...

Santa Perawan Maria Dari Fatima Portugal

by ciptalaguprr

on

Report

Category:

Documents

Download: 1

Comment: 0

557

views

Comments

Description

Download Santa Perawan Maria Dari Fatima Portugal

Transcript

SANTA PERAWAN MARIA DARI FATIMA Portugal Ketika Perang Dunia I melanda Eropa, desa Fatima tidak terkecualikan. Portugal rusuh. Banyak orang Portugis bertempur jauh ke Prancis dan Afrika. Pemerintahan menjadi labil dan akhirnya tumbang saat revolusi pada tahun 1910. Menurut legenda, nama desa Fatima berasal dari nama seorang putri dari bangsa Moor yang dinamakan menurut nama anak perempuan Nabi Muhammad SAW. Pada Abad ke-12, di zaman pendudukan Islam di wilayah Potugis, sang putri tertarik dengan Kristianitas dan akhirnya menganut Katolik. Lucia Abobora (10 tahun) dan dua orang sepupunya, yaitu Fransisco Marto (9 tahun), tinggal bersama keluarga besarnya di sebuah dusun kecil tidak sampai satu mil jaraknya dari Fatima. Seperti kebanyakan anak-anak pada masa itu, mereka buta huruf. Lucia bekerja sebagai penggembala sejak ia berusia tujuh tahun di padang yang bermandikan terik matahari. Pohon-pohon Eik yang bertumbuh secara sporadis dan semak Zaitun menghiasi daerah pedesaan itu, di padang yang dibatasi oleh dinding-dinding batu. Lucia adalah seorang gadis saleh dan sehat, serta dikaruniai ingatan yang kuat. Ketika berumur tujuh tahun, ia memperoleh pengalaman aneh pertamanya di padang tersebut. Sewaktu ia berdoa Rosario bersama kelompok anak gembala, suatu sosok putih menyerupai manusia terlihat bergerak menghampiri mereka, dan lenyap begitu mereka selesai berdoa. Peristiwa serupa terjadi dua kali lagi, tetapi tidak seorang pun percaya dan ia bahkan dianggap bodoh. Kejadian itu segera terlupakan. Beberapa saat kemudian, tujuh orang sepupunya, Fransisco dan Jacinta, diperbolehkan ikut Lucia pergi menggembala ternak setelah mereka memohon-mohon. Sikap Fransisco yang penuh perhatian dan supel amat bertentangan dengan adik kecilnya, Jasinta yang lincah dan peka. Fransisco yang juga pendiam akan berusaha keras melerai pertengkaran, sedangkan si kecil Jasinta justru menghindar. Mereka mirip dalam hal wajah. Ketiga anak itu melewati hari dengan bernyanyi, bermain kartu, dan mengejar kupu-kupu. Frasisco bermain peluit, sementara kedua sepupunya menari. Selama istirahat makan siang, mereka berdoa Rosario singkat, yakni banyak mengucapkan “Salam Maria” dan “Bapa Kami”; jadi, bukan doa utuh. Pada suatu pagi di musim panas dekat Cabeco, mereka bermain di padang. Hujan yang turun tiba-tiba memaksa mereka berhenti bermain dan kemudian menggiring ternak-ternak mereka ke dalam sebuah gua yang penuh semak Zaitun di dekat situ. Mereka makan siang di dalam gua itu, yang dilanjutkan dengan doa Rosario singkat. Sambil menunggu hujan reda, mereka bermain kerikil. Tiba-tiba angin kencang berembus, dan ketika menengadah, mereka melihat suatu sosok bercahaya bergerak mendekat arah lembah. Lucia mengenang peristiwa penampakan yang mengejutkan itu. “Dari kejauhan, di atas pucuk pepohonan yang terbentang ke Timur, kami melihat sesosok pemuda dengan kulit sedikit lebih putih daripada salju, agak tembus pandang, dan sama terangnya dengan kristal yang tertimpa cahaya matahari. Setelah dekat, barulah kami dapat melihat wujudnya. Kami terkejut dan terpaku diam seribu bahasa.” “Jangan takut,” kata pemuda yang rupawan itu dengan nada suara yang menenteramkan hati. ”Aku adalah malaikat perdamaian.” Setelah berkata demikian, ia berlutut, kepalanya tertunduk, dan kemudian mengajari kami doa singkat : O Yesusku, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka. Dan hantarlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu. “Doakanlah itu”, begitulah ia berpesan sambil bangkit berdiri. “Hati Maria dan Yesus Mahakudus akan tersentuh oleh doa-doa kalian. Mereka siap untuk mendengarkan kalian,” imbuhnya, lalu menghilang. Dua puluh tahun berselang, Lucia menulis beberapa renungan tentang pengalaman yang luar biasa ini. “Ia meninggalkan kami dalam ekstase rohani yang begitu kental sampai-sampai kami tidak sadar akan keberadaan kami selama beberapa waktu. Hadirat Tuhan terasa begitu kuat dan mendalam, sehingga kami bahkan tidak mampu untuk langsung berkata-kata satu sama lain. Esok harinya, ekstase rohani itu masih melingkupi kami, tetapi sedikit demi sedikit berkurang dan akhirnya lenyap. Tidak satu Page | 1 pun dari kami yang terpikir untuk membicarakan penampakan ini atau berjanji untuk merahasiakannya. Kami diam dengan sendirinya.” “Perkataan malaikat itu meresap begitu dalam di pikiran kami sehingga kami tidak akan pernah lupa. Sesudah pengalaman itu, kami sering berlutut lama sekali untuk mendaraskan doa yang ia ajarkan, sampai kadang-kadang kami terjatuh karena kelelahan.” “Malaikat itu kemudian menyebut dirinya sebagai Malaikat Portugal. Ia menampakkan diri dua kali di hadapan anak-anak itu, mengajari mereka berdoa. Anak-anak itu terus mengikuti arahannya selama hampir delapan bulan. Pada bulan Mei 1917, ketiga anak itu menggembalakan ternak mereka di daerah berbukit Cova da Iria. Saat itu perang telah berkecamuk tiga tahun, sementara di Utara, hanya beberapa bulan menjelang terjadinya Revolusi Bolsyevik di Rusia. Bagi ketiga anak tersebut, hari itu hanyalah salah satu hari kerja biasa. Di lembah hijau Cova, anak-anak itu sudah menghabiskan makan siang dan mulai berdoa Rosario singkat, ketika tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh seberkas cahaya biru terang di langit. Karena khawatir akan terjadi badai, mereka mengumpulkan ternak mereka dan bersiap untuk pulang. Ketika mereka mulai berjalan, kilat menyambar di dekat sebatang pohon Holm Oak, dan di dekat pohon Holm Oak lainnya mereka melihat suatu sosok yang akan mengubah kehidupan mereka selamanya : “Seorang wanita berpakaian putih dan memancarkan cahaya lebih terang daripada matahari.” Anakanak itu berhenti berjalan dan terpaku menatap sosok itu. “Kami begitu dekat dengannya sehingga kami berada di dalam cahaya yang melingkupi, atau cahaya yang dipancarkannya.” “Jangan takut,” kata wanita tersebut dengan lembut dan hangat. Lucia yang pertama bereaksi. “Dari mana engkau datang?”, tanyanya “Aku datang dari surga.” Jubah putihnya yang dihiasi emas memanjang sampai ke kaki, dan tangannya yang putih lembut menggenggam rosario yang bulir-bulirnya berkerlap-kerlip bak bintang. Ketiga anak itu takjub. Mengapa wanita yang luar biasa ini memilih untuk mengunjungi mereka? Ia berkata bahwa ia hendak mengunjungi mereka pada jam yang sama, tempat yang sama, pada hari ketiga belas setiap bulan selama enam bulan ke depan. Ia berjanji akan memberitahu mereka siapa gerangan dirinya, dan mengabulkan apa yang menjadi keinginan terbesar dalam hati mereka. Lucia diluapi kegembiraan dan mulai memberondong wanita tersebut dengan pertanyaanpertanyaan, “Apakah aku akan masuk surga? Bagaimana dengan Jasinta? Fransisco?” Wanita tersebut meyakinkan mereka bahwa mereka akan masuk surga. “Fransisco juga, sayang,” tambahnya, ”tetapi ia harus banyak-banyak berdoa Rosario terlebih dahulu!” Ingat beberapa kenalannya telah meninggal dunia, Lucia bertanya apakah mereka berada di surga. Wanita tersebut menjawab semua pertanyaan dengan sabar, dan menyampaikan tantangan kepada ketiga anak itu. “Maukah kalian mempersembahkan diri kepada Allah dan menanggung semua penderitaan yang akan Dia tanggungkan kepada kalian? Sebagai silih atas semua dosa karena telah menentang-Nya? Dan bagi pertobatan orang-orang berdosa?” Anak-anak itu menjawab, Ya. Wanita itu memberitahukan akan adanya beberapa pencobaan besar, tetapi menjanjikan bahwa rahmat Allah akan menguatkan mereka. Kemudian ia merentangkan tangannya dan memeluk ketiga anak tersebut. Entah bagaimana, mereka tahu itu adalah cahaya Allah dan dengan takjub mereka berlutut. Wanita tersebut berbicara mengenai perang di Eropa, tetapi anak-anak itu tidak terlalu mengenal dunia di luar semak Zaitun dan padang rumput mereka. “Berdoalah Rosario setiap hari bagi perdamaian dunia dan akhir perang,” kata wanita itu kepada mereka. Kemudian dia bangkit dan bergerak perlahan ke arah Timur, sampai akhirnya menghilang. Cahaya yang memancar darinya menyibak langit laksana tirai, seolah-olah surga terbuka untuknya. Lucia meminta kedua sepupunya berjanji merahasiakan kejadian tersebut. Namun saking senangnya, Jacinta kecil malah bercerita pada seluruh keluarganya. Ibu Jacinta acuh tak acuh mendengarkan, tetapi ayahnya, Ti, percaya pada ceritera putrinya. Ia tahu anak-anaknya jujur, dan ia sangat mempercayai mukjizat. Maria Rosa, Ibu Lucia, tidak terkesan. Menurutnya, paling-paling cerita itu isapan jembol belaka. Namun, kemungkinan terburuknya, cerita itu adalah penghujatan. Jadi, ia meminta Lucia mengaku bahwa mereka telah mengarang-ngarang cerita itu, tetapi Lucia tidak mau. Sang ayah tidak bergeming Page | 2 mendengar cerita yang disebut Maria Rosa sebagai “khayalan perempuan”, maka Maria Rosa membawa anaknya yang nakal itu ke pastor paroki, Pastor Ferreira. Lucia bersiteguh tidak mau menyangkal ceritanya. Hari peringatan Santo Anthony dari Lisbon pada tanggal 13 Juni sudah dekat. Maria Rosa berharap hari yang penuh kegembiraan dan acara di desa itu akan mengalihkan putrinya dari cerita karangannya itu. Namun, ia salah sangka. Pada tanggal 13 Juni, ketiga anak tersebut datang untuk memenuhi janji mereka bertemu dengan Perawan Maria pada tengah hari. Sekelompok kecil orang itu hadir karena penasaran ingin menyaksikan apa yang bakal terjadi. Dalam sekilas cahaya, Maria menampakkan diri. Namun, hanya tiga anak itu yang bisa melihatnya, dan hanya kedua anak perempuan yang bisa mendengarnya. Maria berpesan agar mereka berdoa bagi jiwa-jiwa yang perlu dibawa ke surga, juga agar mereka berdoa Rosario setiap hari. Ia mendorong mereka untuk belajar membaca dan menulis. Lucia mengajukan banyak pertanyaan. “Apakah engkau akan membawa kami ke surga?” tanyanya. “Ya,” jawab wanita itu. “Aku akan membawa Jacinta dan Fransisco lebih dahulu, tetapi engkau akan tinggal sedikit lebih lama karena Yesus ingin engkau membuatku lebih dikenal dan lebih dikasihi di dunia ini. Yesus berharap engkau juga bisa memperkenalkan devosi bagi “Hatiku yang Tidak Bernoda kepada dunia.” Menurut kepercayaan tradisional, hati Maria adalah sumber melimpah dari kasih yang murni bagi Allah dan bagi umat manusia. Lucia memikirkan nasibnya. “Haruskah aku tinggal sendiri di dunia ini?” tanyanya dengan sedih. “Tidak sendirian, putriku, dan engkau jangan bersedih,” hibur Maria, “aku akan selalu bersamamu, dan hatiku yang tidak bernoda akan menghibur serta mengarahkanmu kepada Allah”. Di kemudian hari, Lucia mengenang kehadiran Maria : “Pada saat Maria menyampaikan katakatanya yang terakhir, sambil merentangkan tangan, ia memancarkan cahaya terangnya kepada kami untuk kedua kalinya. Dalam cahaya itu kami merasa dinaungi kerahiman Allah”. Jacinta dan Fransisco tampaknya menjadi bagian cahaya yang terangkat ke surga, sedangkan aku menjadi bagian cahaya yang menyebar ke seluruh bumi. Di telapak tangan kanan Bunda Maria terlihat gambar sebuah hati terlilit duri. Kami mengerti itu adalah hati Maria yang tidak bernoda.” Ketika Maria lenyap di ufuk Timur, ketiga anak itu tertinggal untuk merenungkan makna dari perkataannya. Maria telah mengungkapkan masa depan yang suram : kematian lebih awal bagi kedua anak yang lebih muda dan kehidupan yang sepi bagi sepupu mereka, sedangkan bagi khalayak yang hadir di situ, sebagian besar dari mereka melihat seberkas sinar atau sekerlip cahaya matahari. Ada juga yang melihat secuil awan kelabu bergerak ketika ketiga anak itu berkata bahwa Maria sedang bergerak. Namun, segelintir saja yang menjadi percaya. Sebulan kemudian, Maria kembali menampakkan diri tetapi berbeda dari sebelumnya. Ia memberi ketiga anak tersebut tiga gulungan kertas berisi pesan-pesan, yang di kemudian hari dikenal sebagai 3 Rahasia dari Fatima---pesan-pesan yang tidak pernah tercatat sampai akhirnya Lucia menuliskannya pada tahun 1941 atas permintaan seorang Uskup. Rahasia pertama adalah sebuah pesan singkat yang menakutkan tentang pemandangan neraka. Rahasia kedua adalah peringatan awal tentang kekuasaan komunis Rusia. Perawan Terberkati memohon agar Rusia dikonsekrasikan bagi Hatinya yang Tidak Bernoda. Memang ganjil bahwa Negara yang dikenal dengan imannya yang kuat dan sejarah kekristenannya yang lama itu memerlukan pertobatan. Namun, pada saat peristiwa penampakan itu terjadi, Rusia masih merupakan Negara komunis. Rahasia ketiga dan paling dijaga kerahasiaannya akhirnya diungkap oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2000. Dalam visiun terlihat seorang malaikat dengan pedang menyala-nyala dan sekelompok imam serta kaum rohaniwan yang dipimpin oleh Paus sedang mendaki gunung terjal menuju kaki salib besar di puncaknya. “Dalam perjalanan tersebut, Bapa Suci melewati sebuah kota besar yang hancur sebagian,” tulis Lucia, “dengan langkah terseok-seok dan separuh gemetar didera rasa sakit serta penderitaan … setelah mencapai puncak gunung dan berlutut di kaki salib, ia dibunuh oleh sekelompok prajurit yang menghujaninya dengan peluru serta anak panah …” Page | 3 Visiun ini kemudian diterjemahkan sebagai percobaan pembunuhan terhadap Paus pada tahun 1981. Lucia memohon agar wanita tersebut memberitahu mereka siapa gerangan dirinya. Ia berjanji akan mengungkapkan identitasnya di bulan Oktober, dan akan mengadakan mukjizat besar untuk meyakinkan mereka yang masih ragu. Sementara itu, semua orang penasaran terhadap rahasia-rahasia itu. Para handai taulan, teman, tetangga, pejabat Gereja, dan pejabat sipil mati-matian membujuk dan menggunakan berbagai trik untuk mengoreksi informasi. Orang-orang tersebut mengerumuni pondok kecil Abobora mereka, berusaha menjangkau ketiga anak itu. “Di tangan mereka, kami ibarat bola di tangan anak-anak,“ tulis Lucia, “setiap orang berebutan menarik-narik kami dan bertanya, tanpa pernah memberi kami waktu untuk menjawab pertanyaan orang lain.” Seorang pejabat lokal diperintahkan untuk membuktikan bahwa ketiganya berbohong. Mereka dibawa ke rumahnya untuk ditanyai, dan kemudian digiring ke balai kota, akhirnya dijebloskan ke penjara. Namun, tidak ada sesuatu pun yang bisa membuat mereka berbicara. Akibat perlakuan itu, mereka tidak dapat memenuhi janji bertemu Bunda Maria berikutnya. Khalayak yang kebingungan di Cova da Iria itu mulai berdoa Rosario pada tengah hari. Gumaman doa dan gemuruh hali lintar mewarnai suasana. Segumpal awan putih melayang rendah, lalu naik dan memadu dengan langit. Warna-warni terang merah, kuning, biru, dan jingga menyemburat dari sumber yang samar. Tampaknya Maria tetap memenuhi janjinya walaupun putra-putrinya tidak bisa hadir Si pejabat mengancam dan mengintimidasi anak-anak tersebut dengan segala macam cara. Mereka menangis ketakutan, tetapi tetap tidak mau mengungkapkan rahasia-rahasia tersebut. Ia akhirnya melepaskan mereka pada 15 Agustus, pada hari peringatan Maria Diangkat ke Surga. Walaupun gembira bisa kembali ke pangkuan orangtua, masih ada satu ketakutan yang mengusik anak-anak itu. Karena mereka tidak dapat memenuhi janji, apakah Bunda Maria marah? Apakah mereka masih dapat bertemu dengannya lagi? Jawabannya datang tanpa diduga-duga. Seorang wanita saleh bernama Maria Carriera mendirikan sebuah altar berhiaskan bunga-bunga dan sebuah gua dengan salib dan lampu di lokasi penampakan itu. Para peziarah meninggalkan uang untuk persembahan di situ, dan karena tidak tahu harus berbuat apa dengan uang tersebut, Maria Carriera mendekati Lucia untuk minta nasihatnya. “Tuhan, belalah aku!”, kata Lucia, “aku juga tidak mau uang itu!” Namun, Lucia berkata bahwa ia akan menanyakannya dahulu kepada Bunda Maria apabila ia datang lagi nanti. Pada pagi yang sama, Lucia, Fransisco, dan saudara Fransisco yang bernama Jhon sedang keluar di padang. Mereka berjalan tak tentu arah, bermain, serta berdoa, dan pada jam 4 sore mereka ternyata sudah berada tidak jauh dari Cova da Iria. Mendadak suasana berubah. Naluri mereka langsung bekerja. Bunda Maria datang! Jhon berlari untuk memanggil Jacinta, yang tiba tepat waktu untuk melihat pohon-pohon Zaitun berubah keperakan. Dan seberkas cahaya menyilaukan terlihat ketika Bunda Maria hadir. “Apa yang engkau inginkan dariku?” tanya Lucia. “Datanglah ke Cova da Iria pada tanggal 13 bulan depan, anakku,” jawab Maria dengan lembut, “teruslah berdoa Rosario setiap hari. Pada bulan terakhir, aku akan mengadakan mukjizat agar semua orang menjadi percaya. “Aku ingin kalian membuat dua buah lapik dengan uang itu pada hari peringatan Maria Bunda Rosario. Aku ingin kamu dan Jacinta membawa salah satu alas itu bersama dua orang gadis lain yang berpakaian putih-putih. Lalu biarkan Fransisco bersama tiga anak laki-laki lain membawakan alas yang satu lagi. Sisanya untuk membantu pembangunan sebuah kapel yang akan dibangun di tempat ini, “ jawab Bunda Maria. Lucia lalu meminta kesembuhan beberapa orang sakit. “Ada beberapa orang yang akan aku sembuhkan dalam tahun ini,” Maria berjanji. Dan sekali lagi Maria berpesan agar mereka berdoa dan mengadakan silih bagi orang lain. Pada tanggal 13 September, Lucia, Fransisco, dan Jacinta kembali berkumpul di Cova da Iria, tetapi kali ini 30.000 orang peziarah memenuhi jalanan dan padang di sekitar. “Mereka ingin bertemu dan berbicara dengan kami,” tulis Lucia kemudian. “Banyak di antara mereka, bahkan para bangsawan Page | 4 dan orang terhormat menerobos pers dan berlutut di hadapan kami, minta agar permohonan mereka disampaikan ke hadirat Bunda Maria.” Tepat tengah hari, sebuah bulatan mirip bola Bumi muncul di langit, menggelinding dari arah Timur ke Barat. Suasana menjadi hening karena semua orang yang berkumpul diliputi ketakjuban. Mereka kemudian menunjuk ke arah langit. Sosok Maria bermandikan cahaya putih, jauh lebih indah dan lebih terang daripada sinar matahari,” kenang Fransisco, “lebih cantik daripada wanita mana pun yang pernah kulihat.” Lucia mengajukan pertanyaan rutinnya dengan rendah hati. “Apa yang engkau inginkan dariku?” Bunda yang Terberkati mengulangi keinginannya untuk mendengar anak-anaknya berdoa Rosario. “Doakan setiap hari agar perang berakhir,” demikian Maria berpesan. Maria menasihati ketiga anak tersebut mengenai pentingnya doa dan korban silih. Lucia bertanya tentang banyaknya permohonan yang telah dititipkan kepadanya dari orang bayak. Maria dengan lembut berjanji untuk memenuhi beberapa permohonan itu, dan mengulangi kata-katanya yang lalu, “Pada bulan Oktober, aku akan mengadakan mukjizat agar semua orang menjadi percaya.” Pada malam sebelum peristiwa penampakan terakhir, terjadilah badai besar. Para peziarah dari berbagai usia dan latar belakang berjuang di kegelapan malam di atas jalanan yang penuh lumpur, air hujan, dan salju. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik hewan tunggangan, ada yang naik kereta kuda atau mobil menuju Cova de Iria. Wartawan Avelino de Almeida menggambarkan kejadian itu. “Hampir semua orang, baik pria maupun wanita, bertelanjang kaki. Para wanita menjinjing sepatu-sepatu mereka yang sudah dimasukkan dalam kantong. Sementara para prianya berjalan merunduk menentang badai sambil mencengkeram payung kuat-kuat. Orang bisa melihat bahwa mereka seakan tidak menyadari apa yang sedang terjadi, juga tidak menyadari kehadiran peziarah lain. Seolah-olah mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil berdoa Rosario dengan sedih. Seorang wanita mendaraskan bagian pertama Doa Salam Maria, dan kemudian rekan seperjalanannya menyambung pendarasan bagian kedua. Dengan langkah pasti, mereka menyusuri jalanan di antara pohon-pohon Pinus dan semak Zaitun agar mereka bisa tiba di lokasi penampakan sebelum malam tiba. Mereka siap untuk tidur di bawah bintang-bintang yang memancarkan sinar dingin, tetapi membawa perasaan damai. Esok paginya, hujan turun tiada henti. Ketiga anak itu berjalan menembus kerumunan peziarah yang berlindung di bawah payung masing-masing. Tiba di lokasi tepat tengah hari, Lucia meminta orang-orang itu untuk menutup payung-payung mereka. Mereka patuh, tetapi tidak terjadi apa-apa. Orang-orang mulai menggerutu. Namun, sesaat kemudian wajah Lucia berbinar-binar, “Jacinta, berlututlah, aku melihat Bunda Maria di sana!” katanya, “aku melihat kilasan cahayanya!” Anak-anak itu berlutut di lumpur. Lucia bertanya untuk yang terakhir kali, “Apa yang engkau inginkan dariku?” “Aku ingin dibangun sebuah kapel di tempat ini untuk menghormatiku, “ jawab Maria, ”aku ingin kalian tetap berdoa Rosario setiap hari. Perang akan segera berakhir, dan para prajurit akan kembali ke rumah masing-masing.” “Ada banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu,” kata Lucia sambil mencoba mati-matian untuk mengingat semua permohonan doa dari orang-orang. “Beberapa akan aku kabulkan, sementara yang lain harus kutolak, “kata Maria dengan lembut, “orang-orang harus memperbaiki hidup mereka dan mohon ampun atas dosa mereka. Mereka tidak boleh menentang Maria lagi, karena ia sudah terlalu banyak ditentang!” Dan pada saat lengannya terentang lebar, cahaya putih memancar, lebih terang dari matahari. Orang banyak tidak dapat melihat apa-apa, kecuali awan yang bergulung-gulung bak tirai raksasa dan matahari. Orang banyak tidak dapat melihat apa-apa, kecuali awan yang bergulung-gulung bak tirai raksasa dan matahari yang bersinar di langit biru cerah. “Lihat matahari itu!”, teriak Lucia. Ia tidak ingat pernah mengucapkan kata-kata itu. Ia berada dalam kondisi ekstase. Di depan matanya terlihat tiga pemandangan. Maria muncul bersama Yosef, yang menggendong bayi Yesus. “Santo Yosef akan memberkati kita!”, seru Lucia ketika Yosef mengangkat tangannya. Yosef dan Yesus memberkati para peziarah sebanyak tiga kali. Dalam visiun kedua yang hanya dapat dilihat oleh Lucia, Maria berada dalam keadaan sangat berduka, menyaksikan Yesus di akhir perjalanan salib. Hanya bagian atas tubuh-Nya yang terlihat ketika Yesus memandang dan memberkati orang banyak itu. Page | 5 Dalam visiun ketiga, Maria menampakkan diri dengan dimahkotai sebagai Ratu Surga, bersamanya ada Bayi Yesus duduk di pangkuannya. Ketika ketiga anak itu sedang terpaku pada penampakan tersebut, perhatian orang banyak teralihkan oleh sebuah pemandangan mempesona. Matahari mulai bersinar lebih terang dari biasanya. Luar biasanya, semua orang bisa melihat tanpa menjadi rusak matanya. Kemudian seakan-akan sedang bergembira, matahari mulai menari-nari. Bergulung-gulung seperti roda raksasa, berhenti, berputar lagi, dan kemudian memancarkan cahaya merah tua raksasa yang lalu menyemburatkan warna-warna pelangi. Semua penuh warna : hijau, biru, ungu, dan jingga. Kemudian terjadi bersamaan, matahari tampak bergetar, dan bergerak zigzag ke arah orang banyak yang sedang terkagum-kagum. Mareka berteriak dan berlutut untuk berdoa. Pikir mereka kiamat sudah tiba. Sepuluh menit berselang, matahari bergerak mundur dan zigzag kembali ke tempatnya semula di langit, balik menjadi matahari tengah hari biasa. Begitu pulih dari keterkejutan mereka, orang mulai berteriak-teriak, “Mukjizat! Mukjizat! Terpujilah Tuhan! Terpujilah Bunda Maria!” Sambil tertawa sekaligus menangis, sementara air mata mengalir di wajah, mereka berdoa dan berseru penuh sukacita. Banyak orang bisa menyaksikan mukjizat matahari itu sampai beberapa kilometer jauhnya dari lokasi. Beberapa orang mengaku juga melihat apa yang dilihat anak-anak itu, sementara ada yang mengatakan bahwa ada yang menyaksikan wajah Maria tersenyum di langit. Apa pun yang mereka lihat, semua orang pulang dari Cova da Iria dengan pemahaman bahwa mereka telah menyaksikan sesuatu yang kudus. Percaya akan peristiwa-peristiwa tersebut, para orang tua dari ketiga anak itu akhirnya setuju untuk menyekolahkan mereka agar mereka bisa belajar baca tulis sebagaimana pesan Maria. Fransisco, yang yakin ia akan mati muda, memanfaatkan waktunya untuk banyak-banyak berdoa, mengembara di daerah pedesaan atau kembali ke tempat di mana ia telah melihat Maria. Bila sedang tidak berdoa ia akan melakukan kebajikan bagi para tetangganya yang kurang beruntung, menggembalakan kambing seorang wanita tua yang tinggal di dekat situ, atau berdoa bagi siapa pun yang meminta doanya. Pada Oktober 1918, menjelang berakhir Perang Dunia I, wabah influenza pecah dan menjangkiti seluruh kelurga Fransisco. Fransisco meninggal dunia pada bulan April 1919 karena radang paru-paru. Tidak lama setelah itu, Jacinta jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Walaupun telah menjalani pembedahan, keadaannya terus memburuk, tetapi ia dihibur oleh Perawan Maria yang hadir di sisi ranjang. Ia meninggal dunia pada tahun 1920. Hanya dalam beberapa bulan, Lucia kehilangan dua orang yang memahami apa yang telah ia lihat dan dengan siapa ia berbagi rahasia-rahasianya. Ketika berumur empat belas tahun, ia masuk biara Suster-suster Dorothy di Vilar. Dari usia delapan belas sampai dua puluh dua tahun, Perawan Terberkati menampakkan diri tiga kali lagi di hadapan Lucia, mendorong untuk terus berdoa. Maria mengatakan betapa ia ingin Rusia dipersembahkan untuknya, mengulang salah satu rahasia yang telah disampaikannya kepada anak-anak itu pada bulan Juli 1917. Lucia mengikuti saran Maria dan bergabung dengan para biarawati Karmelit, yakni sebuah komunitas rohani yang berdevosi bagi doa dan kontemplasi. Lucia meninggal dunia pada tahun 2005 di usia sembilan puluh tujuh tahun. Pada tahun berikutnya, sisa jasadnya dibawa ke tempat suci di Fatima, di tempat itulah ia disatukan dengan sisa jasad kedua sepupunya. Dewasa in, kapel “The Chapel of Apparitions” di Cova da Iria mempunyai sebuah pilar granit sederhana yang menopang sebuah patung Bunda Maria dari Fatima tepat pada titik di mana ia pernah menampakkan diri. Pohon Holm Oak tempat ketiga anak tersebut menantikan kehadiran Maria masih berdiri di sekitar. Sebuah pecahan Tembok Berlin juga berada di sana, dipamerkan sebagai monument runtuhnya komunis Soviet sebagaimana telah dinubuatkan oleh Maria. Bunda Maria dari Fatima, sembuhkan orang sakit yang berlindung kepadamu. Bunda Maria dari Fatima, hiburlah orang-orang menderita yang percaya kepadamu. Bunda Maria dari Fatima, berilah damai bagi dunia Kutipan Doa Bunda Maria dari Fatima, Kardinal Patriarch, Lisbon, 31 November 1938 Page | 6 (diambil dari “Mukjizat-mukjizat Bunda Maria : Kisah-kisah Penampakan Dan Mukjizat Bunda Maria Di Seluruh Dunia” oleh Bridget Curran, Obor, Juli 2010, hal. 164-180) Page | 7
Fly UP