Goosebumps RambutSetan

  • View
    8

  • Download
    4

Embed Size (px)

Transcript

  • Goosebumps - Rambut SetaneA_A f|x

    PDF & ePub by FotoSelebriti.Net

  • 1AKU tidak habis pikir kenapa begitu banyak anjing liar di kotaku.Dan aku lebih heran lagi kenapa harus aku yang mereka incar?Jangan-jangan mereka sembunyi di balik semak-semak sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Lalu mereka saling berbisik, "Kaulihat anak berambut pirang itu? Itu Larry Boyd-ayo, kita kejar dia."Aku berlari sekencang mungkin. Tapi tidak mudah untuk berlari kencang sambil membawa kotak gitar. Kotak itu membentur-bentur kakiku.Dan aku juga terpeleset-peleset di salju.Kawanan anjing itu semakin dekat. Semua melolong dan menyalak menakut-nakutiku.Hmm, usaha kalian memang berhasil! pikirku. Aku ngeri. Ngeri setengah mati!Kata orang sih, anjing bisa tahu kalau kita takut. Tapi biasanya aku tidak takut anjing. Sebenarnya, aku justru senang anjing.Aku cuma takut kalau ada segerombolan anjing yang berlari mengejarku sambil meneteskan air liur, seakan-akan hendak menerkam danmengoyak-ngoyakku. Seperti sekarang.Tergopoh-gopoh aku berusaha menyelamatkan diri, dan nyaris jatuh ke gundukan salju setinggi lutut. Aku menengok ke belakang. Anjinganjingitu terus mendekat.Ini tidak adil! pikirku dengan getir. Mereka berkaki empat, sedangkan aku cuma punya dua!Seperti biasa gerombolan itu dipimpin anjing hitam besar dengan mata hitam beringas. Dia menyeringai, dan' giginya yang tajam danruncing kelihatan jelas."Pulang! Ayo pulang! Anjing-anjing nakal! Pulang!"Percuma saja aku berteriak-teriak. Mau pulang ke mana mereka? Mereka tidak punya rumah!"Pulang! Ayo pulang!"Sepatu botku tergelincir di salju, dan gitarku yang berat nyaris membuatku terjatuh. Tapi entah bagaimana aku berhasil menjagakeseimbangan dan terus melangkah maju.Jantungku berdegup-degup. Tubuhku serasa terbakar, padahal suhu udara saat itu beberapa derajat di bawah nol.Salju di sekelilingku begitu putih sehingga aku terpaksa memicingkan mata supaya tidak silau. Aku berusaha menambah kecepatan, tapiotot-otot kakiku sudah mulai kram. 'Tamatlah riwayatku! pikirku pasrah."Aduh!" Kotak gitar yang berat membentur pinggangku.Aku melirik ke belakang. Anjing-anjing itu melompat-lompat seakan-akan tak kenal lelah. Semua melolong dan menggonggong sambilmengejar.

  • Semakin dekat. Semakin dekat."Pulang! Anjing-anjing nakal! Bandel! Pulang!"Kenapa harus aku?Aku anak baik. Sungguh. Silakan tanya siapa saja. Mereka pasti akan bilang-Larry Boyd, anak dua belas tahun paling ramah di kota ini!Jadi kenapa arus aku yang dikejar-kejar?Terakhir kali aku menyelamatkan diri dengan melompat ke mobil yang diparkir di, pinggir jalan dan menutup pintunya, persis waktu merekamenerkam. Tapi kali ini gerombolan anjing itu sudah terlalu dekat. Dan semua mobil di sepanjang jalan tertutup salju. Sebelum aku sempatmembuka pintu salah satu mobil, aku pasti sudah jadi santapan mereka!Jarak ke rumah Lily tinggal setengah blok. Rumahnya sudah kelihatan di pojok di seberang jalan. Itu satu-satunya kesempatanku.Kalau saja aku bisa sampai ke rumah Lily aku bisa-"ADUUUH!" 'Kakiku tersandung pada batu kecil yang tersembunyi di bawah salju. Kotak gitarku terlepas dari tanganku dan terpental.Aku terjerembab."Tamatlah riwayatku," aku mengerang. "Kali ini aku takkan lolos.

    2SEMUANYA jadi putih.Dengan susah payah aku berusaha bangkit. Terburu-buru kutepis salju yang menempel di wajahku.open in browser customize fcrowd.comAnjing-anjing itu menyalak garang."Hus! Pergi! Ayo pergi!" Suara lain. Suara yang sangat kukenal. "Pergi, kubilang! Ayo pergi!"Suara anjing-anjing itu bertambah pelan.Kutepis salju lembab yang menutupi mataku."Lily!" aku berseru dengan gembira. "Kok kau ada di sini?"Dia mengayunkan sekop salju yang berat ke arah anjing-anjing itu. "Hus! Pergi! Ayo!"Anjing-anjing yang semula masih menggeram kini merintih-rintih tertahan. Satu per satu mereka mulai mundur. Anjing hitam raksasadengan mata hitam pun menundukkan kepala dan membalik.Yang lain mengikutinya."Lily-mereka tunduk padamu!" aku kembali berseru dengan lega. Pelan-pelan aku berdiri dan menepis-nepis salju dari jaket biruku."Tentu saja," sahut Lily sambil nyengir. "Masa kau tidak tahu kalau aku paling ditakuti di daerah sini, Larry? Semuanya tunduk padaku."Sebenarnya penampilan Lily Vonn sama sekali tidak menakutkan. Umurnya dua belas, sama seperti aku, tapi tampangnya masih sepertianak kecil. Dia pendek dan kurus dan, ehm... lumayan manis. Rambutnya

  • yang pirang dipotong sebatas dagu dan dibiarkan menutupikeningnya.Yang aneh pada Lily adalah matanya. Yang satu biru, yang satu lagi hijau. Tak ada yang percaya bahwa kedua matanya berbeda warnasampai mereka melihatnya sendiri. ,Kutepis salju yang menempel di mantel dan lutut celana jeans-ku. Lily mengulurkan kotak gitarku. "Moga-moga tahan air," gumamnya.Aku menoleh ke jalan. Anjing-anjing itu kembali menyalak-nyalak sambil mengejar seekor tupai."Aku melihatmu dari jendela kamarku tadi," Lily berkata ketika kami menuju rumahnya. "Kenapa sih kau selalu dikejar anjing?"Aku angkat bahu. "Mana aku tahu?" sahutku. "Aku sendiri heran." Salju yang menutupi trotoar bekersik-kersik di bawah sepatu bot kami.Lily berjalan di depan. Aku menapakkan kaki pada jejak yang ditinggalkannya.Kami menunggu sebuah mobil melintas, lalu menyeberang dan memasuki pekarangan rumah Lily."Kenapa kau telat?" tanya Lily."Aku disuruh ayahku membersihkan salju di depan garasi," jawabku. Tudung jaketku rupanya kemasukan salju, yang sekarang terasamengalir di tengkukku. Aku menggigil. Aku sudah tidak sabar masuk ke rumah Lily yang hangat.Yang lain ternyata sudah berkumpul di ruang tamu Lily. Aku melambaikan tangan kepada Manny, Jared, dan Kristina. Manny sedangberlutut dan mengotak-atik amplifier gitarnya. Sekonyong-konyong gitarnya mengeluarkan suara melengking yang membuat kami semuatersentak kaget.Manny jangkung; - kurus, dan bertampang agak bloon, dengan senyum yang menceng dan rambut hitam ikal yang lalu berkesan acakacakan.Jared juga berumur dua belas seperti yang lain, tapi tampangnya seperti anak delapan tahun. Rasanya kami semua belum pernahmelihat dia tanpa topi Raiders-nya yang berwarna hitam dan perak. Kristina agak gendut. Rambutnya keriting dan merah seperti wortel. Diamemakai kacamata dengan bingkai plastik berwarna biru.Kubuka mantelku yang basah kemudian kugantungkan pada gantungan di dekat pintu masuk.Rumah Lily terasa hangat dan nyaman. Kurapikan sweterku lalu bergabung dengan yang lain.Manny menoleh dan tertawa keras-keras. "Hei, lihat tuh-rambut Larry berantakan! Cepat, foto dia!"Semua tertawa.Mereka selalu berkomentar tentang rambutku. Padahal bukan salahku kalau rambutku memang bagus, ya, kan? Rambutku panjang, pirang

  • dan berombak."Hairy Larry!" Lily berseru.Ketiga temanku yang lain tertawa lalu ikut bersenandung. "Hairy Larry! Hairy Larry! Hairy Larry!"Aku langsung merengut dan menyibakkan rambut. Mukaku mendadak terasa panas.Aku paling tidak suka diolok-olok. Aku selalu kesal, dan mukaku selalu memerah karenanya. Mungkin justru karena itu, Lily dan yang lainbegitu getol mengolok-olokku. Ada saja ide mereka. Kalau bukan soal rambutku, ya soal telingaku yang besar, atau soal apa saja yangkebetulan terlintas dalam benak mereka.Dan aku selalu kesal. Dan mukaku selalu merah. Dan mereka semakin menjadi-jadi."Hairy Larry! Hairy Larry! Hairy Larry!"Huh, dasar!Sebenarnya sih, aku senang berteman dengan mereka. Rasanya kami tidak pernah bosan kalau sedang bersama-sama. Kami berlima jugamembentuk band. Minggu ini namanya The Geeks. Minggu lalu, kami pakai nama The Spirit. Band kami memang sering berganti-gantinama.Lily punya keping emas yang dipasangnya sebagai liontin pada kalung emas. Keping itu pemberian kakeknya, dan kakeknya bilang,keping emas itu hasil jarahan bajak laut.Lily pernah mengusulkan nama Pirate Gold untuk band kami. Tapi menurutku nama itu kurang keren. Dan Manny, Jared, dan Kristinasependapat denganku.Nama band kami - The Geeks - jauh lebih keren dibandingkan Howie and the Shouters. Itu nama band yang bakal jadi lawan kami dalamkontes Battle of the Bands di sekolah.Sampai sekarang kami masih heran bahwa Howie Hurwin nekat memakai namanya sendiri untuk bandnya itu! Dia cuma pemain drum.Penyanyinya adalah Marissa, adik perempuannya yang sok "Kenapa nama band-mu bukan Marissa and the Shouters?" aku sempatbertanya padanya."Soalnya jarang ada kata yang bunyinya mirip Marissa," jawab Howie."Hah? Memangnya ada kata yang bunyinya mirip Howie?" tanyaku heran."Ada, Zowie!" sahutnya. Lalu dia tertawa dan mengacak-acak rambutku.Dasar konyol.Howie dan adiknya tidak disukai di sekolah.Dan The Geeks sudah tidak sabar untuk menyapu the Shouters dari panggung.Sayang sekali kita tidak punya pemain bas," Jared mengeluh ketika kami menyetem alat-alat.

  • "Juga pemain saksofon atau trompet," Kristina menambahkan sambil mengeluarkan beberapa pick gitar berwarna pink dari kotak gitarnya."Ah, begini juga sudah bagus kok," Manny berkomentar. Dia masih berlutut dan mengotak-atik kabel dari gitar ke amplifier. "Suara tigagitar benar-benar mantap. Apalagi kalau kita pakai fuzztone yang disetel sampai mentok"Kristina, Manny, dan aku sama-sama main gitar. Lily penyanyi. Dan Jared pegang keyboard. Keyboard-nya dilengkapi drum synthesizerdengan sepuluh irama berbeda. Jadi bisa dibilang kami Juga punya pemain drum.Begitu amplifier Manny siap dipakai, kami mencoba membawakan lagu Rolling Stones. Tapi Jared tidak berhasil menemukan irama drumyang cocok pada syntheslzer-nya, sehingga kami terpaksa bermain tanpa iringan drum.Begitu lagunya selesai aku segera berseru "Ayo kita coba lagi!"Yanglain langsung menggerutu, "Larry, tadi sudah bagus, kok!" Lily berkomentar. "Kenapa mesti diulang lagi?"Gitar pengiringnya belum pas," kataku.Kau yang belum pas!" balas Manny sambil mengerutkan muka."Larry maunya memang serba sempurna, Manny," ujar Kristina. Masa kau lupa sih?"Mana mungkin aku lupa?" Manny menyahut dengan kesal. Mana pernah sih kita bisa memainkan