Click here to load reader

BAB I.docx

  • View
    219

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB I.docx

INTENSIVE CARE UNIT (ICU)

Oleh :ADVAN DOVA KAROSEKALI 210210145

Pembimbingdr. Henri Jones Damanik, SpAn

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA2015

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah anestesi ini yang berjudul Intensive Care Unit (ICU) yang disusun untuk melengkapi Tugas Kepanitraan Klinik Senior (KKS) Ilmu Anestesi pada Rumah Sakit Umum Daerah dr.Djasamen Saragih Pematang Siantar.Pada kesempatan ini penulis ingin meyampaikan terima kasih kepada dr. Henri Jones Damanik, Sp.An atas bimbingan dan arahannya sehingga paper ini dapat terselesaikan dengan baik.Penulis menerima segala kritikan dan saran yang bersifat membangun yang akhirnya dapat meningkatkan manfaat yang diperoleh dari paper ini.Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita.

Pematangsiantar, Januari 2015Penyusun

Advan Dova Karosekali

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iDAFTAR ISI iiBAB I PENDAHULUAN 1BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2A. Definisi dan Tujuan ICU 2B. Pembagian ICU 2C. Standar Minimum Pelayanan ICU 3D. Klasifikasi atau stratifikasi pelayanan ICU 3E. Kriteria Pasien Masuk dan Keluar 5F. Sarana Dan Prasarana ICU 8BAB III KESIMPULAN 11DAFTAR PUSTAKA 12

ii

BAB IPENDAHULUAN

Sebagaimana yang diketahui bahwa Intensive Care Unit (ICU) merupakan ruang perawatan dengan tingkat resiko kematian pasien yang tinggi. Tindakan keperawatan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan pasien. Pengambilan keputusan yang cepat ditunjang data yang merupakan hasil observasi dan monitoring yang kontinu oleh perawat. Tingkat kesibukan dan standar perawatan yang tinggi membutuhkan manajemen ICU dan peralatan teknologi tinggi yang menunjang.Secara umum, Manajemen itu memiliki ciri-ciri : adanya tujuan yang ingin dicapai, adanya sumber daya, upaya penggerakan sumber daya, adanya orang yang menggerakan sumber daya (manajer), adanya proses perencanaan pengorganisasian penggerakan pelaksanaan pengarahan dan pengendalian. Begitu pun manajemen yang ada di rumah sakit terutama di ruang ICU, kita sebagai seorang dokter umum juga harus betul-betul memahami seperti apa tugas-tugas dan tanggung jawab masing-masing pelaksana kesehatan, mengetahui seperti apa layaknya ruang ICU dan masih banyak lainnya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi dan Tujuan ICUICU (Intensive Care Unit) adalah ruang rawat di rumah sakit yang dilengkapi dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat dan mengobati pasien dengan perubahan fisiologi yang cepat memburuk yang mempunyai intensitas defek fisiologi satu organ ataupun mempengaruhi organ lainnya sehingga merupakan keadaan kritis yang dapat menyebabkan kematian. Tiap pasien kritis erat kaitannya dengan perawatan intensif oleh karena memerlukan pencatatan medis yang berkesinambungan dan monitoring serta dengan cepat dapat dipantau perubahan fisiologis yang terjadi atau akibat dari penurunan fungsi organ-organ tubuh lainnya. Tujuan perawatan pasien di ICU yaitu untuk memberikan perawatan yang intensif untuk menyelamatkan kehidupan pasien, mencegah perburukan dan komplikasi dengan cara observasi dan monitoring, meningkatkan kualitas hidup dan mempertahankan kehidupan pasien, mengoptimalkan fungsi organ, mengurangi angka kematian dan mempercepat proses penyembuhan pasien.

B. Pembagian ICUa. ICU KhususAdapun contohnya yaitu : 1) ICCU (Intensive Coronary Care Unit) yaitu ruang untuk pasien yang dirawat dengan gangguan pembuluh darah Coroner.2) Respiratory Unit yaitu ruang untuk pasien yang dirawat mengalami gangguan pernafasan.3) Renal Unit yaitu ruang untuk pasien yag dirawat dengan gangguan gagal ginjal.4) Pediatric ICU (PICU)b. ICU UmumDimana pasien dirawat dengan sakit payah akut di semua bagian RS. Menurut umur, ICU anak & neonatus dipisahkan dengan ICU dewasa.

C. Standar Minimum Pelayanan ICUPelayanan ICU harus memiliki kemampuan minimal sebagai berikut :a. Resusitasi jantung parub. Pengelolaan jalan napas, termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator sederhanac. Terapi oksigend. Pemantauan EKG, pulse oksimetri terus meneruse. Pemberian nutrisi enteral dan parenteralf. Pemeriksaaan laboratorium khusus dengan cepat dan menyeluruhg. Pelaksanaan terapi secara titrasih. Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai dengan kondisi pasieni. Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat-alat portabel selama transportasi pasienj. Kemampuan melakukan fisioterapi dada

D. Klasifikasi atau stratifikasi pelayanan ICU1. Pelayanan ICU primer (standar minimal)Pelayanan ICU primer mampu memberikan pengelolan resusitatif segera untuk pasien sakit gawat, tunjangan kardio-respirasi jangka pendek, dan mempunyai peran penting dalam pemantauan dan pencegahan penyulit pada pasien medik dan bedah yang beresiko. Dalam ICU dilakukan ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa jam.Kekhususan yang harus dimiliki :a. Ruangan tersendiri ; letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat dan ruangan perawatan lain.b. Memiliki kebijaksanaan/kriteria penderita yang masuk, keluar serta rujukan.c. Memiliki seorang dokter spesialis anestesiologi sebagai kepala.d. Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan melakukan resusitasi jantung paru (A, B, C, D, E, F).e. Konsulen yang membantu harus selalu dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat.f. Memiliki jumlah perawat yang cukup dan sebagian besar terlatih.g. Mampu dengan cepat melayani pemeriksaan laboratorium tertentu (Hb. Hematokrit, elektrolit, gula darah dan trombosit), roentgen, kemudahan diagnostik dan fisioterapi.2. Pelayanan ICU sekunderPelayanan ICU sekunder memberikan standar ICU umum yang tinggi, yang mendukung peran rumah sakit yang lain yang telah digariskan, misalnya kedokteran umum, bedah, pengelolaan trauma, bedah saraf, bedah vaskuler dan lain-lainnya. ICU hendaknya mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis lebih lama melakukan dukungan/bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks.Kekhususan yang harus dimiliki :a. Ruangan tersendiri ; letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat dan ruangan perawatan.b. Memiliki ketentuan / kriteria penderita yang masuk, keluar serta rujukan.c. Memiliki konsultan yang dapat dihubungi dan datang setiap saat bila diperlukan.d. Memiliki seorang kepala ICU, seorang dokter konsultan intensive care, atau bila tidak tersedia oleh dokter spesialis anestesiologi , yang bertanggung jawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu melakukan resusitasi jantung paru (bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut).e. Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien : perawat sama dengan 1:1 untuk pasien dengan ventilator, renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus-kasus lainnya.f. Memiliki lebih dari 50% perawat bersertifikat terlatih perawatan / terapi intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 (tiga) tahun di ICU.g. Mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pemantauan invasif dan usaha-usaha penunjang hidup.h. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium, roentgen, kemudahan diagnostik dan fisioterapi selama 24 (dua puluh empat) jam.i. Memiliki ruangan isolasi atau mampu melakukan prosedur isolasi.3. Pelayanan ICU tersier (tertinggi)Pelayanan ICU tersier merupakan rujukan tertinggi untuk ICU, memberikan pelayanan yang tertinggi termasuk dukungan / bantuan hidup multi-sistim yang kompleks dalam jangka waktu yang terbatas. ICU ini melakukan ventilasi mekanis pelayanan dukungan / bantuan renal ekstrakorporal dan pemantuan kardiovaskuler invasif dalam jangka waktu yang terbatas dan mempunyai dukungan pelayanan penunjang medik. Semua pasien yang masuk ke dalam unit harus dirujuk untuk dikelola oleh spesialis intensive care.Kekhususan yang harus dimiliki :a. Memiliki ruangan khusus tersendiri didalam rumah sakit.b. Memiliki kriteria penderita masuk, keluar dan rujukan.c. Memiliki dokter sepesialis yang dibutuhkan dan dapat dihubungi, datang setiap saat diperlukan.d. Dikelola oleh seorang ahli anestesiologi konsultan intensive care atau dokter ahli konsultan intensive care yang lain yang bertanggung jawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu resusitasi jantung paru (bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut).e. Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien : perawat sama dengan 1: 1 untuk pasien dengan ventilator, renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus-kasus lainnya.f. Memiliki lebih dari 75% perawat bersertifikat terlatih perawatan / terapi intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 (tiga) tahun di ICU.g. Mampu melakukan semua bentuk pemantauan dan perawatan / terapi intensif baik non-invasif maupun invasif.h. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium, roentgen, kemudahan diagnostik dan fisioterapi selama 24 (dua puluh empat) jam.i. Memiliki paling sedikit seorang yang mampu dalam mendidik tenaga medik dan paramedik agar dapat memberikan pelayanan yang optimal pada pasien.j. Memiliki prosedur untuk pelaporan resmi dan pengkajian. (sampai disini).k. Memiliki staf tambahan yang lain, misalnya tenaga administrasi, tenaga rekam medik, tenaga untuk kepentingan ilmiah dan penelitian.

E. Kriteria Pasien Masuk dan Keluar1. Kriteria MasukICU memberikan pelayanan antara lain pemantauan yang canggih dan terapi yang intensif. Dalam keadaan penggunaan tempat tidur yang tinggi, pasien yang memerlukan terapi intensif (prioritas satu-1) didahulukan rawat ICU dibandingkan pasien yang memerlukan pemantauan intensif (prioritas dua-2) dan pasien sakit kritis atau terminal dengan prognosis yang jelek untuk sembuh (prioritas tiga-3). Penilaian obyektif atas beratnya penyakit dan prognosis hendaknya digunakan untuk menentukan prioritas masuk pasien.a. Pasien prioritas 1 (satu)Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti dukungan / bantuan ventilasi, infus obat-obat vasoaktif kontinyu, dan lain-lainnya. Contoh pasien kelompok ini antara lain, pasca bedah kardiotoraksik, atau pasien shock septic. Mungkin ada baiknya beberapa institusi membuat kriteria spesifik untuk masuk ICU, seperti derajat hipoksemia, hipotensi dibawah tekanan darah tertentu. Pasien prioritas 1 (satu) umumnya tidak mempunyai batas ditinjau dari macam terapi yang diterimanya.b. Pasien prioritas 2 (dua)Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih dari ICU. Jenis pasien ini beresiko sehingga memerlukan terapi intensif segera, karenanya pemantauan intensif menggunakan metoda seperti pulmonary arterial catheter sangat menolong. Contoh jenis pasien ini antara lain mereka yang menderita penyakit dasar jantung, paru, atau ginjal akut dan berat atau yang telah mengalami pembedahan major. Pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya, mengingat kondisi mediknya senantiasa berubah.c. Pasien prioritas 3 (tiga)Pasien jenis ini sakit kritis, dan tidak stabil dimana status kesehatannya sebelumnya, penyakit yang mendasarinya, atau penyakit akutnya, baik masing-masing atau kombinasinya, sangat mengurangi kemungkinan kesembuhan dan/atau mendapat manfaat dari terapi di ICU. Contoh-contoh pasien ini antara lain pasien dengan keganasan metastatik disertai penyulit infeksi, pericardial, temponade, atau sumbatan jalan napas, atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat. Pasien-pasien prioritas 3 (tiga) mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut, tetapi usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi kardiopulmoner.

PengecualianJenis pasien berikut umumnya tidak mempunyai kriteria yang sesuai untuk masuk ICU, dan hanya dapat masuk dengan pertimbangan seperti pada keadaan luar biasa, atas persetujuan Kepala ICU. Lagi pula pasien-pasien tersebut bila perlu harus dikeluarkan dari ICU agar fasilitas yang terbatas tersebut dapat digunakan untuk pasien prioritas 1, 2, 3 (satu, dua, tiga).1) Pasien yang telah dipastikan mengalami brain death. Pasien-pasien seperti itu dapat dimasukkan ke ICU bila mereka potensial donor organ, tetapi hanya untuk tujuan menunjang fungsi-fungsi organ sementara menunggu donasi organ.2) Pasien-pasien yang kompeten tetapi menolak terapi tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi perawatan yang aman saja. Ini tidak menyingkirkan pasien dengan perintah DNR. Sesungguhnya pasien-pasien ini mungkin mendapat manfaat dari tunjangan canggih yang tersedia di ICU untuk meningkatkan kemungkinan survival-nya.3) Pasien dalam keadaan vegetatif permanen.4) Pasien yang secara fisiologis stabil yang secara statistik resikonya rendah untuk memerlukan terapi ICU. Contoh-contoh pasien kelompok ini antara lain, pasien pasca bedah vaskuler yang stabil, pasien diabetic ketoacidosis tanpa komplikasi, keracunan obat tetapi sadar, concusion, atau payah jantung kongestif ringan. Pasien-pasien semacam ini lebih disukai dimasukkan ke suatu unit intermediet untuk terapi definitif dan /atau observasi.

2. Kriteria keluara. Pasien prioritas 1 (satu)Pasien prioritas 1 (satu) dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak ada lagi, atau bila terapi telah gagal dan prognosis jangka pendek jelek dengan kemungkinan kesembuhan atau manfaat dari terapi intensif kontinyu kecil. Contoh-contoh hal terakhir adalah pasien dengan tiga atau lebih gagal sistim organ yang tidak berespons terhadap pengelolaan agresif.b. Pasien prioritas 2 (dua)Pasien prioritas 2 (dua) dikeluarkan bila kemungkinan untuk mendadak memerlukan terapi intensif telah berkurang.c. Pasien prioritas 3 (tiga)Pasien prioritas 3 (tiga) dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak ada lagi, tetapi mereka mungkin dikeluarkan lebih dini bila kemungkinan kesembuhannya atau manfaat dari terapi intensif kontinyu kecil. Contoh dari hal terakhir antara lain adalah pasien dengan penyakit lanjut (penyakit paru kronis, penyakit jantung atau liver terminal, karsinoma yang telah menyebar luas, dan lain-lainnya yang telah tidak berespons terhadap terapi ICU untuk penyakit akutnya, yang prognosis jangka pendeknya secara statistik rendah, dan yang tidak ada terapi yang potensial untuk memperbaiki prognosisnya.Dengan mempertimbangkan perawatannya tetap berlanjut dan sering merupakan perawatan khusus setara pasien ICU, pengaturan untuk perawatan non-ICU yang sesuai harus dilakukan sebelum pengeluaran dari ICU.

F. Sarana Dan Prasarana ICU1. LokasiDianjurkan satu komplek dengan kamar bedah dan kamar pulih sadar dan berdekatan atau mempunyai akses yang mudah ke unit gawat darurat,laboratorium dan radiologi.2. DesainStandart ICU yang memadai ditentukan desain yang baik dan pengaturan ruang yang adekuat. Adapun bangunan ICU Sebaiknya terisolasi dan mempunyai standart tertentu terhadap Bahaya Api, Ventilasi, AC, Pipa air, Komunikasi, Bakteorologis, Exhausts fan, Kabel monitor, dan Lantai mudah dibersihkan ,keras dan rata.3. Area pasiena) Unit terbuka 12-16 M2/pertempat tidurb) Unit tertutup 16 20 m2 pertempat tidurc) Jarak antara TT : 2 md) Unit terbuka mempunyai 1 tempat cuci tangan, setiap 2 TTe) Unit tertutup 1 ruangan terdiri 1 tempat tidur dan 1 tempat cuci tangan.f) Harus ada sejumlah outlet yang cukup sesuai dengan level ICUg) Pencahayaan cukup dan adekuat untuk observasi khusus dengan lampu TL 10 watt / m2. Jendela dan akses tempat tidur menjamin kenyamanan pasien dan petugas, desain dari unit memperhatikan privasi pasien.

4. Area Kerja meliputi :a) Ruang yang cukup untuk staf dan menjaga kontak visual perawat dengan pasien.b) Ruang yang cukup untuk memonitor pasien peralatan resusitasi dan penyimpanan obat dan alat (lemari pendingin)c) Ruang yang cukup untuk X-Ray mobil dan mempunyai tekanan negatif.d) Ruang untuk telpon dan sistem komunikasi lain seperti komputer, koleksi data, alat untuk penyimpanan alat tulis.5. LingkunganMempunyai pendingin / AC yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban sesuai dengan luas ruangan . Suhu 220 250.6. Ruang IsolasiDilengkapi dengan tempat cuci tangan dan tempat ganti pakaian sendiri.7. Ruang Penyimpanan Peralatan dan Barang Bersih.Untuk penyimpanan monitor, ventilator, pompa infus dan pompa syringe, peralatan dialisi, alat-alat hisap, linen dan tempat penyimpanan barang dan alat bersih.8. Ruang Tempat Pembuangan Alat atau Bahan Kotor.a) Ruang untuk membersihkan alat-alat, pemeriksaan urine, pengosongan dan pembersihan pispot dan botol urine.b) Desain untuk menjamin tidak ada kontaminasi9. Ruang PerawatTerdapat ruang terpisah yang dapat digunakan oleh perawat yang bertugas dan kepala ruangan.10. Ruang Staf Dokter.11. Ruang Tunggu Keluarga Pasien.12. Laboratorium yang terpusat.

PERALATAN YANG HARUS TERSEDIA1. Jumlah dan macam peralatan yang ada, sesuai dengan tipe ICU sekunder.2. Terdapat prosedur pemeriksaan berkala untuk keamanan alat yaitu ada program kalibrasi dan pemeliharaan alat, ada buku pemakaian alat serta pemeliharaan alat, ada protap-protap pemakaian kalibrasi dan pemeliharaan alat-alat.3. Untuk di ICU sendiri sekarang terdapat peralatan dasar, yang meliputi :a) Ventilator.b) Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan nafas seperti : Alat hisap atau suction. Peralatan akses vaskuler. Peralatan monitor unvasif dan non invasif Defibrilator dan alat pacu jantung Alat pengatur suhu pasien. Peralatan drain thorak. Pompa infus dan pompa syringe Peralatan portable untuk transportasi. Tempat tidur khusus Lampu untuk tindakan. Ruang Hemodialisa juga tersedia untuk mendukung fungs ICU4. Monitoring Peralatan.Hal-hal yang sangat vital sangat ditekankan pada pemantauannya termasuk peralatan yang digunakan untuk transportasi pasien yaitu : Mengerti dan tahu tentang tanda bahaya kegagalan pasokan gas Mengerti trentang kegagalan pasokan oksigen ,maka alat yang secara otomatis teraktifasi untuk memonitor penurunan tekanan pasokan oksigen yang selalu terpasang di ventilator Pemantauan konsentrasi oksigen :Semua petugas diruang ICU diharapkan mengetahui tentang bahaya kegagalan ventilator atau diskonsentrasi sistem pernafasan.Pada pengguna ventilator otomatis,harus ada alat yang didapat segera mendeteksi kegagalan sistem pernafasan atau ventilator secara terus menerus Volume dan tekanan ventilator terpantau secara akurat dan berkesinambungan. Harus memantau suhu alat pelembab (humidifier) apabila terjadi peningkatan suhu udara inspirasi. Terpasang alat elektro kardiograf pada setiap pasien dan dapat dipantau terus menerus Harus tersedia pulse oksimetri pada setiap pasien ICU Apabila ICU memungkinkan apabila ada indikasi klinis harus tersedia peralatan untuk mengukur variabel visiologis lain seperti tekanan intra arterial dan tekanan pulmunalis, curah jantung, tekanan intra karnial, suhu, transmisi neuromuskular,kadar CO2 respirasi.BAB IIIKESIMPULAN

Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial reversibel, memberikan asuhan pada pasien yang memerlukan Observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan diruang perawatan umumRuangan ICU adalah suatu unit di RS yang dibandingkan dengan ruagan lain, banyak perbedaan ,tingkat pelayanannya. Tingkat pelayanan ini ditentukan oleh jumlah staf, fasilitas, pelayanan penunjang ,jumlah dan macam pasien yang dirawat, untuk itu harus ditunjang oleh tenaga yang memenuhi kualifikasi standart ICU.

DAFTAR PUSTAKA

Mustafa iqbal, dkk. Standar pelayanan ICU. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik. Jakarta. 2003Critical Care. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/criticalcare.html (accessed 01 July 2014)

Siahaan, Oloan. Resusitasi Jantung Paru dan Intensive Care Unit.Medan.2012

Latief, Said.Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi II.Jakarta.2001

1