KONSEP PRESCHOOL DAN PERKEMBANGAN SOSIAL masa kanak-kanak awal.2 Dari sini muncullah konsep nursery school dan preschool. Nursery ... Pendidikan dan pengajaran Taman Kanak-kanak bermaksud

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

  • BAB II

    KONSEP PRESCHOOL DAN

    PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK

    A. Konsep Preschool di Indonesia

    Dewasa ini seiring dengan semakin tingginya tuntutan hidup, banyak

    kita jumpai orang tua, baik ayah maupun ibu, yang bekerja untuk membiayai

    keluarga. Apalagi dengan makin derasnya arus pengaruh feminisme yang

    menuntut emansipasi wanita, makin banyak kita temui wanita karier yang

    notabene sudah berkeluarga.

    Kesibukan para orang tua bekerja di luar rumah membuat mereka tidak

    bisa mengasuh dan mengawasi putra-putri mereka selama 24 jam. Alternatif

    yang diambil pun bervariasi, mulai menggaji pembantu, baby sitter (pengasuh

    anak), sampai dengan yang saat ini menjadi tren yaitu memasukkan putra-putri

    mereka ke tempat-tempat penitipan anak, baik yang sifatnya hanya penitipan

    maupun yang bersifat lembaga pendidikan atau lazim disebut dengan

    preschool.

    Alasan para orang tua memasukkan putra-putri mereka ke preschool

    ternyata tidak hanya kesibukan mereka bekerja di luar rumah. Lebih dari itu,

    sekarang ini makin banyak orang tua yang menyadari betapa pentingnya

    pendidikan prasekolah sebagai persiapan sebelum memasuki jenjang

    pendidikan dasar. Apalagi sekarang ini makin banyak kita jumpai sekolah-

    sekolah dasar yang mensyaratkan dalam penerimaan siswa baru untuk

    menyertakan rapor Taman Kanak-kanak (TK). Hal ini menunjukkan bahwa

    kegiatan pendidikan prasekolah termasuk hal yang dipentingkan oleh

    penyelenggara pendidikan dasar. Mengapa demikian?

    Dalam sebuah penelitian dikemukakan bahwa anak-anak calon siswa

    kelas I SD yang berasal dari TK dibandingkan dengan yang belum pernah

    mengikuti TK akan jelas perbedaannya terutama pada semester awal.

    Perbedaan performa anak bisa dilihat dari ketrampilan membaca, menulis,

    13

  • 14

    maupun kesiapan mental anak dalam mengikuti pelajaran di SD.1 Selain itu

    adanya batasan usia 7 tahun untuk masuk jenjang pendidikan dasar, membuat

    orang tua mencari alternatif untuk mengisi waktu anak dengan

    memasukkannya ke preschool, dengan harapan dapat menyiapkan anak untuk

    lebih matang ketika dia harus mulai memasuki jenjang pendidikan dasar.

    1. Pengertian preschool

    Berbicara mengenai pendidikan prasekolah atau yang lazim disebut

    dengan preschool, seringkali terdapat kerancuan dalam penggunaan

    istilah-istilah yang kebanyakan berbahasa Inggris dalam memberikan

    definisi dan batasan pendidikan prasekolah.

    Menurut the National Association for the Education of Young

    Children (NAEYC), pendidikan prasekolah dimasukkan dalam early

    childhood settings (tatanan masa kanak-kanak awal), yaitu layanan untuk

    anak-anak sejak lahir sampai dengan usia 8 tahun di suatu pusat

    penyelenggaraan, rumah, atau institusi, seperti Taman Kanak-kanak (TK),

    baik yang sifatnya full-day school (sekolah sehari penuh) maupun paruh

    waktu. Di dalamnya termasuk early childhood education (pendidikan masa

    kanak-kanak awal) yang terdiri dari pelayanan yang diberikan dalam

    tatanan masa kanak-kanak awal.2

    Dari sini muncullah konsep nursery school dan preschool. Nursery

    school adalah program untuk pendidikan anak usia 2, 3 dan 4 tahun.

    Adapun preschool, dalam Websters Encyclopedic disebutkan mempunyai

    2 arti, yaitu:

    a. adjective of pertaining to, or intended for a child between infancy and school age. Artinya: Kata sifat yang dimaksudkan untuk seorang anak yang

    berada pada usia bayi dengan usia sekolah b. a school or nursery for preschool children

    Artinya: Sekolah untuk anak-anak prasekolah.3

    1 Reni Akbar Hawadi, Psikologi Perkembangan Anak, Jakarta: PT Grasindo, 2003, hal. 2 2 George S. Morrison, Early Childhood Education Today, Merril Publishing Company,

    1988, hal. 4. 3 Houston Miffling, Websters Encyclopedic Unabridged Dictionary of the English

    Language, New York : Portland House, 1989, hal. 304

  • 15

    Untuk di Indonesia, preschool dalam arti yang kedualah yang

    dipakai sebagai istilah lain untuk Taman Kanak-kanak (TK), sedangkan

    nursery school lebih dikenal dengan play group atau kelompok bermain.

    Kesemuanya itu termasuk dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),

    sebagaimana diatur dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisitem

    Pendidikan Nasional. Dalam pasal 1 ayat (14) disebutkan bahwa:

    Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.4

    Untuk memberikan batasan yang jelas, dalam pembahasan

    selanjutnya akan lebih difokuskan pada preschool yang identik dengan

    Taman Kanak-kanak (TK). Karena TK merupakan bentuk Pendidikan

    Anak Usia Dini (PAUD) yang berada pada jalur pendidikan formal,

    sebagaimana disebutkan dalam UU Sisdiknas pasal 28 ayat (3).5

    Sedangkan mengenai batasan usia peserta didik di TK, di dalam

    Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0486/ U/ 1992

    Bab II pasal 4 dijelaskan bahwa peserta didik di TK adalah anak yang

    berusia 4-6 tahun.6

    2. Program preschool

    Akhir-akhir ini berkembang kecenderungan, terutama di kalangan

    tertentu dalam masyarakat kota besar, untuk memperkenalkan berbagai

    cara kegiatan belajar sejak usia dini. Padahal model pendidikan anak

    prasekolah sesungguhnya merupakan upaya menyiapkan anak didik untuk

    menempuh pendidikan di sekolah dasar. Maka pendekatan yang digunakan

    pun bukan dengan model detail, melainkan sesederhana mungkin sesuai

    dengan karakteristik anak usia prasekolah.

    4 Ali Aksun Widjaya, Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang

    Sistem Pendidikan Nasional, Semarang: CV Duta Nusindo, 2003, hal. 6 5 Ibid., hal. 16 6 Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003,

    hal. 44

  • 16

    Dunia prasekolah adalah dunia bermain, sehingga satu hal yang

    salah kaprah adalah ketika preschool diidentikkan dengan tempat belajar

    membaca maupun berhitung. Preschool, yang di Indonesia identik dengan

    TK, bukanlah sekolah, namun merupakan tempat bermain sambil belajar,

    bukan sebaliknya. Sedangkan tempat belajar dimulai dari jenjang SD.

    Sebagai langkah awal penyiapan anak untuk memasuki jenjang pendidikan

    dasar, pendidikan prasekolah hendaknya memperhatikan beberapa prinsip

    berikut ini :7

    a Perlu diciptakan situasi dan kondisi yang memberikan rasa aman dan

    menyenangkan.

    Sebagai salah satu bentuk awal pendidikan formal, maka dalam

    penyelenggaraan preschool perlu diciptakan situasi dan kondisi yang

    memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi anak. Hal ini penting

    mengingat bahwa ini adalah pengalaman pertama bagi anak untuk

    mengikuti sesuatu yang baru, yang notabene tidak bersama orang tua

    atau anggota keluarga yang lain, melainkan bersama orang lain yang

    sama sekali asing baginya. Dengan situasi dan kondisi yang

    menyenangkan akan membuat anak merasa nyaman di sekolah, tanpa

    khawatir terpisah dari orang tuanya.

    b Masing-masing anak perlu mendapat perhatian yang bersifat

    individual, sesuai dengan kebutuhan anak usia prasekolah

    Dasar individualitas ini adalah bahwa meskipun pola

    perkembangannya sama bagi semua anak, setiap anak mengikuti pola

    perkembangan yang berbeda walaupun hanya dalam hal kecil. Seorang

    anak mungkin memberi tanggapan positif terhadap pengendalian yang

    sifatnya otoriter karena hal itu memberinya rasa aman, namun

    mungkin bagi anak lain hal itu ditanggapinya berbeda.8

    Selain itu setiap anak mengalami perkembangan yang berbeda-

    beda, sehingga pengalaman-pengalaman yang diciptakan harus

    7 Ibid., hal. 69-70

  • 17

    fleksibel untuk memenuhi kebutuhan setiap anak. Marian Edelman

    Borden mengklasifikasikan proses perkembangan anak usia 3-5 tahun,

    yang berguna untuk memilih materi atau topik agar bisa diartikulasi

    oleh anak-anak untuk menuju ke arah pembentukan karakter anak yang

    sesuai.9

    Pada usia 3 tahun, anak memiliki ciri khas intelektual, mereka

    belajar tentang warna dan bentuk, kemudian dilanjutkan pada dunia

    sekitarnya, seperti binatang atau tanaman. Mereka belajar tentang diri

    mereka sendiri, keluarga mereka, berinteraksi dengan orang dewasa

    berbagi dan bekerja sama. Pada usia 4 tahun, imajinasi anak bekerja

    dan penuh dengan pertanyaan mengapa. Pada aspek intelektual

    mereka mulai belajar mengurutkan, memilah dan mengelompokkan.

    Pada klasifikasi terakhir, yaitu pada usia 5 tahun, anak lebih

    terfokus dan terarah. Mereka kaya akan imajinasi, bahasa mereka lebih

    ekspresif dan terperinci. Pada aspek intelektual, mereka belajar tentang

    perbandingan ukuran dan jumlah, menggunakan pemikiran dan

    ketrampilan dalam menyelesaikan masalah dan penjelasan sederhana

    untuk fenomena sains. Dalam aspek sosial-emosional, anak belajar

    untuk bertanggung jawab, mengenali dan menyatakan emosi dan

    perasaan, menyatakan empati, individualitas, mengenali persamaan

    dan perbedaan tentang diri dan orang lain.