of 17/17
17 Nindia Darnoto, 2014 PENGGUNAAN METODE PERMAINAN BAHASA TEKA-TEKI SILANG UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SINONIM DAN ANTONIM Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD YPKS V Kecamatan Cilegon Kota Cilegon. Peneliti memilih tempat tersebut dengan alasan: (1) pada saat observasi peneliti menemukan sikap pasif dan bosan dari siswa saat proses belajar berlangsung, karena pembelajaran yang tidak melibatkan gerak aktif siswa secara langsung pada proses pembelajaran, (2) selain itu lokasi sekolah yang dijadikan tempat penelitian mudah dijangkau oleh peneliti yang dekat dari tempat tinggal peneliti. 2. Subjek Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dijadikan subjek penelitian adalah siswa kelas V SD YPKS V Kecamatan Cilegon Kota Cilegon untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sinonim dan antonim dengan menggunakan metode permainan bahasa teka teki silang, dengan jumlah siswa sebayak 30 orang, terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan dengan pertimbangan sebagai berikut: 1) Siswa-siswi kelas V di SD YPKS V Kecamatan Cilegon Kota Cilegon dengan melihat data nilai Bahasa Indonesia kurang mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah, yakni sebesar 70 bila di bandingkan dengan nilai-nilai mata pelajaran lain. 2) Pembelajaran kelas V di SD YPKS V Kecamatan Cilegon Kota Cilegon masih lebih menitik beratkan kepada penanaman konsep Bahasa Indonesia tanpa adanya keterlibatan siswa dalam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. LOKASI DAN SUBJEK ...repository.upi.edu/20027/6/S_BHS_KDSERANG_1004293_Chapter 3.pdf · antonim dengan menggunakan metode permainan bahasa teka teki

  • View
    217

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. LOKASI DAN SUBJEK...

17

Nindia Darnoto, 2014 PENGGUNAAN METODE PERMAINAN BAHASA TEKA-TEKI SILANG UNTUK MENINGKATKAN HASIL

BELAJAR SISWA PADA MATERI SINONIM DAN ANTONIM Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD YPKS V Kecamatan

Cilegon Kota Cilegon. Peneliti memilih tempat tersebut dengan alasan: (1)

pada saat observasi peneliti menemukan sikap pasif dan bosan dari siswa

saat proses belajar berlangsung, karena pembelajaran yang tidak

melibatkan gerak aktif siswa secara langsung pada proses pembelajaran,

(2) selain itu lokasi sekolah yang dijadikan tempat penelitian mudah

dijangkau oleh peneliti yang dekat dari tempat tinggal peneliti.

2. Subjek Penelitian

Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dijadikan subjek

penelitian adalah siswa kelas V SD YPKS V Kecamatan Cilegon Kota

Cilegon untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sinonim dan

antonim dengan menggunakan metode permainan bahasa teka teki silang,

dengan jumlah siswa sebayak 30 orang, terdiri dari 20 siswa laki-laki dan

10 siswa perempuan dengan pertimbangan sebagai berikut:

1) Siswa-siswi kelas V di SD YPKS V Kecamatan Cilegon Kota

Cilegon dengan melihat data nilai Bahasa Indonesia kurang

mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang

ditentukan oleh sekolah, yakni sebesar 70 bila di bandingkan

dengan nilai-nilai mata pelajaran lain.

2) Pembelajaran kelas V di SD YPKS V Kecamatan Cilegon Kota

Cilegon masih lebih menitik beratkan kepada penanaman konsep

Bahasa Indonesia tanpa adanya keterlibatan siswa dalam

18

memahami materi sinonim dan antonim, maka dari itu suatu

inovasi baru jika menggunakan metode permainan bahasa teka

teki silangdalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi sinonim

dan antonim untuk memperoleh kegembiraan sebagai fungsi

bermain, dan melatih keterampilan berbahasa sebagai materi

pelajaran yang melibatkan peran siswa melakukan sendiri

permainan, sehingga pembelajaran tersebut lebih tereksplorasi

dan dirasakan oleh siswa karena siswa sendiri yang melakukan

permainannya.

B. METODE PENELITIAN

Menurut Trianto (2011:13) penelitian tindakan kelas berasal dari

istilah Bahasa Inggris classroom action research, yang berarti penelitian yang

dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang

diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut.

Bahkan Trianto (2011: 16) menuturkan bahwa penelitian tindakan

kelas (PTK) adalah penelitian kualitatif yang dilakukan oleh guru sendiri

ketika mendapatkan permasalahan dalam pembelajaran dan mencarikan

solusinya dalam upaya memperbaiki kualitas pembelajarannya.

Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Penyelenggara

Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar (2007: 197)

menyimpulkan bahwa PTK berasal dari bahasa inggris Classroom Action

Research (CAR), menurut TIM Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24

Universitas Negeri Makassar bahwa; Dalam bahasa Inggris Penelitian

Tindakan Kelas (PTK) diartikan dengan Classroom Action Research (CAR).

Dari sisi namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung di dalamnya.

Karena itu Arikunto, dkk (2006), Aqib (2007), Madya (2006) mengemukakan

bahwa ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, yaitu (1) penelitian,

(2) tindakan, dan (3) kelas. Sehubungan dengan itu, maka Arikunto dkk

(2006) mengartikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu pencermatan

terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan

19

dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.Karena itu penelitian tindakan

yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran

yang menjadi tanggung jawabnya.

Dari pengertian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

penelitian tindakan kelas sebagai penelitian yang dilakukan di dalam kelas

melalui refleksi, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja pembelajaran guru

dengan menggunakan metode permainan bahasa, sehingga kesulitan siswa

dalam memahami materi sinonim dan antonim dapat teratasi untuk

meningkatkan hasil belajar siswa.

C. MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Ada beberapa macam pola pelaksanaan PTK yang dikembangkan

oleh beberapa ahli, tetapi yang paling terkenal ada lima model, yaitu: Model

Kurt Lewin (1946), Model Ebbut (1985), Model Kemmis & Taggart

(1988), Model Elliot (1991), dan Model Mc Kernan (1991).

Penelitian tindakan kelas yang diambil oleh peneliti adalah model

PTK menurut Kurt Lewin (1946). Menurut Kurt Lewin dalam Trianto (2011:

29-30) konsep pokok action research terdiri dari empat komponen, yaitu: (1)

perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing),

dan (4) refleksi (reflecting).

Alasan peneliti menggunakan PTK model Kurt Lewin (1946)

dikarenakan model ini yang menjadi dasar dari berbagai model action

research, terutama classroom action research (CAR). Kurt Lewin adalah

orang pertama yang memperkenalkan action research.

Adapun tindakan keseluruhan yang diterapkan dalam penelitian

tindakan kelas seperti yang di kembangkan oleh Kurt Lewin (1946) adalah

sebagai berikut:

20

Gambar 3.1

Desain PTK Model Kurt Lewin (1946)

Dalam Trianto (2011: 30)

Berikut ini merupakan alur Penelitian Tindakan Kelas kegiatan

belajar siswa materi sinonim dan antonim di kelas V dengan menggunakan

metode permainan bahasa teka-teki silang:

Refleksi

Refleksi Refleksi

Refleksi

Refleksi

Perencanaan Pengamatan

Tindakan

Terus

menerus

21

Gambar 3.2

Alur Penelitian Tindakan Kelas Menggunakan Metode Permainan Bahasa

Teka-Teki Silang Pada Materi Sinonim dan Antonim

(Sumber: modifikasi peneliti)

Jika hasil pembelajaran belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal untuk keperluan penelitian, maka

dilanjutkan ke siklus selanjutnya.

Pra Siklus

Refleksi

Diskusi dan evaluasi

untuk mencari solusi

dalam mengatasi

masalah.

Observasi - Pendekatan pembicaraan dengan

Kepala Sekolah dan guru bidang

studi

- Pengamatan terhadap kegiatan

pembelajaran

Siklus I

Tindakan

Melakukan tindakan

kegiatan pembelajaran

mengenai materi

sinonim dan antonim.

Rencana

- Menyusun RPP materi sinonim dan antonim menggunakan metode

permainan bahasa teka-teki silang

- Menyusun lembar observasi yang akan dijadikan penilaian dan lembar

evaluasi

Observasi

Melakukan pengamatan

terhadap pelaksanaan

tindakan dengan

menggunakan pedoman

observasi.

Refleksi

Menganalisis dan mengevaluasi hasil

tindakan pembelajaran.Apakah ada

peningkatan hasil tindakan.Apabila

hasil tindakan belum maksimal maka

dilanjutkan ke siklus selanjutnya.

22

D. DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan model

PTK Kemmis dan Mc. Taggart (Arikunto, 2011: 29) yang terdiri atas empat

tahap di tiap-tiap siklusnya, yaitu antara lain:

1. Perencanaan

Tahap ini menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan,

dimana, oleh siapa, dan bagaimaa tindakan tersebut akan

dilakukan.

2. Tindakan

Implementasi atau penerapan isi rancangan didalam

kancah, yaitu melakukan tindakan di kelas.

3. Pengamatan (Observasi)

Pelaksanaan pengamatan oleh pengamat ketika guru

tersebut sedang melakukan tindakan.

4. Refleksi

Kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah

terjadi, tentang hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik dan

bagian mana yang belum.

Apabila hasil belajar siswa pada siklus I belum mencapai nilai

kriteria ketuntasan minimal belajar bahasa Indonesia yaitu sebesar 70, maka

guru dan peneliti perlu mempersiapkan rencana tindakan selanjutnya untuk

memperbaiki sekaligus meningkatkan hasil belajar siswa pada siklus II dan

seterusnya.Untuk keperluan penelitian, maka nilai kriteria ketuntasan minimal

belajar bahasa Indonesia yang dibutuhkan sebesar 85.

E. Definisi Operasional

23

Metode permainan bahasa adalah cara sistematis dan terpikir

secara baik untuk mencapai tujuan. Caranya adalah dengan menggunakan

permainan sebagai suatu bantuan bagi siswa untuk memahami materi

dalam proses pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar. Salah satu

permainan yang digunakan dalam penelitian ini adalah permaina bahasa

teka-teki silang.

Teka-teki silang adalah permainan dimana siswa harus mengisi

ruang kosong dengan huruf-huruf untuk selanjutnya dijadikan sebuah kata

berdasarkan petunjuk yang telah diberikan.Petunjuk biasanya dibagai

kedalam kategori mendatar dan menurun tergantung pada posisi kata yang

harus diisi.

Materi yang diambil dalam penelitian ini adalah materi sinonim

dan antonim.Sinonim berartikan persamaan kata, sedangkan antonim

memiliki arti lawan kata.Dalam kenyataannya ditemukan bahwa siswa

memiliki kesulitan ketika dihadapkan dengan materi sinonim dan antonim,

oleh karena itu peneliti ini melakukan penelitian dengan sinonim dan

antonim sebagai materi utama dalam meningkatkan hasil belajar siswa

menggunakan metode permainan bahasa teka-teki silang.

F. INSTRUMEN PENELITIAN

Untuk memperoleh data yang diinginkan, maka pada penelitian ini

diperlukan instrumen atau alat pengumpul data yaitu:

1. Instrumen Tes

Suharsimi Arikunto (2009: 53) mendefinisikan tes adalah

alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur

sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah

ditentukan.

Cece Rakhmat (2006: 5) mendefinisikan tes sebagai alat

yang digunakan dalam pengukuran.Tes dipergunakan untuk

mendapatkandata mengenai peningkatan hasil belajar siswa, terdapat

tiga bentuk tes yaitu tes tulis, tes lisan dan perbuatan.

24

Selanjutnya tujuan diadakannya tes ini sebagai alat

pengukur untuk mengetahui keberhasilan prestasi hasil belajar siswa

dari siklus ke-I sampai dengan siklus ke-III.Dalam penelitian ini

menggunakan tes hasil belajar untuk mengukur kemampuan siswa

dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sinonim dan

antonim.

Peneliti menggunakan tes tertulis model isian dengan

jumlah soal sepuluh untuk mengukur kemampuan kognitif siswa

pada penguasaan dan pemahaman materi sinonim dan antonim. Tes

isian ini termasuk kedalam tes subjektif (subjective test).Di bawah

ini adalah kisi-kisi soal tes setiap siklus dalam penelitian.

2. Observasi

Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan,

pernyataan ini diungkapkan oleh Nasution (1998) dalam Sugiyono

(2010: 310).Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu

fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi.

Berdasarkan pernyataan tersebut peneliti menyimpulkan

bahwa observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian

dimana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian untuk

mengetahui data tentang sikap siswa dalam belajarnya, sikap guru

dalam mengajarnya, serta interaksi antara siswa dengan guru dan

siswa dengan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung, dan

juga untuk mengetahui hal-hal apa saja yang harus diperbaiki,

dipertahankan atau ditingkatkan pada pembelajarannya selanjutnya.

Pengumpulan data objektif dari kegiatan belajar mengajar

seperti yang sudah disepakati bersama selanjutnya akan dinalisis

dalam diskusi balikan sesudah tampilan pembelajaran selesai. Guru

dan pengamat akan mempelajari bersama hasil observasi,

menyepakati hasil pengamatan yang berbentuk kekurangan atau

keberhasilan untuk dijadikan catatan lapangan, dan mendiskusikan

langkah-langkah berikutnya.

25

Hubungan antar guru yang melaksanakan pembelajaran

dengan pengamat atau observer harus dalam situasi saling percaya

dan saling membantu untuk menghasilkan interaksi yang positif.Dan

fokus penelitian adalah untuk memperbaiki pembelajaran di kelas,

serta mendukung strategi atau teknik-teknik belajar mengajar, bukan

untuk mengkritik pola perilaku guru yang kurang berhasil.

Di bawah ini merupakan tabel pedoman observasi

pelaksanaan pembelajaran guru menggunakan metode permainan

bahasa teka-teki silang.

Tabel 3.1

Pedoman Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Guru Menggunakan

Metode Permainan Bahasa Teka-teki Silang

Petunjuk: Berilah tanda chek list/centang () pada kolom deskriptor

yang tampak.

No Aspek yang di amati/

Deskriptor

Deskriptor

yang tampak Jumlah Aspek

1 Membuka Pelajaran:

1) Komitmen belajar

2) Mengatur Posisi duduk

3) Peraturan permainan

2 Instruksi:

1) Membagi siswa kedalam

kelompok-kelompok

kecil

2) Menyusun teka-teki

sederhana

3) Membagi lembar teka-

teki

3 Pelaksanaan:

1) Membaca aturan

26

pengisian teka-teki

2) Mengisi teka-teki

silang dari bacaan

3) Memerhatikan

kerjasama siswa

4 Penilaian:

1) Memberi hadiah

kepada kelompok yang

mengerjakan paling

cepat dan benar

2) Menjawab bersama-

sama isian teka-teki

3) Melakukan refleksi

Jumlah

Rata-rata

Sumber: Diadaptasi dari Eman (24 April 2013) dimodifikasi oleh peneliti

emanpgsdchelsea.blogspot.com (22 April 2014)

Keterangan:

Skala penilaian yang digunakan yaitu nilai 1 sampai 4

Nilai 1 : Jika ada satu indikator yang tampak

Nilai 2 : Jika ada dua indikator yang tampak

Nilai 3 : Jika ada tiga indikator yang tampak

Tabel 3.2

Pedoman Hasil Penilaian Observasi Aktifitas Siswa Dalam Materi Sinonim

dan Antonim dengan Menggunakan Metode Permainan Bahasa (teka-teki

silang)

Hari/ tanggal :

Siklus :

27

Kelas : V

Petunjuk 1 = sangat kurang

2 = kurang

3 = baik

4 = sangat baik

No Nama

Siswa

Aspek Yang Dinilai

Jumlah Nilai

Keaktifan

Mengajukan

Pertanyaan

Keaktifan siswa

dalam

mengemukakan

pendapat

Kecepatan

siswa dalam

menentukan

kata

bersinonim

&

berantonim

Ketepatan

siswa dalam

menentuka

n kata

bersinonim

&

berantonim

A B C D

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Jumlah

Rata-rata

Sumber: Modifikasi peneliti

Data yang diperoleh dari hasil observasi pada saat proses

kegiatan pembelajaran menggunakan metode permainan bahasa teka-teki

silang, mencakup empat aspek yang diamati pada saat observasi

berlangsung, setiap aspeknya terdiri dari tiga deskriptor, dengan kategori

penilaian satu sampai dengan empat.

Berikut ini adalah teknik analisis yang digunakan untuk

mengamati proses pelaksanaan pembelajaran materi sinonim dan antonim

dengan menggunakan metode permainan bahasa teka-teki silang. Data

28

diambil dari empat aspek, dan setiap aspek memiliki tiga deskriptor

dengan kategori penilaian satu sampai dengan tiga.

Banyaknya aspek yang diperoleh

Jumlah aspek 100%

Kriteria penilaian (Suharsimi Arikunto) :

90 100 = Sangat baik

75 89 = Baik

65 74 = Cukup

5 64 = Kurang 49

Dan untuk perhitungan nilai rerata pedoman observasi aktifitas

siswa dalam permainan bahasa teka-teki silang pada materi sinonim dan

antonim, yaitu :

Banyaknya aspek yang diperoleh

Jumlah aspek 100%

Kriteria penilaian:

90 100 = Sangat baik

75 89 = Baik

65 74 = Cukup

5 64 = Kurang

29

3. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau

variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat, surat kabar,

majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya

(Suharsimi Arikunto: 231).

Dalam penelitian ini untuk memperkuat data dalam

pelaksanaan penelitian tindakan kelas, peneliti menggunakan foto

sebagai dokumentasi hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas

yang telah dilakukan peneliti.Hasil dokumentasi merupakan salah

satu data akurat dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang

dilakukan oleh peneliti.

G. TEKNIK PENGOLAHAN DATA

Pengolahan data dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan

dengan prosedur dan langkah-langkah yang ditempuh secara bertahap agar

mendapatkan data yang lebih akurat. Adapun langkah-langkahnya sebagai

berikut:

1. Deskripsi Data

Dalam penelitian ini, peneliti menyusun data dari setiap siklus

berupa paparan data.Paparan data merupakan sutu upaya menampilkan

data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan grafik atau

perwujudan lainnya.

Tahap pra siklus sampai siklus III dipaparkan dengan cara

menjabarkan hasil observasi pelaksanaan pembelajaran guru dengan

menggunakan metode permainan bahasa teka-teki silangpada materi

sinonim dan antonim yang disusun untuk guru dan aktifitas belajar siswa

kelas V SD YPKS V Kecamatan Cilegon Kota Cilegon.

2. Analisis Data

30

Sugiyono (2010: 337) menjelaskan bahwa analisis data penelitian

tindakan kelas dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan

setelah selesai pengumpulan data dalam periode waktu tertentu. Dalam

penelitian ini, peneliti menganalisis data dengan cara menghubungkan

hasil penelitian yang telah didapat dengan teori-teori dari berbagai sumber.

Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2010: 37)

mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan

secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas,

sehingga datanya mencapai tujuan. Langkah-langkah analisis ditunjukan

pada gambar berikut:

Gambar 3.3

Komponen Dalam Analisis Data

Periode

Reduksi

Antisipasi Selama Setelah

Display Data

Selama Setelah

Kesimpulan/ Verivikasi

Selama Setelah

AN

AL

ISIS

DA

TA

Sugiyono (2010: 338) mengartikan bahwa reduksi data merupakan

proses berpikir sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan serta

kedalaman wawasan yang tinggi yang artinya reduksi data adalah proses

penyederhanaan data-data yang telah dilakukan melalui seleksi,

pengelompokan data mentah menjadi sebuah informasi bermakna. Data pada

penelitian ini diperoleh dari:

a) observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran guru menggunakan

metode permainan bahasa teka-teki silang

b) observasi terhadap aktifitas belajar siswa pada materi sinonim dan

antonim

c) tes tulis untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa pada materi

sinonim dan antonim

Kemudian dirangkum dalam bentuk kesimpulan untuk menjawab

hipotesis penelitian kali ini

3. Interpretasi

Temuan-temuan yang ada diinterpretasi dengan merujuk kepada

acuan teoritik tentang mengatasi kesulitan siswa pada materi sinonim dan

antonim dengan menggunakan metode permainan bahasa. Peneliti dalam

proses ini berusaha untuk memunculkan makna dari setiap data yang

diperoleh.

Data yang sudah terkumpul perlu diuji kredibilitasnya.Menurut

Sugiyono (2010: 368) kredibilitas data merupakan kepercayaan terhadap

data hasil penelitian.Data-data yang telah terkumpul diuji kredibilitasnya

dalam bentuk triangulasi (data yang bermacam-macam).

Triangulasi dalam pengujian kredibilitas pada penelitian ini

dilakukan berdasarkan hasil dari:

a) observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran guru menggunakan

metode permainan bahasa teka-teki silang

Observasi Pelaksanaan

Pembelajaran Guru

Observasi Aktifitas

Belajar Siswa

Tes Hasil Belajar

Siswa

b) observasi terhadap aktifitas belajar siswa pada materi sinonim dan

antonim

c) tes tulis untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa pada materi

sinonim dan antonim

Berdasarkan uraian diatas triangulasi yang digunakan peneliti

berupa triangulasi sumber dengan cara mengecek data yang telah diperoleh

melalui beberapa sumber (observasi dan tes), terlihat pada gambar

triangulasi data sumber.

Gambar 3.4

Triangulasi Data Sumber

Data yang sudah terkumpul dalam bentuk yang beraneka ragam

atau dalam bahasa penelitian disebut triangulasi ini dibahas hasil

penelitiannya dengan cara mengolah data hasil penelitian berdasarkan

instrumen penelitian dan memberikan beberapa pendapat berdasarkan pada

pemahaman peneliti yang ditunjang dengan teori dari beberapa tokoh

dalam beberapa sumber untuk menghasilkan data yang valid dan konkrit.

4. Penarikan Kesimpulan

Kemudian penyimpulan pada tahap ini merupakan pengambilan

intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk

pertayaan atau kalimt secara singkat padat dan jelas untuk menjawab

hipotesis dan tujuan penelitian.