of 18/18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Budi Daya Kedelai Kedelai merupakan tumbuhan serba guna. Karena akarnya memiliki bintil pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman dengan kadar protein tinggi sehingga tanamannya dapat digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak. Kedelai terutama dimanfaatkan bijinya. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Olahan biji kedelai dapat dibuat menjadi berbagai bentuk seperti tahu, bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai hitam), tempe, susu kedelai, tepung kedelai, minyak (dari sini dapat dibuat sabun, plastik, kosmetik, resin, tinta, krayon, pelarut, dan biodiesel), serta taosi atau tauco (Komalasari, 2008). Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max (disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). Glycine max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti RRC dan Jepang Selatan, sementara Glycine soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia Tenggara. Tanaman ini telah menyebar ke Jepang, Korea, Asia Tenggara dan Indonesia (Wikipedia). Kedelai dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Di lahan sawah, kedelai umumnya ditanam pada musim kemarau setelah pertanaman

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1

  • View
    222

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

    2.1. Tinjauan Pustaka

    2.1.1. Budi Daya Kedelai

    Kedelai merupakan tumbuhan serba guna. Karena akarnya memiliki bintil

    pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman dengan kadar protein tinggi

    sehingga tanamannya dapat digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak.

    Kedelai terutama dimanfaatkan bijinya. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta

    beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Olahan

    biji kedelai dapat dibuat menjadi berbagai bentuk seperti tahu, bermacam-macam

    saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai hitam),

    tempe, susu kedelai, tepung kedelai, minyak (dari sini dapat dibuat sabun, plastik,

    kosmetik, resin, tinta, krayon, pelarut, dan biodiesel), serta taosi atau tauco

    (Komalasari, 2008).

    Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua

    spesies: Glycine max (disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning,

    agak putih, atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). Glycine

    max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti RRC dan Jepang

    Selatan, sementara Glycine soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia

    Tenggara. Tanaman ini telah menyebar ke Jepang, Korea, Asia Tenggara dan

    Indonesia (Wikipedia).

    Kedelai dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Di

    lahan sawah, kedelai umumnya ditanam pada musim kemarau setelah pertanaman

  • 10

    padi. Sedangkan di lahan kering (tegalan) kedelai umumnya ditanam pada musim

    hujan. Langkah-langkah utama dalam budi daya kedelai ialah pemilihan benih,

    persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pascapanen.

    Berdasarkan informasi dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan

    dan Umbi-umbian Kementan (2011), kualitas benih sangat menentukan

    keberhasilan usaha tani kedelai. Pada penanaman kedelai, biji atau benih ditanam

    secara langsung, sehingga apabila kemampuan tumbuhnya rendah, jumlah

    populasi per satuan luas akan berkurang. Oleh karena itu, agar dapat memberikan

    hasil yang memuaskan, harus dipilih varietas kedelai yang sesuai dengan

    kebutuhan, mampu beradaptasi dengan kondisi lapang, dan memenuhi standar

    mutu benih yang baik. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan

    benih kedelai adalah:

    1. Pilih varietas unggul yang memenuhi sifat-sifat yang diinginkan: ukuran

    bijinya besar atau kecil, kulit bijinya kuning atau hitam, toleransinya terhadap

    hama/penyakit dan kondisi lahan.

    2. Benih murni dan bermutu tinggi merupakan syarat terpenting dalam budi

    daya kedelai. Benih harus sehat, bernas, dan daya tumbuh minimal 85 persen,

    serta bersih dari kotoran.

    3. Kebutuhan benih bergantung pada ukuran benih dan jarak tanam yang

    digunakan. Untuk benih ukuran kecilsedang (912 g/100 biji), diperlukan

    5560 kg/ha, sedang untuk benih ukuran besar (1418 g/100 biji) dibutuhkan

    6575 kg/ha.

  • 11

    Persiapan lahan penanaman kedelai di areal persawahan dapat dilakukan

    secara sederhana. Mula-mula jerami padi yang tersisa dibersihkan, kemudian

    dikumpulkan, dan dibiarkan mengering. Selanjutnya, dibuat petak-petak

    penanaman dengan lebar 3-10 m, yang panjangnya disesuaikan dengan kondisi

    lahan. Diantara petak penanaman dibuat saluran drainase selebar 25-30 cm,

    dengan kedalaman 30 cm. Setelah didiamkan selama 7-10 hari, tanah siap

    ditanami.

    Jika areal penanaman kedelai yang digunakan berupa lahan kering atau

    tegalan, sebaiknya dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Tanah dicangkul

    atau dibajak sedalam 1520 cm. Di sekeliling lahan dibuat parit selebar 40 cm

    dengan kedalaman 30 cm. Selanjutnya, dibuat petakan-petakan dengan panjang

    antara 1015 cm, lebar antara 310 cm, dan tinggi 2030 cm. Antara petakan yang

    satu dengan yang lain (kanan dan kiri) dibuat parit selebar dan sedalam 25 cm.

    Antara petakan satu dengan petakan di belakangnya dibuat parit selebar 30 cm

    dengan kedalaman 25 cm. Selanjutnya, lahan siap ditanami benih.

    Sebelum dilakukan kegiatan penanaman, terlebih dulu tanah diberi pupuk

    dasar. Pupuk yang digunakan berupa TSP sebanyak 50100 kg/ha, KCl 50100

    kg/ha, dan Urea 50-75 kg/ha. Dosis pupuk dapat pula disesuaikan dengan anjuran

    petugas penyuluh pertanian setempat. Pupuk disebar secara merata di lahan, atau

    dimasukkan ke dalam lubang di sisi kanan dan kiri lubang tanam sedalam 5 cm

    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian - Departemen Pertanian, 2008).

    Selanjutnya penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam

    memakai tugal dengan kedalaman antara 1,52 cm. Setiap lubang tanam diisi

  • 12

    sebanyak 34 biji. Penanaman ini dilakukan dengan jarak tanam 40 cm x 1015

    cm. Pada lahan subur, jarak dalam barisan dapat diperkecil menjadi 1520 cm.

    Perawatan tanaman dilakukan berkaitan dengan tiga kegiatan: pengairan,

    penyiangan, dan pengendalian hama serta penyakit tanaman. Tanaman kedelai

    sangat peka terhadap kekurangan air pada awal pertumbuhan, pada umur 1521

    hari, saat berbunga (umur 2535 hari), dan saat pengisian polong (umur 5570

    hari). Pada fase-fase tersebut tanaman harus dijaga agar tidak kekeringan.

    Penyiangan untuk menghilangkan gulma perlu dilakukan dua kali pada umur 15

    dan 45 hari. Penggunaan pestisida untuk pengendalian hama dilakukan

    berdasarkan hasil pemantauan, hanya digunakan bila populasi hama telah melebihi

    ambang kendali. Pestisida dipilih sesuai dengan hama sasaran, dan dipilih yang

    terdaftar/diijinkan.

    Panen dilakukan apabila 95 persen polong pada batang utama telah

    berwarna kuning kecoklatan. Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang

    dengan sabit. Hasil panenan ini segera dijemur beberapa hari, kemudian dikupas

    dengan thresher atau pemukul. Butir biji dipisahkan dari kotoran/sisa kulit polong,

    dan dijemur kembali hingga kadar air biji mencapai 1012 persen saat disimpan.

    Berdasarkan penilaian kelayakan usaha tani kedelai dengan cara return of

    investment (ROI) dan perbandingan biaya dengan pendapatan (benefit cost ratio,

    B/C rasio) diperoleh hasil sebagai berikut (Irwan, 2006):

    1. Return of investment (ROI), merupakan ukuran perbandingan antara

    keuntungan dengan total biaya produksi. Cara ini digunakan untuk

    mengetahui tingkat efisiensi penggunaan modal atau mengukur keuntungan

  • 13

    usaha tani dalam kaitannya dengan jumlah modal yang diinvestasikan. Nilai

    ROI untuk usaha tani kedelai sebesar 2,39. Berarti, setiap modal Rp 1 yang

    dikeluarkan untuk usaha tani kedelai akan menghasilkan keuntungan sebesar

    Rp 2,39. Dengan demikian, usaha tani kedelai tersebut dinilai efisien dalam

    penggunaan modal.

    2. Benefit cost ratio (B/C rasio), merupakan suatu ukuran perbandingan antara

    keuntungan bersih dengan total biaya produksi sehingga dapat diketahui

    kelayakan usaha taninya. Hasil perhitungan nilai B/C rasio pada usaha tani

    kedelai senilai 1,39. Artinya, setiap satuan biaya yang dikeluarkan akan

    diperoleh hasil penjualan sebesar 1,39 kali lipat. Hasil ini menunjukkan

    bahwa usaha tani kedelai layak untuk dikembangkan.

    2.1.2. Fungsi Produksi Cobb-Douglas

    Produksi adalah kegiatan perusahaan/produsen dalam memproses input

    (faktor produksi) menjadi suatu output yang dikehendaki. Dari kegiatan yang

    dilakukan produsen tersebut dapat dibangun sebuah fungsi produksi, yaitu sebuah

    model yang menggambarkan bagaimana hubungan antara input yang digunakan

    produsen dengan output yang dihasilkan berdasarkan pengetahuan teknis yang

    dimiliki produsen (Jones, 2004).

    Sebuah fungsi produksi menghubungkan input dengan output. Sukirno

    (2005) mengemukakan bahwa fungsi produksi memperlihatkan kemungkinan

    output maksimum yang bisa diproduksi dengan sejumlah input tertentu atau

    sebaliknya, kuantitas input minimum yang diperlukan untuk memproduksi suatu

  • 14

    tingkat output tertentu. Bentuk umum persamaan matematik dari fungsi produksi

    adalah:

    Y = f (X) = f (K,L,M, ...) (2.1)

    Y : output produksi

    X : faktor produksi (modal (K), tenaga kerja (L), bahan baku (M), dan lain-lain)

    Salah satu fungsi produksi yang banyak digunakan dalam penelitian adalah

    fungsi produksi Cobb-Douglas. Fungsi produksi Cobb-Douglas diperkenalkan

    pada tahun 1928 oleh C.W. Cobb dan P.H. Douglas dalam tulisannya yang

    berjudul A Theory of Production yang dimuat dalam American Economic

    Review. Secara umum fungsi Cobb-Douglas menggambarkan tingkat produksi

    atau penciptaan nilai tambah (Y) yang diakibatkan oleh pengaruh dua faktor

    produksi, yaitu input modal (X1) dan input tenaga kerja (X2). Bentuk dasar

    persamaan fungsi Cobb-Douglas adalah: = (,) = (2.2) Parameter yang merupakan ukuran kemajuan teknologi yang melekat

    pada semua faktor produksi. Untuk kasus dengan berbagai input produksi,

    persamaan fungsi Cobb-Douglas dapat ditulis menjadi: = (,,,,) = (2.3) Beberapa kelebihan atau kemudahan dari fungsi Cobb Douglas adalah

    sebagai berikut:

    1. Penyelesaian fungsi lebih sederhana dan tidak rumit karena bisa

    ditransformasikan atau diubah dalam bentuk fungsi linier (fungsi logaritma

    natural), sehingga memudahkan dalam proses analisis.

  • 15

    2. Nilai koefisien regresi yang dihasilkan menunjukkan besarnya nilai elastisitas

    produksi dari setiap faktor produksi, sehingga fungsi produksi ini dapat

    secara langsung digunakan untuk mengetahui tingkat produksi optimum

    berdasarkan pemakaian faktor produksi.

    3. Penjumlahan nilai elastisitas dari setiap faktor produksi menunjukkan skala

    hasil usaha (return to scale).

    Berdasarkan persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas, terdapat tiga situasi

    yang mungkin dalam tingkat pengembalian terhadap skala:

    1. Jika kenaikan yang proporsional dalam semua input sama dengan kenaikan

    yang proporsional dalam output (ip = 1), maka fungsi produksi tersebut

    memiliki tingkat pengembalian terhadap skala yang konstan.

    2. Jika kenaikan yang proporsional dalam output kemungkinan lebih besar

    daripada kenaikan dalam input (ip > 1), maka fungsi produksi tersebut

    memiliki tingkat pengembalian terhadap skala yang meningkat.

    3. Jika kenaikan output lebih kecil dari proporsi kenaikan input (ip < 1), maka

    fungsi produksi tersebut memiliki tingkat pengembalian terhadap skala yang

    menurun.

    2.1.3. Hukum Perluasan Produksi

    Perluasan produksi dalam jangka panjang dapat dilakukan dengan

    menambah semua faktor produksi secara bersama-sama. Menurut Tasman (2006),

    dengan asumsi tingkat teknologi yang konstan, maka akan berlaku hukum

    perluasan produksi sebagai berikut:

  • 16

    a. Skala hasil meningkat (increasing returns to scale), artinya adalah perluasan

    produksi yang dilakukan menghasilkan output produksi yang proporsinya

    lebih besar daripada penambahan faktor-faktor produksi. Jika input modal

    atau tenaga kerja ditambah secara proposional sebesar k, maka akan

    menyebabkan peningkatan output produksi yang lebih besar dari k atau (,) > (,) dengan nilai k>1. Dalam kondisi ini perluasan produksi masih bisa terus dilakukan karena kondisi perusahaan masih dalam

    skala hasil usaha yang meningkat.

    b. Skala hasil tetap (constant returns to scale), artinya adalah perluasan produksi

    yang dilakukan menghasilkan output produksi yang proporsinya sama dengan

    penambahan faktor-faktor produksi. Jika input modal maupun tenaga kerja

    ditambah secara proposional sebesar k akan menyebabkan peningkatan output

    produksi sebesar k pula atau (,) = (,). Dalam kondisi ini, perluasan produksi yang dilakukan tidak akan meningkatkan pertambahan

    jumlah output.

    c. Skala hasil menurun (decreasing returns to scale), artinya adalah perluasan

    produksi yang dilakukan menghasilkan output produksi yang proporsinya

    lebih kecil daripada penambahan faktor-faktor produksi. Penambahan input

    modal atau tenaga kerja secara proporsional sebesar k, akan menyebabkan

    peningkatan output produksi yang lebih kecil dari k atau (,)

  • 17

    2.1.4. Elastisitas Produksi dan Efisiensi

    Dari persamaan umum fungsi produksi fungsi produksi Y= f(X) =

    f(K,L,M, ...), Y melambangkan total produksi dari kombinasi faktor-faktor

    produksi X (TPx). Dengan mengasumsikan ketika satu variabel berubah maka

    variabel lainnya dianggap konstan atau tetap (ceteris paribus), tambahan produksi

    yang diperoleh akibat penggunaan tambahan satu unit faktor produksi X dikenal

    dengan istilah produk marginal X (MPx). Sedangkan rata-rata produk yang

    dihasilkan per unit faktor produksi X yang digunakan dikenal dengan istilah

    produksi rata-rata X (APx) (Nicholson, 1995).

    Secara matematis, produk marginal X dirumuskan sebagai berikut:

    MPX=Tambahan Output Y

    Tambahan Input X=hYhX

    =f'(X) (2.4)

    Secara matematis produk rata-rata X dirumuskan sebagai berikut: = = (2.5) Perubahan jumlah output produksi yang disebabkan oleh perubahan

    penggunaan faktor produksi atau input dapat dinyatakan dengan elastisitas

    produksi ( , ). Elastisitas produksi dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: , = = .. = (2.6)

    Bentuk kurva TPx (Total Produksi), kurva MPx (Produk Marjinal) dan

    kurva APx (Produk Rata-rata), dimana X menyatakan salah satu faktor produksi

    dengan asumsi faktor produksi lain ceteris paribus adalah seperti seperti pada

    gambar berikut:

  • 18

    Sumber: Nicholson (1995)

    Gambar 2.1. Kurva TPx (Total Produksi), kurva MPx (Produk Marjinal) dan kurva

    APx (Produk Rata-rata)

    Hubungan antara kurva TPX dan MPX seperti pada gambar 2.1 adalah MPX

    akan bernilai nol pada saat TPX berada pada titik maksimum. Ketika kurva TPX

    mulai menurun setelah melalui titik maksimum, maka MPX akan bernilai negatif.

    Pada saat kurva TPX mengalami kenaikan, maka kurva MPX mengalami

    penurunan. Pada saat nilai MPX positif, maka kurva TPX tidak akan mengalami

    penurunan. Kesimpulannya adalah penambahan input pada saat slope TPX negatif

    (nilai MPX < 0) tidak akan meningkatkan jumlah output.

    Sedangkan hubungan kurva MPX dan APX seperti dalam Gambar 2.1

    adalah APX akan mencapai titik maksimal ketika nilai APX sama dengan nilai

    MPX, artinya nilai elastisitas produksinya sama dengan satu (, = 1). Ketika nilai MPX < nilai APX, maka kurva APX akan memiliki slope negatif, sehingga

    nilai elastisitas produksinya kurang dari satu (, < 1 atau 0< ,< 1). Pada saat

    TPX

    MPX

    APX

    Input Faktor Produksi

    Jumlah per

    periode (Y)

    X* X** X***

    Daerah I

    Daerah II

    Daerah III

  • 19

    nilai MPX > nilai APX, maka kurva APX akan memiliki slope positif, sehingga

    nilai elastisitas produksi lebih dari satu (, > 1). Berdasarkan nilai elastisitas produksinya, hubungan antara ketiga kurva

    tersebut menghasikan tiga daerah produksi. Daerah I, yakni pada saat nilai MP

    lebih besar dari nilai AP sehingga nilai elastisitasnya lebih besar dari satu (, > 1). Daerah ini merupakan daerah yang tidak rasional (Irrational Region) bagi

    perusahaan untuk berhenti berproduksi karena belum mencapai keuntungan

    maksimum. Perusahaan masih bisa meningkatkan output produksi dengan

    menambahkan input lebih banyak lagi sehingga keuntungan maksimum bisa

    tercapai (Nicholson,1995).

    Daerah II terjadi pada saat kurva MPX dan kurva APX menurun atau

    mempunyai slope negatif, sehinga nilai elastisitas berkisar antara nol sampai

    dengan satu (0 < , < 1). Daerah II merupakan daerah yang rasional bagi perusahaan untuk terus berproduksi atau menggunakan faktor produksi secara

    optimal. Pada daerah ini terjadi hukum pengembalian yang semakin berkurang

    (the law of diminishing returns) yakni penurunan jumlah pertambahan output

    akibat peningkatan jumlah input yang digunakan atau nilai Y yang semakin

    kecil.

    Daerah III juga merupakan daerah yang tidak rasional bagi perusahaan

    untuk berproduksi karena penambahan input justru akan menurunkan jumlah

    output yang dihasilkan. Daerah III terjadi pada saat MPX bernilai negatif dan nilai

    APX menurun atau pada saat nilai elastisitasnya kurang dari nol (, < 0).

  • 20

    Jaya (1993) menyatakan bahwa secara sederhana pengertian efisiensi adalah

    menghasilkan suatu nilai output yang maksimum dengan sejumlah output tertentu.

    Efisiensi dapat dilihat dari segi kuantitas fisik (teknik) maupun nilai (harga).

    Efisiensi ekonomi merupakan produk dari efisiensi teknik dan efisiensi harga.

    Artinya efisiensi ekonomi akan tercapai jika efiensi teknik dan harga tercapai

    (Yotopoulos dalam Juwandi, 2003)

    Yotopoulos dalam Juwandi (2003), mengemukakan bahwa efisiensi

    ekonomi akan tercapai jika terpenuhi dua kondisi:

    1. Necessary condition atau syarat perlu yang berkaitan dengan efisiensi teknik.

    Untuk mencapai efisiensi teknik, hubungan fisik antara input dan output

    ditunjukkan dengan elastisitas produksi antara 0 dengan 1. Dengan kata lain

    efisiensi teknik tercapai jika proses produksi berada dalam daerah produksi II.

    2. Sufficient condition atau syarat cukup yang berkaitan dengan tujuan mencapai

    keuntungan maksimum. Keuntungan maksimum tercapai dengan syarat nilai

    produk marginal sama dengan biaya marginal.

    2.1.5. Analisis Regresi

    Analisis regresi linier berganda adalah suatu metode analisis yang

    digunakan untuk mengetahui hubungan antara berbagai variabel, yaitu satu

    variabel tidak bebas (dependent variable) dengan beberapa variabel bebas yang

    menjelaskan (independent variables). Bentuk matematis model regresi linier

    berganda dengan k variabel, yang terdiri dari satu variabel tidak bebas Y dan k-1

    variabel bebas X1, X2,.., Xk-1 serta jumlah pengamatan observasi sebanyak i

    (i=1,2,3,...,n) dapat ditulis dalam bentuk sebagai berikut (Gujarati, 2004):

  • 21

    = + + + + ()() + (2.7) Ada empat asumsi yang harus dipenuhi untuk membentuk sebuah model

    persamaan regresi linier berganda, yaitu:

    1. Asumsi Normalitas atau ),0(~ 2 Ni

    Maksudnya adalah setiap sisaan (i, i=1,2,3,..,n) distribusikan secara normal

    dengan rata-rata nol dan varians sama dengan 2.

    2. Asumsi Autokorelasi

    Autokorelasi mengandung arti ada korelasi atau hubungan yang berurutan

    antara sisaan dari suatu observasi dengan sisaan observasi yang lain. Jika

    tidak ada hubungan yang berurutan antarsisaan dikatakan tidak ada

    autokorelasi.

    3. Asumsi Heteroskedastisitas

    Secara teknis homoskedastisitas atau penyebaran sama adalah asumsi yang

    menyatakan bahwa sisaan dari observasi memiliki varians yang sama.

    Maksudnya adalah varian dari kesalahan pengganggu merupakan suatu

    konstanta positif yang sama dengan 2. Jika (|) maka dapat disimpulkan terjadi heteroskedastisitas antar sisaan dalam model.

    4. Asumsi Multikolinearitas

    Artinya adalah tidak terdapat hubungan linier yang pasti antara variabel-

    variabel bebas yang menjelaskan.

    Nilai koefisien dari persamaan regresi (i) dapat diketahui menggunakan

    metode kuadrat terkecil. Metode kuadrat terkecil akan menghasilkan estimator

    yang mempunyai sifat linier, tidak bias dan mempunyai varian yang minimum

  • 22

    atau biasa disebut Best Linier Unbiased Estimator (BLUE) jika memenuhi

    keempat asumsi tersebut.

    2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu

    Ada beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik faktor

    produksi tanaman kedelai. Selain perbedaan lokasi dan periode waktu penelitian,

    perbedaan penelitian ini dengan beberapa penelitian sebelumnya adalah terkait

    variabel penggunaan pupuk yang dalam penelitian ini dipecah menjadi tiga

    variabel yaitu urea, TSP/SP36, dan KCl.

    Okabe, et al. (1984), dalam studinya mengenai sosial ekonomi sistem

    komoditas kedelai di Indonesia di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan

    Lampung menunjukkan bahwa tingkat pemakaian benih beragam, dan sering lebih

    tinggi daripada yang dianjurkan. Pemakaian benih yang banyak itu disebabkan

    oleh usaha petani untuk mengimbangi daya perkecambahan yang sering rendah

    dan pertumbuhan tanaman yang lambat. Fungsi-fungsi produksi menunjukkan

    bahwa tidak ada perbaikan yang akan diperoleh melalui peningkatan pemakaian

    pupuk. Pemakaian pupuk tampaknya telah melampaui tingkat yang wajar.

    Pestisida merupakan masukan yang dapat berdampak nyata pada produktivitas

    kedelai. Akan tetapi pengalaman membuktikan, pemakaian yang sembarangan

    dapat menurunkan produksi. Para petani tampaknya kurang/belum tahu tentang

    hama-hama penting dan cara pengendaliannya.

    Al-Mudatsir (2009) melakukan analisis faktor-faktor yang memengaruhi

    respon penawaran kacang kedelai di Indonesia. Dalam penelitiannya respon

    penawaran kacang kedelai diduga secara tidak langsung melalui persamaan respon

  • 23

    areal dan respon produktivitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui

    faktor-faktor yang memengaruhi luas areal panen yaitu harga kacang kedelai,

    harga jagung, harga kacang tanah, luas areal teririgasi, dan luas areal panen tahun

    sebelumnya. Faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas yaitu harga pupuk,

    upah buruh dan produktivitas tahun sebelumnya.

    Irdhoni (2010) melakukan analisis keunggulan kompetitif usaha tani

    kedelai. Penelitiannya difokuskan di Desa Wonokalang, Kecamatan Wonoayu,

    Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitiannya, faktor

    produksi yang mempengaruhi produksi kedelai yaitu luas lahan, benih, pupuk

    kimia, pupuk organik, insektisida dan tenaga kerja semuanya berpengaruh positif.

    Usaha tani kedelai di Desa Wonokalang, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten

    Sidoarjo mempunyai keunggulan kompetitif dengan nilai koefisien 0,584.

    Penelitian Khai dan Yabe (2011) tentang pengukuran efisiensi teknis pada

    produksi padi di Vietnam dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas

    menunjukkan bahwa benih, pestisida, pupuk, mesin pertanian, buruh tani, pekerja

    keluarga, luas lahan, perlengkapan kerja, dan pengeluaran lainnya memberikan

    pengaruh terhadap produksi padi dengan efisiensi teknis 81,6 persen. Selanjutnya

    dengan fungsi Tobin diketahui bahwa faktor-faktor penting yang mempengaruhi

    efisiensi teknis adalah intensitas tenaga kerja, pengairan, dan pendidikan petani.

    Matakena, Syamun, dan Ghany (2011), melakukan penelitian yang

    bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi dan kemitraan

    terhadap produksi usaha tani kedelai di Distrik Makimi Kabupaten Nabire. Dalam

    studi ini digunakan bantuan fungsi produksi Cobb-Douglas dan NPM. Hasil

  • 24

    penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan (simultan) variabel yang

    diamati berpengaruh nyata terhadap produksi, namun secara parsial lahan, tenaga

    kerja dan pupuk berpengaruh nyata, sedangkan benih, pestisida dan kemitraan

    tidak berpengaruh terhadap produksi usaha tani kedelai.

    2.3. Kerangka Pemikiran

    kebutuhan kedelai dalam negeri cenderung meningkat pada lima tahun

    terakhir, dan produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memenuhi 29-42

    persen dari kebutuhan tersebut. Saat ini lebih dari 50 persen kebutuhan kedelai

    nasional diperoleh dari hasil impor, suatu kondisi yang dapat mengancam

    kedaulatan pangan Indonesia jika suatu saat negara pengekspor kedelai

    menghentikan ekspornya.

    Untuk mengatasi permasalahan di atas, pemerintah Indonesia melalui

    Kementan telah menargetkan Indonesia untuk berswasembada kedelai pada tahun

    2014 dengan produksi sebesar 2,70 juta ton. Dalam rencana strategis Kementan

    dicantumkan bahwa target produksi tersebut diharapkan tercapai dengan adanya

    kenaikan produksi secara bertahap dari tahun ke tahun mulai tahun 2005 sampai

    dengan tahun 2014. Pada tahun 2010, sasaran produksi kedelai di Pulau Jawa

    adalah sebesar 780.900 ton.

    Dalam realisasi di lapangan, catatan BPS menunjukkan produksi kedelai di

    Pulau Jawa pada tahun 2010 adalah sebesar 633.212 ton. Sehingga bisa

    disimpulkan angka sasaran produksi kedelai yang telah ditetapkan oleh Kementan

    tidak tercapai. Dengan terjadinya hal ini maka upaya-upaya peningkatan produksi

    kedelai harus dilakukan dengan lebih baik lagi.

  • 25

    Gambar 2.2. Alur kerangka pemikiran

    Produksi kedelai, seperti produksi-produksi lainnya dalam ilmu ekonomi,

    merupakan suatu fungsi dari input-input produksinya. Sehingga untuk

    meningkatkan produksi kedelai, terlebih dahulu perlu diketahui faktor produksi

    apa saja yang berpengaruh terhadap produksi kedelai. Selanjutnya dengan

    melakukan analisis terhadap fungsi produksi kedelai dapat diperoleh informasi

    tentang elastisitas produksi dari setiap faktor produksi. Nilai elastisitas produksi

    Impor kedelai > Produksi

    nasional

    Kebutuhan

    kedelai terus

    meningkat

    Peningkatan produksi kedelai

    menuju swasembada 2014

    Sasaran produksi kedelai setiap tahun

    Evaluasi s/d 2010:

    Sasaran produksi tidak

    tercapai

    Implikasi kebijakan

    Realisasi

    produksi kedelai

    Identifikasi faktor

    produksi kedelai

    Analisis fungsi

    produksi kedelai:

    Peranan setiap faktor

    terhadap produksi

  • 26

    tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan yang

    ditujukan untuk meningkatkan produksi kedelai.