Click here to load reader

Karya Tulis

  • View
    7

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

a

Text of Karya Tulis

KARYA TULISBAHASA INDONESIAPADRE PIO

KOLESE GONZAGANama: Jonathan Jason FilbertKelas: XIA-3Absen: 18Bab 1Padre Pio dari Pietrelcina

1.1 PietrelcinaPietrelcina, adalah sekitar 300 meter pada tingkat Laut. Ini adalah kota kecil yang menyenangkan dan menyenangkan dekat Benevento (Italia Selatan), dan dibangun di Dataran dikelilingi oleh pemandangan yang terbentuk dari perbukitan rendah dan dirancang oleh sungai-sungai kecil yang pergi fajar perlahan-lahan menuju Tammaro Valley. Negara ini bergelombang ringan, dan berhiaskan tanah dibudidayakan (Gandum, tembakau, artichoke), dan kaya pohon (pohon Zaitun dan lainnya).Inti dari Pietrelcina ditempatkan pada sebuah bukit kecil batu berkapur, dan itu disebut: "La Morgia". Ini kuartal "Castello", pusat tua dari Pietrelcina. Ini adalah tempat yang mendengarkan dengan wailings Francesco Forgione (yang Padre Pio masa depan). Ini adalah tempat yang melihat sedikit Francesco Forgione untuk tumbuh dan menjalankan untuk pengadilan kecil dan jalur. "Dia memiliki udara pertama, napas pertama dan susu pertama, di Pietrelcina". Ini terjadi seperti Tuhan kita Yesus: "Engkau adalah Blissful, o Betlem, karena Anda melihat akan lahir Yesus Kristus". Mengapa harus Betlem bahagia? Karena, Yesus memiliki udara pertama di sana. Mengapa harus Pietrelcina bahagia? Karena "Padre Pio", pria yang akan menjadi, sehari, Santo dari kekristenan, menghirup udara pertama, oksigen pertama, nitrogen pertama, susu pertama, senyum pertama, cahaya pertama, lagu pertama burung, di sini di Pietrelcina. Kakinya menyentuh tanah ini sebagai tanah pertama. Tangan kecilnya mengangkat batu-batu kecil sebagai yang pertama. Matanya melihat gambar-gambar sebagai yang pertama. Ya, Pietrelcina. Anda adalah kota Santo

"Kota kecil kami bahwa kita harus mengasihi sangat banyak, itu akan menerima berkat terbesar dari langit, wethere itu akan terus dengan perbuatan baik yang telah dimulai""Sampaikan salamku kepada orang-orang dari Pietrelcina, yang selalu saya simpan di hati saya itu berkat dari Tuhan kita turun berlimpah pada semua orang dan orang-orang membuat diri mereka dari janji yang kekal." "Semua yang terjadi di sana"Padre Pio

1.2 OrangtuanyaOrangtua dari seorang santo biasanya pastilah orang yang sangat menonjol kebaikanya dan keutamaanya. Orangtua Padre Pio akan tercatat dalam sejarahnya bukan karena jasa putra mereka yang luar biasa dan mendapatkan stigmata, tetapi karena kesalehan mereka yang luar biasa.Grazio Forgione dan maria Giuseppa di Nunzio adalah orangtua dari Padre Pio. Menikah pada tahun 1881. Mereka muda, tulus, teguh hati, dan berasal dari keluarga yang sederhana. Mereka memiliki sedikit tanah pertanian yang daoat mencukuoi kebutuhan hidup sehari-hari, dalam untung atau malang.Setiap pagi Grazio biasanya sudah menunggang keledainya dan bersiap-siap menyusuri desa untuk menggarap tanahnya menggiring seekor kambing muda untuk merumput. Lalu Francis (nama kecil Padre) gembala kecil yang penuh perhatian pada domba-dombanya dan selalu memberi mereka makan akan menggiringnya di belakang sang ayah. Dia bekerja keras sepanjang tahun. Jam kerjanya berakhir pada sore hari menjelang matahari terbenam, dan biasanya ia membawa pulang buah-buahan dari ladang untuk santapan keluarga.Maria Giuseppa atau Mamma Peppa sebagaimana orang orang sering memanggilnya, adalah seorang ibu rumah tangga yang baik hati dan rajin. Dia selalu memastikan bahwa dan anak-anaknya terpenuhi kebutuhanya dengan baik. Dia akan bangun di tengah malam untuk membuat roti dan keju. Beberapa kali dalam sehari dia pergi mengambil air di Madunnella, sumber air di dekat rumahnya. Di dekat tempat itu terdapat sebuah tempat ziarah dengan patung Ratu Surga dan sisi lainya patung St.Mikael dan St.Antonius.Maria Giuseppa tahu bagaimana mengola rumah tangganya dengan bijaksana, terlebih di saat kekurangan. Setiap hari dia menyiapkan segala keperluan dan menyisihkan segala keperluan dan menyisihkan sedikit untuk hari-hari perayaan.Setiap tahun mereka berdua mempersembahkan sebagian dari hasil panen mereka sebagai persembahan bagi novena jiwa-jiwa malang di api penyucian. Mereka juga murah hati dengan memberikan hasil panen pertama mereka kepada keluarga-keluarga yang lebih miskin. Mereka sepasang suami istri yang meninjolkan dalam ketulusan dan keteguhan hati, yang mengabdikan dirinya untuk membesarkan sebuah keluarga Kristen sejati, yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukanNya (Maz 128:1).1.3 RumahJalan yang khas di daerah Castello adalah Vico strorto Valle. Sebuah jalan yang sempit dan berliku yang dilapisi dengan batu. Di beberapa tempat terdapat tembok abu-abu di tepinya. Di sana-sini, pintu-pintu terbuat dari kayu yang gelap dan tebal pada kedua sisinya. Di jalan inilah Grazio dan Mamma Giuseppa mendirikan rumah mereka.Mereka hidup dalam rumah yang di bangun seadanya. Di salah satu sudut terdapat dapur yang dihubungkan dengan ruang makan yang juga berfungsi sebagai kamar tidur anak-anak. Di hakaman depan ada kandang keledai dan tumpukan kayu. Satu langkah dari dapur ada sebuah pintu yang menuju kamar pasangan ini. Beberapa meter dari situ terdapat bukit, ada undakan menaiki bukit batu yang terkenal, Morgione, yang menuju ke sebuah menara untuk menyepi (toretta). Padre Pio tinggal di kamar tersebut selama masa tetirahnya sebagai biarawan muda yang sedang sakit. Dia menyukai tempat tersebut karena keheningannya dan keterpencilannya. Kesederhanaan pedesaan yang menarik yang tampak dari lingkungan yang bersahaja ini mampu membangkitkan semangat kita. Tidak ada kemewahan, tidak ada pernak-pernik yang berlebihan yang tidak perlu yang biasanya memenuhi rumah kita. Mereka hanya memiliki apa yang mereka perlukan. Berbahagialah kamu yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan surga. (Mat 5:1).Dirumah inilah Padre Pio lahir, sebagai anak kedua dari lima bersaudara yang hidup sampai dewasa. Dua laki-laki dan tiga perempuan bernama Michael, Francis (Padre Pio), Felicita, Pelegrina, dan Grazia. Tiga lainnya meninggal. Jadi Mamma Peppa sudah melahirkan 8 anak. Dimata Allah dia adalah perempuan yang subur. Dia dan Grazia suaminya sangat memahami apa yang dikatakan kitab suci, Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari Tuhan dan buah kandungan adalah upah. (Maz 127:3) dan sepanjang hidupnya Padre Pio menyukai dan memberkati setiap keluarga besar yang hidup sesuai dengan kehendak Allah.

1.4 Kelahiran Padre PioPadre Pio(Francesco Forgione)dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1887 di sebuah kota kecil bernama Pietrelcina, Italia selatan, dalam wilayah Keuskupan Agung Benevento. Ia adalah anak ke-5 dari 8 bersaudara dari keluarga petani, pasangan Grazio Forgione dan Maria Giuseppa De Nunzio atau yang biasa disebut Mama Peppa. Bagi Mama Peppa sendiri, Fransesco(panggilan Padre Pio saat kecil), ia memang berbeda dari anak lain. Jauh lebih religius. Bahkan, saat Fransesco berusia 9 tahun, ia mencambuk dirinya sendiri agar serupa dengan Yesus Kristus. Fransesco pun kerap ditampaki berbagai macam wujud, seperti Tuhan Yesus, Bunda Maria, bahkan setan. Hal itu terjadi sejak ia berusia 5 tahun.Pada Tahun 1903, saat ia berusia 16 tahun, ia berpisah dari keluarganya untuk masuk ke Biara Kapusin, biara yang terkenal akan biarawan-biarawan yang kebanyakan berjenggot. Tak lama setelah itu, ia diangkat menjadi novis dan dipilihkan sebuah nama orang kudus, sesuai dengan aturan biara tersebut. Dan untuk Fransesco, dipilihkan nama Pio. Aturan-aturan ketat yang dijalani para novis membuat Padre Pio muda sering sakit-sakitan. Oleh karena Ia dalam bahaya meninggal, ia ditahbiskan menjadi Imam dengan umur lebih muda daripada para novis yang lain.

1.5 Padre Pio KecilFrancis tumbuh menjadi anak yang tampan, sehat, dan baik. Pada awalnya ia sering sekali menangis dan menjerit. Kebiasaannya saat ia masih anak-anak ini menguji kesabaran ayahnya, karena tidak dapat tidur nyentak saat amlam hari di rumah padahal dia sudah lelah bekerja. Seringkali Grazio sang ayah mengeluh, apakah bayi ini tidak kehabisan napas?Suatu hari Sang Ibu, Giussepa sedang pergi, dan sang ayah Grazio sedang berada di rumah. Si bocah mulai meraung-raung. Berbagai usaha telah dilakukan Grazio untuk menenangkan Francis, sampai akhirnya ia kehilangan kesabarannya dan berteriak, Ini Setan yang lahir di rumahku! Ketika Padre Pio menceritakan ini kepada orang ia selalu mengakhiri dengan kata Sejak saat itu aku tidak pernah menangis lagiDengan caranya sendiri Francis kecil mulai menunjukkan penghargaan yang luar biasa dalam beragama. Detail-detailnya selalu diceritakan sang ibu kepada orang yang kagum kepada Francis. Ketika ia berumur 5 tahun, tanpa sengaja ia mendengar hujatan. Dia bersembunyi di balik pintu dan menangis, hatinya yang suci terluka mendengar Allahnya dihina seperti itu. Itu salah satu contoh peristiwa yang membuktikan kehidupannya yang luar baisa dalam beragama. Ia selalu tidak ingin berkompromi dengan kejahatan dan Allah hadir dalam setiap tindakannya.1.6 Aku ingin ke gerejaPeristiwa-peristiwa lainnya menandai jiwa Padre Pio kecil, bahkan sejak usia lima tahun. Dia tidak saja peka untuk hal-hal yang berhubungan dengan Allah, tetapi dia mulai dapat melihat roh, kadang-kadang roh itu cantik tapi kadang roh itu juga jelek. Dia sama sekali tidak menyadari peristiwa yang sangat luar biasa ini, ataupun mengenal istilah-istilah ekstase, raptures ( merasa gembira luar biasa), dan intervensi diabolical (campur tangan iblis). Dia tidak memberi tahu orang lain tentang hal itu dan menganggap hal tersebut adalah hal yang juga biasa dialami oleh orang lain.Dia tak merasa bahwa dirinya istimewa. Dia sangat sadar bahwa hidup manusia memiliki dua kenyataan yang berbeda atau bertolak belakang yaitu, kenyataan tentang Allah dan surga, dan di satu sisi, dan disisi lain iblis dan dosa. Dia memposisikan dirinya secara total kepihak Allah.1.7 Muzizat di Depan MatanyaBanyak mujizat terjadi atas namanya, dan daftar kesaksian dicantumkan di bawah. Nyonya Cleonice, yang adalah anak rohani Padre Pio, mengatakan, Dalam masa Perang Dunia Kedua, keponakanku menjadi tawanan. Kami tidak mendengar kabar berita mengenainya selama setahun dan semua orang yakin bahwa ia telah tewas. Orangtuanya sangat khawatir mengenai putera mereka. Suatu hari, ibunya menemui Padre Pio dan berlutut di hadapan sang biarawan yang sedang duduk dalam kamar pengakuan, `Saya mohon Padre, katakanlah apakah putera saya masih hidup. Saya tak akan pergi sebelum Padre menjawab saya!' Padre Pio menaruh simpati padanya; tampak butir-butir airmata menetes di wajahnya saat ia mengatakan, `Berdirilah dan pergilah dalam damai.' Beberapa hari kemudian, tak tahan lagi melihat dukacita kedua orangtua tersebut, maka aku memutuskan untuk meminta Padre Pio melakukan suatu mukjizat. Dengan kepercayaan penuh, aku mengatakan, `Padre, saya hendak menulis sepucuk surat kepada keponakan saya Giovannino. Saya hanya akan menuliskan namanya saja pada sampul surat, sebab kami tidak tahu di mana ia berada. Padre dan malaikat pelindungmu akan membawa surat ini kepadanya di mana pun ia berada.' Padre Pio tidak menjawab, maka aku menulis surat. Sore hari, sebelum tidur, aku meletakkan surat itu di atas meja yang terletak di samping tempat tidur. Keesokan harinya, dengan terkejut, heran bercampur takut, aku mendapati bahwa surat itu tidak lagi ada di sana. Aku pergi untuk menyampaikan terima kasih kepada Padre Pio dan ia mengatakan, `Berterimakasihlah kepada Santa Perawan.' Hampir limabelas hari kemudian, keponakan kami mengirimkan balasan surat. Maka, bergembiralah semua orang dalam keluarga kami dan kami mengucap syukur terima kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada Padre Pio.1.8 Gembala Kecil yang RajinBegitu anak laki-laki di keluarga Forgione tumbuh cukup besar untuk membantu, mereka diserahi tugas masing-masing. Dan Francis sebagai salah satu anak laki-laki di keluarga Forgione, ia mendapatkan tugas untuk mengembalakan domba milik keluarganya. Tiap pagi ia menuju ke Piana Romana bersama kawanan dombanya, sering kali ia berangkat sendiri, tapi kadang juga ditemani oleh sepupunya yang bernama Mercurio. Mercurio ini sangat berbeda dengan Padre Pio. Mercurio bersifat periang, jenaka, dan usil, bahkan ia suka bergulat. Sedangkan Francis tidak menyukai permainan itu, ia sangat menyesal apabila harus bergulat. Francis lebih menyukai permainan baris-berbaris. Ia tidak ingin berhenti apabila sedang bermain permainan tersebut.1.9 Padre Pio Mendapatkan PanggilanyaSuatu hari Francis mengikuti sebuah Misa dan mendengar kotbah tentang Santo Michael Malaikat pelindung. Yang memberikan kotbah adalah seorang imam muda dari Pietrelcina yang bernama Don Giuseppa Orlando. Beberapa tahun setelah pentahbisan ia bertemu dengan Don Giuseppa Orlando dan berkata Jika saya sekarang menjadi imam, maka saya mendengarkan kotbah anda tentang Santo Michael.Ketika mendengar kotbah itu ia kira-kira berumur sepuluh tahun. Pada saat itu dia, menyadari panggilan Allah dengan jelas dan sangat kuat. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa kepada keluarganya. Kemudian pada tahun 1898, seorang muda dari Pietrelcina, Rudolph Masone, masuk ke biara Kapusin di Morcone. Tahun itu pertama kalinya biara kapusin datang ke Pietrelcina untuk mencari derma dan mengumpulkan sumbangan berupa gandum dari penduduk disana. Dia menginap di keluarga Masone. Dia bernama Frater Camillo. Dia memiliki jenggot yang bagus, sebuah tas terikat di punggungnya, dia disenangi semua orang. Dan mengunjungi daerah Piana Romanna, dan Mama Giuseppa memberinya banyak gandum. Setelah sejenak berbincang dengan akrab dan berjanji untuk berdoa bagi mereka, frater itu pergi dengan sukacita.Francis hadir di pertemuan tersebut, menatap dengan tajam kepada frater yang baik itu. Dia tak memalingkan wajahnya sampai laki-laki tersebut meninggalkan rumah mereka.Kemudia berpaling ke Grazio, dia berkata,Ayah! Apa yang kau inginkan nak?Aku ingin jadi biarawan.Ibunya berdiri dekat situ dan mendengar. Ibunya langsung menyaut. Jadilah biarawan Paduli, supaya kami bisa selalu mengunjungimu.Tidak, jawab Francis. Aku ingin jadi biarawan berjenggot.Akhirnya ayahnya berkata Ya, Pasti! Kalau kamu sekolah dengan baik, kamu akan menjadi biarawan.

Daftar PustakaHalim,yuditya.Padre Pio.2010.JakartaGoogle.com

Padre Pio dari Petrelcina 8