Click here to load reader

20 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

  • View
    245

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Membangun Ketahanan terhadap Bencana Profil Singkat Proyek Oxfam memulai Proyek Membangun Ketahanan terhadap Bencana di kawasan timur Indonesia (meliputi 16 kabupaten) sejak Juni 2009 sampai dengan 2012. Ini merupakan upaya pengurangan risiko bencana yang didanai oleh lembaga bantuan internasional Pemerintah Australia (AusAID) melalui Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR). Mitra-mitra lokal Oxfam pelaksana proyek ini adalah: Yayasan JAMBATA di Donggala, KELOLA di Sangihe, PMPB di Timor, YPPS di Flores Timur, LP2DER di Bima, KOSLATA di Lombok Utara, KONSEPSI di Lombok Timur, KOMPAK di Nabire, dan PERDU di Manokwari. © Oxfam 2012

Text of 20 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

  • i20 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

    20 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

    Membangun Ketahanan terhadap Bencana

  • ii 20 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

    Profil Singkat Proyek

    Oxfam memulai Proyek Membangun Ketahanan terhadap Bencana di ka-wasan timur Indonesia (meliputi 16 kabupaten) sejak Juni 2009 sampai de-ngan 2012. Ini merupakan upaya pengurangan risiko bencana yang didanai oleh lembaga bantuan internasional Pemerintah Australia (AusAID)melalui Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR). Mitra-mitra lokal Oxfam pelaksana proyek ini adalah: Yayasan JAMBATA di Donggala, KELOLA di Sangihe, PMPB di Timor, YPPS di Flores Timur, LP2DER di Bima, KOSLATA di Lombok Utara, KONSEPSI di Lombok Timur, KOMPAK di Nabire, dan PERDU di Manokwari.

    Tim Membangun Ketahanan terhadap Bencana: Ade Reno Sudiarno - Ihwana Musfata - Sunarso - Dheni Ardhian Natalia Tehuajo - Fredy Chandra - Lukman Hakim

    Cici Riesmasari - Vina Titaley - Yenny Widjaja

    Oxfam di IndonesiaJl. Taman Margasatwa No. 26ARagunan, Jakarta Selatan 12550T.: 021 7811827 F.: 021 7812321Email: [email protected] Oxfam 2012

  • iii20 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

    Kata Pengantar

    Buku ini merupakan kumpulan 20 cerita sukses dari Proyek Membangun Ketahanan terhadap Bencana di Indonesia bagian timur yang berjalan sejak 2009 sampai dengan 2012. Buku ini memberikan perwakilan beberapa cerita sukses dari setiap kabupaten di mana Oxfam dan mitra-mitra lokalnya bekerja. Sebuah cerita komunitas yang sudah menjadi lebih waspada terhadap ancaman bencana di sekitar mereka dan memiliki sistem peringatan dini yang disepakati bersama (Bong, Teriakan Kesiapsiagaan Masyarakat Natakoli), bagaimana warga sekolah sudah menjadi siaga juga jika terjadi bencana (Bala? Sa Sudah Tidak Takut Lagi!), munculnya sekumpulan kelompok kerja dan/atau forum pengurangan risiko bencana (PRB) di berbagai daerah dampingan mitra-mitra Oxfam, dan cerita-cerita lainnya.

    Dalam proses pengambilan cerita-cerita ini, kunjungan lapangan telah dilakukan wawancara jarak jauh dilakukan untuk daerah-daerah yang tidak dikunjungi. Tim penulis dan Oxfam berterima kasih kepada staf mitra-mitra Oxfam yang telah mendukung proses pengumpulan informasi di lapangan.

    Semoga buku ini dapat menjadi media untuk berbagi pengalaman terkait dengan PRB di kawasan timur Indonesia, tidak hanya untuk pelaku-pelaku PRB itu sendiri, tetapi juga masyarakat umum yang tidak terkait dengan kerja-kerja PRB secara langsung. Mudahan-mudahan tulisan-tulisan yang dikemas dengan bahasa ringan dan populer ini dapat meningkatkan kesadaran terkait dengan pentingnya kesiapsiagaan akan bencana bagi para pembacanya.

    Salam,

    Tim Membangun Ketahanan terhadap Bencana

  • iv 20 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

    Daftar IsiProfil Singkat Proyek..................................................................................... iiKata Pengantar ............................................................................................ iiiDaftar Isi ...................................................................................................... iv

    1. Pokja Peduli Bencana Lamalohot Flores Timur: Berendah Hati untuk Bekerja Sama ............................................................................... 12. Upaya Bersama Simpan Pinjam: Berdaya dalam Ekonomi, Tangguh

    Menghadapi Bencana ....................................................... 53. Ternak Ayam Flamboyan: Mengikis Risau di Musim Kemarau .............. 94. Bong, Teriakan Kesiapsiagaan Masyarakat Natakoli ........ 125. Grup Facebook: Cara Berbagi dan Menggali Rasa Peduli ............156. Parit Swadaya Masyarakat: Semangat Desa Pajinian Bentengi Banjir .....................................................................................................197. Fasilitator Masyarakat: Partisipasi dari Hati ..... 238. Desa Tanali: Upaya Penuh Meningkatkan Ketahanan ... 269. Kandang Babi Tahan Banjir, Sebuah Upaya Sederhana Bersiaga ...... 3010. Tak Lagi Kuatir Banjir .................................... 3311. Jejaring Guru Peduli Bencana Sangihe: Membawa Teori Menjejak

    Bumi .................................................................................................. 3612. Jaringan Komunikasi Terpadu Sepuluh Desa Kabupaten Lombok

    Utara ..................................................................................................... 3913. Tim Siaga Bencana Desa: Penggerak untuk Pengurangan Risiko

    Desa ..................................................................................................... 4214. Bala*?Sa Sudah Tidak Takut Lagi! ............ 4515. LP2DER Mendorong Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah

    (RAPERDA) Penanggulangan Bencana di Kabupaten Bima ........ 4816. Sekolah dan Masyarakat Samabusa: Fondasi Bangunan Ketahanan

    Bersama ............................................................................................... 5117. Ketika Emas Membanjiri Kampung-Kampung di Nabire Barat ... 5518. Peta Risiko Bencana Provinsi Papua, Instrumen Utama Menghadang

    Bencana Partisipasi Aktif Masyarakat dan Perjalanan Pemetaan ............................................................................................. 59

    19. Masyarakat Lembah Baliem: Perang Melawan Bencana . ................... 6320. Tim Siaga Distrik: Tujuh Kampung Pantai Utara Manokwari Bersiaga

    Bersama................................................................................................ 66

  • 120 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

    Keberadaan Flores Timur yang terletak dalam kawasan cincin api membuat kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut dilingkupi ancaman letusan gunung api. Wilayah yang berpenduduk 220.000 jiwa ini memiliki empat gunung berapi aktif. Letusan gunung api ternyata bukan ancaman satu-satunya, iklim yang tidak stabil serta topografi yang berbukit juga menyodorkan ancaman lain. Jika diidentifikasi, kerawanannya mulai dari banjir, tanah longsor, kekeringan sampai kelangkaan pangan. Oleh karena itu, perlu adanya kesejalanan antara masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan daya tahan dan ketangguhan dalam menangkal ancaman-ancaman bencana tersebut. Harmoni pemahaman kesiapsiagaan antara dua level ini adalah keharusan. Oleh karena itu, untuk merangkainya diperlukan kerja bersama.

    Program Membangun Ketahanan terhadap Bencana kerja sama Yayasan Pengkajian Pengembangan Sosial (YPPS) bersama Oxfam diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan untuk membangun sinergi tersebut. Program ini menjembatani kepedulian banyak pihak, baik dari kalangan masyarakat maupun pemerintah, untuk bersama-sama melakukan kajian kerawanan, kapasitas, dan ancaman bencana yang ada di Flores Timur. Lantas, semua kajian itu akan disusun menjadi sebuah kebijakan di level pemerintah kabupaten yang akan dijadikan landasan berbagai upaya-upaya pengurangan risiko bencana.

    Gagasan untuk membentuk sebuah kelompok kerja (Pokja) tercetus saat diselenggarakan Disaster Management Training di Weri, Larantuka, pada Januari 2010. Gagasan ini segera ditindaklanjuti dengan diresmikannya Pokja Peduli Bencana Lamalohot Flores Timur, pada tanggal 6 Februari 2010. Pokja Peduli Bencana tersebut beranggotakan perwakilan dari pelbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki visi sama.

    Pokja Peduli Bencana LamalohotFlores Timur: Berendah Hati untuk Bekerja Sama

    1a

  • 2 20 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

    Pada tahun pertama, Pokja Peduli Bencana lebih memusatkan perhatian pada pengorganisasi kelompok dan penguatan kapasitas para anggotanya. Sejumlah pelatihan dan lokakarya diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep pengurangan risiko bencana.

    Selanjutnya, pada tahun kedua, kegiatan Pokja Peduli Bencana lebih mengarah pada perancangan konsep Peraturan Daerah (Perda) tentang kebencanaan dan mendorong terbentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur. Dalam proses ini, YPPS dan Pokja Peduli Bencana mengupayakan adanya integrasi prinsip pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan dan pengalokasian anggaran belanja daerah.

    Proses ini tidak akan selesai hanya dengan gagasan. Perlu keterpanggilan dan kepedulian semua pihak, baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat, untuk bersama-sama mewujudkannya dan itu berhasil dilakukan dengan kehadiran Pokja Peduli Bencana, ujar Benediktus Waza Diaz dari Badan Lingkungan Hidup, yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Pokja Peduli Bencana.

    Pokja Peduli Bencana telah memberi sumbangsih besar terhadap peningkatan kapasitas pemerintah Kabupaten Flores Timur di bidang penanganan bencana. Sejak pembentukannya di tahun 2010, Pokja Peduli Bencana telah mendorong beragam kemajuan. Capaian luar biasa yang dibuat Pemerintah Kabupaten Flores bersama Pokja Peduli Bencana di

    Benediktus Waza Diaz dari Badan Lingkungan Hidup, Ketua Pokja, berharap adanya kepedulian semua pihak. (Cici Riesmasari/Oxfam)

  • 320 Cerita Sukses dari Timur Indonesia

    antaranya adalah dorongan besar pada pemerintah daerah untuk segera membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur. Melalui beberapa pertemuan dan lokakarya yang melibatkan seluruh SKPD beserta para perwakilan LSM, data-data tentang kebencanaan dikumpulkan dan dikaji secara mendalam sebagai bahan rujukan untuk menyusun Naskah Akademik dan rancangan Peraturan Daerah Penanggulangan Bencana. Berikutnya adalah diselenggarakannya seminar mengenai tata organisasi dan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) kelembagaan untuk BPBD.

    Capaian ini tidaklah diraih dengan gampang. Tantangan utama adalah untuk mengubah paradigma pe

Search related