KORELASI ANTARA KOMUNITAS PEMBELAJARAN sttb.ac.id/download/stulos/2013/September/Stulos-V.12-No.2...tidak

  • View
    216

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of KORELASI ANTARA KOMUNITAS PEMBELAJARAN...

STULOS 12/2 (September 2013) 277-302

KORELASI ANTARA KOMUNITAS PEMBELAJARAN

PROFESIONAL (PLC), KEPEMIMPINAN

INSTRUKSIONAL (IL) DAN PRESTASI SISWA (SA):

STUDI KASUS NILAI MATEMATIKA SISWA KELAS 8

DI INDONESIA1

Yanti

Abstrak: Usaha peningkatan kinerja sekolah secara cepat diukur dari

kemampuan dalam menghasilkan siswa-siswi berprestasi. Usaha ini

tidak terlepas dari berkembangnya apa yang disebut dengan PLC

(Professional Learning Communities) atau Komunitas Pembelajaran

Profesiona, beberapa dekade terakhir. Wacana tersebut berfungsi

mereformasi peran tim akademisi dalam mendukung usaha tersebut.

Dalam kerangka institusi, usaha ini tidak terlepas dari adanya pengaruh

dari peran Kepemimpinan Instruksional atau Instructional Leadership

(IL). bagaimana hubungan antara PLC yang dilaksanakan dalam

suatu institusi pendidikan dengan gaya IL yang diterapkannya,

kemudian dapat mempengaruhi prestasi siswa (Student Achievement

SA) yang dihasilkannya?

Kata Kunci: PLC (Professional Learning Communities Komunitas Pembelajaran

Profesional), IL (Instructional Leadership Kepemimpinan

Instruksional), SA (Student Achievement Prestasi Siswa).

LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam beberapa dekade terakhir, pertanyaan mengenai Bagaimana

cara meningkatkan prestasi siswa di sekolah? telah menjadi bahan

diskusi dan penelitian utama dalam bidang pendidikan dengan melibatkan

berbagai pendekatan yang bersifat multidimensional. Hal ini tentunya

1Tulisan ini diambil dari Thesis program M.Sc. in Educational Effectiveness and

Instructional Design, University of Groningen, The Netherlands, 2010-2011.

278 KORELASI ANTARA KOMUNITAS PEMBELAJARAN

PROFESIONAL (PLC)

menjadi salah satu bahasan utama dalam rangka menuju reformasi di

bidang pendidikan, salah satu hasilnya adalah Professional Learning

Communities (PLC) atau yang dapat diterjemahkan secara bebas sebagai

Komunitas Pembelajaran Profesional. Komunitas ini ditujukan untuk

membangun terjalinnya suatu usaha di antara tim pendidik yang bersifat

individu maupun kolektif, menuju ke tingkat profesionalisme yang lebih

tinggi serta mengembangkan pengaruhnya ke seluruh entitas pendidikan

(sekolah) dengan tujuan akhir terciptanya kegiatan pembelajaran yang

kondusif bagi peserta didik/siswa.

Dengan terlibatnya para pendidik dalam aktivitas PLC maka akan

mengarahkan pada terwujudnya suatu pemberdayaan bagi seluruh elemen

dalam suatu entitas pendidikan, terutama para tim pendidik, dalam

menciptakan proses pembelajaran yang berkesinambungan.2 Oleh karena

itu, di berbagai negara PLC telah menjadi semakin populer baik di tingkat

sekolah dasar maupun menengah. Seiring dengan pertanyaan awal

mengenai cara meningkatkan prestasi siswa dan bagaimana meningkatkan

kinerja institusi pendidikan dalam menjawab tantangan globalisasi dan

perubahan-perubahan yang ada, yang notabene berpengaruh terhadap

proses pembelajaran, PLC mungkin dapat menjadi jawaban untuk kedua

pertanyaan tersebut.

Suatu perubahan dalam institusi tidak dapat dipisahkan dari faktor

kepemimpinan, oleh karena itu keberadaan entitas PLC dalam suatu

institusi pendidikan tidak dapat mengabaikan bagaimana peran

kepemimpinan berjalan dalam insitusi tersebut. Secara khusus jenis

kepemimpinan yang menonjol dalam era akuntabilitas dan tanggung

jawab ini adalah Kepemimpinan Instruksional3 (Instructional Leadership

- IL). Berbagai usaha dan pemikiran telah dikerahkan dalam rangka

2Stoll, L. et al., Professional Learning Communities: A Review of The Literature.

Journal of Educational Change 7 (2006): 221. 3Graczewski, C. et al., Instructional Leadership in Practice: What Does It Look

Like, and What Influence Does It Have? Journal of Education for Students Placed at Risk (JESPAR) 14/1 (2009): 73.

JURNAL TEOLOGI STULOS 279

menentukan jenis kepemimpinan yang harus dimiliki oleh pemimpin

institusi pendidikan yang dinilai akan mampu berpengaruh terhadap

peningkatan prestasi siswanya, baik dari segi pengetahuan maupun

pengaruhnya terhadap pengajaran, dimana hal ini dilihat sebagai determinan

penting dalam peningkatan prestasi siswa.4

Di tengah berkembangnya konseptualisasi mengenai kepemimpinan

dalam pendidikan, muncul sebuah hipotesa bahwa IL dapat menjadi

strategi kunci untuk meningkatkan prestasi siswa. Hal ini kemudian

mengarah pada pertanyaan, bagaimana praktik jenis kepemimpinan ini

mampu mempengaruhi kualitas praktik pembelajaran dan sejauh apa

pengaruhnya?

Berdasarkan kedua penjabaran poin di atas, relasi antara PLC dan IL

menjadi hal penting untuk ditemukan, serta bagaimana mereka saling

mempengaruhi. Lebih lanjut, bagaimana relasi antar kedua variabel

tersebut mempengaruhi prestasi siswa (Student Achievement SA) akan

menjadi tujuan akhir dari penelitian ini.

Rumusan Masalah

Penjabaran dalam latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan

ke dalam tiga pertanyaan besar yang akan dijawab melalui penelitian ini,

dengan menggunakan data guru, siswa dan kepala sekolah menengah di

Indonesia.

1. Sejauh apa keberadaan PLC dan IL nampak dalam tingkat pendidikan

menengah di Indonesia?

2. Apakah bentuk hubungan/relasi antara PLC dan IL?

3. Apakah PLC dan IL mempengaruhi prestasi siswa (SA)?

4Elmore, R. F. Building a New Structure for School Leadership (Washington, DC:

Albert Shanker Institute, 2000).

280 KORELASI ANTARA KOMUNITAS PEMBELAJARAN

PROFESIONAL (PLC)

Signifikansi Penelitian

Signifikansi penelitian ini adalah untuk meneliti rumusan masalah di

atas, diterapkan dalam konteks sistem pendidikan Indonesia. Berdasarkan

data TIMSS 2007, siswa Indonesia memiliki tingkat nilai Matematika

yang cukup rendah bila dibandingkan dengan tingkat nilai siswa-siswi

dari negara lain (dalam perbandingan Nilai Matematika International).

Dalam hal ini, sangat mungkin bahwa PLC dan IL dapat menjadi acuan

strategi yang tepat untuk menolong guru-guru di Indonesia dalam

mengatasi permasalahan kualitas akademik tersebut, dengan spesifik

mencari cara untuk meningkatkan prestasi siswa, melalui peningkatan

kualitas pengajaran yang niscaya akan mampu memajukan kualitas

pendidikan Indonesia.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kuantitatif

dengan menggunakan metode perhitungan statistik SPSS (Statistical

Package for Social Science). Data yang digunakan adalah data sekunder

yang diambil dari data temuan sebuah badan internasional yang secara

rutin mengumpulkan survey untuk penelitian pendidikan (TIMMS -

Trends in International Mathematics and Science Study). Data diambil

dari TIMMS 2007, untuk nilai Matematika tingkat SMP, kelas 2 (atau

kelas 8) di Indonesia. Penelitian ini bersifat korelasional dalam artian

yang diteliti adalah hubungan antar variabel, tanpa adanya usaha untuk

JURNAL TEOLOGI STULOS 281

memanipulasi variabel-variabel tersebut5. Variabel independen adalah

PLC dan IL, variable dependen adalah SA.

Sampel diambil dengan menggunakan teknik acak berstrata, yang

terdiri dari 149 sekolah menengah pertama di Indonesia yang mencakup

seluruh wilayah (kecuali Papua dan Nanggroe Aceh Darussalam) dengan

partisipan: 149 guru, 149 kepala sekolah dan 4.203 siswa dari seluruh

Indonesia6. Setiap guru dan siswa mewakili setiap sekolah yang menjadi

sampel, oleh karena itu sampel yang digunakan dinilai mewakili seluruh

populasi. Instrumen penelitian menggunakan beberapa kuesioner berbeda

yang disebarkan pada tiga kelompok sampel tadi (guru, kepala sekolah

dan siswa) dan nilai Matematika para siswa.

Data analisis dilakukan dengan beberapa variasi teknik analisa data

dalam statistik dengan menggunakan SPSS, antara lain: Analisa

Deskriptif, Analisa Reliabilitas, Analisa Korelasi, T-test, Anova dan

Analisa Regresi yang berguna untuk melihat hubungan antara variabel

independen dan dependen.

Kerangka Teori

Komunitas Pembelajaran Profesional (PLC)

Langkah pertama untuk memahami apa itu PLC adalah dengan

menerima fakta bahwa definisinya bersifat kontekstual, tidak universal

dan didasarkan pada interpretasi yang bergantung pada konteks pendidikan

tertentu.7 Konsensus internasional merumuskan definisinya secara global,

PLC diidentifikasikan sebagai kelompok pengajar yang saling berbagi

dan memeriksa praktik pengajaran mereka satu sama lain secara kritis,

dimana di dalamnya terdapat unsur kontinuitas, refleksi, kolaborasi,

5Fraenkel, J. R. & Wallen, N. E., How to Design and Evaluate Research in Education, 7th ed. (Singapore: McGraw-Hill International, 2010), 328.

6Olson, J. F. et al. (eds.), TIMSS 2007 Technical Report (Lynch School of Education, Boston College: TIMSS and PIRLS International Stu