Jurnal Irigasi

  • Published on
    12-Jul-2015

  • View
    594

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 1/15</p><p>KAJIAN TUJUH SUBSTANSI PERENCANAAN FANATIKDALAM PENGEM BANGAN IR IGASI D I INDONESIA(STU DY O N SEVEN FAN ATIC AL D ESIG N SU BSTAN CESIN TH E IRR IG ATIO N D EVELO PM EN T IN IN DO NESIA )</p><p>Oleh:Soekrasno, SO}dan Subari")</p><p>AbstractUp to now Indonesia has already developed irrigation more and less 7.4 million Ha,covering more and less 17,500 irrigation service area consist of small and large one. Thosewas developed since Dutch colony era untill reformation periode now. Some irrigation servicearea were designed before rice self sufficiency in the year of 1984, which carried out in a</p><p>hurry to fulfill rice consumption demand. It was observed that some designers trapped inseven fanatical design substances, which were not in their intention. Thoseare: l)Vlughterenergy dissipator, 2)Romijn measuring device, 3)Undersluice fiushing facilities, 4)Sedimenttrap, 5)Masonry lining, 6)Weir Crest Elevation, 7)Stone pitching(batu candi). It is supposethe designers do not comprehend deeply irrigation design kriteria, or maybe though somedesigners understand well about irrigation design principle, because of limited time theyprever to immitate the former designer rather then to analyse on his own. Hopefully theirspirit of professionalism were not sacrificed due to bisnis reasons. Thispaper discusses theimplications of such fenomena that the irrigation will be less eficient and some lead to thefatal catastrophe. Eachdesign substance will be analyse the purpose, problem in the fielciother more eficient alternatives, implications of such design substanse, and finally the mostrecommended action necessary. Those seven fanatical design substances become lessonlearn for irrigation designer in Indonesia, that each design substance should be analyseindividually based on situation and condition in the field. Such effort will produce better andmore efficient irrigation sistem.Keywords: irrigation design method, fanatical design substances, irrigationdevelopment</p><p>I. PENDAHULUAN1. 1. Latar BelakangSampai saat ini dalam menunjangketahanan pangan, Indonesia telahmengembangkan irigasi seluas7.400.000Ha meliputi daerah irigasi kurang lebih17.500 lokasi. Daerah irigasi ini terdiri</p><p>dari irigasi teknis, setengah teknls, dansederhana. Menurut statusnya terdiri dariirlqasl yang dikelola pemerintah,masyarakat tani atau pemerintahandesa, dan swasta. Irigasi tersebutdibangun sejak zaman pendudukanBelanda sampai dengan masa reformasisekarang ini.</p><p>O J W ld ya ls wa ra U ta rn a, P us dik la t, D ep arte rn en P U"] P en eliti M uda, P uslitban g S DA , B ad an litb ang D ept.P UJumallrigasi - Vol.4, No.1, Juni 2009 1</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 2/15</p><p>Ahli perencana irigasi telahmenyumbangkan darma baktinyadengan sepenuh kemampuan yangmereka millkl untuk mewujudkanjaringan irigasi tersebut. Pada periodesebelum swa-sembada beras tahun1984, perencana irigasi mengacu padaperencanaan pengalaman sebelumnyadan standar perencanaan irigasi darinegara lain. Hal ini dilakukan karenaKriteria Perencanaan Irigasi (KP) barulahir padatahun 1986.Implikasi dari keadaan r r u wujudperencanaan irigasi lebih diwarnai olehperilaku perencana yang meniruperencanaan irigasi sebelumnya. Apalagipada saat itu pengembangan irigasiharus cepat dllakukan untuk memenuhituntutan keadaan mengejar kecukupanpangan. Sehingga perencanaan serbaterburu-buru dan harus cepat selesai,yang kadang-kadang kajian tekniskurang mendalam dan kurang akurat.Disadari ataupun tidak ternyata terdapat7 (tujuh) substansi perencanaan fanatikdalam perencanaan irigasi. Padabeberapa daerah irigasi substansitersebut kadang-kadang diterapkantanpa alasan yang logis dan rasional,Meskipun upaya-upaya meluruskansesuai krlterla perencanaan irigasi telahdilakukan, namun fenomena ini betjalanterus sampai pada dekade awal setelahkriteria perencanaan irigasi lahlr,Tulisan ini akan mendiskusikan implikasifenomena tersebut, bahwa irigasi akanmenjadi kurang efisien dan kadang-kadang dapat mengakibatkan kerusakanfatal. Setiap substansi perencanaan akandibahas maksudnya, permasalahan dilapangan, alternative lain yang lebi~efisien, implikasi kesalahan substansl,dan langkah-Iangkah yangdirekomendasikan.</p><p>1. 2. Pokok PermasalahanDalam perencanaan irigasi seorangperencana irigasi mestinya akanmelakukan kajian teknis sebelummemilih jerus bangunan maupunsubstansi perencanaan. Kajian tersebutmeliputi syarat-syarat aplikasi, keandalanbangunan, ketersediaan bahan,ketersediaan SDM, kemudahanpengoperasiandan svarat-svarat lainnya.Namun kadang-kadang kajian tersebuttidak dilakukan atau dilakukan tetapidalam kadar yang kurang mendalam,karena keterbatasanwaktu perencanaan,keadaan serba terburu-buru, atau sikapperencana yang suka meniru perencanasebeJumnya.Penulismelakukanpengamatan terhadapproduk perencanaan irigasi sekitar 15tahun sebelum swa-sembada berastahun 1984 dan 10 tahun sesudahnya.Ternyata terdapat 7 (tujuh) substansiperencanaan fanatik yang dipilih danditerapkan perencana irigasi tanpaalasan logis dan rasional. Tujuhsubstansi tersebut adalah:(1) KolamOlakType Vlughter(2) Pembilasbawah (Plat Undersluice)(3) Kolam Kantong Lumpur(4) ElevasiPuncakBendung(5) Alat Ukur Debit Romijn(6) Batu Candi(7) LiningSaluran PasanganBatu KaliYang jadl pokok masalah adalah ?(tujuh) substansi perencanaan fanatiktersebut dllakukan secara berulang dandengan frekuensi yang tinggi tanpaalasan yang mendasar, yang dapatmengakibatkan tidak efisiennyapengembangan lrlqasl, Fenomenamerupakan penyimpangan dalamperencanaan lrlqasl. Hal lnl dianggapsebagai pelajaran berharga ( lessonlearn) bagi perencana irigasi yang harusdiluruskan untuk generasi yang akandatang.</p><p>Jurnallrigasi - Vol.4, No.1, Juni 2009</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 3/15</p><p>2</p><p>II. Tinjauan PustakaKriteria Perencanaan Irigasi BagianBangunan Utama tahun 1986 (KP 02)menjelaskan tata cara pemilihan kolamolak pada perencanaan bendung dalamrangka meredam energi, sehingga dasarsungai dihilir bendung terhindar darigerusan loka!. Jenis kolam olak meliputitype USBR dan type radial. Denganalasan tertentu kolam olak tipe Vlughterdinyatakan tidak berlaku lagi.Dalam buku yang sama diuraikantentang penggunaan pembllas bawah didepan pintu pengambilan, yang gunanyauntuk mengendapkan pasir atau lumpursehingga tidak masuk ke dalam saluran.Dijelaskan juga standar penerapanbangunan pembilas bawah ini.Demikian juga halnya dengan tata carapenerapan kantong lumpur diuraikandalam buku ini. Syarat penerapan,kriteria hidraulik, batasan dimensi,konfigurasi bangunan diuraikan secaralengkap.Terkait dengan penentuan elevasipuncak bendung dijelaskan secara jelasdihubungkan dengan elevasi sawah,kehilangan tinggi energi pada setiapbangunan, dan kemiringan saluran.Alat Ukur Debit Romijn dijelaskan dalamKriteria Perencanaan Irigasi BagianBangunan tahun 1986 (KP 04),menyangkut standar penerapan,perhitungan hidraulik, rumus yangdipakat, dimensi alat ukur dan lainsebagainya.Dalam kriteria yang sama bagian saluran(KP 03), dijelaskan tentang liningsaluran: yang menguraikan jenisnya,kelebihan dan kekurangannya, syaratpenerapannya, tebal lining, dan tata carapelaksanaan.</p><p>Jumal Irigasi - Vol. 4, No.1, Juni 2009</p><p>III. Metode PendekatanUntuk melaksanakan kajian ini dilakukandua macam kegiatan, yaitu kajianpustaka yang terutama ditujukan untukmeneJusuritujuh substansi perencanaanirigasi terkait dengan tata carapenetapan, syarat-syarat penerapan,rumus, pertimbangan hidraulik, dimensistandar, bahan yang dipakair konfigurasibangunan dan lain sebagainya.Kegiatan yang kedua dengan melakukanpenelitian hasll perencanaan irigasi danmelakukan pengecekan di lapangan.Sample hasil perencanaan irigasi diambilsecara acak untuk irigasi di seluruhIndonesia yang dibuat sekitar awal tahun1970 sampai dengan sekitar tahun1990.Pengecekandilakukan untuk mengamatipenerapan tujuh substansi perencanaanfanatik tersebut dan kesesuaiannyadengan perencanaannya. Aspek-aspekyang menyangkut tidak efisiennyabangunan, kesulltan pengoperasian,kerusakan bangunan, dan perllakuhidraulik digali dan dikaji denganpengamatan langsung di lapangan danwawancara dengan pegamat, juru, danpenjaga pintu air.IV. ANALISIS DATA4.1. Kajian Teoritis4.1.1. Kolam Olak Type VlughterTeori yang melandasi kolam olak uuadalah untuk menghindari gerusan lokalsebelah hilir bendung perlumendapatkan aliran air yang tenangdimana energinya mendekati no!. Hal inididapatkan dengan menghancurkanenergi air yang jatuh dengan</p><p>3</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 4/15</p><p>membangun kolam olak, yang panjangdan kedalamannya ditetapkan denganpenelltlan laboratorium. Berdasarpenyelidikan yang dilakukan Vlughterdidapat rumus dan gambar sepertitertuang dalam gambar 1.</p><p>Gambar 1. Kolam olak menurut Vlughter</p><p>jika 0.5 &lt; _!_ &lt; 2.0het = 2.4 h e + 0.4 z (1 )</p><p>4.1.2. Pembilas bawah(Plat- Undersluice)Pembilas bawah direncana untukmencegah masuknya angkutan sedimendasar dan fraksi paslr yang lebih kasarke dalam pengambilan. Teori hidraulikadan angkutan sedimen menjelaskanbahwa sedimen yang terangkut air akandilepaskan sebagai endapan apabilaterjadi perlambatan aliran air. Fenomenaini terjadi didepan pengambilan dimana</p><p>disini akan terjadi penumpukan sedimenpasir atau lumpur. Namun sedimendalam proses mengendap ini akan</p><p>jika 2.0 &lt; _!_ &lt; 15.0h e</p><p>t=3.0 hc+0.1 z (2)0=0.28 h</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 5/15</p><p>Gambar 2. Pembilas bawahJurnallrigasi - Vol.4, No.1, Juni 2009 5</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 6/15</p><p>4.1.3. Kolam Kantong LumpurP~mbangunan kantanglumpurdlmaksudkan aqarpasir dan/atau lumpuryang masuk l1'1elewati pengambilandapat ?iendapkan, sehingga air yangmengahr ke saluran irigasi relatif jernihbebas dari paslr dan lumpur. Teori yangmendasari perhitungan dimensi kantong</p><p>lumpur adalah partikel yangmasuk kedala.mkolam.A, dengan kecepatanendappartlkel w dan kecepatan alrvharusrnencapal "dasar C. Ini beraklbat' bahwap~rtikel, selama waktu (H/w) yang. dlperlukan untuk mencapai dasar akanberjalan (berpindah) secara hOrlsontalsepanjang jarak L dalam waktu L/v.</p><p>I"-------.--~----,--</p><p>. . . . s : : : : : :: : : _ _ _</p><p>H</p><p>Gambar 3. Skem a kantong lum pur</p><p>Jadi: H = L dengan V = _2_w v H E</p><p>H = kedalamanaliran saluran, mw = kecepatan endap partikel sediment rn/dtL = panjang kantong Lumpur, m tv = kecepatan aliran air, m/detQ = debit saluran, m3/detB = lebar kantang Lumpur, m</p><p>Ini menghasilkan: LB= g</p><p>Dimana:</p><p>4.1.4. Elevasi Puncak BendungTeori yang melandasi dalam menentukanelevasi puncak Bendung ini adalah mukaair di saluran primer atau saluransekunder.</p><p>wUntuk mengetahui muka air di saluranprimer atau sekunder didasarkan sawahtertinggi yang akan diJayani, sepertigambar dibawah ini.</p><p>Jurnallrigasi - Vol. 4 _ No.1, Juni 2009</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 7/15</p><p>6</p><p>soluranPfim.,Q\QU s.kund.,L l h</p><p>boks bagik arter</p><p>Gambar 4. C ara m enentukan tinggi m uka air di saluran prim er atau sekunderP=A+a+b+e+d+e+f+g+Ah+ZDengan:</p><p>muka air di saluran primer atau sekunderelevasi di sawahlapisan air di sawah, = 10 emkehilangan tinggi energi di saluran kuarter ke sawah = 5 emkehilangan tinggi energi di boks bagi kuarter = 5 em/ bokskehilangan tinggi energi selama pengaliran di saluran Ingasi =kemiringan kali panjang I x L (di saluran tersler, lihat Gambar 4)kehilangan tinggi energi di boks bagi, = 5 c rn /b ok skehilangan tinggi energi di gorong-gorong, = 5 em per bangunankehilangan tinggi energi di bangunan sadapvariasi tinggi muka air, 0,18 h100(kedalaman rencana)kehilangan tinggi energi di bangunan-bangunan tersler yang lain (misaljembatan)</p><p>p =A =a =b =e =d =e =f =9 =Ah =Z =</p><p>4.1.5. Alat Ukur Debit RomijnTeori yang melandasi adalah bahwapintu romijn adalah alat ukur ambang</p><p>lebar yang bisa digerakkan untukmengatur dan mengukur debit didalamjaringan saluran irigasi.</p><p>Q =</p><p>Q = debit air (m3/detik)C d = koefisien debitC V = koefisien kecepatan datang9 = pereepatan gravitasi m/detik'be = lebar meja (m)hl = tinggi energi hulu diatas meja</p><p>(rn)}urnallrigasi - Vol. 4, No. t,}uni 2009</p><p>4l = 0,93+0,10 HJLH1 = ht+vl/2gHl = tinggi energi diatas meja (rn)Vt = keeepatan di hulu alat ukur(m/detik)</p><p>7</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 8/15</p><p>Pt pintu bowohalO!J pinluilas</p><p>kfrOOQko Sptngaroh dgduo P-Q!}~n9 8 :</p><p>w baOio.n atasoonwnon</p><p>pintu atas otouP-lntuykvr~~2!!.!</p><p>G am bar 5 . D im ensi A la t Ukur Rom ijn dengan P in tu Baw ah</p><p>4.1.6. Batu CandiSeeara teoritis peluapan pada suatubangunan peluap akan mengikutilengkung hidraulis Rehbock. Bentuklengkung ini akan berubah sesuaidengan debit yang melewati peluap,Idealnya bentuk puncak dan permukaantubuh hilir bendung dibuat berlmpltlengkung Rehbock untuk menghindarierosi dan hisapan akibat tekanannegatip. Permasalahannya debit aliransungai melewati puneak bendung selaluberubah dari waktu ke waktu.</p><p>Kalau misalnya bentuk mercu danpermukaan tubuh hiJir bendung dibuatmengikuti lengkung hidraulis Rehbockberdasar debit Q, maka akan terjadierosi tubuh bendung pada saat debitpeluapan lebih keeil Q. Sebaliknya akanterjadi hisapan akibat tekanan negatippada saat debit peluapan lebih besar Q.Jadi apapun bentuk mercu dan tubuhbendung akan selalu terjadi erosimaupun hisapan akibat fluktuasi debitpeluapan.Dari fenomena itu puncak dan tubuhbendung perlu dilindungi bahan</p><p>Jumal Irigasi - Vol.4, No.1, Juni 2009</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 9/15</p><p>8</p><p>bangunan yang kuat terhadap erosi danhisapan. Biasanya dipakai batu candi,beton kualltas tinggi (misal K 275), pelatbaja, atau rei kereta api bekas.4.1.7. Lining Saluran PasanganBatu KaliYang melandasi dari teori ini adalah dariKP. 03 Standar Pereneanaan Irigasi.Minimum ketebalan lining saJuran daripasangan batu adalah 30 em danketebalan untuk beton paling sedikit 8</p><p>em untuk saluran kedlmengalirkan debit6 m3 / detlk, sedangkanuntuk saluran besar.Untuk beton bertulang maksimumketebalannya 7 em, maksimumkeeepatan untuk aliran subkritikaldirekomendasikan sebagai berikut :- Untuk lining pasangan batu = 2 rn/dtk- Untuk lining dari beton = 3 m/dtk</p><p>yang dapatmaksimumtebal 10 em</p><p>Lin ing pa san gan b atu p ada d asa rd an ta lu d s alu ra nL in in g d a ri beton/beton b ertu la ng p ad a d asa rd an ta lu d sa lu ra n</p><p>Gambar6. P oto nga n m elin ta ng salu ran d ari ko nstruks i p asa nga n ba tu d an b eton</p><p>Sedangkanuntuk tinggi jagaan saluran yang dilining sebagai berikut :Debit Timbunan (F) Lining (F1)M3/detik Meter Meter&lt; 0,5 0,40 0,200,5 - &lt; 1,5 0,50 0,201,5 - &lt; 5,0 0,60 0,255,0 -&lt; 10,0 0,75 0,3010,0 - &lt; 15,0 0,85 0,40&gt; 15,0 1 _ L 0 0 050</p><p>Jurna/lrigasi - Vol. 4, No. 1/ Juni 2009 9</p></li><li><p>5/11/2018 Jurnal Irigasi</p><p> 10/15</p><p>4.2. Pengumpulan dataPengumpulan data dilakukan denganmeneJitinotulen rapat asistensi dan hasilperencanaan irigasi yang dipilah sejaksebelum dan sesudah diterbitkannyaSPI-KP 02, KP 03, dan KP 04 tahun1986. Kebenaran data dan informasidicek dengan wawancara langsung kekonsultan perencana irigasi tersebut.Oisamping itu pengumpulan data jugadilakukan langsung di lapangan denganmengunjungi beberapa daerah irigasiuntuk mengecek kebenaran 7 substansiperencanaan fanatik tersebut , danrnenqecek kinerjanya serta lrnpllkaslbagian bangunan yang direncanakan.Aspek yang menyangkut tidak efisiennyasubstansi perencanaan, kesulitanpengoperasian, kerusakan yang tim...</p></li></ul>