BAB I PENDAHULUAN - etd. Perang Dunia II, seperti korupsi, ketidakadilan terhadap hak-hak perempuan,

  • View
    220

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of BAB I PENDAHULUAN - etd. Perang Dunia II, seperti korupsi, ketidakadilan terhadap hak-hak perempuan,

1

BAB I

PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra Arab adalah ungkapan tentang pengalaman perasaan dalam

bentuk inspirasi (Qut}b, 1990:9). Menurut Sainte Beuve (via asy-Sya>yib, 1994:17)

karya sastra Arab juga merupakan al-kala>mu ad-daqi>qu al-jami>lu allaz|i yuabbiru

an al-h}aqa>>>iqi al-adabiyyati wa al-awa>t}ifi al-insa>niyyati ungkapan indah dan

mendalam yang mengungkapkan hakikat sastrawi dan emosi kemanusiaan. Karya

sastra Arab bukan saja tentang keindahan dan seni yang mengeksploitasi bahasa

sebagai medianya, tetapi juga mengandung aspek estetika makna, baik dalam arti

imajinasi, rasa, dan pikiran (Kamil, 2009:6).

Dalam karya sastra Arab dikenal tiga genre, yaitu asy-syiru puisi, an-

nas|ru prosa, dan al-masrah}iyyatu drama (Kamil, 2009:7). Di antara ketiga

genre tersebut, puisi dianggap paling tinggi nilai sastranya. Puisi di kalangan

bangsa Arab juga lebih disukai dibanding dengan karya sastra lainnya. Hal ini

dikarenakan puisi merupakan suatu bentuk gubahan yang dihasilkan dari

kehalusan perasaan dan keindahan imajinasi (al-Muhdar, 1983:28).

Puisi di dalam kesusastraan Arab disebut asy-syiru, yang kemunculannya

dimulai sejak zaman jahiliyah, yaitu sekitar abad ke-2, sebelum munculnya Islam

(al-Muhdar, 1983:25). Pada waktu itu, puisi memiliki kedudukan yang agung,

kuat, dan banyak memberikan pengaruh di bangsa Arab. Kemudian puisi

berkembang pada masa setelahnya, yaitu masa permulaan Islam sampai masa

2

kebangkitan hingga muncul istilah modern sampai sekarang ini (Ha>syimi>,

1967:12-13).

Puisi Arab pada masa modern ditandai dengan tema nasionalisme, politik,

konflik, dan perlawanan. Sebagaimana diungkapkan oleh al-Muhdar (1983:25)

bahwa puisi Arab modern sangat erat kaitannya dengan keadaan politik, sosial,

dan agama, ditambah dengan adanya rasa nasionalisme bangsa Arab yang tinggi.

Atas dasar penjelasan di atas, maka para penyair Arab mempunyai rasa kepekaan

yang tinggi dan jiwa yang kritis terhadap kejadian yang baru-baru ini terjadi. Hal

tersebut sebagaimana yang dikemukakan oleh Sutiasumarga (2000:113) bahwa di

era modern ini, para sastrawan Arab lebih terbuka terhadap pengaruh-pengaruh

eksternal dan karya-karyanya pun lebih kaya, baik dari segi kualitas maupun

kuantitas.

Ketika disebut puisi Arab modern, maka yang paling banyak berkembang

adalah puisi-puisi Arab dari Mesir. Sementara itu, puisi Arab meliputi 23 negara

yang memiliki karakteristik masing-masing. Meskipun sampai saat ini seringkali

tidak dibedakan berdasarkan kewilayahannya, tetapi banyak puisi Arab yang

ditulis oleh para sastrawan dari negara lain. Salah satunya adalah puisi Arab

modern yang ditulis oleh sastrawan terkenal dari Yaman.

Adapun salah satu sastrawan termasyhur di Yaman adalah Abdulla>h al-

Baraddu>ni>. Ia merupakan penyair yang mengikuti aliran al-muqallidun dan al-

mujaddidun. Ia memakai pola lama dan terdapat pembaharuan dalam isi puisinya,

khususnya dalam hal yang menyangkut tentang masyarakat dan konflik-konflik

yang terjadi di dalam kehidupan. Abdulla>h al-Baraddu>ni> telah menerbitkan 12

3

antologi puisi dengan topik konflik, perlawanan, dan dinamika politik Yaman.

Buah karyanya banyak berisi sindiran dan kritikan terhadap penguasa-penguasa

dan minimnya demokrasi di negara Yaman (Musaed, 2010).

Satu dari sekian banyak puisi karya Abdulla>h al-Baraddu>ni> yang

mengisahkan keadaan rakyat dan sindiran terhadap penguasa-penguasa di Yaman

adalah puisi yang berjudul Nah{nu wa al-H{a>kimu>na. Puisi tersebut di muat

dalam antologi puisi Fi> T{ari>qi al-Fajri yang diterbitkan pada tahun 1967. Puisi ini

dipilih karena pada pembacaan pertama tampak memiliki sistem tanda untuk

dianalisis, misalnya pada bait pertama dari puisi tersebut s}ah}wuna> kulluhu>

matamun seluruh ketenangan kita adalah pemakaman, kalimat tersebut

merupakan tanda yang menyimpan makna dan tidak merujuk pada makna yang

sebenarnya karena antara arti ketenangan dan pemakaman merupakan dua arti

selaras yang disejajarkan.

Oleh karena itu, agar puisi dapat dipahami, maka perlu dilakukan

penelitian. Dalam hal ini, penulis akan menggunakan teori semiotik karena

menurut Pradopo (2014:122) menganalisis makna puisi tidak lepas dari analisis

semiotik karena secara semiotik, puisi merupakan struktur tanda-tanda bahasa

atau simbol yang bersistem dan bermakna yang ditentukan oleh konvensi.

Dengan menggunakan teori semiotik, diharapkan dapat memahami tanda-

tanda bahasa atau simbol yang ada dalam puisi Nah{nu wa al-H{a>kimu>na dalam

antologi puisi Fi> T>>{ari>qi al-Fajri karya Abdulla>h al-Baraddu>ni> tersebut sehingga

dapat mengungkapkan makna yang ingin disampaikan oleh penyair.

4

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka permasalahan

yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah apa makna yang terkandung dalam

puisi Nah{nu wa al-H{a>kimu>na dalam antologi puisi Fi> T>>{ari>qi al-Fajri karya

Abdulla>h al-Baraddu>ni>?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian puisi ini

adalah untuk mengungkapkan makna puisi Nah{nu wa al-H{a>kimu>na dalam

antologi puisi Fi> T>>{ari>qi al-Fajri karya Abdulla>h al-Baradu>ni>.

1.4 Tinjauan Pustaka

Puisi-puisi Abdulla>h al-Baraddu>ni> pernah dibahas dalam disertasi yang

berjudul as}-S}u>ratu asy-Syiriyyatu inda Abdulla>h al-Baraddu>ni>, (Masywah},

2000). Penelitian tersebut merupakan studi kritis yang dilakukan peneliti untuk

memperoleh gelar doktor. Penelitian tersebut membahas tentang penyebab dari

pembaharuan dalam puisi Abdulla>h al-Baraddu>ni> dan aliran-aliran yang

mempengaruhi Abdullah al-Baraddu>ni> dalam penciptaan bentuk puisi-puisinya.

Selanjutnya, penelitian yang berjudul as-Sukhriyyatu fi> Syiri Abdulla>h

al-Baraddu>ni>, (Musaed, 2010) dari Universitas Ummu al-Qura>. Penelitian

tersebut membahas tentang ironi dalam puisi Abdulla>h al-Baraddu>ni>. Hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam puisi al-Baraddu>ni> didominasi oleh

ironi yang bukan merupakan bentuk balas dendam pribadi sang penyair. Akan

tetapi, sebuah ironis kritikus pembaharuan yang menyoroti kelemahan-kelemahan

agar terlepas dari gaya-gaya sinis.

5

Penelitian puisi yang bertemakan rakyat, pemerintahan, dan tanah air

dengan analisis semiotik telah banyak dilakukan oleh para peneliti sebelumnya.

Berikut adalah lima dari penelitian yang menggunakan tema tentang rakyat,

pemerintahan, dan tanah air. Pertama adalah penelitian yang berjudul

Yaumiyyatu Jurh{i Filast{i>niyyin karya Mah{mu>d Darwi>sy dengan memanfaatkan

analisis semiotik Riffaterre (Sastiani, 2011). Tanda-tanda dalam puisi tersebut

menggambarkan tetang penderitaan dan kesengsaraan rakyat Palestina akibat

pendudukan Israel di wilayah mereka. Israel memaksa mereka meninggalkan

tanah air dan membiarkan mereka hidup sengsara. Akan tetapi, hal tersebut tidak

menghalangi mereka untuk terus berjuang meski harus mati hingga mereka dapat

hidup bahagia di sana.

Kedua adalah penelitian yang berjudul Jundiyyu>n Yah{lumu Biz-Zana>biqil

Baid{a>a dalam antologi Ad Darwisy (Vebriyanti,

2012). Tanda-tanda dalam puisi tersebut menggambarkan tetang Israel yang

meninggalkan medan peperangan atas nama hati nurani karena telah banyak

membunuh musuh Yahudi yang merupakan warga sipil.

Ketiga adalah penelitian yang berjudul Mata> Yulinu>na Wafa>ta al-Arabi

dalam antologi puisi al-Ama>lu al-K>a>milatu Li asy-Sya>ir karya Niza>r Qabba>ni>

(Tubagus, 2014). Tanda-tanda dalam puisi tersebut menjelaskan tentang keadaan

sosial, politik, dan ekonomi bangsa Arab yang mengalami banyak masalah sejak

Perang Dunia II, seperti korupsi, ketidakadilan terhadap hak-hak perempuan, dan

kondisi ekonomi yang stagnan. Hal ini dikarenakan para pemimpinnya lebih

mementingkan kepentingan pribadi dan tidak memikirkan bangsa Arab secara

6

menyeluruh. Hal tersebut menyebabkan negara Arab tidak dapat berkembang dan

hanya bisa bertahan dengan kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang buruk dan

lemah.

Keempat adalah penelitian yang berjudul Kulluna Tunisu Sauratu al-

Yasmini karya Muhammad bin az-Zayyib al-Ajami> (Ashary, 2015). Tanda-tanda

dalam puisi tersebut menjelaskan tentang sistem pemerintahan diktator, otoriter,

represif, dan turun temurun tidaklah baik diterapkan dalam masyarakat, sehingga

dibutuhkan sistem pemerintahan yang demokratis.

Kelima adalah penelitian yang berjudul ala> Mah}at}t}ati Qit}a>rin Saqat}a an

al-Khari>t}ati dalam antologi puisi La Uri>du Li Ha>z|ihi al-Qas}i>dati an Tantahiya

karya Mah}mu>d Darwisy (Rifai, 2016). Tanda-tanda dalam puisi tersebut

menjelaskan t