantung sepenuhnya pada seorang pakar. Sistem pakar disusun oleh dua bagian utama, yaitu lingkungan pengembangan (development environment) dan lingkungan konsultasi (consultation environment) (Turban, 2001). Lingkungan pengembangan sistem pakar digunakan untuk memasukkan pengetahuan pakar ke dalam lingkungan sistem pakar, sedangkan lingkungan konsultasi digunakan oleh pengguna yang bukan pakar guna memperoleh pengetahuan pakar. Komponen-komponen sistem pakar dalam dua bagian tersebut ada pada gambar 2.1 sebagai berikut:

Gambar 2.1. Arsitektur Sistem Pakar (Turban, 2001)

Penjelasan pada gambar 2.1 adalah sebagai berikut :

1. Antarmuka Pengguna (User Interface)

Merupakan mekanisme yang digunakan oleh pengguna sistem pakar untuk berkomunikasi. Menurut McLeod (1995), pada bagian ini terjadi dialog antara program dan pemakai, yang memungkinkan sistem pakar menerima instruksi dan informasi (input) dari pemakai, juga memberikan informasi (output) kepada pemakai.

2. Basis Pengetahuan (Knowledge Base)

Basis pengetahuan adalah basis atau pangkalan pengetahuan yang berisi fakta, pemikiran, teori, prosedur, dan hubungannya satu dengan yang lain atau informasi yang terorganisasi dan teranalisa (pengetahuan didalam pendidikan atau pengalaman dari seorang pakar) yang diinputkan kedalam komputer.

Ada 2 bentuk pendekatan basis pengetahuan yang sangat umum digunakan, yaitu:

a. Pendekatan berbasis aturan (Rule-Based Reasoning)

Pengetahuan direpresentasikan dalam suatu bentuk fakta (facts) dan aturan (rules). bentuk representasi ini terdiri atas premis dan kesimpulan. Pada pendekatan berbasis aturan, pengetahuan dipresentasikan dengan menggunakan aturan berbentuk : if-then.

b. Pendekatan berbasis kasus (Case-Based Reasioning)

Pada pendekatan berbasis kasus, basis pengetahuan, akan berisi solusi-solusi yang telah dicapai sebelumnya, kemudian akan diturunkan suatu solusi untuk keadaan yang terjadi sekarang (fakta yang ada). 3. Akuisisi Pengetahuan (Knowledge acquisition)

Akuisisi pengetahuan adalah akumulasi, transfer dan transformasi keahlian dalam menyelesaikan masalah dari sumber pengetahuan ke dalam program komputer. Dalam tahap ini knowledge engineer berusaha menyerap pengetahuan untuk selanjutnya ditransfer ke dalam basis pengetahuan. Terdapat tiga metode utama dalam akuisisi pengetahuan, yaitu : wawancara, analisis protokol dan observasi pada pekerjaan pakar.

4. Mesin Inferensi (Inference Engine)

Mesin inferensi merupakan program komputer yang memberikan metodologi untuk penalaran tentang informasi yang ada dalam basis pengetahuan dan dalam workplace, dan untuk memformulasikan kesimpulan. Mesin inferensi berperan sebagai otak dari sistem pakar. Mesin inferensi berfungsi untuk memandu proses penalaran terhadap suatu kondisi berdasarkan pada basis pengetahuan yang tersedia. Di dalam mesin inferensi terjadi proses untuk memanipulasi dan mengarahkan kaidah, model, dan fakta yang disimpan dalam basis pengetahuan untuk mencapai solusi atau kesimpulan. Dalam prosesnya, mesin inferensi menggunakan strategi penalaran dan strategi pengendalian. Strategi penalaran terdiri dari strategi penalaran pasti (Exact Reasoning)

dan strategi penalaran tak pasti (Inexact Reasoning). Exact reasoning akan dilakukan jika semua data yang dibutuhkan untuk menarik suatu kesimpulan tersedia, sedangkan inexact reasoning dilakukan pada keadaan sebaliknya. Dan untuk strategi pengendalian ini berfungsi sebagai panduan arah dalam melakukan proses penalaran. Dalam penelitian ini, agar dapat menerapkan aplikasi sistem pakar untuk mendiagnosa hama dan penyakit tanaman hortikultura digunakan strategi penalaran pasti (Exact Reasioning) karena data yang digunakan untuk menarik suatu kesimpulan atau untuk membuat suatu solusi dalam mendiagnosa hama dan penyakit tersebut telah tersedia.

Gambar 2.2. Mesin inferensi : Durkin, 1994Berdasarkan gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa komputer terisi pengetahuan - pengetahuan dari pakar yang telah tersusun dalam knowledge base, dalam hal ini komputer juga harus mendapatkan inputan-inputan dan setelah mendapatkan inputan maka akan dicocokan dengan fakta-fakta yang ada di knowledge base oleh inference engine, selanjutnya diolah berdasarkan pengalaman dan prosedur yang ada pada inference engine yang nantinya akan menghasilkan suatu keputusan. Terdapat dua teknik pelacakan dalam mesin inferensi yaitu pelacakan ke depan atau runut maju (forward chaining) yaitu pendekatan yang dimotori pada (data driven), dalam pendekatan ini pelacakan dimulai dari informasi masukan yang selanjutnya menggambarkan suatu kesimpulan. Dan pelacakan ke belakang atau runut belakang (backward chaining) merupakan pendekatan yang dimotori tujuan (goal driven), dalam pendekatan ini pelacakan dimulai dari tujuan yang selanjutnya dicari aturan yang memiliki tujuan tersebut membuat suatu kesimpulan.

5. Workplace

Merupakan memori kerja (working memory) yang digunakan untuk menyimpan kondisi/keadaan yang dialami oleh pengguna dan juga hipotesa serta keputusan sementara.

6. Fasilitas Penjelasan

Proses menentukan keputusan yang dilakukan oleh mesin inferensi selama sesi konsultasi mencerminkan proses penalaran seorang pakar. Karena pemakai terkadang bukanlah seorang ahli dalam bidang tersebut, maka dibuatlah fasilitas penjelasan. Fasilitas penjelasan inilah yang dapat memberikan informasi kepada pemakai mengenai jalannya penalaran sehingga dihasilkan suatu keputusan. Bentuk penjelasannya dapat berupa keterangan yang diberikan setelah suatu pertanyaan diajukan, yaitu penjelasan atas pertanyaan mengapa, atau penjelasan atas pertanyaan bagaimana sistem mencapai konklusi.

7. Perbaikan Pengetahuan Pakar memiliki kemampuan untuk menganalisis dan meningkatkan kinerjanya serta kemampuan untuk belajar dari kinerjanya. Kemampuan tersebut tidak bisa diremehkan dalam pembelajaran terkomputerisasi, sehingga program akan mampu menganalisis penyebab kesuksesan dan kegagalan yang terjadi.

Ada beberapa masalah yang menjadi area luas aplikasi sistem pakar, antara lain :

1. Interpretasi. Pengambilan keputusan dari hasil observasi, termasuk diantaranya : pengawasan, pengenalan ucapan, analisis citra, interpretasi sinyal dan beberapa analisis kecerdasan.

2. Prediksi. Termasuk diantaranya : peramalan, prediksi demografis, peramalan ekonomi, prediksi lalu lintas, estimasi hasil, militer, pemasaran, atau peramalan keuangan.

3. Diagnosis. Termasuk diantaranya : medis, hama, elektronis, mekanis dan diagnosis perangkat lunak.

4. Perancangan. Termasuk diantaranya : layout sirkuit dan perancangan bangunan.5. Perencanaan. Termasuk diantaranya : perencanaan keuangan, komunikasi, militer, pengembangan produk, routing dan manajemen proyek.

6. Monitoring. Misalnya : Computer-Aided Monitoring Systems.

7. Debugging, memberikan resep obat terhadap suatu kegagalan.

8. Perbaikan.

9. Instruksi. Melakukan instruksi untuk diagnosis, debugging dan perbaikan kinerja.

10. Kontrol. Melakukan kontrol terhadap interpretasi-interpretasi, prediksi, perbaikan dan monitoring kelakuan sistem.

a. Forward Chaining (Runut Maju) Forward Chaining merupakan suatu penalaran yang dimulai dari fakta untuk mendapatkan kesimpulan (conclusion) dari fakta tersebut (Giarratano and Riley, 2005). Forward chaining bisa dikatakan sebagai strategi inference yang bermula dari sejumlah fakta yang diketahui. Pencarian dilakukan dengan menggunakan rules yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui tersebut untuk memperoleh fakta baru dan melanjutkan proses hingga goal dicapai atau hingga sudah tidak ada rules lagi yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui maupun fakta yang diperoleh.

Forward chaining bisa disebut juga runut maju atau pencarian yang dimotori data (data driven search). Jadi pencarian dimulai dari premis-premis atau informasi masukan (if) dahulu kemudian menuju konklusi atau derived information (then). Forward Chaining berarti menggunakan himpunan aturan kondisi-aksi. Dalam metode ini, data digunakan untuk menentukan aturan mana yang akan dijalankan atau dengan menambahkan data ke memori kerja untuk diproses agar ditemukan suatu hasil.

Forward Chaining digunakan jika :

a. Banyak aturan berbeda yang dapat memberikan kesimpulan yang sama.

b. Banyak cara untuk mendapatkan sedikit konklusi.

c. Benar-benar sudah mendapatkan pelbagai fakta, dan ingin mendapatkan konklusi dari fakta-fakta tersebut.

Adapun tipe sistem yang dapat menggunakan teknik pelacakan forward chaining, yakni :

a. Sistem yang direpresentasikan dengan satu atau beberapa kondisi.

b. Untuk setiap kondisi, sistem mencari rule-rule dalam knowledge base untuk rule-rule yang berkorespondensi dengan kondisi dalam bagian if.

c. Setiap rule dapat menghasilkan kondisi baru dari konklusi yang diminta pada bagian then. Kondisi baru ini dapat ditambahkan ke kondisi lain yang sudah ada.

d. Setiap kondisi yang ditambahkan ke sistem akan diproses. Jika ditemui suatu kondisi, sistem akan kembali ke langkah 2 dan mencari rule-rule dalam knowledge base kembali. Jika tidak ada konklusi baru, sesi ini berakhir (Subakti, 2002).

Gambar 2.3. Diagram Pelacakan Kedepan (Forward Chaining)

Jika klausa premis sesuai dengan situasi (bernilai true), maka proses akan meng-assert konklusi. Forward chaining juga digunakan jika suatu aplikasi menghasilkan tree yang lebar dan tidak dalam.

Pada metode forward chaining, ada 2 cara yang dapat dilakukan untuk melakukan pencarian, yaitu :

a. Dengan memasukkan semua data yang tersedia ke dalam sistem pakar pada satu kesempatan dalam sesi konsultasi. Cara ini banyak berguna pada sistem pakar yang termasuk dalam proses terautomatisasi dan menerima data langsung dari komputer yang menyimpan database, atau dari satu set sensor.

b. Dengan hanya memberikan elemen spesifik dari data yang diperoleh selama sesi konsultasi kepada sistem pakar. Cara ini mengurangi jumlah data yang diminta, sehingga data yang diminta hanyalah data-data yang benar-benar dibutuhkan oleh sistem pakar dalam mengambil kesimpulan.

Contoh pelacakan forward chaining :

Rule - rule yang diberikan :

1. R1 : Jika A dan C, maka E 2. R2 : Jika D dan C maka F

3. R3 : Jika B dan E maka F

4. R4 : Jika B maka C

5. R5 : Jika F maka G Fakta yang ada : A benar dan B benar 1. Dalam Forward Chaining pencarian dimulai dengan fakta yang diketahui dan mengambil fakta baru menggunakan aturan yang telah diketahui pada sisi Jika.

2. Karena diketahui A dan B benar, sistem pakar mulai dengan mengambil fakta baru menggunakan aturan yang memiliki A dan B pada sisi Jika. Dengan menggunakan R4, sistem pakar mengambil fakta baru C dan menambahkannya ke dalam assertion base sebagai benar.

3. Sekarang R1 fire(karena A dan C benar) dan nyatakan E sebagai benar dalam assertion base sebagai benar.

4. Karena B dan E keduanya benar (berada dalam assertion base), R3 fire dan menetapkan F sebagai benar dalam assertion base.

5. Sekarang R5 fire (karena F berada dalam sisi Jika), yang menetapkan G sebagai benar, jadi hasilnya adalah G.

2.2. Domain Hama dan Penyakit jagunga. Hama

Hama sering kali mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu bahkan dapat menggagalakan terwujudnya produksi hama yang merusak tanaman bisa disebabkan olehh hewan dari kelas terendah sampai kelas tertingi. Hama tanaman penting sekali di perhatikan setelah terlihat frekuensi populasi yang tinggi serta luas serangannya.

Pertumbuhan dan perkembangan hama seperti pertumbuhan dan perkembangan binatang lain. Mereka juga membutuhkan makanan yang mengandung gizi yang diperlukan oleh tubuh. Tetapi tidak semua hama cocok dengan makanan yang ada pada seluruh bagian tumbuhan, sehingga kadang-kadang mereka hanya makan bagian tertentu dari tanaman tersebut seperti pucuk tanaman seperti pucuk tanaman atau titik tumbuh, daun, batang, akar, buah, atau biji. Kerusakan tanaman atau bagian tanaman yang disebabkan oleh hama menyebabkan kondisi tanaman menjadi tidak normal lagi. Tanamn yang terserang akan menunjukkan suatu kelainan bila dibandingkan dengan tanaman yang sehat. Tanda-tanda yang tampak diluar pada tanaman yang sakit ialah : Terjadi perubahan pada organ tanaman, seperti daun dan batang menguning atau coklat

Tanaman layu sebagai akibat sel-sel dan jaringan tanaman dirusak oleh hama, bahkan tanaman tersebut bisa mati.

Tanaman kerdil karena fungsi jaringan terganggu sehingga tidak dapat menyalurkan makanan dengan baik.

Kondisi tanaman yang tidak normal ini kelak dapat mengakibatka tanaman kehilangan hasil . hal ini merupakan akibat proses terbentuknya buah ataubiji terganggu oleh organ tubuh yang rusak. Jadi selain tanaman itu rusak, hasil dan mutu ataupun jumlah produksi akan mengalami penurunann, bahkan dapat terjadi kegagalan total. Jagung merupakan salah satu tanaman yang penting. Seperti halnya tanaman-tanaman lain, jagungpun peka terhadap serangan hama atau penyakit. Usaha untuk mengatasi serangan hama dan penyakit sudah diupayakan, tetapi semuanya setiapa saat selalu mengalami perkembangan. Adanya penemuan-penemuan jagung jenis unggul yang tahan hama / penyakit, sering kali juga di imbangi serangan hama / penyakit yang lebih gana dan lebih kebal terhadap perlakuan tertentu.

B. Penyakit

Ada beberapa macam penyebab yang dapat menimbulkan penyakit tanaman yaitu bakteri, cendawan, virus, nematode dan kekurangan zat hara. Beberapa penyebab penyakit ini ada yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya misalnya : tanaman yang kekkurangan zat hara mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, bahwa penyakit tanaman juga mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan. Besar kecilnya pengaruh tersebut tergantung tingkat serangan penyakit terhadap tanaman jagung. Pertumbuhan tanaman yang terserang penyakit biasanya terganggu, dan aktifitas jaringan tanaman serta sel-sel didalamnya menjadi tidak normal lagi. Ada tanaman yang layu , berubah menjadi kerdil tetapi adapula berubah warna, misalnya daun menguning atua mengering.Kerugian yang ditimbulkan sebagai akibat serangan penyakit terletak pada akibat serangan penyakit, sedangkan untuk hama tanaman terletak pada luas serangan, walaupun dalam tempo yang singkat. Maka penyakitpun perlu mendapat perhatian yang serius. Tindakan pencegahan sangat diperlukan dalam usaha mengatasi penyakit tanaman, terutama pada daerah-daerah yang sering terjangkiti. Pengamatan tanaman diareal pertanaman sebaiknya selalu dilakukan dengan seksama. Hal ini mengetahui gejala penykit sedini mugkin dan menentukan langkah berkutnya dalam menanggulangi luasnya serangan penyakit. Pada areal tanaman yang luas pengamatan dapat dulakukuan dengan pengambilab contoh petak-petak kecil pada bebrapa tempat kemudian diambil kesimpulan guna menentukan pengelolaannya. Pengelolaan penyakit lebih mengutamakan pencegahan dari pada pengendalian. Tetapi pengendalian pada areal yang terserangpun tidak boleh diabaikan. Berbagai usaha pencegahan dilakukan mulai dari penggunaan varietas tahan, teknis bercocok tanam yang menerapkan perlakuan benih, sanitasi yang baik atau menghilangkan sumber penyakit yang kemungkinan datang ataupun terinfeksi pada tanaman lain sebelumnya, serta usaha mencegah tumbuhnya jamur dengan cara mengatur kelembaban. Semua ini bertujuan agar penanamna dapat menghasilkan buah atau produksi sesuai dengan yang diharapkan.2.3. Metodologi pembuatan /rancang banguna. Basis PengetahuanNODIAGNOSAKONDISISOLUSI

1Penyakit Bulai Daun menguning

Biji dalam tongkol sedikit Pergiliran tanaman jagung dengan tanaman lain yang bukan tanaman jagung

Tanaman awal serempak meliputi satu areal yang luas

Eradikasi tanaman yang terserang

Perawatan benih dengan fungsidametalaksil dengan dosis 2 gram/kg benih

Melakukan pergiliran tanaman

2Penyakit Bercak daun Daun berwarna kuning

Daun bercak memanjang

Daun menjadi coklat kekuningan Melakukan pergiliran tanaman

Mengatur kelembapan lahan agar kondisi lahan tidak lempab sehingga dapat menekan meluasnya serangan cendawan

Penyemprotan daconil 75 Wp,difulatan 4f,dsb

3Penyakit Karat Daun berwarna merah kecoklatan

Terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan

Pembentukan buah tidak terjadi

Bijinya tidak sempurna Mengatur kelembapan pada areal pertanaman; dengan menanam varietas yang tahan, misal : hibrida, metro,harapan baru dll, dengan melakukan sanitasi pada areal jagung

Pengendalian secara kimia dengan fugsida yang dianjurkan

4Penyakit Gosong bengkak Tongkol bengkak

Mengeluarkan kelenjar warna putih

Pembungkus tongkol rusak Mengatur kelembapan areal pertanaman jagung; dengan memotng bagian tanaman jagung yang terserang kemudian membakarya dengan seed treatment pada benih khusus untuk jagung hibrida benihnya sudah diperlakukan dengan fungsida

Bisa juga dilakukan pengendalina secara kimiawi dengan penyemprotan fungsida

5Penyakit Busuk tongkol dan Busuk biji Biji berwarna merah jambu atau merah kecoklatan

Berwarna coklat

Akar busuk dan basah

Biji jagung busuk Menanam jagung varietas unggul yang tahan (jagung hibrida misalnya)

Melakukan pergiliran tanaman

Megatur jarak tanaman agar tidak rapat sehingga kelembapan bisa dikurangi; bisa juga dengan seed treatment sebelum ditanam

Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan penyemprotan fungsida yang dianjurkan

6Hama Lalat bibit Daun menguning atau coklat

Batang menguning atau coklat

Tanaman layu

Petumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati Secara kimiawi :

Menyemprotkan dursban 20 EC, hostathion 40 EC, larvin 75 WP, marshal 25 ST,miral 26 dam romet 40 SD

Secara alami :

Tanaman yang terserang lalat bibit harus segera dicabut dan dimusnahkan agar hama tidak menyebar dan menyerang tanaman yang sehat

7Hama Ulat pemotong Terdapat telur berwarna transparan pada daun

Daun teriris-iris

Tanaman akan rebah di tanah

Bagian pangkal batanag tanaman putus atau terpotong Secara alami :

Mengumpulkan telur dan ulat yang berada di tempat tersembunyi

Secara kimiawi :

Penggunaan pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat

8Hama Ulat daun Daun berkurang

Pucuk daun terpotong

Terdapat telur atau ulat dipucuk daun Secara alami :

Mengumpulkan dan membunuh ulat tersebut

Secara kimia :

Menyemprotkan insektisida Misalnya : azodrine,hostation 40 EC, dan nogos 50 EC

9Hama penggerek batang jagung Nampak bintik warna putih pada daun

Terdapat kotoran yang berbentuk serbuk

Batang terlihat tanda-tanda tergerek ulat

Bila tongkol dibuka akan tampak ulat Menyemprotkan pestisida FOLiDOL E 605 atau FOLIDOL M dengan dosis pemberian 30-50 mg,dilarutkan dalam 100 liter air

Menyemprotkan insektisida : NOGOS 50 EC,HOSTATION 40 EC,KARVOS 20 EC

10Hama penggerek buah jagung Pembungkus tongkol rusak

Didalam tongkol terdapat ulat

Tongkol jagung tidak berisi Menyemprotkan dengan ATABRON 25 ULV

11Hama penggerek ungu/jambon Terdapat telur diantara batang dan pelepah daun

Bagian dalam batang tergerek Menyemprotkan pestisida HOSTATION 40 EC dan NOGOS 50 EC

Keterangan :

1. Daun menguning

2. Biji dalam tongkol sedikit3. Daun bercak memanjang

4. Daun berwarna kuning

5. Daun menjadi coklat kekuningan

6. Daun berwarna merah kecoklatan

7. Terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan

8. Pembentukan buah tidak terjadi

9. Bijinya tidak sempurna

10. Tongkol bengkak

11. Mengeluarkan kelenjar warna putih

12. Pembungkus tongkol rusak

13. Biji berwarna merah jambu atau merah kecoklatan

14. Berwarna coklat

15. Akar busuk dan basah

16. Petumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati

17. Biji jagung busuk

18. Daun menguning atau coklat

19. Batang menguning atau coklat

20. Tanaman layu

21. Petumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati

22. Terdapat telur berwarna transparan pada daun

23. Daun teriris-iris

24. Tanaman akan rebah di tanah

25. Bagian pangkal batanag tanaman putus atau terpotong

26. Daun berkurang

27. Pucuk daun terpotong

28. Terdapat telur atau ulat dipucuk daun

29. Nampak bintik warna putih pada daun

30. Terdapat kotoran yang berbentuk serbuk

31. Pertumbuhan tanaman tidak normal

32. Batang terlihat tanda-tanda tergerek ulat

33. Tongkol terlihat luka atau robek

34. Bila tongkol dibuka akan tampak ulat penggerek

35. Pembungkus tongkol rusak

36. Didalam tongkol terdapat ulat

37. Tongkol jagung tidak berisi

38. Terdapat telur diantara batang dan pelepah daun

39. Terdapat lubang pada pucuk jagung

40. Bagian dalam batang tergerek

B. Tabel Keputusan

K\DABCDEFGHIJK

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

C.Pohon KeputusanD. Kaidah / Rule

- RuleR1A =1,5R2 B= 1,9,11R3 C= 18,21,22,25R4 D=2,3,4R5 E= 6,7,8,18R6 F=1,10,12,13R7 G= 14,15,16,17R8 H= 14,17,19R9 I= 2,20,23,24R10 J= 4,24,26R11 K= 27,28 Kaidah

IF 1 AND 5 THEN A

IF 1 AND 9 AND 11 THEN B

IF 18 AND 21 AND 22 AND 25 THEN CIF 2 AND 3 AND 4 THEN D

IF 6 AND 7 AND 8 AND 18 THEN E

IF 1 AND 10 AND 12 AND 13 THEN F

IF 14 AND 15 AND 16 AND 17 THEN G

IF 14 AND 17 AND 19 THEN H

IF 2 AND 20 AND 23 AND 24 THEN I

IF 4 AND 24 AND 26 THEN J

IF 27 AND 28 THEN K

e. Implementasi ProgramHalaman Awal

Ketika di Klik eksekusi maka akan muncul form dibawah ini

Ketika di Klik Ya maka muncul form dibawah ini

Ketika di Klik Tidak maka muncul form dibawah ini

Ketika di klik Ya maka muncul dibawah ini

Ketika diklik Ya maka akan muncul form dibawah ini sehingga mendapatkan suatu solusi

BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan

Penggunaan Sistem Pakar dapat meningkatkan keahlian manusia awam dalam memecahkan masalah dan membantu user membuat keputusan tanpa dibantu oleh seorang pakar seperti: Untuk mengetahui nama penyakit pada suatu tanaman, Menentukan solusi yang tepat untuk penangulangan penyakit, Sistem melakukan penelusuran dapat lebih cepat sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja.

b. Saran

Untuk meningkatkan kinerja dari para penyuluhan pertanian maka diperlukan adanya suatu sarana pendukung yang dapat membantu meningkatkan pelayanan kepada para petani yang berupa perangkat lunak (Software). Dalam pemenfatan sistem pakar ini dibutuhkan sumber daya manusia yang menguasi perangkat lunak maupun perangkat keras dengan baik, sehingga perangkat dimanfaatkan secara secara maksimal