146
Apresiasi Inovasi Apresiasi Inovasi E.1. PENDAHULUAN ntuk memperoleh data dan informasi komprehensif yang mempunyai keterkaitan dengan institusi lain dalam menangani permasalahan, perlu dilakukan kegiatan studi literatur berdasarkan buku-buku yang sudah dirilis secara resmi oleh pihak berwenang. Dalam pekerjaan ini studi literatur dilakukan dengan membaca dan mempelajari melalui; buku laporan, text-book, gambar desain, jurnal, proceeding hasil seminar dan lain sebagainya. Dengan kegiatan studi literatur ini telah banyak diperoleh informasi yang sangat berharga dalam melaksanakan pekerjaan ini. Informasi mengenai pantai, permasalahannya dan berbagai jenis bangunan pengaman pantai yang diperoleh, telah banyak memberikan improvisasi didalam menentukan pengamanan pantai yang lebih efektif, tepat, ekonomis, dan sesuai dengan kondisi setempat dengan mengajukan beberapa alternatif pengamanan. Banyaknya informasi yang didapat akan membawa kita untuk berfikir yang realistis dalam melaksanakan pekerjaan sehingga langkah-langkah dan skenario yang diterapkan benar- benar berbasis kepada alur fikir yang rasional, jelas dan terarah. U U E.2. BANJIR Permasalahan banjir kelihatan sepele tetapi menjengkelkan, banyak pihak tidak bisa memungkiri hal ini. Mulai dari masyarakat pengguna perumahan, jalan, industri & real estate, pertanian bahkan pemerintah merasakan hal tersebut. U s u l a n T e k n i s E - 1 Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

  • Upload
    ditha08

  • View
    106

  • Download
    7

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.1. PENDAHULUAN

ntuk memperoleh data dan informasi komprehensif yang mempunyai keterkaitan

dengan institusi lain dalam menangani permasalahan, perlu dilakukan kegiatan

studi literatur berdasarkan buku-buku yang sudah dirilis secara resmi oleh pihak

berwenang. Dalam pekerjaan ini studi literatur dilakukan dengan membaca dan

mempelajari melalui; buku laporan, text-book, gambar desain, jurnal, proceeding

hasil seminar dan lain sebagainya. Dengan kegiatan studi literatur ini telah banyak

diperoleh informasi yang sangat berharga dalam melaksanakan pekerjaan ini.

Informasi mengenai pantai, permasalahannya dan berbagai jenis bangunan

pengaman pantai yang diperoleh, telah banyak memberikan improvisasi didalam

menentukan pengamanan pantai yang lebih efektif, tepat, ekonomis, dan sesuai

dengan kondisi setempat dengan mengajukan beberapa alternatif pengamanan.

Banyaknya informasi yang didapat akan membawa kita untuk berfikir yang realistis

dalam melaksanakan pekerjaan sehingga langkah-langkah dan skenario yang

diterapkan benar-benar berbasis kepada alur fikir yang rasional, jelas dan terarah.

UU

E.2. BANJIR

Permasalahan banjir kelihatan sepele tetapi menjengkelkan, banyak pihak tidak

bisa memungkiri hal ini. Mulai dari masyarakat pengguna perumahan, jalan, industri

& real estate, pertanian bahkan pemerintah merasakan hal tersebut.

Saat ini, setelah terjadi bencana banjir di hampir seluruh wilayah negeri, mulailah

manusianya sadar akan pentingnya mencegah banjir secara lebih dini. Kesadaran

tersebut terlihat dari mulai dilakukannya sosialisasi dan penyuluhan tentang

menjaga kelestarian DAS (Daerah Aliran Sungai) serta pelaksanaan program

penghijauan di gunung-gunung yang gundul. Walaupun dalam prakteknya hal ini

tidak semudah mengucapkannya, kawasan hutan kita masih dijarah disana-sini.

Untuk perhatian bahwa “ Saat kita menyadari bahwa DAS kitas sudah rusak,

U s u l a n T e k n i s E - 1Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 2: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasimaka hampir tidak mungkin untuk menata kembali seperti semula,

meskipun disediakan dana yang besar, itupun memerlukan waktu yang

tidak sebentar”.

Gambar E. 1 Penanganan Terpadu Banjir Kawasan Daerah.

Gambar E. 2 Klasifikasi usaha struktural dan non struktural dalam

manajemen dataran banjir.

U s u l a n T e k n i s E - 2Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 3: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.1.1 Permasalahan Drainase Perkotaan

Banjir merupakan kata yang sangat populer di Indonesia, khususnya pada

musim hujan, mengingat hampir semua kota di Indonesia menglamai

bencana banjir. Peristiwa ini hampir setiap tahun berulang, namun

permasalahan ini sampai saat ini belum terselesaikan, bahkan cenderung

makin meningkat, baik frekuensinya, luasannya, kedalamnnya, maupun

durasinya.

Permasalahan banjir perkotaan diakibatkan :

- Pertambahan penduduk yang sangat cepat.- Urbanisasi.- Pemanfaatan lahan yang tidak tertib.- Belum konsistennya pelaksanaan hukum.- Pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat secara aktif.

Gambar E. 3 Pengaruh urbanisasi pada daerah tangkapan air terhadap laju

limpasan.

U s u l a n T e k n i s E - 3Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 4: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 4 Proses pembangunan infrastruktur yang kurang melibatkan

masyarakat.

Gambar E. 5 Proses pembangunan yang melibatkan masyarakat sejak

awal, sehingga hasilnya diterima oleh masyarakat.

Gambar E. 6 Siklus dan tahapan pembangunan yang lengkap.

U s u l a n T e k n i s E - 4Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 5: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.1.2 Penyebab Banjir dan Konsep Penanggulangannya

E.1.2.1 Lokasi Hilir dan Muara

Sungai bermuara ke laut, yang umumnya terletak pada kawasan pantai

yang datar, dan rawan banjir. Banyaknya hambatan yang dialami oleh

aliran sungai, merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dalam

era otonomi yang baru dibentuk.

- Gelombang “pasut” (pasang/surut) air laut : membentuk semacam tembok penghalang di muara sungai, sehingga terjadilah “back water”. Selama ini, aliran sungai dimuara harus dilindungi dengan tanggul, supaya air tidak “tumpah ruah”, dan menimbulkan banjir.

- Kota besar biasanya berkembang pada muara sungai, dan bangunan yang tumbuh disepanjang sungai mengganggu aliran sungai. Sampah dari warga kota, dibuang kedalam sungai sehingga mengurangi kapasitas sungai tersebut.

- Endapan banyak terjadi pada muara sungai, sehingga kapasitas aliran berkurang drastis. Belum lagi, bentuk sungai dikawasan pantai yang berkelok-kelok, ikut menyulitkan aliran, sehingga banyak menimbulkan banjir.

- Kawasan hilir sungai banyak bendung, karena lokasi ini sangat strategis untuk mencetak sawah yang luas, mengingat topographi daerah yang relatif datar. Aliran sungai harus berkompromi dengan bendung tersebut, khususnya pada saat sungai tersebut banjir.

Masih ada setumpuk hambatan aliran lagi, yang harus disikapi dengan arif

dan diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengatasinya.

E.1.2.2 Sistem Konstruksi Penahan Pasang Surut Air Laut

Cara konvesional ini masih banyak dipakai, dimana-mana :

- Dengan memasang pintu air dimuara sungai, yang dibantu oleh Kolam Tandon.

- Yang lebih murah adalah membangun tanggul tanah sepanjang kiri dan kanan muara sungai, agar “back-water” pada waktu laut pasang tidak tumpah ruah ke daratan dan menyebabkan banjir.

E.1.2.2.1 Pintu air pasang dan kolam tandon

Air laut yang sedang pasang, sangat mengurangi kapasitas muara sungai.

Pintu air dimaksudkan untuk menyekat air laut yang sedang pasang.

Sementara itu, air banjir disimpan didalam Kolam Tandon. Sebaliknya,

setelah air laut surut, maka pintu air dibuka, sehingga aliran sungai

berlangsung ke laut dengan lancar (lihat Gambar E.7).

Oleh karena mahal harganya, maka pintu air dibuat sempit, asal cukup

memadai. Sedangkan dasar pintu diberi konstruksi penahan endapan

U s u l a n T e k n i s E - 5Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 6: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasilumpur, pasir, dan lain-lain dari muara, agar tidak memasuki sungai (lihat

Gambar E.8.).

Gambar E. 7 Denah Kolam Tandon di Muara Sungai.

U s u l a n T e k n i s E - 6Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 7: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 8 Pintu Pasang Air Laut Beraliran Sub-kritikal.

Aliran Sub-Kritikal, berarti garis tinggi kritis dibawah muka air normal,

sehingga tidak terjadi perpotongan antara muka air dengan garis tinggi

kritis. Berarti disini tidak terjadi “Loncat air”.

Gambar E. 9 Pintu Pasang Air Laut Beraliran Super-Kritikal.

Desain yang ekonomis adalah dengan mematok “MSL (Mean Sea

Level/Ketinggian Muka Air Laut Rata-rata)” sebagai “tail water” pintu air

pasang. Jadi, pintu akan ditutup pada saat elevasi muka air laut diasat MSL,

dan sebaliknya pintu dibuka pada saat elevasi muka air laut dibawah MSL

(lihat Gambar E.10).

U s u l a n T e k n i s E - 7Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 8: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 10 Elevasi Desain Pintu Air Pasang.

E.1.2.2.2 Tanggul Sepanjang Muara Sungai

Cara lain untuk menangkal tingginya pasang air laut adalah dengan

membuat tanggul tanah sepanjang muara sungai. Pemasangan tanggul

tanah harus ada batasnya, karena tanggul yang terlalu tinggi bisa

menyulitkan prasarana lain disekitar muara sungai tersebut.

E.1.2.2.3 Sistem Drainase Sekitar Tanggul Jadi Terganggu

Aliran dari kota atau desa disekitar muara sungai hanya bisa membuang air

hujan kedalam sungai yang sudah di tanggul, apabila muka air sungai

tersebut cukup rendah elevasinya. Tetapi, apabila muka air back water

terlalu tinggi, drainase terganggu total, seperti Gambar E.11.

Supaya aliran sungai besar jangan berbalik merambah kedalam drainase

kota dan desa, maka dibadan tanggul harus dipasang pintu katup, yang

bentuknya terlihat pada Gambar E.12.

U s u l a n T e k n i s E - 8Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 9: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 11 Pada Saat Banjir, Aliran Drainase Kedalam Tanggul Terhenti.

Gambar E. 12 Pintu Katup Sederhana dan Pintu Katup Apung.

U s u l a n T e k n i s E - 9Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 10: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiE.1.2.3 Back Water di Hulu Bendungan

Pada kawasan hilir sungai banyak dijumpai “bendungan” yang berfungsi

menaikkan permukaan air dimusim kemarau, agar dapat ditumpahkan

kedalam sawah petani. Karena topographi, kawasan hilir relatif datar, maka

luasan sawah yang dapat dicetak sangatlah luas. Tetapi sebaliknya, pada

musim banjir, keberadaan bendung ini tidak dikehendaki, karena

menimbilkan back –water dan banjir disebelah hulu bendungan.

Gambar E. 13 Back Water di Hulu Bendungan.

Perencanaan Irigasi kawasan hilir, sebaiknya dilaksanakan secara terpadu

dengan Perencanaan Drainase Kawasan Daerah. Belakangan ini sudah

banyak dipakai “bendung gerak”, seperti “pintu air radial” atau “Bendung

karet”.

E.1.2.4 Aliran Berkelok-kelok di Kawasan Muara

Sungai yang berkelok-kelok dibagian muara perlu diperhatikan dalam

perencanaannya. Pada aliran berkelok ini terjadi super elevasi, yaitu

kenaikan muka air disisi luar belokan dan penurunan muka air disisi

dalamnya. Hal ini perlu diperhatikan terutama bila disekitar sungai sudah

dibangun pemukiman.

E.1.2.5 Penyempitan Alur Sungai

Penyempitan alur sungai dikenal dengan istilah “Bottle Neck” yang

berupa penyempitan lebar sungai sebagai akibat dari formasi tebing sungai

yang tersusun dari batuan yang keras sehingga aliran yang ada tidak

mampu menciptakan lebar yang semestinya. Penyempitan ini juga bisa

disebabkan oleh ulah manusia.

U s u l a n T e k n i s E - 10Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 11: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiE.1.2.6 Penyempitan Sungai dibawah Jembatan serta Pier

Penyempitan sungai dibawah jembatan ini bersifat sementara yaitu hanya

dibawah jembatan saja. Meskipun demikian akibat yang ditimbulkan dapat

menyebabkan banjir dibagian hulu sungi karena terjadi efek “Back

Water”.

E.1.2.7 Hambatan Aliran Sungai Karena Dorongan Arus Masuk dari

Samping

Didalam perjalannya ke laut, aliran sungai menerima arus masuk dari

samping kiri dan kanan. Arus tersebut bisa berupa anak sungai, atau

buangan kelebihan air dari sawah. Kalau sungai tersebut melewati kota

besar, arus masuk tersebut berupa air “buangan domestik” berasal dari

rumah penduduk kota tersebut, sebelum dibuang kedalam sungai.

Tergantung pada “konstruksi in-let” dari arus masuk kedalam sungai

tersebut, maka sungai akan mengalami hambatan yang menyebabkan

kehilangan tinggi tekan sungai, dan dapat memicu terjadinya banjir pada

bagian hulu dari sungai tersebut. (lihat Gambar E.14.).

Gambar E. 14 Bangunan Inlet Arus Masuk Kedalam Sungai yang Kurang

Tepat.

U s u l a n T e k n i s E - 11Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 12: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiPada prinsipnya, aliran sungai jangan ditubruk secara frontal. Tertera pada

Gambar E.14, empat kasus yang salah dari konstruksi inlet kedalam

sungai :

(A) Pada tikungan sungai, kecepatan besar berada pada belokan luar. Oleh karena itu, pada bagian ini jangan dimasuki arus, yang dapat menyebabkan pusaran air karena belokan dalam, karena pada bagian ini, kecepatan arus kecil. Dengan demikian kita dapat membantu, agar endapan yang cenderung terjadi pada belokan dalam ini, bisa dikurangi semaksimal mungkin.

(B) Sudut yang dibuat antara arus masuk dan sungai jangan terlalu tumpul dan besar, sehingga memicu terjadinya pusaran air karena tumbukan secara frontal.

(C) Setelah menerobos Abutment Jembatan, aliran sungai mengalami ekspansi. Pada bagian hilir abutment ini jangan dimasuki arus, karena dapat menganggu proses ekspansi aliran sungai, dan menimbulkan pusaran karena tumbukan frontal.

(D) Pada saat aliran sungai mengalami kontraksi, serat aliran cenderung berdasak-desakan untuk menuju bagian sungai yang menyempit. Pada bagian ini jangan dimasuki oleh arus dari luar, karena tumbukan yang terjadi dapat menyebabkan pusaran air yang serius.

E.1.2.8 Hambatan Aliran Sungai Pada Gorong-Gorong

Oleh karena pertimbangan konstruktip dan ekonomis, perlintasan sungai

dengan jalan raya atau jalan kereta api berupa gorong-gorong. Tentu saja

perlintasan semacam inimemberikan hambatan tersendiri yang dapat

memicu banjir dibagian hulu sungai, apabila tidak diperhitungkan secara

cermat.

Mengingat posisi muka air disebelah hulu gorong-gorong tersebut, maka

dapat dibedakan dua macam jenis pengaliran sungai, seperti terlihat pada

Gambar E.15.

U s u l a n T e k n i s E - 12Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 13: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiGambar E. 15 Jenis Pengaliran Sungai Menerobos Gorong-Gorong.

E.1.2.9 Perubahan Fungsi Saluran dari Irigasi menjadi Drainase

Pertambahan penduduk perkotaan yang sangat pesat, membutuhkan lahan

yang lebih luas. Akibatnya, banyak sawah diurug untuk kawasan

pertumbuhan baru. Saluran irigasi yang ada dipaksa menjadi saluran

drainase untuk kawasan perumahan baru tersebut. Terjadilah salah fungsi

yang fatal, dan menyebabkan banjir. Tabel E.1 menjelaskan perbedaan

fungsi yang sangat bertolak belakang antara saluran irigasi dengan saluran

drainase. Sedang Gambar E.16 dan E.17 melukiskan kronologis sebelum

dan sesudah sawah diurug.

Tabel E. 1 Perbedaan fungsi saluran irigasi dengan drainase.

U s u l a n T e k n i s E - 13Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 14: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiGambar E. 16 Ilustrasi saluran irigasi dan drainase.

Gambar E. 17 Sawah diurug untuk perumahan.

Pilihan muara drainase yang salah, bisa menyebabkan banjir !

Mengurug sawah untuk lahan perumahan baru, harus diikuti dengan

pemilihan muara drainase yang benar Bermuara kedalam Saluran Irigasi,

jelas pilihan yang salah, dan menyebabkan banjir, seperti terlihat pada

Gambar E.17.

Kesalahan pemilihan muara drainase bisa terjadi pada banyak kasus

lainnya. Dibawah ini diuraikan beberapa kiat untuk memilih muara

drainase yang benar:

- Pilih muara drainase sejauh mungkin ke hilir sungai (Gambar E.18). Sesuai dengan muka air banjir. Bermuara pada hilir sungai dengan peil banjir yang rendah banyak memberikan manfaat terhadap sistem drainase perumahan yang kita rencanakan :1) Muka air saluran primer lebih curam, dimensi saluran lebih kecil, effek

back water tidak begitu berpengaruh.2) Urugan tanah untuk lahan perumahan yang dibangun bisa lebih hemat,

yaitu dengan peil banjir yang lebih rendah, tentunya.- Pilih Muara Drainase disebelah hilir bendung irigasi (lihat Gambar E.19).

Tentunya saja disebelah hilir Bendung Irigasi Peil Banjir jauh lebih rendah, dibanding sebelah hulunya, karena terpengaruh effek pembendungan (back water).

U s u l a n T e k n i s E - 14Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 15: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 18 Pilih muara sejauh mungkin ke hilir sungai.

Gambar E. 19 Pilih muara dihilir bendung bendung irigasi.

- Kalau ada Tandon Banjir didekat anda, mintalah izin untuk bermuara kedalam tandon tersebut, jangan bermuara langsung ke laut, atau sungai besar.

Pada Gambar E.20 diperlihatkan muara drainase yang benar kedalam

Tandon Banjir.

Kebutuhan anda akan Peil Banjir yang rendah didalam Tandon akan

terpenuhi, karena Tandon memiliki Pintu Air dan Pompa yang dioperasikan

untuk mendapatkan Peil Banjir yang rendah elevasinya.

U s u l a n T e k n i s E - 15Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 16: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiBoleh saja, anda bermuara langsung ke laut atau sungai besar, tetapi

mungkin, anda harus menyediakan pintu air dan pompa sendiri, agar muara

drainase memperoleh Peil Banjir yang rendah elevasinya. Jelas, lebih mahal

bukan !

- Kalau ada pilihan kedalam dua buah sungai, maka pilihan yang paling rendah elevasi peil banjirnya. Hal ini diperlihatkan pada Gambar E.21.

Masih banyak kasus kesalahan pemilihan muara drainase yang mungkin

belum tercakup pada uraian diatas. Pada prinsipnya pilihan diarahkan pada

Peil Banjir Rendah. Tentu anda ingin menanyakan, bagaimana

mengetahui besarnya elevasi Peil Banjir sebuah sungai, tandon, dan lain-

lain. Cara paling mudah adalah menghubungi Departemen Pekerjaan

Umum di Jakarta, atau Dinas Pekerjaan Umum di daerah. Karena mereka

telah banyak melakukan studi yang antara lain untuk menghitung Peil

Banjir dari wilayah drainase mereka. Sekaligus, anda dapat memperoleh

“Masterplan Drainase”, sehingga perencanaan anda tinggal mengacu pada

studi ini.

Khusus untuk Kota Jakarta , ada Dinas Pekerjaan Umum DKI, Subdin Tata

Air di Jatibaru – Jakarta. Dinas ini memiliki Kopro Banjir Jakarta, sehingga

banyak studi, Masterplan Drainase Kota Jakarta yang telah dihasilkan.

Mungkin anda dapat memperoleh mengenai Peil Banjir, dari instansi ini.

Gambar E. 20 Pilih muara dihilir bendung bendung irigasi.

U s u l a n T e k n i s E - 16Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 17: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 21 Bermuara kesungai yang rendah peil banjirnya.

Khusus untuk anda yang bergerak dalam pengadaan perumahan

(Developer Real Estate) di Jakarta, ada kewajiban untuk mengurus “IMP”

(Izin Membangun Prasarana) yang dikeluarkan oleh DPU-DKI. Persyaratan

teknis yang harus anda lengkapi :

- Gambar Rencana “Site Plan” yang sudah disahkan oleh Dinas Tata Kota.- Hasil Survey Topografi yang sudah disahkan oleh Subdin Survei DPU-DKI,

yang memuat “peil ekisting”, berupa elevasi yang terkait pada sistem Kopro Banjir DKI.

- Gambar rencana sistem drainase dan prasarana lain, lengkap dengan pilihan lokasi pembuangan akhir (muara drainase).

Selanjutnya anda akan mendapatkan informasi dan pengarahan mengenai

Peil Banjir dan ke sungai mana anda harus bermuara. Dengan demikian

bangunan perumahan yang akan anda bangun tidak mengalami banjir, dan

ikut mencegah permasalahan banjir di Jakarta. Pada akhirnya, bangunan

ini, toh akan diserah terimakan kepada Pemda DKI, sehingga sedari awal

Pemda hendak mengarahkan dan mengurangi kemungkinan kesalahan peil

banjir dan kesalahan sistem drainase yang dibuat.

E.1.3 Prasarana dan Sarana(Infrastruktur)

U s u l a n T e k n i s E - 17Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 18: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiPrasarana dan sarana atau infrastruktur diartikan sebagai fasilitas fisik

suatu kota atau negara yang seringg disebut pekerjaan umum (Grigg,

1988). Pekerjaan umum (public works) telah didefinisikan oleh American

Public Works Assocation (APWA) sebagai berikut (Stone, 1974).

“Public works area the physical structures and facilities that area developed

or acquired by the public agenices to house governmental functions and

provide water, power, water disposal, transportation, and similar sevices to

facilitate the achievemnet of common social and economic objective.”

Definisi yang lain diberikan oleh AGCA (Associated General Contractors of

American), untuk semua aset yang berumur panjang yang dimiliki oleh

pemerintah daerah, maupun pusat dan utilias yang dimiliki oleh pengusaha

(Kwiatkowski, 1986).

“The nation’s infrastrukture is its system of public facilities, both publicly

or privately funded, which provide for the delivery of essential services and

a sustained standard of living. This interdependent, yet self-contained, set

of structures provides for mobility, shelter, services, and utilities. It is the

nations’s highaways, bridges, railroads, and mass transit systems. It is our

sewers, sewage, sewage teratment plants, water supply systems, and

reservoirs. It is our dams, locks, waterways, and ports. It is our electric, gas,

and power producing plants. It is our court houses, jails, fire houses, police

stations, schools, post offices, and government buildings. America’s

infrastructures is the base upon which society rests. It is condition affects

our life styles and security and each is threatened by its un answered

decay (AGCA, 1982).”

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil)

mendefinisikan prasarana dan sarana sebagai berikut (CBUIM, 2002) :

Prasarana dan sarana merupakan bangunan dasar yang sangat diperlukan

untuk mendukung kehidupan manusia yang hidup bersama-sama dalam

suatu ruang yang terbatas agar manusia dapat bermukim dengan nyaman

dan dapt bergerak dengan mudah dalam segala waktu dan cuaca, sehingga

dapat hidup dengan sehat dan dapat berinteraksi satu dengan lainnya

dalam mempertahankan kehidupannya.

Secara lebih lugas dapat dikatakan bahwa infrastruktur (perkotaan) adalah

bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar, peralatan-peralatan, dan instalasi-

U s u l a n T e k n i s E - 18Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 19: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasiinstalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk mendukung berfungsinya

suatu sistem tatanan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Infrastruktur

merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem, sehingga mampu

memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Sebagai suatu sistem,

komponen infrastruktur pada dasarnya sangat luas dan banyak, namun

secara umum terdiri dari 12 komponen sesuai dengan sifat dan

karakternya, yaitu :

1) Sistem air bersih, termasuk bendungan, waduk, transmisi, instalasi pengolah air, dan fasilitas distribusinya.

2) Sistem manajemen air limbah, termasuk pengumpulan, pengolah, pembuangan (disposal), dan sistem pakai ulang (reuse).

3) Fasilitas manajemen limbah padat atau persampahan.4) Fasilitas transportasi, termasuk jalan raya, rel kereta api, dan lapangan

terbang.5) Sistem transt publik.6) Sistem kelistrikan, termasuk produksi dan distribusinya.7) Bangunan umu, seperti pasar, sekolahan, rumah sakit, kantor polisi dan

fasilitas pemadam kebakaran.8) Fasilitas perumahan.9) Taman, tempat bermain, fasilitas rekreasi, dan stadion.10)Fasilitas perumahan.11)Taman, tempat bermain, fasilitas rekreasi, dan stadion.12)Fasilitas telekomunikasi.

Dari keduabelas komponen tersebut, dapat dikelompokkan ke dalam 7

(tujuh) grup infrastruktur, yaitu :

1) Kelompok air; meliputi air bersih, sanitasi, drainase, dan pengendalian banjir.

2) Kelompok jalan; meliputi jalan raya, jalan kota, dan jembatan.3) Kelompok sarana transportasi; meliputi terminal, jaringan rel dan

stasiun kereta api, pelabuhan, dan pelabuhan udara.4) Kelompok pengelolaan limbah; meliputi sistem manajemen limbah

padat (persampahan).5) Kelompok bangunan kota, pasar dan sarana olah raga terbuka (outdoor

sports).6) Kelompok energi; meliputi produksi dan distribusi listrik dan gas .7) Kelompok telekomunikasi.

Sebagai suatu sistem yang terdiri dari banyak komponen, maka

perencanaan infrastruktur harus mempertimbangkan keterkaitan dan

keterpengaruhan antar komponen, beserta dampak-dampaknya.

Perencanaan infrastruktur merupakan proses dengan kompleksitas tinggi,

multi disiplin, multi sektor, dan multi user. Oleh karena itu, perencanaan

infrastruktur tidak bisa sektoral, namun juga tidak bisa terlalu global. Jika

U s u l a n T e k n i s E - 19Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 20: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasiperencanaan terlalu spesifik (besifat sektoral) tanpa mempedulikan

komponen lain, maka akan banyak bertabrakan dengan komponen lainnya.

Sebaliknya jika terlalu global, hasilnya tidak akan efektif (Grigg, 1988).

Perencanaan yang (mungkin) paling baik adalah yang berada diantaranya,

yaitu perencanaan yang didasarkan pada pendekatan permasalahan secara

global pada tingkatan yang tepat dengan mempertimbangkan secara

matang segala dampak eksternalnya, namun masih berkonsentrasi secara

spesifik pada persoalan utama yang ingin dipecahkan.

E.1.4 Infrastruktur Air Perkotaan

Infrastruktur air perkotaan meliputi tiga sistem, yaitu sistem air bersih

(urban water supply), sistem sanitasi (waste water), dan sistem drainase air

hujan (storm water system). Ketiga sistem tersebut saling terkait, sehingga

idealnya dikelola secara integral seperti diilustrasikan pada Gambar 1.16.

Hal ini sangat penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya

dan fasilitas, menghindari ketumpang-tindihan tugas dan tanggung jawab,

serta untuk keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya air. Sebagai contoh,

penanganan air hujan dapat dimanfaatkan (sistem drainase) untuk

pengisian air tanah sebagai sumber air bersih.

Gambar E. 22 Sistem infrasturktur perkotaan (Grigg, 1996).

Sistem Air bersih (urban water supply system)

U s u l a n T e k n i s E - 20Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 21: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 23 Sistem air bersih (Grigg, 1996).

Sistem Sanitasi (Urban watewater system)

Gambar E. 24 Sistem manajemen air limbah (Grigg, 1996).

E.3. KONSEP DRAINASE

Banjir yang kerap kali terjadi memerlukan penanganan secara komprehensif, tidak

hanya menggunakan metode konvensional melainkan juga dengan metode

penyelesaian banjir lainnya, seperti ekohidrolik. Adapun yang dimaksud metode

konvensional adalah membuat sudetan, normalisasi sungai, pembuatan talud, dan

berbagai macam konstruksi sipil lainnya. Sedangkan metode ekohidrolik bertitik

berat pada renaturalisasi, restorasi sungai, serta peningkatan daya retensi lahan

terhadap air hujan. Penyelesaian banjir dan permasalahan drainase dengan konsep

penanganan banjir secara konvensional yang hanya mengutamakan faktor

hidraulik, bertitik tolak pada penanganan dampak banjir secara lokal. Hal ini perlu

diimbangi dengan konsep ekohidrolik yang bertitik tolak pada penanganan

penyebab banjir dari segi ekologi dan lingkungan. Dengan dilakukannya retensi air

di bagian hulu, tengah, dan hilir, juga di sepanjang wilayah sungai, sempadan

sungai, badan sungai, dan saluran, selain berfungsi sebagai penanggulangan banjir

juga sekaligus menanggulangi kekeringan di kawasan yang bersangkutan.

U s u l a n T e k n i s E - 21Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 22: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

KonsepDrainase

Konvensional

Eco-Drainage

Pembuatan sudetan

Normalisasi sungai

Pembuatan konstruksi sipil

Retensi air

Gambar E. 25 Konsep konvensional dan Eco-drainage.

Gambar E. 26 Ilustrasi ideal penanggulangan banjir dengan konsep

Ekohidrolik.

E.1.5 Drainase Ramah Lingkungan

U s u l a n T e k n i s E - 22Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 23: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiEco-drainage atau drainase ramah lingkungan adalah sistim drainase yang

memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu

yang baru bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan man made

world, segala sesuatu buatan manusia, perlu dibuat dengan ramah

terhadap lingkungan, yang pada gilirannya, artinya juga perlu ramah

terhadap manusia.

Di bidang drainase, pertimbangan desain sistim drainase sampai saat ini

masih menggunakan paradigma lama yaitu bahwa air drainase harus

secepatnya dibuang ke hilir dan atau ke laut. Baru kemudian disadari

bahwa paradigma ini tidak sesuai lagi dengan keadaan masa kini ketika

didapati fenomena defisit air dalam neraca keseimbangan air antara

ketersediaan dan kebutuhan yang diperlukan oleh manusia yang semakin

banyak.

Defisit neraca air ini ditandai dengan menurunnya permukaan air tanah,

karena disedot untuk berbagai keperluan, bahkan tidak hanya untuk

keperluan primer manusia seperti air minum, tetapi juga untuk keperluan

sekunder yaitu industri. Tanda yang lain dari defisit air ini adalah semakin

menurunnya kuantitas dan kualitas ketersediaan air baku akibat semakin

membesarnya fluktuasi jumlah aliran permukaan persatuan waktu yang

terjadi di musim penghujan dibandingkan yang terjadi di musim kemarau.

Besarnya fluktuasi ini terjadi antara lain oleh kurangnya daerah resapan air

di bagian hulu dikarenakan gundulnya hutan dan kurangnya usaha

membangun sistim tampungan (tandon) air pada sistim drainase. Hal ini

berakibat menurunnya recharging air tanah dan pada gilirannya kemudian

berefek pada turunnya base flow pada aliran sungai atau menghilangnya

mata air-mata air dari hulu sungai.

Filosofi pembuatan sistim drainase dengan tampungan-tampungan ramah

lingkungan dalam usaha menanggulangi banjir mirip tetapi tidak sama

dengan filosofi pembuatan waduk penahan banjir. Waduk dibangun dalam

skala besar, tidak hanya dalam pengertian fisik, tapi juga besar dalam efek

negatif yang terjadi. Sedangkan sistim drainase dengan tampungan-

tampungan air ramah lingkungan dibuat dan dikelola oleh orang perorang

dan oleh unit masyarakat kecil. Sedemikian sehingga perbedaan filosofi

diantara keduanya ialah bahwa waduk dimotori oleh sebuah otoritas,

U s u l a n T e k n i s E - 23Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 24: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasisedangkan sistim drainase dengan tampungan-tampungan ramah

lingkungan digerakkan oleh public community.

Penerapan konsep drainase ramah lingkungan di lapangan yang diiringi

oleh program pengembangan masyarakat dilakukan pada berbagai

bidang, sebagai berikut:

1. Sistem pembuangan air hujan di rumah2. Saluran drainase sebagai long storage3. Penyediaan taman dan kolam di kompleks perumahan4. Peningkatan luas badan air5. Penataan kawasan sekitar waduk6. Pemeliharaan kebersihan7. Penataan saluran drainase di kawasan industri

Penjelasan singkat mengenai bagian-bagian di atas akan diuraikan di

bawah ini.

E.1.6 Sistem Pembuangan Air Hujan di Rumah

Dengan konsep bahwa air hujan harus ditahan selama mungkin dan

sebanyak mungkin diserap oleh tanah maka urutan aliran air hujan di

setiap unit rumah dapat mengikuti alur sebagai berikut :

Air hujan bungker air sumur resapan saluran

Ilustrasi alur air hujan di setiap unit rumah disajikan pada Gambar E.27

berikut:

U s u l a n T e k n i s E - 24Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 25: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 27 Ilustrasi alur air hujan di rumah.

1. Pada tahap pertama, air hujan dari atap rumah disalurkan ke bunker air. Air yang ditampung pada bungker ini di kemudian hari dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti untuk menyiram tanaman, mencuci kendaraan, dll. Jika air untuk keperluan-keperluan diatas dapat diambil dari bungker air yang ada maka hal ini dapat secara langsung mengurangi beban air yang harus disuplai dari PAM.

2. Pada tahap kedua, air hujan yang tidak tertampung di bungker air dialirkan menuju sumur resapan. Air dari sumur resapan ini berfungsi sebagai pengisian kembali air tanah.

3. Pada tahap ketiga, air hujan yang tidak tertampung di sumur resapan kemudian dialirkan ke selokan / saluran pembuangan air hujan. Hal ini merupakan tahapan terakhir jika semua usaha untuk menahan air agar dapat meresap ke dalam tanah telah dilakukan

Jika dihitung, proporsi volume air yang dapat ditampung dalam bungker

untuk tiap rumah mungkin tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan

keseluruhan volume air hujan yang turun. Namun jika setiap rumah dalam

suatu kompleks perumahan menggunakan cara seperti ini, maka jumlah

volume air yang dapat ditampung akan semakin besar. Hal ini juga berlaku

dalam penggunaan sumur resapan pada setiap unit rumah. Walaupun

volume air yang dapat menyerap ke tanah untuk satu unit rumah tidaklah

besar, namun jika setiap rumah menerapkan hal ini maka jumlah volume

air yang dapat dikonvservasi akan semakin besar.

E.1.7 Saluran Drainase Sebagai Long Storage

U s u l a n T e k n i s E - 25Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 26: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiSaluran drainase selain berfungsi untuk mengalirkan air hujan ke daerah

yang lebih rendah, juga dapat difungsikan sebagai long storage. Untuk

beberapa kawasan, long storage ini diperlukan karena air tidak dapat

dibuang langsung ke laut akibat adanya pengaruh pasang surut. Namun

untuk beberapa kawasan lain, long storage ini dapat berfungsi sebagai

bagian dari proses retensi air hujan, agar volume air yang menyerap ke

dalam tanah semakin besar.

Selain itu, pada musim kemarau, keberadaan air di saluran drainase cukup

penting untuk menghindari pengendapan dan tertumpuknya berbagai

kotoran yang dapat menimbulkan bau tidak sedap. Dengan adanya long

storage tersebut, air yang ada dapat digunakan untuk melakukan

penggelontoran saluran. Pengaturan air pada saat akan dilakukan

penggelontoran dapat dilakukan menggunakan bantuan pintu air maupun

bangunan air sejenis, yang dioperasikan oleh masyarakat setempat.

Dengan demikian, untuk lokasi-lokasi yang dianggap memenuhi

persyaratan, perencanaan saluran drainase perlu mengikutsertakan faktor

retensi air, dengan konsekuensi dimensi saluran drainase akan semakin

besar.

E.1.8 Kolam Tamandi Kompleks Perumahan

Kolam taman yang ada pada komplek perumahan selain berfungsi sebagai

bagian dari upaya penghijauan, juga dapat difungsikan sebagai bagian dari

proses retensi air. Ilustrasi kolam taman disajikan pada Gambar E.28.

Dalam perencanaan kompleks perumahan, ada baiknya didesain sistim

drainase sedemikian sehingga dapat berfungsi sebagai kolam taman untuk

lingkungan, penyediaan air untuk taman dan untuk kondisi darurat, misal

kebakaran, serta recharging air tanah. Kolam taman dalam komplek

dikelola oleh unit masyarakat dalam komplek tersebut, misalnya dikelola

oleh masyarakat satu RW, dengan jadwal piket setiap RT.

U s u l a n T e k n i s E - 26Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 27: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 28 Ilustrasi kolam taman di kompleks perumahan.

Untuk perencanaan kawasan perumahan baru, kolam tanam ini dapat

dibangun satu unit untuk setiap sekian unit rumah yang dibangun di

kompleks yang bersangkutan.

Gambar E. 29 Pengurangan debit puncak dengan kolam tandon

(tampungan sementara).

U s u l a n T e k n i s E - 27Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 28: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiKAPAN DIPAKAI TANDON BANJIR ?

Kata “Tandon” berasal dari Bahasa Jawa, yang artinya reservoir atau

waduk. Di-Jakarta, anda tentu pernah mendengar Waduk Pluit, Setiabudi

dan lain-lain. Kalau dinegeri Belanda, sebutannya adalah “polder”,

sehingga negeri bawah laut Belanda, sering disebut Negeri Kincir Angin.

Dulu, kincir angin ini dipakai untuk menggerakkan pompa polder.

Dinegeri kita, pemakaian tandon banjir bukan suatu keharusan. Kalau

bisa, malahan harus dihindari, karena tandon banjir biasanya harus

dilengkapi dengan pompa yang sulit dan mahal, Operasi &

Pemeliharaannya.

Secara skematis Gambar E.30 memberikan urutan “menu” dan “kendala”

penanganan banjir, dimana tandon banjir dan pompa, jatuh pada pilihan

terakhir. Meskipun pada dekade ini, “normalisasi” saluran induk sempat

mencuat sebagai prioritas yang rendah, karena benturan yang tidak

terelakkan dengan pembebasan lahan.

Gambar E. 30 Urutan Menu dan Kendala Penangan Banjir.

U s u l a n T e k n i s E - 28Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 29: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiPilihan untuk membangun kolam tandon mencuat, ketika saluran induk

drainase harus bermuara pada lokasi yang sulit, seperti :

o Langsung ke laut, dengan pasang naik yang tinggi.o Melewati tanggul sungai besar yang muka banjirnya tinggi.

Lokasi ini menyebabkan saluran induk drainase mengalami efek back-

water. Khususnya, pada saat debit puncak drainase terjadi pada saat yang

bersamaan dengan pasang naik air laut atau banjir sungai besar, sehingga

menimbulkan luapan dan banjir.

Keadaan ini dilukiskan pada Gambar E.31 dimana ada dua pilihan untuk

menurunkan muka air back water, yaitu :

o Saluran induk di “normalisasi” (dilebarkan dan diperdalam).o Di buat tandon banjir dimuaranya. Kalau perlu dipasang pintu air, dan

pompa untuk memompa air tandon langsun ke laut atau sungai besar.

Pada kawasan perkotaan, saluran induk melewati permukiman padat,

kumuh, sehingga normalisasi tidak bisa lepas dari dampak negatif, seperti :

o Memerlukan pembebasan lahan, pembongkaran rumah, pemindahan penduduk, “relokasi” fasilitas kota, memperpanjang jembatan kota, dan lain-lain.

o Pada banyak kasus, back-water tidak berhasil diturunkan tuntas, sehingga masih memerlukan tanggul, akibatnya saluran sekunder/tersier sulit membuang alirannya ke saluran induk.

o Mempermudah air laut memasuki daratan, dan menyebabkan intrusi air laut.

o Dengan normalisasi, endapan makin mudah terbentuk. Semakin lebar sungai, maka kecepatan aliran berkurang drastis.

Semakin lebar saluran, semakin sulit proses pengedukan lumpurnya. Paling

tidak harus dipakai alat berat, padahal dulu cukup dikeduk dengan tenaga

manusia.

U s u l a n T e k n i s E - 29Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 30: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 31 Ilustrasi penggunaan tandon.

E.1.9 Peningkatan Luas Badan Air

Peningkatan luas badan air sungai dimaksudkan untuk meningkatkan daya

retensi sungai terhadap air. Komponen retensi alamiah di wilayah sungai,

sempadan sungai, dan badan sungai dapat ditingkatkan dengan cara

menanami kembali sempadan dan sungai yang telah rusak serta

U s u l a n T e k n i s E - 30Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 31: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasimemfungsikan daerah genangan atau polder alamiah di sepanjang

sempadan sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung banjir.

E.1.10Penataan Kawasan Sekitar Waduk

Untuk mendukung terciptanya kawasan waduk yang asri dan terpelihara,

perlu diciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memiliki peran

dalam pemeliharaan kondisi kawasan sekitar waduk. Hal ini dapat

dilakukan diantaranya dengan membuat daerah hijau dan taman di

sekeliling waduk, yang dilengkapi dengan jalan sebagai bagian dari sarana

rekreasi.

E.1.11Pemeliharaan Kebersihan

Sebagai bagian dari penataan sistem drainase yang diiringi oleh program

pengembangan masyarakat, pemeliharaan kebersihan merupakan salah

satu kegiatan yang dapat dilakukan secara langsung oleh masyarakat.

Sedimen dan sampah yang menyumbat di saluran merupakan salah satu

faktor penyebab terjadinya banjir dan genangan. Dengan peran aktif

masyarakat untuk membersihkan saluran dalam ruang lingkup kecil di

sekitar tempat tinggalnya secara rutin maka pemeliharaan sistem drainase

dalam ruang lingkup kawasan yang lebih besar pun akan terbentuk. Peran

serta masyarakat dalam pemeliharaan saluran saluran dari sedimen dan

sampah dapat berupa tindakan langsung pembersihan di lapangan, dan

dapat pula berupa penyediaan dana operasional bagi petugas kebersihan

yang ditunjuk.

E.1.12Penataan Saluran Drainase di Kawasan Industri

Untuk kawasan industri, perencanaan saluran drainase dapat dilakukan

secara terpadu dengan perencanaan jalur kabel listrik, telepon, gas,

maupun kabel lainnya. Penempatan saluran air dan kabel dalam trase

utama di dalam tanah memungkinkan pemeliharaan dilakukan dengan

lebih mudah. Walaupun dalam jangka pendek investasi yang dikeluarkan

untuk konstruksi relatif tinggi, namun untuk jangka panjang biaya

pemeliharaan akan rendah.

U s u l a n T e k n i s E - 31Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 32: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.4. KONSEP PEMBANGUNAN SUNGAI

BERWAWASAN EKOLOGI-HIDRAULIK (EKO-

HIDRAULIK) SEBAGAI SOLUSI

Konsep yang dapat digunakan dalam pengembangan wilayah sungai di Indonesia.

Konsep tersebut adalah konsep pendekatan integralistik Eko-Hidraulik, konsep

Harmonis dan keseimbangan, konsep kesatuan antara development dan

konservation, konsep drainasi kawasan ramah lingkungan, konsep distribusi banjir

dan konsep Eko-Hidraulik untuk penanggulangan banjir.

Konsep pembangunan sungai tersebut di atas berbeda dengan konsep

konvensional penanganan masalah sungai yang selama ini banyak dianut seperti

misal pembuatan talud, ndinding parapet, pembanguan tanggul, pelurusan,

sudetan, relokasi sungai, pembangunan bendung tanpa fishway dll. Konsep yang

akan dibahas ini merupakan landasan utama yang perlu dipakai untuk mengelola

wilayah sungai di Indonesia selanjutnya.

E.1.13 Pendekatan Integralistik Ekologi dan Hidraulik,

Harmonis Antara Perilaku Alamiah dan Pembangunan

dan Kesatuan Antara Konservasi dan Pembangunan

E.1.13.1 Integralistik Ekologi dan Hidraulik (Eko-Hidraulik)

Holistic concept: River is a complex system, therefore, it's development and

restoration needs holistic approach by giving considerations due to all

corresponding fields (Konsep holistik; Sungai adalah suatu sistem yang komplek,

oleh karena itu pengembangannya dan restorasinya memerlukan pendekatan

holistik dengan mempertimbangkan seluruh faktor yang berhubungan dengan

sungai).

Definisi lama mengenai sungai, bahwa sungai adalah suatu alur di

permukaan bumi yang berfungsi sebagai saluran drainasi dan terdiri dari aliran air

dan sedimen terangkut, perlu diadakan koreksi secara subtansial. Sungai dalam

konsep integralistik didefinisikan sebagai suatu sistem keairan terbuka yang

padanya terjadi interaksi antara faktor biotis dan abiotis yaitu flora fauna disatu sisi

dan hidraulika air dan sedimen disisi yang lain, serta seluruh aktivitas manusia yang

berhubungan langsung atau tidak langsung dengan sungai.

Jadi pada pembangunan wilayah sungai dengan konsep integralistik, semua faktor

yang terkait perlu mendapatkan perhatian dengan porsi yang sesuai, sehingga tidak

U s u l a n T e k n i s E - 32Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 33: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasiada komponen dalam ekosistem sungai yang hancur. Kehancuran salah satu rantai

ekosistem sungai (misal flora) maka akan menyebabkan kehancuran komponen

yang lain misal fauna, retensi hidraulis dan erosi tebing sungai. Gambar dibawah ini

menunjukkan komponen-komponen penyusun suatu sungai.

Gambar E. 32 Integralistik komponen ekologi-hidraulik (profit sungai)

Konsekuensi dari konsep integralistik ini adalah bahwa perencanaan dan

pelaksanaan pembangunan maupun pengembangan sungai harus melibatkan

seluruh tenaga ahli yang kompeten pada masing-masing komponen ekosistem

sungai tersebut. Sungai yang selama ini hanya dikelola oleh salah satu instansi

(KIMPRASWIL) perlu sesegera mungkin diadakan perombakan dengan memasukkan

pengelola yang terkait lainnya seperti kehutanan, pertanian, lingkungan hidup

(ekologi), perindustrian dan Sosial. KIMPRASWIL atau Dinas PU yang ada

nampaknya tidak pernah akan mampu melaksanakan tugas pengelolaan sungai

secara multisektor.

E.1.13.2 Harmonis Antara Karakteristik Alamiah dan Pembangunan

Harmony concept: Technical river developments must be harmoniously

conducted with consideration of natural riverbehaviors (Konsep keseimbangan:

Teknik rekayasa pada sungai harus diharmoniskan dengan kondisi dan perilaku

alam). Dalam pembangunan di wilayah sungai, perilaku sistem alamiah sungai

U s u l a n T e k n i s E - 33Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 34: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasiperlu didefinisikan terlebih dulu secara mendetail (lihat Bab I Sungai Sebagai

Sistem Komplek dan Teratur).

Sungai dengan segala karakteristik alamiahnya telah membentuk komposisi

yang paling stabil dibandingkan dengan komposisi buatan. Sehingga perubahan

terhadap karakteristik alamiah akan menurunkan kemampuan sungai untuk

menjaga keseimbangannya. Perubahan karakteristik sungai oleh bangunan teknis

pertama akan direspon oleh sungai dengan berbagai perubahan karakteristik yang

tidak hanya terjadi di daerah yang diubah namun juga terjadi di bagian lainnya

dialur sungai yang bersangkutan.

Konsep keseimbangan adalah upaya yang perlu dilakukan dalam

penanganan sungai sehingga tidak mengganggu keseimbangan yang sudah ada.

Justru keseimbangan sungai tersebut perlu dimanfaatkan dalam rangka

pengembangan sekaligus konservasi.

Sebagai contoh dalam upaya mengatasi longsoran tebing dapat digunakan

dua pilihan penyelesaian yaitu dengan membangun talud memanjang alur sungai

dan dengan menanam vegetasi yang cocok di sepanjang alur sungai yang tererosi

tersebut. Pilihan pertama dipandang dari keseimbangan sungai sangat kontradiktif.

Karena dengan pembuatan talud, sungai akan mengalami destabilisasi. Di bagian

yang ditalud mengalami kenaikan kecepatan arus sehingga mengakibatkan erosi

dasar dan di bagian hilir setelah talud akan menerima energi yang tinggi yang

dapat menyebabkan erosi maupun banjir. Destabilisasi ini berlangsung bersamaan

dengan proses menuju stabilitas baru. Stabilitas barn akan memerlukan kompensasi

berupa erosi dan endapan di tempat-tempat tertentu yang sebelumnya tidak ada.

Stabilitas baru juga memerlukan waktu yang sulit diprediksi. Dengan mengaktifkan

kembali komponen ekologi vegetasi alamiahnya maka baik longsor, banjir di hilir,

mekanisme outflow inflow, kekeringan musim kemarau dll. dapat dihindarkan.

Gambar E.33 menyajikan perbandingan antara konstruksi yang harmonis antara

karakteristik sungai dan yang tidak harmonis.

U s u l a n T e k n i s E - 34Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 35: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 33 Perkuatan Tebing; bagian kanan harmoni antara

pembangunan dan karaktistik sungai (talud ramah lingkungan) sedang

bagian kiri tidak harmoni antara pembangunan dan karakteristik sungai

(talud tidak ramah lingkungan).

E.1.13.3 Kesatuan Antara Konservasi din Pembangunan (conservation and

development)

Integrated view of river development and conservation: Let rivers be natural

rivers, if their potentials must be exploited, measures must be taken to eliminate all

negative impacts from such developments (Eksplorasi dan konservasi sungai;

Sungai harus dipelihara seperti sungai alamiah, jika akin dibangun atau

dimanfaatkan potensinya, harus diusahakan sejauh mungkin untuk menanggulangi

dampak negatif yang muncul secara integral dari pembangunan ini).

Konsep exploitation-conservation ini merupakan konsep tunggal yang dalam

setiap penyelesaian permasalahan di wilayah keairan perlu digunakan secara

integral. Philosofi din metode yang dikembangkan harus secara otomatis

mengandung unsur development din conservation. Dalam hal ini konservasi tidak

hanya dipandang sebagai kegiatan pasif jika dampak negatif telah muncul, namun

sebagai kegiatan aktif yang dikembangkan secara bersama-sama dengan

development.

Sebagai misal sekali lagi ketika terjadi longsoran tebing sungai, penyelesaian

masalah bisa dilakukan dengan membuat talud beton atau pasangan batu atau

U s u l a n T e k n i s E - 35Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 36: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasidengan membuat talud ramah lingkungan yang terbuat dari tumpukan batu kosong

din vegetasi. Dalam konsep river development and conservation maka dipilih talud

ramah lingkungan bukan talud beton atau pasangan batu karena talud ramah

lingkungan merupakan kombinasi dari pembangunan din konservasi sungai.

E.1.14 Drainasi Bebas Banjir dan Ramah Lingkungan

Drainage and resistance concept: Release of access waterto the rivers at an

optimal time which doesn't cause hygienic problems and flood problems such as

increase of river 'peak discharge' and accelerate of river 'peak time' (Konsep

drainasi din retensi; Drainasi air kelebihan ke sungai harus diusahakan sedemikian

sehingga tidak menyebabkan masalah kesehatan din tidak meningkatkan

kemungkinan banjir di hilir seperti meningkatkan banjir puncak din memendeknya

waktu mencapai puncak).

Konsep drainasi konvensional (lama) menekankan pada upaya membuang

atau mengatuskan air kelebihan, dalam hal ini air hujan secepatcepatnya ke

sungai. Konsep ini jika ditinjau lebih jauh akan menimbulkan dampak negatif yang

sangat besar. Dengan diatuskannya air kelebihan ke sungai kemudian ke laut akan

menyebabkan berbagai dampak negatif diantaranya

a. Konservasi air di kawasan yang didrain rendah, dengan kata lain terjadi

penurunan resapan air permukaan ke dalam tanah

b. Banjir di bagian hilir di musim hujan, karena akumulasi air drainasi yang

dibuang secepat-cepatnya ke sungai. Sedang pada musim kemarau terjadi

kekeringan, karena tidak ada suplai air dari air tanah ke dan dari sungai.

c. Fluktuasi debit sungai dan termasuk air tanah yang terkait akan sangat tinggi

pada musim hujan dan kemarau. Hal ini dapat meningkatkan kelongsoran

tanah.

d. Flukstuasi alamiah debit dan muka air sungai berubah, sehingga dapat

mengganggu ekosistem atau ekologi sepanjang sungai

e. Muka air tanah akan cenderung turun karena infiltrasi rendah. Penurunan ini

membawa akibat pada gangguan ekologi dan juga dimungkinkan terjadi

penurunan muka tanah (land subsidence). Pada musim penghujan seluruh

air permukaan didrain dan juga pada musim kemarau. Akibat proses ini

muka air tanah turun terbentuk ruang-ruang kosong dalam struktur tanah.

Ruang kosong dalam tanah ini memungkinkan terjadinya penurunan tanah

diatasnya. Cara penanggulangan penurunan tanah ini adalah dengan cara

membuat kanal-kanal yang membagi-bagi daerah menjadi kawasan-

kawasan yang dikelilingi kanal. Kanal tersebut tidak berfungsi sebagai

pengatus air dari kawasan yang dibuang ke laut, namun berfungsi sebagai

U s u l a n T e k n i s E - 36Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 37: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasikolam drainasi kawasan, yang padanya terkumpul air hujan kelebihan.

Tekanan air di kanal-kanal tersebut selanjutnya dapat mempertahankan

daya dukung tanah sekaligus mencegah terjadinya pori-pori kosong.

Solusi masalah konsep drainasi ini adalah dengan menetapkan konsep

drainasi ramah lingkungan. Dalam hal ini drainasi harus didefinisikan sebagai

usaha untuk mengalirkan air kelebihan (air hujan) dengan cara meresapkan air

kedalam tanah, menyimpan dipermukaan tanah untuk menjaga kelembaban udara

dan mengalirkan ke sungai secara proposional sehingga tidak menyebabkan

tambahan beban banjir di sungai.

Dalam segala aspek konsep drainasi konvensional perlu segara direvisi

dengan konsep drainasi ramah lingkungan, missal drainasi perkebunan, pertanian

(irigasi), drainasi kawasan, perkotaan dan perumahan. Drainasi yang sampai

sekarang digunakan untuk masalah tersebut adalah drainasi konsvensional.

Untuk perumahan misalnya, seluruh saluran drainasi perumahan

mengatuskan air dari wilayah perumahan tersebut dan dialirkan secepatnya ke

sungai. Dalam irigasi teknis, selalu dibangun saluran drainasi yang berfungsi

mengatuskan kawasan ketika musim hujan. Pada areal perkebunan dibuat drainasi

memotong kontur tanah untuk secepatnya mengatuskan air yang mungkin

tergenang. Pada wilayah perkotaan, semua mater plan kota mengguanakan

konsep drainasi konvensional dengan menarik garis terpendek dari wilayah yang

bersangkutan menuju sungai terdekat. Pola drainasi konvensional tersebut secara

simultan akan menjadi penyebab banjir dan kekeringan yang serius.

Gambar E.34 dan E.35 di bawah ini menyajikan revisi drainasi konsvensional

menjadi drainasi ramah lingkungan.

U s u l a n T e k n i s E - 37Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 38: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 34 Drainasi konvensional (atas) dan drainasi ramah lingkungan

(bawah)

Gambar E. 35 Drainasi perumahan ramah lingkungan dengan kolam

drainasi (kolam konservasi air hujan)

Hal lain yang memperparah dampak drainasi konvensional serta

memperparah dan mempercepat kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah

konsep penyebaran pemukiman yang sangat distruktif bagi DAS yang

bersangkutan.

Penyebaran pemukiman yang terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia

adalah "penyebaran merata"., dimana perumahan dan pemukiman menyebar

secara hortizontal ke seluruh DAS. Sehingga dalam waktu relatif pendek hampir

seluruh DAS terpenuhi pemukiman. Contoh penyebaran merata ini dapat kits

jumpai di wilayah Medan, Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Yogyakarta,

U s u l a n T e k n i s E - 38Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 39: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiSurabaya, Malang, Makasar dll. Penyebaran horizontal ini mempunyai dampak

terhadap lingkungan yang sangat distruktif, karena DAS akan rusak total setelah

hanya sepertiga dari lugs DAS tersebut didirikan pemukiman. Hal ini disebabkan

karena setiap luasan perumahan membutuhkan areal 3 kali lipat dari luasan fisik

perumahan tersebut. Misalnya rumah tipe 36 biasanya membutuhkan lugs tanah

100 m2, rumah tipe 25 membutuhkan luas tanah 90 m2, dst.

Jika DAS telah dikuasai pemukiman, sedang drainasi pemukiman dan

sekitarnya menggunakan konsep drainasi konvensional seperti diuraikan

sebelumnya, maka banjir di hilir akan terjadi dengan intensitas tinggi dan

konservasi air di huiu menurun. Cara penyelesaian masalah ini adalah

mengembangkan konsep pemukiman ramah lingkungan, dengan cara membangun

daerah-daerah satelit dengan mengkonsentrasikan perumahan hanya di sekitar

daerah satelit tersebut. Perumahan harus didesain vertikal (rumah tingkat)

sehingga areal yang dibutuhkan mengecil. Berikut ini disajikan ilustrasi penyebaran

pemukiman tidak ramah lingkungan (penyebaran jamur) dan yang ramah

lingkungan (penyebaran satelit).

U s u l a n T e k n i s E - 39Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 40: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiGambar E. 36 Penyebaran pemukiman tidak ramah lingkungan (A) dan

ramah lingkungan, penyebaran satelit terkonsentrasi dan vertikal (B)

Disamping secara drainasi sangat tidak direkomendasi, penyebaran

pemukiman merata dan horizontal ini akan menyebabkan pencemaran lingkungan

wilayah keairan yang lebih lugs dan sulit untuk dilokalisir. Demikian juga polo

merata ini akan memakan dana yang sangat tinggi untuk pembangunan sarana-

prasarana dan seluruh infrastruktur pemukiman tersebut. Polo tersebut merupakan

polo yang sangat tidak efisien baik ditinjau dari sisi ekologi dan ekonomi.

E.1.15 Konsep Distribusi Banjir Eko-Hidraulik

Flood distribution concept: Disperse the local large floods into many small

floods along the river systems (Konsep distribusi banjir; Banjir lokal yang besar

sebaiknya bisa dibagi-bagi menjadi banjir kecil-kecil di sepanjang alur sungai).

Sebenarnya banjir diperlukan oleh ekosistem sepanjang sungai sebagai faktor

penting kelangsungan hidup flora dan fauna sungai. Sedang flora dan fauna sungai

merupakan komponen sungai yang sangat vital kaitannya dengan peredaman

banjir dan erosi disepanjang alur sungai.

Kegiatan penanggulangan banjir dengan mengadakan normalisasi, sudetan

dan pelurusan sungai pada dasarnya hanya memindahkan banjir tersebut ke

bagian hilir. Jika dibagian hulu dan tengah dilakukan usaha penanggulangan banjir

dengan metode tersebut maka dapat dipastikan bahwa secara simultan akan

terjadi banjir besar di hilir. Banjir alamiah adalah banjir yang terjadi di sepanjang

alur sungai, yang sudah barang tentu debitnya relatif kecil karena didistribusi

merata sepanjang sungai.

U s u l a n T e k n i s E - 40Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 41: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 37 Ilustrasi banjir terdistribusi sepanjang aliran sungai

Distribusi banjir sepanjang sungai ini berfungsi sekaligus sebagai metode

konservasi air, karena distribusi berarti juga memperpanjang waktu meresap air ke

tanah. Dengan distribusi banjir di sepanjang sungai dapat memperkecil fluktuasi

debit sepanjang sungai. Fluktuasi debit yang stabil berarti menghindarkan banjir

musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Tentu saja perlu perbaikan di

daerah aliran sungainya.

_

U s u l a n T e k n i s E - 41Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 42: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 38 Banjir besar terkonsentrasi di satu tempat (bagian hulu

ditanggul, disudet ataun diluruskan)

E.1.16 Konsep Penanganan Sungai Kecil

Development, conservation and restoration of rivers muss be started from

the small rivers ("In the small thing hide the big thing') (pembangunan, konservasi

dan restorasi sungai; pembangunan dan restorasi sungai harus dimulai dari sungai

yang paling kecil, di dalam yang kecil itu tersimpan rahasia hal yang besar).

E.1.16.1 Kekeringan di Daerah dan di Perkotaan

Kekeringan sebenarnya tidak hanya melanda daerah-daerah lahan pertanian,

namun di perkotaanpun sebenarnya dilanda kekeringan. Keringan perkotaan

umunya ditandai dengan rendahnya debit sungai-sungai kecil yang melintasi kota

yang bersangkutan atau bahkan tidak ada aliran air sama sekali. Sungai kecil dan

menengah di perkotaan biasanya menjadi keranjang sampah dan saluran comberan

kota yang "mambek", baunya menyengat tanpa ada penggelontoran.

U s u l a n T e k n i s E - 42Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 43: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiLebih dari 50 tahun pembangunan fisik Indonesia, khususnya pada

pembangunan wilayah keairan, melupakan pengelolaan dan pelestarian sungai

kecil. Ribuan bahkan jutaan sungai kecil yang sebenarnya dapat berfungsi untuk

menanggulangi kekeringan, mengendalikan banjir, mengkonservasi air dan ekologi

dari suatu kawasan, telah hancur total. Sungai kecil di hampir diseluruh daerah

perkotaan dan pinggiran telah dirubah menjadi saluran pembuangan limbah cair

dan padat serta dirubah bentuknya dari sungai alamiah dengan komponen ekologis

dan hidrologisnya menjadi kanal comberan yang busuk baunya dengan kualitas

yang sangat rendah.

E.1.16.2 Kesalahan Pemahaman Tentang Sungai Kecil

Kesalahan fatal ini terjadi jelas karena keawaman masyarakat terhadap filosofi dan

kegunaan sungai kecil. Pemahaman bahwa sebenarnya sungai kecil merupakan

bagian terpenting dari sistem sungai dan padanya tersimpan rahasia kejadian

kekeringan, banjir dan kerusakan wilayah keairan secara menyeluruh dari suatu

kawasan, sama sekali belum berkembang. Maka perlu dibuka fenomena barn

tentang pentingnya sungai kecil, berikut usaha yang diperlukan untuk melestarikan

dan merepitalisasikan fungsinya, sebelum kekeringan, banjir dan kehancuran

lingkungan yang lebih fatal terjadi.

Sungai dapat dibedakan secara sederhana menjadi kelompok sungai kecil,

sungai sedang dan sungai besar. Contoh sungai besar di Jawa misalnya; Bengawan

Solo, Ciliwung, Citandui, Brantas, dll, di Sumatra misalnya; Musi, Siak, Indragiri dll.,

di Kalimantan misalnya; Mahakam, Kapuas, dll. Sungai sedang adalah anak sungai

langsung dari sungai-sungai besar tersebut. Sedangkan sungai kecil adalah seluruh

sungai setelah sungai sedang. Untuk lebih mudahnya, sungai kecil dapat

didefinisikan sebagai sungai yang umumnya melintas di sekitar kits yang lebarnya

hanya sekitar 0,5 m sampai 20 m saja baca Buku Eko-Hidraulika Pembangunan

Sungai, Maryono,A. 2002).

E.1.16.3 Akibat Keterlantaran dan Pembangunan Sungai Kecil

Aktivitas manusia (antropogenik activities) dalam menangani sungai kecil

(juga pada sungai sedang dan besar) merupakan faktor yang sangat penting pada

perubahan ekologi maupun hidraulik sungai yang bersangkutan. Pembangunan

pada sungai kecil, misalnya; pembuatan talud pasangan batu dan beton,

pengurugan tebing sungai, penyempitan tampang sungai, menggunakan daerah

bantaran sungai kecil untuk fasilitas umum dll. Tanpa disadari bahwa kegiatan

tersebut sangat kontra produktif dan bahkan berpengaruh dapat menyebabkan

terjadinya kekeringan, banjir dan kerusakan ekologi lingkungan.

U s u l a n T e k n i s E - 43Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 44: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiDengan pembetonan tebing sungai misalnya, berarti menutup seluruh suplai

air tanah dari tebing sungai yang bersangkutan. Perlu disadari bahwa di sepanjang

tebing sungai terdapatjutaan mata air baik yang berskala mikro (kecil) maupun

makro (besar). Mata air ini lah sebagai pensuplai air utama di sungai kecil. Dengan

matinya jutaan mata air ini, maka debit sungai di musim kemarau akan mengecil

secara drastis. Kekeringan akan terjadi karena pasokan air dari dan ke sungai tidak

ado lagi. Lahan di sekitar sungai menjadi kering karena tidak dapat lagi terjangkau

air sungai kecil ini. Demikian juga, debit yang kecil ini jelas tidak mampu lagi

menjadi faktor pengencer air kotor sungai tersebut. Sehingga sungai-sungai kecil di

daerah perkotaan dan pinggiran pada musim kemarau dipenuhi oleh air limbah

perkotaan yang hampir tidak mengalir dan bahkan mengendap di badan sungai

yang bersangkutan. Pada musim penghujan, karena tampang alirannya yang

mengecil dan banyak endapan sampahnya, maka sungai kecil perkotaan ini tidak

mampu lagi meresapkan dan mengalirkan air yang ado di ingkungannya. Akibatnya

adalah terjadinya banjir dan genangan sampah di lingkungan tersebut.

Akibat lain dari pembuatan talud dinding sungai kecil ini adalah matinya

ekosistem sungai secara total. Berbagai jenis plankton, mikroorganisme air, biota

air, amphibi dan seluruh vegetasi tebing sungai mengalami kepunahan masal.

Seluruh amphibi sungai misalnya punch karena mereka tidak bisa naik dan turun ke

sungai lagi, sebagian besar ikon, kepiting, udang dan kerang punch karena

habitatnya berubah total. Dalam ilmu ekologi, kepunahan satu mata rantai utama

suatu ekosistem pasti berakibat kematian seluruh pendukung ekosistem lainnya.

Dengan hancurnya ekologi sungai kecil ini, maka sungai tidak mampu lagi untuk

menguraikan limbah yang ada. Sisasisa bahan organik sama sekali tidak dapat

diuraikan dan akan tetap membusuk dan tertahan di sungai tersebut. Inilah

penyebab utama kenapa sungai kecil di kota dan terutama yang telah dibeton atau

ditalud justru mengalami kehancuran total menjadi saluran comberan hitam dan

berbau.

Akibat yang sama, yaitu kekeringan di musim kemarau, banjir di musim

hujan dan rusaknya lingkungan, juga akan terjadi jika aktivitas pengurugan sungai

kecil, penyimpitan tampang sungai kecil, penjarahan bantaran sungai kecil dan

aktivtas lain yang tidak didasari dengan konsep kelestarian ekologishidraulis

dilakukan terus-menerus.

E.1.16.4 Solusi Revitalisasi Sungai Kecil

Dengan kondisi sungai kecil di kota dan daerah pinggiran diseluruh Indonesia yang

sudah hancur ini, tidak ada upaya lain yang lebih penting untuk dilakukan kecuali

memperbaiki kembali kondisi ekologi dan hidrologi sungai kecil tersebut. Perlu

U s u l a n T e k n i s E - 44Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 45: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasidikembangkan talud ramah lingkungan yang mampu menahan erosi dan longsoran

tebing namun sekaligus tidak merusak ekosistem pinggir sungai. Mengadakan

pelarangan terhadap pengurugan, penyempitan dan penutupan total alur sungai

kecil. Sesegera mungkin menetapkan daerah bantaran sungai kecil yang tidak

boleh dieksploatasi. Memperbaiki kondisi ekologi-hidraulik sungai kecil berarti juga

memperbaiki kondisi DAS secara keseluruhan. Perhatian pemerintah yang selama

ini hanya ditujukkan ke sungai-sungai besar saja perlu dikoreksi secara substansial.

Harus disediakan dana cukup untuk mengelola sungai kecil perkotaan dan

pinggiran, mengembalikannya lagi ke fungsi vitalnya sebagai komponen tata air

utama dari suatu kawasan. Memberdayakan masyarakat dan meningkatkan

perannya dalam pengelolaan sungai kecil dengan berwawasan lingkungan.

E.1.17 Implementasi Penentuan Batas Wilayah Sungai

Gambar E. 39 Wilayah Sungai (Daerah memanjang jari-jari sungai dari hilir

hingga hulu selebar lebar sempadan sungai)

U s u l a n T e k n i s E - 45Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 46: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiWilayah sungai pada dasarnya adalah wilayah yang berbatasan langsung

dengan sungai beserta komponen-komponen yang terkait langsung dengan sungai.

Secara lateral (memanjang) wilayah sungai adalah seluruh wilayah yang dilewati

alur sungai selabar daerah sempadan sungai. Secara melintang wilayah sungai

adalah daerah sempadan sungai yang terdiri dari seluruh daerah yang pada waktu

banjir maksimal di tergenang air (bantaran banjir), ditambah daerah tebing sungai

dan longsoran serta daerah ekologi penyangga ekosistem sungai. Wilayah sungai

dapat digambarkan seperti pada Gambar E.39 di atas.

Dalam penentuan wilayah sungai, yang paling penting adalah bagaimana

menentukan lebar bantaran sungai. Penentuan lebar bantaran ini sangat penting

kaitannya dengan penetapan batas dimana bangunan fisik tidak boleh dibangun di

dalam batas tersebut.

Hal ini mengakibatkan tidak tegasnya aparat dan pemerintah daerah tidak

bisa secara tegas menentukan lebar bantaran sungai. Kerancuan ini berakibat

kebingungan para penduduk sejauh mans mereka masih bisa mendirikan

bangunannya di tepi sungai. Sehingga sekarang ini banyak masyarakat yang

membangun rumahnya di pinggir sungai dengan alasan tidak ado ketentuan yang

jelas lebar bantaran sungai yang harus dibebaskan dari bangunan permanen atau

semi permanen. Di bawah ini ilustrasi pembangunan perumahan di tepi sungai

dewasa ini marak dkerjakan di Indonesia.

Gambar E. 40 Kecenderungan Pembangunan Perumahan di bantaran

Sungai

U s u l a n T e k n i s E - 46Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 47: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 41 Tipe umum sungai dan penentuan lebar daerah bantaran

sungai

Gambar E.41 menunjukkan 3 buah tipe sungai, yaitu tipe A adalah sungai

dengan bantaran banjir (flood plain) sempit terutama ditemukan pada sungai di

daerah tengah (midstream) sampai memasuki daerah hilir (downstream), Tipe B

adalah sungai dengan bantaran banjir lebar terutama ditemukan di daerah tengah

bagian akhir sampai hilir; sedang Tipe C merupakan sungai tanpa bantaran banjir

U s u l a n T e k n i s E - 47Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 48: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasiatau tebing sungai cukup terjal pada umumnya ditemukan di daerah hulu

(upstream) sampai masuk ke daerah tengah.

Pada dasarnya penentuan lebar bantaran sungai harus didasarkan pada peta

kontur geografis morphologis (geo-morpho) sungai, tinggi muka air banjir

maksimum dan garis sliding (longsoran). Sehingga lebar bantaran untuk sepanjang

sungai sebenarnya tidak bisa diambil secara seragam. Demikian juga lebar

bantaran sungai satu dengan yang lain. Lebar bantaran secara ekologis,

geomorphologis dan hidraulis ditentukan sebagai berikut:

a. Untuk sungai tipe A dan B (dengan bantaran banjir, pada umumnya sungai

di bagian hilir dan tengah); lebar bantarannya adalah selebar muka air

pada waktu banjir maksimal yang melimpah ke kedua sisi sungai. Jika

secara geomorphologis masih ada tebing setelah batas muka air banjir

maksimal ini, maka lebar bantaran harus ditambahkan lebar

kemungkinan sliding (longsoran tebing).

b. Untuk sungai tipe C (tanpa bantaran banjir, pada umumnya sungai di bagian

hulu/pegunungan). Lebar bantaran adalah diukur dari batas akhir tebing

bagian atas ditambah dengan lebar kemungkinan sliding (longsoran).

Lebar bantaran tersebut merupakan lebar minimal secara teknis. Untuk

menentukan lebar sempadan sungai perlu dipertimbangkan/ditambahkan lebar

ekologi penyangga dan lebar keamanan sungai. Lebar ekologi penyangga adalah

lebar daerah sempadan sungai di luar daerah bantaran banjir dan bantaran longsor

yang secara ekologi masih punya keterkaitan dengan ekologi sungai yang

bersangkutan. Untuk menentukan lebar ekologi penyangga perlu dilakukan

penelitian flora dan fauna pinggir sungai. Lebar ekologi tidak dapat dibuat seragam

untuk setiap sungai atau untuk satu sungai dari hulu sampai hilir, perlu diadakan

pembagian zone hulu tengah dan hilir.

Secara teknis lebar keamanan sungai ini diambil sesuai dengan tingkat

resiko banjir. Di daerah dengan padat penduduk lebar keamanan lebih besardari

pada di daerah jarang penduduknya. Namun secara sosial justru berkebalikan.

Karena desakan pemukiman di daerah padat justru para umumnya sulit diterapkan

lebar keamanan sungai yang lebih besar dari pada di daerah tanpa penghuni. Untuk

menentukan lebar keamanan perlu kebijakan yang memasukkan pertimbangan

soisal, ekonomi dan geografi setempat.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dirangkum bahwa lebar

sempadan sungai terdiri dari lebar bantaran banjir (flood plain), lebar bantaran

longsor (sliding zone), lebar bantaran ekologi penyangga (ecological buffer zone)

U s u l a n T e k n i s E - 48Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 49: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasidan lebar kemanan (safety zone). Berikut ini disajikan lebar sempadan sungai yang

dikembangkan dari konsep eko-hidraulik.

Gambar E. 42 Lebar sempadan sungai dengan pendekatan konsep eko-

hidraulik

U s u l a n T e k n i s E - 49Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 50: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.1.18 Implementasi Konsep ORPIM (One River One Plan One

Integrated Management)

E.1.18.1 Konsep Integralistik Dalam ORPIM

Gambar E. 43 Kesatuan sungai dalam menejemen (ORPIM) termasuk

kesatuan dalam pengelolaan DAS.

Resep penanganan sungai tidak bisa dilakukan secara partial, sepotong-

sepotong. Penyelesaian harus secara integral, jika tidak maka hanya gali lubang

tutup lobang, artinya penanganan sungai malahan dapat menimbulkan masalah

sungai baru. Dalam penanganan banjir misalnya, balk penanganan banjir jangka

pendek, menengah dan panjang diperlukan implementasi konsep One river one

plan and one integrated management, ORPIM (satu sungai satu perencanaan dan

satu menejemen dari hulu sampai hilir). Artinya bahwa dalam menangani segala

masalah yang berkaitan dengan sungai atau wilayah keairan baik masalah banjir,

masalah pencemaran lingkungan dan kualitas air, masalah pemanfaatan sumber

daya air untuk irigasi, listrik, air minum dan pengembangan sungai untuk wisata,

harus direncanakan dan ditangani secara integral dari daerah di hulu sampai di

hilirsungai secara bersama-sama.

Cara integral juga dimaksudkan dengan mengikut sertakan seluruh

komponen yang terkait dengan sungai atau wilayah keairan tersebut dari hulu

sampai ke hilir dengan mengelola segala aspek yang berpengaruh, baik aspek

sosial budaya, kelembagaan, ekologi, hidrologi, hidraulika, kualitas air, geologi,

U s u l a n T e k n i s E - 50Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 51: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasigeografi, maupun rencana tats ruang dll. Dalam konsep ini berlaku sistem sharing

dana dan tanggung jawab antara hulu tengah dan hilir.

E.1.18.2 Penanganan Wilayah Sungai

Untuk penanganan wilayah sungai jangka panjang, di samping solusi teknis

dan ekologis juga perlu solusi sosial budaya. Konsep solusi teknis adalah dengan

mengembangkan sistem peringatan dini dengan mengkonversikan data hujan ke

debit banjir di sungai di bagian tengah dan hilir. Konsep solusi ekologis dengan

meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-hidraulis) disepanjang alur sungai dari

hulu hingga hilir untuk redaman banjir. Menahan air di bagian hulu dan hilir.

Membagi air kelebihan (banjir) di sepanjang alur sungai dari hulu sampai hilir

menjadi banjir kecil-kecil (flood distributions concept) dari pada terkumpul banjir

besar di suatu tempat tertentu. Secara berkala membebaskan daerah bantaran

sungai dari hunian atau konstruksi lain (re-naturalisation). Menerapkan konsep

drainasi baru (free flood drainage concept) untuk bagian tengah dan hulu yaitu

upaya membuang air kelebihan selambat-lambatnya ke sungai dengan syarat tidak

menimbulkan masalah kesehatan lingkungan. Membuat sistem monitoring dan

perencanaan integral dari hulu sampai hilir terhadap segala kegiatan yang dapat

menyebabkan banjir (holistic concept). Sehingga setiap kegiatan yang akan

dilakukan misal pendirian lapangan Golf, pusat industri dll. Harus dianalisis

banjir yang akan ditimbulkannya. Dari aspek sosial perlu diadakan kampanye

pembelajaran sosial penanggulangan banjir masal dengan sasaran masyarakat lugs

dengan melibatkan ahli-ahli sosial dan antropologi sehingga tercipta kesadaran

masal masyarakat.

E.1.19 Konsep Eko-Hidraulik dalam Penanggulangan Banjir

Penanganan banjir, nampaknya tidak bisa diselesaikan dengan mertode-

metode konvensional lagi. Metode konvensional penyelesaian banjir yang sering

dipakai di Indonesia adalah dengan membuat sudetan sungai, normalisasi sungai,

pembuatan tanggul, pembuatan talud dan segala macam konstruksi sipil keras

konvensional lainnya. Kiranya para ahli banjir dan dings terkait harus berfikir keras

untuk lebih konverhensif dalam penyelesaian banjir ini dan tidak terfokus dengan

metode konvensional di atas, sehingga secara berkelanjutan banjirdapatdikurangi

atau dihindarkan.

U s u l a n T e k n i s E - 51Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 52: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiE.1.19.1 Konsep Eko-Hidraulik (Eco-hydraulics) dan Konsep Hidraulik Murni

(Convensiona/ Hidraulic)

Metode penyelesaian banjir yang ingin diketengahkan disini adalah metode

ecological hydraulics (Eko-hidraulik). Konsep Eko-hidraulik dalam penyelesaian

banjir sangat berbeda dengan konsep konvensional atau cara hidraulik murni yang

disebutkan di atas. Konsep Eko-hidraulik dalam penyelesaian banjir bertitik tolak

pada penanganan penyebab banjir secara integral, sedang konsep konvensional

hidraulik murni bertitik tolak pada penanganan secara lokal akibat dari banjir.

Gambar E. 44 Ilustrasi ideal penanggulangan banjir dengan konsep eko-

hidraulik (FAO & Prinz, 1999)

Konsep Eko-Hidraulik memasukkan dan mengembangkan unsur ekologi

atau lingkungan dalam penyelesaian banjir, sementara konsep hidraulik murni

justru merusak dan menghancurkan lingkungan dalam menyelesaikan banjir.

Konsep hidraulik murni melihat banjir sebagai bukti munculnya daya rusak air

yang hebat, sementara Eko-Hidraulik melihat fenomena banjir bukan sebagai

munculnya daya rusak air, namun banjir diartikan sebagai akibat kerusakan

lingkungan sehingga daya retensi lingkungan terhadap banjir hilang. Dalam

konsep Eko-hidraulik tidak dikenal istilah daya rusak air untuk memberi julukan

banjir. Namun dikenal dengan rusaknya retensi lingkungan atau daya dukung

lingkungan yang berakibat sering munculnya debit sungai yang ekstrim atau

U s u l a n T e k n i s E - 52Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 53: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasibanjir. Gambar E.44 menunjukkan konsep Eko-hidraulik komprehensif dalam

menanggulangi banjiratau mengelola DAS.

E.1.19.2 Dampak Penanganan Banjir dengan Konsep Hidraulik

Murni

Penyelesaian dengan konsep konvensional yaitu dengan sudetan, pelurusan,

pembuatan tanggul, perkerasan tebing (taludisasi), normalisasi, pembabatan

vegetasi bantaran dll. telah diakui oleh sebagian besar ahli hidro di dunia baik di

Amerika, Jepang, Australia, dan Eropa dan juga di Indonesia justru akan

menciptakan bahaya banjiryang lebih besardan frekuensi banjiryang lebih sering.

Disamping itu cara ini menyebabkan kerusakan yang sangat serius dan dasyat bagi

ekologi sungai secara keseluruhan, sehingga fungsi hidraulik dan ekologi sungaiya

hancur. Pelurusan, sudetan dan tanggul misalnya akan menyebebakan terjadinya

tendensi banjir di hilir lebih tinggi dan menurunkan tingkat retensi di sepanjang

sungai sehingga konservasi air akan menurun drastis. Kekeringan akan lebih

intensif karena membangun pelurusan, tanggul dan sudetan berarti pengatusan air

secepatnya ke hilir, sehingga air tidak berkesempatan meresap ke tanah. Tata air

disepanjang sungai yang dilurusakan, disudet atau ditanggul akan rusak total.

Bekas-bekas sungai atau sungai lama yang terpotong (oxbow) akan menimbulkan

masalah baru, misalnya sebagai sarang nyamuk dan lambat laun menjadi dangkal.

Biasanya masayarakat akan menyerang daerah oxbow ini untuk dijadikan daerah

hunian atau pertanian, karena derah ini biasanya merupakan daerah tak bertuan.

Banjir dapat mengancam lagi di daerah oxbow ini, karena di daerah oxbow praktis

tidak ada air yang mengalir keluar. Sementara sudetan di daerah hilir (wilayah

pantai) telah menyebabkan terjadinya instabilitas garis pantai. Daerah muara

sungai lama akan terjadi abrasi besar-besaran dan daerah muara sudetan baru

akan terbentuk reklamasi yang cepat (contoh konkret adalah masalah abrasi di

pantai utara Jawa missal di daerah Cirebon). Dampak negatif metode konvensional

hidraulik murni ini kiranya sudah sangat jelas dan mudah dicerna oleh masyarakat

awam sekalipun (baca buku Eko-Hidraulik Pengembangaan Sungai, Maryono, 2002

dan Buku Konsep Penanggulangan Banjir dan Kekeringan Untuk Masyarakat Luas,

Maryono 2003).

E.1.19.3 Pendekatan Program Penyelesaian Banjir dengan Konsep Eko-

Hidraulik

Di Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya serta Jepang, sudah

meninggalkan konsep kuno hidraulik murni ini, dan memulai era baru yaitu

ecological hydraulic. Konsep ecological hydraulic (Eko-Hidraulik) yang dimulai tahun

80-an, dewasa ini di Eropa, Amerika dan Jepang dan sudah sampai tahap

U s u l a n T e k n i s E - 53Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 54: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasiimplementasi yaitu dengan banyaknya proyek-proyek renaturalisasi atau restorasi

sungai. Program renaturalisasi diantaranya adalah dengan membelokbelokkan lagi

sungai yang dulunya telah diluruskan; mengganti usulan pelurusan, sudetan,

tanggul dan pembuatan talud sungai dengan proyek reboisasi dan renaturalisasi

sempadan sungai; menghidupkan oxbow sungai lama dengan membuka tanggul

pelurusan yang membatasinya, memelihara kealamiahan sungai-sungai menengah

dan kecil dan mengkonservasi sungaisungai besar yang masih alami, mengganti

talutisasi sungai dengan membebaskan areal sempadan sungai untuk konservasi;

dan masih banyak lagi metode lainnya. Sementara itu, sangat ironis sekali kita di

Indonesia justru sedang ramai-ramainya menyudet, meluruskan, menanggul dan

membeton dinding sungai secara besar-besaran (contoh konkrit Bengawan Solo,

Citandui, Cimeneng, Citarum, Brantas, Code dan masih banyak lagi.).

E.1.19.4 Program Penanggulangan Banjir Dengan Konsep EkoHidraulik

Dalam penanggulangan banjir dengan konsep eko-hidraulik dikenal kunci

pokok penyelesaian banjir, yaitu bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah

Sungai (WS), Sempadan Sungai (SS) dan Badan Sungai (BS) harus dipandang

sebagai kesatuan sistem dan ekosistem ekologi-hidraulik yang integral.

Penyelesaian banjir harus dilakukan secara konverhensif dengan metode menahan

atau meretensi air di DAS bagian hulu, tengah dan hilir; serta menahan air di

sepanjang wilayah sungai, sempadan sungai dan badan sungai di bagian hulu

tengah dan hilir. Jadi dalam konsep dasar penaggulangan banjir eko-hidraulik

adalah dengan meretensi air dari hulu hingga hilir secara merata. Cara ini sekaligus

merupakan cara menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS, karena

sebenarnya banjir dan kekeringan ini merupakan kejadian yang saling-susul dan

saling memperparah. Dalam menahan air ini diberlakukan konsep keseimbangan

alamiah, dalam arti mengacu pada kondisi kharakteristik alamiah sebelumnya.

Penanganan banjir dengan konsep ekologi-hidraulik secara konkrit dimulai

dari:

1. DAS bagian hulu dengan reboisasi atau konservasi hutan untuk

meningkatkan retensi dan tangkapan di hulu. Selanjutnya reboisasi juga

mengarah ke DAS bagian tengah dan hilir. Secara selektif membangun atau

mengaktifkan situ atau embung-embung alamiah di DAS yang

bersangkutan.

2. Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan

mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS.

3. Di sepanjang wilayah sungai serta sempadan sungai, tidak perlu diadakan

pelurusan dan sudetan atau pembuatan tanggul, karena caracara ini

U s u l a n T e k n i s E - 54Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 55: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasibertentangan dengan kunci utama retensi banjir.

4. Sungai yang bermeander justru di dipertahankan sehingga dapat

menyumbangkan retensi, mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi.

5. Komponen retensi alamiah di wilayah sungai, di sepanjang sempadan

sungai dan badan sungai justru ditingkatkan, dengan cara menanami atau

merenaturalisasi kebali sempadan sungai yang telah rusak.

6. Erosi tebing-tebing sungai harus ditangani dengan teknologi Eco-

Engineeringdengan menggunakan vegetasi setempat.

7. Memfungsikan daerah genangan atau polder alamiah disepanjang sempadan

sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung air.

8. Mencari berbagai alternatif untuk mengembangkan kolam konservasi

alamiah disepanjang sungai atau di lokasi-lokasi yang memungkinkan baik di

perkotaan-hunian atau di luar perkotaan. Genangan-genangan alamiah ini

berfungsi meretensi banjir tanpa menyebabkan banjir lokal karena banjir

dibagi-bagi di DAS dan disepanjang wilayah, sempadan dan badan sungai.

9. Konsep drainasi konvensional yang mengalirkan air buangan secepat-

cepatnya ke hilir perlu direvisi dengan mengalirkan secara alamiah (lambat)

ke hilir, sehingga waktu untuk konservasi air cukup memadahi dan tidak

menimbulkan banjirdi hilir.

10. Disamping solusi eko-hidro-teknis tersebut, sangat diperlukan juga

pendekatan sosio-hidraulik sebagai bagian dari eko-hidraulik dengan

meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus menerus akan peran

mereka dalam ikut mengatasi banjir.

E.1.19.5 Implementasi Konsep Ekohidraulik

Melihat kejadian baniir, kekeringan dan longsor yang bertubi-tubi akhirakhir

ini, maka perlu sesegara mungkin mengimplementasikan konsep ekohidraulik

dalam penanggulangan banjir di Indanesai ini. Pemerintah dan pemerintah daerah

perlu sesegara mengadopsi metode Eko-Hidraulik ini guna membuat masterplan

penanggulangan banjir sekaligus untuk mengkonservasi lingkungan.

Penanggulangan banjir dengan cara Eko-Hidraulik secara ekonomi sangat jauh Iebih

murah dibandingkan dengan metode penggulangan banjir konvensional. Apalagi

jika dihitung dampak positif konsep Eko-hidraulik dalam meningkatkan kualitas

lingkungan dan suatainabilitas hasil pembangunannya.

U s u l a n T e k n i s E - 55Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 56: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.1.20 Restorasi Sungai di Indonesia

Masalah restorasi sungai (disebut juga renaturalisasi atau revitalisasi sungai)

di Indonesia sampai penghujung tahun 2002 belum banyak ditertariki. Karena ide

ini masih dianggap mengada-ada, sementara usaha pembangunan sungai dengan

konsep hidraulik murni yang distruktif sedang gencar berjalan. Ide renaturalisasi

sungai dimaksudkan untuk memberi gambaran ke depan tentang pengulangan

sejarah pembangunan sungai di Eropa oleh para insinyur sungai di Indonesia.

Sehingga kesadaran kehati-hatian akan tumbuh dalam pengelolaan sungai,

sehingga restorasinya dikemudian hari tidak diperlukan lagi.

Renaturalisasi di beberapa negara seperti Jerman dan Jepang dilakukan

secara selektif, dalam anti lokas sungai yang akan direnaturalisasi atau restorasi

dipilih dengan pertimbangan hidraulis dan ekologis. Renturaisasi tidak dilkaukan

secara serentak disepanjang sungai misalnya.

Sungai Bengawan Solo dan sungai Citarum misalnya, bisa direnaturalisasi

dengan membuka kembali beberapa tangul Oxbow hasil sudetan. Ekosistem

kawasan Oxbow akan hidup kembali dan konservasi air meningkat. Demikian juga

sungai-sungai kecil di berbagai kota dan pinggiran kota yang sudah ditalud tanpa

alasan kuat, dapat direnaturalisasi secara selektif dengan membongkat talud yang

ada dan menanami bantaran bekas talud tersebut dengan vegetasi setempat yang

cocok. Pulau-pulau buatan dapat diinisiasi pada sungai-sungai kecil dan menengah

di daerah pinggiran kota. Pembangunan pulau-pulau ini akan meningkatkan

deversivikasi ekologi sekaligus meningkatkan retensi hidraulis sungai dan

konservasi. Meandering sungai dapat dikembalikan dengan menginisiasi

terbentuknya meander. Struktur untuk menginisiasi dapat dipilih vegetatif atau

gabungan bronjong batu dan vegetasi. Sehingga secara dinamis sungai akan

berubah berkelok-kelok lagis sesuai dengan kondisi awalnya.

U s u l a n T e k n i s E - 56Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 57: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 45 Ilustrasi renaturalisasi sungai yang telah dibangun.

Renaturalisasi dilaksanakan secara selektif dengan pertimbangan hidraulik

dan ekologis dan sosial.Untuk sungai-sungai yang bermuara di dataran rendah

seperti Jakarta dan Semarang, dapat direnaturalisasi dengan memperlebar

bantaran sungai di bagian hulu. Pelebaran sungai ini akan berfungsi sebagai kolam

retensi hulu ketika terjadi banjir, sehingga banjir ditahan di hulu dan dilepaskan

secara perlahan ke hilir.

Cara analisis Eko-hidraulis diatas kedepan menjadi salah satu analisis yang

paling komprehensif, yang akan dipakai pada setiap penyelesaian masalah keairan.

U s u l a n T e k n i s E - 57Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 58: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.5. PEMANFAATAN FOTO UDARA, FOTOGRAMTERI

DAN INTERPRETASI FOTO UDARA

DALAMSALURAN DRAINASE

Perencanaan pengaman terhadap banjir disebut juga perencanaan pengendalian

banjir yang akan digunakan sebagai landasan yang penting dalam menetapkan

berbagai pekerjaan sipil yang harus dilaksanakan dalam rangka usaha

pengamanan banjir secara umum dapat dibagi menjadi :

1. Pembangunan sistem pengamanan dan pengembalian banjir

2. Pekerjaan non-sipilPekerjaan sipil adalah usaha pencegahan bahaya banjir dengan suatu sistem

pengamanan banjir yang terdiri dari tanggul, normalisasi alur sungai termasuk

sudetan dan lain-lain dan dengan suatu sistem pengendalian banjir yang terdiri

dari retarding basin, waduk pengendalian banjir dan lain-lain. Kadang-kadang

kedua sistem tersebut digabung menjadi satu kesatuan. Sebaliknya pekerjaan non-

sipil adalah usaha pencegahan banjir dengan pengaturan-pengaturan yang

dilandasi undang-undang, guna mengurangi tingkat kerugian yang mungkin terjadi,

apabila terjadi banjir, antara lain pengaturan penggunaan tanah di daerah

bantaran sungai, mendirikan bangunan yang tahan terhadap genangan air,

asuransi banjir dan kegiatan pengamanan terhadap kemungkinan adanya bencana

banjir.

Proses verifikasi sebagai tindak lanjut suatu pengaduan dugaan kondisi lingkungan

adalah serangkaian kegiatan yang meliputi pemeriksaan kebenaran pengaduan

dan sejumlah penelitian yang bersifat teknis.

Jenis informasi yang dapat diperoleh dari foto udara yakni :

Informasi kualitatif , antara lain yang berkaitan dengan obyek apa yang ada

di bawah, bagaimana bentuknya, apa warnanya dan apa kegunaannya.

Informasi kuantitatif , antara lain ukuran obyek, beberapa jumlahnya, dimana

(lokasi spasial)

Dari butir verifikasi aspek lingkungan di atas beberapa diantaranya dapat dikaitkan

dengan pemanfaatan foto udara, fotogrametri dan inderaja, baik secara langsung

maupun sebagai alat bantu dari kegiatan forensik lingkungan lainnya. Penelitian

sumber banjir, tingkat pencemaran/ perusakan lingkungan, jenis dan besar

kerugian, antara lain dapat dikaitkan dengan lokasi geografi (X,Y), jarak, batas

(Xi,Yi), volume, luas, volume, pola drainase. dlsb.

U s u l a n T e k n i s E - 58Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 59: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.1.21Foto Udara

Foto udara merupakan sumber data/ informasi yang digunakan dalam

teknik Fotogrametri dan Interpretasi Foto. Suatu dugaan pencemaran dan

atau perusakan lingkungan bersumber dari adanya pengaduan. Indikasi

awal dari pencemaran dan atau perusakan lingkungan dapat secara jelas

diperoleh dari foto udara dan atau citra satelit.

Ini merupakan salah satu proses awal suatu kegiatan forensik lingkungan.

Namun demikian penggunaan foto perlu memperhatikan beberapa hal

seperti di bawah ini :

1. dokumentasi yang berkaitan dengan sumber perolehan, tanggal pengambilan dan skala terkadang tidak pasti.

2. adanya kemungkinan efek dari pengaturan kecerahan (brightness – contrast, hue – saturasi)

3. adanya kemungkinan upaya penghilangan informasi yang penting (critical) dengan cara cropping

4. adanya jenis efek-efek/ distorsi pada foto udara sehingga untuk kebutuhan informasi yang teliti diperlukan proses (fotogrametri)

5. hal non teknis adalah kemungkinan belum adanya izin pemotretan.

Foto udara merupakan rekaman dari permukaan bumi berdasarkan

proyeksi sentral sedang peta adalah proyeksi orthogonal. Pada saat

pemotretan pesawat terbang tidak mendatar (meskipun kemiringannya

kecil) sehingga foto yang dihasilkan akan mempunyai efek-efek distorsi

baik bentuk geometri maupun skala. Pengaruh relief topografi, proyeksi

sentral akan memperbesar efek distorsi. Demikian pula dengan ketinggian

terbang yang tidak diketahui secara teliti mengakibatkan skala yang tidak

pasti.

Selain efek geometri foto udara di hinggapi pula dengan efek radiometri

seperti gambar yang tidak kontras, terlalu gelap, terlalu terang, kabur dlsb.

Efek-efek geometri maupun radiometri pada foto udara dapat menyulitkan

upaya pengenalan obyek/ feomena melalui teknik interpretasi. Bahkan

dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.

Bila untuk kegiatan analisis dalam forensik lingkungan tetap diperlukan foto

udara/ citra satelit maka efek-efek tersebut harus dikoreksi terlebih dahulu

antara lain melalui proses fotogrametri harus dilakukan. Hal-hal di atas

sebenarnya dapat diatasi sejauh peneliti dibekali dengan pengetahuan

yang cukup tentang karakteristik dan proses untuk mendapatkan informasi

yang handal serta relevan dari suatu foto udara.

U s u l a n T e k n i s E - 59Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 60: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiSkala dan Resolusi.

Skala adalah perbandingan antara ukuran obyek di foto atau peta dengan

ukurannya di tanah. Skala 1 : 1000 artinya satu sentimeter di peta atau

foto sama dengan 1000 cm di tanah atau 10 meter. Untuk interpretasi foto

biasanya digunakan foto perbesaran atau ”enlarged photo”. Pada skala foto

perbesaran inilah interpreter foto mencoba mengenali obyek/ fenomena.

Pada citra fotografis, kemampuan perbesaran foto tergantung dari ukuran

butiran perak bromida film negatif yang digunakan. Sedang pada citra

digital tergantung dari jumlah dan ukuran cell CCD (coupled charged

device) atau pixel (picture element) dari kamera digital yang digunakan.

Ukuran pixel pada CCD hanya beberapa micron saja.

E.1.22Interpretasi Citra Foto/Satelit

Informasi kualitatif dari suatu obyek atau fenomena dapat diperoleh melalui

teknik interpretasi foto. Melalui teknik interpretasi foto udara tahapan

kajian yang dapat dilakukan adalah :

(1) deteksi : mengenali obyek apa, misalnya sungai, bangunan, jalan, alur

air, dsb.;

(2) identifikasi : jenis obyek, contoh bila bangunan, maka bangunan apa ;

(3) kuantifikasi : berapa banyak,

(4) pengukuran awal : berapa perkiraan panjang/ luas.

Informasi tentang ukuran awal disini adalah bahwa ukuran yang diperoleh

langsung dari foto udara relatif kasar, sedang untuk ukuran yang teliti

selanjutnya dapat diperoleh melalui proses fotogrametri.

Untuk pengenalan obyek/ fenomena interpretasi foto menggunakan

beberapa kunci antara lain :

1. Derajat kehitaman (tone) dan warna (color), merupakan elemen dasar

yang paling utama dan yang secara langsung digunakan.

2. Ukuran (size), merupakan elemen dasar yang banyak digunakan dalam

membedakan dua jenis obyek dengan kenampakan yang sama, namun

jenis yang berbeda.

U s u l a n T e k n i s E - 60Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 61: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi3. Bentuk (shape), bentuk juga merupakan elemen dasar utama dalam

pengenalan obyek.

4. Tinggi (height), tinggi merupakan informasi yang tidak kalah pentingnya

setelah tone. Untuk membedakan dua obyek kadang kala dibutuhkan

informasi tinggi bila kunci lainnya kurang pasti.

5. Bayangan (shadow), untuk mengenali jenis suatu obyek dari foto

khususnya sekitar titik utama kadang perlu dibantuan bayangan spesifik

dari obyek tersebut.

6. Derajat kehalusan (texture), kadang diperlukan dalam membedakan

berbagai jenis kebun dengan melihat derajat kehalusan dari kenampakan

pohon-pohon dari kebun tersebut.

7. Pola (pattern), sebagai mana dengan derajat kehalusan, pengenalan

jenis kumpulan obyek dalam suatu area dapat pula dilihat dari polanya.

8. Tempat (site), kunci ini biasanya dikombinasikan dengan penggunaan

kinci lain. Obyek dapat dikenali dari tempat atau lokasinya.

9. Keterkaitan (association), pengenalan obyek dapat pula dikenali dari

keterkaitannya dengan unsur atau fenomena tertentu.

E.1.23Fotogrametri

Fotogrametri dapat didefinisikan sebagai suatu seni, pengetahuan dan

teknologi untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya tentang suatu

obyek fisik dan keadaan disekitarnya melalui proses perekaman,

pengamatan/ pengukuran dan interpretasi citra fotografis atau rekaman

gambar gelombang elektromagnetik. Pada bab sebelumya telah diuraikan

bahwa foto udara hasil pemotretan masih ”dihinggapi” efek-efek geometri

maupun radiometri. Untuk mendapatkan informasi metrik yang teliti dari

foto udara seperti lokasi spasial (X,Y,Z), ukuran panjang, luas, elevasi/

ketinggian, dan volume diperoleh melalui proses restitusi fotogrametri.

Untuk ketelitian planimetrik dapat dicapai sampai dengan beberapa

sentimeter sedang untuk tinggi sampai dengan beberapa desimeter

tergantung dari skala foto udara yang digunakan.

Produk-produk informasi yang dapat diperoleh dari foto udara melalui

proses fotogrametri antara lain :

U s u l a n T e k n i s E - 61Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 62: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiE.1.23.1 Plotting garis 3D (Peta Garis)

Plotting garis 3D dimaksudkan untuk membuat peta garis (planimetris dan

kontur). Ploting dilakukan dengan menggunakan sistem softcopy

photogrammetry (SoCoPH). Data yang dihasilkan berupa vektor data 3D

(x,y,z) untuk selanjutnya dilakukan proses kartografi (pengahalusan,

simbol,Text, pembuatan muka peta), menghasilkan peta garis digital.

Gambar E. 46 Peta garis digital.

E.1.23.2 Digital Terrain Model

Digital terrain model adalah suatu bentuk model permukaan bumi dalam

data digital berupa grid-grid (beraturan, tidak beraturan), diaman setiap

titik grid mempunyai data posisi dan ketinggian (x,y,z). Data DTM ini

diperlukan untuk proses pembuatan peta orthophoto. Data DTM diperoleh

U s u l a n T e k n i s E - 62Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 63: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasidari hasil digitasi kontur dan sample DTM berupa titik-titik spot height

dengan kerapatan yang mencukupi sesuai dengan bentuk permukaan /

topografi. Data ini kemudian diolah dan dibentuk menjadi grid-grid dengan

ukuran grid yang cukup baik.

E.1.23.3 Orthopoto

Orthophoto adalah bentuk penyajian gambar obyek pada posisi

orthographik yang benar. Secara geometrik ekuivalen terhadap peta garis

konvensional dan peta simbol planimetrik yang juga menyajikan posisi

ortografik yang benar. Beda utama antara ortophoto dengan peta yaitu

ortophoto terbentuk oleh gambar kenampakan foto, sedangkan peta

menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan sesuai dengan

skala untuk mencerminkan kenampakan. Orthophoto dibuat berdasarkan

foto perspektif melalui proses rektifikasi differensial, yang meniadakan

pergeseran letak gambar yang diakibatkan oleh kesedengan foto dan

pergeseran relief.

Orthophoto adalah suatu jenis foto yang telah diproses yang mempunyai

ciri-ciri yaitu skala foto sudah benar dan kemiringan foto sudah terkoreksi.

Dengan demikian orthophoto sudah mempunyai sifat sebagai peta. Proses

orthofoto dilakukan dengan cara memproyeksikan objek pada foto/model

yang sudah teroreintasi secara orthogonal dengan bantuan data DTM. Pada

proses ini dipilih daerah yang tidak mengalami dampak pergeseran relief

yang besar, umumnya pada daerah tengah foto.

E.1.23.4 Mozaiking

Proses mozaiking adalah suatu proses untuk menyambungkan satu foto

Orthofoto dengan lainnya, membentuk suatu gambar peta yang utuh.

Selain proses penyambungan, juga dilakukan proses penyeragaman warna

(color balance) agar diperoleh warna yang rata seluruh daerah.

U s u l a n T e k n i s E - 63Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 64: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 47 Hasil Mozaiking.

E.1.23.5 Teknik Penyajian Data (Kartografi)

Adalah suatu proses untuk menyajikan peta dalam format yang baku,

sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Pada proses ini, data-data hasil

survey lapangan (toponimi) dimasukan pada peta dalam bentuk simbol

atau text. Pada setiap peta juga diberikan informasi-informasi peta berupa

legenda,informasi skala, arah utara, informasi tepi dan informasi yang

berkaitan dengan pemberi pekerjaan. Sebagai hasil akhir dari proses

kartografi adalah peta (baik peta garis maupun peta foto).

U s u l a n T e k n i s E - 64Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 65: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 48 Peta Foto.

U s u l a n T e k n i s E - 65Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 66: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 49 Metodologi Pemetaan Metode Fotogrametris .

U s u l a n T e k n i s E - 66Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 67: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.6. HIDROLOGI

Gambar E. 50 Siklus Hidrologi.

E.1.24Limpasan (Runoff)

Sebagaimana telah diuraikan dalam siklus hidrologi, bahwa air hujan yang

turun dari atmosfir jika tidak ditangkap oleh vegetasi atau oleh permukaan-

permukaan buatan seperti atap bangunan atau limpasan edap air lainnya,

maka akan jatuh ke permukaan bumi dan sebagian akan menguap,

berinfiltrasi, atau tersimpan dalam cekungan-cekungan. Bila kehilangan

seperti cara-cara tersebut telah terpenuhi, maka sisa air hujan akan

mengalir langsung di atas permukaan tanah menuju alur aliran terdekat.

Dalam perencanaan drainase, bagian air hujan yang menjadi perhatian

adalah aliran permukaan (surface runoff), sedangkan untuk pengendalian

banjir tidak hanya aliran permukaan, tetapi limpasan (runoff). Limpasan

merupakan gabungan antara aliran permukaan, aliran-aliran yang tertunda

pada cekungan-cekungan, dan aliran bahwa permukaan (subsurface flow).

E.1.24.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Limpasan

E.1.24.1.1 Faktor Meteorologi

1) Intensitas Hujan

U s u l a n T e k n i s E - 67Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 68: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi2) Durasi hujan3) Distribusi curah hujan

E.1.24.1.2 Karakteristik DAS

1) Luas dan bentuk DAS

Gambar E. 51 Pengaruh bentuk DAS pada aliran permukaan.

2) Topografi

Gambar E. 52 Pengaruh kerapatan parit/saluran pada hidrograf aliran

permukaan.

3) Tata guna lahan

U s u l a n T e k n i s E - 68Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 69: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Mulai

Pembacaan Data:Daerah, JStasiun, JTahun,

Stasiun, Lintang, Bujur, DataHujan

Proses perhitunganjumlah data kosong

Penulisan Hasil:persentase data kosong

tiap stasiun

Proses perhitunganjarak antar stasiun

Penulisan hasil:jarak antar stasiun

Untuk tiap stasiun dan tiap bulan

Proses sortir:jarak terdekat thd 3 stasiun yang

mempunyai data

Proses pengisian datakosong

A

A

Penulisan hasi:data hujan yang

dilengkapi

Proses perhitunganhujan wilayah

Pembacaan Data:Bobot wilayah

polygon Thiessen

Penulisan hasil:hujan wilayah

Hitung hujanwilayah lagi?

Yes

Analisis Homogenitas

No

Selesai

Gambar E. 53 Bagan alir proses pengolahan data hujan menjadi hujan

wilayah.

E.1.24.2 Memperkirakan Laju Aliran Puncak

E.1.24.2.1 Metode Rasional

Metode untuk memperkirakan laju aliran permukaan puncak yang umum

dipakai adalah metode Rasional USSCS (1973). Metode ini sangat simple

dan mudah penggunaannya, namun penggunaannya terbatas untuk DAS-

DAS dengan ukuran kecil, yaitu kurang dari 300 ha (Goldman et.al., 1986).

U s u l a n T e k n i s E - 69Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 70: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiKarena model ini merupakan model kotak hitam, akan tidak dapat

menerangkan hubungan curah hujan dan aliran permukaan dalam bentuk

hidrograf. Persamaan matematik metode Rasional dinyatakan dalam

bentuk

Qp = 0,002778 CIA (1)

di mana Qp adalah laju aliran permukaan (debit) puncak dalam m3/detik, C

adalah koefisien aliran permukaan (0 C 1), I adalah intensitas hujan

dalam mm/jam, dan A adalah luas DAS dalam hektar.

Metode rasional dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa hujan yang

terjadi mempunyai intensitas seragam dan merata di seluruh DAS selama

paling sedikit sama dengan waktu konsentrasi (tc) DAS. Jika asumsi ini

terpenuhi, maka curah hujan dan aliran permukaan DAS tersebut dapat

digambarkan dalam grafik pada gambar E.36. Gambar E.36 menunjukkan

bahwa hujan dengan intensitas seragam dan merata seluruh DAS berdurasi

sama dengan waktu konsentrasi (tc). Jika hujan yang terjadi lamanya

kurang dari tc maka debit puncak yang terjadi lebih kecil dai Qq karena

seluruh DAS tidak dapat memberian kontribusi aliran secara bersama pada

titik kontrol (oulet). Sebaliknya, jika hujan yang terjadi lebih lama dari tc,

maka debit puncak aliran permukaan akan tetap sama dengan Qp.

Gambar E. 54 Hubungan curah hujan dengan aliran permukaan untuk

durasi hujan yang berbeda.

Waktu konsentrasi (tc).

U s u l a n T e k n i s E - 70Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 71: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiWaktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan

yang jatuh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS

(titik kontrol) setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil

terpenuhi. Dalam hal ini diasumsikan bahwa jika durasi hujan sama dengan

waktu konsentrasi, maka setiap bagian DAS secara serentak telah

menyumbangkan aliran terhadap titik kontrol. Salah satu metode untuk

memperkirakan waktu konsentrasi adalah rumus yang dikembangkan oleh

Kirpich (1940), yang dapat ditulis sebagai berikut :

(2)

Dimana tc adalah waktu konsentrasi dalam jam, L panjang saluran utama

dari hulu sampai penguras dalam km, dan S kemiringan rata-rata saluran

utama dalam m/m.

Waktu konsentrasi dapat juga dihitung dengan membedakannya menjadi

permukaan lahan sampai saluran terdekat t0 dan (2) waktu perjalanan dari

pertama masuk saluran sampai titik keluaran td, sehingga

tc= t0 + td (3)

dimana

to = menit (4)

dan

td = menit (5)

dimana

n = angka kekasaran Manning,

S = kemiringan lahan,

L = panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m)

Ls = panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (m),

U s u l a n T e k n i s E - 71Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 72: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiV = kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).

Selain rumus Kirpich, ada beberapa rumus waktu konsentrasi yang lain

yang telah dikembangkan, sebagaimana tercantum dalam Tabel E.2.

Tabel E. 2 Rumus-rumus waktu konsentrasi.

Instensitas hujan (I). Intensitas hujan untuk tc tertentu dapat dihitung

dengan rumus Mononobe atau dari lengkung Intensitas Durasi-Frekuensi

Hujan.

Diagram langkah-langkah perhitungan laju aliran dengan menggunakan

rumus Regional diperlihatkan pada Gambar E.37.

U s u l a n T e k n i s E - 72Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 73: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 55 Langkah-langkah pemakaian rumus Rasional.

E.1.24.2.2 Metode Hidrograf Nakayasu

Analisis hidrograf yang digunakan menggunakan cara Nakayasu, dengan

rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

U s u l a n T e k n i s E - 73Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 74: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Dimana :

Qp = debit puncak banjir (m3 / detik)

Ro = hujan satuan (mm)

Tp = tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)

T0,3 = waktu yang diperlukan oleh penurunan debit, dari debit puncak sampai menjadi 30 % dari debit puncak (jam)

1. Bagian lengkung naik (rising limb ) hidrograf satuan mempunyai persamaan :

Dimana :

Qa = limpasan sebelum mencapai debit puncak (m3/detik)

t = Waktu (jam)

2. Bagian lengkung turun (decreasing limb)

a. Qd >0,3 Qp :

b. 0,3 Qp > Qd >0,32 Qp :

c. 0,32 Qp > Qd :

3. Sedangkan waktu Tp = tg + 0,8 tr

dimana untuk

a. L < 15 km tg = 0,21 L0,7

b. L > 15 km tg = 0,4 + 0,058 L Dimana :

L = panjang alur sungai (km)

tg = waktu konsentrasi (jam)

tr = 0,5 tg sampai tg (jam)

T 0,3 = αtg (jam)

4. Dengan besarnya α =

untuk daerah pengaliran biasa α = 2

U s u l a n T e k n i s E - 74Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 75: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

untuk bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun yang cepat α

= 15

untuk bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian menurun yang lambat α

= 3

Asumsi yang dipergunakan dalam perhitungan ini adalah :

Panjang sungai

Luas catchment area

Koefisien pengaliran

Tabel E. 3 Contoh asumsi yang digunakan dalam perhitungan Hidrograf Nakayasu.

No Parameter

1 L (panjang sungai) 15 km

2 tr (satuan waktu hujan)0.952

5 jam

3 Tg (time lag) 1.27  

4 Tp (waktu awal hujan sampai puncak banjir) 2.03 jam

5 a (parameter hidrograf) 2  

6 T0,3 2.54  

7 F (luas DAS) 39.3 km2

8 R0 (curah hujan satuan) 1 mm

9 Qmax (debit puncak banjir) 3.47m3/dt/mm

10 fDAS (koefisien pengaliran) 0.45  

11 Qp 1.56m3/dt/mm

I Tp 2.03 jam

II Tp + T0,3 4.57 jam

III Tp + T0,3 + 1.5T0,3 9.65 jam

U s u l a n T e k n i s E - 75Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 76: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.7. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE

Suatu perencanaan merupakan penjabaran suatu masalah dalam menanggulangi

kebutuhan dalam waktu tertentu dengan diberikan suatu alternatif pemecahan.

Oleh karena itulah dalam pemecahan masalah perlu diberikan suatu bentuk dasar-

dasar perhitungan atau landasan teori yang berkaitan dengan masalah yang

dipecahkan atau ditanggulangi.

Pekerjaan perencanaan teknik, untuk mendapatkan konsep perencanaan dan detail

design dalam gambar dan dokumen yang terpadu sehingga dapat menjadi

pegangan pada waktu pelaksanaan pembangunan dilapangan.

Hasil dari perencanaan teknik, adalah mencakup kumpulan dokumen teknik yang

dapat memberikan gambaran produk yang ingin diwujudkan, dengan

memperhatikan :

Ketentuan teknis

Keadaan serta faktor pengaruh lingkungan dan menggambarkan hasil

optimal sesuai dengan kebutuhan pemakai serta penghematan biaya.

Tugas perencana mencakup pekerjaan pokok, yaitu untuk mendapatkan suatu

perencanaan yang baik diperlukan suatu pendekatan/ pemahaman terhadap

komponen perencanaan dan pemahaman terhadap karakteristik sungai tersebut.

Perencanaan perbaikan dan pengaturan sungai diadakan, agar disesuaikan dengan

tingkat pengembangan suatu sungai serta kebutuhan masyarakat. Sungai

diperbaiki dan diatur sedemikian rupa, sehingga dapat diadakan pencegahan

terhadap bahaya banjir dan sedimentasi serta mengusahakan agar alur sungai

senantiasa dalam keadaan stabil, sehingga memudahkan pemanfaatan air yang

akan memberikan kemudahan dalam penyadapannya, pelestarian lingkungan dan

menjamin kelancaran serta keamanan lalu-lintas sungai. Jadi tujuan utama dari

perencanaan persungaian ini adalah pengamanan terhadap banjir, pengendalian

alur sungai, dengan memperhatikan peranan sungai sebagai sumber air untuk

berbagai kebutuhan, pelestarian lingkungan dan kelancaran serta keamanan lalu-

lintas sungai.

Perencanaan pengaman terhadap banjir disebut juga perencanaan pengendalian

banjir yang akan digunakan sebagai landasan yang penting dalam menetapkan

U s u l a n T e k n i s E - 76Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 77: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasiberbagai pekerjaan sipil yang harus dilaksanakan dalam rangka usaha pengamanan

banjir secara umum dapat dibagi menjadi :

3. Pembangunan sistem pengamanan dan pengembalian banjir

4. Pekerjaan non-sipil

Pekerjaan sipil adalah usaha pencegahan bahaya banjir dengan suatu sistem

pengamanan banjir yang terdiri dari tanggul, normalisasi alur sungai termasuk

sudetan dan lain-lain dan dengan suatu sistem pengendalian banjir yang terdiri dari

retarding basin, waduk pengendalian banjir dan lain-lain. Kadang-kadang kedua

sistem tersebut digabung menjadi satu kesatuan. Sebaliknya pekerjaan non-sipil

adalah usaha pencegahan banjir dengan pengaturan-pengaturan yang dilandasi

undang-undang, guna mengurangi tingkat kerugian yang mungkin terjadi, apabila

terjadi banjir, antara lain pengaturan penggunaan tanah di daerah bantaran sungai,

mendirikan bangunan yang tahan terhadap genangan air, asuransi banjir dan

kegiatan pengamanan terhadap kemungkinan adanya bencana banjir.

Pekerjaan sipil sepenuhnya akan mampu menjamin pencegahan bencana banjir

pada tingkat dibawah debit banjir rencananya, akan tetapi tidak akan mampu

mencegah banjir besar yang melampaui debit banjir rencana tersebut, yang

menyebabkan rusaknya sistem pengamanan dan pengendalian banjir dan terjadilah

banjir yang biasanya cukup besar.

Sebaliknya pekerjaan non-sipil adalah usaha-usaha guna mengurangi kerusakan

sampai pada tingkat yang minimum dengan mengarahkan genangan-genangan

pada daerah-daerah yang tidak penting, mengadakan usaha-usaha pemberitahuan

dini dan mencegah terjadinya tanah longsor. Yang dimaksudkan dengan

perencanaan pengamanan dan pengembalian banjir umumnya adalah perencanaan

yang hanya didasarkan atas pekerjaan sipil dan apabila termasuk pula usaha-usaha

non-sipil, maka usaha-usaha ini disebut, “pengendalian banjir menyeluruh”.

Dalam perencanaan perbaikan dan pengaturan sungai yang diutamakan adalah

konsep pengaliran banjir sungai secara aman, guna mencegah terjadinya luapan-

luapan yang dapat menyebabkan terjadinya bencana banjir. Dengan demikian yang

terpenting adalah mempertahankan penampang basah yang memadai sesuai

dengan kapasitas pengaliran rencananya, yakni dengan konsep pencegahan

sedimentasi di dasar sungai dan mengatur alur sungai agar senantiasa dalam

keadaan stabil.

U s u l a n T e k n i s E - 77Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 78: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiRekayasa pembangunan pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang

berdasarkan analisis dari berbagai aspek untuk mencapai sasaran dan tujuan

tertentu dengan hasil seoptimal mungkin. Secara garis besar, aspek-aspek umum

yang berkaitan dengan rekayasa pembangunan dapat dikelompokkan menjadi

empat tahapan, yaitu:

1. Tahapan Studi

2. Tahapan Perencanaan

3. Tahapan Pelaksanaan

4. Tahapan Operasi dan Pemeliharaan

Di dalam keempat tahapan tersebut ada berbagai macam aktivitas yang

dilaksanakan untuk mendukung kegiatan masing-masing tahapan. Secara makro

rekayasa, penjabaran dari kegiatan-kegiatan tersebut dapat dilihat pada Gambar E.

56.

Gambar E. 56 Tahapan pembangunan sistem drainase perkotaan.

U s u l a n T e k n i s E - 78Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 79: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 57 Konsep umum tahapan kegiatan pekerjaan dari ide sampai

operasional.

U s u l a n T e k n i s E - 79Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 80: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

TA

HA

PP

ER

SIA

PA

N

Analisis Hidrometri & sistemDrainase

Penyusunan Layout DaerahSituasi

Analisis Keandalan Kinerjabangunan air sertapengoperasiannya

TA

HA

P A

NA

LIS

IST

AH

AP

RE

KO

ME

ND

AS

IT

AH

AP

PE

NG

UM

PU

LAN

DA

TA

- Peta-peta topografi terdahulu- Studi-Studi terdahulu- Data curah hujan min 10 th- Data iklim min 10 th- Tata guna lahan- RUTR DKI Jakarta- Data kependudukan- Data-data jaringan drainase

- Jaringan darinase makro- Pola Aliran- Penentuan Batas DAS- Debit sungai

Survey Hidrometri & SistemDrainase

- Layout jaringan drainase- Batas banjir- Keadaan lahan saat ini

Survey Bangunan -Bangunan Air

- Dimensi hidrolis dan kapasitas- Pola aliran- Informasi saat banjir- Inventarisasi bangunan air dan permasalahannya- Inventarisasi SOP bangunan air

Survey Topografi

Pengumpulan data sekunderPengumpulan Data Primer

(Survey Lapangan)

MULAI

PERSIAPAN

1. INVENTARISASI KEBUTUHAN PEMAKAI2. KONSEP DESAIN

MANAJEMENPROYEK

Penyusunan Desain Rinci

Rekomendasi Beberapa Alternatifdan Alternatif terpilih

`

LAP

OR

AN

PE

ND

AH

ULU

AN

DIS

KU

SI L

AP

OR

AN

PE

ND

AH

ULU

AN

LA

PO

RA

N S

EM

EN

TA

RA

DIS

KU

SI L

AP

OR

AN

SE

ME

NT

AR

A

LAP

OR

AN

FIN

AL

DIS

KU

SI L

AP

OR

AN

FIN

AL

Penyusunan Dokumen Lelang- Spesifikasi Teknis- Syarat-syarat umum danAdministrasi kontrak- Syarat-syarat Khusus KontrakDaftar Kuantitas Biaya

- Perhitungan Hidraulik- Perhitungan Struktur Saluran- Penggambaran

Rekomendasi Alternatif Terpilih(Final Desain)

`

Gambar E. 58 Konsep pendekatan pelaksanaan pekerjaan perencanaan.

E.1.25Aspek Teknis

Permasalahan yang dihadapi dalam implementasi pembangunan atau

perbaikan sistem drainase di perkotaan antara lain :

1. Tuntutan genangan yang terjadi harus lebih kecil dibandingkan dengan daerah perdesaan.

2. Pembebasan lahan dan relokasi (pemindahan) penduduk lebih sulit dilaksanakan dibandingkan dengan daerah pedesaan yang jarang penduduknya.

3. Diperlukan penyesuaian-penyesuaian berkaitan dengan adanya limbah domestik dan limbah industri.

4. Diharapkan sistem drainase yang dibangun/diperbaiki harus sesuai dengan lingkungan perkotaan.

Perbaikan sistem drainase di daerah perkotaan pada umumnya mengikuti

tahap-tahap sebagai berikut :

1. Mempelajari sistem drainase yang sudah ada saat ini.2. Merumuskan rencana perbaikan sistem drainase.3. Perencanaan fasilitas drainase, seperti saluran drainase, tanggul, gorong-

gorong, kolam retensi, stasiun pompa, dan lain-lain.4. Pelaksanaan pekerjaan.5. Operasi dan pemeliharaan fasilitas drainase.1) Survei dan Investigasi yang diperlukan.

(1) Umum

U s u l a n T e k n i s E - 80Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 81: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi(a) Topografi(b) Iklim(c) Hidrologi(d) Daerah Genangan(e) Tata guna lahan dan rencana pengembangan masa mendatang dan(f) Sistem drainase yang ada

(2) Topografi(a) Lokasi sistem drainase(b) Elevasi permukaan tanah(c) Batas-batas administrasi

(3) Iklim dan Hidrologi(a) Data aliran(b) Data hujan(c) Data sedimen dan kualitas air(d) Data pasang surut

(4) Genangan banjir(a) Tinggi muka air maksimum dan kedalaman genangan(b) Luas dan persebaran daerah genangan(c) Lamanya genangan(d) Sumber air dan arah aliran air(e) Frekuensi terjadinya genangan(f) Penyebab terjadinya genangan

Tabel E. 4 Jenis peta untuk perencanaan drainase.

Tabel E. 5 Jenis survei topografi untuk jaringan drainase.

U s u l a n T e k n i s E - 81Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 82: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

(5) Sistem drainase yang telah ada(a) Batas daerah tangkapan air dan luas total(b) Saluran drainase utama dan panjangnya(c) Panjang saluran-saluran cabang dan daerah tangkapannya.(d) Kapasitas masing-masing saluran dan pola alirannya.(e) Permasalahan drainase di daerah tangkapan.(f) Kondisi saluran utama sistem drainase yang ada.

2) Merumuskan Rencana Sistem Drainase(1) Konsep dasar perencanaan drainase perkotaan

(a) Limpasan air banjir dari sungai utama biasa disebut banjir kiriman.(b) Kapasitas saluran drainase tidak cukup biasa disebut banjir lokal.(c) Pengaruh air balik dari sungai induk pada saat muka air tinggi akibat

banjir dan/atau air pasang.(d) Banjir akibat air pasang yang masuk langsung ke daratan maupun lewat

saluran-saluran drainase yang ada.

Perencanaan sistem drainase perkotaan perlu memperhatikan hal-hal

sebagai berikut :

(a) Target rencana perbaikan untuk saluran induk dan fasilitasnya, saluran induk menggunakan debit rencana dengan kala ulang 5 sampai 25 tahunan, sedangkan saluran tersier dengan periode ulang 2 tahunan.

(b) Pekerjaan perbaikan harus memenuhi persyaratan teknis dan praktis.(c) Operasi, pemeliharaan, dan pengolahan harus mudah.(d) Fasilitas dan sistem drainase yang telah ada harus diusahakan sebanyak

mungkin dapat dimanfaatkan.(e) Komponen infrastruktur lainnya yang sudah ada untuk menghindari

perusakan yang tidak disengaja.(f) Pembebasan lahan dan relokasi sedapat mungkin dihindari.(g) Di daerah-daerah yang tidak memungkinkan digunakan sistem gravitasi

penuh, perlu dilengkapi dengan pintu klep dan/atau stasiun pompa pada keluaran (outlet)nya.

(2) Perencanaan sistem drainase

Langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah mengetahui secara pasti

dan rinci penyebab terjadinya genangan. Berdasarkan data kondisi saat ini

U s u l a n T e k n i s E - 82Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 83: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasidan data genangan, dapat disusun usaha-usaha perbaikan drainase yang

memungkinkan yang dapat dipilih dari beberapa alternatif berikut :

(a) Penurunan debit dengan pembuatan resapan air dan daerah simpanan (retention area) di daerah hulu dan tengah.

(b) Pembuatan saluran tambahan untuk mengurangi daerah tangkapan.(c) Perbaikan dan/atau normalisasi saluran drainase.(d) Pembuatan pintu klep untuk mengatasi air tinggi di saluran induk.(e) Pengurangan daerah-daerah rendah.(f) Pembuatan stasiun pompa dan kolam penampungan.

(3) Perencanaan Saluran Drainase(a) Menentukan debit rencana.(b) Menentukan jalur (trase) saluran.(c) Merencanakan profil memanjang saluran.(d) Merencanakan penampang melintang saluran.(e) Mengatur dan merencanakan bangunan-bangunan serta fasilitas sistem

drainase.

Tabel E. 6 Kriteria desain hidrologi sistem drainase perkotaan.

E.1.26Aspek Ekonomi dan finansial

1) Tujuan Analisis Ekonomi

Tujuan utama analisis ekonomi adalah :

(1) Melakukan identifikasi tingkat kelayakan suatu proyek secara ekonomis, atau dengan kata lain melakukan penilaian apakah investasi yang ditanamkan akan memberikan manfaat ekonomi yang cukup.

(2) Melakukan penilaian seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh oleh penerima manfaat (dalam hal ini masyarakat) jika dibandingkan dengan tanpa proyek.

(3) Melakukan justifikasi terhadap biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan proyek tersebut dan kemungkinan pengembalian investasi (cost recovery) dalam kaitannya dengan pembayaran kembali pinjaman dari pihak donor.

(4) Melakukan identifikasi terhadap resiko-resiko yang mungkin akan menjadi kendala bagi proyek untuk mencapai tujuan yang diprogramkan.

2) Komponen Biaya (Cost)

Komponen Biaya (cost) terdiri dari :

(1) Biaya konstruksi (C1), diperoleh berdasarkan hasil estimasi akhir.(2) Biaya engineering (C2), meliputi biaya studi dan perencanaan

U s u l a n T e k n i s E - 83Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 84: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi(3) Biaya pembebasan lahan dan pemindahan dan permukiman kembali

penduruk (land acquisition and resettlement cost, C3).(4) Biaya yang diperlukan untuk pembayaran pajak-pajak (C4), sesuai

dengan ketentuan yang berlaku.(5) Biaya yang telah lalu (sunk cost, C5)(6) Biaya operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance cost, O&P

atau O&M, C6)(7) Biaya penggantian (replacement, C7)(8) Biaya Administrasi Proyek (C8)

3) Komponen Manfaat atau Keuntungan (Benefit)

Manfaat proyek drainase perkotaan berupa :

(1) Peningkatan nilai lahan.(2) Peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat.(3) Peningkatan kesehatan lingkungan dan masyarakat.(4) Pengurangan gangguan lalu lintas.(5) Penghematan pemeliharaan jalan.(6) Pengurangan kerugian akibat banjir

Komponen yang biasanya dipakai sebagai dasar perhitungan benefit proyek

drainase meliputi :

(1) Genangan banjir, luas, kedalaman, dan durasi.(2) Tata guna lahan.(3) Tingkat kerusakan bangunan dan fasilitas lainnya.

Komponen-komponen tersebut dihitung untuk 3 keadaan, yaitu :

(1) Keadaan saat ini (present condition).(2) Keadaan saat mendatang tanpa proyek (future without project).(3) Keadaan saat mendatang dengan proyek (future with project).

4) Langkah-langkah Analisis Ekonomi

Langkah-langkah perhitungan analisis ekonomi proyek, khususnya proyek

drainase perkotaan adalah sebagai berikut :

(1) Perkiraan biaya keseluruhan, initial cost maupun annual cost.(2) Konversi harga finansial ke harga ekonomi dengan memakai faktor

konveersi.(3) Jadwal disbursement dari tahun ke tahun.(4) Tata guna lahan pada saat ini (present), saat mendatang tanpa proyek

(future without project) dan saat mendatang dengan proyek (future with project).

(5) Luas genangan banjir pada saat ini (present), saat mendatang tanpa proyek (future without project) dan saat mendatang dengan proyek (future with project).

(6) Perkiraan manfaat ekonomi (tangible dan intangible benefits), termasuk kerugian akibat genangan banjir pada saat ini (present), saat mendatang tanpa proyek (future without project) dan saat mendatang dengan proyek (future with project).

(7) Susunan economic cashflow, kemudian hitung nilai EIRR.

U s u l a n T e k n i s E - 84Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 85: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi(8) Analisis sensitivitas.

5) Kriteria Kelayakan Ekonomi

Untuk menilai kelayakan tersebut dapat digunakan parameter-parameter

berikut :

(1) Benefit-Cost Ratio (B/C Ratio)(2) Net Benefit, B-C.(3) Internal Rate of Return (IRR).

6) Analisis Sensitivitas

Beberapa kondisi yang dapat dilakukan dalam analisis sensitivitas proyek

drainase antara lain : Terjadi kenaikan biaya sebesar 10% dari yang

diperkirakan.

(1) Terjadi penurunan keuntungan sebesar 10% dari keuntungan yang diperkirakan.

(2) Terjadi kenaikan biaya sebesar 10% dari yang diperkirakan.(3) Tertundanya penyelesaian proyek, misalnya akibat berlarut-larutnya

pembebasan lahan.

E.1.27Aspek Sosial Budaya

Pengalaman dalam pembangunan prasarana dan sarana (infrastruktur)

yang dikelola pemerintah sering terjadi setelah kegiatan konstruksi

dinyatakan selesai, terjadi penilaian yang lain oleh masyarakat. Manajemen

proyek menyatakan proyek telah diselesaiakan dengan cara dan dasar-

dasar yang diberikan pemerintah. Penilaian dan evaluasi yang dilakukan

oleh manajemen proyek menyatakan bahwa pekerjaan telah diselesaikan

dengan baik oleh kontraktor dan dapat diterima oleh pemerintah. Hasil

yang dinyatakan baik ternyata oleh masyarakat dinyatakan jelek dan tidak

memenuhi keinginan masyarakat dan akhirnya ditolak oleh masyarakat.

(gambar E.41)

U s u l a n T e k n i s E - 85Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 86: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiGambar E. 59 Sistem pelaksanaan pembangunan yang telah dilakukan

saat ini.

Untuk itu sistem pelaksanaan pembangunan harus berpola seperti pada

gambar E.42.

Gambar E. 60 Sistem pelaksanaan pembangunan yang harus dilakukan

pada waktu kedepan..

E.1.28Aspek Legalitas atau Perundang-undangan

Untuk dapat melaksanakan konsep penanganan banjir secara komprehensif

yang berdasarkan paradigma manajemen air diperlukan seperangkat

ordonansi atau peraturan. Dalam peraturan tersebut harus meliputi filosofi

manajemen air (khususnya air hujan) dan implementasinya ke dalam

pendekatan teknis, susunan institusi, finansial, perilaku masyarakat yang

diharapkan, dan sanksi terhadap pihak-pihak yang melanggar peraturan.

Peraturan harus disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh

pengelola dan masyarakat yang menjadi stakeholders.

E.1.29Aspek Kelembagaan

Secara umum organisasi pengelola prasarana dan sarana perkotaan terdiri

dari tiga angkatan, yaitu eksekutif atau direktur, manager menengah dan

operator. Disamping itu diperlukan tingkat keempat sebagai penentu

kebijakan, yaitu pemegang otoritas. Masing-masing tingkatan dari puncak

sampai bawah memerlukan perencana untuk bekerja. Rencana meliputi

U s u l a n T e k n i s E - 86Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 87: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasivisi, misi, tujuan, objektif dan rencana kerja. Fungsi akuntabilitas

didasarkan pada rencana ini dan evaluasi dilakukan pada tingkat

kesuksesan pelaksanaan rencana tersebut.

Organisasi atau lembaga pengelola prasarana dan sarana pengendalian

banjir di perkotaan harus dibentuk tidak hanya pada kawasan perkotaan

saja tetapi juga diseluruh daerah tangkapan air dan kawasan perairan

pantai dimana sumber permasalahan berasal. Institusi ini mempunyai

tanggung jawab mengendalikan peningkatan debit dari daerah hulu dengan

jalan menurunkan aliran permukaan dan meregulasi debit puncak melalui

berbagai macam cara dan bertanggung jawab untuk mengendalikan

pengambilan air tanah ayng berdampak pada amblesan (land subsidence).

Disamping itu lembaga ini juga bertanggungjawab terhadap

pengembangan rencana dan program, persiapan dan implementasi sistem

bangunan, melakukan operasi dan pemeliharaan, manajemen keuangan

dan menjaga sistem pendukung pengambilan keputusan (Decision Support

System = DSS).

Gambar E. 61 Struktur Decision Support System (DSS).

E.1.30Aspek Lingkungan

Dampak yang mungkin timbul dari pembangunan sistem drainase antara

lain :

1) Genangan permanen dalam saluran/waduk. Saluran drainase saat musim kemarau pada umumnya hanya menampung air limbah (domestik dan Industri), yang debitnya tiak bear. Secara teoritis seharusnya tidak terjadi genangan, namun kenyatannya banyak saluran drainase di sekitar kita yang

U s u l a n T e k n i s E - 87Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 88: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasimenggenang dan menjadi sarang nyamuk. Ada dua kemungkinan penyebabnya, yaitu :(1) Timbunan sampah dan kotoran dalam saluran.(2) Sedimentasi.(3) Dasar saluran naik turun.

2) Pencemaran air tanah. Pada musim kemarau, air di dalam saluran berasal dari limbah domestik dan industri, tidak ada pengenceran. Sehingga air yang meresap ke dalam tanah adalah air limbah, dan mencemari air tanah dan sumur penduduk. Untuk diperlukan desain yang benar, misalnya dengan membuat saluran bertingkat, seperti pada Gambar E.44.

Gambar E. 62 Proses pencemaran air tanah melalui saluran drainase.

Untuk menghindari terjadinya pencemaran air tanah oleh limbah air buangan dapat

dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

- Lining atau Geotextile- Drainase sistem terpisah

3) Intrusi air asin

Untuk mengatasi atau mencegah terjadinya intrusi air laut dilakukan dengan

beberapa cara yaitu :

- Pintu Air pasang- Bendung karet- Lining atau Geotextile

U s u l a n T e k n i s E - 88Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 89: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 63 Intrusi air laut melalui saluran drainase.

Gambar E. 64 Bendung karet untuk mencegah intrusi air asin.

4) Pemindahan banjir

U s u l a n T e k n i s E - 89Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 90: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 65 Penanganan banjir yang tidak menyeluruh mengakibatkan

banjir berpindah ke lokasi lain.

E.8. SURVEI HIDROMETRI DAN SISTEM DRAINASE

E.1.31Survei Hidrometri

Maksud dan Tujuan

Maksud survei hidrometri adalah mencari data yang diperlukan dalam

analisa hidrologi dan selanjutnya bertujuan untuk penentuan jenis dimensi

dari jembatan, bangunan drainase disamping untuk penentuan bentuk

potongan melintang sungai.

Untuk mengetahui kondisi hidrografi lapangan. Konsultan akan

mengidentifikasi di lapangan daerah-daerah rendah dimana diperkirakan

perlu dibuat gorong-gorong. Sebelum melaksanakan survei hidrologi

lapangan perlu disiapkan terlebih dahulu peta daerah aliran sungai (DAS)

lokasi yang dimaksud dalam skala yang tepat, sehingga terlihat dengan

jelas air sungai, punggung bukit dan daerah cakupan setiap sub-DAS.

Informasi lapangan berupa elevasi bekas banjir yang terdapat di batuan

tepi sungai maupun informasi dari penduduk setempat akan sangat

membantu dalam mengecek hasil perhitungan banjir teoritas.

Ruang lingkup

o Pola aliran dan jenis permukaan

o Pengukuran kecepatan aliran

o Pengukuran penampang melintang

U s u l a n T e k n i s E - 90Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 91: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

o Pengambilan contoh air (sedimen) : Suspended Load, Bed Load

o Pengamatan Terrain daerah tangkapan, pengamatan Tata Guna

Lahan

o Penulusuran sistem drainase

Metodologi Pelaksanaan

1. Menentukan Lokasi Pengukuran Debit Sungai

Untuk meramalkan banjir yang lebih akurat, pengukuran debit sungai harus

dilakukan berkali-kali. Oleh karena itu, pilihlah lokasi yang strategis.

Yang paling ideal untuk mengukur debit adalah pada bangunan air yang

ada di sungai itu, seperti bendungan, pintu air, siphon, talang air, saluran,

gorong-gorong, waduk, dan lain-lain. Khususnya untuk bendungan besar,

anda tidak usah mengukur debit, karena ada operator bendung yang

mencatat tinggi air, dan sekaligus debitnya. Kalau anda beruntung, anda

bisa memperoleh data pengukuran debit sampai beberapa puluh tahun

yang lalu.

Kalau bangunan seperti itu tidak ada, maka sebaiknya adan menghubungi

“Litbang air” dari Departemen Kimpraswil, yang berlokasi di Bandung.

Banyak sungai ditanah air yang sudah diukur secara rutin, dan dibukukan

debitnya dengan baik.

Lokasi pengukuran debit harus bebas dari “olakan air”, arus yang tidak

teratur (tidak simetris), erosi pada sisi sungai, interupsi dari inlet atau out-

let anak sungai, atau adanya pengendapan didasarnya. Gambar E.66

memberikan rambu-rambu lokasi pengukuran debit sungai.

U s u l a n T e k n i s E - 91Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 92: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 66 Rambu-rambu lokasi pengukuran debit sungai.

U s u l a n T e k n i s E - 92Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 93: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi2. Pengukuran kecepatan aliran

Sebelum mulai mengukur aliran sungai terlebih dahulu harus dipilih lokasi sekitar

pos duga yang memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Palung sungai harus sedapat mungkin lurus dengan arah arus kecepatan

sejajar satu dengan yang lain.

a. Dasar sungai sedapat mungkin tidak berubah-ubah, bebas dari batu

besar, tumbuhan air dan bangunan air yang menyebabkan jalur

kecepatan tidak sejajar satu dengan yang lainnya.

b. Dasar penampang sungai sedapat mungkin rata supaya pada waktu

menghitung penampang basah hasilnya mendekati sebenarnya.

Tahap kegiatan pengukuran:

Mengukur pada kedalaman garis vertikal yang akan diukur kecepatannya

kemudian menentukan titik kedalaman pengukuran (0.2; 0.8 atau 0.2; 0.6;

0.8 atau 0.6 saja).

Mengukur jarak dari tepi permukaan sungai ke setiap garis pengukuran

vertikal.

Mencatat jumlah putaran yang terjadi pada setiap titik pengukuran.

Menghitung kecepatan daripada setiap titik pengukuran berdasarkan jumlah

putaran yang diperoleh dan selanjutnya merata-ratakan.

Menghitung luas bagian penampang melintang untuk setiap jalur.

Menghitung besar aliran untuk setiap bagian jalur penampang melintang

dengan menggunakan rumus Q = A . V.

Kegiatan ini terus berulang untuk setiap jalur garis vertikal pada seluruh

penampang melintang.

Besar aliran untuk seluruh penampang basah adalah jumlah kumulatif

seluruh besar aliran bagian dari seluruh vertikal. Kecepatan rata-rata aliran

penampang basah diperoleh dengan membagi besar aliran seluruh

penampang dengan luas seluruh penampang melintang.

U s u l a n T e k n i s E - 93Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 94: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi3. Pengukuran penampang melintang

Pengukuran melintang sungai dilakukan pada lokasi/tempat yang sama dengan titik

pengukuran kecepatan arus. Pengukuran penampang melintang akan dicocokkan

terhadap pengukuran topografi, dimana pengukuran melintang dilakukan dengan

interval 400 m pada saluran dan 2000 m pada sungai dengan echosounder atau

sesuai petunjuk direksi.

4. Penelusuran sistem drainase

Penulusuran dilakukan dengan menelusuri saluran atau sungai yang ada dan

kemudian dilakukan pengukuran hidrometri. Penelusuran dihentikan pada cabang

saluran drainase sekunder.

Mengukur Kecepatan Arus dengan Pelampung

Pelampung adalah pengukuran arus yang paling sederhana. Bahan yang bisa

adalah stereofoam (semacam busa putih). Disarankan untuk membentuk seperti

badan kapal, supaya memiliki karakteristik hidrolis yang paling ideal. Yang diukur

adalah kecepatan permukaan pada sepertiga lebar sungai, mengikuti distribusi

kecepatan yang berbentuk parabola datar dan hiperbola tegak, seperti Gambar

E.67.

Gambar E. 67 Distribusi kecepatan aliran pada suatu tampang sungai.

Contoh Penyelesaian

U s u l a n T e k n i s E - 94Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 95: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiDiketahui : Hasil pengukuran kecepatan arus permukaan suatu sungai pada

sepertiga lebar, masing-masing adalah 1,52 m/detik dan 1.63 m/detik.

Ditanya : Kalau luas penampang sungai tersebut 247 m2, berupa debit pada

penampang sungai tersebut?

Penyelesaian : Pengukuran sepertiga lebar sungai digambarkan pada Gambar E.68.

Sehingga kecepatan rata-rata adalah 0.5 x (1.52 + 1.63) = 1.575

m/detik.

Gambar E. 68 Distribusi kecepatan aliran sungai secara horisontal dan

vertikal.

Vrata-rata = 0.80 x VPermukaan = 1.575 =1,26 m3/detik

Debit sungai = 247 x 1,26 = 311,22 m3/detik

Mengukur Kecepatan Air dengan “Current Meter”

Bentuk alat ini seperti terlihat pada Gambar E.51. Semakin kuat putaran kincir,

maka semakin besar kecepatana aliran, yang biasanya dinyatakan dalam rumus :

V = kn +m

Dimana : V = kecepatan Aliran (cm/detik)

n = jumlah putaran untuk suatu waktu tertentu.

K dan m = koefisien yang besarnya tergantung jenis alat kincir.

U s u l a n T e k n i s E - 95Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 96: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 69 Alat ukur current meter.

Contoh penyelesaian

Di ketahui : Curent Meter dengan kincir no.2, memiliki rumus V = 0.73 n + 24,

dipakai untuk mengukur sungai dengan lebar 12 meter.

Ditanyakan : Lakukan hitungan debit, dengan cara dua titik.

Penyelesaian :

(1) Bagi lebar sungai 12 meter atas interval @ 2m

(2) Pada pusat luasan 2 meter ini, celupkan kincir Curent meter, pada dua titik,

berarti kincir ditempatkan pada kedalam, masing-masing “0,2 d “dan “0.8 d “dari

dasar sungai, dimana dalam airnya dinyatakan dengan “d”.

U s u l a n T e k n i s E - 96Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 97: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 70 Format Hitungan debit dengan “Current meter”.

Mengukur debit dengan methode Direct Step.

Bertitik tolak pada kenyataan, bahwa setiap bangunan air yang berbentuk

“prismatis”, dapat dimanfaatkan sebagai bangunan ukur debit. Hanya muka air dan

kedalamnnya yang selalu berubah sesuai dengan debit yang mengalir. Oleh karena

itu, dengan mencatat data aliran hulu dan hilir, maka kita dapat menghitung debit.

Dalam hal ini, kita memanfaatkan Rumus Direct Step yang memberikan hubungan

jelas antara tampang muka air hulu dan hilir, seperti terlihat pada Gambar E.70.

U s u l a n T e k n i s E - 97Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 98: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 71 Sketsa hidrolis rumus direct step.

Pada Gambar E.71, diukur jarak antar tampang, yaitu sebesar L. Selanjutnya

diperoleh hubungan hidrolis tampang hulu dan hilir, menurut “Hukum Bernouli” :

S0 L + yu + = yd + + Sf L

Dalam hal ini : yu + = Eu = “Spesifik enersi”

S0 L + Eu = Ed + Sf L L =

Dimana : L = Jarak antara tampang hulu hilir (m)

Eu = Enersi Spesifik Tampang hulu (m)

S0 = Kemiringan dasar saluran hulu hilir

Sf = Kemiringan garis tekan hulu hilir

Besarnya Sf dihitung dengan Rumus Manning

Sf =

Dimana : n = angka kekasaran Manning

U s u l a n T e k n i s E - 98Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 99: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiV = kecepatan aliran (m/detik)

R = Radius Hidrolik = A/P (m)

A = Luas basah (m2)

P = Keliling basah (m)

Apabila besarnya Sf antara tampang hulu hilir tidaklah sama, maka dipakai harga

rata-ratanya.

Contoh

Diketahui : Bagian sungai yang telah diberi pasangan batu kali, telah diukur

dengan Waterpas dan hasilnya, seperti terlihat pada Gambar

E.72.

Ditanyakan : Hitung Debit Aliran dengan Methode Direct Step.

Gambar E. 72 Hasil pengukuran dengan waterpass.

Penyelesaian : Karena diperlukan perhitungan yang sifatnya coba-coba (trial &

Error), pakailah Komputer PC (yang sudah banyak dimiliki di

mana-mana), dan bukalah program Excel.

U s u l a n T e k n i s E - 99Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 100: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiBuatlah format yang bisa dipakai ulang dan di copy berkali-kali sebagai berikut :

Kolom 1 : Nomor urut

Kolom 2 dan 3 : Nomor stasiun Hulu dan Hilir (untuk menandai lokasinya pada

peta)

Kolom 4,5,dan 6 : Ukuran saluran, berupa lebar dasar sungai (kolom 4), lebar atas

sungai (kolom 5), kedalaman sungai (kolom 6)

Kolom 7 dan 8 : Elevasi Dasar sungai hulu dan hilir

Kolom 9 dan 10 : Elevasi muaka air hulu dan hilir

Kolom 11 : Tuliskan trial debit, lihat kolom 20, apakah jarak hulu hilir

sudah sama dengan jarak terukur, dan hentikan tiral.

Kolom 14,15, dan 16 : Menghitung besarnya Sf untuk tiap tampang dengan rumus :

Sf = (Q2 n2)/A2R4/3

Kolom 15 menyimpulkan rata-rata dari kolom 13 dan 14.

Kolom 17,18 dan 19 : Menghitung Enersi Spesifik

E = h + V2/2g

Kolom 15 menyimpulkan rata-rata dari kolom 13 dan 14

Kolom 20 : Jarak hulu hilir dihitung, dengan trial debit. Kalau sudah

sama dengan jarak terukur hentikan trial ini.

U s u l a n T e k n i s E - 100Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 101: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E. 73 Perhitungan debit dengan metode direct step.

Pada hitungan trial dengan spread-sheet pertama sebesar 12.0 m3/detik,

menghasilkan jarak hulu hilir 48,56 m, padahal jarak terukur adalah 50,45 m. Maka

dilanjutkan dengan trial kedua, dan seterusnya. Hasil akhir adalah debit sebesar

13,07 m3/detik, yang menghasilkan jarak hulu-hilir 50,45 meter.

Kesimpulan : debit sungai pada saat pengukuran adalah 13,07 m3/detik

E.1.32Survei Bangunan-bangunan Air

Maksud dan Tujuan

Survei ini dilakukan untuk mendapatkan data-data tentang :

- dimensi hidrolis dan kapasitas bangunan air

- pola aliran yang terjadi

- informasi keadaan bangunan saat banjir

- inventarisasi bangunan air beserta permasalahannya

U s u l a n T e k n i s E - 101Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 102: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi- inventarisasi operasi dan pemeliharaan

Ruang lingkup

o Pola aliran, pengukuran dimensi bangunan-bangunan air

o Pengukuran kecepatan aliran yang melewati bangunan-bangunan

air

o Pengukuran penampang melintang

o Pengukuran dimensi maupun elevasi-elevasi saat banjir

o Pengumpulan data operasi dan pemeliharaan

Metodologi Pelaksanaan

Metode yang digunakan adalah :

- wawancara dengan penduduk setempat

- pencatatan langsung di lokasi bangunan air, pemotretan bangunan air

- pengumpulan bahan-bahan tentang operasi dan pemeliharaan langsung di lokasi

- pengukuran penampang dilakukan seperti pada pekerjaan hidrometri

Peralatan

Current meter, Nossel, Botol sampel, Tutup botol, Kamera, Pita ukur, Peta,

Formulir Data.

Output

- Data debit, Data kecepatan aliran sekitar lokasi

- Data ketinggian muka air berupa elevasi banjir, normal dan minimal

- Data dimensi bangunan air

- Inventarisasi bangunan air di wilayah DAS

E.9. PERMODELAN DALAM PERENCANAAN

E.1.33Pemodelan Fluktuasi Muka Air Sungai (Banjir)

U s u l a n T e k n i s E - 102Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 103: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi Umum

Simulasi hidrodinamis arus menggunakan suatu program yang mempunyai

beberapa modul dengan fungsinya masing-masing. Inti program ini adalah

pemodelan hidraulik yang dapat mensimulasikan perilaku sungai maupun

laut mendekati keadaan nyata dilapangan. Keluaran (output) yang

diharapkan adalah hasil simulasi kondisi nyata (existing) dan desain dalam

kala ulang tertentu. Elevasi muka air, kecepatan aliran dan kondisi pasang

surut dapat dimodelkan dalam hitungan pemodelan keadaan langgeng

(steady) dan tidak langgeng (dinamis-berubah terhadap waktu).

Modul yang akan digunakan dalam pekerjaan ini adalah HEC-RAS untuk

sungai. HEC-RAS 3.1.3 adalah modul yang dapat memodelkan kondisi sungai

dengan segala perubahan elevasi muka air, kecepatan dan beberapa elemen

hidraulis lainnya.

U s u l a n T e k n i s E - 103Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 104: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Grafik Pengamatan & Peramalan Pasang Surut

0

124

248

0 24 48 72 96 120 144 168 192 216 240 264 288 312 336 360

Waktu (Jam)

Tin

gg

i M

uka A

ir (

cm

)

Data pengamatan

Hasil Peramalan

MSL

Hidrograf Banjir Rencana

53

68

83

101

122

136

149

162

0

50

100

150

200

0 5 10 15 20 25 30 35 40Waktu (jam)

Deb

it (m

3 /s)

2 th

3 th

5 th

10 th

25 th

50 th

100 th

200 th

Pemodelan

a. Kondisi Batas

Kondisi batas hulu debit masukan hasil analisa hidrologi sesuai dengan

catchment/ daerah tangkapan yang dimiliki sungai dalam proyek. Gambar

E.80 berikut ini merupakan contoh debit masukan yang akan menjadi

kondisi batas hulu.

Gambar E. 74 Contoh Hidrograf Banjir Rencana

Batas hilir merupakan pasang surut sesuai ditunjukkan pada Gambar E.81.

Gambar E. 75 Contoh Pasang Surut di Muara

U s u l a n T e k n i s E - 104DED Pengendalian Banjir Kr. Tadu Kabupaten Nagan Raya

Page 105: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiAnalisa banjir adalah analisa luapan air dibandingkan dengan kondisi elevasi

daratan dengan kala ulang tertentu. Luapan air ini bisa menggenangi

pemukiman atau fasilitas umum lainnya.

b. Skema Model

Pemodelan suatu sungai dengan menggunakan Hec-Ras mengikuti alur

existing sungai dengan data potongan melintang sebagai masukan dalam

model. Gambar.. contoh skema model

Gambar E. 76 Contoh Skema Model Sungai

c. Kalibrasi Model

Suatu model simulasi dari komputer dapat digunakan sebagai analisis jika

hasil simulasinya mendekati kenyataan yang ada dilapangan. Data-data

banjir di masa lampau dapat dijadikan acuan sebagai pembanding hasil

model dengan kenyataan yang ada dilapangan. Model yang sudah dikalibrasi

dapat digunakan untuk mendesain atau merencanakan banjir dari suatu

kawasan dengan periode kala ulang yang direncanakan.

U s u l a n T e k n i s E - 105Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Tripa-2

Tripa-1

Page 106: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Gambar E.83 berikut ini contoh dari kalibrasi model menggunakan Hec-Ras.

Berdasar informasi yang diterima dari masyarakat dan hasil survey dapat

diketahui lokasi banjir dan kedalaman genangan banjir. Simulasi model

disesuaikan dengan kondisi yang ada dilapangan (existing). Lokasi yang

dilingkari merupakan daerah yang banjir hampir setiap tahun dengan

ketinggian genangan 0.3-0.5 m.

a.

Gambar E. 77 Contoh hasil permodelan sungai dengan modul HEC-RAS.

U s u l a n T e k n i s E - 106Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

-300 -200 -100 0 100 200-3

-2

-1

0

1

2

Tripa Plan: kalibrasi SCS 12/29/2006 C57

Station (m)

Elev

atio

n (m

)

Legend

WS Max WS

Ground

Bank Sta

.08 .045 .08

Tripa-2

T

ri pa

0 5000 10000 15000 20000-8

-6

-4

-2

0

2

4

6

8

10

Tripa Plan: kalibrasi SCS 12/29/2006

Main Channel Dis tance (m)

Ele

vatio

n (m

)

Legend

WS Max WS

Ground

LOB

ROB

Tripa Tripa-2

Page 107: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Tripa Plan: ex-25yrs-r1 12/29/2006 Legend

WS Max WS

Ground

Bank Sta

Ground

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

d. Hasil Keluaran Model

Output model Hec-Ras dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti

tabel, potongan memanjang maupun melintang. Gambar berikut ini

merupakan salah satu contoh persperktif keluaran model yang

menggambarkan luapan sungai pada kondisi puncak.

Gambar E. 78 Contoh perspektif model sungai di Aceh

E.1.34Stabilitas Struktur Bangunan

Struktur bangunan pengaman pantai perlu dilakukan perhitungan terhadap

stabilitas bangunan dan daya dukung tanah sehingga mampu memikul gaya

luar, seperti gelombang maupun gaya-gaya luar lainnya seperti adanya

tekanan tanah.

U s u l a n T e k n i s E - 107Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Tripa-2

T r ip a

Tripa-1

Tripa

Page 108: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi Analisa Penurunan

Penurunan (settlement) dapat didefinisikan sebagai pergerakan vertikal

dasar suatu struktur yang dipengaruhi penambahan beban atau lainnya.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan, biasanya akibat

penambahan beban pada tanah sekitarnya, penimbunan, penurunan muka

air tanah, getaran, berat konstruksi. Besarnya penurunan dapat dinyatakan

dengan persamaan sebagai berikut:

S = Si + Sc + SS

di mana:

Si = penurunan segera (immediate settlement)Sc = penurunan akibat konsolidasi pertama (primary consolidation

settlement)Sc = penurunan akibat konsolidasi (secondary consolidation

settlement)

Harga Si jauh lebih kecil daripada harga SC dan waktu yang diperlukan juga

lebih kecil daripada waktu SC. Sedangkan SS merupakan tahapan kedua

sesudah selesainya penurunan pertama, waktu yang diperlukan SS sangat

lama dan harga penurunannya juga kecil.

a.Penurunan Segera (Immediate Settlement)

Penurunan langsung disebabkan karena pemampatan elastis tanah.

Berdasarkan teori elastis, besarnya penurunan (Si) dapat dihitung

dengan rumus:

di mana

IS = faktor pengaruh bentuk pondasi yang harga bergantung pada B dan L

qo = gaya netto per unit luas (m’) = angka poissonES = modulus kompresi atau elastisitas (Young’s

Modulus)L = panjang pondasiB = lebar pondasi

U s u l a n T e k n i s E - 108Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 109: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiBesaran-besaran yang dapat digunakan untuk analisa penurunan

segera dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini.

Tabel E. 7 Harga IS Untuk Macam-macam Bentuk Pondasi.

Faktor Pengaruh Bentuk Pondasi IS Jenis Pondasi

Pusat Sudut Rata-rata

Bujursangkar 1,12 0,56 0,95 0,82

Lingkaran 1,00 0,64 0,85 0,88

Persegi L/B

1,50

2,00

5,00

10,00

100,0

1,36

1,53

2,10

2,52

3,38

0,68

0,77

1,05

1,26

1,69

1,20

1,31

1,83

2,25

2,96

1,06

1,20

1,7

2,20

3,40

Tabel E. 8 Parameter Elastis Berbagai Jenis Tanah.

Faktor Pengaruh Bentuk Pondasi IS Jenis Pondasi

Pusat Sudut Rata-rata

Bujursangkar 1,12 0,56 0,95 0,82

Lingkaran 1,00 0,64 0,85 0,88

Persegi L/B

1,50

2,00

5,00

10,00

100,0

1,36

1,53

2,10

2,52

3,38

0,68

0,77

1,05

1,26

1,69

1,20

1,31

1,83

2,25

2,96

1,06

1,20

1,7

2,20

3,40

Penurunan Akibat Konsolidasi Pertama (Primary Consolidation

Settlement)

Penurunan konsolidasi pertama adalah penurunan yang disebabkan

pemampatan oleh daya mampat lapisan tanah yang di bawah.

Besarnya penurunan (SC) dalam cm, ditentukan dengan rumus:

SC = mV.P.H

di mana H = tebal tanah (m), atau

U s u l a n T e k n i s E - 109Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 110: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

Nilai CC (indeks kompresi) diketahui dari pengujian laboratorium atau

ditentukan dari Liquid limit (batas cair) tanah jenis lempung umumnya

yang mempunyai batas kepekaan < 4. Rumus indeks kompresi

ditentukan sebagai:

CC = 0,009 (LL – 10)

b. Penurunan Akibat Konsolidasi Kedua (Secondary Consolidation

Settlement)

Besarnya penurunan kedua dapat ditentukan dengan persamaan

sebagai berikut:

di mana

Hts = tebal lapisan tanah pada saat mulai konsolidasi kedua.= Ht - Sc

Ht = tebal lapisan tanah.SC = penurunan pertama konsolidasi.t = waktu yang dibutuhkan untuk pemampatan kedua.tp = waktu berakhirnya konsolidasi pertama.C = koefisien konsolidasi kedua.

Analisa Stabilitas Lereng

Analisa stabilitas lereng dihitung dengan Slice Method (Metode Irisan).

Analisa stabilitas dengan menggunakan metoda irisan dapat dijelaskan pada

Gambar E.85 di mana AC adalah busur kelongsoran coba-coba. Tanah di

atas busur tersebut dibagi menjadi beberapa irisan vertikal dengan lebar

setiap irisan tidak harus sama.

r sin

A

n

n

Cb n

B

H

r

r

r

1

2n

nW

U s u l a n T e k n i s E - 110Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 111: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiGambar E. 79 Permukaan Bidang Irisan.

Ditinjau irisan ke n seperti terlihat pada Gambar E.86. Berat irisan adalah

Wn. Gaya Nr dan Tr adalah komponen normal dan tangensial dari reaksi R.

Pn dan Pn+1 adalah gaya normal yang bekerja pada kedua sisi irisan. Gaya

geser yang bekerja pada kedua sisi irisan adalah Tn dan Tn+1. Untuk

penyederhanaan tekanan air pori diasumsikan sama dengan nol.

Gambar E. 80 Skema Gaya yang Bekerja Pada Analisa Stabilitas Metoda

Elemen Hingga.

Tinjauan keseimbangan,

Gaya geser penahan dapat diekspresikan sebagai:

Tegangan normal pada persamaan di atas adalah sama dengan:

U s u l a n T e k n i s E - 111Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 112: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiUntuk keseimbangan ABC, momen terhadap titik O harus sama dengan

momen penahan terhadap titik O.

, atau dapat dinyatakan

dalam Fs

Catatan : Ln adalah hampir sama dengan bn / cos n , di mana bn = lebar

irisan ke n.

Analisa Daya Dukung dan Stabilitas Geser

Analisa daya dukung dilakukan untuk mempelajari kemampuan tanah dalam

mendukung beban struktur yang terletak di atasnya. Daya dukung

menyatakan tahanan geser tanah untuk melawan penurunan akibat

pembebanan, yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah di

sepanjang bidang-bidang gesernya. Analisa daya dukung tanah dilakukan

dengan menggunakan persamaan Terzaghi yang diberikan sebagai berikut:

di mana:

c = kohesi tanah = berat volume tanahq = tekanan pada dasar pondasiB = lebar pondasi

NC, Nq, N = faktor daya dukung Terzaghi yang dipengaruhi

Umumnya analisa daya dukung didasari pada analisa keruntuhan geser lokal

(local shear failure) dan keruntuhan geser umum (general shear failure)

sehingga nilai faktor daya dukung Terzaghi dapat dilihat pada tabel berikut

ini.

U s u l a n T e k n i s E - 112Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 113: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiTabel E. 9 Nilai-nilai Faktor Daya Dukung Terzaghi.

Keruntuhan Geser Umum Keruntuhan Geser Lokal

NC Nq N N’C N’q N’

0

5

10

15

20

25

30

34

35

40

45

48

50

5,7

7,3

9,6

12,9

17,7

25,1

37,2

52,6

57,8

95,7

172,3

258,3

347,6

1,0

1,6

2,7

4,4

7,4

12,7

22,5

36,5

41,4

81,3

173,3

287,9

415,1

0,0

0,5

1,2

2,5

5,0

9,7

19,7

35,0

42,4

100,4

297,5

780,1

1153,2

5,7

6,7

8,0

9,7

11,8

14,8

19,0

23,7

25,2

34,9

51,2

66,8

81,3

1,0

1,4

1,99

2,7

3,9

5,6

8,3

1,.7

12,6

20,5

35,1

50,5

65,6

0,0

0,2

0,5

0,9

1,7

3,2

5,7

9,0

10,1

18,8

37,7

60,4

87,1

Penentuan daya dukung tanah yang diijinkan untuk desain didasari atas

besarnya angka keamanan (FS) yang nilainya sekitar 3 (FSijin = 3). Besarnya

daya dukung tanah untuk suatu struktur yang ada di atasnya dapat

diperoleh menurut persamaan berikut.

di mana:

qu = daya dukung batas tanahPi = total tekanan yang bekerja pada tanah

Sedangkan kemampuan tanah untuk menahan gaya geser yang terjadi

sebagai berikut:

di mana:

U s u l a n T e k n i s E - 113Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 114: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiFri = total tegangan yang menahan geser tanahFi = total tegangan yang bekerja pada tanah

Analisa Stabilitas Guling

Analisa stabilitas guling dilakukan untuk melihat kemampuan struktur

dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut.

Pengecekan stabilitas guling dilakukan dengan mengecek angka keamanan

struktur yang diberikan oleh persamaan berikut ini.

di mana:

Mri = total momen yang menahan pengaruh gulingMi = total momen yang bekerja pada tanah

U s u l a n T e k n i s E - 114Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 115: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.10. ESTETIKA DAN LINGKUNGAN

Karena bangunan pantai merupakan benda asing yang akan merubah

keseimbangan pantai, bagaimanapun juga pembuatan bangunan pengaman pantai

akan berdampak terhadap pantai di sekitarnya. Dalam perencanaan struktur

bangunan pengaman pantai ini harus diperhitungkan seminimal mungkin dampak

yang akan timbul, seperti terjadinya erosi dibagian hilir dari bangunan pantai.

Apabila memungkinkan, struktur pengaman pantai harus diusahakan di mana

dampak dari struktur sangat kecil seperti pada pantai tetangganya.

E.11. RENCANA MUTU KEGIATAN

Sebagai landasan dalam pelaksanaan kegiatan pekerjaan SID Pantai dan Muara

Krueng Seumayam. diKabupaten Nagan Raya, maka metodologi pendekatan

pelaksanaan kegiatan tersebut diatas pada usulan teknis ini, kami terapkan Sistem

Jaminan Mutu ISO - 9000 dalam rangka upaya pembenahan manajemen yang

fundamental untuk memberikan landasan yang kokoh dalam memenuhi harapan

pelanggan terutama instansi pemerintah Badan / Lembaga atau Dinas sebagai

pengguna jasa dalam mengelola kegiatan - kegiatan pembangunan.

Sistem Jaminan Mutu standar ISO - 9000 selalu berorientasi pada perbaikan mutu

dan pencegahan tidak terjadinya kegagalan. Sehingga tujuan utama memberikan

jaminan kepuasan bagi pengguna jasa dengan prinsip biaya pencegahan dan

perbaikan jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya kegagalan.

Pengendalian produk / jasa merupakan upaya untuk mencegah terjadinya

kegagalan, maka untuk itu kami tempuh langkah - langkah antara lain :

Mengambil insiatif untuk mencegah munculnya ketidak sesuaian produk /

jasa;

Mengidentifikasi dan mencatat masalah yang mempengaruhi mutu

produk/jasa, proses dan sistem mutu ;

Membahas dan merekomendasikan usul perbaikan melalui jalur yang

ditetapkan;

Memantau efektiftas perbaikan yang direkomendasikan;

Melakukan pengendalian tindak lanjut sampai ketidak sesuaian terkoreksi.

U s u l a n T e k n i s E - 115Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 116: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiPenerapan Sistem Jaminan Mutu pada kegiatan pekerjaan Detail Design

Penanggulangan Banjir dan Abrasi Pantai, kami akan selalu memperhatikan hal-hal

sebgai berikut :

Menuntut komitmen yang tinggi dan tanggung jawab yang besar dari

manajemen mutu.

Menuntut keterlibatan dan kejelasan tanggung jawab semua tingkatan atau

komponen dalam pelaksanaan kegiatan Detai Design yang diuraikan pada

Kerangka Acuan Kerja.

Faktor manusia sangat memegang peranan penting. Motivasi dan disiplin

yang lemah akan berakibat pada kelambatan implementasi penerapan

Sistem Jaminan Mutu.

Cenderung untuk berpikir kritis dalam mempertanyakan kegunaan dan

efektivitas serta mencari kelemahan sistem standar dan ini juga akan

mengakibatkan lambatnya penerapan SJM ISO - 9000.

Sebagai kriteria keberhasilan penerapan Sistem Jaminan Mutu, kami konsisten

terhadap hal-hal sebagai berikut :

Produk / hasil kegiatan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan;

Ketersediaan dokumen mutu;

Pemahaman pelaksana / tim yang akan terjun melaksanakan pekerjaan

terhadap prosedur / instruksi kerja;

Konsitensi penerapan.

Selanjutnya penerapan Sistem Jaminan Mutu pada pelaksanaan kegiatan

pekerjaan Detail Design merupakan Metodologi pelaksanaan kegiatan yang kami

usulkan, yaitu dengan dibuatnya RENCANA MUTU KEGIATAN.

Rencana Mutu Kegiatan (RMK) ini dimaksudkan sebagai suatu alat / instrumen

dokumen yang menjadi panduan untuk dapat melaksanakan kegiatan sesuai

dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dengan prosedur yang baku,

sekaligus sebagai alat pengendalian pelaksanaannya.

Sebagai jaminan pelaksanaan kegiatan tersebut, maka pada Dokumen Rencana

Mutu Kegiatan ini terdapat adanya suatu sistem mutu seperti tersedianya

organisasi perusahaan yang mantap dan memahami terhadap Sistem Jaminan Mutu

selain pengalaman yang cukup handal dari Tim yang akan melaksanakan kegiatan.

Pemenuhan terhadap standar baku / prosedur yang ditetapkan dalam pengamatan,

penelitian dan analisa seperti analisa hidrologi, survey pengukuran dst. Selanjutnya

U s u l a n T e k n i s E - 116Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 117: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasipada sistem mutu ini adanya pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan, serta

adanya rencana / program kegiatan sesuai dengan tahapan kegiatan yang rinci dan

jelas seperti yang tersusun pada bagan alir pekerjaan.

Pengendalian dokumen / rekaman mutu dari setiap kegiatan merupakan bagian dari

penerapan Sistem Jaminan Mutu, yang berguna sebagai dokumen pelaksanaan.

U s u l a n T e k n i s E - 117Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 118: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

E.1. PENDAHULUAN.........................................................................................................................1

E.2. BANJIR............................................................................................................................................1

E.2.1 Permasalahan Drainase Perkotaan..........................................................................3

E.2.2 Penyebab Banjir dan Konsep Penanggulangannya............................................5

E.2.3 Prasarana dan Sarana(Infrastruktur).....................................................................18

E.2.4 Infrastruktur Air Perkotaan........................................................................................20

E.3. KONSEP DRAINASE.................................................................................................................21

E.3.1 Drainase Ramah Lingkungan....................................................................................23

E.3.2 Sistem Pembuangan Air Hujan di Rumah............................................................24

E.3.3 Saluran Drainase Sebagai Long Storage..............................................................26

E.3.4 Kolam Tamandi Kompleks Perumahan.................................................................26

E.3.5 Peningkatan Luas Badan Air.....................................................................................30

E.3.6 Penataan Kawasan Sekitar Waduk.........................................................................31

E.3.7 Pemeliharaan Kebersihan..........................................................................................31

E.3.8 Penataan Saluran Drainase di Kawasan Industri..............................................31

E.4. KONSEP PEMBANGUNAN SUNGAI BERWAWASAN EKOLOGI-HIDRAULIK (EKO-

HIDRAULIK) SEBAGAI SOLUSI.........................................................................................................32

E.4.1 Pendekatan Integralistik Ekologi dan Hidraulik, Harmonis Antara Perilaku

Alamiah dan Pembangunan dan Kesatuan Antara Konservasi dan Pembangunan

32

E.4.2 Drainasi Bebas Banjir dan Ramah Lingkungan..................................................36

E.4.3 Konsep Distribusi Banjir Eko-Hidraulik..................................................................40

E.4.4 Konsep Penanganan Sungai Kecil...........................................................................42

E.4.5 Implementasi Penentuan Batas Wilayah Sungai...............................................46

E.4.6 Implementasi Konsep ORPIM (One River One Plan One Integrated

Management)..................................................................................................................................51

E.4.7 Konsep Eko-Hidraulik dalam Penanggulangan Banjir.....................................52

E.4.8 Restorasi Sungai di Indonesia..................................................................................57

E.5. PEMANFAATAN FOTO UDARA, FOTOGRAMTERI DAN INTERPRETASI FOTO

UDARA DALAMSALURAN DRAINASE...........................................................................................59

E.5.1 Foto Udara.......................................................................................................................60

E.5.2 Interpretasi Citra Foto/Satelit...................................................................................61

E.5.3 Fotogrametri...................................................................................................................62

E.6. HIDROLOGI...............................................................................................................................68

E.6.1 Limpasan (Runoff).........................................................................................................68

U s u l a n T e k n i s E - 118Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 119: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiE.7. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE...................................................................................77

E.7.1 Aspek Teknis...................................................................................................................81

E.7.2 Aspek Ekonomi dan finansial....................................................................................84

E.7.3 Aspek Sosial Budaya....................................................................................................86

E.7.4 Aspek Legalitas atau Perundang-undangan.......................................................87

E.7.5 Aspek Kelembagaan.....................................................................................................88

E.7.6 Aspek Lingkungan.........................................................................................................89

E.8. SURVEI HIDROMETRI DAN SISTEM DRAINASE...............................................................91

E.8.1 Survei Hidrometri..........................................................................................................91

E.8.2 Survei Bangunan-bangunan Air.............................................................................102

E.9. PERMODELAN DALAM PERENCANAAN..........................................................................104

E.9.1 Pemodelan Fluktuasi Muka Air Sungai (Banjir)................................................104

E.9.2 Stabilitas Struktur Bangunan..................................................................................108

E.10. ESTETIKA DAN LINGKUNGAN.......................................................................................116

E.11. RENCANA MUTU KEGIATAN..........................................................................................116

GAMBAR E. 1 PENANGANAN TERPADU BANJIR KAWASAN DAERAH............................................................2

GAMBAR E. 2 KLASIFIKASI USAHA STRUKTURAL DAN NON STRUKTURAL DALAM MANAJEMEN DATARAN

BANJIR....................................................................................................................................................2

GAMBAR E. 3 PENGARUH URBANISASI PADA DAERAH TANGKAPAN AIR TERHADAP LAJU LIMPASAN...........3

GAMBAR E. 4 PROSES PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR YANG KURANG MELIBATKAN MASYARAKAT........4

GAMBAR E. 5 PROSES PEMBANGUNAN YANG MELIBATKAN MASYARAKAT SEJAK AWAL, SEHINGGA

HASILNYA DITERIMA OLEH MASYARAKAT.............................................................................................4

GAMBAR E. 6 SIKLUS DAN TAHAPAN PEMBANGUNAN YANG LENGKAP.........................................................4

GAMBAR E. 7 DENAH KOLAM TANDON DI MUARA SUNGAI.........................................................................6

GAMBAR E. 8 PINTU PASANG AIR LAUT BERALIRAN SUB-KRITIKAL...........................................................7

GAMBAR E. 9 PINTU PASANG AIR LAUT BERALIRAN SUPER-KRITIKAL.......................................................7

GAMBAR E. 10 ELEVASI DESAIN PINTU AIR PASANG...................................................................................8

GAMBAR E. 11 PADA SAAT BANJIR, ALIRAN DRAINASE KEDALAM TANGGUL TERHENTI...........................9

GAMBAR E. 12 PINTU KATUP SEDERHANA DAN PINTU KATUP APUNG........................................................9

GAMBAR E. 13 BACK WATER DI HULU BENDUNGAN.................................................................................10

GAMBAR E. 14 BANGUNAN INLET ARUS MASUK KEDALAM SUNGAI YANG KURANG TEPAT....................11

GAMBAR E. 15 JENIS PENGALIRAN SUNGAI MENEROBOS GORONG-GORONG............................................12

GAMBAR E. 16 ILUSTRASI SALURAN IRIGASI DAN DRAINASE......................................................................13

GAMBAR E. 17 SAWAH DIURUG UNTUK PERUMAHAN.................................................................................14

U s u l a n T e k n i s E - 119Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 120: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiGAMBAR E. 18 PILIH MUARA SEJAUH MUNGKIN KE HILIR SUNGAI..............................................................15

GAMBAR E. 19 PILIH MUARA DIHILIR BENDUNG BENDUNG IRIGASI............................................................15

GAMBAR E. 20 PILIH MUARA DIHILIR BENDUNG BENDUNG IRIGASI............................................................16

GAMBAR E. 21 BERMUARA KESUNGAI YANG RENDAH PEIL BANJIRNYA.....................................................17

GAMBAR E. 22 SISTEM INFRASTURKTUR PERKOTAAN (GRIGG, 1996)........................................................20

GAMBAR E. 23 SISTEM AIR BERSIH (GRIGG, 1996).....................................................................................21

GAMBAR E. 24 SISTEM MANAJEMEN AIR LIMBAH (GRIGG, 1996)...............................................................21

GAMBAR E. 25 KONSEP KONVENSIONAL DAN ECO-DRAINAGE...................................................................22

GAMBAR E. 26 ILUSTRASI IDEAL PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN KONSEP EKOHIDROLIK.................22

GAMBAR E. 27 ILUSTRASI ALUR AIR HUJAN DI RUMAH...............................................................................25

GAMBAR E. 28 ILUSTRASI KOLAM TAMAN DI KOMPLEKS PERUMAHAN......................................................27

GAMBAR E. 29 PENGURANGAN DEBIT PUNCAK DENGAN KOLAM TANDON (TAMPUNGAN SEMENTARA).....27

GAMBAR E. 30 URUTAN MENU DAN KENDALA PENANGAN BANJIR...........................................................28

GAMBAR E. 31 ILUSTRASI PENGGUNAAN TANDON...............................................................................30

GAMBAR E. 32 INTEGRALISTIK KOMPONEN EKOLOGI-HIDRAULIK (PROFIT SUNGAI)................................33

GAMBAR E. 33 PERKUATAN TEBING; BAGIAN KANAN HARMONI ANTARA PEMBANGUNAN DAN

KARAKTISTIK SUNGAI (TALUD RAMAH LINGKUNGAN) SEDANG BAGIAN KIRI TIDAK HARMONI

ANTARA PEMBANGUNAN DAN KARAKTERISTIK SUNGAI (TALUD TIDAK RAMAH LINGKUNGAN).......35

GAMBAR E. 34 DRAINASI KONVENSIONAL (ATAS) DAN DRAINASI RAMAH LINGKUNGAN (BAWAH)........38

GAMBAR E. 35 DRAINASI PERUMAHAN RAMAH LINGKUNGAN DENGAN KOLAM DRAINASI (KOLAM

KONSERVASI AIR HUJAN).....................................................................................................................39

GAMBAR E. 36 PENYEBARAN PEMUKIMAN TIDAK RAMAH LINGKUNGAN (A) DAN RAMAH LINGKUNGAN,

PENYEBARAN SATELIT TERKONSENTRASI DAN VERTIKAL (B)...........................................................40

GAMBAR E. 37 ILUSTRASI BANJIR TERDISTRIBUSI SEPANJANG ALIRAN SUNGAI.......................................41

GAMBAR E. 38 BANJIR BESAR TERKONSENTRASI DI SATU TEMPAT (BAGIAN HULU DITANGGUL, DISUDET

ATAUN DILURUSKAN)...........................................................................................................................42

GAMBAR E. 39 WILAYAH SUNGAI (DAERAH MEMANJANG JARI-JARI SUNGAI DARI HILIR HINGGA HULU

SELEBAR LEBAR SEMPADAN SUNGAI).................................................................................................46

GAMBAR E. 40 KECENDERUNGAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI BANTARAN SUNGAI.......................47

GAMBAR E. 41 TIPE UMUM SUNGAI DAN PENENTUAN LEBAR DAERAH BANTARAN SUNGAI....................48

GAMBAR E. 42 LEBAR SEMPADAN SUNGAI DENGAN PENDEKATAN KONSEP EKOHIDRAULIK......................50

GAMBAR E. 43 KESATUAN SUNGAI DALAM MENEJEMEN (ORPIM) TERMASUK KESATUAN DALAM

PENGELOLAAN DAS............................................................................................................................51

GAMBAR E. 44 ILUSTRASI IDEAL PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN KONSEP EKOHIDRAULIK (FAO &

PRINZ, 1999).....................................................................................................................................53

GAMBAR E. 45 ILUSTRASI RENATURALISASI SUNGAI YANG TELAH DIBANGUN...........................................58

GAMBAR E. 46 PETA GARIS DIGITAL...........................................................................................................63

GAMBAR E. 47 HASIL MOZAIKING..............................................................................................................65

U s u l a n T e k n i s E - 120Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 121: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi InovasiGAMBAR E. 48 PETA FOTO..........................................................................................................................66

GAMBAR E. 49 METODOLOGI PEMETAAN METODE FOTOGRAMETRIS ....................................................67

GAMBAR E. 50 SIKLUS HIDROLOGI.............................................................................................................68

GAMBAR E. 51 PENGARUH BENTUK DAS PADA ALIRAN PERMUKAAN........................................................69

GAMBAR E. 52 PENGARUH KERAPATAN PARIT/SALURAN PADA HIDROGRAF ALIRAN PERMUKAAN............69

GAMBAR E. 53 BAGAN ALIR PROSES PENGOLAHAN DATA HUJAN MENJADI HUJAN WILAYAH....................70

GAMBAR E. 54 HUBUNGAN CURAH HUJAN DENGAN ALIRAN PERMUKAAN UNTUK DURASI HUJAN YANG

BERBEDA...............................................................................................................................................71

GAMBAR E. 55 LANGKAH-LANGKAH PEMAKAIAN RUMUS RASIONAL.........................................................74

GAMBAR E. 56 TAHAPAN PEMBANGUNAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN.................................................79

GAMBAR E. 57 KONSEP UMUM TAHAPAN KEGIATAN PEKERJAAN DARI IDE SAMPAI OPERASIONAL...........80

GAMBAR E. 58 KONSEP PENDEKATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PERENCANAAN....................................81

GAMBAR E. 59 SISTEM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN YANG TELAH DILAKUKAN SAAT INI.....................87

GAMBAR E. 60 SISTEM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN YANG HARUS DILAKUKAN PADA WAKTU

KEDEPAN...............................................................................................................................................87

GAMBAR E. 61 STRUKTUR DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS)..................................................................88

GAMBAR E. 62 PROSES PENCEMARAN AIR TANAH MELALUI SALURAN DRAINASE......................................89

GAMBAR E. 63 INTRUSI AIR LAUT MELALUI SALURAN DRAINASE...............................................................90

GAMBAR E. 64 BENDUNG KARET UNTUK MENCEGAH INTRUSI AIR ASIN.....................................................90

GAMBAR E. 65 PENANGANAN BANJIR YANG TIDAK MENYELURUH MENGAKIBATKAN BANJIR BERPINDAH

KE LOKASI LAIN....................................................................................................................................91

GAMBAR E. 66 RAMBU-RAMBU LOKASI PENGUKURAN DEBIT SUNGAI........................................................93

GAMBAR E. 67 DISTRIBUSI KECEPATAN ALIRAN PADA SUATU TAMPANG SUNGAI......................................95

GAMBAR E. 68 DISTRIBUSI KECEPATAN ALIRAN SUNGAI SECARA HORISONTAL DAN VERTIKAL................96

GAMBAR E. 69 ALAT UKUR CURRENT METER.............................................................................................97

GAMBAR E. 70 FORMAT HITUNGAN DEBIT DENGAN “CURRENT METER”...................................................98

GAMBAR E. 71 SKETSA HIDROLIS RUMUS DIRECT STEP...............................................................................99

GAMBAR E. 72 HASIL PENGUKURAN DENGAN WATERPASS.......................................................................100

GAMBAR E. 73 PERHITUNGAN DEBIT DENGAN METODE DIRECT STEP.......................................................102

GAMBAR E. 74 CONTOH HIDROGRAF BANJIR RENCANA...........................................................................105

GAMBAR E. 75 CONTOH PASANG SURUT DI MUARA...............................................................................105

GAMBAR E. 76 CONTOH SKEMA MODEL SUNGAI....................................................................................106

GAMBAR E. 77 CONTOH HASIL PERMODELAN SUNGAI DENGAN MODUL HEC-RAS...............................107

GAMBAR E. 78 CONTOH PERSPEKTIF MODEL SUNGAI DI ACEH................................................................108

GAMBAR E. 79 PERMUKAAN BIDANG IRISAN............................................................................................112

Gambar E. 80 Skema Gaya yang Bekerja Pada Analisa Stabilitas Metoda Elemen Hingga.....................112

U s u l a n T e k n i s E - 121Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara

Page 122: Bab e Apresiasi Inovasi Bekasi

Apresiasi InovasiApresiasi Inovasi

TABEL E. 1 PERBEDAAN FUNGSI SALURAN IRIGASI DENGAN DRAINASE......................................................13

TABEL E. 2 RUMUS-RUMUS WAKTU KONSENTRASI......................................................................................73

TABEL E. 3 CONTOH ASUMSI YANG DIGUNAKAN DALAM PERHITUNGAN HIDROGRAF NAKAYASU............76

TABEL E. 4 JENIS PETA UNTUK PERENCANAAN DRAINASE..........................................................................82

TABEL E. 5 JENIS SURVEI TOPOGRAFI UNTUK JARINGAN DRAINASE............................................................83

TABEL E. 6 KRITERIA DESAIN HIDROLOGI SISTEM DRAINASE PERKOTAAN.................................................84

TABEL E. 9 HARGA IS UNTUK MACAM-MACAM BENTUK PONDASI..........................................................110

TABEL E. 10 PARAMETER ELASTIS BERBAGAI JENIS TANAH....................................................................110

Tabel E. 11 Nilai-nilai Faktor Daya Dukung Terzaghi..............................................................................114

U s u l a n T e k n i s E - 122Pemetaan Foto Udara Untuk Saluran Drainase di Kecamatan Bekasi Timur, Barat, Selatan dan Utara