Lanjutan Labling Ampuh PASTI !!

  • View
    140

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan praktikum

Text of Lanjutan Labling Ampuh PASTI !!

Flokulasi dan Koagulasi dengan Metode Jar Test

1.Dasar Teoria. KoagulasiKoagulasi bukanlah suatu imu eksak, meskipun telah dipelajari dalam proses mekanik, oleh karena itu pemilihan dan dosis optimal koagulan dilakukan pengujian oleh jar-test termasuk kuantitas oleh formula. Jar-test harus diuji pada tiap air yang di koagulasi dan harus diulang dengan masing-masing perubahan yang signifikan pada kualitas air yang diberikan. Koagulasi adalah penambahan koagulan disertai dengan pengadukan.Beberapa koloid bila berkoagulasi, mengangkut turun sejumlah besar air menghasilkanendapan mirip selai / gel._ Liofilik/hidrofilik/emulsoid: koloid yg mempunyai afinitas kuat terhadap pelarut/aircontoh: Fe(OH)3_ liofobik/suspensoid: koloid yg mempunyai afinitas terhadap pelarut/air rendah,contoh: AgClSuspensi koloid stabil karena partikelnya bermuatan samaMuatan tersebut dihasilkan dari kation atau anion yang terikat ke permukaan partikel _proses yg dinamakan adsorpsiNaCl ditambahkan pada larutan AgNO3 maka AgCl yang terbentuk bermuatan positip(adanya ion Ag+ berlebih dalam larutan).Muatan akan berubah negatip bila NaCl ditambahkan terus ke dalam larutanLapisan adsorpsi primer dan lapisan counter-ion membentuk electric double layer ygmenstabilisasi koloidJar-test digunakan dengan menggunakan sebuah seri botol gelas yang bervolume 1 liter dam memiliki ukuran dan bentuk yang sama . uumnya 6 jar digunakan dengan suatu alat pengaduk yang dikocok bersamaan. Isi dari tiap jar dengan daya input yang sa,a. tiap-tiap dari 6 jar di isi 1 L air dengan Ph, kekeeruhan, alkalinitas nyang telah ditetapkan sebelumya, sebuah jar digunakan sebuah control, sementara 5 jar yang lain di ukur dengan jumlah koagulan yang berbeda, pada nilai Ph yang berbeda sampai nilai minimal sisa kekeruhan yang diperoleh.Konsentrasi koloid yang tinggi distabilisai oleh penyerapan dan pengisian secara natural terjadi tetapi penambahan terus menerus pada hasil percobaan koagulan pengisian ulang dan penstabilan kembali. Konsentrasi koloid yang baik adalh hasil dalam kesempatan yang lebih sering mengalami percobaan. Dengan demikian koagulasi yang lebih baik melampui batas konsentrasi. Penambahan terus menerus pada hasil koagulan pertama dalam penstabilan kembali dan pada akhirnya dalam pembentukan flok Hidrooksida dan koagulasi.Konsentrasi koloid yang besar secara teori menyediakan koloid yang cukup untuk hasil dalam koagulasi oleh penyerapan dan pengisian netralisasi. Meskipun hal itu memungkinkan jembatan polimer dan koagulasi yang terjadi. Penstabilan kembali dan kekeruhan air yang tinggi merupakan masalah yang sering terjadi.

b. FlokulasiPenyediaan air bersih sebagian besar diambil dari air sungai , danau, dan sebagainya. Langkah yang penting untuk pengolahan air bersih.adalah menghilangkan kekeruhan dari air baku tersebut. Kekeruhan disebabkan oleh adanya partikel-partikel kecil dan koloid yang berukuran 10nm sampai m. Kekeruhan dapat dihilangkan melalui pembubuhan sejenis bahan kimia dengan sifat-sifat tertentu yang disebut flokulan. Flokulan tersebut antara lain tawas, garam Fe (III) atau sesuatu polielektrolit organic. Selain pembubuhan flokulan diperlukan juga pengadukan sampai terbentuk flok-flok. Flok-flok ini mengumpulkan partikel-partikel kecil dan koloid tersebut bertumbukan dan akhirnya bersama-sama mengendap.Untuk menentukan dosis yang optimal flokulan dan nilai-nilai parameter, dilakukan jar test. Jar tes merupakan model sederhana proses flokulasi.

2. Prinsip Jar TestSesuatu larutan koloidal yang mengandung partikel-partikel kecil dan koloid dapat dianggap stabil jika:1. Partikel-patikel kecil terlalu ringan untuk mengendap dalam waktu yang pendek.2. Partikel-partikel tersebut tidak dapat menyatu bergabung dan menjadi partikel yang lebih besar dan berat Karena muatan elektris pada permukaan partikel-partikel adalah setanda (bias any negative) sehingga dari repulse elektro statis antara partikel satu dan lainnya.Proses flokulasi terdiri dari tiga langkah:1. Pelarutan reagen melalui pengadukan cepat, bila perlu juga pembubuhan bahan kimia untuk koreksi pH.2. Pengadukan lambat untuk membentuk flok-flok.pengadukan yang terlalu cepat dapat merusak flok yang telah terbentuk.3. Penghapusan flok-flok dengan koloid yang terkurung dan larutan melalui sedimentasi.

3. Gangguan Proses flokulasi sangat dipengaruhi oleh beberapa factor antar lain kadar dan jenis zat tersuspensi, pH larutan kadar dan jenis flokulan, waktu dan kecepatan pengadukan dan adanya beberapa macam ion terlarut yang tertentu. Jar test dapat digunakan untuk mengoptimalkan factor-faktor tersebut melalui percobaan dalam laboratorium.

4. Ketelitian Kesalahan kesalahan yang terjadi pada pecobaan flokulasi disebabkan oleh:;1. Sampel yang tidak representative unutk badan air yang diperiksa.2. Sampel yang tidak diaduk menyebabkan zat tersuspensi yang berat tertinggal di bawah.3. Pembubuhan dosis tawas yang tidak teliti.4. Perbedaan nilai pH.5. Saat pembubuhan flokulan atau bahan pengatur pH kedalam tiap beker jar test tidak bersamaan.6. Penagmbilan sampel yang telah diolah tidak bersamaan untuk masing-masing beker.

5. Pengawetan sampel

Waktu pengawetan sampel paling lambat 1 hari karena 1 hari dapat terjadi flokulasi sendiri dari zat-zat tersuspensi tanapa pembubuhan flokulan sehingga sampel sudah tidak berlaku.

6. Alat-alat1. alat Jar Test dengan 6 beker 1 ml2. 6 beker 50 atau 100 ml untuk membubuhi pada saat yang sama larutan tawas dan pereaksi lain3. 7 beker 250 atau 500 ml (untuk persiapan analisa sampel hasil flokulasi dari keenam beker Jar Test dan satu sampel air baku).4. 1 pipet 100 ml tanpa penyempitan pada mulut, sampel juga dapat diambil dengan sifon5. Pipet-pipet.6. Peralatan untuk analisa hasil flokulasi dan analisa air baku.7. 2 buret, 2 beker 200 ml, 1 pipet 4 ml, 1 pipet 100 ml, 1 pH meter, jam.

7. Bahan

1. Larutan tawas (tergantung kadar yang dibutuhkan).2. NaOH 0,1N dan HCl 0,1 N

8. Cara Kerja

1. Mempersiapkan praktikum jar-test di laboratorium2. Ambil smapel air sebanyak kurang lebih 10 liter per jar-test ( 6 beker per liter )3. Bilsadiperluksn hitung jumlah asam basa untuk mencapai Ph yang diinginkan menurut prosedur4. Encerkan tawa atau flokulan lain di dalam tabung reaksi atau beaker kecil ( kurang lebih 50 ml )5. Tempatkan beker masing-masing pada tempatnya dan turunkan pengaduk sampai kiara-kira di tengah cairan. Untuk meratakan zat tersuspensi, aduklah beberapa detik dengan kecepatan tinggi. Tambahkan asam/basa untuk penyesuain pH beberapa detik sebelum saat 0, yaitu saat permulaan proses flokulasi.6. Ikuti dan catat nilai ph karena merupakan parameter utama dalam proses flokulasi.7. Perhitungan nilai Ph di beker jar-test

9. Perhitungan

1. Pilih nilai Ph yang diinginkan, missal 7. Dengan kadar tawas yang makin tinggi, makin banyak basa yang dibubuhkan.Daya pengasamaan dianggap tersiri dari:a. Alkaniti air mentahb. Efek dari tawas sendiri2. Tuangkan 100ml air baku dalam beker 200 ml dengan menggunakan buret titrasikan dengan larutan HCl 10-1 N sampai nilai Ph yang diinginkan tercapai. Jumlah ml titran yang diperlukan X. nilai Ph dimonitor denagn Ph meter.3. Tuang kira-kira 100 ml air suling dalam beker 200 ml dan tambahkan denagn menggunakan pipet, 5 mg Al dari larutan tawas pokok ke dalamnya. Titrasikan larutan menggunakan buret 25 ml dengan NaOH 10-1 N sampai nilai pH yang diinginkan. Nilai pH diikuti dengan pH meter. Setelah setiap pembubuhan tunggu minimum 10 detik sampai petunjuk Ph meter cukup stabil.4. Untuk mendapatkan hasil yang teliti, maka harus dibuat duplikat setiap analisa5. Di dalam salah satu beker jar-test berisi 1000 ml air baku dari Z mg Al.jadi banyaknya sam/basa yang diperlukan dalm beker tersebutr :

ml NaOH 10-1 N yang diperlukn= Z.Y/5 10. X

Analisa Besi (Fe)- Spektrofotometri

A. BESIA.1 TEORIA.1.1 definisiBesi adalah salah satu elemen kimiawi yang dapat ditemui pada hamper setiap tempat dibumi, pada semua lapisan geoologis dan semua badan air. Pada umumnya, besi yang ada di dalam air bersifat : Terlarut sebagai Fe2+ (fero) atau Fe3+ (feri) Tersuspensi sebagai butir koloidal (diameter < 1m) atau lebih besar seperti Fe2O3, FeO, FeOOH, Fe(OH)3 dan sebagainya. Tergantung dengan zat organis atau zat padat yang inorganis (seperti tanah liat)Pada air permukaan jarang ditemui kadar Fe lebih besar dari 1mg/L, tetapi didalam air tanah kadar Fe dapat jauh lebih tinggi. Konsentrasi Fe yang tinggi ini dapat dirasakan dan dapat menodai kain dan perkakas dapur. Pada air yang tidak mengandung oksigen O2, seperti seringkali air tanah,besi berada sebagai Fe2+ yang cukup terlarut, sedangkan pada air sungai yang mengalir dan terjadi aerasi, Fe2+ teroksidasi menjadi Fe3+;Fe3+ ini sulit larut pada pH 6 sampai 8 (kelarutan hanya dibawah beberapa g/l ), bahkan dapat menjadi ferihidroksida Fe(OH)3, atau salah satu jenis oksida yang merupakan zat padat dan bisa mengendap. Demikian dalam air sungai, besi berada sebagai Fe2+, Fe3+ terlarut dan Fe3+ dalam bentuk senyawa organis berupa koloidal. Prinsip analisa FeDidihan dalam asam dan hidroksilamin serta penggabungannya dengan 1, 10-fenantrolin akan mengubah semua zat besi menjadi Fe2+ yang terlarut. Tiga molekul fenantrolin bergabung dengan satu molekul Fe2+ membentuk ion kompleks berwarna orange-merah. Sistem warna tersebut mengikuti hukum Beer : sinar cahaya dengan panjang gelombang yang tertentu yaitu 510nm, akan diserap (diabsorpsi) larutan secara proporsional dengan jarak perjalanannya didalam larutan dan dengan kadar kompleks yang berwarna orange-merah ini. Absorpsi tersebut dapat diukur melalui alat spektrofotometer. Warna kompleks tersebut tidak dipengaruhi oleh pH larutan bila pH antara 3 samapi 9. Sesuatu nilai absorbansi bersifat satu konsentrasi besi, dapat diketahui dengan membandingkannya dengan 5 larutan standar referensi yang mengandung kadar besi yang telah diketahui