of 66 /66
GAMBARAN AUDIOLOGI PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG TENGGOROK RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI TAHUN 2012-2014 Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN Oleh: WULAN ROUDOTUL ZANAH 1111103000038 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1436H / 2015M

GAMBARAN AUDIOLOGI PASIEN OTITIS MEDIA ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/26427...GAMBARAN AUDIOLOGI PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG

Embed Size (px)

Text of GAMBARAN AUDIOLOGI PASIEN OTITIS MEDIA...

  • GAMBARAN AUDIOLOGI PASIEN OTITIS

    MEDIA SUPURATIF KRONIK DI POLIKLINIK

    TELINGA HIDUNG TENGGOROK RUMAH SAKIT

    UMUM PUSAT FATMAWATI TAHUN 2012-2014

    Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk

    memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

    Oleh:

    WULAN ROUDOTUL ZANAH

    1111103000038

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1436H / 2015M

  • ii

    LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

    Dengan ini saya menyatakan bahwa:

    1. Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan

    untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN

    Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

    cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau

    merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

    menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Ciputat, Januari 2015

    Wulan Roudotul Zanah

  • iii

    GAMBARAN AUDIOLOGI PASIEN OTITIS MEDIA

    SUPURATIF KRONIK DI POLIKLINIK TELINGA

    HIDUNG TENGGOROK RUMAH SAKIT UMUM

    PUSAT FATMAWATI TAHUN 2012-2014

    Laporan Penelitian

    Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan

    Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

    Kedokteran (S.Ked)

    Oleh :

    Wulan Roudotul Zanah

    NIM : 1111103000038

    Pembimbing 1 Pembimbing 2

    dr. Fikri Mirza Putranto, SpTHT-KL dr. Ibnu Harris Fadillah, SpTHT-KL

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1436H / 2015M

  • iv

    LEMBAR PENGESAHAN

    Laporan Penelitian berjudul Gambaran Audiologi Pasien Otitis Media

    Supuratif Kronik di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok Rumah Sakit

    Umum Pusat Fatmawati Tahun 2012-2014 yang diajukan oleh Wulan Roudotul

    Zanah (NIM 1111103000038), telah diujikan dalam sidang di Fakultas

    Kedokteran dan Ilmu Kesehatan pada Januari 2015. Laporan penelitian ini telah

    diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked)

    pada program Studi Pendidikan Dokter.

    Ciputat, Januari 2015

    DEWAN PENGUJI

    Ketua Sidang

    dr. Fikri Mirza Putranto, SpTHT-KL

    Pembimbing I

    dr. Fikri Mirza Putranto, SpTHT-KL

    Pembimbing II

    dr. Ibnu Harris Fadillah, SpTHT-KL

    Penguji I

    dr. Flori Ratna Sari, Ph.D

    Penguji II

    drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D

    PIMPINAN FAKULTAS

    Dekan FKIK UIN

    Prof. Dr. (hc) dr. MK. Tadjudin, Sp.And

    Kaprodi PSPD

    dr. Witri Ardini, M.Gizi, Sp.GK

  • v

    KATA PENGANTAR

    Segala puji dan syukur kita panjatkan bagi Allah SWT atas rahmat dan

    karunia-Nya yang telah memberikan kesehatan dan pertolongan-Nya sehingga

    penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul GAMBARAN

    AUDIOLOGI PADA PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK DI

    RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI TAHUN 2012-2014.

    Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

    Penelitian ini terwujud atas bimbingan, masukan, dukungan, dan saran dari

    semua pihak. Maka itu, dalam kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan

    terima kasih yang sebesar besarnya kepada:

    1. Prof. Dr (hc). dr. M. K. Tadjudin, Sp.And, dr. HM.Djauhari

    Widjajakusumah,AIF.,PFK, Dr. H. Arief Sumantri, SKM, M.Kes, dan Dr.

    Delina Hasan, M.Kes, Apt selaku Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas

    Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    2. dr.Witri Ardhini, M.Gizi, Sp.GK selaku Ketua Program Studi Pendidikan

    Dokter serta seluruh dosen Program Studi Pendidikan Dokter yang telah

    begitu banyak membimbing dan memberikan kesempatan saya untuk

    menimba ilmu selama saya menjalani masa pendidikan di Fakultas

    Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    3. dr. Fikri Mirza Putranto, SpTHT-KL dan dr. Ibnu Harris Fadillah, SpTHT-

    KL, selaku dosen pembimbing atas bimbingan, masukan, arahan, waktu,

    tenaga, dan dukungan yang telah diberikan selama penyusunan skipsi ini.

    4. dr. Flori Ratna Sari, Ph.D selaku penanggung jawab modul Riset Program

    Studi Pendidikan Dokter 2011 yang selalu mengingatkan peneliti untuk

    segera menyelesaikan penelitian.

    5. drg. Danik Hariyani, Sp.KGA dan staff Bagian Pendidikan dan Pelatihan

    RSUP Fatmawati yang telah membantu peneliti untuk mendapatkan izin

    melakukan penelitian di RSUP Fatmawati.

  • vi

    6. dr. Zainal Adhim, SpTHT-KL, PHD dan dr. Endang Poedjiningsih,

    M.epid, selaku komisi etik yang telah memberikan izin kepada peneliti

    untuk melakukan penelitian di RSUP Fatmawati.

    7. dr. Syafrudin, SpTHT-KL selaku Ketua SMF THT RSUP Fatmawati yang

    telah memberikan ijin dan juga masukan serta dukungannya kepada

    peneliti untuk melakukan penelitian di RSUP Fatmawati.

    8. dr. Diana Rosalina, SpTHT-KL atas bimbingan, dukungan dan

    masukannya kepada peneliti selama penyusunan penelitian ini.

    9. Ibu Dewi, Ibu Dian, Pak Kholil dan seluruh staff Instalasi Rekam Medik

    dan Pusat Informasi Kesehatan RSUP Fatmawati yang telah meluangkan

    untuk mencari rekam medik di RSUP Fatmawati.

    10. Kepada kedua orangtua H. Enan Karmana, SH dan Hj. Neneng

    Nurhasanah terima kasih banyak yang sebesar besarnya atas doa,

    dukungan, kasih sayang, perhatian dan semangat yang terus diberikan

    tiada hentinya kepada penulis dari awal sampai akhir pembuatan penelitian

    ini. Semoga Allah SWT membalas semua yang telah diberikan kepada

    penulis.

    11. Kepada kakak dan adik adikku, dr. Eka Putri M, Kurnia Sobar

    Darmawan, dan Mohamad Bintang Nurihram terima kasih yang telah

    memberikan perhatian, semangat, dan dukungan yang sebanyak

    banyaknya.

    12. Terima kasih kepada keluarga besar yang telah memberikan doa,

    dukungan, dan semangat demi kelancaran penelitian ini.

    13. Kepada teman teman, Avissa Mada Vashti, Annisa Zakiroh, Silmi Lisani

    Rahmani, Farah Nabilla Rahmah, Rissa Adinda Putri, Riwi Bedori

    Larasatty dan seluruh teman teman seperjuangan di PSPD UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta khususnya angkatan 2011 terima kasih atas

    keceriaan, dukungan, semangat dan bantuan yang diberikan selama

    penyusunan penelitian ini.

    14. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan penelitian ini yang

    tidak bisa disebutkan satu persatu nama namanya.

  • vii

    Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna karena

    keterbatasan sarana dan ilmu yang dimiliki penulis. Kritik dan saran yang

    membangun akan penulis terima sebagai masukan dan dukungan bagi penulis.

    Penulis berharap penelitian yang jauh dari sempurna ini dapat bermanfaat bagi

    pembaca dan semua pihak.

    Jakarta, Januari 2015

    Penulis

  • viii

    ABSTRAK

    Wulan Roudotul Zanah. Program Studi Pendidikan Dokter. Gambaran Audiologi

    Pasien Otitis Media Supuratif Kronik Di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok

    RSUP Fatmawati Tahun 2012-2014.

    Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) merupakan infeksi kronik di telinga

    tengah yang menjadi salah satu penyebab utama tingginya prevalensi ketulian di

    Indonesia. Ini merupakan penyebab tersering gangguan pendengaran pada usia sekolah.

    Pada penderita OMSK, seringkali didapatkan tuli konduktif dari hasil pemeriksaan

    audiometri. Sehingga penelitian ini dilaksanakan untuk mencari tahu gambaran audiologi

    pada pasien OMSK serta gambaran kejadiannya berdasarkan jenis OMSK, usia, jenis

    kelamin, riwayat infeksi saluran pernapasan atas dan riwayat alergi. Penelitian ini

    menggunakan metode penelitan deskriptif dengan metode potong lintang. Pengumpulan

    data diperoleh dari data rekam medis yang diambil secara consecutive sampling. Dari 106

    populasi yang ada, didapatkan sebanyak 34 sampel yang termasuk dari kriteria inklusi

    yaitu pasien dengan diagnosis OMSK dan dilakukan pemeriksaan audiometri.

    Hasil penelitian didapatkan insidensi OMSK Maligna lebih lesar dari OMSK

    Benigna (54,4%). Pada kelompok usia terbanyak adalah 20-40 tahun (41,2%), sedangkan

    jenis kelamin terbanyak adalah laki laki (58,8%). Tidak didapatkan riwayat infeksi

    saluran pernapasan atas (32,4%) dan alergi (41,2%) pada pasien. Pada OMSK Maligna didapatkan tuli konduktif (43,2%) dan tuli campur (43,2%), pada OMSK Benigna, 5 dari

    10 telinga mengalami tuli konduktif. Derajat ketulian terbanyak pada telinga dengan

    OMSK Maligna yaitu tuli sedang (24,3%) dan tuli berat (24,3%), sedangkan pada telinga

    dengan OMSK Benigna didapatkan 5 dari 10 telinga dengan derajat ketulian normal

    sampai tuli ringan. Ambang dengar pada OMSK Maligna didapatkan dengan rerata 65

    dB, sedangkan pada OMSK Benigna dengan rerata 42,8 dB dan pada telinga tanpa

    perforasi dengan rerata 22,5 dB.

    Kata kunci : OMSK Benigna, OMSK Maligna, tipe ketulian, audiometri.

  • ix

    ABSTRACT

    Wulan Roudotul Zanah. Medical Education Study Programme. Description Audiology

    Patients With Chronic Suppurative Otitis Media At Polyclinic Ear Nose and Throat

    Fatmawati Hospital in 2012-2014.

    Chronic Suppurative Otitis Media (CSOM) is a chronic infection of the middle

    ear and is one of the leading cause of deafness in Indonesia, especially among school-

    aged population. Proper assessment of deafness is done using audiometry. This study was

    conducted to depict the audiology of CSOM patients and its incident according to its type,

    patients age, sex, history of upper respiratory tract infection and allergy. This study used

    descriptive research method with cross sectional approach. Data were collected using

    consecutive sampling. From 106 patients, 34 were included in this study.

    Result showed a higher incident of malignant CSOM compared to benign CSOM

    (54,4%). The groups with the highest incident are age 20-40 (41,2%), male (58,8%),

    absence of upper respiratory tract history (32,4%), and absence of allergy (41,2%). The

    type of deafness in malignant CSOM patients were conductive (43,2%) and mixed

    (43,2%). In benign CSOM patients, 5 out of 10 ears had conductive deafness. The most

    prevalent type of deafness in malignant CSOM are moderate (24,3%) and severe (24,3%),

    whilst in benign CSOM 5 out of 10 ears had normal hearing to mild deafness. The

    average hearing threshold of malignant CSOM, benign CSOM, and unperforated ear is 65

    dB, 42,8 dB, and 22,5 dB respectively.

    Key words: Malignant CSOM, Benign CSOM, types of hearing loss, audiometry.

  • x

    DAFTAR ISI

    LEMBAR JUDUL..........................................................................................i

    LEMBAR PERNYATAAN............................................................................ii

    LEMBAR PERSETUJUAN..........................................................................iii

    LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................iv

    KATA PENGANTAR....................................................................................v

    ABSTRAK.................................................................................................viii

    ABSTRACT..................................................................................................ix

    DAFTAR ISI................................................................................................x

    DAFTAR GAMBAR.......................................................................................xiii

    DAFTAR TABEL.......................................................................................xiv

    DAFTAR LAMPIRAN................................................................................xv

    BAB I. PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang.................................................................................1

    1.2. Rumusan Masalah............................................................................3

    1.3. Tujuan Penelitian.............................................................................3

    1.3.1. Tujuan Umum...........................................................................3

    1.3.2. Tujuan Khusus.........................................................................4

    1.4. Manfaat Penelitian...........................................................................4

    1.4.1. Manfaat Bagi Peneliti.................................................................4

    1.4.2. Manfaat Bagi Instansi Terkait.....................................................4

    1.4.3. Manfaat Bagi Masyarakat...........................................................4

    BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Landasan Teori

    2.1.1. Anatomi Telinga Tengah...........................................................5

    2.1.1.1. Membran Timpani..............................................................5

    2.1.1.2. Telinga Tengah..................................................................6

    2.1.1.3. Tuba Eustachius.................................................................8

    2.1.1.4. Ossicula Auditus (Tulang Tulang Pendengaran)................10

    2.1.2. Fisiologi Telinga......................................................................10

  • xi

    2.1.3. Otitis Media Supuratif Kronik..................................................11

    2.1.3.1. Tanda dan Gejala...................................................................11

    2.1.3.2. Faktor Risiko....................................................................13

    2.1.3.3. Patogenesis......................................................................14

    2.1.3.4. Letak Perforasi......................................................................15

    2.1.3.5. Komplikasi dan Prognosis.....................................................15

    2.1.4. Ganggun Pendengaran.............................................................16

    2.1.5. Pemeriksaan Pendengaran.........................................................19

    2.2. Kerangka Teori..............................................................................22

    2.3. Kerangka Konsep...........................................................................22

    2.4. Definisi Operasional........................................................................23

    BAB III. METODE PENELITIAN

    3.1. Desain Penelitian............................................................................27

    3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................................27

    3.3. Populasi dan Sampel.......................................................................27

    3.4. Jumlah Sampel...............................................................................27

    3.5. Cara Pengambilan Sampel...............................................................28

    3.6. Kriteria Sampel..............................................................................29

    3.6.1 Kriteria Inklusi.........................................................................29

    3.6.2. Kriteria Eksklusi.....................................................................29

    3.7. Cara Kerja Penelitian......................................................................29

    3.7.1. Izin Penelitian.........................................................................29

    3.7.2. Jenis Data................................................................................29

    3.7.3. Cara Pengambilan Data............................................................29

    3.7.4. Alat Pengumpulan Data............................................................29

    3.7.5. Alur Penelitian........................................................................30

    3.8. Variabel Penelitian..........................................................................30

    3.9. Manajemen Data.............................................................................31

    3.9.1. Teknik Pengumpulan Data..........................................................31

    3.9.2. Pengolahan Data......................................................................31

    3.9.3. Analisis Data...........................................................................31

  • xii

    3.9.4. Rencana Penyajian Data...........................................................31

    3.9.5. Interpretasi Data...................................................... ...................31

    3.9.6. Pelaporan Hasil penelitian........................................................31

    3.10. Etika Penelitian............................................................................32

    BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1. Karakteristik Pasien........................................................................33

    4.2. Karakteristik Pasien dengan Keadaan Telinga....................................35

    4.3. Karakteristik Audiometri.................................................................37

    4.4. Keterbatasan Penelitian...................................................................41

    BAB V. SIMPULAN DAN SARAN

    5.1. Simpulan.......................................................................................42

    5.2. Saran............................................................................................42

    DAFTAR PUSTAKA...................................................................................43

    LAMPIRAN................................................................................................47

  • xiii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1. Bagian Telinga Luar dan Tengah Kanan............................................ 6

    Gambar 2.2. Telinga Dalam dan Tulang Tulang Pendengaran.............................7

    Gambar 2.3. Dinding Lateral dan Medial Cavum Timpani...................................9

  • xiv

    DAFTAR TABEL

    Tabel 2.1. Hasil Tes Penala............................................................................20

    Tabel 2.2. Definisi Operasional Penelitian.......................................................23

    Tabel 4.1. Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Keadaan

    Telinga dan Riwayat Penyerta........................................................................38

    Tabel 4.2. Karakteristik Pasien Berdasarkan Tipe Ketulian dan Derajat

    Ketulian.......................................................................................................40

    Tabel 4.3.1. Karakteristik Audiometri Berdasarkan AC, BC dan Ambang

    Dengar....................................................................................................................41

    Tabel 4.3.2. Karakteristik Audiometri Berdasarkan Kategori

    Frekuensi................................................................................................................42

  • xv

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1. Formulir Penelitian.....................................................................48

    Lampiran 2. Surat Keterangan Ijin Penelitian........................................................49

    Lampiran 3. Surat Persetujuan Etik.................................................................50

    Lampiran 4. Daftar Riwayat Hidup..................................................................51

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Otitis Media (OM) merupakan infeksi atau inflamasi sebagian atau

    seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-

    sel mastoid. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang

    biasanya dalam keadaan steril. Bila terjadi infeksi bakteri pada nasofaring

    dan faring, secara alami terdapat mekanisme pencegahan penjalaran

    bakteri memasuki telinga tengah oleh enzim pelindung dan bulu bulu

    halus yang dimiliki tuba eustachius. Terjadinya Otitis Media ini akibat

    tidak berfungsinya sistem pelindung tersebut. Sumbatan dan peradangan

    pada tuba eustachius merupakan faktor utama terjadinya otitis media.

    Otitis Media merupakan penyakit kedua umum anak anak setelah

    infeksi saluran pernapasan atas. Pada anak anak, semakin seringnya

    terserang infeksi saluran pernapasan atas, kemungkinan otitis media akut

    juga semakin besar. Dan pada bayi terjadinya Otitis Media dipengaruhi

    karena tuba eistachiusnya pendek, lebar dan letaknya horizontal. (1,2)

    Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) merupakan infeksi kronik

    di telinga tengah yang menjadi salah satu penyebab utama tingginya

    prevalensi ketulian di Indonesia. Hasil dari sebuah episode awal otitis

    media akut (OMA) dengan gejala adanya perforasi membran timpani

    dengan keluarnya cairan berulang. Menurut World Health Organization

    (WHO) tahun 2004, sekitar 65-330 juta orang di dunia menderita OMSK

    disertai dengan otorea, 60% diantaranya (39-200 juta) menderita kurang

    pendengaran yang signifikan. Sedangkan prevalensi OMSK di Indonesia

    secara umum adalah 3,9% dan Indonesia masuk dalam daftar negara

    dengan prevalensi OMSK tinggi. (1,3)

  • 2

    Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2005

    memperkirakan sejumlah 205 juta penduduk dunia mengalami gangguan

    pendengaran dan angka ini meningkat di tahun 2005 menjadi 278 juta

    (4,6%) dengan gradasi pendengaran sedang dan berat. Dari WHO

    Multicenter Study tahun 1998, Indonesia menduduki nomer 4 (4,6%)

    setelah Sri Lanka, Myanmar dan India. Berdasarkan hasil Survei Nasional

    Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran yang dilaksanakan di 7

    provinsi pada tahun 1993-1994 prevalensi gangguan pendengaran adalah:

    Infeksi telinga tengah (3,1%). Morbiditas terbanyak telinga tengah adalah

    Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) tipe jinak (3,0%) dan paling

    tinggi pada kelompok usia sekolah (7-18 tahun). Umunya OMSK tipe

    jinak juga disertai gangguan pendengaran. (4,5,6)

    Biasanya pada penderita OMSK didapatkan tuli konduktif. Ini

    merupakan penyebab tersering gangguan pendengaran pada usia sekolah.

    Tuli konduktif yang jarang melebihi 35 dB seringkali ditemukan pada

    pemeriksaan audiometri. Di Indonesia, OMSK merupakan penyakit yang

    paling sering menyebabkan tuli konduktif permanen. Tetapi ada pula yang

    daidapatkan tuli sensorineural. Beratnya ketulian tergantung dari besarnya

    perforasi dan letak perforasi pada membran timpani. Pada penelitian yang

    dilakukan Azevedo et al pada tahun 2007, ambang pendengaran rata rata

    pada telinga dengan OMSK adalah 40 dB dan 22 dB pada telinga

    kontralateral. (5,7,8)

    Berdasarkan data yang telah dipaparkan tersebut tentang penyakit

    OMSK yang pada umumnya penyebab tersering terjadinya gangguan

    pendengaran di negara berkembang dan salah satunya Indonesia, maka

    peneliti ingin melakukan penelitian untuk melihat gambaran audiologi

    pada pasien OMSK di RSUP Fatmawati serta gambaran kejadiannya

    berdasarkan jenis OMSK, usia, jenis kelamin, riwayat infeksi saluran

    pernapasan atas dan riwayat alergi.

  • 3

    1.2 Identifikasi Masalah

    Bagaimanakah gambaran audiologi pada penderita Otitis Media

    Supuratif Kronik di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok RSUP

    Fatmawati tahun 2012-2014?

    1.3 Tujuan Penelitian

    1.3.1 Tujuan Umum

    Untuk mengetahui gambaran audiologi pada penderita Otitis

    Media Supuratif Kronik di Poliklinik Telinga Hidung

    Tenggorok RSUP Fatmawati tahun 2012-2014.

    1.3.2 Tujuan Khusus

    Untuk mengetahui sebaran tipe Otitis Media Supuratif Kronik

    pada penderita Otitis Media Supuratif Kronik di Poliklinik

    Telinga Hidung Tenggorok RSUP Fatmawati tahun 2012-

    2014.

    Untuk mengetahui sebaran derajat ketulian pada penderita

    Otitis Media Supuratif Kronik di Poliklinik Telinga Hidung

    Tenggorok RSUP Fatmawati tahun 2012-2014.

    Untuk mengetahui sebaran tipe ketulian pada penderita Otitis

    Media Supuratif Kronik di Poliklinik Telinga Hidung

    Tenggorok RSUP Fatmawati tahun 2012-2014.

    1.4 Manfaat Penelitian

    1.4.1 Manfaat bagi peneliti

    Dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang didapat

    selama mengikuti pendidikan di Program Studi Pendidikan

    Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Menambah pengalaman melakukan penelitian terutama dalam

    bidang kesehatan.

  • 4

    1.4.2 Manfaat bagi instansi terkait

    Dapat diketahui bagaimana gambaran audiologi pada penderita

    Otitis Media Supuratif Kronik di Poliklinik Telinga Hidung

    Tenggorok RSUP Fatmawati tahun 2012-2014.

    Penelitian ini dapat menjadi data dasar khususnya di Poliklinik

    Telinga Hidung Tenggorok RSUP Fatmawati tahun 2012-2014.

    1.4.3 Manfaat bagi masyarakat

    Dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai

    gangguan pendengaran pada penderita Otitis Media Supuratif

    Kronik.

  • 5

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Landasan Teori

    2.1.1 Anatomi Telinga Tengah

    Telinga merupakan organ pendengaran dan juga keseimbangan.

    Telinga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah atau

    cavum timpani dan telinga dalam atau labyrinthus. (1,9)

    2.1.1.1 Membran Timpani

    Membran timpani atau gendang telinga adalah membrana fibrosa

    tipis yang berwarna kelabu mutiara, berbentuk bulat dengan diameter

    kurang lebih 1 cm. Terletak miring, menghadap kebawah, depan dan

    lateral. Permukaannya konkaf ke lateral, pada bagian dasar cekungannya

    terdapat lekukan kecil yang disebut umbo. Pada bagian pinggirnya tebal

    dan melekat didalam alur dalam tulang. Alur itu adalah saculus

    tympanicus, bagian atasnya berbentuk incisura. Dari sisi sisi incisura

    berjalan dua plica, plica malearis anterior dan posterior. Daerah segitiga

    kecil pada membran timpani yang dibatasi oleh plica plica disebut pars

    flaccida. Bagian lainnya disebut pars tensa. (7,9)

    Dinding medial dibentuk oleh dinding lateral telinga dalam. Bagian

    terbesar dari dinding memperlihatkan penonjolan bulat, disebut

    promontorium, yang disebabkan oleh lengkungan pertama cochlea yang

    berada dibawahnya. Bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum

    yang mengandung korpus maleus dan inkus, meluas sampai melalui batas

    membran timpani. Membran timpani tersusun oleh suatu lapisan

    epidermis dibagian luar, lapisan fibrosa dibagian tengah dimana tangkai

    maleus diletakkan, dan lapisan mukosa pada bagian dalam. Membran

    timpani sangat peka terhadap nyeri dan permukaan luarnya dipersarafi

    olen n. auriculotemporalis dan ramus auricularis n. vagus. (7,9)

  • 6

    Gambar 2.1. Bagian Telinga Luar dan Tengah Kanan

    2.1.1.2 Telinga Tengah

    Telinga tengah adalah ruang berisi udara di dalam pars petrosa ossis

    temporalis (Gambar 2.2) yang dilapisi oleh membrana mucosa. Ruang ini

    berisi tulang tulang pendengaran yang berfungsi meneruskan getaran

    membran timpani (gendang telinga) ke perilympha telinga dalam. Cavum

    timpani berbentuk celah sempit yang miring, dengan sumbu panjang

    terletak lebih kurang sejajar dengan bidang membran timpani. Di depan,

    ruang ini berhubungan dengan nasopharynx melalui tuba auditiva dan di

    belakang dengan antrum mastoideum. (9)

    Telinga tengah mempunyai atap, lantai, dinding anterior, dinding

    posterior, dinding lateral, dinding medial. (9)

  • 7

    Gambar 2.2. Telinga Dalam dan Tulang Tulang Pendengaran

    Atap dibentuk oleh lempeng tipis tulang, yang disebut tegmen

    tympani, yang merupakan bagian dari pars petrosa ossis temporalis

    (Gambar 2.2 dan 2.3). Lempeng ini memisahkan temporalis otak di dalam

    fossa cranii media. Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang

    disebelah superolateral menjadi sinus sigmodeus dan lebih ke tengah

  • 8

    menjadi sinus transversus. Lantai dibentuk di bawah oleh lempeng tipis

    tulang, yang mungkin tidak lengkap dan mungkin sebagian diganti oleh

    jaringan fibrosa. Lempeng ini memisahkan cavum tympani dari bulbus

    superior V. jugularis interna (Gambar 2.3). (7,9)

    Bagian bawah dinding anterior dibentuk oleh lempeng tipis tulang

    yang memisahkan cavum timpani dari a. carotis interna (Gambar 2.3).

    Pada bagian atas dinding anterior terdapat muara dari dua buah saluran.

    Saluran yang lebih besar dan terletak lebih bawah menuju tuba auditiva.

    Dan yang terletak lebih atas dan lebih kecil masuk ke dalam saluran

    untum m. tensor timpani (Gambar 2.2). Septum tulang tipis, yang

    memisahkan saluran saluran ini diperpanjang ke belakang pada dinding

    medial, yang akan membentuk tonjolan mirip selat. (7,9)

    Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fosa kranii

    media. Pada bagian atas dinding posterior terdapat sebuah lubang besar

    yang tidak beraturan, yaitu aditus ad antrum tulang mastoid dan

    dibawahnya adalah saraf fasialis (Gambar 2.2 dan 2.3). Di bawah ini

    terdapat penonjolan yang berbentuk kerucut, sempit, kecil, disebut

    pyramis. Dari puncak pyramis ini keluar tendo m.stapeidus. (7,9)

    2.1.1.3 Tuba Eustachius

    Tuba eustachius menghubungkan rongga telinga tengah dengan

    nasofaring yang berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada

    kedua sisi membran timpani. (7)

    Ketika tekanan seimbang, membran

    timpani bergetar secara bebas sebagai gelombang suara. Jika tekanan

    tidak menyamakan kedudukan, rasa sakit ditelinga, dan vertigo bisa

    terjadi. Tabung pendengaran juga merupakan rute untuk patogen untuk

    melakukan perjalanan dari hidung dan tenggorokan ke telinga tengah,

    menyebabkan berbagai infeksi umum pada telinga. (10)

    Bagian lateral tuba eustachius adalah tulang, sedangkan dua pertiga

    bagian medial bersifat kartilaginosa. (7)

    Tuba Biasanya tertutup, dapat

    membuka ketika kita menelan dan menguap sehingga memungkinkan

  • 9

    udara masuk atau meninggalkan telinga tengah sampai tekanan di telinga

    tengah sama dengan tekanan atmosfer. (10)

    Gambar 2.3. Dinding Lateral dan Medial Cavum Timpani

  • 10

    2.1.1.4 Ossicula Auditus (Tulang Tulang Pendengaran)

    Ossicula auditus adalah malleus, incus, dan stapes (Gambar 2.2 dan

    2.3). Maleus merupakan tulang pendengaran terbesar dan terdiri atas

    caput, collum, processus longum atau manurium, sebuah processus

    anterior dan processus lateralis. Caput mallei berbentuk bulat dan

    bersendi di posterior dengan incus. Collum mallei adalah bagian dibawah

    caput. Manubrium mallei berjalan ke bawah dan belakang dan melekat

    dengan permukaan medial membran timpani. Incus mempunyai corpus

    yang besar dan dua crus. Corpus incudis berbentuk bulat dan besrsendi

    anterior dengan caput mallei. Crus longum berjalan ke bawah dibelakang

    dan sejajar dengan manubrium mallei. Sedangkan crus breve menonjol ke

    belakang dan diletakkan pada dinding posterior cavum timpani. (9)

    Stapes mempunyai caput, collum, dua lengan dan juga sebuah basis.

    Caput stapedis kecil dan bersendi. Sedangkan collum berukuran sempit

    dan merupakan tempat insersio m.stapedius. Kedua lengan melekat pada

    basis yang lonjong. Pinggir basis diletakkan pada pinggir fenestra

    vestibuli oleh sebuah cincin fibrosa yang disebut ligamentum annulare. (9)

    2.1.2 Fisiologi telinga

    Fungsi telinga sebagai alat pendengaran adalah menangkap dan

    mendengar bunyi-bunyi yang datang dari eksternal, dan sebagai alat

    keseimbangan. Bunyi yang datang berupa gelombang atau getaran

    dihantarkan udara ditangkap oleh daun telinga. Getaran tersebut masuk ke

    meatus akustikus eksternus dan menggerakkan membran timpani,

    gelombang tersebut diteruskan ke telinga tengah melalui tulang-tulang

    pendengaran yang akan mengamplifikasikan getaran melalui daya ungkit

    tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran luas

    membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah

    dimaplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakan tingkap

    lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran

  • 11

    diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfe,

    sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membrane basilaris dan

    membrane tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang

    menyebabkan terjadinya defleksi streosilia sel-sel rambut, sehingga kanal

    ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses

    depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam

    sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius atau

    saraf pendengaran yang melekat padanya. Lalu disinilah gelombang suara

    mekanis diubah mejadi energi elektrokimia agar dapat ditansmisikan

    melalui saraf kranialis VIII, dilanjutkan ke nucleus auditorius, sampai ke

    korteks pendengaran di lobus temporalis. (1,7,5)

    2.1.3 Otitis Media Supuratif Kronik

    Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah infeksi kronik telinga

    tengah dan rongga mastoid disertai perforasi membran timpani dan sekret

    yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret

    bisa encer, kental, benting atau berupa nanah. (1,3)

    OMSK dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu OMSK tipe benigna (tipe

    aman) dan OMSK tipe maligna (tipe bahaya). Berdasarkan aktifitas sekret

    yang keluar, bisa dikenal juga sebagai OMSK aktif dan OMSK tenang.

    OMSK aktif disertai sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif,

    sedangkan OMSK tenang adalah yang keadaan kavum timpaninya terlihat

    basah atau kering. (1,3)

    2.1.3.1 Tanda dan Gejala

    OMSK berati adanya pengeluaran sekret dari telinga. Umunya

    otorrhe pada OMSK bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti

    air dan encer) tergantung stadium peradangannya. Sekret yang mukus

    diakibatkan oleh aktivasi kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid.

    Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu abu kotor memberi kesan

    kolesteatoma. (7)

    Pada penelitian yang dilakukan oleh U Nnebe-agumadu,

  • 12

    et al (2011) didapatkan hasil Pseudomonas sebesar 57,4%, Klebsiella

    16,4%, dan spesies Proteus 11,5%. (11)

    2.1.3.1.1 OMSK Tipe Benigna

    Gejalanya bisa berupa discharge mukoid yang tidak terlalu

    berbau busuk, discharge mukoid dapat konstan atau intermitten.

    Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba

    eustachius yang mukoid ada setelah satu atau dua kali pengobatan

    local bau busuk berkurang. Gangguan pendengaran konduktif selalu

    didapatkan pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya

    kerusakan tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik

    akut pada awal penyakit. (1,7)

    Perforasi membrane timpani sentral sering ditemukan

    berbentuk seperti ginjal, tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian

    tepinya. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada

    mukosa, sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan

    tergantung derajat infeksi dari membrane mukosa dapat tipis dan

    pucat atau merah dan tebal, kadang disertai polip tetapi

    mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi

    pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip

    tersebut diangkat. Cairan mukus yang tidak terlalu bau dari perforasi

    tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada

    rongga timpani merupakan diagnosa khas pada OMSK benigna. (1,7)

    2.1.3.1.2 OMSK Tipe Maligna Dengan Kolesteatoma

    Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas, sekret

    yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat

    juga terlihat keeping-keping kecil, berwarna putih mengkilat. (1,7)

    Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat

    terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat

  • 13

    penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. Selain tipe

    konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea

    yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat

    osteolitik kolesteatom. (1,7)

    Kolesteatoma merupakan suatu kista epitel yang berisi

    deskuamasi dari epitel. Deskuamasi ini terbentuk terus menerus

    sehingga menumpuk dan kolesteatoma bertambah besar. Bebrapa

    teori tentang patogenesis yang dikemukakan oleh para ahli yaitu

    teori invaginasi, teori migrasi, teori metaplasi dan teori implantasi.

    Kolesteatoma ini merupakan media yang baik untuk bertumbuhnya

    kuman, dan yang paling sering adalah Proteus dan Pseudomonas.

    Masa kolesteatoma akan menekan dan mendesak organ yang berada

    disekitarnya serta dapat menimbulkan nekrosis terhadap tulang.

    Proses nekrosis terhadap tulang yang akan mempermudah terjadinya

    komplikasi berupa labirinitis, meningitis dan abses otak. (1,7)

    Dengan demikian, OMSK maligna dapat ditegakkan melalui

    anamnesis berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan THT terutama

    pemerilksaan otoskopi untuk melihat letak perforasi dan ada atau

    tidaknya kolesteatoma. Pemeriksaan penala merupakan pemeriksaan

    sederhana untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran. Apabila

    diperlukan, maka pemeriksaan penunjang dapat dilakukan. (1)

    2.1.3.2 Faktor risiko

    Faktor risiko terjadinya otitis media adalah umur, jenis kelamin,

    ras, faktor genetik, status sosioekonomi serta lingkungan, asupan air susu

    ibu (ASI) atau susu formula, lingkungan merokok, kontak dengan anak

    lain, abnormalitas kraniofasialis kongenital, status imunologi, infeksi

    bakteri atau virus di saluran pernapasan atas, disfungsi tuba Eustachius,

    inmatur tuba Eustachius dan lain-lain. Faktor risiko OMSK antara lain

    lingkungan, genetik, otitis media sebelumnya, infeksi saluran nafas atas,

    autoimun, alergi, gangguan fungsi tuba eustachius. (12)

  • 14

    Beberapa faktor yang dapat menyebabkan perforasi membran

    timpani menetap pada OMSK adalah infeksi yang menetap pada telinga

    tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen

    berlanjut, obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan

    pada perforasi, beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan

    spontan melalui mekanisme migrasi epitel, pada pinggir perforasi dari

    epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi

    medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan

    spontan dari perforasi. Sedangkan beberapa faktor yang menyebabkan

    OMA menjadi OMSK bisa karena terapi yang lambat diberikan, terapi

    tidak adekuat, virulensi kuman yang tinggi, daya tahan tubuh pasien

    rendah atau higiene buruk. (1)

    2.1.3.3 Patogenesis

    OMSK hampir selalu timbul sebagai kelanjutan dari infeksi akut

    yang berulang. Diawali dengan inflamasi pada mukosa telinga tengah.

    Respon inflamasi menyebabkan edema mukosa. Sumbatan tuba

    eustachius merupakan faktor penyebab utama dari Otitis Media. Karena

    fungsi tuba eustachius terganggu, maka pencegahan invasi kuman ke

    telinga tengah juga terganggu, sehinga kuman masuk kedalam telinga

    tengah dan terjadi peradangan. Proses peradangan yang berlangsung akan

    menyebabkan ulserasi mukosa dan bila terbentuk pus maka akan

    terperangkap didalam kantong mukosa telinga tengah. Kerusakan epitel

    sehingga menghasilkan jaringan granulasi yang dapat terus berlanjut,

    menyebabkan kerusakan tulang di sekitarnya dan akhirnya menyebabkan

    berbagai komplikasi pada OMSK. Infeksi yang terjadi juga bisa berasal

    dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran

    timpani, maka terjadilah inflamasi. Walaupun belum terbukti, diduga

    bakteri anaerob dengan bakteri aerob pada OMSK akan meningkatkan

    virulensi infeksi ketika kedua jenis bakteri tersebut berkembang ditelinga

    tengah. (1)

  • 15

    Dengan perbaikan fungsi ventilasi telinga tengah, biasanya proses

    patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Pada

    primary acquired cholesteatoma tidak ditemukan riwayat penyakit otitis

    media atau perforasi membran timpani sebelumnya. Kolesteatom ini

    timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membran timpani pars

    flaksida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat disfungsi

    tuba. Sedangkan pada secondary acquired cholesteatoma, kolesteatom

    yang terbentuk setelah adanya perforasi membran timpani. Kolesteatom

    terbentuk sebagai akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau

    dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah atau terjadi

    akibat metaplasi mukosa cavum timpani karena iritasi infeksi yang

    berlangsung lama. (1)

    2.1.3.4 Letak perforasi

    Letak perforasi membran timpani penting untuk menentukan tipe

    OMSK. Perforasi membran timpani dapat ditemukan didaerah sentral,

    marginal atau atik. Oleh karena itu disebut perforasi sentral, marginal

    atau atik. Pada perforasi sentral terdapat di pars tensa, bisa anterior-

    inferior, posterior-inferior dan posterior-superrior, kadang su total, tetapi

    diseluruh tepi perforasi masih ada sisa membran timpani. Perforasi

    marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus

    atau sakulus timpanikum. Terdapat pada pinggir membran timpani

    dengan adanya erosi dari anulus fibrosus. Perforasi pada pinggir

    posterior-superior berhubungan dengan kolesteatom. Perforasi marginal

    yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total Sedangkan

    perforasi atik adalah perforasi yang letaknya di pars flaksida. (1)

    2.1.3.5 Komplikasi dan Prognosis

    Komplikasi OMSK mulai dari gangguan pendengaran yang ringan

    sampai yang mengancam seperti infeksi intrakranial. komplikasi

  • 16

    Intratemporal termasuk kelumpuhan saraf wajah, labyrinthitis, fistula

    labirin, mastoiditis, subperiosteal abses, fistula postauricular, dan

    petrositis. Jika infeksi menyebar di luar batas-batas tulang temporal,

    komplikasi intrakranial seperti abses epidural, subdural, tromboflebitis

    sinus lateral, meningitis, dan abses otak dapat terjadi. (13)

    OMSK tipe

    benigna tidak menyerang tulang, sehingga jarang menimbulkan

    komplikasi. Tapi jika tidak mencegah invasi organisme baru dari

    nasofaring, maka dapat menjadi superimpose Otitis Media Supuratif Akut

    Eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya

    tromboplebitis vaskuler. (1,7)

    Komplilasi sering terjadi pada OMSK tipe maligna karena adanya

    kolesteatom. Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : (1,7)

    1. Erosi canalis semisirkularis

    2. Erosi canalis tulang

    3. Erosi segmen timpani dan abses ekstradural

    4. Erosi pada permukaan lateral mastoid dengan

    timbulnya abses subperiosteal

    5. Erosi pada sinus sigmoid

    Menurut hasil penelitian Hasniah et al (2013) (9)

    , distribusi

    penyakit OMSK berdasarkan komplikasi tersering didapatkan komplikasi

    terbanyak adalah erosi tulang, sedangkan komplikasi terkecil adalah tuli

    saraf. Pencetus terjadinya komplikasi ini otitis adalah infeksi saluran

    pernaasan atas (ISPA). Akibatnya terjadi sumbatan tuba eustachius.

    2.1.4 Gangguan Pendengaran

    Gangguan pendengaran mungkin ringan ataupun sangat hebat,

    karena daerah yang sakit ataupun adanya kolesteatom, dapat

    menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai

    kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa tulang

    pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari tulang pendengaran

    menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 dB. (10)

    Gangguan

    pendengaran dapat mempengaruhi satu telinga saja (unilateral) atau

  • 17

    mempengaruhi dua telinga (bilateral). Gangguan pendengaran akibat

    lingkungan seperti kebisingan, kimia dan penuaan umumnya terjadi

    secara bilateral dan simetris. Gangguan pendengaran akibat infeksi,

    gondok dan tumor akustik biasanya unilateral dan asimetris. (16)

    Pada

    OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena

    putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom

    sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat.

    Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan

    berulangnya infeksi karena penetrasi toksin foramen rotundum atau fistel

    labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis

    supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat

    menggambarkan sisa fungsi kohlea. (10)

    Gangguan pendengaran pada telinga, baik telinga luar, telinga

    tengah maupun telinga dalam, dapat menyebabkan ketulian. Tuli dibagi

    atas tuli konduktif, tuli sensorineural, dan tuli campur. Gangguan telinga

    luar dan telinga tengah dapat menyebabkan tuli konduktif. Sedangkan

    gangguan pada telinga dalam dapat menyebabkan tuli sensorineural. (1)

    Dari hasil penelitian Lasisi AO1 et al (2011) (11)

    prevalensi gangguan

    pendengaran pada OMSK tipe konduktif sebesar 82% dan sensorineural

    18%.

    1. Tuli konduktif

    Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantara melalui udara

    yang disebabkan oleh penyakit atau kelainan ditelinga luar atau

    telinga tengah, seperti serumen, sumbatan tuba Eustachius, radang

    telinga tengah, benda asing ditelinga, tumor jinak. (1,10)

    Gangguan pendengaran konduktif karena infeksi akut biasanya

    diobati dengan obat antibiotik atau antijamur. Infeksi kronis telinga,

    cairan tengah kronis, dan tumor biasanya memerlukan operasi. Pada

    gangguan pendengaran konduktif akibat kongenital atau kegagalan

    saluran telinga untuk terbuka pada saat lahir, malformasi, atau

    disfungsi struktur telinga tengah, yang semuanya mungkin dapat

  • 18

    dikoreksi melalui pembedahan. Jika dengan pembedahan tidak

    berhasil, maka sebagai alternatif dapat diperbaiki menggunakan

    amplifikasi dengan alat bantu dengar, atau pembedahan implant,

    osseointegrasi (misalnya, Baha atau Ponto System), atau alat bantu

    dengar konvensional, tergantung pada status dari saraf pendengaran

    pasien. (10)

    2. Tuli sensorineural

    Tuli sensorineural merupakan gangguan pendengaran akibat

    kelainan yang bisa terdapat pada telinga bagian dalam, trauma kepala

    atau perubahan mendadak dalam tekanan udara seperti di pesawat,

    bisa juga dipusat pendengaran itu sendiri atau saraf pendengaran

    sehingga dikenal juga sebagai gangguan pendengaran saraf. (1,10)

    Gangguan pendengaran sensorineural dapat disebabkan oleh

    trauma akustik (atau paparan terhadap suara keras yang berlebihan).

    Untuk mengurangi pembengkakan dan peradangan pada sel rambut

    koklea dan untuk memperbaiki struktur telinga bagian dalam yang

    terluka, sebagai terapi medis dapat diberikan kortikosteroid. Begitu

    juga dengan gangguan pendengaran sensorineural akibat autoimun

    diberikan kortikoseroid jangka panjang. Gangguan pendengaran

    sensorineural dapat terjadi akibat trauma kepala atau perubahan

    mendadak dalam tekanan udara seperti di pesawat, yang dapat

    menyebabkan cairan telinga bagian dalam pecah atau mengalami

    kebocoran, dapat dilakukan operasi. Bentuk paling umum dari

    gangguan pendengaran, dapat dikelola dengan alat bantu dengar.

    Ketika alat bantu dengar tidak cukup, dapat diobati dengan

    pembedahan implan koklea. (10)

    3. Tuli campuran

    Pada tuli campur, mengacu pada kombinasi dari tuli konduktif

    dan tuli sensorineural. Tuli campur dapat disebabkan karena adanya

    kerusakan pada telinga luar atau telinga tengah dan telinga dalam

  • 19

    (koklea) atau saraf pendengaran. Misalnya radang telinga tengah

    dengan komplikasi ke telinga bagian dalam. (1,10)

    Audiolog Mark Ross, Ph.D. mengatakan, dalam gangguan

    pendengaran campuran, menganjurkan untuk mengurus komponen

    konduktif terlebih dahulu, karena ada saat saat ketika penambahan

    komponen konduktif membuat pasien akan mendengar lebih baik.

    Sedangkan komponen sensorineural, dapat mengakibatkan

    kehilangan pendengaran pada frekuensi yang lebih tinggi. (10)

    2.1.5 Pemeriksaan Pendengaran

    2.1.5.1 Tes penala

    Penala terdiri dari 5 buah dengan frekuensi 128 Hz, 256 Hz, 512

    Hz, 1024 Hz dan 2048 Hz. Secara fisiologi, telinga dapat mendengar nada

    antara 20 18.000 Hz. Pada pendengaran sehari hari paling efektif

    biasanya antara 500 2000 Hz. Maka dari itu, untuk pemeriksaan

    pendengaran biasanya dipakai garputala 512 Hz, 1024 Hz dan 2048 Hz.

    Terdapat berbagai macam tes penala, seperti tes Rinne, tes weber, tes

    Swabach, tes Bing dan tes Stenger. (1,7)

    Tes Rinne untuk membandingkan hantaran melalui udara dan

    hantaran melalui tulang pada telinga yang akan diperiksa. Penala

    digetarkan dan diletakkan di prosessus mastoid, setelah tidak terdengar,

    selanjutnya penala di pindahkan di depan telinga. Bila masih terdengar,

    tes Rinne postitif, bila sudah tidak terdengar, maka tes Rinne negatif. (1,7)

    Tes Weber adalah tes pendengaran untuk membandingkan hantaran

    tulang telinga kiri dengan telinga kanan. Penala digetarkan dan diletakkan

    di garis tengah kepala (dahi, pangkal hidung, ditengah tengah gigi seri

    atau dagu). Bila bunyi penala terdengar lebih keras pada salah satu

    telinga, maka disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila bunyi

    tidak dapat terdengar, maka disebut Weber tidak ada lateralisasi. (1,7)

    Tes Swabach adalah membandingkan hantaran tulang orang yang

    diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Penala

  • 20

    digetarkan dan diletakkan pada prosessus mastoid sampai bunyi tidak

    terdengar lagi. Lalu penala dipindahkan pada prosessus mastoid telinga

    pemeriksa yang pendengarannya normal. Jika pemeriksa masih bisa

    mendengar, maka Swabach disebut memendek, bila pemeriksa tidak

    dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara yang sebaliknya

    yaitu penala diletakkan pada prosessus mastoid pemeriksa terlebih

    dahulu. Jika pasien masih bisa mendengar bunyi tersebut, maka

    Swabach disebut memanjang dan jika pasien dengan pemeriksa sama

    sama mendengar, maka Swabach disebut sama dengan pemeriksa. (1,7)

    Tabel 2.1 Hasil Tes Penala (1)

    Tes

    Rinne

    Tes Weber Tes Swabach Diagnosis

    Positif Tidak ada

    lateralisasi

    Sama dengan

    pemeriksa

    Normal

    Negatif Lateralisasi

    ke telinga

    yang sakit

    Memanjang Tuli

    konduktif

    Postitif Lateralisasi

    ke telinga

    yang sehat

    Memendek Tuli

    sensorineural

    2.1.5.2 Audiometri Nada Murni

    Audiometri nada murni adalah suatu alat elektronik yang

    menghasilkan bunyi yang relatif bebas bising ataupun energi suara pada

    kelebihan nada, maka dari itu disebut nada murni. Pada pemeriksaan ini

    perlu diperhatikan seperti nada murni, bising NB (narrow band) dan WN

    (white noise), frekuensi, intensitas bunyi, ambang dengar, nilai nol

    audiometrik, standar ISO, ASA, notasi pada audiogram, jenis dan derajat

    ketulian, gap dan masking. (1)

    Menurut hasil penelitian Azevedo et al

  • 21

    (2007) (8)

    , pada penderita OMSK didapatkan ambang rata-rata

    pendengaran adalah 40 dB ditelinga yang sakit dan 22 dB pada telinga

    yang normal. Sedangkan dalam penelitian Kolo (2011) (12)

    ambang rata

    rata bone conduction di telinga yang sakit adalah 39,07 dB dan 10.26 dB

    di telinga yang terkontrol. Berdasarkan audiogram, kita dapat melihat

    apakah pendengaran normal atau tuli. Dalam menentukan derajat ketulian

    yang dihitung hanya ambang dengar dari hantaran udaranya atau air

    conduction nya saja. Derajat ketulian berdasarkan ISO. (1)

    0 25 dB : Normal

    >25 40 dB : Tuli ringan

    >40 55 dB : Tuli sedang

    >55 70 dB : Tuli sedang berat

    >70 90 dB : Tuli berat

    >90 dB : Tuli sangat berat

    Sering kali seseorang memiliki derajat gangguan pendengaran yang

    berbeda pada frekuensi yang berbeda. Misalnya pada pendengaran yang

    normal dalam frekuensi yang rendah, secara bertahap sensitivitas

    memburuk di frekuensi tinggi. Hal ini terkait dengan usia dan kebisingan.

    Berdasarkan The American Speech-Language Hearing Association,

    klasfikasi ambang pendengaran rata rata pada 1000 Hz, 2000 Hz, 3000

    Hz dan 4000 Hz. Atau lainnya 500 Hz, 1000 Hz, dan 2000 Hz. (16)

  • 22

    2.2 Kerangka Teori

    2.3 Kerangka Konsep

    Faktor risiko:

    1. Gangguan fungsi tuba

    2. ISPA 3. Alergi 4. Lingkungan 5. Sosial

    ekonomi

    6. Otitis Media

    sebelumnya

    Pemeriksaan

    audiologi

    Jenis tuli:

    1. Tuli konduktif 2. Tuli

    sensorineural

    3. Tuli campur

    Otitis Media

    Supuratif

    Kronik

    OMSK

    Benigna

    OMSK

    Maligna

    Disfungsi tuba

    eustachius,

    inflamasi

    Retraksi

    membran

    timpani kronik

    Perforasi

    sentral

    Terbentuk

    kantong membran

    timpani

    Terbentuk

    kolesteatoma

    Terisi

    deskuamasi sel

    keratin

    Perforasi

    marginal/atik

    Pada mukosa,

    tidak

    mengenai

    tulang

    Jenis ketulian

    Otitis Media

    Supuratif Kronik

    (OMSK)

    Tipe OMSK

    Gambaran

    Audiologi

    Derajat

    ketulian

  • 23

    2.4 Definisi Operasional

    Tabel 2.2 Definisi Operasional Penelitian

    Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Kategori Skala Satuan

    Ambang

    dengar

    Bunyi nada

    murni yang

    terlemah pada

    frekuensi

    terntentu yang

    masih dapat

    didengar oleh

    telinga

    seseorang.

    Audiometri.

    Dengan

    meghitung rerata

    ambang dengar

    dengan:

    Audiogram Interval dB

    Tipe

    ketulian

    Tuli dibagi atas

    tuli:

    1. Tuli

    konduktif,

    gangguan

    hantaran suara

    yang

    disebabkan

    oleh kelainan

    ditelinga luar

    atau tengah

    2. Tuli

    sensorineural,

    kelainan yang

    terdapat pada

    koklea, n.VIII

    atau dipusat

    pendengaran

    3. Tuli campur,

    disebabkan

    oleh

    kombinasi tuli

    konduktif dan

    sensorineural

    Penala:

    1. Tuli konduktif

    - Tes rinne:

    (+)/(-)

    - Tes weber:

    lateralisasi

    ke telinga

    yang sakit

    2. Tuli

    sensorineural

    - Tes rinne:

    (+)

    - Tes weber:

    lateralisasi

    ke telinga

    yang sehat

    Audiometri

    1. Tuli

    konduktif:

    - BC normal

    atau < 25dB

    - AC >25dB

    - Antara AC

    dan BC

    terdapat gap

    2. Tuli

    Penala dan

    Audiogram

    1. Tuli konduktif

    2. Tuli

    sensorineural

    3. Tuli campur

    Nominal

  • 24

    sensorineural:

    - AC dan BC

    >25dB

    - AC dan BC

    tidak ada

    gap

    3. Tuli campur:

    - BC >25dB

    - AC > BC,

    terdapat gap

    Tes Rinne Tes untuk

    membandingkan

    hantaran melalui

    udara dan

    hantaran melalui

    tulang pada

    telinga yang

    diperiksa

    1. Positif

    2. Negatif

    Penala 1. Positif:

    Normal/tuli

    sensorineural

    2. Negatif: tuli

    konduktif

    Nominal

    Tes

    Weber

    Tes pendengaran

    untuk

    membandingkan

    hantaran tulang

    telinga kiri

    dangan telinga

    kanan

    1. Tidak ada

    lateralisasi

    2. Lateralisasi ke

    telinga yang

    sakit

    3. Lateralisasi ke

    telinga yang

    sehat

    Penala 1. Tidak ada

    lateralisasi:

    Normal

    2. Lateralisasi ke

    telinga yang

    sakit: tuli

    konduktif

    3. Lateralisasi ke

    telinga yang

    sehat: tuli

    sensorineural

    Nominal

    Derajat

    tuli

    Keparahan tuli

    berdasarkan

    derajat

    penurunan

    pendengaran

    Rekam medis Audiogram 1. 0 25 dB :

    Normal

    2. >25 40 dB :

    Tuli ringan

    3. >40 55 dB :

    Tuli sedang

    4. >55 70 dB :

    Tuli sedang

    berat

    5. >70 90 dB :

    Tuli berat

    6. >90 dB : Tuli

    sangat berat1

    Ordinal

    Usia Besaran waktu Usia berdasarkan Rekam Interval Tahun

  • 25

    yang telah

    ditempuh oleh

    subjek penelitian

    dari sejak tahun

    kelahiran sampai

    tahun

    pengambilan

    data, ditunjang

    oleh tanggal,

    bulan dan tahun

    kelahiran.

    tahun dilakukan

    pemeriksaan

    dikurangi tahun

    lahir, bulan

    dilakukan

    pemeriksaan

    dikurangi bulan

    lahir. Jika < 6

    bulan maka

    dibulatkan

    kebawah, jika >

    6 bulan maka

    dibulatkan

    keatas.

    medis

    Jenis

    kelamin

    Perbedaan

    karakteristik

    fisik pada

    manusia

    berdasarkan

    struktur dan

    fungsi organ

    reproduksi,

    dibedakan

    menjadi jenis

    kelamin pria

    atau wanita.

    Sesuai yang

    tertulis dalam

    rekam medis

    Rekam

    medis

    1. Laki laki

    2. Perempuan

    Nominal

    Riwayat

    ISPA

    Merupakan

    penyakit infeksi

    saluran napas

    atas, meliputi

    organ saluran

    pernapasan,

    hidung, sinus,

    faring atau laring

    yang disebabkan

    oleh virus.

    Dilihat jumlah

    riwayat ISPA

    dalan waktu 1

    tahun terakhir.

    Rekam

    medis

    1. Ada

    2. Tidak ada

    3. Tidak ada

    keterangan

    Interval

    Alergi Reaksi

    hipersensitifitas

    imunologi yang

    mengakibatkan

    peradangan

    Sesuai yang

    tertulis dalam

    rekam medis

    Rekam

    medis

    1. Ada

    2. Tidak ada

    3. Tidak ada

    keterangan

    Nominal

    Tipe

    OMSK

    Otitis media

    supuratif kronik

    Dilihat dari letak

    perforasi dan ada

    Rekam

    medis

    1. OMSK tipe

    benigna

    Nominal

  • 26

    (OMSK) ialah

    infeksi kronik

    telinga tengah

    disertai perforasi

    membran

    timpani dan

    sekret yang

    keluar dari

    telinga tengah

    terus menerus

    atau hilang

    timbul

    atau tidaknya

    kolesteatoma

    2. OMSK tipe

    maligna

  • 27

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    3.1 Desain Penelitian

    Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu membuat

    gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif dan

    pendekatannya menggunakan cross sectional, dengan pengambilan data

    dari rekam medis pasien yang terdiagnosa menderita Otitis Media

    Supuratif Kronik di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok RSUP

    Fatmawati tahun 2012-2014.

    3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

    Lokasi penelitian : Instalasi Rekam Medik RSUP Fatmawati

    Waktu penelitian :

    Persiapan : Juli 2014

    Pelaksanaan : September 2014

    Penyusunan : Oktober 2014

    3.3 Populasi Penelitian

    Telinga pada pasien yang didiagnosis sebagai penderita Otitis Media

    Supuratif Kronik yang datang ke Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok

    RSUP Fatmawati tahun 2012-2014.

    3.4 Jumlah Sampel

    Karena tidak ada penelitian sebelumnya, maka proporsi kategori

    vaiabel yang diteliti atau P, ditetapkan 50% (0,50) dan didapatkan jumlah

    sampel dengan rumus sebagai berikut:

  • 28

    Rumus:

    Berdasarkan rumus besar sampel diatas, maka jumlah telinga

    minimum yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 96 telinga. Untuk

    mengantisipasi terjadinya bias, maka jumlah sampel ditambahkan 10%

    dari besar sampel.

    N = 96 + 9,6 = 105,6 106

    Maka jumlah sampel yang diambil untuk penelitian adalah 106

    telinga. Sedangkan jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 68 telinga

    dari 100 populasi yang didapatkan dari hasil kriteria inklusi dan ekslusi.

    Keterangan:

    N = Jumlah populasi

    n = Besar sampel

    Z = Adalah derivat baku alfa (biasanya 95%=1,96)

    P = Adalah proporsi kategori vaiabel yang diteliti ditetapkan

    50% (0,50)

    d = Presisi/derajat penyimpangan terhadap populasi yang

    diinginkan 10% (0,10)

    Q = Adalah 1 P

    3.5 Cara Pengambilan Sampel

    Pengambilan sampel menggunakan rumus jumlah sampel dan

    melakukan pengambilan sampel menggunakan data rekam medis penderita

    Otitis Media Supuratif Kronik dengan metode consecutive sampling

    sampai sampel memenuhi jumlah minimal sampel. Semua sampel yang

    memenuhi kriteria pemilihan akan dimasukkan ke dalam penelitian.

  • 29

    3.6 Kriteria Sampel

    3.6.1 Kriteria Inklusi:

    - Telinga pada pasien Otitis Media Supuratif Kronik yang sudah

    terdiagnosa di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok di RSUP

    Fatmawati.

    - Informasi telinga pada pasien Otitis Media Supuratif Kronik

    tercatat di rekam medis.

    - Telinga pada pasien Otitis Media Supuratif Kronik yang dilakukan

    pemeriksaan Audiometri.

    3.6.2 Kriteria Eksklusi

    - Data yang diperoleh dari rekam medis tidak lengkap.

    3.7 Cara Kerja Penelitian

    3.7.1 Izin penelitian

    Mengurus perizinan untuk melakukan penelitian di RSUP

    Fatmawati.

    3.7.2 Jenis Data

    Jenis data yang diambil merupakan data sekunder, yaitu data

    yang sudah ada sebelumnya yang kemudian akan diolah.

    3.7.3 Cara pengumpulan data

    Pengambilan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan

    dengan mengambil data dari buku catatan penderita Otitis

    Media Supuratif Kronik di RSUP Fatmawati.

    3.7.4 Alat pengumpulan data

    Alat yang digunakan sebagai pengumpulan data adalah rekam

    medis penderita Otitis Media Supuratif Kronik.

  • 30

    3.7.5 Alur penelitian

    3.8 Variabel Penelitian

    1. Tipe OMSK

    2. Tipe ketulian

    3. Derajat ketulian

    4. Usia

    5. Jenis kelamin

    6. Ambang dengar

    7. Riwayat infeksi saluran pernapasan atas

    8. Alergi

    Pengolahan Data

    Telinga pada pasien Otitis Media Supuratif Kronik di

    Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok RSUP

    Fatmawati

    Perizinan

    Pengumpulan data dari

    rekam medis

    Penyajian Data

    Lolos Tim Kaji Etik

    Penelitian Kesehatan

    RSUP Fatmawati

  • 31

    3.9 Manajemen Data

    3.9.1 Teknik Pengumpulan Data

    Data dicari melalui pengumpulan rekam medis

    penderita Otitis Media Supuratif Kronik di RSUP Fatmawati.

    3.9.2 Pengolahan Data

    Data dimasukan kedalam komputer melalui data entry

    pada program SPSS 16 yang sebelumnya dilakukan coding

    terlebih dahulu untuk mengklasifikasikan data sesuai kategori

    kemudian dilakukan verifikasi.

    3.9.3 Analisis Data

    Data dianalisis menggunakan analisis univariat

    dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian ini berupa

    distribusi dan presentase pada setiap variabel meliputi tipe

    ketulian, usia, jenis kelamin, riwayat infeksi saluran

    pernapasan atas dan alergi.

    3.9.4 Rencana Penyajian Data

    Penyajian data akan dilakukan dalam bentuk narasi,

    teks, table dan diagram.

    3.9.5 Interpretasi Data

    Data yang diperoleh diinterpretasikan secara deskriptif.

    3.9.6 Pelaporan Hasil Penelitian

    Hasil penelitian dibuat dalam bentuk makalah laporan

    penelitian yang dipresentasikan dihadapan staff pengajar

    Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah

    Jakarta.

  • 32

    3.10 Etika Penelitian

    Ethical clearance untuk penelitian ini diajukan ke Panitia Etik

    Penelitian Kedokteran FKIK UIN Syarif Hidayatullah dan Tim Kaji Etik

    Penelitian Kesehatan RSUP Fatmawati. Semua data yang didapat dari

    rekam medis yang dipergunakan akan dijaga kerahasiaannya.

  • 33

    BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Karakteristik Pasien

    Pada penelitian ini, direncanakan jumlah sampel 106 pasien, tetapi

    berdasarkan penelusuran kembali melalui rekam medis, pasien OMSK di

    RSUP Fatmawati tahun 2012-2014 hanya terdapat 34 pasien yang dapat

    diperiksa kedua sisi telinga. Seluruh pasien yang dimasukan dalam

    penelitian ini adalah pasien yang akan dilakukan operasi telinga mikro.

    Karakteristik pasien pada penelitian ini sebagaimana ditampilkan dalam

    Tabel 4.1.

    Tabel 4.1 Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Keadaan

    Telinga dan Riwayat Penyerta

    Variabel Total Subjek

    N= 34 (%) (N= 68 Telinga)

    Jenis kelamin

    Laki laki 20 (58,8)

    Perempuan 14 (41,2)

    Usia (tahun) 24 (6-58)

    40 tahun 7 (20,6)

    Keadaan Telinga (N= 68 telinga)

    OMSK Maligna 37 (54,4)

    OMSK Benigna 10 (14,7)

    Tanpa perforasi 21 (30,9)

    Letak

    Bilateral 13 (38,2)

    Unilateral 21 (61,8)

    ISPA

    Ada 0

    Tidak ada 11 (32,4)

    Tidak ada keterangan 23 (67,6)

    Alergi

    Ada 0

    Tidak ada 14 (41,2)

    Tidak ada keterangan 20 (58,8)

  • 34

    Pada penelitian ini, subjek penelitian terdiri atas 20 (58,8%) laki

    laki dan 14 (41,2%) perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang

    dilakukan oleh Neogi R et al (2011) (26)

    di India, insidensi jenis kelamin

    terbanyak pada kasus OMSK adalah laki laki (58,8%). Pada penelitian

    yang dilakukan juga Oleh Hasniah et al (2013) (20)

    di RSU Labuang Baji

    Makassar, karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin menunjukkan

    laki-laki (51,1%) lebih banyak dibanding perempuan (48,9%). Begitu juga

    pada penelitian yang dilakukan oleh Razooqi et al (2012) (27)

    di Iraq,

    karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin menunjukkan laki-laki

    (52,8%) dan perempuan (47,2%). Hal ini dapat diartikan bahwa laki-laki

    maupun perempuan mempunyai risiko yang sama untuk menderita OMSK

    tipe benigna maupun tipe maligna. (15)

    Kategori usia pada penelitian ini diperoleh nilai terendah pada usia 6

    tahun dan nilai tertinggi pada usia 58 tahun dengan prevalensi tertinggi

    pada usia 20-40 tahun. Hal ini serupa pada penelitian Syafeefah (2010) (28)

    di RSUP H. Adam Malik Medan didapatkan insidensi tertinggi kasus

    OMSK pada usia >20 tahun. Begitu juga degan penelitian yang dilakukan

    oleh Wahyudiasih et al (2011) (15)

    sebanyak 45 kasus dengan rentang usia

    8-52 tahun dan kejadian OMSK paling banyak dijumpai pada usia 21-30

    tahun (28,8%).

    Pada penelitian ini, berdasarkan keadaan telinga didapatkan bahwa

    OMSK tipe Maligna (54,4%) merupakan distribusi tertinggi lebih

    dibandingkan dengan OMSK tipe Benigna (14,7%). Hal ini sesuai dengan

    penelitian yang dilakukan Hasniah et al (2013) (20)

    di RSU Labuang Baji

    Makassar, OMSK tipe benigna sebanyak 27 orang (47,4%) dan tipe

    maligna sebanyak 20 orang (42,6%). Berbeda pula pada penelitian yang

    dilakukan oleh Wulandari (2010) (29)

    di Surakarta, dari 45 jumlah sampel,

    terdiri dari 8 pasien OMSK tipe bahaya, 16 pasien OMSK tipe jinak.

    Kerusakan osikel berhubungan cukup kuat dan signifikan dengan OMSK

    tipe benigna maupun maligna. Hal ini menunjukkan bahwa penderita

    OMSK tipe maligna cenderung mengalami kerusakan osikel daripada

    penderita tipe benigna. (15)

    Berdasarkan Tabel 4.1, didapatkan pasien

  • 35

    dengan OMSK unilateral 21 (61,8%) lebih tinggi dibandingkan dengan

    OMSK bilateral 13 (38,2%). Hal ini sesuai dengan penelitian Alabbasi et

    al (2010) (30)

    yang menunjukkan bahwa prevalensi pasien dengan OMSK

    unilateral (70%) lebih tinggi dibandingkan dengan pasien OMSK bilateral

    (30%).

    Berdasarkan Tabel 4.1, dari 34 subjek penelitian, didapatkan

    sebanyak 32,4% tidak ada riwayat infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)

    dan didapatkan 41,2% pasien tidak memiliki riwayat alergi. Hal ini sesuai

    dengan penelitian yang dilakukan Prianto (2010) (31)

    yang menunjukkan

    bahwa riwayat alergi/ISPA tidak berhubungan dengan jenis dan derajat

    kurang pendengaran. Namun tidak sesuai dengan beberapa penelitian yang

    mengatakan riwayat ISPA berulang, tidak tertanggulangi dengan baik dan

    riwayat alergi merupakan salah satu faktor risiko terbanyak yang

    menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah berlanjut menjadi kronik.

    Perbedaan terjadi kemungkinan diakibatkan ada faktor risiko lain yang

    mempengaruhi. Faktor yang mungkin berpengaruh adalah virulensi kuman

    dan sistem imun pasien. (32)

    4.2 Karakteristik Pasien Berdasarkan Tipe Ketulian dan Derajat Ketulian

    Tabel 4.2 Karakteristik Pasien Berdasarkan Tipe Ketulian dan Derajat

    Ketulian

    Variabel Telinga Tanpa

    Perforasi

    N= 21 (%)

    OMSK

    Benigna

    N= 10 (%)

    OMSK

    Maligna

    N= 37 (%)

    Tipe Ketulian

    Tuli Konduktif 3 (14,3) 5 (50) 16 (43,2)

    Tuli Sensorineural 0 1 (10) 4 (10,8)

    Tuli Campur 1 (4,8) 2 (20) 16 (43,2)

    Normal 17 (81) 2 (20) 1 (2,7)

    Derajat Ketulian

    1. Normal 13 (61,9) 2 (20) 4 (10,8) 2. Tuli ringan 3 (14,3) 3 (30) 2 (5,4) 3. Tuli sedang 2 (9,5) 2 (20) 9 (24,3) 4. Tuli sedang berat 3 (14,3) 1 (10) 8 (21,6) 5. Tuli berat 0 2 (20) 9 (24,3) 6. Tuli sangat berat 0 0 5 (13,5)

  • 36

    Berdasarkan tipe ketulian pada penelitian ini, didapatkan 5 dari 10

    telinga dengan OMSK benigna mengalami tuli konduktif, yang mana tuli

    konduktif merupakan tipe ketulian pada pasien dengan OMSK benigna,

    sedangkan pada telinga dengan OMSK maligna tipe ketulian yang paling

    tertinggi adalah tuli konduktif (43,2%) dan tuli campur (43,2%). Pada

    penelitian yang dilakukan oleh Lasisi AO1 et al (2011) (23)

    di Nigeria,

    prevalensi gangguan pendengaran yang paling tertinggi pada OMSK yaitu

    tipe konduktif sebesar 82%. Dan biasanya pada pasien OMSK didapatkan

    tuli konduktif. (7)

    Gangguan pendengaran tergantung dari derajat kerusakan

    yang terjadi pada tulang tulang pendengaran. Gangguan pendengaran

    mungkin ringan, sekalipun proses patologi yang sangat hebat, karena

    daerah yang sakit ataupun kolesteatoma, dapat menghambat bunyi. (21,33)

    Derajat ketulian yang didapatkan dari hasil penelitian ini, yang

    paling tertinggi pada telinga dengan OMSK maligna adalah tuli sedang

    (24,3%) dan tuli berat (24,3%). Sedangkan pada telinga dengan OMSK

    benigna didapatkan tipe ketulian yang paling tertinggi adalah tuli ringan, 3

    dari 10 telinga mengalami tuli ringan. Hal ini sedikit berbeda dengan

    penelitian di Bangladesh yang dilakukan oleh Shafiqul et al (2010) (34)

    didapatkan derajat ketulian paling tinggi adalah tuli sedang dengan rata

    rata 54,54 dB pada telinga yang mengalami perforasi. Beratnya ketulian

    tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan

    dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. (21)

  • 37

    4.3 Karakteristik Audiometri

    Tabel 4.3.1. Karakteristik Audiometri Berdasarkan AC, BC dan Ambang

    Dengar

    Variabel Telinga Tanpa

    Perforasi

    N= 21

    OMSK Benigna

    N= 10

    OMSK

    Maligna N= 37

    AC (dB)

    500 Hz 30 (15-75)* 51 21,5 70,9 25,3

    1000 Hz 25 (15-85)* 45,5 18,6 66,2 26,9

    2000 Hz 20 (10-65)* 40 22,3 60,4 31,4

    4000 Hz 20 (10-70)* 30 (15-65)* 63,9 30,3

    Ambang dengar 22,5 (15-68)* 42,8 19,9 65 27,1

    BC (dB)

    500 Hz 10 (0-40)* 10 (5-25)* 15 (10-120)*

    1000 Hz 10 (0-50)* 10 (10-50)* 15 (10-120)*

    2000 Hz 10 (0-55)* 23,5 17,6 20 (5-120)*

    4000 Hz 10 (0-40)* 10 (5-45)* 15 (5-120)*

    * Median (Min-Max)

    Pada penelitian ini, didapatkan rerata AC di frekuensi 500 Hz pada

    OMSK maligna dengan mean 70,9 dB. Sedangkan pada telinga dengan

    OMSK benigna dengan mean 51 dB. Pada telinga tanpa perforasi, median

    30 dB. Pada frekuensi 1000 Hz telinga dengan OMSK maligna diapatkan

    mean 66,2 dB, sedangkan pada telinga dengan OMSK benigna mean 45,5

    dB, pada telinga tanpa perforasi dengan median 25 dB, nilai terendah 15

    dB tertinggi 85 dB. Pada frekuensi 2000 Hz, pada telinga dengan OMSK

    maligna dengan mean 60,4 dB, OMSK benigna dengan median 40 dB,

    pada telinga tanpa perforasi dengan mean 20 dB. Pada frekuensi 4000 Hz,

    pada telinga dengan OMSK maligna dengan mean 63,9 dB, OMSK

    benigna dengan median 30 dB, pada telinga tanpa perforasi dengan median

    20 dB. Hal ini sesuai pada penelitian yang dilakukan oleh Shafiqul et al

    (2010) (34)

    AC pada telinga degan OMSK pada usia 21-25 tahun dengan

    mean 59 dB, sedangkan pada usia 26-30 tahun dengan mean 72,5 dB. Hal

    ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sharma (2012)

  • 38

    (35) di India, AC pada telinga dengan OMSK maligna atau benigna dengan

    mean 48,25 dB dan pada telinga tanpa perforasi 28,99 dB.

    Ambang dengar pada penelitian ini didapatkan pada telinga dengan

    OMSK Maligna dengan mean 65 dB, pada OMSK Benigna dengan mean

    42,8 dB dan pada telinga tanpa perforasi dengan mean 22,5 dB. Hal ini

    sedikit tidak sesuai dengan hasil penelitian Azevedo et al (2007) (24)

    ,

    ambang pendengaran rata rata pada telinga dengan OMSK adalah 40 dB

    dan 22 dB pada telinga kontralateral.

    Berdasarkan Tabel 4.3.1, didapatkan insidensi tertinggi BC pada

    frekuensi 2000 Hz, baik pada OMSK maligna dengan median 20, nilai

    terendah 15 dan nilai tertinggi 120, maupun pada OMSK benigna dengan

    mean 23,5 dB. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

    Linstorm et al (2011) (36)

    , ambang BC tertinggi yaitu pada frekuensi 2000

    Hz. Pada penelitian yang dilakukan oleh Wahyudiasih et al (2011) (15)

    dengan hasil penelitian berdasarkan ambang BC pada OMSK benigna

    terbanyak pada intensitas 26-30 dB (30%), sedangkan pada OMSK

    maligna terbanyak pada intensitas 56-60 dB (37,1%). Pada telinga tanpa

    perforasi, didapatkan median 10 dB baik pada frekuensi 500, 1000, 2000,

    maupun 4000 Hz. Hal ini sesuai dengan penelitian Kolo (2011) (25)

    didapatkan BC pada telinga tanpa perforasi 10,26 dB.

  • 39

    Tabel 4.3.2. Karakteristik Audiometri Berdasarkan Kategori Frekuensi

    Variabel Kategori Keadaan Telinga

    Telinga Tanpa

    Perforasi

    N= 21 (%)

    OMSK Benigna

    N= 10 (%)

    OMSK Maligna

    N= 37 (%)

    AC

    500 Hz 1. 0-55 dB 17 (81) 6 (60) 13 (35,1) 2. >55-70 dB 4 (19) 2 (20) 6 (16,2) 3. >70 dB 0 2 (20) 18 (48,6) Rerata 30 (15-75)*

    4 51 21,5*

    3 70,9 25,3**

    34

    1000 Hz 1. 0-55 dB 20 (95,2) 7 (70) 13 (35,1) 2. >55-70 dB 1 (4,8) 1 (10) 8 (21,6) 3. >70 dB 0 2 (20) 16 (43,2) Rerata 25 (15-85) 45 18,6 66,2 26,9**

    2000 Hz 1. 0-55 dB 21 (100) 7 (70) 18 (48,6) 2. >55-70 dB 0 2 (20) 4 (10,8) 3. >70 dB 0 1 910) 15 (40,5) Rerata 20 (10-65) 40 22,3*

    3 60,4 31,4**

    3

    4000 Hz 1. 0-55 dB 19 (90,5) 8 (80) 18 (48,6) 2. >55-70 dB 2 (9,5) 2 (20) 5 (13,5) 3. >70 dB 0 0 14 (37,8) Rerata 20 (10-70)*

    4 30 (15-65)*

    3 63,9 30,3**

    34

    BC

    500 Hz 1. 0-25 dB 21(100) 10 (100) 33 (89.2) 2. >25-60 dB 0 0 1 (2,7) 3. >60 dB 0 0 3 (8,1) Rerata 10 (0-40)

    1 10 (5-25)

    1 15 (10-120)*

    1000 Hz 1. 0-25 dB 21 (100) 10 (100) 32 (86,5) 2. >25-60 dB 0 0 1 (5,4) 3. >60 dB 0 0 3 (8,1) Rerata 10 (0-50)

    1 10 (10-50) 15 (10-120)*

    1

    2000 Hz 1. 0-25 dB 21 (100) 10 (100) 30 (81,4) 2. >25-60 dB 0 0 2 (5,4) 3. >60 dB 0 0 5 (13,5) Rerata 10 (0-55)

    2 23,517,6 20 (5-120)**

    2

    4000 Hz 1. 0-25 dB 21 (100) 10 (100) 31 (83,8) 2. >25-60 dB 0 0 1 (2,7) 3. >60 dB 0 0 5 (13,5) Rerata 10 (0-40)

    2 10 (5-45) 15 (5-120)**

    2

    * Uji Kruskal Wallis P

  • 40

    Berdasarkan Tabel 4.3.2, didapatkan ambang tertinggi AC pada

    telinga dengan OMSK maligna untuk frekuensi 500 dan 1000 Hz adalah

    >70 dB, sedangkan pada frekuensi 2000 dan 4000 Hz tertinggi adalah 0-55

    dB. Berdasarkan uji t-test menunjukkan perbedaan yang bermakna antara

    AC 500 Hz telinga tanpa perforasi dengan OMSK maligna (P=

  • 41

    4.5. Keterbatasan Penelitian

    Penelitian ini memiliki beberapa kekurangan dan keterbatasan, yaitu:

    1. Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional atau

    desain potong lintang yang hanya menggambarkan variabel yang

    diteliti, sehingga tidak bisa melihat adanya hubungan sebab akibat.

    2. Bias akibat tidak dilakukan masking, sehingga deteksi adanya tuli

    campur tidak terlihat.

    3. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari rekam

    medik yang tidak didesain untuk penelitian sehingga faktor risiko yang

    berpengaruh terhadap OMSK tidak tercantum dengan baik dan

    lengkap.

    4. Pada penelitian ini, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 106 pasien,

    tetapi yang memenuhi keriteria inklusi hanya 34 pasien.

  • 42

    BAB V

    SIMPULAN DAN SARAN

    5.1. Simpulan

    1. Sebaran tipe OMSK pada pasien yang akan dilakukan operasi telinga di

    RSUP Fatmawati tahun 2012-2014, OMSK maligna (54,4%) lebih

    besar dari pada OMSK benigna (14,7%).

    2. Sebaran tipe ketulian OMSK pada pasien yang akan dilakukan operasi

    telinga di RSUP Fatmawati tahun 2012-2014 pada OMSK maligna

    yaitu tuli konduktif (43,2%) dan tuli campur (43,2%), pada OMSK

    benigna, 5 dari 10 telinga mengalami tuli konduktif.

    3. Sebaran derajat ketulian pada pasien OMSK yang akan dilakukan

    operasi telinga di RSUP Fatmawati tahun 2012-2014 degan insidensi

    terbanyak pada telinga dengan OMSK maligna yaitu tuli sedang

    (24,3%) dan tuli berat (24,3%), sedangkan pada telinga dengan OMSK

    benigna didapatkan 3 dari 10 telinga yaitu tuli ringan.

    5.2. Saran

    1. Pada penelitian kali ini, peneliti hanya melihat gambaran audiologi

    pada pasien serta gambaran kejadiannya berdasarkan jenis OMSK,

    usia, jenis kelamin, riwayat infeksi saluran pernapasan atas dan

    riwayat alergi, sedangkan faktor-faktor resiko apa saja yang mungkin

    dapat berhubungan dengan OMSK tidak dilakukan. Sehingga

    diharapkan adanya penelitian lebih lanjut yang lebih lengkap untuk

    dapat menyajikannya.

    2. Rekam medis sebagai sumber data penelitian sebaiknya lebih lengkap

    dalam melampirkan data pasien mulai dari anamnesis, pemeriksaan

  • 43

    fisik, pemeriksaan penunjang hingga terapi yang diberikan sehingga

    pada penelitian selanjutnya tidak terdapat data yang tidak diketahui.

    3. Perlunya upaya pencegahan melalui penyuluhan penyuluhan baik

    secara langsung maupun media cetak dan elektronik, untuk

    meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan telinga.

  • 44

  • 44

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Djaafar, Z.A, Helmi, Restuti, R.D. Kelainan Telinga Tengah. Dalam:

    Soepardi, E.A, Iskandar, N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

    Tenggorok Kepala dan Leher Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;

    2007

    2. Muhammad Waseem, MD, MS. Otitis Media [Internet]. Medscape; 2014

    [Updated 2014 April 24; cited]. Available From:

    http://emedicine.medscape.com/article/994656-overview#a0101

    3. World Health Organization (WHO). Chronic Suppurative Otitis Media

    Burden of Illness and Management Options. Child and Adolescent Health

    and Development Prevention of Blindness and Deafness. WHO Geneva,

    Switzerland; 2004.

    4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

    879/Menkes/SK/XI/2006 Tentang Rencana Strategi Nasional Penanggulangan

    Gangguan Pendengaran dan Ketulian Untuk Mencapai Sound Hearing 2030. ,

    Kementrian Kesehatan RI; 2006.

    5. Anthony S. Fauci. Harrisons Principles of Internal Medicine. 17th ed.

    volume I. USA: McGraw-Hill; 2008

    6. Wald ER. Acute Otitis Media and Acute Bacterial Sinusitis. Oxford Journals.

    2011.

    7. Adam GL, Boies LC, Hilger PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6

    (Boeis Fundamentals of otolaryngology). Jakarta: Buku Ajar Kedokteran

    EGC; 2009.

    8. de Azevedo, Pinto DC, de Souza NJ, Greco DB, Gonalves DU.

    Sensorineural Hearing Loss in Chronic Suppurative Otitis Media With and

    Without Cholesteatoma [Internet]. NCBI; 2007 [cited 2011 September 02].

    Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18094809.

    9. Moore KL, Dalley AF. Clinically Oriented Anatomy 5 ed. Lippincott

    Williamns & Wilkins; 2006.

    Snell, Richard S. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6.

    http://emedicine.medscape.com/article/994656-overview#a0101http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18094809

  • 45

    Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.

    10. Tortora Gerard J, BD. Principles of Anatomy and Physiologi. 11th edition.

    United States of America: Biologycal Sciences Textbook; 2006.

    11. U Na. Childhood Suppurative Otitis Media in Abakaliki: Isolated Microbes

    and in vitro Antibiotic Sensitivity Pattern. Abakaliki, Nigeria: Medical

    Microbiology, Ebonyi State University/Teaching Hospital, Departements of

    Paediatrics; 2011.

    12. Moore KL, Dalley AF. Clinically Oriented Anatomy 5 ed. Lippincott

    Williamns & Wilkins; 2006.

    13. Healy GB, Rosbe KW. Otitis Media and Middle Ear Effusions. In: Snow JB,

    Ballenger JJ, eds. Ballenger's Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery.

    16th ed. New York: BC Decker; 2003. p.249-59

    14. Hasniah MD. Study Epidemiologi Otitis Media Supuratif Kronik Bagian THT

    Rumah Sakit Umum Labuang Baji Makassar. 2013; 2 No 1.

    15. Hearing Loss Association of America. Hearing Loss Basics [Internet]. 2014

    [cited 2014 Agustus]. Available from:

    http://www.hearingloss.org/content/types-causes-and-treatment.

    16. National Health and Nutrition Examination Survey. Audiometry Procedures

    Manual; 2003.

    17. AO1 Lasisi, Sulaiman OA, Afolabi OA. Socio-Econimoc Status And Hearing

    Loss In Chronic Suppurative Otitis Media In Nigeria. 2011.

    18. E. S. Kolo, A. D. Salisu. Sensorineural Hearing Loss with Chronic

    Suppurative Otitis Media. Indian Journal Otoralyngology Head and Neck

    Surg. 2011 March; Vol 64(10). 2011.

    19. Bashiruddin Jenny. Pencegahan Gangguan Pendengaran, Tantangan dan

    Harapan dalam Implementasi Program Sound Hearing 2030. Jakarta:

    Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran; 2010.

    20. Adil N Razooqi, et al. Sensorineural Hearing Loss in Chronic Suppurative

    Otitis Media. Iraqi JMS. 2012; 10(1).

    21. Wahyudiasih Dyah Pratiwi, EH, ER. Hubungan Jenis Bakteri Aerob dengan

    http://www.hearingloss.org/content/types-causes-and-treatment

  • 46

    Risiko Tuli Sensorineural Penderita Otits Media Supuratif Kronik. Malang:

    Universitas Brawijaya, Fakultas Kedokteran; 2011.

    22. Amaleen S. Gambaran Penderita Otitis Media Supuratif Kronis di Rumah

    Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Pada Tahun 2009. Medan: Universitas

    Sumatera Utara, Fakultas Kedokteran; 2010.

    23. Wulandari Y. Perbedaan Kadar Interleukin-1 Penderita Otitis Media Supuratif

    Kronis Tipe Jinak dan Tipe Bahaya. Surakarta: Universitas Sebelas Maret;

    2010.

    24. Ahmed M. Alabbasi et al. Prevalence and Patterns of Chronic Suppurative

    Otitis Media and Hearing Impairment in Basrah City. Journal of Medicine and

    Medical Sciences. 2010 May; 1(4).

    25. Prianto, Eko. Hubungan Faktor Faktor Risiko Dengan Terjadinya Kurang

    Pendengaran. Semarang: Universitas Diponegoro, Fakultas Kedokteran;

    2010.

    26. Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian. Otitis

    Media Supuratif Kronik. 2013.

    27. Novandra R. Otitis Media Supuratif Kronik. Mataram:, RSU Mataram; 2009.

    28. Mohammed Shafiqul Islam et al. Pattern and Degree of Hearing Loss in

    Chronic Suppurative Otitis Media. Bangladesh Journal of

    Otorhinolarybgology. 2010; Vol 16(2).

    29. Sharma Rohit, Sharma K Vinit. Analysis of Sensorineural Hearing Loss in

    Chronic Suppurative Otitis Media With and Without Cholesteatoma. Indian

    Journal of Otology. 2012; Vol 18(2): p. 65-68.

    30. Christopher J. Linstorm et al. Bone Conduction Impairment in Chronic Ear

    Disease. Annals of Otology, Rhinology & Laryngology. 2001

  • 48

    Lampiran 1

    FORMULIR PENELITIAN

    Nomor :

    Nama :

    Usia :

    Jenis Kelamin :

    Pekerjaan :

    Alamat :

    I. Pemeriksaan audiologi

    Pemeriksaan AD AS

    Tes Rinne

    Tes Weber Lateralisasi ke telinga.

    Ambang dengar

    (AC dan BC)

    1. 500 Hz

    2. 1000 Hz

    3. 2000 Hz

    4. 4000 Hz

    Tipe ketulian

    Derajat ketulian

    II. Jumlah dilaporkan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dalam 1

    tahun terakh