2. TINJAUAN PUSTAKA ?· Organisme bentos dapat dibagi berdasarkan cara ... yaitu bentos yang membenamkan…

Embed Size (px)

Text of 2. TINJAUAN PUSTAKA ?· Organisme bentos dapat dibagi berdasarkan cara ... yaitu bentos yang...

5

2. TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Keadaan Umum Lokasi Penelitian Secara umum, musim penghujan di Kepulauan Seribu mulai terjadi pada bulan

November hingga April dengan 10-20 hari hujan per bulan. Bulan Januari

merupakan bulan dengan curah hujan terbesar. Musim kemarau terjadi pada bulan

Mei hingga Oktober dengan 4-10 hari hujan per bulan dan bulan Agustus

merupakan bulan terkering. Musim pancaroba terjadi antara bulan April-Mei dan

bulan Oktober-November (Dinas Hidro-Oseanografi 1986 in Pratama 2005).

Pada Kepulauan Seribu berhembus dua jenis musim, yaitu musim angin barat

dan musim angin timur. Pada bulan Desember hingga Maret angin barat berhembus

dengan arah berkisar antara Barat Daya hingga Barat Laut. Kecepatan angin

berhembus rata-rata 7-20 knot, dimana pada bulan Desember hingga Februari

kecepatan angin dapat melebihi 20 knot. Pada musim timur, berhembus angin timur

mulai bulan Juni hingga September dengan kecepatan 7-15 knot. Angin berhembus

dengan arah berkisar antara Timur Laut dan Tenggara. Untuk musim pancaroba

mulai terjadi antara bulan April sampai bulan Mei dan bulan Oktober sampai

November (Dinas Hidro-Oseanografi 1986 in Pratama 2005).

3.2. Makrozoobentos Organisme bentos merupakan organisme yang melekat atau menetap pada

dasar atau hidup di dasar endapan. Bentos meliputi organisme nabati (fitobentos)

dan organisme hewani (zoobentos). Organisme bentos dapat dibagi berdasarkan cara

makannya menjadi suspension feeder dan deposit feeder (Odum 1993).

Bentos laut ditandai oleh jumlah sessile yang sangat banyak, atau organisme

yang secara relatif tidak aktif yang memperagakan ciri zonasi di kawasan pantai.

Dalam keadaaan ekstrim pada atau di atas garis pasang naik, organisme pasti

sanggup menahan kekeringan dan perubahan temperatur, karena hanya sebentar saja

tertutup atau tersiram air. Sebaliknya pada kawasan bawah pasang surut (subtidal),

oganisme selalu tertutup air (Odum 1993).

Berdasarkan tempat hidupnya, bentos dapat dibagi menjadi dua, yaitu

epifauna, jenis bentos yang hidup di permukaan dasar laut, baik yang hidup melekat,

6

merangkak ataupun merayap di permukaan dasar laut. Jenis bentos lainnya adalah

infauna, yaitu bentos yang membenamkan diri dalam dasar laut atau menggali

lubang dalam dasar laut (Nybakken 1988).

Menurut McIntyre (1978) in McLusky dan McIntyre (1988),

mengklasifikasikan bentos berdasarkan ukuran saringan yang terangkum pada Tabel

1.

Tabel 1. Klasifikasi bentos berdasarkan ukuran saringan (sieve size) (McIntyre 1978 in McLusky dan McIntyre 1988).

Kategori Ukuran

Mikrobentos Melewati ukuran saringan terkecil

Meiobentos Melewati ukuran saringan 0,5 sampai 1,0 mm

Makrobentos Tersaring pada ukuran saringan 0,5 sampai 1,0 mm

Menurut Nybakken (1988) kelompok organisme dominan yang menyusun

makrofauna di dasar lunak sublitoral terbagi dalam empat kelompok taksonomi;

filum Annelida, filum Arthropoda, filum Ekinodermata, dan filum Moluska. Cacing

polychaeta (filum Annelida) banyak terdapat sebagai spesies pembentuk tabung dan

penggali. Krustasea yang dominan adalah ostrakoda, ampipoda, isopoda, dan

dekapoda (Hemminga dan Duarte 2000). Umumnya mereka menghuni permukaan

pasir dan lumpur. Moluska biasanya terdiri dari berbagai spesies bivalvia penggali

dengan beberapa gastropoda di permukaan. Ekinodermata biasanya sebagai bentos

subtidal, terutama terdiri dari bintang laut dan ekinoid (bulu babi dan dollar pasir).

Menurut Mac Arthur (1960) in Nybakken (1988) dikenal dua pola daur hidup

organisme yang agak berbeda pada habitat manapun juga. Tipe yang pertama

disebut Oportunistik, dimana spesies ini memiliki ciri masa hidup yang pendek,

perkembangan yang cepat untuk bereproduksi sehingga terdapat banyak periode

reproduksi per tahun, larva terdapat hampir atau sepanjang tahun di perairan, dan

angka kematiannya yang tinggi. Biasanya mereka merupakan hewan kecil dan sering

menetap atau sessile. Tipe yang kedua yaitu Ekuilibrium dengan ciri daur hidup

yang panjang, perkembangan mencapai dewasa yang relatif lama, terdapat satu atau

lebih periode reproduksi per tahun dan angka kematiannya rendah. Biasanya ukuran

spesies ini lebih besar dari spesies Oportunistik dan sering aktif bergerak.

7

Zoobentos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik.

Hewan bentos terutama yang bersifat herbivor dan detritivor dapat menghancurkan

makrofita akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam

perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah

mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan (Nybakken

1988).

3.3. Komunitas Makrozoobentos Komunitas adalah kumpulan populasi yang hidup pada suatu lingkungan

tertentu atau habitat fisik tertentu yang saling berinteraksi dan secara bersama-sama

membentuk trofik (Odum 1993). Struktur komunitas memiliki lima tipologi atau

karakteristik yang dapat diukur atau dipelajari yaitu keanekaragaman spesies,

dominansi, bentuk dan struktur pertumbuhan, kelimpahan relatif, serta struktur trofik

(Krebs 1989 in Odum 1993).

Organisme bentos memiliki beberapa peranan di dalam komunitas perairan

meliputi kemampuannya mendaur ulang bahan organik yang masuk dari luar,

membantu proses mineralisasi, dan kedudukannya penting dalam berbagai posisi

penting dalam rantai makanan (Lind 1979 in Fahliza 2007). Menurut APHA (1976),

respon komunitas makrozoobentos secara umum disebabkan oleh masukan bahan

organik, bahan kimia beracun dan perubahan substrat dasar. Hubungan antara

perubahan lingkungan dengan kestabilan suatu komunitas makrozoobentos dapat

dianalisa secara kuantitatif maupun kualitatif. Analisa kuantitatif dilakukan dengan

melihat keanekaragaman jenis organisme yang hidup di lingkungan tersebut dan

hubungannya dengan kelimpahan tiap jenisnya. Analisa kualitatif adalah dengan

melihat jenis-jenis organisme yang mampu beradaptasi pada lingkungan tertentu.

3.4. Lamun Lamun (seagrasses) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang tumbuh

mencolok dan sering merupakan komponen utama yang dominan di lingkungan

pesisir (Kuo dan McComb 1989 in Tomascik et al. 1997).

Tumbuhan ini mempunyai beberapa sifat yang memungkinkannya hidup di

lingkungan laut, yaitu (1) mampu hidup di media air asin, (2) mampu berfungsi

8

normal dalam keadaan terbenam, (3) mempunyai sistem perakaran jangkar yang

berkembang baik, (4) mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif dalam

keadaan terbenam (Den Hartog 1970 in Irawan 2003). Selain itu, lamun juga

memiliki sistem internal untuk transportasi gas dan nutrien (Fortes 1990).

Lamun di Indonesia terdiri dari 7 marga (genera) lamun. Tiga diantaranya

(Enhalus, Thalassia, dan Halophila) termasuk suku Hydrocaritaceae, sedangkan

empat marga lainnya (Halodule, Cymodoceae, Syringodium, dan Thalassodendron)

termasuk suku Pomatogetonaceae (Nontji 1987). Zonasi sebaran dan karakteristik

lamun di perairan pesisir Indonesia dapat dikelompokkan menurut (1) genangan air

dan kedalaman; (2) kualitas air; (3) komposisi jenis; (4) tipe substrat; (5) asosiasi

dengan sistem lain (seperti terumbu karang, mangrove, dan estuaria) (Dahuri 2003).

Dari 20 jenis lamun yang dijumpai di perairan Asia tenggara, hanya 13 jenis

lamun yang umum dijumpai di perairan Indonesia, yaitu Cymodocea serrulata, C.

rotundata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, H. pinifolia, Halophila minor, H.

ovalis, H. decipiens, H. spinulosa, H. beccari, Thalassia hemprichii, Syringodium

isoetifolium, dan Thalassodendron ciliatum (Den Hartog 1970 in Irawan 2003;

Kiswara 2009). Penyebaran lamun di Indonesia mencakup perairan Jawa, Sumatera,

Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Papua.

Komunitas lamun yang dijumpai di alam sering berasosiasi dengan flora dan

fauna akuatik lainnya, seperti algae, meiofauna, moluska, ekinodermata, krustasea,

dan berbagai jenis ikan. Asosiasi tersebut membentuk suatu ekosistem yang

kompleks yaitu ekosistem lamun.

Ekosistem lamun berfungsi sebagai penyuplai energi baik pada zona bentik

maupun pada zona pelagis dalam bentuk rantai makanan. Detritus daun lamun yang

tua didekomposisi oleh sekumpulan jasad bentik (seperti teripang, kerang, kepiting,

dan bakteri), sehingga dihasilkan bahan organik baik yang tersuspensi maupun yang

terlarut dalam bentuk nutrien. Nutrien tersebut tidak hanya bermanfaat bagi

tumbuhan lamun, tetapi juga bermanfaat untuk pertumbuhan fitoplankton dan

selanjutnya zooplankton, dan juvenile ikan/udang, dapat dilihat pada Gambar 2.

Dalam suatu komunitas lamun, 1 are (1.000 m2) lamun dapat menghasilkan

lebih dari 10 ton daunnya per tahun. Biomassa ini dapat menyediakan makanan,

tempat hidup, dan daerah pemijahan untuk puluhan ribu vertebrata maupun

invertebrate, baik juvenile maupun dewasa (Mukhida 2007 in Kiswara 2009).

9

Gambar 2. Rantai makanan di ekosistem lamun (Fortes 1990)

Secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi

wilaya