72

Click here to load reader

FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

i

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK

ETANOL 96 KULIT BATANG KAYU JAWA (Lannea

coromandelica) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

SKRIPSI

FITRI RAHMADANI

1111102000048

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI FARMASI

JAKARTA

JUNI 2015

ii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK

ETANOL 96 KULIT BATANG KAYU JAWA (Lannea

coromandelica) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Farmasi

OLEH

FITRI RAHMADANI

1111102000048

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI FARMASI

JUNI 2015

iii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri

dan semua sumber baik diketik maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar

Nama Fitri Rahmadani

NIM 1111102000048

Tanda tangan

Tanggal 28-5-2015

iv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

v

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

vi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK

Nama Fitri Rahmadani

Program Studi Farmasi

Judul Uji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap

Bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus

aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC

43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa diperoleh melalui metode maserasi Pengujian aktivitas antibakteri

dilakukan dengan uji diameter zona hambat dengan metode difusi agar

menggunakan kontrol positif kloramfenikol kontrol negatif DMSO 5 dan

Konsentrasi Hambat Minimum dengan metode dilusi cair Hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan menunjukkan nilai diameter zona hambat terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 pada konsentrasi 500 μlml adalah 71 mm Bakteri Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml 125 μlml beturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70 mm Bakteri Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berturut-turut adalah

82 mm 73 mm dan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berutut-turut adalah 85 mm 68 mm Nilai

Konsentrasi Hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhdap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi

500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 125 μlml Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 250 μlml dan Pseudomonas aeruginosa

ATCC 27853 pada konsentrasi 250 μlml Berdasarkan penelitian ini ekstrak

etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki antivitas

antibakteri

Kata kunci Kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) Antibakteri

Diameter zona hambat Konsentrasi hambat minimum

vii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name Fitri Rahmadani

Program Study Pharmacy

Tittle Antimicrobial Activity Test of 96 Ethanolic Extract of

Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Against

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter

pylori Pseudomonas aeruginosa

This study aimed to find out antibacterial activity of 96 ethanolic extract of kayu

jawa (Lannea coromandelica) Bark against Staphylococcus aureus ATCC 6538

Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC 43504 and

Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 96 ethanolic exctract was obtained by

maceration method Antibacterial activity test conducted by test inhibition zone

diameter with the agar diffusion method using chloramphenicol as positive

control DMSO 5 as negative control and Minimum Inhibitory Concentration

with liquid dilution method The antibacterial activity showed that the inhibition

zone diameter of Staphylococcus aureus ATCC 6538 bacteria using 500 μlml

concentration extract was 71 mm Escherichia coli ATCC 8739 using 500 μlml

250 μlml and 125 μlml extract were 85 mm 78 mm and 70 mm respectively

Helicobacter pylori ATCC 43504 using 500 μlml and 125 μlml extract were 85

mm and 73 mm respectively And Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 using

500 μlml and 250 μlml extract were 85 mm and 68 mm respectively Minimum

Inhibitory Concentration of 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) Bark most effective against bacteri Staphylococcus aureus ATCC

6538 at concentrations of 500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 at

concentrations of 125 μlml Helicobacter pylori ATCC 43504 at concentrations

of 250 μlml Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 at concentrations of 250

μlml Based on this study 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) bark was have activity antibacterial

Key word Kayu jawa (Lannea coromandelica) bark Antibacterial Inhibition

zone diameter Minimum inhibitory concentration

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu lsquoalaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbilrsquoalamin puji syukur selalu terpanjatkan atas

kehadirat Allah subhanahu wa tarsquoala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar

Muhammad SAW Skripsi dengan judul ldquoUji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak

etanol 96 Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosardquo Ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari

begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

mendidik dan membimbing memberikan secercah harapan dan mendoakan yang

terbaik kepada penulis Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada

1 Bapak Dr H Arif Sumantri SKm MKes selaku dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif

Hidayatullah Jakarta

2 Bapak Drs Umar Mansur MSc Apt selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3 Ibu Eka Putri MSi Apt dan ProfDrAtiek Soemiati MSi Apt sebagai

Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik

penulis

4 Ibu Puteri Amelia MFarm Apt Selaku dosen pembimbing Akademik

yang setia membimbing selama kuliah dengan penuh kasih sayang

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 2: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

ii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK

ETANOL 96 KULIT BATANG KAYU JAWA (Lannea

coromandelica) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Farmasi

OLEH

FITRI RAHMADANI

1111102000048

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI FARMASI

JUNI 2015

iii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri

dan semua sumber baik diketik maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar

Nama Fitri Rahmadani

NIM 1111102000048

Tanda tangan

Tanggal 28-5-2015

iv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

v

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

vi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK

Nama Fitri Rahmadani

Program Studi Farmasi

Judul Uji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap

Bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus

aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC

43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa diperoleh melalui metode maserasi Pengujian aktivitas antibakteri

dilakukan dengan uji diameter zona hambat dengan metode difusi agar

menggunakan kontrol positif kloramfenikol kontrol negatif DMSO 5 dan

Konsentrasi Hambat Minimum dengan metode dilusi cair Hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan menunjukkan nilai diameter zona hambat terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 pada konsentrasi 500 μlml adalah 71 mm Bakteri Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml 125 μlml beturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70 mm Bakteri Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berturut-turut adalah

82 mm 73 mm dan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berutut-turut adalah 85 mm 68 mm Nilai

Konsentrasi Hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhdap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi

500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 125 μlml Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 250 μlml dan Pseudomonas aeruginosa

ATCC 27853 pada konsentrasi 250 μlml Berdasarkan penelitian ini ekstrak

etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki antivitas

antibakteri

Kata kunci Kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) Antibakteri

Diameter zona hambat Konsentrasi hambat minimum

vii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name Fitri Rahmadani

Program Study Pharmacy

Tittle Antimicrobial Activity Test of 96 Ethanolic Extract of

Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Against

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter

pylori Pseudomonas aeruginosa

This study aimed to find out antibacterial activity of 96 ethanolic extract of kayu

jawa (Lannea coromandelica) Bark against Staphylococcus aureus ATCC 6538

Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC 43504 and

Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 96 ethanolic exctract was obtained by

maceration method Antibacterial activity test conducted by test inhibition zone

diameter with the agar diffusion method using chloramphenicol as positive

control DMSO 5 as negative control and Minimum Inhibitory Concentration

with liquid dilution method The antibacterial activity showed that the inhibition

zone diameter of Staphylococcus aureus ATCC 6538 bacteria using 500 μlml

concentration extract was 71 mm Escherichia coli ATCC 8739 using 500 μlml

250 μlml and 125 μlml extract were 85 mm 78 mm and 70 mm respectively

Helicobacter pylori ATCC 43504 using 500 μlml and 125 μlml extract were 85

mm and 73 mm respectively And Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 using

500 μlml and 250 μlml extract were 85 mm and 68 mm respectively Minimum

Inhibitory Concentration of 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) Bark most effective against bacteri Staphylococcus aureus ATCC

6538 at concentrations of 500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 at

concentrations of 125 μlml Helicobacter pylori ATCC 43504 at concentrations

of 250 μlml Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 at concentrations of 250

μlml Based on this study 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) bark was have activity antibacterial

Key word Kayu jawa (Lannea coromandelica) bark Antibacterial Inhibition

zone diameter Minimum inhibitory concentration

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu lsquoalaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbilrsquoalamin puji syukur selalu terpanjatkan atas

kehadirat Allah subhanahu wa tarsquoala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar

Muhammad SAW Skripsi dengan judul ldquoUji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak

etanol 96 Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosardquo Ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari

begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

mendidik dan membimbing memberikan secercah harapan dan mendoakan yang

terbaik kepada penulis Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada

1 Bapak Dr H Arif Sumantri SKm MKes selaku dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif

Hidayatullah Jakarta

2 Bapak Drs Umar Mansur MSc Apt selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3 Ibu Eka Putri MSi Apt dan ProfDrAtiek Soemiati MSi Apt sebagai

Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik

penulis

4 Ibu Puteri Amelia MFarm Apt Selaku dosen pembimbing Akademik

yang setia membimbing selama kuliah dengan penuh kasih sayang

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 3: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

iii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri

dan semua sumber baik diketik maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar

Nama Fitri Rahmadani

NIM 1111102000048

Tanda tangan

Tanggal 28-5-2015

iv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

v

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

vi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK

Nama Fitri Rahmadani

Program Studi Farmasi

Judul Uji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap

Bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus

aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC

43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa diperoleh melalui metode maserasi Pengujian aktivitas antibakteri

dilakukan dengan uji diameter zona hambat dengan metode difusi agar

menggunakan kontrol positif kloramfenikol kontrol negatif DMSO 5 dan

Konsentrasi Hambat Minimum dengan metode dilusi cair Hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan menunjukkan nilai diameter zona hambat terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 pada konsentrasi 500 μlml adalah 71 mm Bakteri Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml 125 μlml beturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70 mm Bakteri Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berturut-turut adalah

82 mm 73 mm dan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berutut-turut adalah 85 mm 68 mm Nilai

Konsentrasi Hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhdap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi

500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 125 μlml Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 250 μlml dan Pseudomonas aeruginosa

ATCC 27853 pada konsentrasi 250 μlml Berdasarkan penelitian ini ekstrak

etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki antivitas

antibakteri

Kata kunci Kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) Antibakteri

Diameter zona hambat Konsentrasi hambat minimum

vii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name Fitri Rahmadani

Program Study Pharmacy

Tittle Antimicrobial Activity Test of 96 Ethanolic Extract of

Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Against

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter

pylori Pseudomonas aeruginosa

This study aimed to find out antibacterial activity of 96 ethanolic extract of kayu

jawa (Lannea coromandelica) Bark against Staphylococcus aureus ATCC 6538

Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC 43504 and

Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 96 ethanolic exctract was obtained by

maceration method Antibacterial activity test conducted by test inhibition zone

diameter with the agar diffusion method using chloramphenicol as positive

control DMSO 5 as negative control and Minimum Inhibitory Concentration

with liquid dilution method The antibacterial activity showed that the inhibition

zone diameter of Staphylococcus aureus ATCC 6538 bacteria using 500 μlml

concentration extract was 71 mm Escherichia coli ATCC 8739 using 500 μlml

250 μlml and 125 μlml extract were 85 mm 78 mm and 70 mm respectively

Helicobacter pylori ATCC 43504 using 500 μlml and 125 μlml extract were 85

mm and 73 mm respectively And Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 using

500 μlml and 250 μlml extract were 85 mm and 68 mm respectively Minimum

Inhibitory Concentration of 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) Bark most effective against bacteri Staphylococcus aureus ATCC

6538 at concentrations of 500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 at

concentrations of 125 μlml Helicobacter pylori ATCC 43504 at concentrations

of 250 μlml Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 at concentrations of 250

μlml Based on this study 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) bark was have activity antibacterial

Key word Kayu jawa (Lannea coromandelica) bark Antibacterial Inhibition

zone diameter Minimum inhibitory concentration

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu lsquoalaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbilrsquoalamin puji syukur selalu terpanjatkan atas

kehadirat Allah subhanahu wa tarsquoala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar

Muhammad SAW Skripsi dengan judul ldquoUji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak

etanol 96 Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosardquo Ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari

begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

mendidik dan membimbing memberikan secercah harapan dan mendoakan yang

terbaik kepada penulis Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada

1 Bapak Dr H Arif Sumantri SKm MKes selaku dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif

Hidayatullah Jakarta

2 Bapak Drs Umar Mansur MSc Apt selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3 Ibu Eka Putri MSi Apt dan ProfDrAtiek Soemiati MSi Apt sebagai

Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik

penulis

4 Ibu Puteri Amelia MFarm Apt Selaku dosen pembimbing Akademik

yang setia membimbing selama kuliah dengan penuh kasih sayang

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 4: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

iv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

v

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

vi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK

Nama Fitri Rahmadani

Program Studi Farmasi

Judul Uji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap

Bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus

aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC

43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa diperoleh melalui metode maserasi Pengujian aktivitas antibakteri

dilakukan dengan uji diameter zona hambat dengan metode difusi agar

menggunakan kontrol positif kloramfenikol kontrol negatif DMSO 5 dan

Konsentrasi Hambat Minimum dengan metode dilusi cair Hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan menunjukkan nilai diameter zona hambat terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 pada konsentrasi 500 μlml adalah 71 mm Bakteri Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml 125 μlml beturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70 mm Bakteri Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berturut-turut adalah

82 mm 73 mm dan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berutut-turut adalah 85 mm 68 mm Nilai

Konsentrasi Hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhdap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi

500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 125 μlml Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 250 μlml dan Pseudomonas aeruginosa

ATCC 27853 pada konsentrasi 250 μlml Berdasarkan penelitian ini ekstrak

etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki antivitas

antibakteri

Kata kunci Kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) Antibakteri

Diameter zona hambat Konsentrasi hambat minimum

vii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name Fitri Rahmadani

Program Study Pharmacy

Tittle Antimicrobial Activity Test of 96 Ethanolic Extract of

Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Against

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter

pylori Pseudomonas aeruginosa

This study aimed to find out antibacterial activity of 96 ethanolic extract of kayu

jawa (Lannea coromandelica) Bark against Staphylococcus aureus ATCC 6538

Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC 43504 and

Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 96 ethanolic exctract was obtained by

maceration method Antibacterial activity test conducted by test inhibition zone

diameter with the agar diffusion method using chloramphenicol as positive

control DMSO 5 as negative control and Minimum Inhibitory Concentration

with liquid dilution method The antibacterial activity showed that the inhibition

zone diameter of Staphylococcus aureus ATCC 6538 bacteria using 500 μlml

concentration extract was 71 mm Escherichia coli ATCC 8739 using 500 μlml

250 μlml and 125 μlml extract were 85 mm 78 mm and 70 mm respectively

Helicobacter pylori ATCC 43504 using 500 μlml and 125 μlml extract were 85

mm and 73 mm respectively And Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 using

500 μlml and 250 μlml extract were 85 mm and 68 mm respectively Minimum

Inhibitory Concentration of 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) Bark most effective against bacteri Staphylococcus aureus ATCC

6538 at concentrations of 500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 at

concentrations of 125 μlml Helicobacter pylori ATCC 43504 at concentrations

of 250 μlml Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 at concentrations of 250

μlml Based on this study 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) bark was have activity antibacterial

Key word Kayu jawa (Lannea coromandelica) bark Antibacterial Inhibition

zone diameter Minimum inhibitory concentration

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu lsquoalaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbilrsquoalamin puji syukur selalu terpanjatkan atas

kehadirat Allah subhanahu wa tarsquoala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar

Muhammad SAW Skripsi dengan judul ldquoUji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak

etanol 96 Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosardquo Ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari

begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

mendidik dan membimbing memberikan secercah harapan dan mendoakan yang

terbaik kepada penulis Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada

1 Bapak Dr H Arif Sumantri SKm MKes selaku dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif

Hidayatullah Jakarta

2 Bapak Drs Umar Mansur MSc Apt selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3 Ibu Eka Putri MSi Apt dan ProfDrAtiek Soemiati MSi Apt sebagai

Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik

penulis

4 Ibu Puteri Amelia MFarm Apt Selaku dosen pembimbing Akademik

yang setia membimbing selama kuliah dengan penuh kasih sayang

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 5: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

v

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

vi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK

Nama Fitri Rahmadani

Program Studi Farmasi

Judul Uji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap

Bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus

aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC

43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa diperoleh melalui metode maserasi Pengujian aktivitas antibakteri

dilakukan dengan uji diameter zona hambat dengan metode difusi agar

menggunakan kontrol positif kloramfenikol kontrol negatif DMSO 5 dan

Konsentrasi Hambat Minimum dengan metode dilusi cair Hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan menunjukkan nilai diameter zona hambat terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 pada konsentrasi 500 μlml adalah 71 mm Bakteri Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml 125 μlml beturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70 mm Bakteri Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berturut-turut adalah

82 mm 73 mm dan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berutut-turut adalah 85 mm 68 mm Nilai

Konsentrasi Hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhdap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi

500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 125 μlml Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 250 μlml dan Pseudomonas aeruginosa

ATCC 27853 pada konsentrasi 250 μlml Berdasarkan penelitian ini ekstrak

etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki antivitas

antibakteri

Kata kunci Kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) Antibakteri

Diameter zona hambat Konsentrasi hambat minimum

vii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name Fitri Rahmadani

Program Study Pharmacy

Tittle Antimicrobial Activity Test of 96 Ethanolic Extract of

Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Against

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter

pylori Pseudomonas aeruginosa

This study aimed to find out antibacterial activity of 96 ethanolic extract of kayu

jawa (Lannea coromandelica) Bark against Staphylococcus aureus ATCC 6538

Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC 43504 and

Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 96 ethanolic exctract was obtained by

maceration method Antibacterial activity test conducted by test inhibition zone

diameter with the agar diffusion method using chloramphenicol as positive

control DMSO 5 as negative control and Minimum Inhibitory Concentration

with liquid dilution method The antibacterial activity showed that the inhibition

zone diameter of Staphylococcus aureus ATCC 6538 bacteria using 500 μlml

concentration extract was 71 mm Escherichia coli ATCC 8739 using 500 μlml

250 μlml and 125 μlml extract were 85 mm 78 mm and 70 mm respectively

Helicobacter pylori ATCC 43504 using 500 μlml and 125 μlml extract were 85

mm and 73 mm respectively And Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 using

500 μlml and 250 μlml extract were 85 mm and 68 mm respectively Minimum

Inhibitory Concentration of 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) Bark most effective against bacteri Staphylococcus aureus ATCC

6538 at concentrations of 500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 at

concentrations of 125 μlml Helicobacter pylori ATCC 43504 at concentrations

of 250 μlml Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 at concentrations of 250

μlml Based on this study 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) bark was have activity antibacterial

Key word Kayu jawa (Lannea coromandelica) bark Antibacterial Inhibition

zone diameter Minimum inhibitory concentration

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu lsquoalaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbilrsquoalamin puji syukur selalu terpanjatkan atas

kehadirat Allah subhanahu wa tarsquoala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar

Muhammad SAW Skripsi dengan judul ldquoUji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak

etanol 96 Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosardquo Ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari

begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

mendidik dan membimbing memberikan secercah harapan dan mendoakan yang

terbaik kepada penulis Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada

1 Bapak Dr H Arif Sumantri SKm MKes selaku dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif

Hidayatullah Jakarta

2 Bapak Drs Umar Mansur MSc Apt selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3 Ibu Eka Putri MSi Apt dan ProfDrAtiek Soemiati MSi Apt sebagai

Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik

penulis

4 Ibu Puteri Amelia MFarm Apt Selaku dosen pembimbing Akademik

yang setia membimbing selama kuliah dengan penuh kasih sayang

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 6: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

vi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK

Nama Fitri Rahmadani

Program Studi Farmasi

Judul Uji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap

Bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus

aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC

43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa diperoleh melalui metode maserasi Pengujian aktivitas antibakteri

dilakukan dengan uji diameter zona hambat dengan metode difusi agar

menggunakan kontrol positif kloramfenikol kontrol negatif DMSO 5 dan

Konsentrasi Hambat Minimum dengan metode dilusi cair Hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan menunjukkan nilai diameter zona hambat terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 pada konsentrasi 500 μlml adalah 71 mm Bakteri Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml 125 μlml beturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70 mm Bakteri Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berturut-turut adalah

82 mm 73 mm dan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

pada konsentrasi 500 μlml 250 μlml berutut-turut adalah 85 mm 68 mm Nilai

Konsentrasi Hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhdap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi

500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 pada konsentrasi 125 μlml Helicobacter

pylori ATCC 43504 pada konsentrasi 250 μlml dan Pseudomonas aeruginosa

ATCC 27853 pada konsentrasi 250 μlml Berdasarkan penelitian ini ekstrak

etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki antivitas

antibakteri

Kata kunci Kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) Antibakteri

Diameter zona hambat Konsentrasi hambat minimum

vii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name Fitri Rahmadani

Program Study Pharmacy

Tittle Antimicrobial Activity Test of 96 Ethanolic Extract of

Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Against

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter

pylori Pseudomonas aeruginosa

This study aimed to find out antibacterial activity of 96 ethanolic extract of kayu

jawa (Lannea coromandelica) Bark against Staphylococcus aureus ATCC 6538

Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC 43504 and

Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 96 ethanolic exctract was obtained by

maceration method Antibacterial activity test conducted by test inhibition zone

diameter with the agar diffusion method using chloramphenicol as positive

control DMSO 5 as negative control and Minimum Inhibitory Concentration

with liquid dilution method The antibacterial activity showed that the inhibition

zone diameter of Staphylococcus aureus ATCC 6538 bacteria using 500 μlml

concentration extract was 71 mm Escherichia coli ATCC 8739 using 500 μlml

250 μlml and 125 μlml extract were 85 mm 78 mm and 70 mm respectively

Helicobacter pylori ATCC 43504 using 500 μlml and 125 μlml extract were 85

mm and 73 mm respectively And Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 using

500 μlml and 250 μlml extract were 85 mm and 68 mm respectively Minimum

Inhibitory Concentration of 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) Bark most effective against bacteri Staphylococcus aureus ATCC

6538 at concentrations of 500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 at

concentrations of 125 μlml Helicobacter pylori ATCC 43504 at concentrations

of 250 μlml Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 at concentrations of 250

μlml Based on this study 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) bark was have activity antibacterial

Key word Kayu jawa (Lannea coromandelica) bark Antibacterial Inhibition

zone diameter Minimum inhibitory concentration

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu lsquoalaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbilrsquoalamin puji syukur selalu terpanjatkan atas

kehadirat Allah subhanahu wa tarsquoala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar

Muhammad SAW Skripsi dengan judul ldquoUji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak

etanol 96 Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosardquo Ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari

begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

mendidik dan membimbing memberikan secercah harapan dan mendoakan yang

terbaik kepada penulis Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada

1 Bapak Dr H Arif Sumantri SKm MKes selaku dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif

Hidayatullah Jakarta

2 Bapak Drs Umar Mansur MSc Apt selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3 Ibu Eka Putri MSi Apt dan ProfDrAtiek Soemiati MSi Apt sebagai

Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik

penulis

4 Ibu Puteri Amelia MFarm Apt Selaku dosen pembimbing Akademik

yang setia membimbing selama kuliah dengan penuh kasih sayang

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 7: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

vii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name Fitri Rahmadani

Program Study Pharmacy

Tittle Antimicrobial Activity Test of 96 Ethanolic Extract of

Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Against

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter

pylori Pseudomonas aeruginosa

This study aimed to find out antibacterial activity of 96 ethanolic extract of kayu

jawa (Lannea coromandelica) Bark against Staphylococcus aureus ATCC 6538

Escherichia coli ATCC 8739 Helicobacter pylori ATCC 43504 and

Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 96 ethanolic exctract was obtained by

maceration method Antibacterial activity test conducted by test inhibition zone

diameter with the agar diffusion method using chloramphenicol as positive

control DMSO 5 as negative control and Minimum Inhibitory Concentration

with liquid dilution method The antibacterial activity showed that the inhibition

zone diameter of Staphylococcus aureus ATCC 6538 bacteria using 500 μlml

concentration extract was 71 mm Escherichia coli ATCC 8739 using 500 μlml

250 μlml and 125 μlml extract were 85 mm 78 mm and 70 mm respectively

Helicobacter pylori ATCC 43504 using 500 μlml and 125 μlml extract were 85

mm and 73 mm respectively And Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 using

500 μlml and 250 μlml extract were 85 mm and 68 mm respectively Minimum

Inhibitory Concentration of 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) Bark most effective against bacteri Staphylococcus aureus ATCC

6538 at concentrations of 500 μlml Escherichia coli ATCC 8739 at

concentrations of 125 μlml Helicobacter pylori ATCC 43504 at concentrations

of 250 μlml Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 at concentrations of 250

μlml Based on this study 96 ethanolic extract of kayu jawa (Lannea

coromandelica) bark was have activity antibacterial

Key word Kayu jawa (Lannea coromandelica) bark Antibacterial Inhibition

zone diameter Minimum inhibitory concentration

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu lsquoalaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbilrsquoalamin puji syukur selalu terpanjatkan atas

kehadirat Allah subhanahu wa tarsquoala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar

Muhammad SAW Skripsi dengan judul ldquoUji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak

etanol 96 Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosardquo Ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari

begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

mendidik dan membimbing memberikan secercah harapan dan mendoakan yang

terbaik kepada penulis Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada

1 Bapak Dr H Arif Sumantri SKm MKes selaku dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif

Hidayatullah Jakarta

2 Bapak Drs Umar Mansur MSc Apt selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3 Ibu Eka Putri MSi Apt dan ProfDrAtiek Soemiati MSi Apt sebagai

Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik

penulis

4 Ibu Puteri Amelia MFarm Apt Selaku dosen pembimbing Akademik

yang setia membimbing selama kuliah dengan penuh kasih sayang

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 8: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu lsquoalaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbilrsquoalamin puji syukur selalu terpanjatkan atas

kehadirat Allah subhanahu wa tarsquoala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar

Muhammad SAW Skripsi dengan judul ldquoUji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak

etanol 96 Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosardquo Ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari

begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

mendidik dan membimbing memberikan secercah harapan dan mendoakan yang

terbaik kepada penulis Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada

1 Bapak Dr H Arif Sumantri SKm MKes selaku dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif

Hidayatullah Jakarta

2 Bapak Drs Umar Mansur MSc Apt selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3 Ibu Eka Putri MSi Apt dan ProfDrAtiek Soemiati MSi Apt sebagai

Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik

penulis

4 Ibu Puteri Amelia MFarm Apt Selaku dosen pembimbing Akademik

yang setia membimbing selama kuliah dengan penuh kasih sayang

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 9: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis

6 Kedua orangtua tercinta ayahanda Habimar Habib dan ibunda Rosnani

yang selalu memberikan doa kasih sayang yang luar biasadukungan moril

maupun materil dan nasihatnya yang tak akan pernah mampu penulis

membalas itu semua Penulis hanya bisa berdorsquoa kepada Allah yang maha

pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan segala kebesaran-Nya

mengasihi dan melindungi Ayahanda dan Ibunda tercinta melimpahkan

rezeki dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak

Aamiin

7 Kakakku yang terhebat Marsoni Syahputra dan Yosmardiansyah adikku

tersayang Ferdinand Julian Kakek dan Nenekku Syofyan dan Rosmini

serta tante Rosnidar yang selalu memberikan semangat dan keceriaan

dalam hidup penulis

8 Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 yang selalu

memberikan warna baru dalam hidup penulis kebersamaan yang begitu

indah dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga

9 Sahabat-sahabatku Dini Fauzana M Firda Happy Rahma Mazay Tari

Mozer Dhenny dan Ari yang setia menemani cerita suka maupun duka

selama penelitian

10 Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala

bantuan dan dukungannya kepada penulis Penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan Maka dari itu

dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini

Jakarta 28 Mei 2015

Penulis

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense and Technology vol 1 no 13

Manik MA Wahid SMA Islam A Pal KT Ahmed 2013 A Comparative

Study of the Antioxidant Antimicrobial and Thrombolytic Activity of

the Bark and Leaves of Lannea coromandelica (Anacardiaceae)

International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research Vol

4(7) 2609-2614 E-ISSN 0975-8232 P-ISSN 2320-5148

Mitscher LARyey PingL BathalaMS Wu-wu-Nan D and Roger W 1992

Antimicrobial agents from higher Plants Introduction Rational and

methodology

Nurcahyani Agustina dkk 2011 Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak

Polar dan Non Polar Biji Selasih (Ocimum sanctum L) Jurnal Teknologi

dan Industri Pangan Vol XXII No 1

Pertiwi Nursitasari 2010 Uji Aktivitas Antibakteri dan Mekanisme Hambat

Ekstrak Air Campuran Daun Piper betle L Terhadaap Bakteri Uji

Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pleczar Michael J and Chan ECS 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi 2

Terjemahan Ratna Siri Hadioetomo et al Jakarta UI Press

Pratiwi Silvya T 2008 Mikrobiologi Farmasi Jakarta Erlangga

Pokyni et al 2010 Prepared Turbidity Standard Mc Farland USA

Rajib Majumder Md Safkath Ibne JamiMd Efte Kharul Alam and Md Badrul

Alam Antidiarrheal Activity of Lannea coromandelica Linn Bark Extract

American-Eurasian Journal of Scientific Research 8 (3) 128-134 2013

Rahayu Sunarti S Diah P Suhardjono 2006 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau Wawonii Sulawesi

Tenggara Jurnal Biodiversitas Vol 7 (3)

41

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rao V Srinivasa Einstein John Wilkin Das Kuntal 2014 Hepatoprotective and

Antioxidant Activity of Lannea coromandelica Linn on Thioacetamide

Induced Hepatotoxicity in Rats International Letters of Natural

Sciences

Saifudin Rahayu amp Teruna 2011 Standarisasi Bahan Obat Alam Graha Ilmu

Yogyakarta

Tiwari Kumar Kaur Mandeep Kaur Gurpreet amp Kaur Harleem 2011

Phytochemical Screening and Extraction A Review Internationale

Pharmaceutica Sciencia vol 1 issue 1

Tofazzal I Toshiaki S Mitsuyoshi T Satoshi 2002 Zoosporicidal Activity of

Polyflavonoid Tannin Identified in Lannea coromandelicaStem Bark

against Phytopathogenic Oomycete Aphanomyces cochlioides Journal of

Agricultural and Food Chemistry

Venkata s S N Kantamreddi Y Nagendra Lakshmi and V V V Satyanarayana

Kasapu 2010 Preliminary Phytochemical Analysis of Some

Important Indian Plant Species International Journal of Pharma and

Bio Sciences

Wahid Arif In Vitro Phytochemical and Biological Investigation of Plant Lannea

coromandelica(Family Anacardiaceae) Thesis to Department of

Pharmacy East West University Bangladesh

WM Koneacute D Soro B Dro K Yao K Kamanz 2011 Chemical Composition

Antioxidant Antimicrobial And Acetylcholinesterase Inhibitory

Properties of Lannea Barteri (Anacardiaceae) Australian Journal of

Basic and Applied Sciences 5(10) 1516-1523

42

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 1 Alur penelitian

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman

Tanaman segar Kayu jawa

(Lannea coromandelica) Determinasi Tanaman

1 kg kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica)

Penyiapan simplisia Sortasi basah dicuci dikering anginkan diblender

Serbuk simplisia 600 gram

Maserasi dengan menggunakan

etanol 96 sebanyak 12 L

Disaring dengan kapas

dan kertas saring

kemudian diuapkan

dengan vacum rotary

evaporator Ekstrak kental etanol 96 sebanyak 42111 gram

Skrining Fitokimia

Uji Aktivitas Antibakteri

Sterilisasi

alat

Pembuatan

media (NA amp

NB)

Peremajaan

bakteri

Pembuatan

larutan uji

Pembuatan

suspensi bakteri

uji

Uji Diameter Zona

Hambat

Uji Konsentrasi

Hambat Minimum

43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu jawa

NO Golongan

senyawa

Gambar Keterangan (hasil uji)

1 Alkaloid

(Dragendorf) (Mayer)

- Tidak terbentuk

endapan kream atau

putih (Mayer)

- Hasil (-) alkaloid

- Tidak terbentuk

endapan coklat

kemerahan

(Dragendorf)

- Hasil (-) alkaloid

2 Flavonoid

- Perubahan

intensitas warna

kuning menjadi

tidak berwarna

- Hasil (+)

flavonoid

3 Saponin

- Tebentuk busa

setinggi 1 cm

yang stabil

- Hasil (+)saponin

4 Glikosida

- Terbentuk larutan

berwarna kuning

- Hasil (+) glikosida

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5 Steroid dan

Triterpenoid

(steroid) (triterpenoid)

- Tidak terbentuk

warna hijau

kehitaman

(steroid) warna

merah

(triterprnoid)

- Hasil (-) steroid

dan triterpenoid

6 Fenol

- Terbentuk warna

hitam kebiruan

- Hasil (+) fenol

7 Tanin

(sebelum) (setelah)

Penambahan Fecl3 01

- Terbentuk biru

kehitaman

- Hasil (+) tanin

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak = bobot total ekstrakbobot serbuk simplisia totak X

= g g X

= 701

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol

= w minusww minusw Bobot jenis =

i g minus i g i g minus i g

Bobot jenis = minus minus

Bobot jenis = 1026

Bobot jenis yang diperoleh disetarakan dengan kadar etanol pada tabel bobot

jenis dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III sehingga diperoleh

kesetaraan sama dengan 0

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak = W minus WWI minus W x

= minus minus x =

Ket W0 berat cawan kosong (gram)

W1 berat cawan + ekstrak sebelum dipanaskan

W2 berat cawan + ekstrak sesudah dipanaskan

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Abu Ekstrak = bobot abu akhir minus bobo krus tanpa tutupbobot ekstrak x

= gram minus gram gram x =

47

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 8 Pembuatan konsentrasi larutan uji

Gambar I pengenceran larutan uji

Larutan induk 025 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5

Larutan induk g =

μ = 5000 μlml atau 5000 ppm

500 ppm = V1 N1 V2 N2

= 5000 μL X 10 mL 500 μL

=

= 1 mL

250 ppm = V1 N1 V2 N2

= 500 μL X 10 mL 250 μL

=

= 5 mL

125 ppm = V1 N1 V2 N2

= 250 μL X 10 mL 125 μL

=

= 5 mL

625 ppm = V1 N1 V2 N2

= 125 μL X 10 mL 625 μL

=

= 5 mL

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 9 Pembuatan suspensi bakteri

Perbandingan dengan McFarland

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji

Gambar I Staphylococcus aureus

Gambar II Escherichia coli

Ket Gambar pewarnaan bakteri

staphylococcus aureus dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk bulat dan berkelompok

seperti anggur

Berwarna ungu

ket Gambar pewarnaan bakteri Escherichia

coli dengan perbesaran 10 x 100

Bebentuk batang pendek

Berwarna merah

49

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar III Helicobacter pylori

Gambar IV Pseudomoas aeruginosa

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Helicobacter pylori dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk spiral atau batang

bengkok

Berwarna merah

Ket Gambar pewarnaan bakteri

Pseudomoas aeruginosa dengan

perbesaran 10 x 100

Berbentuk batang tunggal

Berwarna merah

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol 96 Kulit

Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

51

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2 Terhadap Bakteri Escherichia coli

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

52

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 Terhadap Bakteri Helicobacter pylori

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

53

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 4 Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa

(+) kloramfenikol

(-) DMSO 5

Ekstrak konsentrasi 500

ppm

Ekstrak konsentrasi 250

ppm

Ekstrak konsentrasi 125

ppm

Ekstrak konsentrasi 625

ppm

54

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Etanol 96

Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 1 KHM Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 2 KHM Terhadap Escherichia coli

250 ppm

1512

125 ppm

1523

625 ppm

1623

k kuman

1504

k media

0000

500 ppm

1096

250 ppm

1252

125 ppm

1293

k kuman

1295

k media

0000

500 ppm

1321

625 ppm

1369

55

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 3 KHM Terhadap Helicobacter pylori

Gambar 4 KHM Terhadap Psedomonas aeruginosa

Note karena dengan melihat secara visual tidak terlalu jelas perbedaannya maka

dilakukan menghitung nilai absorbansi kekeruhan dengan menggunakan

spektrofotometer uv-vis

500 ppm

1190

250 ppm

1556

125 ppm

1940

k kuman

1938

k media

0000

500 ppm

1128

250 ppm

1395

125 ppm

1603

k kuman

1546

k media

0000

625 ppm

1952

625 ppm

1645

56

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lampiran 13 Alat dan bahan yang digunakan

Simplisia kulit batang

kayu jawa

Ekstrak kulit batang kayu

jawa

Vortex

Mikropipet

Hotplate

Refrigator

LAF

Oven

Autoklaf

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Inkubator

Spektrofotometer uv-vis

Jangka sorong

  • DAFTAR ISI
  • Halaman
  • HALAMAN SAMPUL i
  • HALAMAN JUDUL ii
  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii
  • HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
  • HALAMAN PENGESEHAN v
  • ABSTRAK vi
  • ABSTRACT vii
  • KATA PENGANTAR viii
  • HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
  • TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x
  • DAFTAR ISI xi
  • DAFTAR TABEL xiii
  • DAFTAR GAMBAR xiv
  • DAFTAR LAMPIRAN xv
  • BAB I PENDAHULUAN 1
  • 11 Latar Belakang 1
  • 12 Rumusan Masalah 3
  • 13 Tujuan Penelitian 3
  • 14 Manfaat Penelitian 4
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
  • 21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5
  • 22 Ekstrak dan Ekstraksi 6
  • 23 Pelarut 10
  • 24 Bakteri 12
  • 25 Antibakteri 15
  • 26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17
  • 25 Antibiotik Pembanding 19
  • BAB III METODE PENELITIAN 21
  • 31 Waktu dan Tempat Penellitian 21
  • 32 Alat dan Bahan 21
  • 321 Alat 21
  • 322 Bahan 21
  • 323 Bakteri Uji 22
  • 33 Prosedur kerja 22
  • 331 Pembuatan Simplisia 22
  • 332 Pembuatan Ekstrak 22
  • 333 Parameter Ekstrak 23
  • 334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24
  • 335 Pengujian aktivitas antibakteri 25
  • 3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25
  • 3352 Pembuatan Media 26
  • 3353 Peremajaan Bakteri 26
  • 3354 Identifikasi Bakteri Uji 26
  • 3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26
  • 3356 Pembuatan Larutan Uji 27
  • 3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27
  • 3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28
  • BAB IV PEMBAHASAN 29
  • 41 Determinasi Tanaman 29
  • 42 Penyiapan sample 29
  • 43 Ekstraksi 30
  • 44 Parameter Ekstrak 30
  • 45 Penapisan Fitokimia 32
  • 46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33
  • 47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35
  • BAB V PENUTUP 38
  • 51 Kesimpulan 38
  • 52 Saran 38
  • DAFTAR PUSTAKA 39
  • LAMPIRAN 43
  • DAFTAR TABEL
  • Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik Lannea coromandelica 31
  • Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33
  • Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34
  • Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36
  • DAFTAR GAMBAR
  • Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5
  • Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19
  • Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44
  • Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45
  • Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46
  • Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47
  • Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48
  • Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48
  • Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48
  • Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49
  • Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50
  • Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50
  • Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52
  • Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56
  • Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58
Page 10: FITRI RAHMADANI-FKIK.pdf

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Fitri Rahmadani

NIM 11110200048

Program Study Farmasi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya menyetujui skripsi saya dengan

judul

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96 KULIT

BATANG KAYU JAWA (Lannea coromandelica) TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

Untuk publikasi atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

perpustakaan Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk

kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian surat pernyataan persetujuan publikasi skripsi ini saya buat

dengan sebenar-benarnya

Dibuat di Jakarta

Pada tanggal 30 Mei 2015

Yang menyatakan

(Fitri Rahmadani)

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

HALAMAN PENGESEHAN v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

KATA PENGANTAR viii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

11 Latar Belakang 1

12 Rumusan Masalah 3

13 Tujuan Penelitian 3

14 Manfaat Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

21 Kayu Jawa (Lannae coromandelica) 5

22 Ekstrak dan Ekstraksi 6

23 Pelarut 10

24 Bakteri 12

25 Antibakteri 15

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba 17

25 Antibiotik Pembanding 19

BAB III METODE PENELITIAN 21

31 Waktu dan Tempat Penellitian 21

32 Alat dan Bahan 21

321 Alat 21

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

322 Bahan 21

323 Bakteri Uji 22

33 Prosedur kerja 22

331 Pembuatan Simplisia 22

332 Pembuatan Ekstrak 22

333 Parameter Ekstrak 23

334 Pemeriksaan Kulit Batang Kayu Jawa 24

335 Pengujian aktivitas antibakteri 25

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan 25

3352 Pembuatan Media 26

3353 Peremajaan Bakteri 26

3354 Identifikasi Bakteri Uji 26

3355 Pembuatan Suspensi Bakteri 26

3356 Pembuatan Larutan Uji 27

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat 27

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 28

BAB IV PEMBAHASAN 29

41 Determinasi Tanaman 29

42 Penyiapan sample 29

43 Ekstraksi 30

44 Parameter Ekstrak 30

45 Penapisan Fitokimia 32

46 Penentuan Diameter Zona Hambat 33

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum 35

BAB V PENUTUP 38

51 Kesimpulan 38

52 Saran 38

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 43

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 41 Hasil Penetapan Ekstrak Parameter spesifik dan Non Spesifik

Lannea coromandelica 31

Tabel 42 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Lannea coromandelica 33

Tabel 43 Hasil Diameter Zona Hambat Ekstrak Lannea coromandelica 34

Tabel 44 Hasil Nilai Absorbansi Kekeruhan 36

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 21 Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) 5

Gambar 26 Struktur Kimia Kloramfenikol 19

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Kerja Penelitian 44

Lampiran 2 Hasil Determinasi Tanaman 45

Lampiran 3 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol 96 Kayu Jawa 46

Lampiran 4 Perhitungan Rendeman Ekstrak 47

Lampiran 5 Perhitungan Residu Pelarut Etanol 48

Lampiran 6 Perhitungan Kadar Air Ekstrak 48

Lampiran 7 Perhitungan Kadar Air Abu 48

Lampiran 8 Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji 49

Lampiran 9 Pembuatan Suspensi Bakteri 50

Lampiran 10 Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Uji 50

Lampiran 11 Hasil Uji Diameter Zona Hambat 52

Lampiran 12 Hasil Uji Konsentrasi Hambat Minimum 56

Lampiran 13 Alat dan Bahan yang digunakan 58

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

11 Latar Belakang

Dahulu manusia menggunakan bahan alam untuk pengobatan baik dari

tumbuhan hewan ataupun mineral Pengobatan dengan menggunakan bahan

alam diperkirakan berusia sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri

Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat sejak masa sebelum masehi

(Gana 2008)

Pada saat ini bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh

berbagai lapisan masyarakat dunia baik di negara berkembang ataupun negara

maju Sekitar 80 penduduk negara berkembang masih mengandalkan

pengobatan tradisional dan 85 pengobatan tradisional dalam prakteknya

menggunakan tumbuh-tumbuhan (Gana 2008)

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati

Kekayaan alam yang melimpah ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT

yang sangat besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan

maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tumbuhan obat lebih dari 20000

jenis tumbuhan obat tersebar di seluruh negara ini Sekitar 1000 jenis tanaman

telah terdata dan baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan

untuk pengobatan secara tradisional Penggunaan tanaman sebagai bahan obat

tradisional memerlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan

digunakan sebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru

(Akbar 2010)

Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan

masyarakat Indonesia masyarakat Sulawesi tenggara khususnya adalah Kayu

jawa (Lannea coromandelica) atau dalam masyarakat Bugis dikenal dengan

sebutan ldquoaju jawardquo Tanaman ini adalah salah satu tanaman obat tradisional

yang masih sering digunakan oleh masyarakat Bugis sampai sekarang ini

karena khasiatnya yang dipercaya sangat ampuh Biasanya digunakan untuk

1

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengobati luka dalam maupun luka luar Masyarakat Bugis juga sering

menggunakan tanaman aju jawa ini untuk mengobati diare mual dan muntah

Cara penggunaan tanaman ini berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya

misalnya untuk pengobatan diare atau muntah masyarakat meminum rebusan

tanaman ini Sedangkan untuk mempercepat penyembuhan luka masyarakat

biasanya langsung menggunakan bagian tanaman aju jawa dengan

menempelkannya ke bagian luka (Rahayu 2006)

Berdasarkan studi fitokimia kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea

coromandelica) telah dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat

steroid glikosida jantung terpenoid tanin dan flavonoid (Manik et al 2013)

Ektsrak metanol kulit batang Lannea coromandelica memiliki aktivitas

antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen (Rajib et al 2013)

Avinash (2011) juga melaporkan bahwa kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) digunakan untuk pengobatan ulcer pengobatan luka hipotensi

dan antimikroba di India Selain itu fraksi n-heksana diklorometana dan etil

asetat kulit batang dan daun tumbuhan kayu jawa memiliki aktivitas

antioksidan antimikroba dan trombolitik (Manik et al 2013) Kayu jawa

yang berasal dari Sulawesi baru dilaporkan memiliki antivitas antioksidan dan

uji toksisitas (Erwin 2014)

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa kayu jawa yang berasal

dari Sulawesi juga memiliki potensi sebagai antibakteri Berdasarkan khasiat

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) di daerah sulawesi yaitu

sebagai obat luka dan obat diare serta sebagai obat peptic ulcer di India Maka

pada penelitian aktivitas antibakteri kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) ini digunakan bakteri yang berhubungan dengan empiris yang

digunakan masyarakat untuk pengobatan diantaranya adalah sebagai berikut

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri flora normal pada mulut

dan saluran pernapasan tetapi bersifat patogen menyebabkan infeksi pada kulit

Bakteri ini banyak terdapat pada selaput lendir kulit bisul dan

luka(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri

normal usus namun dalam keadaan tidak normal bersifat patogen umumnya

menyebabkan diare dan sebagai indikator pencemaran air dengan tinja

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Dwidjoseputro 1990) Bakteri Helicobacter pylori (H pylori) adalah bakteri

berbentuk spiral yang ditemukan pada lapisan mukosa lambung atau melekat

pada lapisan epitel lambung Helicobacter pylori menyebabkan lebih dari 90

dari ulkus duodenum dan hingga 80 dari ulkus lambung (Jawetz 1992)

Bakeri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang sering menyebabkan

penyakit bagi manusia dimana sering diisolasi dari penderita neoplastik luka

dan luka bakar yang berat

Berdasarkan uraian diatas dan penggunaan empiris secara luas

pengobatan masyarakat Bugis menggunakan Kulit batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) serta belum adanya publikasi ilmiah tentang pengujian

aktivitas antibakteri tanaman ini di Indonesia maka dilakukan penelitian

tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia

coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

12 Rumusan Masalah

1 Belum adanya penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96

kulit batang kayu jawa (Lannae coromandelica) yang berasal dari daerah

Sulawesi Indonesia

2 Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu Jawa

(Lannea coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

13 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol

96 kulit batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap bakteri

Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Manfaat Penelitian

1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

aktivitas ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannae

coromandelica) yang berasal dari daerah Sulawesi Indonesia sebagai

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli

Helicobacter pylor Pseudomonas aeruginosa

2 Menambah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi ilmiah

mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

21 Kayu jawa (Lannea coromandelica)

Gambar 21 Tanaman Lannea coromandelica

( Erwin Prawirodiharjo 2014)

Secara taksonomi tanaman Kayu Jawa digolongkan sebagai berikut

Kingdom Plantae

Phylum Mannoliophyta

Class Magnoliatae

Order Sapindales

Family Anacardiaceae

Genus Lannea

Species Lannea coromandelica

(Houtt) Merr (httpindiabiodiversityorgspeciesshow230190)

Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang dapat tumbuh

hingga mencapai 25 m (umumnya 10-15 m) Permukaan batang berwarna abu-abu

sampai coklat tua kasar ada pengelupasan serpihan kecil yang tidak teratur

5

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batang dalam berserat berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki

eksudat yang bergetah Daun meruncing dan berjumlah 7-11 Bunga berkelamin

tunggal berwarna hijau kekuningan Buah berbiji panjang 12 mm bulat telur

kemerahan dan agak keras Tanaman ini berbunga dan berbuah dari bulan Januari

hingga Mei Lannea coromandelica memiliki sinonim Odina wodier yang tersebar

di Himalaya (Swat-Bhutan) Assam Burma Indo-China Ceylon Pulau

Andaman China dan Malaysia (Avinash 2004)

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) merupakan tanaman

pekarangan yang dapat dimanfaatkan daun dan kulit batangnya dengan cara

ditumbuk ataupun direbus untuk mengobati luka luar luka dalam dan perawatan

paska persalinan (Rahayu 2006) Kulit batang dapat digunakan sebagai astringen

mengobati sakit perut lepra peptic ulcer penyakit jantung disentri dan

sariawan Kulit batang digunakan bersama dengan kulit batang Aegle mermelos

Artocarpus heterophyllus dan Sygygium cumini berguna dalam penyembuhan

impotensi Perebusan daun juga dianjurkan untuk mengobati pembengkakan dan

nyeri lokal (Wahid 2009)

22 Ektrak dan Ektraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (DepKes RI 2000)

Parameter non spesifik dan spesifik ekstrak

1 Parameter non spesifik

a Kadar air

Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada

dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan cara titrasi

destilasi atau gravimetri (DepKes RI 2000)

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Kadar abu

Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap

sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik Tujuannya adalah

untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan

eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak

(DepKes RI 2000)

2 Parameter spesifik

a Identitas

Parameter identitas deskripsi tata nama yaitu nama ekstrak nama

latin tumbuhan dan ekstrak yang mempunyai kandungan identitas

Tujuannya adalah untuk memberikan identitas obyektif dari mana

dan spesifik dari senyawa identitas

b Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak adalah penggunaan pancaindera yang

mendeskripsikan bentuk (padat serbuk kental dan cair) warna bau

(aromatik tidak bau) dan rasa (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga

terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair Simplisia yang

diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak

dapat larut seperti serat karbohidrat protein dan lain-lain Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

atsiri alkaloid flavonoid dan lain-lain Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

terkandung dalam simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara

ekstraksi yang tepat (DepKes RI 2000)

Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan

tumbuhan ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur

yang telah ditetapkan Selama proses ekstraksi pelarut akan berdifusi sampai ke

material padat dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang

sesuai dengan pelarutnya (Tiwari et al 2011)

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa cara metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu

1 Cara dingin

a Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

kamar (Ditjen POM 2000) Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi

adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana sedangkan

kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama membutuhkan pelarut yang

banyak dan penyarian kurang sempurna Dalam maserasi (untuk ekstrak

cairan) serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan

pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan

pengadukan yang sering sampai zat tertentu dapat terlarut Metode ini

cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari et al 2011)

b Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi

penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar

Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan tahap perendaman

tahap perkolasi antara tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak)

secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) Untuk

menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat

secara kualitatif pada perkolat akhir Ini adalah prosedur yang paling sering

digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan

ekstrak cairan (Tiwari et al 2011)

2 Cara panas

a Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru dengan

menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah

pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur

titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM 2000)

c Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15

menit Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih temperatur yang

digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM

2000)

d Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai

titik didih air (Ditjen POM 2000) Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut

air pada temperatur 90oC selama 30 menit Metode ini digunakan untuk

ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen yang stabil terhadap

panas (Tiwari et al 2011)

e Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari

temperatur suhu kamar yaitu secara umum dilakukan pada temperatur

40-50oC (Ditjen POM 2000) Digesti adalah maserasi dengan pengadukan

kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya

25-30oC) Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang

digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al 2011)

23 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain

Kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi Sifat

pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah mudah

menguap pada suhu yang rendah dapat mengekstraksi komponen senyawa

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan cepat dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi

(Tiwari et al 2011)

Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang

akan diekstraksi laju ekstraksi keragaman senyawa yang akan diekstraksi

kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya toksisitas

pelarut potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari et al 2011)

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain

1 Air

Air adalah pelarut universal biasanya digunakan untuk mengekstraksi

produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba Meskipun penyembuhan

secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut tetapi ekstrak tumbuhan

dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas

antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan ekstrak air Air juga

melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak memilik aktivitas

signifikansi terhadap antimikroba dan senyawa fenolat yang larut dalam air

yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Tiwari et al 2011)

2 Aseton

Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari

tumbuhan Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air

mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah Aseton digunakan terutama

untuk studi antimikroba dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi

dengan aseton (Tiwari et al 2011)

3 Alkohol

Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan

dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang

lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air Etanol

lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan

intraseluler dari bahan tumbuhan Metanol lebih polar dibanding etanol

namun karena sifat yang toksik sehingga tidak cocok digunakan untuk

ekstraksi (Tiwari et al 2011)

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Kloroform

Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut

menggunakan heksana kloroform dan methanol dengan konsentrasi

aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform Kadang-kadang tanin

dan terpenoid ditemukan dalam fase air tetapi lebih sering diperoleh dengan

pelarut semipolar (Tiwari et al 2011)

5 Eter

Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan asam

lemak (Tiwari et al 2011)

6 n-Heksana

n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar volatil mempunyai

bau khas yang dapat menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) Berat

molekul heksana adalah 862 grammol dengan titik leleh -943 sampai -

953degC Titik didih n-Heksana pada tekanan 760mmHg adalah 66 sampai

71degC (Daintith 1994) n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk

ekstraksi minyak nabati

7 Etil asetat

Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar Etil asetat

secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol

dan terpenoid (Tiwari et al 2011)

24 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata ldquoBakterionrdquo (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok

mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil berkembangbiak dengan

pembelahan diri serta dengan demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan

mikroskop (Dwidjoseputro1990) Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan

berkembang biak membelah diri (aseksual) Ukuran bakteri bervariasi baik

penampang maupun panjangnya

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif berdasarkan

reaksinya terhadap pewarnaan Gram Perbedaan antara Gram positif dan Gram

negatif diperlihatkan dari perbedaan dinding sel Dinding sel bakteri Gram positif

sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang membentuk

struktur yang tebal dan kaku Kekakuan dinding sel bakteri yang disebabkan

karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan peptidoglikan ini membuat bakteri

Gram positif resisten terhadap lisis osmotik (Jawetz 1996)

Dinding sel bakteri Gram negatif mengandung lapisan peptidoglikan yang

tipis membran luar yang terdiri dari protein lipoprotein fosfolipid

lipopolisakarida dan membran dalam Selain itu dinding sel bakteri Gram negatif

mengandung polisakarida dan lebih rentan terhadap kerusakan mekanik dan kimia

(Jawetz 1996)

Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibagi atas tiga

golongan yaitu (Dwidjoseputro1990)

1 Golongan basil

Basil (dari bacillus) berbentuk serupa batang silindris Sebagian besar

bakteri berupa basil Ukuran bakteri basil ada yang lebarnya 02 sampai 20μ

sedangkan panjangnya ada yang 1 sampai 15μ

2 Golongan kokus

Kokus adalah bakteri yang bentuknya bulat Golongan ini tidak sebanyak

golongan basil Ukuran bakteri kokus ada yang berdiameter 05μ ada pula

yang berdiameter sampai 25μ

3 Golongan spiral

Spiral adalah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral

Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat jika dibandingkan

dengan golongan kokus maupun golongan basil

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bakteri uji

1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat

patogen Morfologi bakteri ini selnya berbentuk bulat atau kokus

berdiameter 08 - 10μm tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur tidak membentuk spora dan tidak bergerak

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ordmC tetapi membentuk pigmen

paling baik pada suhu kamar (20-25ordmC) Pertumbuhan terbaik pada suasana

aerob namun juga bersifat aerob fakultatif Bakteri ini sering ditemukan

ditanah air tawar dan selaput lendir pada binatang berdarah panas termasuk

manusia (Jawetz 1996)

Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut

Divisi Protophyta atau Schizophyta

Kelas Schizomycetes

Bangsa Eubacteriales

Suku Micrococcaceae

Marga Staphylococcus

Spesies Staphylococcus aureus

2 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2μm diameter 07μm lebar 04μm

(Jawetz1996) Bakteri ini tidak membentuk spora tidak tahan asam

sebagian besar bergerak dengan flagel pentrikus (merata tersebar diseluruh

permukaan sel dan beberapa strain mempunyai kapsul) Escherichia coli ini

bersifat patogen bakteri ini dapat menyebabkan beberapa penyakit pada

manusia antara lain menyebabkan infeksi primer pada usus manusia (diare

pada anak) infeksi pada saluran kemih Bakteri ini banyak ditemukan dalam

saluran pencernaan habitat pada umumnya adalah ditanah lingkungan

akuatik makanan air seni dan tinja

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Escherichia coli adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Schizomycetes

Bangsa Enterobacteriales

Suku Enterobacteriaceae

Marga Escherichia

Spesies Escherichia coli

3 Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral atau batang bengkok

bersifat Gram negatif dan hidup dalam lingkungan mikroaerofilik dalam

lapisan mukosa epitel dan jaringan lambung Infeksi H pylori telah

diketahui sebagai penyebab utama penyakit peptic ulcer (tukak lambung dan

duodenum)

Klasifikasi Helicobacter pylori adalah sebagai berikut

Devisi Bacteria

Kelas Epsilon Probacteria

Bangsa Campylobacteralis

Suku Helicobateraceae

Marga Helicobacter

Spesis Helicobacter pylori

4 Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 06 x

2μm Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal berpasangan dan

terkadang membentuk rantai yang pendek P aeruginosa termasuk bakteri

Gram negatif Suhu optimum untuk pertumbuhan P aeruginosa adalah

42o

C P aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena

kebutuhan nutrisinya sangat sederhana Bakteri ini dijumpai pada luka

bakar infeksi telinga serta luka-luka setelah operasi

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Klasifikasi Pseudomonas aerugenosa adalah sebagai berikut

Divisi Bacteria

Phylum Proteobacteria

Kelas Gamma Proteobacteria

Marga Pseudomonadales

Suku Pseudomonadaceae

Genus Pseudomonas

Species Pseudomonas aeruginosa

25 Antibakteri

Antibakteri merupakan zat atau obat untuk membasmi jasad renik yang

diperoleh dari sintesis atau yang berasal dari senyawa non organik Bakteriostatik

yaitu antimikroba yang hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Bakterisidal adalah antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme

Mekanisme kerja antibakteri

1 Menghambat sintesis dinding sel

Struktur diding sel dapat dirusak dengan cara menghambat

pembentukannya atau mengubah dinding sel setelah terbentuk (Pleczar

1988)

2 Menganggu keutuhan membran sel mikroba

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu didalam sel

serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain Membran

memelihara integritas komponen-komponen selular Kerusakan pada

membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau

matinya sel (Pleczar 1988)

3 Menghambat sintesis protein sel mikroba

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alaminya Suatu kondisi atau

substansi yang mengubah keadaan ini yaitu mendenaturasi protein dan

asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali

Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengakibatkan koagulasi (denaturasi) ireversible (tidak dapat balik)

komponen-komponen selular yang vital ini (Pleczar 1988)

4 Menganggu metabolisme sel mikroba

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda ada yang di dalam

sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat

Banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia

Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau

matinya sel (Pleczar 1988)

5 Penghambatan sintesis asam nukleat dan protein

DNA RNA dan protein memegang peranan penting di dalam proses

kehidupan normal sel Hal itu berarti bahwa gangguan apa pun yang akan

terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pleczar 1988)

26 Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai penentu

konsentrasi komponen tertentu pada campuran komplek kimia untuk

mendiagnosis penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia guna

menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan Pada uji ini diukur

pertumbuhan mikroorganisme terhadap agen antimikroba Kegunaan uji

antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan

efisien

Adapun uji antimikroba antara lain sebagai berikut

1 Metode difusi

a Metode disc diffusion untuk menentukan aktivitas agen antimikroba

Piringan yang berisi agen antimiroba diletakan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar

(Pratiwi 2008)

b Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum Inhibitory

Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum) yaitu konsentrasi

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme Pada metode ini digunakan strip plastik yang

mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan

diletakan pada permukaan media agar yang telah ditanami

mikroorganisme Pengamatan dilakukan pada area jernih yang

ditimbulkan yang menunjukan kadar agen antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008)

c Ditch plate technique Pada metode ini sampel uji berupa agen

antimikroba yang diletakan pada parit yang dibuat dengan cara

memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah

parit yang berisi agen antimikroba (Pratiwi 2008)

d Cup-plate technique Metode ini serupa dengan metode disc diffusion

dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan

mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang

diuji (Pratiwi 2008)

e Gradient-plate technique Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba

pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal Media

agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan Campuran kemudian dituang

kedalam cawan petri dan diletakan dalam posisi miring Nutrisi kedua

selanjutnya dituang diatasnya dan inkubasi selama 24 jam untuk

memungkinkan agen antimikroba berdifusidan permukaan media

mengering Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai

dari konsentrasi tinggi ke rendah Hasil diperhitungkan sebagai panjang

total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin

dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan Bila

X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media

mgmL atau μgmL

Maka konsentrasi hambat adalah = C (mg mL atau μg Ml)

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat

dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat

mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi 2008)

2 Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu

a Metode dilusi cair broth dilution test (serial dilution)

Metode ini mengukur MIC (Minimum Inhibitory concentration atau

Kadar hambat minimum (KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal

Concentration) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM) Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya

dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun

agen antimikroba dan diinkubasi selama 18-24jam Media cair yang

tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM

(Pratiwi 2008)

b Metode dilusi padat solid dilution test

Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan

media padat (solid) Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen mikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji (Pratiwi 2008)

27 Antibiotika Pembanding

Antibiotik yang digunakan sebagai pembanding adalah Kloramfenikol

Gambar 27 Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI 1995)

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemerian hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan larutan

praktis netral atau larutan agak asam (Depkes RI 1995)

Kelarutan sukar larut dalam air mudah larut dalam etanol dalam

propilenglikol dalam aseton dan dalam etil asetat

(Depkes RI 1995)

Mekanisme aksi Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada

sel bakteri Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel

dengan unit ribosom 50 S sehingga mencegah ikatan

antara asam amino dengan ribosom Obat ini berikatan

secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari

amino asil t-RNA) atau pada bagian peptidil yang

merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan rantai

peptida (Katzung 2004)

Penggunaan klinik kloramfenikol digunakan untuk pengobatan infeksi yang

disebabkan oleh Salmonella Hinfluenza dan infeksi

anaerob termasuk yang disebabkan oleh B fragilis

kloramfenikol juga digunakan pada saat antibiotik tidak

efektif untuk infeksi meningitis ricketsia dan infeksi

Gram negatif yang disebabkan oleh bakterimia (virus yang

memakan bakteri) (Kester et al 2007)

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III

METODE PENELITIAN

31 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian 1 Laboratorium

Farmakognosi dan Fitokimia Laboratorium Steril Fakultas Kesehatan dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Penelitian dimulai pada bulan

Januari-April 2015

32 Alat dan Bahan

321 Alat

Alat untuk ekstraksi terdiri dari timbangan analitik (Sartonius CP224S)

spatula erlenmeyer (Pyrex) botol maserasi alumunium foil corong labu

evaporator (Pyrex) cawan penguap kaca arloji pipet blender dan alat-alat gelas

standar laboratorium

Alat untuk uji antibakteri terdiri dari erlenmeyer (Pyrex) tabung reaksi

(Wikai) rak tabung reaksi spatula gelas ukur (pyrex) autoklaf (Tommytipe SS-

325) cawan petri (Indomark) jarum ose batang L pinset mikropipet dan tip

(Epphendrorf) lampu spiritus kapas steril vortex (Labnet) hot plate dan

magnetic stirer (Daiki Kblee 5001) oven lemari pendingin (Sanyo Medicool)

laminar air flow LAF (EACI) inkubator (Gallenkamp) cakram kosong steril

(oxoid) jangka sorong

322 Bahan

Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kulit batang

kayu jawa (Lannea coromandelica) diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten

Bone Sulawesi Selatan Tanaman dideterminasi di Herbarium Bogoriense Pusat

Penelitian Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor untuk memastikan bahan uji yang

akan digunakan etanol 96 Nutrient Agar (NA) Nutrient Borth (NB) antibiotik

kloramfenikol diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI aquadest steril NaCl

fisiologis DMSO pereaksi Dragendorff Hcl pereaksi Lieberman-Bouchardat

NaOH asam sulfat kloroform asam asetat anhidrat Fe Cl3 etanol 70 etanol

96 spirtus

21

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323 Bakteri Uji

Bakteri yang digunakan antara lain

Staphylococcus aureus ATCC 6538 Escherichia coli ATCC 8739

Helicobacter pylori ATCC 43504 Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang

diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UI

33 Prosedur Kerja

331 Pembuatan simplisia

Sampel kulit batang tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica)

diperoleh dari daerah Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dari

peneliti sebelumnya dalam bentuk rajangan Sebanyak 1 kg kulit batang segar

disortasi basah selanjutnya dicuci dengan air mengalir Sampel kemudian

dirajang dan dikeringkan dengan cara dikering-anginkan dan selanjutnya disortasi

kering (dilakukan oleh peneliti sebelumnya) Simplisia yang telah kering dalam

bentuk rajangan Selanjutnya dihaluskan menggunakan blender hingga diperoleh

serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

332 Pembuatan Ekstak

Serbuk kering kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) ditimbang

600 gram dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut

etanol 96 Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia kulit batang

kayu jawa selama 3 hari dengan sesekali diaduk Prosedur diulangi hingga enam

kali proses maserasi kemudian disaring menggunakan kapas dan selanjutnya

menggunakan kertas saring Hasil maserasi (maserat) tersebut dikentalkan

menggunakan alat vacum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

Kemudian dihitung persen rendeman

Rendeman ekstrak = i i i x 100

333 Parameter ekstrak

a Identitas Ekstrak

Identitas ekstrak di identifikasi dengan tata nama yang meliputi nama

ekstrak nama latin tumbuhan bagian tumbuhan yang digunakan dan

nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI 2000)

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b Organoleptik Ekstrak

Organoleptik ekstrak di identifikasi menggunakan pancaindera untuk

mengetahui bentuk warna bau dan rasa (Depkes RI 2000)

c Residu Pelarut Etanol

Sebanyak 800 mg ekstrak etanol 70 dilarutkan dalam aquades hingga 10

mL dan di destilasi pada suhu 785degC hingga diperoleh destilat sebanyak 2

mL Destilat ditambahkan aquades hingga 10 mL Selanjutnya bobot jenis

cairan ditetapkan menggunakan piknometer Persentase residu pelarut

etanol dalam ekstrak dihitung menggunakan tabel bobot jenis dan kadar

etanol pada Farmakope Indonesia edisi III (Depkes RI 2000)

d Kadar Air

Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dimasukan ke dalam cawan penguap

yang sebelumnya telah dipanaskan dan ditara sampai bobot tetap

Dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam dan ditimbang

Sebelum dan setiap pemanasan dibiarkan dalam deksikator hingga suhu

kamar Lanjutkan pemanasan dan timbangan hingga bobot tetap selama 2

hari (Depkes RI 2000)

e Kadar Abu Total

Penetapan kadar abu total dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram ekstrak

etanol 96 ditimbang ke dalam krus yang telah ditara dan dipijarkan

perlahan Suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600plusmn25degC Didinginkan

dalam desikator dan ditimbang berat abu Kadar abu dihitung dalam persen

terhadap berat sampel awal (Depkes RI 2000)

334 Pemeriksaan Kandungan Kimia kulit batang kayu jawa

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder yang

terkandung di dalam ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) Metabolit sekunder yang diuji secara kualitatif ini antara lain

alkaloid flavonoid saponin glikosida triterpenoid dan steroid fenol dan tanin

1 Uji alkaloid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam larutan HCl encer kemudian

disaring Kedalam filtrat ditambahkan 2 ml larutan ammonia kemudian

ditambahkan kloroform 5 ml dan dikocok perlahan-lahan untuk

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengekstraksi basa alkaloid Lapisan kloroform diambil lalu diekstraksi

dengan 10 ml asam asetat kemudian dibagi menjadi 2 bagian Pada bagian

pertama ditambahkan reagen Mayer dan bagian kedua ditambahkan reagen

Dragendorff Terbentuk warna putih dengan reagen Mayer dan endapan

coklat kemerahan dengan reagen Dragendorff menunjukkan adanya

senyawa golongan alkaloid ( Ayoola GA 2008)

2 Uji Flavonoid

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan NaOH Terjadinya perubahan intensitas warna

kuning menjadi tidak berwarna pada penambahan asam sulfat

mengindikasikan adanya senyawa flavonoid (Tiwari et al 2011)

3 Uji Saponin

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dalam 20mL aquades kemudian

larutan dikocok dalam labu ukur selama 15 menit Terbentuknya busa

setinggi 1 cm mengindikasikan adanya senyawa saponin (Farnsworth

1969)

4 Uji Glikosida

Sebanyak 05 gram ekstrak ditambahkan 1 mL aquades dan ditambahkan

larutan NaOH Terbentuknya warna kuning mengindikasikan adanya

senyawa glikosida (Tiwari et al 2011)

5 Uji Triterpenoid dan steroid

Dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard Larutan uji sebanyak 2 mL

diuapkan dalam cawan porselen dilarutkan dalam 05 mL kloroform

kemudian ditambahkan 05 mL asam asetat anhidrat selanjutnya melalui

dinding tabung ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat Terbentuk cicin

kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menandakan positif

triterpenoid jika cincin biru kehijauan menandakan positif steroid

(Ayoola GA 2008)

6 Uji Fenol

Sebanyak 05 gram ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 70 dan

ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 Terbentuknya warna hitam kebiruan

mengindikasikan adanya senyawa fenol (Tiwari et al 2011)

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7 Uji Tanin

Sebanyak 05 gram ekstrak dididihkan dalam 10 ml aquadest dalam tabung

reaksi lalu disaring Kemudian kedalam filtrat ditambahkan 3 tetes larutan

FeCl3 Terbentuk warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan

adanya tannin (Ayoola GA 2008)

335 Pengujian Aktivitas Antibakteri

3351 Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dikeringkan dan

disterilkan terlebih dahulu Alat alat gelas seperti gelas ukur labu ukur dan tip

mikropipet dimasukan kedalam plastik tahan panas disterilkan menggunakan

autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Bahan-bahan yang terbuat dari karet

disterilkan dengan direndam dengan alkohol 70 dan jarum ose disterilkan

dengan dipijarkan menggunakan nyala bunsen Alat-alat kaca non presisi seperti

tabung reaksi beaker glass dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan kapas

Cawan petri dibungkus dengan kertas kemudian semuanya dimasukkan dalam

plastik tahan panas dan disterilkan dengan oven pada suhu 1800C selama 2 jam

Laminar Air Flow disterilkan dengan lampu UV selama 15 menit dan

disemprotkan dengan alkohol 70 Sterilisasi laminar ini dilakukan sebelum dan

sesudah bekerja didalamnya (Pertiwi 2010)

Media (NA dan NB) disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 1210C

selama 15 menit Pengerjaan aseptis dilakukan didalam lemari aseptis yang

sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol 70 lalu disterilkan dengan UV

3352 Pembuatan Medium

1 NA (Nutrient Agar)

Sebanyak 20 gram NA dilarutkan dengan pemanasan dalam 1 liter

aquadest diatas hot plate dan menggunakan magnetik stirer sampai bening

kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C selama 15

menit pembuatan agar miring NA dilakukan dengan memasukan media yang

telah disterilkan kedalam tabung reaksi sebanyak plusmn5 ml tabung disumbat dengan

kapas steril dan diletakan miring plusmn 450 ditunggu hingga memadat (Alexander

2007)

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 NB (Nutrient Broth)

Sebanyak 8 gram serbuk nutrient broth (NB) ditambahkan dengan 1 liter

aquades dipanaskan hingga larut diatas hot plate dan menggunakan magnetik

stirer sampai bening Media disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 1210C selama

15 menit (Alexander 2007)

3354 Peremajaan Bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring NA peremajaan bakteri

yaitu Staphylococcus aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas

aeruginosa Bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya

digoreskan pada permukaan agar miring dengan cara silang (zig-zag) dan di

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C (Nurcahyani dan Timous 2011)

3355 Identifikasi Bakteri Uji

Identifikasi bakteri uji dilakukan dengan teknik pewarnaan Gram yaitu

dengan cara sebagai berikut sebanyak 1 tetes NaCL diteteskan diatas kaca objek

kemudian disebar setipis mungkin menggunakan ose yang ada bakterinya yang

diambil dari bakteri uji Selanjutnya difiksasi dengan melewatkanya diatas api

Dan siap diwarnai

Sebanyak 1 tetes larutan karbol kristal ungu diteteskan pada preparat di

atas dan dibiarkan selama 5 menit kemudian dicuci dengan air Setelah itu

sebanyak 1 tetes Lugol diteteskan pada preparat dan dibiarkan selama 1 menit

kemudian dicuci dengan air kemudian preparat dibilas dengan alkohol 70

dengan cara dicelupkan kedalam bejana berisi alkohol Selanjutnya dicuci kembali

dengan air selanjutnya sebanyak 1 tetes larutan air Safranin diteteskan pada

preparat dan dibiarkan selama 1 sampai 2 menit setelah itu dicuci dengan air dan

dibiarkan mengering Bentuk dan warna sel bakteri dalam preparat diamati secara

mikroskopik pada perbesaran 1000 x

3356 Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri dibiakan dengan cara di inkubasi dengan nutrien agar miring

selama 24 jam pada suhu 370C kemudian diambil dengan ose dan disuspensikan

dengan cara dimasukan kedalam tabung berisi 10 mL NaCl fisiologis 09 lalu

divortex sampai homogen dan dilihat kekeruhannya yang menandai bahwa ada

pertumbuhan bakteri kekeruhan disetarakan dengan Mc Farland no 3 yaitu

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

setara dengan 109 sel bakterimL Kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis

09 steril sampai diperoleh konsentrasi 106 sel bakterimL (Kuete 2011)

Penggunaan konsentrasi 106 sel bakterimL pada suspensi bakteri berdasarkan

kerentanan anaerobik yaitu 106 - 10

4 (pokyni2010)

3357 Pembuatan larutan uji

Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak menggunakan DMSO 5

(dimetil sulfoxide) Larutan uji dibuat dengan membuat larutan induk 5000 ppm

yaitu sebanyak 025 gram ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) dilarutkan dalam 50 ml DMSO 5 kemudian larutan induk

tersebut diencerkan menjadi konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625

ppm untuk melakukan uji aktivitas antibakteri

3357 Penentuan Diameter Zona Hambat

Media agar NA yang telah disterilkan dimasukan kedalam cawan petri

steril masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar

Media tersebut ditetesi dengan 100 μL suspensi bakteri uji dan diratakan dengan

menggunakan batang L sampai rata dan kering Kertas cakram steril dengan

diameter 6 mm diteteskan ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) sebanyak 10 μl masing-masing konsentrasi yaitu 500 ppm 250

ppm 125 ppm dan 652 ppm kemudian diletakan pada media agar padat yang

telah ditetesi suspensi bakteri uji DMSO 5 sebagai kontrol negatif dan cakram

30 μg kloramfenikol sebagai kontrol positif Kemudian di inkubasi pada suhu

370C selama 24 jam dan setelah di inkubasi diukur zona hambat yang terbentuk

yang ditandai dengan adanya zona bening menggunakan jangka sorong (Atikah

2013)

3358 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan KHM dilakukan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak kulit

batang Kayu Jawa sesuai dengan konsentrasi pada diameter zona hambat Masing-

masing konsentrasi tersebut diambil sebanyak 04 mL dimasukkan ke dalam

tabung reaksi yang telah berisi NB (Nutrient Broth) sebanyak 05 mL dan

ditambahkan 01 mL suspensi bakteri uji Kemudian untuk kontrol media (KM)

dimasukan 1 mL NB (Nutrient Broth) ke dalam tabung dan kontrol kuman (KK)

09 mL NB (Nutrient Broth) dan 01 mL suspensi bakteri uji dimasukan ke dalam

27

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tabung kontrol kuman Selanjutnya tabung tersebut divortex hingga homogen dan

diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam pada inkubator kemudian diamati

kekeruhan yang terjadi dengan membandingkan tabung-tabung tersebut dengan

kontrol Konsentrasi terendah dari larutan sampel yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditandai dengan mulai adanya kejernihan secara visual

Konsentrasi inilah yang ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum Nilai

konsentrasi Hambat Minimum juga dapat diketahui dengan mengukur nilai

absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri uv-vis KHM (Atikah 2013)

28

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

41 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman terlebih dahulu dilakukan untuk mengetahui identitas

tanaman yang digunakan Determinasi tanaman ini dilakukan di Pusat Konservasi

Tumbuhan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Kebun Raya Bogor

Hasil determinasi menunjukkan bahwa sampel yang digunakan merupakan

Lannea coromandelica (Houtt) Merr dari famili Anacardiacea

42 Penyiapan Sampel

Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit batang

dari tanaman kayu jawa (Lannea coromandelica) Kayu jawa yang menjadi

sampel adalah kayu jawa yang tumbuh di daerah Watampone kabupaten Bone

Sulawesi Selatan Tanaman ini banyak tumbuh liar ataupun sengaja ditanam

sebagai tanaman pagar

Sebanyak 1 kg kulit batang segar disortasi basah untuk memisahkan

dengan pengotor seperti tanah ataupun bagian tanaman yang tidak digunakan

dalam penelitian dan terbawa pada saat proses pengumpulan kulit batang Kulit

batang selanjutnya dicuci dengan air mengalir Kulit batang yang telah dicuci

dirajang untuk memperbesar luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih

mudah berpenetrasi ke dalam sel sehingga penarikan senyawa kimia yang

terkandung dalam sampel lebih maksimal Setelah proses perajangan dilanjutkan

proses pengeringan dengan cara dikering-anginkan Pengeringan dilakukan untuk

menghentikan reaksi enzimatik yang dapat menyebabkan penguraian atau

perubahan kandungan kimia yang terdapat pada kulit batang Selain itu

pengeringan dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung

Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada

kandungan kimia kulit batang akibat pemanasan Kulit batang yang telah kering

disortasi kering untuk memisahkan dari pengotor-pengotor yang masih terbawa

pada saat proses pengeringan Kulit batang yang telah disortasi kering dihaluskan

menggunakan blender dan diperoleh serbuk simplisia kering sebanyak 600 gram

29

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43 Ekstraksi

Proses ekstraksi simplisia kulit batang kayu jawa dilakukan dengan

metode maserasi langsung dengan cara mengekstraksi langsung simplisia kulit

batang dengan etanol 96 Maserasi dipilih karena proses pengerjaan yang mudah

dan peralatan yang cukup sederhana Pada maserasi ini digunakan simplisia

sebanyak 600 gram Proses maserasi dilakukan selama 3 hari Prosedur diulangi

hingga 6 kali proses maserasi Total pelarut etanol 96 yang digunakan sebanyak

12 L dan sebelumnya telah didestilasi terlebih dahulu Menurut (Tiwari et al

2011) etanol lebih efisien dalam degradasi dinding sel sehingga polifenol akan

tersari lebih banyak Selain itu flavonoid ditemukan lebih tinggi pada penggunaan

etanol pada proses ekstraksi Pada penelitian ini menggunakan etanol 96 karena

pada uji antibakteri air sangat berpengaruh pada sensitifitas uji aktivitas

antibakteri dimana air merupakan media pertumbuhan yang baik bagi

mikroorganisme yaitu untuk membantu nutrisi masuk kedalam mikroorganisme

dengan menggunakan etanol 96 yang hanya mengandung 4 air maka dapat

mengurangi kontaminasi pada ekstrak Filtrat hasil maserasi disaring dengan

kapas dan kertas saring yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary

evaporator pada suhu 45-50degC hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 42111

gram Rendeman ekstrak etanol 96 adalah 701 (lampiran 4)

44 Parameter Ekstrak

Parameter ekstrak dapat dibagi dua yaitu parameter spesifik dan parameter

non spesifik Hasil penetapan parameter ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 41 Hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak etanol

96 Kulit batang Kayu Jawa (lannea coromandelica)

Karakteristik Hasil

Parameter spesifik

1 Identitas

- Nama Latin

- Bagian Tumbuhan

- Nama Indonesia

- Lannea coromandelica

- Kulit batang

- Kayu jawa

30

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Organoleptik

- Bentuk

- Warna

- Bau

- Rasa

- Kental

- Coklat kehitaman

- Khas

- Agak sepat

Parameter non spesifik

1 Residu pelarut etanol 0

2 Kadar air 58

3 Kadar abu 14

Parameter spesifik yang dilakukan yaitu untuk mengidentifikasi identitas

dan organoleptik ekstrak yang digunakan Tanaman yang digunakan merupakan

kayu jawa dengan nama latin Lannea coromandelica Ekstrak dibuat dari bagian

kulit batang tanaman tersebut Organoleptik ekstrak diidentifikasi menggunakan

pancaindera

Parameter non spesifik merupakan aspek yang tidak terkait dengan

aktivitas farmakologis secara langsung namun mempengaruhi aspek keamanan

dan stabilitas ekstrak (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Parameter residu

pelarut etanol dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pelarut etanol

yang tersisa setelah proses pemekatan ekstrak Bila sisa pelarut berupa etanol

masih tinggi dalam ekstrak maka kemungkinan bila masuk ke dalam tubuh dapat

memberikan reaksi efek samping (Saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu

pelarut etanol yang tersisa di dalam ekstrak dapat mengganggu hasil uji aktivitas

antibakteri yang dilakukan karena memberikan intervensi atas hasil zona hambat

dan konsentrasi hambat minimum Pada hasil penelitian inibobot jenis rata-rata

yang diperoleh adalah 1026 Nilai bobot jenis tersebut dalam tabel bobot jenis

dan kadar etanol pada Farmakope Indonesia edisi III menunjukkan bahwa

kandungan etanol yang dimiliki sama dengan nol (lampiran 5)

Pada penentuan parameter non spesifik juga dilakukan penentuan kadar

air hasil penentuan kadar air adalah 58 (lampiran 7) Kadar air dikatakan cukup

beresiko jika lebih dari 10 Hal ini menunjukan bahwa kadar air ekstrak etanol

96 kulit batang Lannea coromandelica tidak beresiko karena belum melampaui

31

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

batas 10 dikatakan beresiko karena dapat mempengaruhi stabilitas ekstrak dan

bentuk sediaan selanjutnya (saifudin Rahayu amp Teruna 2011) Selain itu kadar

air yang tinggi pada ekstrak juga dapat menyebabkan hasil yang tidak efektif pada

pengujian aktivitas antibakteri

Penentuan kadar abu dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran

kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai

terbentuknya ekstrak Pada tahap ini ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik

dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai tinggal unsur mineral dan

anorganik saja (Depkes RI 2000) Kadar abu ekstrak etanol 96 kulit batang

Lannea coromandelica sebesar 14517 (lampiran 6) Hal ini menunjukkan

bahwa kadar abu ekstrak tersebut cukup tinggi Tingginya kadar abu ini dapat

dikarenakan tingginya kandungan mineral internal di dalam kulit batang Lannea

coromandelica sendiri ataupun mineral yang berasal dari luar (mineral eksternal)

45 Penapisan Fitokimia

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan

metabolit sekunder yang tersari di dalam ekstrak etanol 96 Lannea

coromandelica sehingga dapat diketahui metabolit sekunder yang berpotensi

memiliki aktivitas antibakteri Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 42 Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu

jawa (Lannea coromandelica)

Penguji senyawa Hasil

Alkaloid -

Flavonoid +

Saponin +

Glikosida +

Steroid Triterpenoid -

Fenol +

Tanin +

32

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hasil penapisan fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol 96 menunjukkan

adanya kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid saponin

glikosida fenol dan tanin Umumnya metabolit sekunder yang diperoleh bersifat

polar sehingga tersari di dalam pelarut yang digunakan yaitu etanol 96

46 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode

difusi agar yaitu dengan cara melihat zona bening dan mengukur diameter zona

bening tersebut Hasil diameter zona hambat dari penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel 43 Hasil diameter zona hambat ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

terhadap bakteri uji

Konsentrasi

ekstrak

Diameter zona hambat (mm) rata-rata

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Pseudomonas

aeruginosa

625 μgml - - - -

125 μgml - 70 - -

250 μgml - 78 73 68

500 μgml 71 85 82 85

Kontrol (-)

DMSO 5

- - - -

Kontrol (+)

kloramfenikol

204 250 233 203

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ekstrak etanol

96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas

antibakteri yang ditandai dengan adanya zona bening pada penentuan diameter

zona hambat Konsentrasi uji yang dipakai pada penelitian ini adalah 500 ppm

250 ppm 125 ppm 625 ppm Pemilihan konsentrasi yang digunakan pada

penelitian ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya dan juga berdasarkan

literatur yang mengatakan bahwa Ekstrak dikatakan berpotensi sebagai

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

antimikroba jika pada kadar pemberian le 1000 μgmL mampu menghambat

pertumbuhan antimikroba (Mitscher et al 1992)

Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 5 Kontrol negatif

menggunakan DMSO 5 pada beberapa bakteri menunjukkan adanya sedikit

zona bening pada uji diameter zona hambat Hal ini disebabkan oleh cakram yang

ditetesi DMSO 5 saat penanaman pada uji diameter zona hambat belum kering

sehingga menimbulkan zona bening pada uji diameter zona hambat Selain itu

menurut Kumar et al 2008 DMSO memiliki aktivitas antibakteri pada

konsentrasi diatas 5 Sehingga pada penelitian ini diameter zona bening yang

terbentuk dalam kontrol negatif (DMSO 5) ditambahkan dalam diameter ekstrak

kulit batang kayu jawa yang memiliki diameter zona bening dan dianggap dimeter

zona bening pada DMSO 5 tidak ada

Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dengan konsentrasi

30 μg Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri

Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S

sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom (Katzung 2004)

Pemilihan kontrol positif kloramfenikol pada penelitian ini adalah karena

kloramfenikol adalah antibakteri yang bersifat spektrum luas (Pertiwi 2008) Pada

penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga

dengan menggunakan kontrol positif kloramfenikol dapat hanya menggunakan

satu kontrol positif saja yaitu kloramfenikol Kontrol positif terhadap Bakteri

Helicobacter pylori sebaiknya menggunakan antibiotik golongan PPP

(penghambat pompa proton) seperti metronidazole clarithromycin dan

amoxicillin karena lebih efektif dan yang biasa digunakan untuk infeksi

Helicobacter pylori karena keterbatasan antibiotik maka pada penelitian ini tetap

menggunakan kloramfenikol

Dari hasil yang tertera diatas menunjukan bahwa ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) memiliki aktivitas antibakteri terhadap

bakteri Staphylococcus aureus ditunjukan dengan adanya zona bening pada

konsentrasi 500 ppm dengan diameter 71 mm Terhadap bakteri Escherichia coli

adanya zona bening pada konsentrasi 500 ppm 250 ppm 125 ppm dengan

diameter 85 mm 78 mm 70 mm Terhadap bakteri Helicobacter pylori adanya

34

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

zona bening pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter 82 mm dan

73 mm Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi 500 ppm dan 250 ppm dengan diameter zona hambat

85 mm dan 68 mm

Ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica) aktif

sebagai antibakteri dikarenakan komponen kimia yang tekandung dalam ekstrak

Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) mengandung senyawa flavonoid glikosida saponin

tanin dan fenol Diduga senyawa inilah yang berpotensi memiliki aktivitas

antibakteri Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa senyawa

kimia yang berpotensi sebagai aktibakteri adalah flavonoid saponin steroid

glikosida tanin fenol (Harbone 1987)

47 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum adalah untuk mengetahui

konsentrasi minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa terhadap bakteri uji

berbeda-beda dapat dilihat pada konsentrasi penentuan diameter zona hambat

Pada penelitian ini penentuan KHM dilakukan terhadap bakteri uji dengan

menggunakan konsentrasi ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) 500 ppm 250 ppm 125 ppm dan 625 ppm

Penentuan KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dimana

menggunakan media cair dan menggunakan kontrol media dan kontrol kuman

Kontrol media adalah NB (Nutrien Borth) yang dimasukan ke dalam tabung jika

di inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C tidak mengalami kekeruhan karena

tidak ada bakteri yang tumbuh dalam media dan karena tidak ditambahkan

suspensi bakteri pada kontrol media Sedangkan kontrol kuman adalah media NB

yang ditambahkan suspensi bakteri yang akan menunjukkan kekeruhan jika di

inkubasi karena adanya bakteri yang tumbuh didalam media Kontrol media dan

kontrol kuman yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai pembanding

kekeruhan terhadap media yang ditambahkan ekstrak etanol 96 kulit batang

kayu jawa Dimana ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa sebagai larutan uji

35

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ditambahkan NB suspensi bakteri dan larutan uji dengan berbagai konsentrasi

Setelah di inkubasi akan terlihat kekeruhan oleh pertumbuhan bakteri dan

kekeruhan akan berkurang dengan ditambahkannya ekstrak etanol 96 kulit

batang kayu jawa (Lannea coromandelica) yang memiliki antivitas antibakteri

Nilai konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

(Lannea coromandelica) dapat ditentukan dengan melihat kekeruhan dan

membandingan dengan kontrol konsentrasi hambat minimum ditandai dengan

mulai adanya kejernihan secara visual (Pratiwi2008)

Konsentrasi Hambat Minimum ditentukan dengan melihat kekeruhan

secara visual dari hasil penentuan Konsentrasi Hambat Minimum diatas dapat

dilihat kekeruhan pada lampiran 12 namun untuk meningkatkan keefektifan nilai

Konsentrasi Hambat Minimum maka di ukur nilai absorbansi kekeruhan dengan

menggunakan spektrofotometer Uv-Vis pada panjang gelombang 600 nm

sehingga didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut (Pratiwi 2008)

Tabel 44 Hasil nilai absorbansi kekeruhan menggunakan spektrofotometri Uv-

Vis ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa

Konsentrasi

ekstrak

Nilai absorbansi kekeruhan

Staphylococcus

aureus

Escherichia

coli

Helicobacter

pylori

Psedomonas

aeruginosa

500 ppm 1312 1096 1190 1128

250 ppm 1512 1252 1556 1395

125 ppm 1603 1293 1940 1603

625 ppm 1623 1369 1952 1645

Kontrol

kuman

1504 1295 1938 1546

Kontrol media

(blanko)

0000 0000 0000 0000

Dari hasil nilai absorbansi diatas dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi

hambat minimum ekstrak etanol 96 kulit batang kayu jawa (Lannea

coromandelica) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 500 ppm karena

nilai absorbansi 500 ppm lebih kecil dari pada nilai absorbansi kontrol kuman

36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staphylococcus aureus Sedangkan terhadap Escherichia coli 125 ppm

Helicobacter pylori 250 ppm dan Pseudomonas aeruginosa 250 ppm

37

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

51 Kesimpulan

1) Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus Escherichia coli Helicobacter pylori Pseudomonas aeruginosa

2) Bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dengan diameter zona hambat 71 mm Bakteri Escherichia coli

menunjukkan aktivitas pada konsentrasi 500 μgml 250 μgml 125 μgml

dengan diameter zona hambat berturut-turut adalah 85 mm 78 mm 70

mm Bakteri Helicobacter pylori menunjukkan aktivitas pada konsentrasi

500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat adalah 82 mm

dan 73 mm Bakteri Pseudomonas aeruginosa menunjukkan aktivitas

pada konsentrasi 500 μgml dan 250 μgml dengan diameter zona hambat

adalah 85 mm dan 68 mm

3) Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak etanol 96 kulit batang Kayu

jawa (Lannea coromandelica terhadap bakteri Staphylococcus aureus

adalah 500 μgml terhadap bakteri Escherichia coli adalah 125 μgml

terhadap bakteri Helicobacter pylori adalah 250 μgml dan terhadap

bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah 250 μgml

52 Saran

Perlu penelitian lebih lanjut tentang isolasi senyawa-senyawa yang memiliki

aktivitas antibakteri dari kulit batang Kayu jawa (Lannea coromandelica)

38

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Akbar HR 2010 Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavonoid Daun Dandang

Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan Skripsi

Institut Pertanian Bogor

Aghighi S Bonjar S Rawashdeh Batayneh and Saadoun 2004 First Report of

Antifungial Spectra of Activity of Iranian Actynomicetes Strains

Against Alterinaria solani alterinaria alternate Phytophtora

Megaspermae Verticillium dahliae and Sacharomyces Cereviceae Asian

Journal of Plant Sciences three (4) 2004 463 ndash 471

Alexander K Strete D Niles MJ 2007 Organismal and molecular Microbiologi

McGraw Hill Higer Education

Asni A amp Dewi Y 2010 Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Pada Etnis Bugis

Untuk Pengobatan Gangguan Saluran Cerna Dan Identifikasi

Farmakognostiknya Prosiding Seminar Nasional ldquoEight Star

Performance Pharmacistrdquo Yogyakarta

Atikah Nur 2013 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum

americanum L) Terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Skripsi Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

Avinash Kumar Reddy Lannea coromandelica The Researcherrsquos Tree Journal of

Pharmacy Research 2011 4(3)577-579

Avinash Kumar Reddy 2004 Harmacological investigations on the standardized

leaf extractsof Lannea coromandelica (Hout) Merr Journal Indian

Ayoola Ga Hab Coker Sa Adesegun Aa Adepoju-Bello K Obaweya Ec

EzenniaTo Atangbayila 2008 Phytochemical Screening and Antooxidant

Activities of Some Selected Medicinal Plants Used For Malaria Therapy

In Southwestern Nigeria Research Article Tropical Journal of

Pharmaceutical Research

Badan POM RI 2010 Acuan Sediaan Herbal

Daintith John 1994 A Concise Dictionary of Chemistry Oxford Oxford

University Press

39

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2000 Parameter Standar Umum

Ekstrak Tanaman Obat Cetakan 1 Jakarta

Depkes RI 1995 Materia Medika Indonesia Jilid VI Jakarta

Depkes RI 1995 Farmakope Indonesia Jilid IV Jakarta

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 2000 Parameter Standar

Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik

Indonesia Jakarta

Dwijiseputro D 1990 Dasar-Dasar Mikrobiologi Jakarta Penerbit Djambatan

Erwin prawirodiharjo 2014 Uji Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak

Etanol 70 dan Ekstrak Air Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea

coromandelica) Jurusan farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fransworth NR 1966 Biological and Phytochemical Screening of Plants Jurnal

of Pharmaceutical Sciences55 1966-225-276

Gana AK 2008 Effects of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production African Journal of General Agriculture Vol 4 No 1 March

31 2008

Gandahusada SS Pribadi Ilahude HD 2004 Parasitologi Kedokteran Edisi III

Balai penerbit FKUI Jakarta

Harborne JB 1987Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis

Tumbuhan Penerjemah Kosasih P Soediro Iwang Bandung Penerbit

ITB Hal 6-17

Howarth WH et al 1982 Martindale The extra Pharmacopoeia 28th

edition

The Pharmaceutical Press London England

Jawetz E 1996 Mikrobiologi Kedokteran Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Katzung BG 2004 Farmakologi Dasar dan Klinik Jakarta Salemba Medika

Kaur Rupinder Lal Jaiswal Mohan dan Jeik Vivien 2014 Protective effect of

Lannea coromandelica HouttMerrill against three common pathogens

Department of Pharmacy Faculty of Science and Technology Banasthali

Vidhyapith Tonk Rajasthan India IP 1122156679

40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kester M V rana KE Quraishi SADowhower Karpa K 2007 Elsevierrsquos

Integrated Pharmacology Philadephia Mosby Elsevier

Kuette 2011 Antimicrobial Activities of Methanol Exstrac and Compuonds from

(Artocopus communis) BMC Complementory and Altenatife Medicine

httpwwwbiomedcentralcom1472-68821142

Kumar CS VL Dronamraju Sarada Rengasamy R 2008 Seaweed Extract

Control thr lraf Spot Diasease of The Medical Plant Gymnema sylvestre

India Journal of Sciense