of 18/18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Berdasarkan literatur Siregar (1981), tanaman padi dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan ke dalam: Divisio Spermatophyta Sub divisio Angiospermae Kelas Monocotyledoneae Ordo Poales Famili Graminae Genus Oryza Linn Species Oryza sativa L. Batang padi lebih kurang tegak, silindris, licin dan berongga kecuali pada buku-bukunya. Tebalnya bervariasi antara 6-12 mm. Bukunya nampak jelas karena menebal dan adanya sekat melintang. Daun-daun tumbuh tepat dibawah sekat dan tunas-tunas dalam ketiak daun-daun basal dapat tumbuh menjado batang-batang baru yang kemudian muncul dari ujung upih daun untuk membentuk rumpun batang (Wirjahardja, 1987). Pada buku bagian bawah dari ruas tanaman padi tumbuh daun pelepah yang membalut ruas sampai buku bagian atas.Tepat pada buku bagian atas ujung dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yang terpanjang dan terbesar menjadi Universitas Sumatera Utara

repository.usu.ac.id › bitstream › handle › 123456789 › 64319... · BAB II TINJAUAN PUSTAKA2017-02-21 · Besarnya evaporasi dapat diukur secara langsung dengan menggunakan

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of repository.usu.ac.id › bitstream › handle › 123456789 › 64319... · BAB II TINJAUAN...

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    Botani Tanaman

    Berdasarkan literatur Siregar (1981), tanaman padi dalam sistematika

    tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan ke dalam:

    Divisio Spermatophyta

    Sub divisio Angiospermae

    Kelas Monocotyledoneae

    Ordo Poales

    Famili Graminae

    Genus Oryza Linn

    Species Oryza sativa L.

    Batang padi lebih kurang tegak, silindris, licin dan berongga kecuali pada

    buku-bukunya. Tebalnya bervariasi antara 6-12 mm. Bukunya nampak jelas

    karena menebal dan adanya sekat melintang. Daun-daun tumbuh tepat dibawah

    sekat dan tunas-tunas dalam ketiak daun-daun basal dapat tumbuh menjado

    batang-batang baru yang kemudian muncul dari ujung upih daun untuk

    membentuk rumpun batang (Wirjahardja, 1987).

    Pada buku bagian bawah dari ruas tanaman padi tumbuh daun pelepah

    yang membalut ruas sampai buku bagian atas.Tepat pada buku bagian atas ujung

    dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek

    menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yang terpanjang dan terbesar menjadi

    Universitas Sumatera Utara

  • daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan kanan. Daun

    kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari batang disebut

    daun bendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi ligula dan daun

    bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir pada (Siregar, 1981).

    Varietas Padi

    Varietas padi yang cocok ditanam secara organik hanyalah jenis atau

    varietas alami. Agar berproduksi optimal, jenis padi tidak menuntut penggunaan

    pupuk kimia. Memang dampak pertanian modern yang hanya menggunakan

    varietas unggul yang merupakan merosotnya keanekaragaman hayati varietas

    alami. Dalam berbagai survei diperoleh bahwa masih ada beberapa tempat di

    Indonesia yang sawah petaninya ditanami padi varietas alami. Oleh karena itu,

    petani tidak terlalu sulit untuk mendapatkan benihnya (Andoko, 2002).

    Varietas-varietas yang dihasilkan selama ini adalah varietas inbrida, yaitu

    varietas yang berupa galur murni. Padi merupakan tanaman menyerbuk sendiri,

    sehingga secara alami varietas yang terbentuk berupa galur murni (inbrida).

    Varietas unggul galur murni dapat dibuat dengan menyilangkan dua genotipe padi

    yang berbeda untuk menggabungkan sifat-sifat unggul dari keduanya. Hasil

    persilangan ditanam dan secara alami akan terjadi perkawinan sendiri dalam satu

    tanaman. Hasilnya ditanam kembali dan akan sangat bervariasi karena terjadi

    segregasi gen-gen di dalamnya. Dari variasi yang ada pada generasi bersegregasi

    tersebut diseleksi tanaman terbaik sesuai dengan tujuan perakitan varietas yang

    dilakukan. Demikian seterusnya selama beberapa generasi. Pada proses tersebut

    terjadi fikasi (pengumpulan) gen sehingga gen-gen yang ada pada tiap tanaman

    menjadi seragam. Jika semua lokus (tempat gen) pada tanaman tersebut telah

    Universitas Sumatera Utara

  • homosigot (terisi oleh gen yang sama), maka dikatakan galur tersebut telah murni

    (galur murni) dan akan melakukan penyerbukan sendiri menghasilkan keturunan

    yang seragam dan sama persis dengan pertanaman generasi sebelumnya. Galur-

    galur murni terbaik sesuai dengan tujuan pemuliaan dilepas sebagai varietas

    unggul. Varietas padi demikian adalah merupakan varietas padi inbrida (galur

    murni). Contohnya adalah PB5, PB8, IR64, Cisadane, Ciherang, Widas,

    Wayapoburu, Cimelati, Gilirang, Ciherang, Situ Bagendit, Makongga danlain-

    lain.

    Padi Ciherang

    Varietas padi Cere ini memiliki morfologi tanaman tegak, mempunyai

    tinggi tanaman sekitar 107 – 115 cm dengan jumlah anakan produktif mencapai

    14 – 17 batang per rumpun. Umur tanaman mencapai 116 – 125 hari. Baik

    ditanam pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian ± 500 m dpl.

    Ciherang termasuk jenis padi dengan tingkat kerebahan dan kerontokannya

    sedang. Bentuk gabah panjang ramping dan berwarna kuning bersih. Bobot 1000

    butirnya mencapai 27 – 28 gram. Rata – rata hasil mencapai 6,0 ton/ha dengan

    potensi hasil mencapai 8,5 ton/ ha (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2011).

    Makongga

    Makongga merupakan persilangan antara padi jenis Galur A2970 yang

    berasal dari Arkansas Amerika Serikat, dengan varietas yang sangat populer di

    Indonesia yaitu IR 64. Umur tanam Makongga cukup singkat yaitu hanya 116

    hingga 125 hari. Secara fisik, bentuk tanamannya tegak dengan tinggi tanaman

    berkisar antara 91 sampai 106 cm. Anakan produktif 13-16 batang. Bentuk

    gabahnya sendiri ramping panjang dengan tekstur rasa beras yang pulen karena

    Universitas Sumatera Utara

  • kadar amilosanya mencapai 23 persen. Bobot 1000 butir gabah Makongga yaitu

    28 gram. Rata-rata hasil mencapai 5,08 ton/ha sehingga kurang lebih potensi hasil

    varietas ini mencapai 8,4 ton per hektar dengan budidaya yang tepat tentunya

    (Badan Litbang Pertanian, 2014).

    Situ Bagendit

    Varietas padi Gogo ini memiliki morfologi tanaman tegak, tinggi tanaman

    sekitar 99 – 105 cm dengan jumlah anakan produktif mencapai 12 – 13 batang per

    rumpun. Umur tanaman mencapai 110 – 120 hari. Situ Bagendit dikenal sebagai

    padi amfibi karena memperlihatkan hasil yang baik saat ditanam di lahan kering

    maupun lahan sawah. Situ Bagendit termasuk jenis padi tingkat rebah dan

    kerontokannya sedang. Bentuk gabah panjang ramping dan warnanya kuning

    bersih. Bobot 1000 butirnya adalah 27,5 gram. Rata – rata hasil mencapai 4,0 t/ha

    pada lahan kering dan 5,5 ton/ ha pada lahan sawah, serta potensi hasil mencapai

    6,0 ton/ ha (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2011).

    Syarat Tumbuh

    Menurut Ditjen Pertanian Tanaman Padi (1980) menyatakan bahwa fase

    pertumbuhan padi terdiri dari fase vegetatif dengan umur pertumbuhan dari 0 – 55

    hari, fase reproduktif dengan umur pertumbuhan padi dari 56 – 90 hari, dan fase

    pemasakan dari umur pertumbuhan padi dari 90 – 120 hari.

    Temperatur sangat mempengaruhi pengisian biji padi. Temperatur yang

    rendah dan kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan mengganggu

    proses pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Hal ini terjadi

    akibat tidak membukanya bakal biji. Temperatur yang juga rendah pada waktu

    Universitas Sumatera Utara

  • bunting dapat menyebabkan rusaknya serbuk sari (pollen) dan menunda

    pembukaan tepung sari (Siregar, 1981).

    Berat kering tanaman didapat dengan cara memotong batang tanaman padi

    tepat di atas permukaan tanah dalam pot. Berangkasan tanaman yang sudah

    dipotong, bersama daun yang sudah layu dikumpulkan kecuali gabah, dimasukkan

    ke dalam kantong kertas yang telah disiapkan sebelumnya. Kantong kertas

    kemudian dimasukkan ke dalam oven dan dikeringkan pada suhu 600 C selama 48

    jam dan selanjutnya berangkasan tanaman yang telah kering, ditimbang dengan

    alat timbang yang kepekaan 3 digit sehingga diperoleh berat kering tanaman

    (gram/ pot) (Purwasasmita dan Sutaryat, 2012).

    Tanaman padi yang mengalami 2 kali pemindahan pada pozas veraneras,

    penunaiannya dilakukan dengan tangan, tanaman-tanaman dipotong pada bagian

    yang dekat permukaan tanah dan selanjutnya dikeringkan selama 1 sampai 3 hari

    (Sutedjo dan Kartasepoetra, 1988).

    Tinggi genangan air

    Pertumbuhan tanaman padi, agar berproduksi dengan baik maka perlu

    dilakukan penggenangan yang tidak secara sembarangan. Ketinggian air

    genangannya perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman sebagai

    berikut:

    a. Awal pertumbuhan

    Setelah bibit padi ditanam, petakan sawah harus digenangi air setinggi 2-5

    cm dari permukaan tanah. Penggenangan ini dilakukan selama 15 hari atau

    saat tanaman mulai membentuk anakan.

    b. Pembentukan anakan

    Universitas Sumatera Utara

  • Ketinggian air perlu ditingkatkan dan dipertahankan antara 3-5 cm hingga

    tanaman terlihat bunting.

    c. Masa bunting

    Air sangat dibutuhkan dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu,

    ketinggian genangan airnya harus cukup tinggi yaitu sekitar 10 cm.

    d. Pembungaan

    Ketinggian air dipertahankan antara 5-10 cm. kebutuhan air pada fase ini

    cukup banyak. Namun, bila mulai tampak keluar bunga maka sawah perlu

    dikeringkan selama 4-7 hari.

    (Andoko, 2002).

    Pemberian air, dengan cara terputus-putus (intermitten) dengan ketinggian

    air di petakan sawah maksimum 2 cm, paling baik 0,5 cm. Pada periode tertentu

    petak sawah harus dikeringkan sampai pecah-pecah. Pemberian air terlalu tinggi

    akan menyebabkan pertumbuhan akar terganggu dan pertumbuhan tunas tidak

    optimal.

    Evaporasi

    Evaporasi adalah proses menguapnya air dari permukaan daratan dan

    permukaan lautan menuju atmosfer bumi. Besar kecilnya evaporasi dipengaruhi

    oleh faktor-faktor suhu air, suhu udara, kelembaban tanah, kecepatan angin,

    tekanan udara dan sinar matahari. Suhu air, suhu udara dan sinar matahari

    berbanding lurus dengan besarnya evaporasi. Sementara kelembaban tanah,

    kecepatan angin dan tekanan udara berbanding terbalik dengan besarnya

    evaporasi. Perhitungan besarnya evaporasi dinyatakan dalam satuan mm/hari

    (Dumairy, 1992).

    Universitas Sumatera Utara

  • Evaporasi permukaan air bebas secara langsung diukur dengan mencatat

    pengurangan tinggi di muka air dalam panci. Metode ini sangat sederhana dan

    paling sering digunakan.

    a. panci diatas tanah, kerugian panci ini adalah evaporasi dari panci dalam

    hubungannya dengan evaporasi air permukaan bebas disebabkan oleh radiasi

    extra yang jatuh pada sisi–sisi panci. Tipe panci ini, merupakan paling mudah

    bekerjanya dan memeliharanya, paling luas digunakan.

    b. panci dalam tanah atau ditanam, pemanasan dinding panci karna radiasi

    langsung dapat dihindari, sumber-sumber kesalahan lain di sebabkan oleh

    panci yang ditanam. Pertukaran panas yang cukup besar antara panci dan tanah

    sekitarnya, kebocoran yang tak terduga, pengaruh penyaringan vegetasi di

    sekitar panci, kemasukan kotoran, dan kesulitan memasang serta memelihara.

    c. panci apung, tipe ini yang mengapung pada permukaan danau kehilangan

    popularitasnya meskipun di anggap memberikan hasil korelatif terbaik dengan

    danau karena kesulitan pengamatannya biayanya tinggi dan percikan oleh

    pengaruh gelombang.

    (Seyhan, 1990).

    Menghitung Besarnya Evaporasi

    Evaporasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, maka akan sulit menghitung

    evaporasi dengan suatu rumus. Akan tetapi, kesulitan itu telah mendorong orang-

    orang untuk mengemukakan banyak rumus, diantaranya:

    Rumus empiris Penman:

    ………………………………...(1)

    Dimana:

    Universitas Sumatera Utara

  • E = evaporasi (mm/ hari)

    ea = tekanan uap jenuh pada suhu rata-rata harian (mm/ Hg)

    ed = tekanan uap sebenarnya (mm/ Hg)

    V = kecepatan angin pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah (mil/ hari)

    (Sosrodarsono dan Takeda, 2006).

    Pengukuran evaporasi dengan panci evaporasi (Evapopan) Evaporasi adalah proses menguapnya air dari permukaan daratan dan

    permukaan lautan menuju atmosfer bumi. Besar kecilnya evaporasi dipengaruhi

    oleh faktor-faktor suhu air, suhu udara, kelembaban tanah, kecepatan angin,

    tekanan udara, dan sinar matahari. Suhu air, suhu udara, dan sinar matahari

    berbanding lurus dengan besarnya evaporasi. Sementara kelembaban tanah,

    kecepatan angin, dan tekanan udara berbanding terbalik dengan besarnya

    evaporasi. Perhitungan besarnya evaporasi dinyatakan dalam satuan mm/hari

    (Dumairy, 1992).

    Besarnya evaporasi dapat diukur secara langsung dengan menggunakan

    alat-alat yang biasa digunakan adalah evapopan. Beberapa jenis panci evaporasi

    telah dikembangkan diantaranya adalah panci evaporasi (evapopan) klas A yang

    mempunyai diameter 122,1 cm dan tinggi 25,4 cm. Dengan evapopan besarnya

    evaporasi potensial dapat dihitung dengan persamaan:

    ………………………………………………………(2)

    Dimana:

    ETo = Evaporasi potensial (mm/hari)

    Eo = Evaporasi dari panci (mm/hari)

    K pan = Koefisien panci (0,7)

    Universitas Sumatera Utara

  • Menurut Sosrodarsono dan Takeda (2006) koefisien panci alat ukur

    penguapan standar di USA (evapopan klas A), besarnya pada permukaan air yang

    luas adalah ± 0,70 kali hasil yang didapat dengan alat ini.

    Di Jepang alat pengukur penguapan yang digunakan adalah sebuah panci

    silinder tembaga dengan diameter 20 cm dan dalamnya 10 cm yang bagian

    dalamnya dilapisi dengan timah. Untuk mengukur penguapan air dari panci

    biasanya digunakan meteran biasa. Jumlah penguapan permukaan air yang luas

    adalah ± 0,5 dari jumlah penguapan yang didapat dengan alat ini. Artinya bahwa

    untuk menentukan besarnya penguapan air di lapangan, hasil penguapan dari

    panci perlu dikoreksi sebesar 50% (0,5) (Soedarsono dan Takeda, 2006).

    Transpirasi

    Transpirasi adalah proses menguapnya air dari tanaman menuju atmosfer

    bumi. Besar kecilnya transpirasi dipengaruhi oleh faktor-faktor kadar kelembaban

    tanah dan jenis tanamannya. Perhitungan besarnya transpirasi biasanya dinyatakan

    dalam satuan mm/hari. Evaporasi dan transpirasi merupakan faktor dasar yang

    penting untuk menentukan kebutuhan air (consumptive use) dalam suatu rencana

    irigasi (Dumairy, 1992).

    Jumlah air yang ditranspirasikan oleh tumbuhan untuk memproduksi

    sejumlah bahan kering akan berbeda untuk setiap jenis tanaman karena transpirasi

    adalah proses evaporasi air dari permukaan tumbuhan, maka faktor-faktor iklim

    yang mempengaruhi evaporasi secara umum berpengaruh terhadap transpirasi

    (Hakim, dkk., 1986).

    Faktor iklim yang mempengaruhi terhadap penguapan muka air bebas,

    seperti radiasi matahari, temperatur, kelembaban udara, kecepatan angin juga

    Universitas Sumatera Utara

  • berpengaruh terhadap evapotranspirasi. Transpirasi juga dipengaruhi oleh jenis

    dari tumbuh-tumbuhan, kedalaman perakaran, penyebaran dan kerapatan vegetasi

    penutup (Soewarno, 2000).

    Evapotranspirasi (ET)

    Transpirasi dan evaporasi dari permukaan tanah bersama sama disebut

    evapotranspirasi atau kebutuhan air tanaman (consumptive use). Jika air yang

    tersedia dalam tanah cukup banyak maka evapotranspirasi itu disebut

    evapotranspirasi potensial. Pengukuran evapotranspirasi potensial melalui

    tanaman dari tanah dilakukan dengan evapotranspirometer. Permukaan tangki

    tanah yang ditutup dengan tanaman disiran dengan air secukupnya dan volume air

    yang merembes keluar dari dasar tangki diukur dan selisih antara air yang

    dituangkan dan air yang keluar adalah evapotranspirasi potensial pada jangka

    waktu pengukuran. Dapat dimengerti bahwa jika air yang terdapat didalam tanah

    tidak cukup, maka banyaknya evapotranspirasi adalah lebih kecil dari

    evapotranspirasi potensial (Sosrodarsono dan Takeda, 2006)

    Beberapa istilah yang berkaitan dengan evapotranspirasi adalah:

    1. Evapotranspirasi (ET) adalah peristiwa evaporasi total yang ditambah dengan

    transpirasi.

    2. Evaptranspirasi potensial (potential evapotranspiration, = ETp) adalah laju

    evapotranspirasi yang terjadi dengan anggapan persediaan air dan kelembaban

    tanah cukup sepanjang waktu.

    3. Evapotranspirasi rujukan (reference evapotranspiration, = ETo) laju

    evapotranspirasi dipermukaan bumi yang luas dengan ditumbuhi rumput hijau

    setinggi 8-15 cm, yang masih aktif tumbuh terhampar menutupi seluruh

    Universitas Sumatera Utara

  • permukaan dibumi dengan albedo = 0,23 dan tidak kekurangan air. Hubungan

    antara ETp dan ETo dari suatu kawasan dengan vegetasi bermacam jenis:

    ………………………………………………(3)

    Nilai Kv adalah koefisien dari seluruh jenis vegetasi (vegetation coefficient).

    4. Evapotranspirasi tanaman (consumptive water requirement, crop water

    requirement, consumptive use = Etc) adalah tebal air yang dibutuhkan untuk

    keperluan evapotranspirasi suatu jenis tanaman pertanian tanpa dibatasi oleh

    kekurangan air. Hubungan antara Etc dan ETo untuk jenis tanaman tertentu

    adalah:

    ……………………………………………….(4)

    Nilai Kc adalah koefisien tanaman (crop coefficient)

    5. Evapotranspirasi aktual (actual evapotranspiration, = Eta) adalah

    evapotranspirasi yang terjadi sesungguhnya sesuai dengan keadaan persediaan

    air/ kelembaban tanah yang tersedia. Nilai ETa = ETp apabila persediaan air

    tidak terbatas. Maka hubungannya adalah:

    …………………………………………...(5)

    (Soewarno, 2000).

    Evapotranspirasi aktual di tentukan dengan persamaan neraca. Tetapi

    perubahan dalam cadangan (∆s) hanya dapat diperoleh untuk lisimeter tipe yang

    dapat ditimbang dan tidak diketahui untuk lisimeter tipe yang tidak dapat

    ditimbang. Karena itu, lisimeter nontimbangan hanya digunakan jika diperlukan

    total evapotranspirasi aktual periode panjang (Seyhan, 1990).

    Universitas Sumatera Utara

  • Evapotranspirasi tanaman dapat juga ditentukan berdasarkan nilai

    evaporasi yang diukur dengan alat seperti evapopan kemudian dikalikan dengan

    koefisien tanamannya (Sosrodarsono dan Takeda, 2006).

    Koefisien konsumtif tanaman (Kc) didefinisikan sebagai perbandingan

    antara besarnya evaporasi potensial dengan evaporasi acuan tanaman pada kondisi

    pertumbuhan tanaman yang tidak terganggu. Dalam hubungannya dengan

    pertumbuhan dan perhitungan evapotranspirasi acuan tanaman (ETo), maka

    dimasukkan nilai Kc yang nilainya tergantung pada musim, serta tingkat

    pertumbuhan tanaman (Allen, et al., 1998).

    Koefisien tanaman bergantung dari tiap jenis tanaman, dan nilainya

    bervariasi menurut umur tanaman. Koefisien tanaman untuk padi dalam

    pelaksanaan salah satu kegiatan proyek irigasi di Indonesia dapat dilihat pada

    Tabel 1.

    Tabel 1. Koefisien Tanaman Padi Bulan ke Nedeco FAO

    Lokal Unggul Lokal Unggul 0,5 1,20 1,20 1,10 1,10 1,0 1,20 1,27 1,10 1,10 1,5 1,32 1,33 1,10 1,05 2,0 1,40 1,30 1,10 1,05 2,5 1,35 1,30 1,10 0 3,0 1,24 0 1,05 3,5 1,12 0,95 4,0 0 0

    Sumber: Dep. PU (1987) dalam Soewarno (2000)

    Salah satu perhitungan evapotranspirasi tanaman adalah metode Blaney

    and Criddle yang telah diubah seperti berikut:

    ………………………………………..................... (6)

    Universitas Sumatera Utara

  • ……………………………………………........................ (7)

    …………………………………........................... (8)

    Dimana:

    U = Evapotranspirasi tanaman bulanan (mm/bulan)

    Kt = Koefisian suhu

    Kc = Koefisien tanaman

    P = Persentase jam siang Lintang Utara (%)

    (Sosrodarsono dan Takeda, 2006)

    Menurut Guslim (1997), suhu rata-rata bulanan diperoleh dari perhitungan

    suhu rata-rata harian selama satu bulan dengan rumus:

    Dimana:

    t = Suhu rata-rata harian (°C)

    t07.00 = Suhu pada pukul 07.00

    t13.30 = Suhu pada pukul 13.30

    t17.30 = Suhu pada pukul 17.30

    Faktor-faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi (ET)

    Peristiwa berubahnya air menjadi uap dan bergerak dari permukaan tanah

    dan permukaan air ke udara setelah itu, diuapkan dari tanaman disebut dengan

    evapotranspirasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi evaporasi dan

    evapotranspirasi adalah sebagai berikut:

    1. Suhu udara/ atmosfer

    Universitas Sumatera Utara

  • Jumlah panas yang mengakibatkan kenaikan suhu udara atau suhu tanah

    dinyatakan sebagai neraca jumlah panas dalam proses jumlah panas yang

    bertambah atau hilang akibat perbedaan suhu antara permukaan tanah dan

    lapisan tanah di permukaan tanah, jumlah panas yang bertambah dan hilang

    akibat penguapan dan presipitasi dipermukaan tanah, dan jumlah panas yang

    disalurkan di dalam tanah melalui permukaan tanah.

    2. Suhu air

    Variasi suhu harian dan tahunan dalam tanah, berkurang sesui dengan

    kedalaman tanah dan akhirnya menjadi nol pada suatu kedalaman tertentu.

    3. Kelembaban

    Kelembaban biasanya disebut dengan kelembaban relatif. Kelembaban reletif

    adalah perbandingan antara massa uap dalam suatu satuan volume dan massa

    uap yang jenuh dalam satuan volume itu pada suhu yang sama.

    4. Kecepatan angin

    Kecepatan angin biasanya diukur dengan anemometer Robinson. Pengukuran

    angin diadakan di puncak menara stasiun cuaca yang tingginya 10 m.

    kecepatan angin rata rata adalah harga rata rata selama 10 menit sebelum

    pengukuran dan arah angin rata-rata adalah arah selama 1 menit sebelum

    pengukuran.

    5. Tekanan udara

    Tekanan udara satuan adalah tekanan gaya pada bidang yang memiliki luas

    dalam satuan milibar (mb). Sehingga dapat dilihat, kerapatan air raksa pada

    00C dan percepatan gaya tarik bumi akan berkurang tekanan udaranya menurut

    elevasi tempat.

    Universitas Sumatera Utara

  • 6. Sinar matahari

    Lamanya penyinaran dapat diketahui, karena sinar matahari yang masuk kealat

    melalui sebuah lubang yang kecil, tercatat pada sebuah kertas yang peka dalam

    alat itu. Jumlah jam penyinaran yang dapat terjadi dalam sehari adalah tetap

    yang tergantung pada musim dan jarak lintang ke kutub. Perbandingan antara

    jumlah jam penyinaran yang terjadi dan jumlah jam penyinaran yang dapat

    terjadi di sebut laju radiasi matahari. Makin besar harga perbandingan maka

    makin baik keadaan cuaca.

    Pada waktu pengukuran evaporasi maka kondisi/ keadaan harus

    diperhatikan karena dipengaruhi oleh perubahan lingkungan

    (Sosrodarsono dan Takeda, 1983).

    Ada 3 faktor yang mendukung kecepatan evapotranspirasi yaitu (1) faktor

    iklim migro, mencakup radiasi netto, suhu, kelembaban dan angin. (2) faktor

    tanaman, mencakup jenis tanaman, derajat penutupannya, struktur tanaman, stadia

    perkembangan sampai masak, keteraturan dan banyaknya stomata, mekanisme

    menutup dan membukanya stomata, (3) faktor tanah, mencakup kondisi tanah,

    aerasi tanah, potensial air tanah dan kecepatan air tanah bergerak ke akar tanaman

    (Linsley dkk., 1989).

    Perkolasi

    Jika curah hujan tiba dipermukaan tanah, maka sebagian akan terserap

    masuk kedalam tanah dan sebagian lagi akan bergerak mengalir dipermukaan

    tanah. Air yang masuk ke dalam tanah sebagian akan segera kembali keluar

    menjadi aliran intra (interflow), sedangkan sebagian lainnya masuk lebih dalam

    mengisi celah-celah atau lapisan tanah menjadi air tanah (groundwater).

    Universitas Sumatera Utara

  • Sementara itu curah hujan yang tidak masuk ke dalam tanah, yang langsung

    bergerak mengalir di permukaan tanah, akan menjadi limpasan permukaan

    (surface runoff) (Dumairy, 1992).

    Selain itu perkolasi atau resapan air ke dalam tanah merupakan

    penjenuhan yang dipengaruhi oleh tekstur tanah, permeabilitas, tebal top soil dan

    letak pengukuran air tanah (semakin tinggi letak muka air tanah semakin rendah

    perkolasinya) (Sumandyono, 2010).

    Perkolasi merupakan proses masuknya air kedalam tanah setelah

    terjadinya infiltrasi (keluar daerah perakaran) yang dalam hal ini berpengaruh

    potensial tekanan. Semakin besar daya resap tanah, maka semakin kecil luas

    daerah peresapan yang diperlukan umtuk sejumlah air tertentu.

    ..............................................................................(13)

    Dimana:

    P = Laju perkolasi (mm/hari)

    h1 = Tinggi awal air (mm)

    h2 = Tinggi akhir air (mm)

    t2-t1 = Selisih waktu penurunan tinggi air (hari)

    Daya perkolasi p adalah laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan,

    yang besarnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam zona tidak jenuh, yang

    terletak di antara permukaan tanah dengan permukaan air tanah. Perkolasi tidak

    mungkin terjadi sebelum zona tidak jenuh mencapai kapasitas lapang (field

    capacity) (Soemarto, 1995).

    Rumah Kaca

    Universitas Sumatera Utara

  • Rumah kaca (Greenhouse) adalah bangunan di mana tanaman

    dibudidayakan. Rumah kaca terbuat dari kaca atau plastik. Rumah kaca dapat

    menjadi panas karena radiasi elektromagnetik yang datang dari matahari dan

    memanaskan tumbuhan, tanah, dan barang lainnya di dalam bangunan ini. Rumah

    kaca melindungi tanaman dari panas dan dingin yang berlebihan, melindungi

    tanaman dari badai debu dan menolong mencegah hama. Pengontrolan cahaya

    dapat mengubah tanah tak subur menjadi subur. Rumah kaca digunakan untuk

    membudidayakan tanaman yang memiliki nilai jual yang tinggi seperti tanaman

    hias dan buah-buahan. Pada rumah kaca, sinar matahari dapat masuk dengan

    leluasa karena dinding dan atap pada rumah kaca dirancang khusus dari bahan

    kaca yang transparan. Sehingga dapat dikatakan cahaya yang berasal dari matahari

    dapat dimanfaatkan secara optimal. Telah disebutkan sebelumnya bahwa cahaya

    matahari mutlak diperlukan oleh setiap jenis tumbuhan hijau untuk proses

    fotosintesis. Dengan adanya cahaya matahari pada rumah kaca maka proses

    fotosintesis dapat berlangsung dengan baik sehingga pertumbuhan dan

    perkembangan tanaman yang dibudidayakan pada rumah kaca dapat berlangsung

    dengan baik dan tanaman juga dapat menghasilkan produksi yang baik pula

    (Wulandani, 2010).

    Kelebihan dan keuntungan menggunakan Rumah Kaca

    Kelebihan

    Berdasarkan informasi dari Agricultural Western Australia 2000

    mengungkapkan beberapa dari penggunaan greenhouse ini antara lain:

    1. Tanaman dapat berproduksi secara kontinyu dan berkesinambungan

    sepanjang tahun. Hal ini disebabkan pada greenhouse kita dapat mengatur

    Universitas Sumatera Utara

  • suhu, kelembaban, tekanan udara maupun pH sedemikian rupa sesuai

    dengan kebutuhan crop. Hal ini berkaitan dengan subsistem yang

    berkelanjutan dalam agribisnis yaitu pengolahan/agroindustri maupun

    pemasaran dimana dengan produksi yang kontinyu maka pasokan ke pasar

    maupun industri selanjutnya pun bisa terpenuhi juga.

    2. Penggunaan air, pupuk maupu pestisida lebih efisien, baik dalam dosis

    penggunaan, waktu maupun tempat. Karena kita menggunakan polibag

    yang tentu sangat efektif dalam penggunaan pupuk, air dan pestisida.

    3. Resiko tanaman terserang penyakit menjadi lebih kecil karena lingkungan

    dalam green house sendiri secara langsung maupun tidak telah terlindung

    dari lingkungan luar

    (Hasyim, dkk, 2010).

    Kekurangan

    Investasi/ biaya yang harus dikeluarkan untuk mendirikan green house

    memang cukup besar. Selain itu terjadinya. Efek rumah kaca, meningkatnya suhu

    permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat

    ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem

    lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di

    atmosfer (Hasyim, dkk, 2010).

    Universitas Sumatera Utara