of 60/60
untuk Difabel DoGoodIndonesia #2 Desain Laporan Kegiatan Maret 2012

Desain untuk Difabel

  • View
    264

  • Download
    10

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Program DoGoodIndonesia #2 Aikon + Adgi bersama DKV BINUS dalam rangka menyambut Hari Difabel Sedunia &ASEAN ParaGames ke-6 2011 di Solo. Diselenggarakan tgl 12-16 De 2011 di Taman Sriwedari Solo, berupa pameran poster dan pemutaran film pendek bertema difabilitas karya para mahasiswa dan dosen DKV BINUS dan DKV UNS serta para desainer yang tergabung di dalam Adgi Solo Chapter.

Text of Desain untuk Difabel

  • untukDifabelDoGoo

    dInd

    ones

    ia #

    2 Desain

    Laporan Kegiatan

    Maret 2012

  • 2Laporan KegiatanDesain untuk DifabelMaret 2012

    lisensi: creative commondiperbolehkan diperbanyak, dengan pencantuman sumber

    Penyusun: Sari Wulandari

  • 3untukDifabelDesain

    DoG

    oodI

    ndon

    esia

    #2

  • 4

  • 5Satu upaya untuk menumbuhkan kepekaanArief Ayip BudimanAdgi Nasional

    Kata Pengantar

    Adgi bersyukur dapat melakukan kerjasama program kembali bersama Aikon dan Jurusan Desain Komu-nikasi Visual BINUS University, Jakarta yang dapat meningkatkan pemahaman dan kapasitas desainer dalam melengkapi referensi khususnya khasanah ke-hidupan sosial yang terkait dengan peran dan tang-gung jawab profesi desainer.

    Melalui momen Kampanye Hari Difabel Interna-sional dan penyelenggaraan ParaGames ASEAN ke-6 Solo 2011, Aikon bekerja sama dengan Asosiasi Desain Grafis Indonesia dan Jurusan Desain Komu-nikasi Visual BINUS University, Jakarta, mendorong isu aksesibilitas difabel ke tengah masyarakat dengan tujuan meningkatkan apresiasi masyarakat kepada kaum difabel melalui pengembangan media komu-nikasi pameran Poster dan Audio Visual bertema di-fabilitas karya mahasiswa dan dosen.

    Setiap permasalahan belum tentu dapat dituntaskan hanya dengan program semacam ini semata, karena-nya Adgi berharap bentuk kerjasama dan kolaborasi ini menjadi kebutuhan yang dapat sinambung melalui program mendatang.

    Adgi memiliki keyakinan bahwa pustaka ini ada-lah bentuk kearsipan dan penyebarluasan informasi

    Just like you, Im normal. And just like me, youre different... (Blindman Jack)

  • 6yang penting bagi keterbatasan keikutsertaan dalam program Desainer untuk Difabel. Melalui pustaka ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus adanya evaluasi yang mampu menyempurnakan program ini di kemudian hari.

    Semoga program ini tidak hanya mendorong kon-tribusi profesi desainer grafis dan kiprah mahasiswa komunikasi visual bergiat dalam pemberdayaan sosial, budaya, dan lingkungan dalam menjalankan praktek profesionalnya tapi menumbuhkan kepekaan akan pentingnya perubahan yang dimulai dari lingkungan sekitar kita.

    Terima kasih dan penghargaan bagi semua pihak yang telah berpartisipasi dalam program ini; Fakul-tas Desain Komunikasi Visual Universitas Nasional Surakarta dan Asosiasi Desain Grafis Indonesia Solo Chapter serta Gedung Kesenian Sriwedari, Solo.

    Arief Ayip BudimanChairmanAsosiasi Desainer Grafis Indonesia

  • 7

  • 8

  • 9Desain untuk Difabel sebuah Program Lanjutan Do Good Indonesia

    Enrico Halimaikon

    Hingga saat ini tidak ada data resmi mengenai jumlah difabel di Indonesia. Jika mengacu pada aturan WHO, terdapat sekitar 10% jumlah difabel dari jumlah pen-duduk di setiap negara. Walau Indonesia memiliki Undang-undang No 4 Tahun 1997 tentang Penyan-dang Cacat, namun perhatian pada publik difabel masih rendah, belum aktif diimplementasi di setiap daerah.

    Adalah Sir Ludwig Guttmann yang di tahun 1948, menyelenggarakan kompetisi olahraga bagi veteran perang dunia II yang mengalami cedera tulang bela-kang. Kompetisi itu digelarnya di Stoke Mande-ville, England. Empat tahun kemudian, peserta dari Belan-da bergabung, dan lahirlah gerakan internasional itu. Olimpiade untuk atlit dengan keterbatasan kemam-puan diadakan pertama kali di Roma pada tahun 1960. Olimpiade tersebut sekarang disebut Paralimpik.

    Solo mempunyai sejarah yang baik tentang rehabilitasi difabel. Jumlah kaum difabel di wilayah Solo Raya se-banyak 63.000 jiwa, hanya 15% yang memiliki peker-jaan tetap. Data lain menyebutkan jumlah difabel di Kota Solo hingga tahun 2007 mencapai lebih dari 5.000 jiwa. Sebanyak 80% atau 4.000 jiwa di antara-nya sudah berkeluarga. Sebanyak 60% dari 4.000 jiwa tersebut hidup di bawah garis kemiskinan.

    Pada tanggal 12-22 Desember 2012 kota Solo me-nyelenggarakan ASEAN ParaGames 2011. Dalam kegiatan ini akan dipertandingan 11 cabang olahraga.

    Kata Pengantar

  • 10

    Sebanyak 3000 atlet dan official berpartisipasi dalam perhelatan empat tahunan ini.

    Kondisi dan permasalahan yang dihadapi masyarakat di mana kemampuan publik difabel masih tidak di-akui, atau dianggap tidak setara dengan publik non-difabel. Sementara ini ParaGames merupakan satu dari banyak kegiatan yang dapat mendorong perha-tian lebih masyarakat umum kepada publik difabel. Aikon dan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi) melihat selama empat bulan sebelum kegiatan ting-kat ASEAN tersebut dilaksanakan belum nampak semangat yang dibangun dari informasi mengenai kegiatan tersebut.

    Industri kreatif sedang digalakkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Desain Grafis merupakan salah satu dari empat belas bidang yang resmi diakui pemerintah. Desain grafis merupakan disiplin ilmu favorit dalam masyarakat saat ini, karena tingginya permintaan industri (biro iklan, perusahaan produk komersial, dll.) pada kemahiran dalam berkomunikasi secara visual. Banyak perusahaan tingkat nasional dan internasional yang menggiatkan Program Corporate Social Responsibility. Selain itu kondisi desain grafis dan masyarakat Indonesia pada umumnya membutuhkan masukan berkualitas mengenai praktik desain yang mendorong kebaikan. Hal ini dapat meningkatkan pemahaman yang baik soal difabilitas di kalangan mahasiswa dan praktisi komunikasi visual.

    Faktor-faktor inilah yang membuat Aikon danAdgi membuat program kegiatan yang dapat mendorong perhatian publik tentang difabilitas, mendukung per-hatian pemerintah Kota Solo kepada publik difabel, melibatkan publik non-difabel dalam kegiatan kema-nusiaan yang masih minim perhatian, menjadi ruang pembelajaran bagi publik, khususnya bagi para pihak di bidang komunikasi visual.

    Dalam kegiatan ini memposisikan publik dengan dif-ferent ability (difabel), pada tempatnya yang berke-mampuan lebih dari pada yang selama ini di-stigma-

  • 11

    kan. Selain itu mendorong peran publik difabel dalam menyiarkan semangat kegiatan ASEAN Paralympic Games Solo 2011 serta melibatkan berbagai pihak yang memiliki perhatian pada publik difabel, khusus-nya lembaga-lembaga di Solo dan mempublikasikan berbagai materi visual terkait dengan difabilitas.

    Dalam pelaksanaannya, Aikon dan Adgi mengajak beberapa pihak untuk bekerjsama, di antaranya adalah Jurusan Desain Komunikasi Visual BINUS Univer-sity Jakarta, Jurusan Desain Komunikasi Visual UNS Solo, Adgi chapter Solo, serta Yayasan Talenta Sura-karta. Yang terakhir disebutkan sebagai gambaran, Yayasan Talenta Surakarta didirikan tahun 2000, aktif melakukan pemberdayaan terhadap individu dan or-ganisasi difabel, memasyarakatkan dan membangun paradigma baru penanganan masalah kecacatan, serta mendorong kebijakan yang berperspektif kecacatan. Selain itu Aikon+Adgi turut mengajak INASPOC (Indonesia Asean Paragames Olympic Committee) untuk bekerjasama dalam mensosialisasikan kegiatan ini.

    Program Komunikasi Visual yang digelar berupa Pameran poster dan pemutaran film pendek dengan tema: Desain Untuk Difabel karya-karya maha-siswa dan dosen dari Jurusan Desain Komunikasi Vi-sual BINUS University, Fakultas Desain Komunikasi Visual UNS Solo, dan desainer yang tergabung da-lam Asosiasi Desain Grafis Indonesia cabang Solo. Kegiatan ini dilangsungkan di Solo bersamaan den-gan dilaksanakannya kegiatan ASEAN Paragames 2011. Sedangkan untuk di Jakarta digelar Pameran Infografis Desain untuk Difabel Kubusi: Kubus In-spirasi. Menyambut perhelatan ParaGames 2011 di Solo, mahasiswa dan dosen Fakultas Senirupa dan Desain Universitas Tarumanagara menampilkan ber-bagai karya, buku, dan informasi mengenai difabili-tas, yang berkaitan dengan bidang komunikasi visual di Studio Senirupa dan Desain lantai enam.

  • 12

    PemenuhanHAKnya adalahtanggung jawab

    bersama

  • 13

    PemenuhanHAKnya adalahtanggung jawab

    bersama

  • 14

  • 15

    Program Komunikasi Visual yang digelar berupa Pameran poster dan pemutaran film pendek dengan tema: Desain Untuk Difabel karya-karya maha-siswa dan dosen dari Jurusan Desain Komunikasi Vi-sual BINUS University, Fakultas Desain Komunikasi Visual UNS Solo, dan desainer yang tergabung dalam Asosiasi Desain Grafis Indonesia cabang Solo. Keg-iatan ini dilangsungkan di Solo bersamaan dengan dilaksanakannya kegiatan ASEAN Paragames 2011 (APG 2011).

    Seperti yang sudah sering dilakukan, setiap penye-lenggaraan SEA Games selalu diikuti dengan penye-lenggaraan ASEAN ParaGames. Demikian juga pada tahun ini, ASEAN ParaGames 2011 diselenggarakan di kota Solo beberapa hari setelah SEA Games ke-26 usai, tepatnya pada tanggal 12-20 Desember 2011. Dalam APG 2011 akan dipertandingan 11 cabang olahraga seperti atletik, akuatik, bulutangkis, catur, voli duduk, renang, tennis, angkat berat dan lain-lain dengan peserta dari 11 negara. Lebih dari 1.000 atlet dan official akan berpartisipasi dalam perhelatan em-pat tahunan ini.

    Momen yang istimewa ini mendatangkan inspirasi bagi Aikon Media, ADGI (Asosisasi Desainer Grafis Indonesia) dan DKV BINUS untuk menyelenggara-kan kegiatan yang dapat mendorong isu aksesibilitas difabel ke tengah masyarakat. Kegiatan yang diseleng-garakan masih dalam lingkup desain grafis berupa pameran poster bersama karya para mahasiswa dan dosen DKV BINUS University, DKV UNS Solo dan ADGI chapter Solo. Difabel adalah sebutan lain untuk penyandang cacat, yang merupakan singkatan dari different ability menggantikan kata disable atau disability karena berkonotasi negatif. Selain itu

    wor

    ksho

    p //

    obs

    erva

    si //

    kar

    ya k

    elas

    // p

    amer

    an //

    sar

    aseh

    an Desain untuk Difabel

    Sari WulandariDKV BINUS University

  • 16

    penyebutan dengan kata difabel dimaksudkan untuk lebih menghargai situasi dan kondisi yang ada pada penyandang cacat bahwa mereka bukannya tidak bisa namun punya kemampuan yang berbeda. Den-gan adanya momen ini maka dibuatlah kegiatan yang merupakan program DoGoodIndonesia #2 yaitu Desain untuk Difabel dengan tujuan pertama, men-dorong perhatian masyarakat pada ASEAN Paralym-pic Games Solo 2011, melalui pemberdayaan publik different abilitiy (difabel). Kedua, mendukung perhatian pemerintah Kota Solo kepada publik difabel.

    Sebagai puncak kegiatan maka pada tanggal 12-14 Desember 2011 tiga lembaga ini (Aikon, Adgi dan DKV BINUS) dengan bekerjasama dengan Fakul-tas Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Surakarta dan Asosiasi Desain Grafis Solo Chapter menyelenggarakan pameran Poster dan Audio Visual bertema difabilitas, menampilkan karya-karya maha-siswa dan dosen di Gedung Kesenian Sriwedari, Solo. Program ini sekaligus untuk mendorong kontribusi profesi desainer grafis dan kiprah mahasiswa desain komunikasi visual untuk bergiat dalam pemberdayaan sosial, budaya, dan lingkungan dalam menjalankan praktek profesionalnya. Pameran ini menampilkan 20 karya dari mahasiswa dan dosen DKV BINUS, 15 karya mahasiswa dan dosen UNS Solo dan 4 karya desainer yang tergabung dalam Adgi chapter Solo. Dalam komunikasinya diarahkan bahwa poster- poster ini akan mengusung semangat dan optimisme bagi para difabel dan masyarakat umum.

    WorkshopSebelum call for poster diluncurkan, diadakan work-shop dengan mengundang Bapak Sapto Nu-groho dari Yayasan Talenta, Solo. Bapak Sapto ini adalah seorang difabel, pendiri dan pembina Yayasan Talenta yang bergerak di bidang pember-dayaan terhadap para difabel sehingga mereka dapat memperoleh kesempatan kerja dan berkehidu-pan yang lebih baik dari sebelumnya. Beberapa disku-si sederhana dan sebuah workshop dilakukan di DKV Binus untuk memberikan pengetahuan yang lebih

  • 17

    baik dan mendorong munculnya semangat keterliba-tan desainer grafis di dunia difabel. Diskusi di dunia maya melalui jaringan media sosial pun dilakukan. Semangat berkontribusi untuk isu difabilitas kemu-dian berkembang menjadi persiapan perayaan Hari Difabel Internasional yang diperingati setiap tanggal 3 Desember yang dikaitkan dengan penyelenggaraan ParaGames ASEAN ke-6 di Solo.

    Workshop ini merupakan bagian dari metode observasi di mana kemudian diperoleh insight mengenai situasi dan kondisi difabilitas di Indonesia saat ini, terlihat secara kasat mata di mana fasilitas publik bagi para di-fabel masih sangat kurang diperhatikan (kampus BI-NUS sendiri masih belum menyediakan fasilitas yang memadai untuk difabel). Namun di samping itu, para difabel pun memiliki pergulatan batin dalam meng-hadapi kondisi pada dirinya. Dari observasi awal, diperoleh beberapa poin permasalahan yang ada di sekitar isu difabel adalah: pertama, pengakuan terh-adap kemampuan publik difabel yang masih kurang atau dianggap tidak setara dengan publik non-difabel, sehingga masih banyak dirasakan adanya diskriminasi terhadap difabel baik di lapangan pekerjaan maupun pendidikan. Hal inilah yang perlu untuk disosialisasi-kan di masyarakat bahwa mereka para difabel memili-ki kemampuan yang sama dengan non-difabel namun dengan cara yang berbeda. Kedua, melibatkan publik non-difabel dalam kegiatan kemanusiaan yang masih minim perhatian, serta menjadi ruang pembelajaran bagi banyak pihak, khususnya para pihak di bidang komunikasi visual.

    ObservasiPada bulan September 2011 adalah masa di mana para atlit difabel Paralimpik berlatih. Untuk lebih memperkaya wawasan dan pengetahuan menge-nai berkomunikasi dengan para difabel maka DKV BINUS mengirim delegasinya (terdiri dari 7 orang dosen DKV BINUS) dan dilakukanlah observasi lan-jutan berupa kunjungan ke lokasi latihan untuk mem-pertajam insight dengan melihat dari dekat bagaimana para atlit difabel renang berlatih di Stadion Renang

  • 18

    Tirtomoyo, Solo. Pemandangan yang sungguh mem-buat perasaan tidak menentu. Ada rasa haru, iba, se-mangat, bangga yang saling bercampur aduk menjadi satu. Para atlit renang difabel berlatih tanpa henti di bawah instruksi para pelatih nasional yang menerap-kan disiplin sangat ketat, tanpa membedakan apakah atlit yang dibinanya adalah seorang difabel atau non-difabel. Mayoritas atlit adalah tuna daksa, tuna netra dan tuna grahita. Semangat yang dimiliki para atlit ini sungguh luar biasa dan patut dicontoh.

    Kegiatan observasi lanjutan ini dibantu oleh Bapak Sapto Nugroho dari Yayasan Talenta yang bertindak sebagai fasilitator dan delegasi melakukan kunjungan ke sekretariat Yayasan Talenta. Dari kunjungan ini delegasi banyak berdiskusi, melakukan interview den-gan beberapa rekan difabel dan memperoleh insight mengenai difabilitas lebih mendalam.

    Studi LiteraturSelain obeservasi, studi literatur pun dilakukan untuk memperdalam pemahaman akan difabilitas. Maka dilakukan studi literatur dengan mencari data dan informasi mengenai difabilitas baik melalui pustaka maupun internet berupa teks, foto atau video. Litera-tur ini juga bermanfaat untuk disebarluaskan kepada para mahasiswa dan dosen ketika mereka berpartisi-pasi dalam membuat karya poster untuk kegiatan ini. Dengan demikian akan semakin banyak masyarakat yang peduli mengenai difabilitas, lebih menghar-gai dan memperhatikan kebutuhan para difabel dan meningkatkan eksistensinya di masyarakat.

    Karya KelasDalam rangka meningkatkan pemahaman yang baik mengenai difabilitas di kalangan mahasiswa dan prak-tisi desain komunikasi visual pada umumnya, serta untuk mewujudkan praktik desain yang mendorong kebaikan, melalui momen ini mahasiswa DKV BI-NUS dilibatkan secara aktif dengan dikukuhkannya isu difabilitas sebagai tugas di kelas. Mahasiswa diwa-jibkan untuk membuat poster bertema Desain untuk

  • 19

    Difabel yang dapat memberi semangat dalam nuansa penuh humor dan segar.

    Pameran PosterSebagai puncak kegiatan maka pada tanggal 12-15 Desember 2011 tiga lembaga ini (Aikon, Adgi dan DKV BINUS) dengan bekerjasama dengan Fakul-tas Desain Komunikasi Visual Universitas Nasional Surakarta dan Asosiasi Desain Grafis Solo Chapter menyelenggarakan pameran Poster dan Audio Visual Desain untuk Difabel, yang merupakan hasil karya mahasiswa dan dosen serta praktisi DKV, yang dige-lar di Gedung Kesenian Sriwedari, Solo. Program ini sekaligus untuk mendorong kontribusi profesi de-sainer grafis dan kiprah mahasiswa komunikasi visual bergiat dalam pemberdayaan sosial, budaya, dan ling-kungan dalam menjalankan praktek profesionalnya. Pameran ini menampilkan 20 karya dari mahasiswa dan dosen DKV BINUS, 15 karya mahasiswa dan dosen UNS Solo dan 4 karya desainer yang tergabung dalam Adgi Solo.

    Pada umumnya karya-karya yang dipamerkan me-nyampaikan pesan yang dapat mengobarkan sema-ngat bagi para difabel untuk lebih mandiri, memberi penghargaan bagi mereka dengan menempatkan posisi para difabel sejajar dengan masyarakat non-difabel. Dari pameran poster ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi dengan empati kepada publik difabel adalah hal yang utama. Dengan adanya empati akan meningkatkan apresiasi masyarakat ter-hadap para difabel sehingga timbul rasa percaya diri yang lebih tinggi pada diri mereka yang selanjutnya dapat mengantarkan mereka kepada prestasi yang lebih baik lagi.

    Konperensi PersPada tanggal 13 Desember 2011 digelar acara kon-perensi pers dengan mengundang beberapa media cetak baik harian maupun mingguan, di antaranya adalah Solo Pos dan Suara Merdeka. Hadir dalam konperensi pers ini adalah Bapak Arif Ayip Budiman dari Adgi Nasional, Bapak Enrico Halim dari Aikon

  • 20

    Media, Sari Wulandari dari DKV BINUS University, Bapak Hermansyah Muttaqin dari DKV UNS Sura-karta serta Bapak Bandung Ajiriyanu dan Bapak Da-niel Herdianto dari Adgi Chapter Solo.

    Pemutaran Film PendekSelain poster juga diputar film pendek yang meru-pakan hasil karya para dosen dan mahasiswa DKV BINUS dan DKV UNS Surakarta.

    Obrolan Santai #Ngaso:Program Adgi Chapter SoloMelalui program #Ngaso (Ngumpul Adgi Solo) yang merupakan program rutin dari Adgi chapter Solo. Dalam kegiatan Desain untuk Difabel ini diseleng-garakan obrol-obrol santai dengan mengedepankan 3 topik mengenai difabilitas. Pada topik pertama menampilkan Ibu Jurike Moniaga dari Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) BINUS University, membahas mengenai alat My Learning Module for the Blind (MLM 4 d Blind), yang merupakan hasil penelitian dan pengem-bangan para mahasiswa Fasilkom BINUS University. Alat baca elektronik ini berfungsi untuk mengako-modir kebutuhan para tunatetra dalam membaca dengan menggunakan sistem penulisan braille.

    Pada topik kedua, membahas mengenai komunikasi dengan publik difabel dengan mendengarkan sharing dari Bapak Andreas Widodo dari DKV UNS Surakar-ta dan Sari Wulandari dari DKV BINUS University. Bapak Andreas mengupas komunikasi dari sisi nilai-nilai di masyarakat, sedangkan dalam obrolannya Sari menyampaikan bahwa keberhasilan berkomunikasi kepada publik difabel adalah melalui empati.

    Dalam topik ketiga, sharing disampaikan oleh Arief Ayip Budiman, Ketua Adgi Nasional yang memba-has mengenai industri kreatif.

    Acara ini banyak dihadiri oleh para mahasiswa, dosen serta praktisi desain komunikasi visual kota Solo, baik yang tergabung dalam DKV UNS maupun Adgi Solo Chapter.

  • 21

    Respon Masyarakat dan Liputan Media MassaAnimo masyarakat untuk mengunjungi pameran ini cukup tinggi dan merespon kegiatan ini dengan positif, terlihat dengan adanya kunjungan dari beber-apa yayasan penyandang cacat dan masyarakat di kota Solo, mendapat perhatian dari media massa setempat disertai dengan liputan media lokal yang memberita-kan kegiatan ini kepada masyarakat, yaitu Solo Pos dan Suara Merdeka. Respon yang positif disampaikan oleh Yayasan Talenta bahwa kegiatan seperti ini perlu sering dilakukan agar masyarakat dapat lebih mema-hami situasi dan kondisi para difabel dan sebaliknya para difabel pun memiliki semangat untuk dapat lebih mandiri dan berprestasi lebih baik lagi.

    Evaluasi PenyelenggaraanDalam pelaksanaannya yang melibatkan beberapa in-stitusi dan lembaga yang berlokasi tidak di satu kota, maka persiapan penyelenggaraan kegiatan ini ba- nyak memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komu-nikasi (TIK) seperti email, internet, Blackberry Mes-senger, Yahoo!Messenger, twitter, Facebook. Mekan-isme pengiriman karya dilakukan ke masing-masing kampus atau asosiasi melalui email dalam bentuk high resolution file berformat pdf. Setelah itu proses seleksi dilakukan oleh masing-masing kampus atau asosiasi.Karya yang lolos seleksi kemudian dipamerkan dan desainer mendapat sertifikat yang ditandatangani oleh Ketua Adgi Nasional dan Aikon.

    Sebagai bahan evaluasi, pelaksanaan dengan lokasi yang tersebar dengan pemanfaatan TIK seperti ini ter-dapat adanya beberapa keuntungan dari segi efisiensi waktu dan biaya. Namun hal ini tidak lepas pula dari kekurangan yang dapat terjadi akibat kurangnya koordinasi dan komunikasi. Dengan semangat keber-samaan dan keinginan agar visi kegiatan ini terwujud maka puji Tuhan, segala masalah dapat diatasi dengan baik bahkan meningkatkan kerjasama antar institusi dan asosiasi.

  • 22

    Steffi

    Calvin

    Angela

    Effie

    Pradnya

    Dede

  • 23

    Agung

    Felicya

    Prisellia

    Liestyani

    Yenni

    Lucky

  • 24

    Suasana workshop Desain untuk Difabel di ruang kelas DKV Binus.

    Tanda terima kasih dari DKV Binus kepada mas Sapto dari Yayasan Ta-lenta yang disampaikan oleh Ibu Mita Purbasari selaku Ketua Jurusan.

    Peserta workshopDesain untuk Difabel

    Dosen DKV Binus meninjau para atlit renang difabel berlatih

  • 25

    informasi kegiatan DuD dan literatur mengenai difabilitas pada website adgi dan aikon

    Atlit renang difabel (tuna daksa)

    Para atlit berlatih keras dan disiplin di bawah bimbingan pelatih yang sabar dan tegas.

  • 26

    Baliho ASEAN ParaGames 2011 di sepanjang jalan-jalan utama kota Solo.

    Taman Sriwedari, lokasi di mana kegiatan Desain untuk Difabel diseleng-garakan.

    Giant banner untuk publikasi Desain untuk Difabel di sekitar Taman Sriwedari.

    Ibu Sari Wulandari dari DKV Binus berbagi cerita dalam Ngaso Adgi Solo, yang merupakan bagian dari kegiatan Desain untuk Difabel.

  • 27

    Suasana pameran poster di joglo (pendopo) kompleks Taman Sriwedari.

    Ibu Jurike dari Fasilkom BINUS memperagakan alat MLM for the Blind.

    Suasana konperensi pers yang dihadiri oleh wartawan media nasional dan lokal

  • 28

    Beberapa liputan dan publikasi di media cetak harian.

    Suasana pameran poster Desain untuk Difabel

  • 29

    Peserta dan panitia pameran dan panitia Desain untuk Difabel

  • 30

  • 31

    Poster:Warna-warni pengantar Informasi

    Poster merupakan media komunikasi yang sering di-gunakan dalam penyampaian pesan, baik yang bersi-fat informatif, persuasif bahkan provokatif. Hal ini melihat ukurannya yang relatif besar sehingga dapat mengakomodir sejumlah pesan atau informasi, re-produksi dan pendistribusiannya yang mudah serta peletakkannya yang bebas dapat di mana saja. Maka tidaklah mengherankan apabila poster seringkali di-manfaatkan oleh sekelompok masyarakat sebagai media cetak untuk propaganda.

    Demikian pula poster digunakan sebagai media untuk mencapai tujuan dari kegiatan Desain untuk Difabel, yaitu menyampaikan informasi mengenai ASEAN ParaGames 2011, upaya persuasif untuk meningkat-kan apresiasi masyarakat terhadap difabilitas serta membangun semangat dan eksistensi dalam diri pub-lik difabel.

    Maka dibuatlah call for poster bagi dosen dan maha-siswa DKV BINUS, DKV UNS Solo dan para de-sainer yang tergabung di Adgi melalui media poster berukuran 60 x 80 cm portrait dengan teknik digi-tal print. Dalam kegiatan ini berhasil terkumpul 20 karya mahasiswa dan dosen DKV BINUS, 15 karya mahasiswa dan dosen DKV UNS Solo dan 4 karya desainer Adgi Solo Chapter.

  • 32

    Felicya

  • 33

    Arif Priyono Susilo Ahmad

  • 34

    James Darmawan

  • 35

    Lintang Widyokusumo

  • 36

    Sari Wulandari

  • 37

    Cindy Tandil

  • 38

    Suprayitno

  • 39

    Satrya Mahardhika

  • 40

    Tunjung Riyadi

  • 41

    Agung Chandra

  • 42

    Dede F. Chaniago

  • 43

    Effie Herdi

  • 44

    Pradnya Paramita

  • 45

    Yenni Lestari

  • 46

    Steffie

  • 47

    Calvin

  • 48

    Angela Stephanie

  • 49

    Stevanus Kurniawan

  • 50

    Lucky Ridzky

  • 51

    Javier

  • 52

    Dian Nadzmi

  • 53

    Liestyani

  • 54

    Maria Jessika

  • 55

    Peserta Pameran

    1. Lintang Widyokusumo2. Arif Prijono S.A.3. A. James Darmawan4. Tunjung Riyadi5. Satrya Mahardhika6. Sari Wulandari7. Noor Udin8. Suprayitno Soetoyo9. Agung Chandra10. Angel Stephanie11. Calvin12. Dede F. Chaniago13. Effie Herdi14. Felicya15. Liestyani16. Lucky Ridzky17. Priscellia18. Steffi19. Pradnya Paramitha20. Yenni21. Maria Jessika22. Alfian Heretno23. Michael Owen24. Randy Winarbisono25. Valynca26. Dian Nadzmi27. Stevanus Kurniawan28. Javier

    Pembicara

    1. Jurike Moniaga 2. Sari Wulandari3. Andreas Widodo4. Arief Ayip Budiman

    Panitia

    1. Mita Purbasari2. Rujiyanto3. Soeprayitno S.4. Laura C. Luzar

  • 56

    Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi)

    Wadah yang menghimpun desainer profesional dan akademisi yang memiliki visi membangun industri desain di Indonesia dan menjadi asosiasi desainer grafis yang bereputasi dan memiliki kredibilitas dalam melindungi, melayani serta memajukan karir dan usaha para anggotanya.

    Adgi memiliki perwakilan di kota besar di Indonesia:1. Adgi Jakarta Chapter2. Adgi Yogyakarta Chapter3. Adgi Surabaya Chapter4. Adgi Bali Chapter5. Adgi Solo Chapter

    DKV BINUS University yang berdiri sejak September 1999 selalu berupaya untuk mengedepankan nilai-nilai seni budaya khas Indonesia, memperkaya dan memadukannya dengan teknologi informasi, sehingga memunculkan desain dengan ciri khas Indonesia yang berkarakter, bernilai tinggi, dan membanggakan.

    Lulusan yang dihasilkan memiliki pengetahuan luas tentang konsep sebuah produk desain komunikasi visual yang memiliki pengaruh sosial terhadap masyarakat, berwawasan estetika dalam perancangan desain multi-media untuk media massa, mempunyai motivasi untuk terus mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengeta-huan secara intelektual, sosial, dan kultural.

    Para lulusan diharapkan dapat menjalani studi tahap lanjut serta mempunyai kemampuan analitis untuk merancang suatu desain komunikasi visual untuk pribadi maupun publik.

    Aikon dikenal sejak 1994 sebagai media cetak pertama di Indonesia yang didistribusikan secara gratis dengan prinsip keberlanjutan. Media ini me-nyebarkan berbagai informasi yang terkait dengan lingkungan hidup dan sosial, seni, dan sejarah. Visi Aikon sebagai sebuah lembaga not-for-profit di bawah Yayasan Pikir Buat Nusantara, adalah terbentuknya masyarakat Indonesia yang berpikiran terbuka.

    Kini, selain menerbitkan buku bertema desain berkelanjutan (sustainable design), seperti Do Good Design karya David Berman (2010), aikon juga mengadakan program-program Do Good Indonesia bersama asosiasi profesi dan pergu-ruan tinggi. Selain itu, Aikon menjalankan aktivasi berupa Program Netling (Internet Keliling), Program Revitalisasi Bemo, dan Patungan.net.

    http://aikon.orgT: @aikoniaFb: aikonia

  • 57

  • 58

  • 59

  • 60

    untukDifabelDesain

    DoG

    oodI

    ndon

    esia

    #2