of 76/76
BIMBINGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK MELALUI KISAH-KISAH ISLAMI PADA SISWA-SISWI SD ISLAM SABILINA CIBUBUR Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S. Sos.I) Oleh Dwika Novriyanti Fajrien NIM: 105052001741 JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1430 H/2009 M  

BIMBINGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK MELALUI …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/42621/1/Dwika...menyerap dengan mudah gambaran tentang baik dan buruknya sesuatu

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BIMBINGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK MELALUI...

BIMBINGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK

MELALUI KISAH-KISAH ISLAMI PADA SISWA-SISWI

SD ISLAM SABILINA CIBUBUR

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial Islam (S. Sos.I)

Oleh

Dwika Novriyanti Fajrien

NIM: 105052001741

JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1430 H/2009 M

BIMBINGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK

MELALUI KISAH-KISAH ISLAMI PADA SISWA-SISWI SD

ISLAM SABILINA CIBUBUR

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam

(S. Sos.I) Pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Oleh:

Dwika Novriyanti Fajrien

105052001741

Di bawah bimbingan :

Dra. Asriati Jamil, M.Hum

NIP. 19610422 199003 2 001

JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1430 H/2009 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 17 Juni 2009

Dwika Novriyanti Fajrien

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul Bimbingan Pembentukan Kepribadian Anak

Melalui Kisah-Kisah Islami Pada Siswa-Siswi SD Islam Sabilina telah

diujikan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas

Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 25 Juni 2009.

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

Sosial Islam (S. Sos.I) pada Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam.

Jakarta, 25 Juni 2009

Sidang Munaqasyah

Ketua, Sekretaris,

Drs. Study Rizal LK, M.Ag Dra. Musfiroh Nurlaili H, MA

NIP. 19640428 199303 1 002 NIP. 19710412 2 00003 2 001

Anggota,

Penguji I, Penguji II,

Drs. M. Lutfi, MA Dra. Nasichah, MA

NIP. 19671005 199403 1 006 NIP. 19671126 199603 2 001

Pembimbing,

Dra. Asriati Jamil, M.Hum

NIP. 19610422 199003 2 001

ABSTRAK

Dwika Novriyanti Fajrien

Bimbingan Pembentukan Kepribadian Anak Melalui Kisah-Kisah

Islami Pada Siswa-Siswi SD Islam Sabilina Cibubur

Cerita dapat membantu membentuk kepribadian anak. Karenanya,

salah satu cara yang cukup efektif dalam menasihati anak adalah melalui

cerita atau kisah. Hal ini cukup efektif, karena anak akan mampu

menyerap dengan mudah gambaran tentang baik dan buruknya sesuatu hal

melalui isi sebuah cerita.

Metode mendidik kepribadian anak melalui kisah akan memberi

kesempatan bagi anak untuk berpikir, merasakan, merenungi kisah

tersebut, sehingga seolah ia ikut berperan dalam kisah tersebut. Adanya

keterkaitan emosi anak terhadap kisah akan memberi peluang bagi anak

untuk meniru tokoh-tokoh berakhlak baik dan berusaha meninggalkan

perilaku tokoh-tokoh berakhlak buruk.

Berkisah, bercerita maupun mendongeng sangat disukai oleh anak-

anak maupun orang dewasa, karena dapat menstransfer nilai-nilai

kehidupan yang terbukti kehebatannya. Banyak ilmu yang dapat kita serap

ketika kita mendengarkan kisah.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana

pengaruh bimbingan pembentukan kepribadian anak melalui kisah-kisah

Islami di SD Islam Sabilina Cibubur.

Untuk mengetahui bagaimana bimbingan pembentukan kepribadian

anak melalui kisah-kisah Islami, dengan unsur-unsur pokok yang harus

ditemukan sesuai dengan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,

maka penelitian ini menggunakan metode penelitian yang deskriptif

dengan pendekatan kualitatif. Yaitu penelitian yang bermaksud untuk

memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh siswa-siswi SD Islam

Sabilina Cibubur melalui kisah-kisah Islami misalnya pada perilaku,

persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Secara holistik dan dengan

cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada sesuatu konteks

khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah, masing-masing

subyek dalam penelitian ini memiliki kepribadian yang berbeda, namun

terdapat persamaan dari ketiganya yaitu sama-sama mendapatkan

bimbingan melalui kisah-kisah Islami yang dapat membentuk kepribadian

pada dirinya masing-masing.

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan

segala karunia-Nya kepada kita semua, penggenggam kita semua dalam

setiap kejadian dan peyempurna kebahagiaan. Alhamdulillah, segala puji

bagi Dzat yang Maha Pemberi makna hidup kepada makhluknya, Dzat

yang Maha Agung, Maha Bijaksana. Penulis dengan penuh keikhlasan hati

bersyukur atas kehidupan yang diberi, potensi akal dan kasih sayang

disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh akhirnya penulis dapat

menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada manusia

Agung pengusung cahaya Ilahi dan rahmat bagi seluruh alam, ialah

Rasulullah Muhammad SAW yang membawa umat-nya menemui jalan

Tuhan-nya. Kesejahtaraan dan keselamatan semoga selalu mengiringinya,

keluarga, para sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Dengan penuh rasa kerendahan hati, penulis menyadari dan

mengakui penulisan skripsi ini jauh dari kesempurna dan juga tidak akan

terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak yang tidak dapat penulis

membalas pengorbanannya.

Namun berkat doa, bantuan serta dukungan yang begitu banyak

dari berbagai pihak, Alhamdulillah akhirnya penulis dapat menyusun

skripsi ini hingga selesai dengan judul Bimbingan Pembentukan

Kepribadian Anak Melalui Kisah-Kisah Islami Pada Siswa-Siswi SD

Islam Sabilina Cibubur.

Dengan penuh rasa hormat dan takjub, penulis menyadari bahwa

dalam penulisan skripsi ini begitu banyak pihak yang memberikan

bantuan, motivasi, teguran, semangat serta doa dan nasehat yang selalu

mengiringi pembuatan skripsi ini. Oleh sebab itu, penulis ingin

menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Drs. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Dakwah dan

Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Drs. Mahmud Jalal, MA

selaku Pembantu Dekan bidang sarana dan prasarana, serta Drs. Study

Rizal, MA selaku Pembantu Dekan bidang kemahasiswaan.

2. Drs. M. Lutfi, M. Ag, selaku Ketua Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan

Islam, serta Ibu Dra. Nasichah, M. Ag, selaku Sekretaris Jurusan

Bimbingan dan Penyuluhan Islam.

3. Segenap pimpinan karyawan dan staf-staf serta bapak/ibu dosen

Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang talah banyak memberikan

bantuan, ilmu, dan pengalaman. Dan juga Perpustakaan Fakultas

Dakwah dan Komunikasi, serta Perpustakaan Utama UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan fasilitas memadai atas

buku-bukunya.

4. Yang paling penulis cintai dan hormati yaitu Ayahanda Sumiratno,

beserta Ibunda Siti Zulaeha yang telah rela mencurahkan kasih sayang

kepada penulis sedari kecil. Serta segala pengorbanannya untuk ananda,

berupa waktu, materi, tenaga, pikiran dan doa sehingga penulis mampu

menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana.

5. Dra. Hj. Asriati Jamil, M. Hum, selaku dosen pembimbing skripsi yang

telah memberikan waktu, dan pikiran untuk memberikan bimbingan,

arahan dan petunjuk kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

Terima kasih banyak atas bimbingan yang diberikan kepada penulis,

semoga skripsi ini akan bermanfaat bagi saya khususnya dan siapapun

yang membacanya.

6. Kakanda Utami dan Adik Tri, terima kasih atas motivasi dan doa kalian

yang memberikan semangat kepada penulis.

7. Bapak Drs. Azwar Chatib selaku Pembimbing Akademik Mahasiswa

BPI 2005. Terima kasih atas arahan dan bimbingan bapak.

8. Kepala Sekolah SD Islam Sabilina Bapak Agus Fatah terima kasih atas

izinnya kepada penulis dalam melakukan penelitian di Sekolah yang

bapak pimpin, serta memberikan banyak referensi dan pengalamannya

kepada penulis.

9. Ibu Rd. Dety Anggraeni, selaku wakil Kepala Sekolah yang sudah

banyak meluangkan waktu untuk menemani penulis selama penelitian.

Serta Bapak/Ibu guru dan murid-murid SD Islam Sabilina terima kasih

atas bantuan dan kerjasamanya dengan baik.

10. Zulfahmi Yasir Yunan yang selalu memotivasi dan menjadi

penyemangat dalam menyelesaikan skripsi ini, terima kasih atas waktu

luangnya untuk menemani penulis ke tempat penelitian. Dan terima

kasih juga atas pengertian dan perhatiannya kepada penulis.

11. Ibu Susiani (Bule Ani) dan Bapak Toni (Le Yono), terima kasih

banyak atas referensinya tentang Sekolah Sabilina. Serta atas doa dan

perhatiannya kepada penulis.

12. Sahabat-sahabat penulis Nissa dan Maya yang sama-sama berjuang

membuat skripsi. Abid, Na, Karin terima kasih atas doa dan

dukungannya serta selalu memberikan semangatnya kepada penulis.

13. Kepada keluarga besar Bapak dan Ibu Prof. Dr. H. M Yunan Yusuf

terima kasih atas doa dan dukungannya.

14. Rekan-rekan BPI, khususnya BPI angkatan 2005, Laily, Jefri, Agus,

Qory, Qiqy, Kasma, yang sama-sama berjuang dalam menyelesaikan

skripsi. Antie, Ina, Yenni, Eneng, dan teman-teman lainnya yang

menjadi motivator penulis dalam menyelesaikan karya kecil ini, terima

kasih atas doanya.

15. Terima kasih kepada Mas Ipul yang sudah banyak membantu dalam

penulisan skripsi ini.

16. Teman-teman KULFA CENTER yang selalu berjuang dan tetap

bertahan dengan keadaan kita semoga perjuangan ini menghasilkan

sesuatu yang bermanfaat nantinya. Amien, serta murid-murid penulis

Sharen dan Risma yang dapat menghibur ketika penulis sedang jenuh

terima kasih atas dukungannya.

17. Para sahabat dan kerabat, serta semua pihak yang tidak dapat penulis

cantumkan satu-persatu terima kasih banyak atas doa dan dukungannya.

Semoga bantuan dan kerjasama yang baik ini dibalas oleh Allah SWT,

dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pembacanya.

Amien!

Depok, 17 Juni 2009

Penulis

Dwika Novriyanti Fajrien

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Lebih dari 25% total penduduk di dunia adalah anak-anak. Namun

bukan tidak mungkin jumlah tersebut bisa menjadi salah satu anasir

penentu masa depan bangsa. Karena kepribadian suatu bangsa tergantung

dari kepribadian generasi mudanya. Menurut data yang ada, sekitar 28

orang per tahun usia anak dan remaja mengakhiri masa frustrasinya akan

kehidupan dengan cara bunuh diri.1

Selama berpuluh-puluh tahun, orang sudah begitu yakin bahwa

keberhasilan di masa depan sangat ditentukan oleh kepribadian anak. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa kepribadianlah yang membuat anak sukses

hidupnya. Penelitian melaporkan, anak berusia 2-5 tahun, yang sering

menonton film kartun yang menunjukkan kontak fisik, memiliki

kecenderungan bersikap agresif di masa mendatang.2

Semakin sering anak usia sekolah menonton program televisi yang

mempertontonkan kekerasan, semakin besar pula kecenderungan mereka

untuk mempunyai tingkah laku anti-sosial. Misalnya agresif, tidak patuh,

dan bermasalah di usia sekolah.

Pada tingkat TK atau SD menjadi tempat pertama anak-anak

memperoleh pendidikan dasar, karena di tempat ini anak lebih cepat

1Neno Warisman, Makalah Seminar Kisah Antara Kisah dengan Kepribadian Anak Kita,

(Depok: Hotel Bumi Wiyata 2008), h. 1. 2Ibid., h. 1-2.

mendapat pengaruh dan lebih mudah dibentuk pribadinya. Dalam cerita

terdapat ide, tujuan, imajinasi, bahasa, dan gaya bahasa. Unsur-unsur

tersebut berpengaruh dalam pembentukan pribadi anak. Dari sinilah

tumbuh kepentingan untuk mengambil manfaat dari cerita di sekolah,

pentingnya memilih cerita, dan bagaimana cara menyampaikannya pada

anak. Oleh karena itu, penetapan pelajaran bercerita pada masa awal

sekolah dasar adalah bagian terpenting dari pendidikan.3

Cerita dapat membantu membentuk kepribadian anak. Karenanya,

salah satu cara yang cukup efektif dalam menasihati anak adalah melalui

cerita atau kisah. Hal ini cukup efektif, karena anak akan mampu

menyerap dengan mudah gambaran tentang baik dan buruknya sesuatu hal

melalui isi sebuah cerita. Seiring berjalannya waktu, bahkan sampai

berabad-abad, cerita rakyat masih selalu melekat dalam ingatan banyak

orang. Hal ini dikarenakan cerita rakyat memiliki nilai tersendiri

dibandingkan dengan cerita-cerita lainnya. Ada yang bersifat pendidikan

moral bagi masyarakat tertentu, nilai sejarah, ataupun mitos. Dengan

demikian, cerita-cerita ini selalu dipelihara dan disampaikan dari mulut ke

mulut sebagai upaya penyampaian pesan yang terdapat di dalam masing-

masing cerita.4

Tetapi sebagian dari isi cerita ada yang mengandung unsur-unsur

negatif. Hal ini kecuali jika kita menghindarkan hal yang negatif atau

3Abdul Aziz Abdul Majid, Mendidik Dengan Cerita, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

2002), h. 4-5. 4Wahyu Media, Bentuk-bentuk Kepribadian Anak Melalui Cerita Rakyat, artikel diakses

pada 02 April 2009 dari http://www.wahyumedia.com

memperbaikinya, karena informasi yang terkandung dalam cerita akan

berpengaruh pada pembentukan moral dan akal anak, dalam kepekaan rasa,

imajinasi, dan bahasanya.5

Misalnya, cerita Malin Kundang Anak Durhaka, cerita ini begitu

melekat dalam ingatan banyak orang. Bahkan para guru, orang bijak, dan

orangtua selalu menyelipkan cerita ini di beberapa pesan moral yang mereka

sampaikan kepada murid atau anaknya agar menjadi anak yang berbakti

kepada orangtua dan tidak mendapatkan murka Tuhan. Bingkai cerita rakyat

ini merupakan media bagi orangtua dahulu untuk memberikan pendidikan

tertentu kepada masyarakat dan generasi berikutnya, memang efektif. Dalam

perumusannya dari masing-masing cerita tersebut, orangtua dahulu

memberikan bahasa khusus untuk sebuah larangan, pantangan, dan hal tabu,

yaitu dengan ungkapan pamali, agar mereka tidak mendapatkan akibat

buruk sebagaimana yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat ini.6

Banyak hikmah dan pesan moral yang dapat diambil dan dijadikan

pelajaran bagi anak, seperti kejujuran, kesalehan seseorang, mencintai sesama

makhluk Tuhan. Kisah kepahlawanan, anak durhaka yang celaka, kesabaran,

dan pengorbanan seorang pemimpin, ketulusan cinta kasih ibu, dan kerugian

orang yang sombong. Sebagaimana ditekankan penyusun, sebuah kisah

merupakan daya tarik dan bisa menjadi imajinasi anak dalam mencerna cerita.

Kini cerita yang sarat akan nilai-nilai moral mulai tersingkir dengan

banyaknya anak yang mengidolakan tokoh-tokoh kartun seperti Doraemon,

5Majid, Mendidik Dengan Cerita, h. 4. 6Media, Bentuk-bentuk Kepribadian Anak Melalui Cerita Rakyat.

Dora, Kapten Tsubasa hingga Spongebob. Televisi mengambil alih peran

orang tua dan menjadi pencerita utamanya. Di Negeri Cina, ada sebuah

provinsi yang masyarakatnya masih sarat dan kental memegang nilai-nilai

Islam. Padahal, mereka adalah minoritas di negaranya.7

Berdasarkan salah satu sumber penyebabnya ternyata adalah karena

kaum ibu di tempat itu seringkali menceritakan kisah atau bercerita kepada

anak-anaknya setiap kali anak-anak akan beranjak tidur, para ibu dengan rutin

menceritakan kisah para pejuang, tokoh-tokoh muslim pada anak-anak

mereka. Hal kecil itu ternyata mampu membuat nila-nilai rabbaniah

mengakar pada relung masyarakat agar selalu memegang nilai-nilai Islam.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? alih-alih bercerita tentang rasul,

sahabat, atau tokoh muslim, kita dan anak-anak mungkin tidak lagi mengenal

cerita Si kancil Curi Ketimun. Tetapi lebih paham dengan judul Si Tansil

Curi Triliyun. Buktinya sekarang, otak kancil masih merajalela. Tanpa sadar

kita sering dididik untuk menjadi licik, bukan cerdik.

Tambah lagi, cerita-cerita rakyat pada umumnya sangat kentara

dengan nilai-nilai syirik, ujar Wuntat Wawan Sembodo, S.Ag. seorang

pencerita asal Yogyakarta yang kerap diundang ke berbagai tempat untuk

bercerita di depan anak-anak.8

Menurut pakar dongeng Riris Sarumpaet, dongeng bermanfaat bagi

orangtua sebagai pendongeng, dan tentu saja untuk anak sebagai pendengar.

Selain itu, dari berbagai cara untuk mendidik anak, dongeng merupakan cara

7Neno Warisman, Bercerita, Sudahkah Anda Membiasakannya?, artikel diakses pada 27

Maret 2009 dari http://www.google.com. h. 2-3. 8Ibid., h. 4.

http://www.google.com/

yang ampuh dan efektif untuk memberikan human touch atau sentuhan

manusiawi dan sportivitas bagi anak.9

Bahkan, di dalam al-Quran pun kita dapat menemukan beberapa

kisah, seperti kisah para Nabi dan Rasul. Begitu pentingnya cerita sehingga

Allah swt, memerintahkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw, untuk

menceritakan tentang kisah Nabi dan Rasul terdahulu. Allah swt berfirman

dalam surat Maryam ayat 41 :

Artinya: Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab

(Al-Quran ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan

lagi seorang Nabi.

Metode mendidik kepribadian anak melalui kisah akan memberi

kesempatan bagi anak untuk berpikir, merasakan, merenungi kisah tersebut,

sehingga seolah ia ikut berperan dalam kisah tersebut. Adanya keterkaitan

emosi anak terhadap kisah akan memberi peluang bagi anak untuk meniru

tokoh-tokoh berakhlak baik dan berusaha meninggalkan perilaku tokoh-tokoh

berakhlak buruk.

Sedangkan Islam mengajarkan kita mengambil ikhtibar, nasihat dan

pelajaran dari kisah-kisah al-Quran, agar kisah-kisah tersebut menjadi

penghalang dari terjerumusnya kita ke dalam kesalahan-kesalahan. Allah

berfirman dalam Al-quran surat Yusuf ayat 111:

9Kak Mal, The Power Of Story Telling Kekuatan Dongeng Terhadap Pembentukan

Karakter Anak, (Depok: Luxima Metro Media), h. 12.

Artinya : Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran

bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang

dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan

menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum

yang beriman.(QS. Yusuf [12]: 111)

Kisah-kisah dalam al-Quran merupakan nasihat yang paling penting,

yang Allah berikan kepada kita, agar kita dapat mengambil pelajaran dari

kehidupan umat-umat yang terdahulu. Juga agar kita mengetahui bahwa Allah

adalah Maha kuasa atas segala sesuatu, dan Allah Maha Penyayang terhadap

kita, sebab Dialah yang mendekatkan petunjuk dan bimbingan kepada kita

dalam pola yang sangat sederhana dan sesuai dengan akal manusia. Selain itu,

juga agar semua pihak mengetahui bahwa al-Quran menjelaskan tentang

segalanya.

Cerita atau kisah mempunyai kekuatan dan daya tarik tersendiri dalam

menarik simpati anak, perasaannya aktif. Hal ini dapat memberi gambaran

bahwa cerita atau kisah disenangi banyak orang, cerita dalam al-Quran bukan

hanya sekedar memberi hiburan, tetapi untuk direnungi, karena cerita dalam

al-Quran memberi pengajaran kepada manusia.

Dapat dipahami bahwa cerita dapat melunakkan hati dan jiwa anak

didik, cerita tidak hanya sekedar menghibur tetapi dapat juga menjadi nasehat,

memberi pengaruh terhadap akhlak dan perilaku anak, dan terakhir kisah atau

cerita merupakan sarana ampuh dalam pendidikan, terutama dalam

pembentukan kepribadian anak. Hal ini dikarena anak mulai dapat

mendengarkan cerita sejak ia dapat memahami apa yang terjadi di

sekelilingnya, dan mampu mengingat apa yang disampaikan orang

kepadanya.10

Berdasarkan latar belakang dan pokok pikiran di atas, maka penulis

tertarik untuk melakukan penelitian secara mendalam dan sekaligus dijadikan

pembahasan skripsi dengan judul Bimbingan Pembentukan Kepribadian

Anak Melalui Kisah-Kisah Islami Pada Siswa-Siswi SD Islam Sabilina

Cibubur.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Agar pembahasan skripsi ini lebih terarah maka penulis membatasi

masalah pada bimbingan pembentukan kepribadian anak melalui kisah-

kisah Islami di SD Islam Sabilina Cibubur.

10Abdul Aziz Abdul Majid, Mendidik Dengan Cerita, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

2002), h. 3.

2. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk

bimbingan melalui cerita tentang kisah-kisah Islami dalam rangka

membentuk kepribadian anak?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan penelitian

Secara umum tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauh mana

pengaruh bimbingan pembentukan kepribadian anak melalui kisah-kisah

Islami di SD Islam Sabilina Cibubur.

2. Manfaat penelitian

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat secara teoritis,

yaitu memberikan sumbangan wawasan keilmuan khususnya bimbingan

dan penyuluhan Islam mengenai pembentukan kepribadian anak. Dan

manfaat praktis, yaitu memberikan gambaran dan informasi kepada para

orang tua agar dapat memberikan waktu luang kepada anak-anaknya untuk

selalu mendongengkan sebuah cerita atau kisah.

D. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana bimbingan pembentukan

kepribadian anak melalui kisah-kisah Islami, dengan unsur-unsur pokok

yang harus ditemukan sesuai dengan rumusan masalah, tujuan dan manfaat

penelitian, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian yang

deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Yaitu penelitian yang bermaksud

untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh siswa-siswi SD

Islam Sabilina Cibubur melalui kisah-kisah Islami misalnya pada perilaku,

persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Secara holistik dan dengan

cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada sesuatu konteks

khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode

alamiah.11

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif.

Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Lexy. J. Moleong,

pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data

deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku

yang diamati.12

Menurut Hesti R. Wijaya (1996) penelitian kualitatif akan lebih

diuntungkan karena disainnya lebih fleksibel dan berkembang dalam

proses penelitiannya, dan juga lebih bisa menjelaskan, memberikan

pengertian, serta pemahaman yang mendalam.13 Oleh karena itu

Poerwandari (2001) menyatakan:hal-hal yang membutuhkan pemahaman

mendalam dan khusus sangat sulit diteliti dengan pendekatan kuantitatif 14

11Lexy J. Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya,

2007), cet. ke-23, h. 6. 12Ibid., h. 4. 13Wijaya, Hesti R. Penelitian Berperspektif Gender dalam Jurnal Analisis Sosial:

Analisis Gender dalam Memahami Persoalan Perempuan, Edisi 4/November, (Bandung: Akatiga,

1996), h. 4. 14Poerwandari, Kristi E. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia,

(Jakarta: LPSP3 UI, 2001), h. 12.

Adapun tehnik pendekatan kualitatif yang digunakan yaitu studi

kasus. Yang didefinisikan sebagai kasus yaitu fenomena khusus yang hadir

dalam suatu konteks yang terbatasi (bounded contcxt). Kasus itu dapat

berupa individu, kelompok kecil, organisasi, komunitas, atau bahkan suatu

bangsa (Poerwandari, 2001).15 Kasus yang dimaksud dalam penelitian ini

adalah kasus pembentukan kepribadian anak melalui kisah-kisah Islami.

Penelitian ini berupa penelitian deskriptif yang bertujuan

menggambarkan suatu keadaan atau suatu fenomena tertentu berdasarkan

data-data yang diperoleh. Dalam penelitian ini peneliti berupaya

semaksimal mungkin untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai

proses pembentukan kepribadian anak melalui kisah-kisah Islami.

2. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini, diambil 3 (tiga) orang siswa secara

acak dengan variasi kelas yang berbeda. Terpenuhinya variasi ini

diharapkan dapat menggambarkan jawaban atas permasalahan penelitian

dengan baik. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah bimbingan

pembentukan kepribadian anak melalui kisah-kisah Islami pada siswa-

siswi SD Islam Sabilina Cibubur.

3. Teknik Pengumpulan Data

Berdasarkan permasalahan penelitian dan data-data yang

dibutuhkan, maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai

berikut:

15Kristi E. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia, h. 13.

a. Observasi

Observasi yaitu aktifitas pengamatan meliputi kegiatan pemusatan

perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan alat indera.16

Dalam penelitian ini, observasi dilakukan dengan cara mengamati

kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang berhubungan dengan kisah-

kisah Islami.

b. Wawancara (interview)

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi

dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna

dalam suatu topik tertentu.17 Wawancara ini dilakukan karena peneliti

bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna

subyektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang

diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara

terstruktur, yaitu wawancara yang pertanyaannya akan diajukan telah

ditetapkan dan disusun oleh peneliti sendiri secara jelas dan terinci

dalam suatu bentuk catatan.

c. Dokumentasi

Data-data yang diperoleh dari lapangan yang berhubungan dengan

masalah penelitian, baik dari sumber dokumen formal, buku-buku,

artikel dan lain sebagainya.

4. Teknik Analisis Data

16Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT.

Rieneka Cipta, 1996), h. 145. 17Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung:Alfabeta, 2005), h. 72.

Yang dimaksud dengan teknik analisa data adalah suatu proses

penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan

diinterpretasikan.18 Menurut Bogdan & Biklen yang dikutip oleh Lexy J

Moleong mengemukakan bahwa teknik analisis data kualitatif adalah

upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,

mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi bahan yang dapat

dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan

apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang akan

diceritakan kepada orang lain.19

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan

tujuan yang ingin dicapai, yaitu dari data yang terkumpul kemudian

dijabarkan dengan memberi interpretasi untuk kemudian diambil

kesimpulan akhir.

5. Teknik Penulisan

Dalam penulisan ini peneliti menggunakan teknik penulisan yang

didasarkan pada buku Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi

Yang diterbitkan oleh CeQDA (Center For Quality Development and

Assurance) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dimaksudkan untuk memberikan gambaran

secara ringkas tentang susunan penulisan ini. Untuk memudahkan arah

18Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, Metode Penelitian Survai, (Jakarta: LP3ES,

1995), cet. ke-1, h. 263. 19Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 284.

pembahasan maka penulis membagi penulisan ini menjadi 5 (lima) bab,

terdiri atas:

BAB I PENDAHULUAN

Memuat latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan

masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian,

tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN TEORI

Pada bab ini penulis mengemukakan tentang bimbingan, meliputi:

pengertian bimbingan, bentuk bimbingan, serta metode

bimbingan. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang

kepribadian, Anak. Serta pembahasan mengenai kisah-kisah

Islami.

BAB III PROFIL SD ISLAM SABILINA CIBUBUR

Pada bab ini penulis akan membahas tentang SD Islam Sabilina,

terdiri atas: sekilas yayasan Sabilina, identitas sekolah, visi dan

misi sekolah, kurikulum pendidikan, komponen siswa, serta

sarana dan prasarana.

BAB IV TEMUAN DAN ANALISA DATA

Pada bab ini berisi tentang temuan data dan analisis pelaksanaan

bimbingan pembentukan kepribadian anak melalui kisah-kisah

Islami pada siswa-siswi SD Islam Sabilina Cibubur.

BAB V PENUTUP

Berisi tentang kesimpulan mengenai hasil penelitian mengenai

temuan-temuan dalam penelitian yang dianggap penting dan saran

yang berkaitan dengan penelitian tersebut.

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Bimbingan

1. Pengertian Bimbingan

Pengertian bimbingan yang lebih formulatif adalah bantuan

yang diberikan kepada individu agar dengan potensi yang dimiliki

mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami

diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan

rencana masa depan yang lebih baik.20

Dewa Ketut Sukardi menjelaskan, Bimbingan adalah suatu

proses yang diberikan kepada seseorang agar dapat mengembangkan

potensi-potensi yang dimiliki, mengenal diri sendiri, mengatasi

persoalan sehingga ia dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara

bertanggung jawab tanpa tergantung pada orang lain.21

Mc Daniel menjelaskan, bimbingan adalah bagian dari proses

layanan yang diberikan kepada individu guna membantu mereka

memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam

20M. Umar dan Sartono, Bimbingan dan Penyuluhan, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h.

9.

21Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah, (Surabaya: Usaha

Nasional, 1982), h. 66.

membuat pilihan-pilihan, rencana-rencana, dan interpensi-interpensi

yang diperlukan untuk menyesuaikan diri yang baik.22

Sementara itu, Jones Staffire dan Stewart menjelaskan,

bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam

membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana.

Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokratis yang merupakan tugas

dan hak setiap individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri sejauh

tidak mencampuri hak orang lain.23

Dari definisi yang dikutip di atas, dapat diambil beberapa

penjelasan, yaitu:

a) Bimbingan adalah suatu bantuan yang diberikan pada setiap orang

yang mengalami perkembangan. Sehingga tidak benar orang yang

menganggap bahwa bimbingan hanya diberikan bagi orang yang

hanya bermasalah saja, tapi bimbingan berlaku bagi setiap individu,

pada setiap fase, dan dimana saja.

22Ibid., h. 95.

23Prayitno dan Eman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka

Cipta, 1999), cet. ke-1. h. 94.

b) Bimbingan dilakukan secara berkesinambungan, tidak cukup sekali

saja diberikan, karena bimbingan memiliki tujuan yang pasti, bukan

kegiatan yang dilakukan secara kebetulan saja, tanpa ada aturan

main yang berlaku dan bimbingan memberikan alternatif-alternatif

dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh klien.

2. Bentuk Bimbingan

Berbagai bentuk-bentuk bimbingan telah berkembang

mengikuti perkembangan tuntunan hidup manusia dalam masyarakat

yang semakin meningkat tuntunan hidupnya. Yang demikian itu,

berdampak pula pada kehidupan mental spiritual mereka yang semakin

ruwet (kompleks), tidak sederhana dan tidak pula semakin meredakan

batin, bahkan sebaliknya semakin meningkatkan ketegangan jiwa.

Untuk menolong meredakan ketegangan-ketegangan tersebut,

maka bimbingan mengarahkan pada bentuk-bentuk yang dapat dilihat

dari segi bidangnya, menurut H. M. Arifin diantaranya adalah:

1. Bimbingan dan Penyuluhan bidang Vokasional (Vocational

Guidance and Counseling).

Yaitu bimbingan dan penyuluhan yang berhubungan dengan

masalah jabatan, pekerjaan, atau kekayaan yang perlu dipilih oleh

murid (terbimbing) sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-

masing untuk masalah sekarang maupun masalah masa

mendatang.24

Dengan kata lain, bimbingan tersebut adalah membantu

individu untuk bisa melihat problematika yang dihadapi oleh

terbimbing dalam mencari pekerjaan dan melakukan pekerjaan itu

sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki, serta sesuai

dengan petunjuk Allah swt. Hal ini harus mendapat perhatian dari

orang-orang yang bersangkutan agar dikemudian hari tidak

mengakibatkan frustasi serta kegagalan dalam pelaksanaan tugas

hidupnya.

2. Bimbingan dan Penyuluhan dalam bidang Pendidikan (Education

Guidence and Counseling).

Yaitu pemberian bantuan bimbingan yang menyangkut

tentang pengambilan keputusan mengenai lapangan studi yang

akan dipilih, dalam hal ini ada hubungan dengan kurikulum di

sekolah-sekolah atau perguruan tinggi serta fasilitasnya.25

Seperti kita ketahui pendidikan pada hakekatnya merupakan

upaya untuk mengarahkan pada perkembangan manusia agar

menuju ke arah yang baik, bukan ke arah yang buruk. Sebagaimana

Aunur Rahim Faqih merumuskan bahwa pendidikan adalah upaya

mengarahkan perkembangan kepribadian (aspek psikologi dan

24M. Arifin, Teori-teori Konseling Agama dan Umum, (Jakarta: Golden Terayon, 1996),

cet. ke-3, h. 17.

25Ibid., h. 18.

psikofisik) manusia sesuai dengan hakekat manusia menjadi insan

kamil, dalam rangka mencapai tujuan akhir kehidupannya, yaitu

kebahagian hidup di dunia dan akhirat.

3. Bimbingan dan Penyuluhan dalam Bidang Kesehatan Jiwa (Mental

Health Counseling).

Yaitu suatu bimbingan atau nasehat yang bertujuan untuk

menghilangkan faktor-faktor yang menimbulkan gangguan jiwa

klien, sehingga dengan demikian akan memperoleh ketenangan

hidup rohaniah yang sewajarnya sebagaimana yang diharapkan.26

4. Bimbingan dan Penyuluhan Keagamaan

Yaitu bimbingan dan penyuluhan yang diberikan kepada

seseorang yang bersifat keagamaan yang bertujuan untuk

membantu problema perseorangan dengan melalui keimanan

menurut agamanya.

Dengan menggunakan pendekatan keagamaan dalam

bimbingan tersebut, klien dapat diberi insight (kesadaran terhadap

adanya hubungan sebab akibat dalam problema yang dialami)

dalam pribadinya yang dihubungkan dengan nilai keimanannya

yang mungkin pada saat itu telah lenyap dalam jiwa klien.

3. Metode Bimbingan

26M. Arifin, Teori-teori Konseling Agama dan Umum, (Jakarta: Golden Terayon, 1996),

h. 19.

Dalam pengertian harfiah metode adalah jalan yang harus

dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi, pengertian hakiki

dari metode adalah segala sarana yang digunakan untuk mencapai

tujuan yang diinginkan baik sarana tersebut baik berupa fisik maupun

non fisik.27 Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

pengertian metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk

mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dan sebagainya), yakni

cara kerja yang tersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu

kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.28

Adapun metode bimbingan menurut M. Arifin adalah :

1. Wawancara

Yaitu salah satu cara memperoleh fakta-fakta kejiwaan yang

dapat dijadikan bahan pemetaan tentang bagaimana sebenarnya

hidup kejiwaan anak bimbingan pada saat tertentu yang

memerlukan bantuan, sehingga memudahkan konselor dalam

memberikan bimbingan.

2. Metode Group Guidance (Bimbingan Secara Kelompok)

Yaitu cara pengungkapan jiwa serta pembinaannya melalui

kegiatan kelompok-kelompok seperti ceramah, diskusi, dan

sebagainya. Metode ini menghendaki setiap anak bimbing

27Arifin, Teori-teori Konseling Agama dan Umum, h. 19.

28Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Departemen Pendidikan

dan kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), cet. ke-1, h. 580-

581.

melakukan hubungan timbal balik dan teman-temannya dan

bergaul melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi

peningkatan pembinaan pribadi masing-masing.

3. Metode Non-Direktif (cara yang tidak mengarah)

Metode ini dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

a. Client centered, yaitu pembimbing bersikap memperhatikan

dan klien lebih aktif.

b. Metode edukatif, pembimbing lebih banyak memberikan

motivasi-motivasi yang bersikap persuasif.

4. Metode psikoanalitis, dengan pengungkapan pikiran perasaan dari

klien yang tidak lagi disadari.

5. Metode direktif, pemberian bantuan atau bimbingan secara

langsung dan klien lebih bersikap pasif.

6. Metode sosiometri, ialah salah satu cara yang digunakan untuk

mengetahui hubungan sosial terbimbing.

Salah satu komponen yang paling penting dalam proses

pelaksanaan bimbingan khususnya di lembaga pendidikan adalah

metode yang diterapkan. Metode bimbingan juga berfungsi sebagai

penunjang kelancaran program pembinaan dan pendidikan yang

pelaksanaannya berdasarkan atau pendekatan individual atau kelompok.

Metode yang diterapkan harus sesuai dengan sifat pelayanan

berdasarkan pendekatan-pendekatan psikologis dan sosial cultural yang

mungkin menjadi sumber pokok-pokok problem yang dihadapi.

Dalam penerapannya, ada beberapa metode yang lazim

dipakai dalam bimbingan dimana sasarannya adalah mereka yang

berada dalam kesulitan mental spiritual disebabkan oleh faktor-faktor

kejiwaan dari dalam dirinya sendiri. Pada penulisan ini bimbingan

dilihat sebagai proses komunikasi.

B. Kepribadian

1. Pengertian Kepribadian

Kepribadian berasal dari kata Personality dalam bahasa

Inggris yang berasal dari kata Personal dalam bahasa Latin yang

berarti kedok atau topeng. Yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh

pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan

perilaku, watak atau pribadi seseorang.29

Pengertian kepribadian, adalah sebuah konsep yang sukar

dimengerti dalam psikologi, meskipun istilah ini digunakan sehari-

hari.30 Di bawah ini akan dikemukakan sederetan definisi dari berbagai

sarjana, sekedar untuk menggambarkan beberapa luasnya pengertian

yang dicakup oleh istilah tersebut.

Menurut teori psikologi, dikemukakan oleh Fillmore H.Sandfprd,

bahwa kepribadian adalah sesuatu yang unik dari sifat-sifat seseorang

29Agus Sujanto, dkk., Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), cet . ke-9.

h.10.

30Sarlito W. Sarwono, Pengantar Umur Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2003), cet.

ke-9. h. 84.

yang berlangsung lama.31 Dapat diambil kesimpulan bahwa kepribadian

merupakan suatu sifat yang menjadikannya sebagai ciri tersendiri dari

orang lain yang tercermin melalui tingkah laku, cara berbicara, berfikir,

dan lain-lain.

Setelah kita memahami pengertian tentang kepribadian, maka

untuk selanjutnya bagaimana membentuk kepribadian itu. Yang jelas

bahwa kepribadian seseorang itu tidak dapat terbentuk dengan hanya

sekaligus jadi dan dengan cara yang mudah. Oleh karena itu,

pembentukan kepribadian merupakan suatu proses akhir dari

perkembangan itu kalau berlangsung dengan baik akan menghasilkan

suatu kepribadian yang harmonis.

Kepribadian disebut juga dengan watak atau karakter.32 Untuk

menciptakan kepribadian seseorang hendaknya sudah kita mulai sejak

dalam kandungan, kemudian berkembang pertumbuhannya dalam

lingkungan keluarga. Hali ini disebabkan karena semua pengalaman

dilalui anak baik yang didengar, dilihat, dirasakan serta pendidikan

yang diterimanya dari orang tuanya, apakah secara sengaja atau tidak

akan menjadi bagian dari kepribadian itu.33

31Sujanto, Psikologi Kepribadian, h. 11.

32Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998),

cet. ke-8, h. 1.

33Baihaqi, Metodologi Dakwah Pada Kehidupan Remaja, (Jakarta: Ditjen Bimas Islam

dan Urusan Haji, 1992-1993), h. 6.

Dalam Islam, sitilah kepribadian lebih dikenal dengan term al-

syakhsh yang berarti pribadi.34 Abdul Mujib menyebutkan bahwa

Kepribadian dalam psikologi Islam adalah integrasi sistem kalbu, akal

dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku.35Definisi ini

mengemukakan bahwa kepribadian merupakan integrasi dari tiga

komponen daya nafsani. Pertama kalbu (fitrah ilahiyah) sebagai aspek

supra kesadaran manusia yang memiliki daya emosi (rasa), kedua akal

(fitrah Insaniyah) sebagai aspek kesadaran manusia yang memiliki daya

kognisi (cipta) dan ketiga, nafsu (fitrah Hawaniyah) sebagai aspek

prasadar atau bawah sadar manusia yang memiliki daya konasi (karsa).

Sementara Netty Hartati dkk menambahkan kepribadian dalam Islam

banyak definisi yang dikemukakan oleh ahli, diantaranya Al-ghazali

menyebutnya dengan khalq, Ali Rajab menyebutnya dengan Al-thub.36

2. Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian

Di bawah ini, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi

kepribadian anak, yaitu37:

a. Faktor Genetik.

34Netty Hartati, dkk, Islam dan Psikologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), cet.

Ke-1, h. 124.

35Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

2006), h. 10.

36Netty Hartati, dkk, Islam dan Psikologi, h. 126.

37Zulkifli Rahman, Kepribadian Muslim Sejak Dini, artikel diakses pada 28 Maret 2009

dari http://www.google.com

Genetika atau disebut juga GEN adalah merupakan bawaan anak dari

orang tuanya. Pengaruh ini bisa bermacam-macam yang merupakan

sifat dasar bawaan, misalnya pemarah, penyabar, santun, nakal,

luwes, keras kepala, kuat kemauan dan lain-lain. Yang mana watak

dasar ini akan sangat berpengaruh nantinya pada cepat atau

lambatnya pembentukan kepribadian seseorang.

b. Faktor Keluarga

Pengaruh keluarga dalam membentuk kepribadian sangatlah besar,

dan di ranah ini terdiri dari beberapa fase.

1) Fase Embrio. Ini dimulai sejak terjadi pembuahan, sampai

sebelum kelahiran. Dalam fase ini adakalanya anak merasakan

getaran naluriyah yang kuat dari kondisi ibu, ayah, bahkan dari

lingkungan sekitar.

2) Fase Bayi. Ada bayi yang sangat sensitif terhadap sentuhan

lembut sekalipun. Dia mudah terkejut atau kaget. Pada fase ini,

cara ibu menyentuh, memegang, menyusui, memandikan,

memakaikan pakaian bayinya, dapat berpengaruh dalam

membentuk kepribadiannya.

3) Fase Anak. Pada fase ini, anak sudah mulai menyimpan dalam

memori otaknya, berbagai hal yang dilihat dan dirasakan. Suara

yang membentak dengan nada tinggi dari lingkungan sekitar yang

sering didengar, bahkan dari layar kaca sekalipun, akan

berpengaruh pada bentukan kepribadian anak. Pada fase anak ini

sebenarnya yang paling penting di ajarkan kepada anak adalah al-

Asmaa (nama-nama atau kata-kata). Karena anak-anak suka

bermain, maka penting menciptakan pola bermain yang sekaligus

mengajarkan kepada mereka al-asmaa ini. Mulai dari hitungan

angka, huruf, kata, kalimat, hingga menceritakan sebuah kisah.

4) Fase Dewasa. Pada fase ini seseorang mulai merdeka menentukan

pilihannya sendiri. Apa yang akan dipilihnya, tentu tergantung

pada bentukan awal kepribadiannya. Tergantung sentuhan apa

yang dia rasakan sejak dia mulai merasakan sentuhan itu.

Tergantung apa yang pernah atau sering dilihat dan didengar sejak

pertama kali dia dapat melihat dan mendengar.

c. Faktor Lingkungan.

Lingkungan sekitar terdiri dari, teman bermain, jiran tetangga, dan

juga lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan ini ada yang

langsung memberi warna dan pengaruh yang kental, ada pula yang

sekedar menyajikan disiplin ilmu tertentu.

Bagaimana anak belajar kepribadian dengan efektif 38:

1. Setiap anak akan belajar kepribadian terbaik pada situasi

kongkrit yang melibatkan kegiatan fisiknya atau aktif dan

kesempatan untuk menemukan fakta-faktanya sendiri.

38Neno Warisman, Kisah Antara Kisah dengan Kepribadian Anak Kita, (Depok: Hotel

Bumiwiyata, 2008), h. 3.

2. Daya serap akan meningkat jika konsep disajikan dalam konteks

yang akrab dengan anak-anak.

3. Anak belajar kepribadian lebih baik jika diberikan contoh yang

konkrit, ada tantangan, dapat dirasakan oleh indera dan

pengalaman langsung.

4. Kebanyakan anak belajar lebih baik melalui interaksi dengan

anak atau guru atau orang tua (cooperative learning).

5. Belajar dengan menghafal konsep-konsep kepribadian

merupakan strategi belajar yang relatif tidak efektif dan efisien

bagi banyak anak.

6. Otak tidak dibentuk saat bayi di rahim, tapi dibentuk oleh

pengalaman dan belajar. Pengalaman adalah kata kuncinya.

7. Mengajarkan atau menanamkan kepribadian akan memberikan

pengaruh pada kerja otak, maka kita harus mengadaptasi teknik

mengajar atau menanamkan kepribadian sesuai dengan riset otak.

Agar pengenalan, penanaman dan pembiasaan kepribadian

lebih kontekstual kepada anak, maka beberapa faktor yang harus

dipertimbangkan39:

a. Relating: belajar dalam konteks pengalaman hidup yaitu

menggunakan hal-hal yang familiar dalam kehidupan anak-anak

kemudian dihubungkan dengan informasi yang ada dalam kisah.

39Neno Warisman, Kisah Antara Kisah dengan Kepribadian Anak Kita, h. 4.

b. Experiencing: belajar dalam konteks eksplorasi. Anak-anak akan

lebih cepat belajar kepribadian jika anak-anak terlibat dan dapat

mengeksplorasi langsung alat atau benda-benda yang disebutkan

dalam kisah.

c. Applying: aplikasi konsep dan informasi dalam konteks yang

bermakna. Misalnya praktek langsung menirukan apa-apa yang

diajarkan oleh kisah. Seperti menolong orang tua, menolong hewan,

berbagi makanan, dan lain-lain.

d. Cooperating: belajar dalam konteks sharing, memberikan respons

dan berkomunikasi dengan peserta didik lainnya. Belajar bersama

tidak hanya memberikan kesempatan peserta didik belajar konsep

tapi juga fokus pada dunia nyata bahwa hidup ini harus berjamaah.

e. Transferring: belajar untuk menggunakan informasi atau

keterampilan yang dibangun dalam situasi yang berbeda. Peserta didik

mampu menerapkan keterampilan menyelesaikan masalahnya ketika

berhadapan dengan sesuatu yang baru yang dibangun dari hal-hal yang

sudah mereka ketahui sebelumnya.

Sebagai Muslim, tentunya kita berharap lingkungan

pendidikan yang disajikan pada anak kita dapat memberi warna yang

positif, selaras dengan akidah yang kita yakini kebenarannya. Jangan

sampai mereka didoktrin dengan berbagai ajaran yang menyimpang dari

syariat Islam.

Ketika kita sudah mengenal berbagai faktor yang

berpengaruh dalam pembentukan kepribadian seseorang, perhatian kita

kemudian mengarah kepada bagaimana cara kita berinteraksi dengan

berbagai faktor tersebut. Apa yang harus kita perbuat dan bagaimana

kita harus bersikap.

Lebih spesifik lagi sebagai seorang pendidik, apa saja yang

perlu menjadi stressing kita dalam lingkup pendidikan ini. Dalam

pembahasan ini saya mencoba menyajikan beberapa hal kecil yang

seringkali luput dari perhatian kita, sementara jika kita

mengabaikannya, akan berdampak buruk bagi anak didik kita.

C. Anak

1. Pengertian Anak

Dalam Kamus Bahasa Indonesia anak adalah manusia yang

paling kecil misalnya itu baru berumur 6 tahun. Menurut Singgih, anak

adalah suatu masa peralihan yang mana ditandai dengan adanya

perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat, baik secara fisik

maupun secara psikisnya.40

Menurut Elizabeth Hurlock, membagi fase-fase perkembangan

anak, Yaitu:

a. Masa sebelum lahir (pranatal) selama 280 hari.

b. Masa bayi baru lahir (new brown) 0,0 sampai 2 minggu.

40Singgih D. Gunarsa, Dasar-dasar Teori Perkembangan Anak, (Jakarta: PT BPK

Gunung Mulia, 1997), cet. ke-6. h. 25.

c. Masa bayi (babyhood) 2 minggu sampai 2,0 minggu.

d. Masa kanak-kanak awal (early childhood) 2 sampai 6 tahun

e. Masa kanak-kana akhir (later childhood) 6 sampai 12 tahun.

f. Masa puber (puberty) 11 atau 12 sampai 15 atau 16 tahun.

g. Masa remaja (adolescence) 15 atau 16 sampai 21 tahun.41

Sedangkan Al-Ghozali berkata anak adalah amanat bagi orang

tuanya, hatinya bersih, suci, dan polos, kosong dari segala ukiran dan

gambaran.42

2. Kebutuhan Anak

Menurut H. Salihun. A. Nasir, kebutuhan anak dapat

digolongkan menjadi empat golongan, yaitu:

a. Kebutuhan Biologis

Kebutuhan biologis juga disebut physiological drive atau

biological motivation, yaitu kebutuhan yang berasal dari

dorongan-dorongan biologis yang bersifat naluriah (instinktif)

seperti haus, bernafas, mengantuk, dorongan seks dan lain-

lainnya.

b. Kebutuhan Psikis

41Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. ke-2. h.

13.

42Muhammad Nur Abdul Hafizh. Mendidik Anak Bersama Rasullah, (Bandung: Penerbit

Al-Bayan, 1999). h. 35.

Kebutuhan psikis adalah segala dorongan yang bersifat

rohaniah atau kejiwaan misalnya kebutuhan akan agama,

kebutuhan akan rasa aman, kesehatan jiwa.

c. Kebutuhan Sosial

Kebutuhan sosial adalah kebutuhan yang berhubungan

dengan hal-hal di luar diri atau sesuatu yang ditimbulkan oleh

orang lain atau hubungan dengan lainnya misalnya kebutuhan

untuk bergaul berkelompok, memperoleh pengalaman dan

penghargaan.43

Menurut Zakiah Darajat, kebutuhan anak meliputi kasih

sayang, rasa aman, harga diri, kebebasan, akan sukses dan akan

mengenal.

d. Kebutuhan akan rasa kasih sayang.

Kasih sayang tidak akan dirasakan oleh si anak apabila

dalam hidupnya mengalami hal-hal sebagai berikut :

1) Kehilangan pemeliharaan ibu.

Anak sangat membutuhkan pemeliharaan langsung dari

ibunya. Akan tetapi tidak semua ibu dapat memberikan

pemeliharaan langsung kepada si anak, di sebabkan ibunya

bekerja seharian. Tetapi ada lagi faktor lain yang menghalangi

43Salman Nasir, Peranan Pendidikan Agama Terhadap Pemecahan Problem Remaja,

(Jakarta: Kalam Mulia, 1999), h. 72.

ibu untuk menumpuhkan perhatiannya kepada si anak ialah

suasana rumah tangga yang tidak tenang.

2) Merasa kurang diperhatikan atau disayangi.

Seringkali orang tua memperlakukan anaknya dengan cara

yang menyebabkan si anak merasa tidak di senangi. Apabila

perasaan ini terjadi pada tahun-tahun pertama dari umurnya,

maka akan sangat buruk akibatnya bagi pembentukan

kepribadiannya. Pada tahun-tahun pertama itu si anak sangat

tergantung kepada orang tuanya, dan dengan sendirinya

membutuhkan kasih sayang, perhatian dan pemeliharaan

karena ia masih lemah.

3) Toleransi orang tua yang berlebih-lebihan.

Toleransi yang berlebihan terhadap anak juga mempunyai

pengaruh yang tidak baik bagi pertumbuhannya. Di samping

itu akibat yang tidak baik dari toleransi yang berlebih-lebihan

itu bagi si anak, antara lain: emosi tidak matang. Ia akan lekas

marah apabila yang tidak diingininya tidak tercapai, ia tak akan

pandai mengisi waktu, tidak dapat menghargai tanggung jawab

dan tidak akan sanggup mengahadapi kesukaran dengan cara

yang wajar.

4) Orang tua terlalu keras.

Terlalu banyak perintah, larangan, teguran dan tidak

mengindahkan keinginan si anak, banyak pula menyebabkan

gangguan terhadap ketegangan si anak. Ia tidak sanggup

mengeluarkan pendapat, kadang-kadang terlalu sopan dan

tunduk kepada orang yang berkuasa, kurang mempunyai

inisiatif dan spontanitas, tidak percaya diri sendiri dan yang

dipilihnya. Selalu tanggung jawab, tak dapat mengisi waktu

terluang.

5) Sikap orang tua yang berlawanan.

Apabila pendapat orang tua dalam mendidik si anak tidak

sejalan, akan menyebabkan si anak kebingungan dan merasa

tidak aman. Apalagi perbedaan pendapat orang tua itu sangat

besar, hal ini akan membawa kegoncangan jiwa yang sangat

pula, karena bertentangan dan dia merasa menjadi objek dari

dua aliran yang berlawanan itu. Kadang-kadang ia kan

terdorong, memihak kepada salah satunya dan lain kali ia akan

menyesal dan memihak kepada yang lain. Perasaan ini sangat

mengoncangkan jiwanya.

e. Kebutuhan akan rasa aman.

Unsur-unsur pokok dalam rasa aman itu adalah kasih

sayang, ketentraman dan penerimaan. Maka anak yang merasa

sungguh-sungguh dicintai oleh orang tua dan keluarganya, pada

umumnya akan merasa bahagia dan aman. Seorang anak akan

merasa diterima oleh orang tuanya, bila ia merasa bahwa

kepentingannya diperhatikan, serta merasa bahwa ada hubungan

yang erat antara ia dan keluarganya.

f. Kebutuhan akan harga diri.

Setiap anak ingin merasa bahwa dia mempunyai tempat

dalam keluarga keinginannya diperhatikan, ingin agar ibu-

bapaknya mau mendengarkan dan mengacuhkannya apa yang

dikatakannya. Apabila anak berbicara kepada kita, usahakanlah

melihat kepadanya, karena hal itu berarti sekali bagi si anak.

Apabila kita mendengar bicaranya sambil melengah, atau acuh tak

acuh, ia akan merasa kurang dihargai. Akibatnya merasa rendah

diri tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan

sebagainya.

g. Kebutuhan akan rasa kebebasan.

Seringkali orang tua menganggap jika si anak diberi

terlalu banyak kebebasan tentu ia akan menjadi orang yang tidak

baik nanti, karena anak-anak biasanya cenderung kepada

melakukan hal-hal yang terlarang. Kebebasan yang kita maksudkan

di sini bukanlah kebebasan dalam batas-batas kewajaran. Misalnya

anak dalam urusan pribadinya seperti dalam permainan, janganlah

kita pula yang menentukan bagaimana harusnya dia bermain.

h. Kebutuhan akan rasa sukses.

Setiap anak ingin merasa bahwa apa yang diharapkan dari

padanya, dapat dilakukannya dan ia merasa sukses (mampu)

mencapai sesuatu yang diinginkannya dan diinginkan oleh

orangtuanya. Orang tua ingin supaya anaknya cepat pandai, lekas

mengerti ini dan itu. Kepada si anak diberikan berbagai macam

didikan dan telah mulai diajar menulis, menggambar, atau disuruh

mengangkat piring, membawa barang-barang yang berat dan

sebagainya.

i. Kebutuhan akan mengenal.

Sering lihat anak-anak berusaha memegang sesuatu

dengan tangannya sambil memeriksa dan melihat-lihat barang-

barang dengan matanya. Tindakan ini sebenarnya adalah

merupakan usaha dari si anak untuk mengetahui barang-barang

yang baru dalam lingkungannya. Kebutuhan dan usaha si anak

untuk mengenai lingkunganya, termasuk faktor yang penting untuk

menumbuhkan kesanggupan padanya. Dalam jiwa terkenal bahwa

aktivitas pribadi ini penting sekali dalam belajar.

D. Kisah

1. Pengertian Kisah

Pengertian Kisah dalam Al-Quran kata kisah berasal dari

bahasa Arab yang bentuk jamanya, yaitu qishah yang berarti kisah,

cerita, berita, keadaan atau tatabbu al-atsar (napak tilas atau mengulang

kembali masa lalu).

Secara etimologi (bahasa), al-qashash juga berarti urusan (al-

amr), berita (khabar), dan keadaan (hal). Dalam bahasa Indonesia, kata

itu diterjemahkan dengan kisah yang berarti kejadian (riwayat dan lain

sebagainya).

Adapun secara istilah (terminologi), kisah menurut Muhammad

Khalfullah dalam Al-Fann Al-Qashashiy fi Al-Quran Al-Karim sebagai

suatu karya kesusastraan mengenai peristiwa yang terjadi atas seorang

pelaku baik pada hakikatnya tidak ada ataupun benar-benar terjadi yang

berkisar pada dirinya ataupun tidak, namun kisah itu disusun atas dasar

seni yang indah, yang mendahulukan sebagian peristiwa dan membuang

sebagian lagi, ataupun ditambahi dengan peristiwa yang tidak terjadi,

sehingga penggambarannya keluar dari kebenaran yang sesungguhnya,

menyebabkan terjadinya para pelaku fiktif. Sedangkan yang dimaksud

dengan qashash al-Quran adalah pemberitaan mengenai keadaan umat

terdahulu, Nabi-nabi terdahulu, dan peristiwa yang pernah terjadi.

Kisah adalah kejadian yang terjadi berdasarkan fakta-fakta yang

shahih dan dapat dipertanggung jawabkan.44 Jika kisah dikaitkan

dengan Islam, maka kisah-kisah Islami adalah kejadian-kejadian yang

berhubungan dengan agama Islam.

2. Pembagian Kisah

44Agus Fatah, seri panduan guru dan orang tua Mendongeng siapa takut? 13 kiat sukses

bagi guru dan orang tua (Kalisari: Al-Madaris, ). h. 47.

Kisah juga dibagi kedalam beberapa di antaranya sebagai

berikut:45

1. Kisah Nabi dan Rasul

Kisah yang menggambarkan bagaimana kehidupan para

Nabi dan Rasul dari mulai dilahirkan atau diciptakan sampai

akhir tugasnya atau meninggal dunia. Misalnya kisah 25 Nabi

dan Rasul Allah yang wajib kita ketahui dan imani.

2. Kisah Sahabat Nabi

Kisah cerita yang menggambarkan bagaimana kehidupan

para sahabat dari mulai lahir, semasa bersama Rasulullah dan

setelah Rasulullah meninggal dunia. Juga gambaran tentang

akidah dan keimanannya kepada Allah swt. Misalnya kisah Abu

Bakar, Umar, Ustman, dan Ali.

3. Kisah Para Khalifah

Kisah cerita yang menggambarkan masa kejayaan kaum

muslimin. Di antara masa kejayaan itu terjadi ketika mereka

berada di bawah payung khalifah, berselimut syariat, dan

menghirup udara segar ajaran Islam. Misalnya Kisah Khulafaur

Rasyidin (Khalifah Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali), kisah

Bani Umayyah, dan Khalifah Abbas.

4. Kisah dari Al-Quran

45Ibid,.h. 8-9.

Kisah cerita yang diambil dari Al-Quran. Kisah-kisah ini

mempunyai keistimewaan dalam hal cita-cita yang luhur, tujuan

yang mulia dan maksud yang agung tentang akhlak yang dapat

menyucikan jiwa dan lainnya. Al-Quran menjadikan perjalanan

hidup orang-orang ini sebagai contoh dan mengajak manusia

untuk merenungi dan mengagungkan isi dari Al-Quran itu

sendiri. Kisah yang biasa kita ceritakan misalnya kisah tentang

Nabi Adam, kisah tentang Nabi Nuh, keluarga Imran, dan lain-

lain.

3. Manfaat Berkisah46

a. Menstimulasi dan mengembangkan imjinasi.

b. Meningkatkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi.

c. Menanamkan nilai-nilai kebaikan.

d. Belajar mengenal kehidupan.

e. Meningkatkan konsentrasi dan kecerdasan.

f. Menstimulasi rasa ingin tahu.

g. Menstimulasi jiwa petualang.

h. Menghangatkan hubungan orang tua dan anak.

i. Menghibur.

j. Mengimbangi tayangan televisi.

46Agus Fatah makalah sharing, Sukses Berkomunikasi & Mendongeng, (TK Nizamia

Andalusia, 2007), h. 3.

4. Tujuan Kisah Dalam Al-Quran

a. Membuktikan wahyu dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.

b. Menunjukan bahwa semua agama yang dibawa oleh Nabi

terahulu berasal dari Allah.

c. Menunjukan bahwa agama yang dibawa oleh para Nabi

mempunyai asas yang sama (Tauhid).

d. Menjelaskan bahwa dalam menyampaikan dakwahnya para

Nabi telah menempuh cara-cara yang sama dan memperoleh

sambutan yang serupa dari kaumnya.

e. Menjelaskan bahwa keberhasilan perjuangan para Nabi dalam

menyampaikan mereka pada akhirnya merupakan pertolongan

Allah.

f. Menjelaskan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada

hamba-hamba pilihannya.

g. Membenarkan adanya kabar gembira sebagai balasan dan

kabar takut sebagai siksa.

5. Perbedaan Dongeng, Cerita, dan Kisah

a. Dongeng

Adalah hasil karya berdasarkan rekayasa imajinatif (imajinasi)

seorang pendongeng atau penulis yang jalan ceritanya sederhana

dan tak mungkin terjadi. Contohnya: Si kancil dan Buaya

b. Cerita

Adalah kejadian yang disampaikan secara lisan dan tertulis

berdasarkan sedikit fakta, bahkan sering ditambah-tambahkan

faktanya. Contohnya: Anto Si Anak Jalanan.

c. Kisah

Kejadian yang terjadi berdasarkan fakta-fakta yang sahih

dipertanggung jawabkan. Contohnya: Nabi Muhammad.

BAB III

PROFIL SD ISLAM SABILINA

A. Sekilas Yayasan Sabilina

Yayasan Sabilina didirikan pada tanggal 3 Februari 1999 dengan

Akte Pendirian Yayasan No. 4 yang terdaftar di Notaris Haryanto, SH di

Pondok Gede Bekasi. Sampai saat ini Yayasan Sabilina diketuai oleh

Bapak H. Maftuh Ikhsan. Sejak berdirinya Yayasan Sabilina mempunyai

komitmen yang kuat untuk mengembangkan pendidikan Islam di

Indonesia. Untuk itulah Yayasan Sabilina mendirikan Sekolah Islam

Sabilina yang diawali dengan membentuk Taman Bermain dan Taman

Kanak-Kanak Islam Sabilina, yang berlokasi di Perumahan Kranggan

Permai Cibubur.

Semangat untuk memajukan pendidikan Islam tercermin dari

kualitas lulusan Taman Bermain dan Taman Kanak-Kanak ini, Taman

Bermain dan Taman Kanak-Kanak Islam Sabilina sampai saat telah

mendapat kesan yang baik dan positif dari orang tua murid dan masyarakat

sekitar. Untuk mengembangkan Sekolah Islam Sabilina lebih lanjut,

Yayasan Sabilina pada tahun ajaran 2003/2004 membuka Sekolah Dasar

Islam Sabilina yang juga berlokasi di Kranggan Cibubur. Diharapkan

dengan hadirnya SD Islam Sabilina ini, Yayasan Sabilina dapat lebih

berkiprah untuk memajukan pendidikan Islam di Indonesia dan khususnya

di wilayah Kranggan Cibubur sekitarnya. Dengan keterbukaan

manajemennya Yayasan Sabilina siap bekerja sama dengan berbagai pihak

untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan di Indonesia demi

mencetak generasi penerus bangsa yang mempunyai ilmu yang tinggi serta

akhlaq yang mulia.47

B. Identitas Sekolah

Nama Sekolah : SD ISLAM SABILINA

Alamat Sekolah : Jl. Raya Kranggan, No. 47

Kabupaten/Kota : Bekasi

Kode Pos : 17433

Desa : Cibubur Jati Sampurna

Telpone : (021) 98126119 / 98285171

Website : www.sabilina.sch.id

C. Visi dan Misi Sekolah

1. Visi Sekolah

Menjadi rujukan sistem pendidikan Islam dalam

pengembangan jiwa leadership dan enterpreneurship dengan

keseimbangan intelektual, emosional dan spiritual untuk mencetak

generasi mandiri dan unggul.

47Situs Sabilina, artikel diakses pada 20 April 2009 dari http://www.sabilina.sch.id

http://www.sabilina.sch.id/http://www.sabilina.sch.id/

2. Misi Sekolah

a. Mendidik siswa menjadi insan yang mencintai Allah dan rasulnya

serta menjadikan al-Quran dan sunnah sebagai pedoman

hidupnya.

b. Mendidik siswa menjadi insan yang memiliki kemampuan

intelektual, emosional dan spiritual yang seimbang.

c. Mendidik siswa menjadi pribadi yang memiliki jiwa leadership

dan entrepreneurship.

d. Mendidik siswa menjadi insan yang kreatif mandiri dan unggul.

D. Kurikulum Pendidikan

1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan

dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari

tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan

kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

2. Kurikulum Agama

a. Pendidikan Agama Islam

b. Islamisasi nilai-nilai yang terintegrasi dalam seluruh bidang studi

sesuai dengan tema pelajaran

c. Penanaman nilai-nilai akhlak dan keimanan dalam rangkan

menyeimbangkan kecerdasan intelektual (IQ) dengan kecerdasan

emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ)

d. Pemaknaan Al-Quran dan As-Sunnah pada tema-tema

pembelajaran

e. Kegiatan tafakur dan muhasabah

f. Bimbingan praktek ibadah dan doa-doa

g. Bimbingan membaca al-Quran dengan metode qiroati

h. Tahfidzul Quran

3. Kurikulum Alam

Kurikulum ini merupakan kurikulum plus atau penunjang untuk

lebih mengoptimalkan kurikulum nasional, dan kurikulum tersebut

terdiri dari :

a. Gardening

b. Outbound dan Persami

c. Life Skill (Keterampilan Hidup)

d. Kemandirian

e. Keterampilan diri

f. Kerumahtanggaan

g. Wirausaha

4. Kurikulum Cerita atau Kisah

Kurikulum ini sudah termasuk di dalam kurikulum pembelajaran

dimana pembelajaran tersebut sudah disisipkan sebuah cerita atau

kisah, seperti contoh mata pelajaran di bawah ini yang menyajikan

cerita atau kisah adalah sebagai berikut :

a. Bahasa Indonesia

Story telling satu kata ajaib. Guru bercerita tentang satu kata

ajaib yang bisa merubah suasana menjadi lebih baik. Kata itu

adalah maaf.

b. PKN

Story telling tentang Anak jujur. Guru menjelaskan arti

kejujuran. Dan siswa mengerjakan worksheet rubrik kejujuran.

c. IPS

Story telling mengenai kehidupan petani

a. Siswa melakukan role play Pak Tani ku Sayang Pak Tani ku

Malang

b. Siswa memetik hikmah dari hasil role play

c. Guru mengajak siswa berdiskusi mengenai ciri-ciri orang

semangat bekerja

d. Semangat bekerja berdasarkan hadits Rasulullah SAW

e. Siswa memainkan peran.

d. Bahasa Indonesia

Bercerita tentang nikmat Allah dalam menghadapi tantangan

hidup

1. Bercerita tentang kejadian di Situ Gintung

2. Diskusi tentang persoalan peristiwa alam di Indonesia dalam

kelompok.

E. Komponen Siswa

Sumber data : Laporan bulanan Sekolah Sabilina untuk DIKNAS

F. Sarana dan Prasarana

No Kelas Jumlah siswa Jumlah

siswa

Pekerjaan orang tua

Laki-laki Perempuan PNS TNI/

POLRI

Swasta

1 I 11 11 22 1 43

2 II 11 13 24 1 4 43

3 III 12 20 32 1 2 61

4 IV 8 10 18 1 1 34

5 V 7 12 19 3 35

6 VI 5 2 7 2 12

Jumlah 54 68 122 8 8 228

Bangunan Jumlah Keadaan

Baik Sedang Rusak

Unit Bangunan 2

Ruang Belajar 9

Rumah Dinas Penjaga 1

Ruang Guru 1

Ruang Kepsek 1

Ruang Perpus 1

Ruang Lab 1

Ruang Kamar Mandi 6

Ruang UKS 1

Ruang Administrasi SD 1

Ruang Administrasi Yayasan 1

Jumlah 25

Sarana Penunjang

Jenis Sarana Penunjang Jumlah Keadaan

Baik Sedang Rusak

Buku Perpustakaan 1,200 buku

Alat Komputer 13 Unit

Alat Olah Raga 1 set

Bola Sepak 7

Bola Voly 1

Bola Basket 3

Net 1

Sarana Air Bersih 4

Bola Tennis 50 Sumber data : Laporan bulanan Sekolah Sabilina untuk DIKNAS

BAB IV

TEMUAN DAN ANALISA DATA

A. Pelaksanaan Bimbingan Kisah

Dalam pelaksanaannya, ada dua bentuk bimbingan kisah yang

diberikan di SD Islam Sabilina ini, Pertama, dengan cara menyajikan kisah

sebelum pelajaran dimulai, Kedua, hanya menyajikan kisah saja. Berikut

mata pelajaran yang menyajikan kisah.

Kelas Bidang Studi Materi MainActivity

I Bahasa

Indonesia

Kisah Nabi Nuh

Satu kata ajaib maaf

Kisah si lamban dan si gagap

Menonton kisah

Mendengarkan kisah

Siswa menuliskan isi kisah

Siswa mengerjakan worksheet

menjelaskan isi

gambar seri

Sains Apersepsi bermain samurai Guru menjelaskan kondisi alam di

waktu pagi, siang,

sore, dan malam hari

MTK Story telling singa yang

cerdik

Bermain tebak bilangan

penjumlahan

Guru dan siswa berdiskusi tentang

cerita singa yang

cerdik lalu

mengambil

kesimpulan

bagaimana cara

mengukur berat

yang baik

II PKN Konsep Musyawarah

Bermain kuda bisik

Story telling tentang Anak jujur

Guru menjelaskan konsep arti kejujuran

Siswa mengerjakan worksheet rubrik

kejujuran

Bahasa

Indonesia Brainstorming tentang

Nabi Nuh as

Hook activity raksasa dan timun mas

Menonton kisah Nabi Nuh

Siswa menceritakan kembali kisah Nabi

Nuh as dalam bentuk

tulisan

IPS Meyakini bahwa Allah dan Rasul-Nya senantiasa

menginginkan hamba dan

umat-Nya bersemangat

dalam bekerja yang baik

dan halal.

Memakai hadist dan al-Quran

Meyakini hadist dan al-Quran

III IPS Story telling mengenai kehidupan kehidupan petani

Menjelaskan pentingnya semangat kerja

Siswa melakukan role play Pak Tani ku

Sayang Pak Tani ku

Malang

Siswa memetik hikmah dari hasil role

play

Guru mengajak siswa berdiskusi mengenai

ciri-ciri orang

semangat bekerja

Guru menjelaskan bahwa setiap umat

muslim diwajibkan

memilki sikap

semangat dalam

bekerja berdasarkan

hadist Rasulullah

SAW

IV PKN Mengenal nilai kejujuran Menjelaskan arti kejujuran

Menyebutkan manfaat jujur dan kerugian

bila tidak jujur.

Bahasa

Indonesia Bermain pantun Siswa membaca

pantun secara

berbalasan dengan

lafal dan intonasi

yang tepat

hubungannya

dengan membaca al-

Quran sesuai tajwid

V B.Indonesia Bercerita tentang kisah Rasulullah

Guru membacakan

cerita tentang kisah

perjalanan Rasulullah

Uji keterampilan dasar

tentang menanggapi

cerita secara lisan dan

mengidentifikasi unsur

cerita (tokoh, watak,

tema, latar dan amanat)

secara tertulis.

Guru bercerita tentang

sejarah Nabi

Muhammad SAW

Siswa menceritakan

kembali Tabel 3: Mata Pelajaran kisah-kisah Islami

Berikut penjelasan dari tabel di atas:

1. Bahasa Indonesia

Dalam rangka pemberian bantuan dalam bentuk bimbingan

melalui kisah, dapat disajikan dalam mata pelajaran-mata pelajaran

tertentu, misalnya Bahasa Indonesia.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia ini, guru menyajikan mata

pelajarannya dalam bentuk kisah, apakah itu kisah-kisah Islami,

maupun umum. Dalam kisah-kisah Islami, sekolah ini

mengelompokkan sesuai dengan tingkatan kelas mereka yang tentunya

sesuai dengan kurikulum sekolah tersebut.

Misalnya di kelas 1, kisah Nabi Nuh. Guru menyajikan kisah

Nabi Nuh yang diawali dengan menyanyikan lagu kisah nabi Nuh,

kemudian menjelaskan aturan dalam menonton kisah tersebut,

setelah menonton siswa dirangsang agar bisa mengambil pelajaran

dari kisah tersebut dengan cara menuliskan kembali kisah tersebut,

dan mengerjakan worksheet. Bimbingan dengan kisah ini

diharapkan kepribadian anak dapat terbentuk dengan terilhamin

dari kisah tersebut. Diantara sikap yang bisa diambil dari kisah

tersebut adalah:

a) Sabar

diharapkan anak bisa mencontoh keteladanan Nabi Nuh dalam

bersikap sabar menghadapi kaumnya yang ingkar terhadap

ajaran yang dibawanya.

b) Teguh pendirian

Bagaimanapun Nabi Nuh dihina dan dicaci oleh kaumnya, tapi

Nuh tetap teguh dalam pendiriannya dan istiqomah dalam

menjalankan amanah yang diembankan kepadanya. Dan siswa

diharapkan dapat mencontoh sikap tersebut dan diterapkan

dalam kehidupan mereka masing-masing.

2. PKN

Bentuk bimbingan melalui kisah yang terdapat di sekolah ini dapat

kita lihat dari tabel di atas. Adapun materi yang disampaikan dalam

pelajaran agak sedikit berbeda dari materi biasanya, karena dalam

setiap pelajaran seperti yang dapat kita lihat dari beberapa contoh mata

pelajaran Bahasa Indonesia, IPS, dan PKN yang seharusnya disajikan

dengan materi-materi yang menyangkut tentang pelajaran tersebut

tetapi para pengajar memanfaatkannya dengan berkisah.

3. IPS

Materi dalam pelajaran IPS ini adalah materi tentang kehidupan

sosial kemasyarakatan. Nilai-nilai kebaikan yang ada dalam kehidupan

masyarakat patut untuk diteladani oleh murid. Misalnya story telling

mengenai kehidupan petani. Dalam cerita ini ada dua perspektif yang

dikedepankan, dan siswa melakukan role play pak tani ku sayang, pak

tani ku malang.

Setelah cerita tersebut, siswa diajak untuk memetik hikmah dari

hasil role play, kemudian guru mengajak siswa berdiskusi mengenai

ciri-ciri orang yang semangat bekerja, dan menjelaskan bahwa setiap

umat muslim di wajibkan memiliki sikap semangat dalam bekerja

berdasarkan hadits Rasulullah SAW.

4. Matematika

Materi yang diberikan dalam mata pelajaran berbentuk cerita

yang mengandung hikmah, cerita ini diantaranya; story telling singa

yang cerdik. Dalam prosesnya guru dan siswa berdiskusi tentang cerita

singa yang cerdik lalu mengambil kesimpulan bagaimana cara

mengukur berat yang baik, kemudian secara langsung mengukur berat

benda-benda yang ada disekitarnya dengan menggunakan satuan berat

yang tidak baku lalu menuliskan hasil pengukurannya kedalam

worksheet yang telah disediakan.

5. Sains

Materi ini menampilkan tentang cerita-cerita tentang alam,

diantaranya tentang rahasia siang dan malam. Melalui cerita ini guru

mengajarkan tentang mengenal kebesaran Allah melalui berbagai benda

langit ciptaa-Nya dengan pengamatan.

Guru mengajak muridnya untuk menyebutkan berbagai macam

benda langit, kemudian menggambarkannya yang pada intinya mereka

tahu tentang alam raya sebagai ciptaan Allah yang berimplikasi kepada

kepribadian, misalnya tidak sombong, dan suka membantu.

Tabel di atas dapat disebut juga sebagai kompetensi dasar dari

pembelajaran melalui metode cerita yaitu:

1. Anak dapat memahami cerita tradisional

2. Ketika berbicara anak dapat menyimpulkan kembali cerita yang

telah diceritakan oleh guru

3. Ketika menulis anak dapat menuliskan kembali cerita yang

diceritakan oleh guru

4. Ketika membaca anak dapat mengambil inti dari cerita tersebut.

Tujuan dari penyajian itu disebut juga sebagai kompetensi dasar

yaitu kemampuan yang harus dicapai oleh anak. Sedangkan

indikatornya adalah langkah-langkah untuk mencapai kompetensi dasar.

Misalkan kompetensi dasarnya adalah anak dapat menceritakan kembali

cerita yang diceritakan oleh guru, indikatornya untuk anak mengerti itu

maka anak harus dapat menyebutkan tokoh yang berwatak baik dan

buruk, setting latar, dan memerankan tokoh. Jadi indikator itu adalah

alat untuk mencapai kompetensi dasar.

Berkisah, bercerita, maupun mendongeng sangatlah disukai oleh

anak-anak maupun orang dewasa, karena termasuk media pendidikan

yang dapat mentransfer nilai-nilai kehidupan yang terbukti

kehebatannya. Banyak ilmu yang dapat diserap ketika kita

mendengarkan kisah sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Agus

Fatah sebagai berikut:

Rasulullah itu wi, pendongeng atau pengkisah yang baik, ada

kisah Rasulullah yang sangat baik itu yang sering Rasulullah ceritakan

kepada sahabat, dan Sahabat Nabi itu memang senang. Prinsipnya gini

wi, secara psikologisnya dwi pernah dengar manusia itu makhluk

sosial, manusia itu makhluk ekonomi. Kalau tinjauan dari

psikologisnya pendongeng itu manusia adalah makhluk Homopabula

itu artinya makhluk yang senang mendongeng dan didongengi.48

Kisah para Nabi, Rasul, Sahabat, dan orang-orang shaleh yang

diterapkan di sekolah ini dapat dijadikan salah satu metode dalam

pembentukan akhlak pada anak, karena lewat kisah anak lebih mengerti

dengan pesan moral ataupun kebaikan yang tertanam pada kisah itu.

Maka di sekolah ini salah satu penanaman akhlak anak adalah melalui

kisah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Agus Fatah sebagai

berikut:

Bapak meminta semua guru mendongeng untuk anak-anak,

mengisahkan kisah para Nabi kepada anak-anak. Intinya kita

48Wawancara pribadi dengan Bapak Agus Fatah. Cibubur, 17 april 2009.

mengajarkan kebaikan, akhlak dengan berbagai cara salah satu

caranya dengan mengisahkan kisah para Nabi dan orang shaleh.49

Story telling yang akan disampaikan kepada anak-anak yang

mendengarkannya harus mengandung 3 unsur yaitu leadership,

entrepreneur, dan nilai-nilai Islami karena Sabilina menyongsong 3

nilai tersebut dalam pembentukan akhlak sehingga ini akan menjadi

pembentukan kepribadian anak yang bersifat baik pada diri yang

diambil dari cerita atau kisah yang dapat diteladani. Maka setiap cerita

atau kisah yang akan disampaikan harus mengandung 3 unsur tersebut.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Dety sebagai berikut:

Sabilinakan menyongsong 3 ya leadership, enterpreuner, sama

nilai-nilai Islam. Ketiga itu harus masuk kalau kita story telling dan itu

tantangan teman-teman yang story telling, itu saya tantangin kalau bisa

masukan ketiga nilai itu tapi kalau tidak minimal dua nilai-nilai Islam

karena kita bermain disitu.50

Ketertarikan anak-anak dalam mendengarkan sebuah cerita atau

kisah tergantung pada pembawaan pendongeng karena jika pembawaan

pendongeng kurang atau tidak menarik anak tidak mau

mendengarkannya. Begitu juga sebaliknya jika pendongeng membuka

cerita atau kisahnya dengan menarik anak akan antusias

mendengarkannya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Dety

sebagai berikut:

Kalau gurunya bawanya datar misalkan gini pada suatu hari

ada seorang anak bernama ini pergi ke gunung kalau itu bawainnya

datar, tapi okelah pada saat menit-menit pertama dia respon dia

49Ibid.,

50Wawancara pribadi dengan Ibu Dety Anggraeni. Cibubur, 17 April 2009.

mendengarkan. Tapi kalau membawakannya seperti itu terus anak

lama-lama heeee.tidak tertarik lagi dia akan lebih tertarik ngobrol sama temannya, tapi kalau dari awal sudah memakai karakter yang

berbeda atau lebih ekspresif itu sampai bahkan kalau kita sudahi itu

anak-anak lanjut lagi dong bu, okey tapi kita lanjut besok

ya!Yaaaajadi dia tergantung gurunya yang bawa kalau monoton ya

mereka tidak akan merespon sampai akhir.51

Dongeng, cerita, ataupun kisah dapat memberikan dampak yang

kuat bagi perubahan pada diri anak misalnya membuat anak lebih

percaya diri atau, membangun perilaku mereka supaya berbuat baik,

semua itu tergantung pada tujuan kita dalam bercerita. Seperti contoh

yang disampaikan oleh Bapak Agus Fatah sebagai berikut:

Mau apa dulu targetnya kalau mengatasi anak yang tidak PD

supaya dia PD bapak libatkan dia dalam cerita, pengalaman bapak 1

tahun di TK waktu itu ada anak namanya Willy, Willy anaknya pemalu

kata bapaknya pa Agus tolong saya titip anak saya jadikan dia anak

yang ekpressif nggak apa-apa sampai 7 tahun di SD eh 7 tahun di TK

maksudnya usianya sampai 7 tahun nggak apa-apa. Apa yang bapak

lakukan pertama karena targetnya membuat anak ini percaya diri maka

Willy namanya bapak pake, Wil bapak pinjam namamu ya Wil untuk

menjadi tokoh dalam dongeng ini ya?Iya ok. Kemudian hari berikutnya

bapak dongeng lagi bapak ajak lagi Wil kamu mau ikutan nggak

Wil?Rame-rame Will kalau sendirian nggak beranikan?Tapi hari itu

dia cuma jadi pohon teman-temannya juga ikutan, besoknya bapak

kurangi lagi orangnya, terus dikurangi, kurangi, sampai akhirnya Willy

nggak bapak kasih peran karena bapak yakin dia udah PD, anak-anak

juga udah bosan pa Willy terus pa gitukan. Akhirnya Willy tidak bapak

kasih peran sampai akhirnya dia nagih pa aku ko nggak ikutan

pa?Gantian ya Will.52

Kebaikan yang terkandung di dalam kisah lebih mudah diterima

anak dibandingkan kita harus mengajarkan pengertian tentang kebaikan

pada anak. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Agus Fatah:

51Ibid.,

52Wawancara pribadi dengan Bapak Agus Fatah. Cibubur, 17 April 2009.

Bapak lihat anak-anak lebih mudah menerima kebaikan

dengan di ceritakan daripada di ajarkan hadistnya. Misalkan hadist heeeeeAnnazha fatuw minal iman itu adakan hadistnya, nah itu boleh

tapi sebaiknya tidak disampaikan menjadi hafalan menjadi kata-kata

saja lebih baik ada tingkatnya.53

Kelebihan pada dongeng, cerita, dan kisah selain lebih efektif

penyampaiannya, anak juga dapat meniru tokoh-tokoh cerita yang kita

sampaikan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya lebih mudah

diterima anak, sehingga anak tidak merasa digurui. Sebagaimana yang

disampaikan oleh Ibu Dety sebagai berikut:

Kalau menyampaikan sebuah cerita-cerita 1. Anak tidak

merasa digurui ya, tidak merasa di ceramahin, juga tidak merasa

didikte gitu tapi akhirnya anak mengaca dari tokoh-tokoh cerita yang

kita sampaikan, itu-itu mungkin kelebihannya itu juga salah satunya.54

Dari kisah-kisah para Nabi, banyak keuntungan yang kita dapat,

karena selain mengajarkan kebaikan pada anak kita juga dapat

mengenalkan anak ke dunia buku. Inspirasi yang didapat dari sebuah

kisah, cerita, ataupun dongeng sangat berpengaruh pada diri anak

karena lewat kisah-kisah atau cerita-cerita yang ia dengar selama ini

dapat menginspirasi anak untuk berbuat baik. Adapun contoh kisah

nyata yang terjadi di Al-Azhar 13 yang dapat menginspirasi anak untuk

berperan menjadi tokoh jagoan. Sebagaimana yang disampaikan oleh

Bapak Agus Fatah sebagai berikut:

kisah para Nabi, dongeng-dongeng itu wi di samping

mengajarkan kebaikan juga mengenalkan anak ke dunia buku jadi

keuntungan yang didapatkan besar, pengaruhnya besar. Tapi

53 Ibid.,

54 Wawancara pribadi dengan Ibu Dety Anggraeni. Cibubur, !7 April 2009.

heeeeanak-anak bisa mau melakukan kebaikan karena terinspirasi

oleh kisah itu seperti eh..itukan nggak boleh kata Nabi hmmmm..gitu kan ada ceritanya. Yang jelas buat Pa Agus sendiri kisah-kisah para

Nabi dan orang-orang shaleh itu menginspirasi kita untuk membuat

kebaikan. Dan Imam Ghazali pun mengatakan didiklah anak-anakmu

dengan Al-quran, Al-hadist, dan kisah-kisah para orang shaleh, dan

syair-syair supaya anakmu punya semangat berjuang. Kalau menurut

bapak heeeesetidaknya kisah syair yang Pa Agus ceritakan itu

menjadi makanan batin anak-anak, kekayaan anak-anak

heeeee.dalam diri dia kemudian juga kebaikan buat dirinya itu bisa

tertarik pada saat ketika dia down kisah apa yang pernah dia denggar

yang membuat dia bisa bertahan. Seperti contoh kisah nyatanya wi di

rawamangun di SD Al-Azhar 13 itu ada anak diculik sama penjahat.

Rupanya anak ini waktu kecil sering didongengi, sering membaca

cerita-cerita detektif buku lagikan. Ketika dia diculik wi apa yang dia

lakukan?penculiknya minta tebusan 10 juta sama orang tuanya. Sianak

kecil ini wi karena dia sering membaca buku dari dongeng-dongeng

dan dari apapu