Buletin Magang Edisi kedua

  • View
    224

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

Text of Buletin Magang Edisi kedua

  • Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menargetkan akan membuka Fakultas Kedokteran (FK) pada tahun akademik 2016/2017. Safar Nasir, selaku Wakil Rektor (Warek) II berharap SK pendirian FK dapat

    diperoleh pada tahun ini. Ia mengatakan segala persiapan telah dilakukan, termasuk pengadaan laboratorium serta tempat perkuliahan. Dilain pihak, keputusan UAD mendi-rikan FK saat ini dinilai terburu-buru oleh mahasiswa. Mereka merasa fasilitas kampus saat ini belum maksimal, ditambah lagi pendirian kampus IV yang belum selesai.

    Elky Setiyo Hadi selaku Ketua Dewan Perwakilan Ma-hasiswa (DPM) Fakultas Sastra Budaya dan Komunikasi (FSBK) menilai bahwa kampus terlalu terburu-buru dalam pendirian Fakultas Kedokteran. Aku juga sebenarnya menyesalkan keputusan itu karena masih banyak per-soalan-persoalan lain yang belum selesai, ungkap Elky saat ditemui Selasa (15/03). Tidak jauh berbeda dengan Elky, Ketua DPM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengeta-huan Alam (FMIPA), M. Irawan Jayadi juga mengeluhkan keputusan ini. Sekarang yang udah ada aja (Fasilitas-red) masih kayak gini (belum maksimal-red), keluh Irawan.

    Menanggapi hal ini, Safar mengatakan bahwa keputusan ini tidak terburu-buru. Sebab pendirian FK telah direncanakan empat tahun yang lalu. Safar me-nilai, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuka FK. Kita sudah siap, kenapa harus nunggu? kata Safar. Menurutnya peluang tidak akan selalu datang dua kali. Ia menambahkan, jika UAD menunda pendirian FK, maka peluang itu akan hilang. Disitu memang harus ada ke-beranian untuk menangkap momentum itu, tegas Safar.

    Ambil Peluang dari Moratorium

    Kendati telah direncanakan sejak empat tahun lalu, pendirian FK baru terealisasikan pada satu tahun belakangan ini. Hal ini disebabkan adanya moratorium FK oleh Konsil Ke-dokteran Indonesia (KKI) sejak Januari 2010. Moratorium ini kemudian diperkuat oleh moratorium serupa dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI melalui Surat Eda-ran Dirjen Dikti yang diterbitkan tahun 2012. Pemberlakuan

    moratorium bertujuan agar pemerintah bisa fokus dalam memperbaiki masalah kualitas pendidikan FK di Indonesia.

    Oleh sebab itu, Safar mengatakan pembukaan mora-torium sejak 9 Januari 2015 lalu adalah momen yang tepat untuk mendirikan FK. Karena namanya kedokteran itu buka tutup (moratorium-red). Sekarang moratorium lagi, entah kapan lagi dibuka, ujar Safar saat ditemui Kamis (31/03).

    Safar menambahkan bahwa tingginya kebutuhan mas-yarakat akan tenaga medis menjadi salah satu alasan pendi-rian FK. Rasio dokter itukan tinggi sekali. Artinya kebutuhan tenaga medis itu sangat dibutuhkan oleh bangsa ini, ujar Safar.

    POROS persmaporos.comFB: Persma Poros UADTwitter: @PorosUADBuletin Edisi BulananEdisi: 02/B/Mag/XVApril 2016 M e n y i b a k R e a l i t aD

    afta

    r Isi

    ilust

    rasi

    : Im

    araf

    sah

    Muti

    anin

    gtya

    s

    Edisi

    MAGA

    NG

    1 . Ber i ta Utama2. Ed i tor ia l4. Resens i5 . Suara Mahas iswa

    6. Ber i ta Khusus8. L i tbang10. Opin i1 1 . Sas tra

    Fasilitas Kampus Belum Maksimal, UAD (tetap) Buka Fakultas Kedokteran

    bersambung ke hal 3

  • 2 EDITORIAL

    M e n y i b a k R e a l i t aPOROSDiterbitkan Oleh: UKM Pers Mahasiswa POROS UAD. Pembimbing: Anang Masduki S.Sos.I Pimpinan Umum: Lalu Bintang Wahyu Putra Bendahara Umum: Jopri Satria Lubis Sekertaris Umum: Sitti Hapsa Pimpinan Redaksi: Fara Dewi Tawainella Pimpinan Redaksi Magang II: Siti Zunaizah Reporter Magang II: Una, Nana, Ima, Yoga, Nur, Arga Fotografer: Arga Bagus Pratama Layouter: Imarafsah Mutianingtyas Koordinator Litbang Magang II: Irfan Hariz Nugraha Anggota Litbang Magang II: Tiswo, Fifi, Sigit, Widya, Ririn, Hanifah, Mutiara, Fitria, Kholid Koordinator Perusahaan Magang II: Riska Tan-zilla Anggota Perusahaan Magang II: Ani, Yuni, Rica.

    Dimulai dari perencanaan yang tarik ulur empat ta-hun lalu. Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mulai menampakkan kesiapannya satu tahun belakangan ini. Saat ini laboratorium dan ruang kuliah telah tersedia bagi calon mahasiswa FK.

    Meskipun pendirian FK akan berdampak positif bagi mahasiswa dan universitas, namun tidak dapat dipungkiri, fasilitas yang ada saat ini belum maksimal. Terbukti banyaknya keluhan yang dilontarkan mahasiswa, seperti kapasitas ruangan yang minim dan tempat parkir yang sempit. Komentar ini tidak hanya di sampaikan oleh mahasiswa, melainkan juga dari ka-langan dosen. Listiatie Budi Utami, Kaprodi Biologi mengatakan bahwa ia tidak menutup mata dengan fasilitas yang kurang maksimal.

    Dalam pendirian FK, UAD terkesan terburu-buru. Bai-knya UAD fokus dalam membenahi fasilitas yang ada daripada mendirikan fakultas baru. Niat baik UAD membuka FK diragu-kan. Banyak pihak khawatir apakah UAD dapat memaksimalkan fasilitas yang ada jika FK dibuka.

    Selain masalah FK, bulletin Poros edisi magang kali ini juga membahas tentang problematika lahan parkir yang sem-pit. Jumlah kendaraan yang membludak dan tempat parkir yang sempit memaksa mahasiswa memarkirkan kendaraannya di la-han milik warga. Selain membuat pengguna jalan tidak nyaman, juga membuat warga mengeluh.

    Ditemui 9 April 2016, Rohmad Yuliantoro, kepala bidang Aset Biro Finansial dan Aset (Bifas) mengungkapkan bahwa masalah parkiran liar bukanlah wewenang universitas. Ia juga mengaku bahwa kampus telah menyediakan lahan parkir yang memadai.

    Pada kenyataannya, mahasiswa terpaksa parkir di luar karena tempat yang tersedia selalu penuh. Hal ini terbukti ke-tika poros melakukan wawancara dengan salah satu mahasiwa UAD. Anggit, mahasiswa Fakultas Teknik Industri (FTI) menga-takan bahwa tempat parkir yang tersedia di kampus UAD III sering penuh. Hal ini menandakan lahan parkir memadai yang disampaikan Rohmad tidak benar.

    Dikutip dari data Litbang Poros, menunjukkan seba-gian besar mahasiswa tidak menyetujui adanya parkir liar. Ha-sil penelitian yang dilakukan pada tanggal 17-23 Maret 2016 menunjukkan bahwa 88,49% responden pernah memarkir kendaraannya di tempat parkir liar. Hal ini menandakan tempat parkir yang tersedia masih kurang.

    Kondisi mahasiswa yang memarkir kendaraan dilahan warga dapat memicu munculnya masalah baru. Untuk mengata-si hal ini, kampus seharusnya menyediakan tempat parkir yang dapat menampung semua kendaraan mahasiswa. Disamping itu kampus juga perlu mengurangi kuota bagi mahasiswa baru, guna mengatasi permasalahan serupa di periode mendatang. (Red)

    UAD Perlu Berbenah

    Jangan semata-mata mengejar sesuatu lebih besar tapi didepan mata

    belum terselesaikan-Joko Widodo

  • 3BERITA UTAMA

    Sambungan hal 1

    Selain itu, tujuan pendirian FK juga untuk melakukan misi dakwah. Ini media dak-wah yang salah satunya sangat strategis juga, membangun kesehatan moral dan berdakwah, ungkap Safar. Ia melanjut-kan, apabila FK sudah berdiri, UAD akan menerapkan pengajaran manajemen bencana dan bekerjasama dengan daer-ah-daerah yang tertinggal dalam hal pe-merataan tenaga dokter di Indonseia.

    Mahasiswa dan Dosen: Fasilitas Belum Maksimal

    Beberapa pihak mendukung pendirian FK di UAD, meskipun mereka juga mengakui bahwa fasilitas saat ini belum maksimal. Seperti halnya Listiatie Budi Utami, Kaprodi Biologi mengatakan bahwa ia mendukung pendirian FK. Na-mun, ia tidak menutup mata bahwa fasil-itas saat ini masih terbatas. Memang fasilitas terbatas tapi kami bisa men-goptimalkannya, ungkap Lestiatie. Ia menambahkan bahwa untuk mengatasi kekurangan-kekurangan yang ada, ter-utama kebutuhan akan laboratorium, ia mengadakan kerja sama dengan labora-torium yang ada di Farmasi. Kalau ruang laboratoriumnya memang masih terba-tas, dipakai oleh banyak mahasiswa, ujar Lestiatie.

    Selain Lestiatie, Rosyidah selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) juga mengeluhkan terbatasnya laboratorium di UAD. Padahal prodinya juga memilki mata kuliah yang memer-lukan laboratorium, seperti Parasitologi dan Biologi. Itu juga agak sulit kalau kita ke Lab Terpadu semua, disana juga ban-yak yang menggunakan, ungkapnya.

    Nurkhasanah selaku Kaprodi Farmasi pun mengakui bahwa Fasilitas prodinya masih jauh dari maksimal. Tapi fasilitas kita tidak pernah berhenti un-tuk berkembang, ujarnya. Nurkhasanah menambahkan bahwa fasilitas ruang kuliah, laboratorium, kelengkapan alat untuk praktikum dan penelitian masih terus dikembangkan agar bisa men-dukung perkuliahan.

    Belum maksimalnya fasilitas juga dikeluhkan oleh mahasiswa. Salah satunya di Fakultas Tarbiyah dan Dirasat Islamiyah (FTDI) yang baru saja berganti nama di tahun 2014. Saat ditemui Rabu (16/03), Irfan selaku ketua DPM menge-luhkan sempitnya ruang kelas yang mer-eka tempati. Mahasiswa ada 40, me-nempati ruang kelas yang kapasitasnya

    kurang dari 40. Itu kan juga sempit, di-tambah lagi ruangannyakan panas, ujar Irfan.

    Tak hanya terjadi di FTDI, sem-pitnya ruang kelas juga dialami oleh mahasiswa FKM. Satriawan Jaohandhy Muhtori selaku ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKM mengelukan ban-yaknya jumlah mahasiswa dalam satu kelas. Kalau saya bandingkan dengan beberapa universitas lain, maksimal mer-eka itu paling 40-50, kita bisa sampai 80, keluh Satriawan.

    Selain ruang kelas, fasilitas lab-oratorium pun dinilai masih kurang me-madai. Seperti Intan Dian Pratiwi, ketua DPM Fakultas Farmasi mengeluhkan banyaknya alat-alat laboratorium yang rusak. Alat-alat di laboratorium banyak yang sudah tidak memadai, dan sudah banyak yang rusak, keluh Intan. Ferry Riano Setyawan, ketua BEM FMIPA pun mengeluhkan hal serupa. Ya alat-alatnya memang kurang memadai, ujar Ferry.

    Tak hanya masalah alat, banyak-nya jumlah mahasiswa yang menempati satu laboratorium juga menjadi masalah. Pasalnya, mahasiswa tak nyaman karena harus berdesak-desakan. Seperti yang di-ungkapakan oleh Satriawan bahwa saat pr