Web viewBAB 25 KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL A. KESEHATAN I. PENDAHULUAN Sebagaimana ditetapkan

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Web viewBAB 25 KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL A. KESEHATAN I. PENDAHULUAN Sebagaimana ditetapkan

BAB 25

BAB 25

KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL A. KESEHATAN

I. PENDAHULUAN

Sebagaimana ditetapkan di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, maka pembangunan kesehatan yang ditujukan untuk mengusahakan kesempatan yang lebih luas bagi setiap warga negara guna mendapatkan derajat kesehatan yang sebaik-baiknya, adalah merupakan salah satu perwujudan daripada usaha mencapai keadilan sosial. Dalam rangka ini, serasi de- ngan pertumbuhan kemampuan nasional pada setiap tahap pembangunan, dilakukan usaha-usaha penyediaan pelayanan kesehatan yang lebih meluas dan lebih merata bagi seluruh rakyat. Bersamaan dengan itu arah usaha ditujukan pula agar penyediaan pelayanan yang lebih meluas dan lebih merata tersebut dapat terjangkau oleh kemampuan rakyat.

Kecuali itu pemeliharaan kesehatan rakyat juga dilaksana- kan dalam rangka peningkatan dan pemupukan kemampuan tenaga kerja bagi keperluan pembangunan. Dengan demikian maka pembangunan kesehatan merupakan salah satu kegiatan utama yang mendukung keseluruhan usaha pembangunan. Bersamaan dengan itu setiap tingkat kemajuan pembangunan akan memberikan kemungkinan yang lebih besar guna mendorong perbaikan kesehatan rakyat pada umumnya. Dalam hubungan ini, seperti telah dinyatakan di dalarn Garis-garis Besar Haluan Negara, maka masalah-masalah yang sejak semula disadari belum akan terpecahkan dalam Repelita pertama, termasuk pula masalah-masalah kesehatan, Akan digarap secara lebih dalam pada masa Repelita kedua.

II. PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN DI BIDANG KESEHATAN

1. Gambaran umum situasi kesehatan

Dalam masa Repelita I ternyata bahwa dari 1.000 orang penduduk, rata-rata 45 orang di antaranya menderita sakit. Anak-anak berumur di bawah 1 bulan merupakan kelompok umur yang paling banyak menderita sakit, kemudian disusul oleh kelompok umur 1 bulan hingga 4 tahun. Penyebab-penye-bab utama adalah infeksi saluran pernapasan, termasuk TBC, infeksi kulit, diarrhea, malaria, dan penyakit mata.

Dalam pada itu ternyata pula bahwa terdapat rata-rata kematian 20 orang dari setiap 1.000 penduduk untuk setiap tahunnya. Lima puluh prosen dari jumlah kematian tersebut terdiri dari anak-anak di bawah umur 5 tahun. Penyakit-pe-nyakit yang merupakan penyebab utama kematian adalah diarrhea pada anak-anak, infeksi saluran pernapasan, TBC, typhus, penyakit jantung, kanker, dan kekurangan gizi.

Kemudian ternyata pula bahwa dari setiap 1.000 bayi yang lahir hidup setiap tahun, 125 sampai 150 dari padanya meninggal sebelum berumur 1 tahun. Sedangkan untuk negaranegara yang telah mencapai tingkat kesehatan yang baik, jumlah kematian bayi paling banyak 20 kematian dari setiap 1.000 bayi yang lahir.

2. Perkembangan sarana-sarana kesehatan

Peningkatan sarana-sarana kesehatan diutamakan kepada pengembangan Pusat-pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) dengan bagian-bagiannya yang terdiri dari Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak ( B K I A ) dan Balai Pengobatan. Rumah- rumah sakit yang berfungsi sebagai sistem penghu- bung dalam pelayanan kesehatan dan laboratorium kesehatan sebagai sarana penunjangnya, beberapa di antaranya juga telah direhabilitir.

a. Puskesmas

Sampai dengan akhir Repelita I telah terbentuk lebih dari 2.000 buah Puskesmas yang berarti bahwa belum semua kecamatan di Indonesia telah mempunyai Puskesmas. Di daerah-daerah Jawa dan Bali setiap Puskesmas rata-rata melayani se-kitar 50.000 penduduk. Sedangkan di daerah-daerah lainnya di luar Jawa dan Bali terdapat Puskesmas yang harus me- layani sekitar 95.000 penduduk. Oleh karena keadaan alam serta luas daerah masing-masing kecamatan di luar Jawa dan Bali relatif lebih besar, maka pelaksanaan pelayanan kese- hatan oleh Puskesmas di daerah-daerah tersebut lebih terbatas.

b. Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak

Pada permulaan Repelita I terdapat 5.300 buah BKIA dan kemudian berkembang menjadi 6.719 buah pada akhir Repe- lita I. Walaupun jumlahnya dua kali jumlah kecamatan, tetapi karena penyebarannya yang tidak merata, beberapa buah kecamatan ternyata masih belum mempunyai BKIA. Sekitar 4.602 orang bidan bekerja secara penuh pada BKIA. Jadi masih banyak BKIA-BKIA yang belum mempunyai tenaga bidan yang bekerja secara penuh. BKIA-BKIA tersebut mem-berikan pelayanan pemeriksaan wanita hamil, pemeriksaan bayi, pemeriksaan anak, dan pertolongan persalinan, serta pe-Iayanan keluarga berencana.

c. Balai-balai Pengobatan

Pada akhir Repelita I telah terdapat 2.760 buah Balai Pengobatan, 1.500 buah di antaranya telah diintegrasikan ke dalam Puskesmas. Setiap Balai Pengobatan rata-rata melayani 25.600 orang penduduk. Kunjungan penduduk kepada Balai Peng- obatan rata-rata 2.500 orang setiap tahun.

d. Rumah-rumah sakit

Dalam masa Repelita I tercatat 588 buah rumah sakit yang berada dalam tanggung jawab lembaga-lembaga pemerintah

dan 92 buah rumah sakit lainnya yang diasuh oleh lembaga masyarakat. Setiap rumah sakit dalam masa Repelita I rata- rata melayani 217.000 penduduk. Penderita yang datang ke rumah sakit pada umumnya adalah mereka yang berasal dari daerah lingkungan sekitar 5 km dari masing-masing rumah sakit yang bersangkutan. Kecuali itu ternyata pula bahwa paling banyak 85% dari tempat tidur rumah sakit propinsi, 55% tempat tidur rumah sakit kabupaten, dan 70% tempat tidur rumah-rumah sakit khusus yang dipergunakan oleh penduduk. Hal ini terutama disebabkan oleh karena :

(1) kurangnya persediaan obat-obatan yang dibutuhkan;

(2) sarana rumah sakit yang belum memadai, khususnya per

lengkapan kedokteran, air, listrik, dan lain-lain;

(3) jarak tempat tinggal penduduk yang cukup jauh dengan

rumah sakit, serta sarana hubungan masih belum berjalan

baik;

(4) pelayanan terhadap masyarakaat oleh rumah sakit yang masih sangat memerlukan perbaikan;

(5) tingkat kehidupan sosial ekonomi yang relatip masih belum memadai.

e. Laboratorium kesehatan

Sampai akhir Repelita I telah selesai diperbaiki 13 labora- torium kesehatan propinsi, 70 laboratorium kesehatan kabu- paten, dan pembangunan 375 laboratorium kesehatan Puskes- mas. Di samping itu telah dibangun pula pusat laboratorium kesehatan masyarakat.

3. Pemberantasan penyakit menular

Pemberantasan penyakit menular terutama ditujukan untuk mematahkan rantai penghubung penularan. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan sumber atau pembawa penyakit, men- cegah hubungan dengan penyebab penyakit atau memberi kekebalan kepada penduduk. Usaha pemberantasan terutama ditujukan terhadap penyakit cacar, patek, malaria, kolera, TBC, penyakit kelamin, pes, kusta, dan penelitian untuk pemberan- tasan beberapa penyakit lainnya.

Pada akhir Repelita I penyakit cacar telah dapat dikendali- kan, sedangkan pemberantasan penyakit patek telah meliputi 94% dari seluruh penduduk Indonesia.

Penyakit-penyakit menular utama lainnya yang dalam masa Repelita I belum dapat dikendalikan adalah penyakit-penyakit malaria, kolera, dan TBC paru-paru. Kecuali itu pengendalian penyakit malaria masih sangat memerlukan perhatian.

Dalam pada itu, sampai akhir Repelita I, sejumlah lebih 24 juta anak telah diberikan vakainasi BCG. Pengobatan ter- hadap sumber penularan masih dilakukan secara terbatas, sedangkan penderita sering pula tidak melangsungkan pengobatan lagi sesudah gejala batuknya hilang.

Penyakit-penyakit kelamin, kusta, dan beberapa penyakit binatang yang dapat menjangkiti manusia (penyakit zoonosis) masih terdapat secara endemis di daerah-daerah tertentu, sedangkan terhadap penyakit yang dalam perkembangannya menyebabkan penyakit kaki gajah (penyakit filaria), schistosomiasis (yang biasa dikenal dengan nama penyakit demam keong), dan penyakit cacing tambang, sedang dilakukan percobaan-percobaan pemberantasannya.

4. Pemulihan dan peningkatan kesehatan

Usaha-usaha pemulihan dan peningkatan kesehatan dalam Repelita I meliputi perbaikan gizi, kesehatan jiwa, kesehatan gigi, dan kesehatan mata.

Usaha perbaikan gizi telah dikembangkan pada 8 propinsi yang meliputi 39 kabupaten, mencakup 226 kecamatan, dan 1.528 desa. Dalam rangka usaha perbaikan gizi telah dilatih 19.000 lebih petugas perbaikan gizi.

Peningkatan kesehatan jiwa, gigi, dan mata meliputi usahausaha yang bersifat preventif, kuratif, peningkatan, dan rehabilitasi. Usaha kesehatan jiwa terutama ditujukan kepada gangguan mental yang gawat (1- 2% dari penduduk), penyakit ayan (sekitar 1% dari penduduk), dan perkembangan kemampuan kecerdasan yang terbatas (1 - 3% dari penduduk).

5. Peningkatan penyediaan air minum

Kegiatan terutama ditujukan untuk menambah jumlah penyediaan air minum di pedesaan yang memenuhi syarat- syarat kesehatan. Prioritas diberikan kepada daerah-daerah kritis yakni daerah-daerah yang menghadapi situasi sebagai berikut: terdapat wabah serta penularan penyakit melalui air, sulit mendapat air, airnya belum memenuhi syarat kesehatan untuk dijadikan air minum, sedang dilain pihak telah tersedia tenaga-tenaga kesehatan lingkungan serta telah terdapat partisipasi dari masyarakat.

Hingga akhir Repelita I usaha penyediaan air minum pede-saan masih bersifat terbatas.

6. Pendidikan kesehatan masyarakat

Pendidikan kesehatan masyarakat terutama meliputi pen-didikan kesehatan dalam lapangan keluarga berencana, kesejahteraan ibu dan anak, usaha kesehatan sekolah. perbaikan gizi, sanitasi, dan kesehatan gigi. Organisasi pendidikan kese-hata

Recommended

View more >