49
IMPEMENTASI KEBIJAKAN DESA MANDIRI PANGAN DI KABUPATEN WONOGIRI Joko Triwiyatno BPSDMD Prov Jawa Tengah

IMPEMENTASI KEBIJAKAN DESA MANDIRI PANGAN DI …bpsdmd.jatengprov.go.id/v1/sites/default/files/Power Point Joko... · Ketahanan Pangan • Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya

Embed Size (px)

Citation preview

IMPEMENTASI KEBIJAKAN DESA MANDIRI PANGAN DI

KABUPATEN WONOGIRI

Joko TriwiyatnoBPSDMD Prov Jawa Tengah

Kebijakan Pangan di Indonesia

Ir. Soekarno

•Program swa‐sembada beras melalui 

program kesejahteraan kasimo.

•Mendirikan BAMA, YUBM dan YBPP

•Jagung sembagai pengganti nasi

Soeharto• Revolusi Pangan dengan investasi di bidang pertanian

• Meningkatkan peran BULOG• VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng)

• Panca Usaha Tani, BIMAS, OK dan IK

Abdurrahman Wahid Baharudin Jusuf Habibie

“tidak berfokus dalam ketahanan pangan karena sibuk dengan urusan mempersatukan bangsa pasca Revormasi”

Megawati Soekarno Putri• Perpu No. 7 tahun 2003

• Menghidupkan kembali BULOG

Susilo Bambang Yudhoyono• Subsidi bibit, pupuk, bunga kredit dan penyuluhan

Ir. Joko Widodo• Pembangunan infrastruktur pertanian seperti: waduk, bendungan, dan irigasi

Peran Desa Mandiri Pangan

• Indikator penting dalam RPJM• Berkaitan dengan keberlangsungan hidup berkelanjutan

• Penguatan otonomi desa dalam UU No. 6 tahun 2014

• Menyangkut partisipasi masyarakat 

Ketahanan Pangan• Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari kersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, 

merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan.

Kedaulatan Pangan• Kedaulatan pangan merupakan hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang menjamin hak atas 

pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber 

daya lokal.

Kemandirian Pangan• kemandirian pangan merupakan kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, 

ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.

Penganekaragaman PanganPenganekaragaman pangan merupakan upaya peningkatan ketersediaan 

dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal. Pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan , dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman. 

Rumusan Masalah• Bagaimana implementasi kebijakan Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Wonogiri?

• Faktor apa saja yang mendukung penerapan Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Wonogiri?

Tujuan Penelitian• Untuk mengetahui Implementasi Kebijakan Desa Madiri Pangan di Kabupaten Wonogiri, dari aspek struktur birokrasi, sumberdaya, disposisi, dan komunikasi

• Untuk mengetahui faktor yang mendukung penerapan Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Wonogiri

Landasan Teori

• Implementasi Kebijakan merupakan kegiatan yang kompleks dengan begitu banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan.

• George C. Edward III berusaha menjawab dua pertanyaan tersebut dengan mengkaji empat faktor atau variabel dari kebijakan yaitu :– struktur birokrasi, – sumber daya , – komunikasi dan – disposisi.

Struktur Birokrasi• Birokrasi merupakan salah‐satu institusi yang paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi pelaksana kegiatan.

6 karakteristik Birokrasi• Birokrasi diciptakan sebagai instrumen dalam menangani keperluan‐keperluan publik (public affair).

• Birokrasi merupakan institusi yang dominan dalam implementasi kebijakan publik yang mempunyai kepentingan yang berbeda‐beda dalam setiap hierarkinya.

• Birokrasi mempunyai sejumlah tujuan yang berbeda.• Fungsi birokrasi berada dalam lingkungan yang kompleks dan luas.

• Birokrasi mempunyai naluri bertahan hidup yang tinggi dengan begitu jarang ditemukan birokrasi yang mati

• Birokrasi bukan kekuatan yang netral dan tidak dalam kendali penuh dari pihak luar.

• Ripley dan Franin dalam Winarno (2005:149‐160

Sumber Daya• Schermerchorn, Jr (1994:14) mengelompokkan sumberdaya ke dalam: “Information, Material, Equipment, Facilities, Money, People”. SementaraHodge (1996:14)

Disposisi • Menurut Edward III dalam Winarno (2005:142‐143) mengemukakan ”kecenderungan‐kecenderungan atau disposisi merupakan salah‐satu faktor yang mempunyai konsekuensi penting bagi implementasi kebijakan yang efektif”.

Komunikasi • Menurut Agustino (2006:157); ”komunikasi merupakan salah‐satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik, komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik”. 

Implementasi Kebiakan Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Wonogiri

Deskripsi Wilayah• Kabupaten Wonogiri, dengan 

luas wilayah 182.236,02 Ha secara geografis terletak pada garis lintang 7 0 32' sampai 8 0 15' dan garis bujur 110 0 41' sampai 111 0 18' dengan batas‐batas sebagai berikutv

Topografi• Dengan topografi daerah yang tidak rata, perbedaan antara satu 

kawasan dengan kawasan lain membuat kondisi sumber daya alam juga saling berbeda. Di Wonogiri hampir sebagian besar tanahnya tidak terlalu subur untuk pertanian, berbatuan dan kering membuat penduduknya lebih banyak merantau (boro).

Waduk Gajah MungkurGajah Mungkur yang selain menjadi sumber mata pencaharian petani, nelayan dan sumber irigasi persawahan juga merupakan aset wisata yang telah banyak dikunjungi oleh para wisatawan domestik.

4 Tahap Implementasi Desa Mandiri Pangan

• Persiapan• Penumbuhan• Pengembangan• Kemandirian

Tahap Persiaapan• Tahap Pertama yaitu Tahap Persiapan dimulai pelaksanaannya pada tahun 2012 dengan fokus pada 3 (tiga) desa yaitu:

– Desa Gesing di Kecamatan Kismantoro– Desa Purnanganom di Kecamatan Giritontro– Desa Gumiwanglor di Kecamatan Wuryantoro

• Tahap persiapan dilakukan dengan ruang lingkup sebagai berikut:– Penetapan Kelompok Sasaran– Sosialisasi

Tahap Penumbuhan• Tahap penumbuhan dilakukan pada tahun 2013 dengan menambahkan atau menumbuhkan lagi Desa Mandiri Pangan di Kabuaten Wonogiri yang meliputi – Desa Kedawung di Kecamatan Jatiroto– Desa Tempursari di Kecamatan Sidoharjo– Desa Joho di Kecamatan Pracimantoro 

Tahap Pengembangan dan Kemandirian

• dilakukannya pendampingan maupun pemberian bantuan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 

Dukungan Pemerintah Wonogiri

• Pendirian Lumbung Pangan di masing‐masing desa

• Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di beberapa lokasi

• Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM)

Faktor Pendukung Implementasi

• Berdasarkan Hasil Pengamatan di lapangan, terdapat 3 (tiga) elemen yang berperan dalam mendukung pelaksanaan Desa Mandiri Pangan, yaitu 

• Peranan Stakeholder, • Kapasitas Dasar masyarakat, dan • Partisipasi Masyarakat.Berdasarkan analis faktor‐faktor diatas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor yang dapat meningkatkan keberhasilan Program Desa Mandiri Pangan adalah Faktor Partisipasi Masyarakat.

Isu Strategis Implementasi Desa Mandiri Pangan

• Proses pembentukan Desa Mandiri Pangan pada implementasinya belum menampakkan substansi sesungguhnya dari Desa Mandiri Pangan,

• Persyaratan sebagai kelompok penerima manfaat masih dirasakan bias, mengingat ada berbagai definisi atau konsep tentang kemiskinan dan belum sinkronya data,

• Lemahnya proses pengembalian modal atau pelaksanaan mekanisme modal bergulir/dana bergulir (revolving fund),

• Sosialisasi belum dilakukan dengan maksimal,

Lanjutan• Pendampingan hanya dilakukan pada saat pengambilan 

dana/anggaran, belum pada pendampingan yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas masyarakat ataupun kelompok penerima manfaat,

• Program Desa Mandiri Pangan dan kegiatan pendukungnya dirasakan masih bersifat sektoral dan belum terintegrasi dengan berbagai kegiatan yang diampu oleh masing‐masing Perangkat Daerah maupun stakeholder yang terkait.

• Belum dilakukan evaluasi secara berkelanjutan dan komprehensif terhadap Program Desa Mandiri Pangan dan kegiatan pendukung atau replikasi lainnya.

Analisis Kajian Teori Kebijakan Desa Mandiri Pangan di Lokus 

Penelitian

Aspek Birokrasi• Telah dilaksanakan secara berjenjang oleh lembaga terkait

• Perlunya pembetukan kelompok penerima, penguatan ornganisasi secara berjenjang.

• Pembuatan SOP (Standar Operasional Prosedur)

• Perlunya Keterpaduan Program kegiatan instansi terkait

Aspek sumberdaya• Information

• Perlunya pemberian informasi terkait materi penyuluhan yang sesuai

• Material– Ketersediaan bahan metah yang medukung kegiatan antara lain pengembangan ternak kambing

• Equipment– Bantuan alat pengelolaan pangan telah disediakan pemerintah

• Facilitation– Penyuluh dapat menjadi fasilitator yang menjembatani anggota kelompok afinitas untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan

• Money– Alokasi dana  belum mencukupi

• Peoples– Adanya dampak positif dalam perubahan pola pikir masyarakat terhadap pola konsumsi, ases, distribusi serta pemasaran pangan.

Disposisi• Perlunya pemberian insentif dalam pembagian peran pelaksanaan program Desa Mandiri Pangan, baik dari kabupaten maupun tingkat kelompok.

Komunikasi • Transmisi

– Peran fasilitator mutlk diperlukan• Kejelasan

– Masih ditemukan kelemahan dalam aspek sosialisasi

• konsistensi– Masih dirasakan kurang sosialisasi dan internalisasi, baik dalam aspek frekuensi maupun dalam aspek substasi

Kesimpulan• Pelaksanaan program Desa Mandiri Pangan dapat dilaksanakan melalui empat tahap, diantaranya:– Tahap persiapan– Tahap pengembangan– Tahap pertumbuhan– Tahap kemandirian

• Partisipasi masyarakat dengan berbagai komponen yang ada di dalamnya merupakan faktor utama yang menjadi daya ungkit bagi keberhasilan Program Desa Mandiri Pangan.

• Dukungan dari pemerintah kabupaten Wonogiri berupa:– Pendirian Lumbung Pangan di masing‐masing desa– Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di beberapa lokasi– Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM)

• Dampak program Desa Mandiri Pangan di kabupaten Wonogiri dapat dilihat dari manfaatnya dapat meningkatkan pangan dan gizi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menyerap tenaga kerja. Sedangkan hasil (outcomes) yaitu tersedianya modal usaha, sarana dan prasarana semakin lengkap dan berkurangnya penduduk miskin.

• Dampak perubahan pola pikir rumah tangga miskin peserta program positif, cukup nyata pada kesadaran berkelompok, pendidikan, kesetaraan gender serta bantuan permodalan  dan kurang nyata pada aspek aplikasi teknologi, pemanfaatan sumberdaya, kepercayaan diri dalam kegiatan produktif, kewirausahaan dan kesadaran menabung.

• Program Desa Mandiri Pangan dapat merupakan koreksi terhadap program parsial‐sektoral‐indivudual yang dinilai tidak efektif dalam pengentasan kemiskinan di perdesaan. Dengan perluasan implementasi Demapan diharapkan terjadi peningkatan efektivitas dan efisiensi program pembangunan dan akselerasi pengentasan kemiskinan di perdesaan.

Saran/Rekomendasi• Perlu penguatan kapasitas kelembagaan, baik kelompok 

penerima manfaat maupun kelembagaan keuangan desa. • Perlu dilakukan evaluasi yang berkelanjutan terhadap Program 

Desa Mandiri Pangan maupun kegiatan pendukung lainnya. • Pemberian materi penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan 

anggota kelompok afinitas sehingga persepsi anggota kelompok dapat meningkat dan pengaruh pelaksanaan program desa mandiri pangan terhadap keberhasilan desa mandiri pangan dapat terlihat pengaruhnya

• Perlu adanya pemprioritasan bantuan usaha ekonomi produktif

• Penguatan kelompok afinitas• Perlu adanya kebijakan pemerintah yang mendukung dan berpihak ke masyarakat dengan memberikan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan serta kemudahan akses usaha bagi masyarakat

• Memaksimalkan dan mengefektifkan sosalisasi• Perlunya keterlibatan LSM, Perguruan Tinggi,swasta (melalui Corporate Social Responsibility/CSR), dan BUMN (melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan) dalam kegiatan pendampingan

• Komitmen daerah dalam aspek pembinaan dan pembiayaan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat

SEKIAN