Click here to load reader

Teknik Otomotif (Materi Bidang studi)

  • View
    312

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of Teknik Otomotif (Materi Bidang studi)

  • MODUL PLPG

    TEKNIK OTOMOTIF

    KONSORSIUM SERTIFIKASI GURU dan

    UNIVERSITAS NEGERI MALANG Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 115

    2013

  • KATA PENGANTAR

    Buku ajar dalam bentuk modul yang relatif singkat tetapi komprehensif ini

    diterbitkan untuk membantu para peserta dan instruktur dalam melaksanakan kegiatan

    Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Mengingat cakupan dari setiap bidang atau

    materi pokok PLPG juga luas, maka sajian dalam buku ini diupayakan dapat membekali

    para peserta PLPG untuk menjadi guru yang profesional. Buku ajar ini disusun oleh para

    pakar sesuai dengan bidangnya. Dengan memperhatikan kedalaman, cakupan kajian, dan

    keterbatasan yang ada, dari waktu ke waktu buku ajar ini telah dikaji dan dicermati oleh

    pakar lain yang relevan. Hasil kajian itu selanjutnya digunakan sebagai bahan perbaikan

    demi semakin sempurnanya buku ajar ini.

    Sesuai dengan kebijakan BPSDMP-PMP, pada tahun 2013 buku ajar yang

    digunakan dalam PLPG distandarkan secara nasional. Buku ajar yang digunakan di

    Rayon 115 UM diambil dari buku ajar yang telah distandarkan secara nasional tersebut,

    dan sebelumnya telah dilakukan proses review. Disamping itu, buku ajar tersebut

    diunggah di laman PSG Rayon 115 UM agar dapat diakses oleh para peserta PLPG

    dengan relatif lebih cepat.

    Akhirnya, kepada para peserta dan instruktur, kami sampaikan ucapan selamat

    melaksanakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru. Semoga tugas dan

    pengabdian ini dapat mencapai sasaran, yakni meningkatkan kompetensi guru agar

    menjadi guru dan pendidik yang profesional. Kepada semua pihak yang telah membantu

    kelancaran pelaksanaan PLPG PSG Rayon 115 Universitas Negeri Malang, kami

    menyampaikan banyak terima kasih.

    Malang, Juli 2013 Ketua Pelaksana PSG Rayon 115

    Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M. Pd NIP 19541006 198003 1 001

  • PENGEMBANGAN MATERI BIDANG STUDI

    OTOMOTIF

    Tim Penyusun:

    Drs. Imam Muda Nauri, S.T., M.T

    Drs. Paryono, S.T., M.T

    Drs. Sumarli, M.Pd., M.T

    Prof. Dr. Marji, M.Kes

    KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL

    UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON 15

    JUNI, 2012

  • BAB 1

    PENGETAHUAN DASAR TEKNIKI OTOMOTIF

    A. DASAR-DASAR STATIKA DAN ILMU KEKUATAN BAHAN

    1. Mekanika-Statika Mekanika adalah cabang ilmu Fisika yang mempelajari hubungan gaya dan gerak

    dan/atau perubahan bentuk benda.Mekanika kemudian dibagi dalam mekanika benda tegar

    (rigid body mechanics), mekanika benda berdeformasi (deformable body mechanics),dan

    mekanika zat alir (fluid mechanics).Mekanika benda tegar kemudian dibagi lagi menjadi

    statika dan dinamika (kinetika dan kinematika), sedangkan mekanika benda berdeformasi

    sering kita kenal sebagai ilmu kekuatan bahan yakni mempelajari pengaruh gaya terhadap

    tegangan dan regangan yang terjadi pada benda.

    Statika adalah ilmu yang mempelajari tentang kesetimbangan benda, termasuk gaya-

    gaya yang bekerja pada sebuah benda agar benda tersebut dalam keadaansetimbang.

    a. Gaya Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan benda diam menjadi bergerak atau sebaliknya

    dari bergerak menjadi diam. Hubungan antara gaya dan gerak dirangkum dalam tiga Hukum

    Newton. Ketiga Hukum Newton tersebut adalah:

    Hukum Pertama Newton: Benda yang dalam keadaan diam atau bergerak lurus dengan

    kecepatan konstan akan tetap berada dalam kondisi seperti itu jika gaya gaya yang bekerja

    padanya dalam kondisi seimbang.

    Hukum Kedua Newton: Jika sebuah benda bekerja gaya yang tak seimbang sebesar F

    maka benda tersebut akan bergerak dengan percepatan a yang searah F besarnya sebanding

    dengan F dan massa dari benda tersebut.

    Hukum Ketiga Newton: gaya aksi-reaksi antara dua benda besarnya sama, arahnya

    berlawanan, dan bekerja dalam garis kerja yang sama.

    Gaya dapat digambarkan sebagai sebuah vektor, yaitu besaran yang mempunyai besar dan

    arah. Gaya biasanya disimbolkan dengan huruf F.

    Gambar 1: Gaya dan gerak

    Gaya yang bekerja pada benda di atas antara lain: Gaya berat (W) yang selalu berpusat

    pada titik beratnya dan arahnya selalu ke pusat gravitasi bumi. Gaya (F) dapat sejajar dengan

    permukaan benda atau membentuk sudut dengan permukaan tumpuan. GayaF dapat

    menyebabkan masa (m) dari diam menjadi bergerak hingga memiliki percepatan sebesar a

    (m/s2

    ), dapat dituliskan:

    F = m (Kg) a (m/s2

    ) = Kg m/s2

    = Newton (N)

    Bila gaya F dihilangkan benda (m) akan mengalami perlambatan hingga setelah waktu

    t detik benda akan berhenti (kecepatan v = 0). Hal ini karena benda melewati permukaan

    kasar yang memiliki gaya gesek (f) yang arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda.

  • Besarnya f tergantung pada harga koefisien geseknya (). Semakin kasar permukaan benda

    maka koefisien geseknya () akan semakin besar.

    Bila gaya gesek lebih besar dari gaya tarik (F), maka benda akan berhenti (v = 0). Gaya

    gesek (f) berbanding lurus dengan gaya normal (N) benda atau dapat dituliskan:

    f = N(Newton)

    di mana: N = gaya normal yang selalu tegak lurus permukaan benda (Newton)

    = koefisien gesek permukaan benda (tanpa satuan).

    Gambar 2: Gaya gesek

    1) Menentukan besarnya gaya

    Besarnya gaya dapat ditentukan oleh skala tertentu, misalnya 1 cm mewakili 1

    Newton atau kelipatannya. Satuan gaya ditentukan oleh sistem satuan SI (standar

    internasional) yang dinyatakan dengan Newton (N). Garis lukisan gaya itu dapat

    diperpanjang sesuai besarnya gaya F.

    Titik tangkap gaya (A) dapat dipindahkan sepanjang lintasannya, asalkan besar, dan

    panjangnya tetap sama sesuai dengan gaya F.

    Gambar 3: Gaya, titik tangkap gaya, dan garis kerja gaya

    2) Menyusun dua buah gaya

    Arah gerak dan besar gaya pada benda A dipengaruhi oleh dua komponen gaya masing-

    masing gayaF1 dan F

    2. Pengaruh gaya F

    1 dan F

    2 terhadap benda/titik A dapat diwakili oleh

    Resultane gaya (F) yang besarnya dapat ditentukan sebagai berikut.

    F = F1

    2

    + F2

    2

    + 2 F F 2Cos

    Gambar 4: Resultan gaya

    3) Menyusun lebih dari dua gaya

    Benda A dikenai tiga buah gaya F1, F

    2 dan F

    3,maka ; resultan gayanyadapat dijabarkan

    sebagai berikut.

  • FR3 = F

    R1,2

    2

    + F3

    2

    + 2 FR1,2

    F Cos

    FR1,2 = F1

    2

    + F2

    2

    F2Cos

    Penyelesaian di atas disebut dengan penyelesaian secara grafis, namun ada juga penyelesaian

    secara Poligon (segi banyak) dan secara analitis, yaitu setiap gaya diuraikan ke dalam sumbu

    X dan Y.

    4) Menyusun gaya dengan metode poligon

    Metode ini dengan cara memindahkan gaya Q ke ujung P, S ke ujung Q, dan seterusnya

    secara berantai. Pemindahan gaya-gaya tersebut besar dan arahnya harus sama. Pemindahan

    dilakukan berurutan dan dapat berputar ke kanan atau ke kiri. Resultan gaya diperoleh dengan

    menarik garis dari titik A sampai ke ujung gaya yang terakhir, dan arahnya dari A menuju

    titik ujung gaya terakhir itu.

    Gambar 5: Resultan gaya dengan poligon gaya

    5) Menyusun gaya secara Analitis

    Untuk mencari resultan gaya juga dapat dilakukan dengan cara analitis, baik untuk

    menentukan besarnya, kedudukan titik tangkapnya, maupun arahnya melalui sumbu X dan Y,

    yaitu sebagai berikut.

    Gambar 6: Resultan gaya secara analitis

  • 6) Menguraikan gaya

    Menguraikan gaya dapat dilakukan dengan menguraikan pada arah vertikal dan

    horizontal yang saling tegak lurus, atau masing-masing komponen sebagai sisi-sisi dari jajar

    genjang dengan sudut lancip tertentu yang mudah dihitung. Pada gambar di bawah ini

    diberikan contoh sebuah gaya F yang diuraikan menjadi F1 dan F

    2 yang membentuk sudut

    lancip . Jika dua buah gaya dapat digantikan dengan sebuah gaya pengganti atau resultan,

    maka sebaliknya, sebuah gaya dapat diuraikan menjadi dua buah gaya yang masing-masing

    disebut dengan komponen gaya menurut garis kerja yang sudah ditentukan.

    Gambar 7: Menguraikan gaya

    Fx = F Cos

    Fy = F Sin

    b. Momen Gaya dan Kopel 1) Momen gaya.

    Momen gaya F terhadap titik pusat O adalah hasil kali antara besarnya gayaF dengan

    jarak garis gaya, ke titik pusat O. Besarnya momen tergantung dari besarnya gayaF dan jarak

    garis gaya terhadap titik putarnya (L). Dalam bidang teknik mesin momen sering terjadi pada

    saat mengencangkan mur atau baut, pengguntingan pelat, sistem pegas, dan sebagainya.

    Gambar 8: Momen gaya

    Dimana F = gaya, d= jarak gaya terhadap titik pusat, dan M = Momen gaya.

    Dalam satuan SI (standar international), momen memiliki satuan Newton meter (N.m). Jika

    terdapat beberapa gaya yang tidak satu garis kerja seperti gambar di bawah maka momen

    gayanya adalah jumlah dari momen gaya-momen gaya itu terhadap titik tersebut.

    2) Kopel.

    Sebuah kopel terjadi jika dua gaya dengan ukuran yang sama dan garis kerjanya

    sejajar tetapi arahnya berlawanan, yang keduanya cenderung menimbulkan perputaran. (lihat

  • gambar di bawah ini)

    Gambar 9: Momen kopel

    Dua gaya tersebut mengakibatkan suatu putaran yang besarnya merupakan hasil kali gaya

    dengan jaraknya. Aplikasi dari kopel dapat dirasakan ketika membuat mur atau baut, dimana

    tangan kita mberikmean gaya putar pada kedua tuas snei dan tap yang sama besar namun

    berlawanan arah.

    2.Dasar-Dasar Ilmu Kekuatan Bahan

    1. Tegangan tarik dan tekan.

    Dalam membahas kekuatan tarik tidak lepas dari tegangan dan regangan. Kedua sifat ini

    diukur saat melakukan uji tarik atau tekan (Gambar 1.1). Dalam tarik, regangan adalah

    pertambahan panjang dari material, sedangkan dalam tekan adalah pemendekan dari bahan

    yang ditekan.

    Tegangan = Gaya / Luas Penampang

    Regangan = Perpanjangan / Panjang mula

    Hasil dari tegangan dan regangan jika dibagikan akan menghasilkan sebuah Modulus Young

    (E). Mudulus Young ini hanya berlaku pada daerah elastis dari sifat bahan.

    Tegangan / Regangan = T / e = Modulus Young E atau E = PL / A

    Gambar 1.10 Profil tegangan tarik dan tekan

    2. Rasio poison V = -(Regangan searah lateral/Regangan searah aksial)

    atau

  • Gambar 1.11Rasio Poisson

    3.Tegangan Geser Dalam bidang permesinan tidak lepas dari pergeseran. Pergeseran terjadi akibat adanya

    gaya yang menggeser benda sehingga terjadi tegangan dan regangan geser. Tegangan dan

    regangan geser dapat dihitung dengan menggunakan persamaan di bawah ini:

    Tegangan geser = P / A

    Regangan geser = Tegangan geser / Modulus geser

    Regangan geser = X / L

    Modulus geser = P.L / A.X

    Gambar 12: Tegangan geser

    4. Tegangan Bending Suatu kontruksi dari bahan tidak lepas dari beban atau gaya yang menekan tidak pada titik

    pusat sehingga terjadi bending. Akibat dari gaya ini terjadi tegagan bending yang dapat

    dihitung seperti di bawah ini:

    Tegangan Bending = M.y / I

    Dengan M = Momen bending

    I = momen kedua dari area

    Y = jarak titik pusat dengan titik beban

    Gambar 13: Tegangan Bending

    5. Tegangan Maksimum Tegangan maximum = M.y m / I

    dengan ym = harga maksimum y untuk tarik dan tegangan tekan

    6. Torsi

  • Batang yang digunakan sebagai penghubung yang berputar akan terjadi momen puntir yang

    juga disebut Torsi. Untuk batang ini ada yang menggunakan batang pejal dan batang

    berlubang, keduanya mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing.

    Gambar 1.14 Torsi pada batang pejal

    Pada batang pejal perhitungan kapasitas daya yang diterima dapat dihitung sebagai

    berikut:

    Maksimum tegangan geser :

    Tegangan geser maximum = 16.T / 3,14 D3

    Dengan D = diameter, T = torsi

    Kapasitas torsi :

    Torsi = 3,14D3 . Tegangan geser max / 16

    B KOMPONEN / ELEMEN MESIN

    D. Poros Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga melalui putaran

    mesin. Setiap elemen mesin yang berputar, seperti cakra tali, puli sabuk mesin, piringan

    kabel, tromol kabel, roda jalan, dan roda gigi, dipasang berputar terhadap poros dukung yang

    tetap atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar.

    Gambar 15: Poros

    Untuk merencanakan sebuah poros, maka perlu diperhitungkan gaya yang bekerja pada

    poros di atas antara lain: Gaya dalam akibat beratnya (W) yang selalu berpusat pada titik

    gravitasinya. Gaya (F) merupakan gaya luar arahnya dapat sejajar dengan permukaan benda

    ataupun membentuk sudut dengan permukanan benda. Gaya F dapat

    D. Macam-Macam Poros Poros sebagai penerus daya diklasifikasikan menurut pembebanannya sebagai berikut. :

    1. Gandar 2. Spindle3. Poros transmisi

    b. Beban pada Poros : 1) Poros dengan beban puntir Daya dan perputaran, momen puntir yang akan dipindahkan oleh poros dapat ditentuka dengan mengetahui

    garis tengah pada poros. Apabila gaya keliling F pada gambar sepanjang lingkaran

  • dengan jarijarimenempuh jarak melalui sudut titik tengah a (dalam radial), maka jarak

    ini adalah r , dankerja yang dilakukan adalah F. Gaya F yang bekerja pada keliling

    roda gigi dengan jari-jari r dan gaya reaksi pada poros sebesar F merupakan suatu

    kopel yang momennya M = F r.

    Momen ini merupakan momen puntir yang bekerja dalam poros.

    W = F r = M

    Bila jarak ini ditempuh dalam waktu t, maka daya,

    di mana ialah kecepatan sudut poros. Jadi, momen puntirnya:

    2) Poros dengan beban lentur murni

    Poros dengan beban lentur murni biasanya terjadi pada gandar dari kereta tambang

    dan lengan robot yang tidak dibebani dengan puntiran, melainkan diasumsikan

    mendapat pembebanan lentur saja.

    3) Poros dengan beban puntir dan lentur

    Poros dengan beban puntir dan lentur dapat terjadi pada puli atau roda gigi pada

    mesin untuk meneruskan daya melalui sabuk, atau rantai. Dengan demikian poros

    tersebut mendapat beban puntir dan lentur akibat adanya beban. Selain itu, beban

    puntir dan lentur juga terjadi pada lengan arbor mesin frais, terutama pada saat

    pemakanan.

    D. Bantalan Bantalan diperlukan untuk menumpu poros berbeban, agar dapat berputar atau

    bergerak bolak-balik secara kontinyu serta tidak berisik akibat adaya gesekan.

    Bantalan poros dapat dibedakan menjadi dua, antara lain:

    D. Bantalan luncur, di mana terjadi gerakan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan

    poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan lapisan pelumas.

    b. Bantalan gelinding, di mana terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti rol atau rol jarum. Berdasarkan

    arah beban terhadap poros, maka bantalan dibedakan menjadi tiga hal berikut. :

    1. Bantalan radial, di mana arah beban yang ditumpu bantalan tegak lurus sumbu poros. 2. Bantalan aksial, di mana arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros. 3. Bantalan gelinding khusus, di mana bantalan ini menumpu beban yang

    arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros.

  • C.DASAR-DASAR PEMBENTUKAN LOGAM

    Tujuan utama Proses Manufacturing adalah untuk membuat komponen dengan

    mempergunakan material tertentu yang memenuhi persyaratan bentuk dan ukuran, serta

    struktur yang mampu melayani kondisi lingkungan tertentu.

    Melihat faktor-faktor diatas maka faktor membuat suatu bentuk tertentu merupakan faktor

    utama. Ada beberapa metoda atau membuat geometri (bentuk dan ukuran) dari suatu bahan

    yang dikelompokan menjadi enam kelompok dasar proses pembuatan ( manufacturing

    proces) yaitu : proses pengecoran ( casting), proses pemesinan (machining), proses

    pembentukan logam (metal forming), proses pengelasan (welding), perlakuan panas (heat

    treatment), dan proses perlakuan untuk mengubah sifat karakteristik logam pada bagian

    permukaan logam (surface treatment).

    1. Proses pengecoran (casting)

    Suatu teknik pembuatan produk dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian

    dituangkan kedalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk asli dari produk cor yang

    akan dibuat.

    2. Proses pemesinan (machining)

    Proses pemotongan logam disebut sebagai proses pemesinan adalah proses pembuatan

    dengan cara membuang material yang tidak diinginkan pada benda kerja sehingga diperoleh

    produk akhir dengan bentuk, ukuran, dan surface finish yang diinginkan.

    3. Proses pembentukan logam (metal forming)

    Proses metal forming adalah melakukan perubahan bentuk pada benda kerja dengan cara

    memberikan gaya luar sehingga terjadi deformasi plastis.

    4. Proses pengelasan (welding)

    Proses penyambungan dua bagian logam dengan jalan pencairan sebagian dari daerah yang

    akan disambung. Adanya pencairan dan pembekuan didaerah tersebut akan menyebabkan

    terjadinya ikatan sambungan.

    5. Proses perlakuan panas (heat treatment)

    Heat treatment adalah proses untuk meningkatkan kekuatan material dengan cara perlakuan

    panas.

    6. Surface treatment

    Proses surface treatment adalah proses perlakuan yang diterapkan untuk mengubah sifat

    karakteristik logam pada bagian permukaan logam dengan cara proses thermokimia, metal

    spraying.

    Proses pemesinan atau lebih spesifik lagi proses pembuangan material (material removal

    proces), memberikan ketelitian yang sangat tinggi dan fleksibilitas (keluwesan) yang besar.

    Namun demikian proses ini cenderung menghasilkan sampah dari proses pembuangan

    material tersebut secara sia-sia.

    Proses deformasi memanfaatkan sifat beberapa material ( biasanya logam ) yaitu

    kemampuannya mengalir secara plastis pada keadaan padat tanpa merusak sifat-sifatnya.

    Dengan menggerakkan material secara sederhana ke bentuk yang kita inginkan ( sebagai

    http://indonesia-mekanikal.blogspot.com/2008/07/teknik-pembentukan-dasar-dasar.html

  • lawan dari membuang bagian yang tidak diperlukan ), maka sedikit atau bahkan tidak ada

    material yang terbuang sia-sia.

    Namun demikian biasanya gaya yang diperlukan cukup tinggi. Di samping itu, mesin-mesin

    dan perkakas yang diperlukan harganya mahal sehingga jumlah produksi yang besar

    merupakan alasan pokok untuk membenarkan pemilihan proses ini.

    Kegunaan material logam dalam masyarakat modern ditentukan oleh mudah tidaknya

    material tersebut dibentuk (forming) kedalam bentuk yang bermanfaat. Hampir semua logam

    mengalami deformasi sampai pada tingkat tertentu selama proses pembuatannya menjadi

    produk akhir.

    Ingat dalam proses pengecoran, strand dan slabs direduksi ukurannya dan diubah ke dalam

    bentuk-bentuk dasar seperti plates, sheet, dan rod. Bentuk-bentuk dasar ini kemudian

    mengalami proses deformasi lebih lanjut sehingga diperoleh kawat (wire) dan myriad (

    berjenis jenis) produk akhir yang dihasilkan melalui tempa (forging), ekstrusi, sheet metal

    forming dan sebagainya.

    Deformasi yang diberikan dapat berupa aliran curah (bulk flow) dalam 3 dimensi, geser

    sederhana (simple shearing), tekuk sederhana atau gabungan (simple or compound bending)

    atau kombinasi dari beberapa jenis proses tersebut.

    D. MACAM-MACAM PROSES PEMESINAN

    MEMBUBUT MENGEFRAIS

    MENGEBOR MENYEKRAP

  • MENGGERINDA BROACHING

    HOBING SEKRAP RODA GIGI

    1. Pengelompokan Mesin-Mesin Perkakas

    1. Mesin-mesin perkakas dengan perkakas potong yang secara geometris

    terukur/teratur

    Mesin bubut

    Mesin frais

    Mesin bor

    2. Mesin-mesin perkakas dengan perkakas potong yang secara geometris tak terukur /

    tak teratur

    Mesin gerinda

    Mesin honing

    Mesin lapping

    3. Macam-Macam Gerakan Pada Mesin Perkakas

  • 1. Gerak Utama atau Gerak pemotongan

    Merupakan gerak putar (mesin bubut, mesin frais, mesin bor)

    Ataupun gerak lurus / translasi (mesin sekrap, mesin gergaji

    Dilakukan oleh perkakas potong (mesin frais, mesin bor, mesin gerinda)

    Dilakukan oleh benda kerja (mesin bubut, mesin planner)

    DIUKUR DALAM METER / MENIT (Vc)

    2. Gerak IN FEED / gerak pengumpan ( depth of cut), Menentukan lebar tatal (

    a ) (lihat gb. Sebelah kiri)

    DIUKUR DALAM MILIMETER (mm)

    3. Gerak feeding / gerak pemakanan

    Gerakan ketiga yang memungkinkan proses pemesinan / penyayatan tatal

    berlanjut.

    Menentukan tebal tatal ( f ) (lihat gb. Sebelah kiri)

    DIUKUR DALAM MILIMETER / PUTARAN ATAU MILIMETER /

    MENIT

    Sekrap/ketam

  • 4. Contoh Macam Gerakan Mesin

    Tugas: Tentukan mana gerak pemotongan / gerak utama, gerak in-feed dan gerak feeding, pada

    proses-proses pemesinan di bawah ini!

    Keterangan: H = gerak pemotongan

    Z = gerak in-feed

    V = gerak pemakanan (feeding)

    MEMBUBUT MENGEFRAIS

    MENYEKRAP

    MENGGERGAJI MENGEBOR MENGGERINDA

  • E. MESIN KONVERSI ENERGI

    Hukum kekekalan energi atau juga dikenal sebagai Hukum Termodinamika pertama

    menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, energi hanya

    dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Namun perubahan bentuk energi tidak bisa

    dengan serta merta, melainkan memerlukan sebuah alat/mesin yang dapat

    merubah/mengkonversikan energi tersebut. Mesin konversi energi yang kita kenal dalam

    aktifitas keseharian seperti motor bakar, turbin, pompa, motor listrik, dan generator.

    1. Motor Bakar Motor bakar sering juga disebut motor pembakaran dalam (internal combustion engine),

    karena proses pembakaran terjadi di dalam ruang bakar yang ada pada ruang silinder.

    Proses pembakaran yang terjadi adalah proses merubah energi panas yang tersimpan

    dalam bahan bakar menjadi energi gerak.

    Pada motor bakar untuk merubah energi panas dari bahan bakar menjadi energi gerak

    terdapat beberapa sistim, menurut mekanis-menya dibedakan menjadi motor torak translasi

    dan torak rotari (wankel), menurut jenis bahan bakarnya dibedakan menjadi motor bensin dan

    motor disel.

    3.1.1 Motor Bakar Torak Translasi

    Energi gerak didapatkan dari energi panas hasil pembakaran bahan bakar melalui piston

    yang bergerak translasi yang selanjutnya dirubah menjadi gerak putar melalui mekanisme

    engkol.

    Gambar 3.1 Prinsip motor Torak

    Keterangan :

  • TDC = TMA = Titik Mati Atas ( Batas teratas langkah torak)

    BDC = TMB = Titik Mati Bawah ( Batas terbawah langkah torak )

    Stroke = L = Panjang langkah torak dari TMB ke TMA

    r = Radius / Jari-jari engkol

    Menurut proses kerjanya dibedakan menjadi 2 yaitu motor 2 tak dan motor 4 tak.

    3.1.1.1 Motor 2 Tak Disebut motor 2 tak atau motor 2 langkah karena setiap proses pembakaran dibutuhkan 2

    langkah torak dari titik mati bawah ke titik mati atas dan dari titik mati atas ke titik mati

    bawah

    Gambar 3.2 Prinsip motor 2T

    Tabel 3.1 Kerja Moor 2 Tak

    Langkah torak Kejadian di atas torak Kejadian di bawah torak

    Torak bergerak dari TMB ke

    TMA

    ( I )

    Akhir pembilasan diikuti pemampatan bahan bakar +

    udara

    Setelah dekat TMA pembakaran dimulai.

    Campuran bahan bakar dan udara baru masuk keruang

    engkol melalui saluran

    masuk

    Torak bergerak dari TMA ke

    TMB

    ( II )

    Akibat pembakaran, tekanan mendorong torak ke TMB.

    Saluran buang terbuka, gas bekas terbuang dan didorong

    gas baru (pembilasan)

    Campuran bahan bakar dan udara di ruang engkol

    tertekan dan akan naik

    keruang atas torak lewat

    saluran bilas

    3.1.1.2 Motor 4 Tak Disebut motor 4 tak atau motor 4 langkah karena setiap proses pembakaran dibutuhkan 4

    langkah torak dari titik mati bawah ke titik mati atas dan dari titik mati atas ke titik mati

    bawah kembali lagi dari titik mati bawah ke titik mati atas dan dari titik mati atas ke titik mati

  • bawah. Artinya setiap putaran poros engkol dihasilkan satu kali langkah yang menghasilkan

    tenaga. Konstruksi umum motor ini dapat dilihat pada gambar berikut.

    Gambar 3.3 Prinsip motor 4T

    Keterangan

    1. Pena torak 2. Roda gigi poros kam 3. Roda gigi poros engkol 4. Panci oli 5. Busi 6. Katup isap

    7. Poros kam 8. Tuas Katup 9. Batang penggerak 10. Poros engkol 11. Batang penekan katup 12. Karburator

    Gambar 3.4 Langkah hisap

    I. Langakah isap

    Torak bergerak dari TMA ke TMB, gas baru masuk silinder

    Temperatur 20C

    Vakum 0,1 0,6 bar

  • Katup Isap terbuka

    Katup Buang tertutup

    Gambar 3.5 Langkah kompresi

    II. Langkah kompresi

    Torak bergerak dari TMB ke TMA, gas baru dikompresikan dalam ruang

    kompresi

    Tekanan akhir kompresi =

    Otto = 1 1,5 Mpa ( 10 15 bar )

    Diesel = 1,5 4 Mpa ( 15 + 40 bar )

    Temperatur akhir kompresi

    Otto = 300 6000C

    Diesel = 700 9000C

    Katup hisap tertutup

    Katup buang tertutup

    Gambar 3.6 Langkah usaha

    III. Langkah usaha / kerja

  • Torak bergerak dari TMA ke TMB, terdorong tekanan gas hasil pembakaran.

    Temperatur max pembakaran :

    Otto = 2000 25000C

    Diesel = 2000 25000C

    Tekanan max pembakaran :

    Otto = 3 6 Mpa ( 30 6 bar )

    Diesel = 4 12 Mpa (40 120 bar )

    Katup isap tertutup

    Katup buang tertutup

    Gambar 3.7 Langkah buang

    IV. Langkah buang

    Torak bergerak dari TMBke TMA, gas buang keluar dari silinder

    Temperatur gas buang ( beban penuh ) :

    Otto = 600 10000C

    Diesel = 500 6000C

    Katup isap tertutup

    Katup buang terbuka

    3.1.2 Motor Torak Rotari (wankel) Pada prinsip motor torak rotari, energi panas dari energi kimia bahan bakar langsung

    dirubah menjadi gerak putar, karena pada motor ini torak merupakan sudu yang berputar

  • Gambar 3.8 Motor wankel

    Gambar 3.9 Prinsip kerja motor wankel

    Sifat-sifat yang menonjol

    Gerakan torak berotasi ( berputar )

    Pengisian, kompresi dan pembuangan diatur oleh torak

    Lebih ringan

    Getaran kecil

    Jarang digunakan dan tidak diproduksi secara massal

    2. Turbin Gas

    Prinsip turbin gas engine pada dasarnya memanfaatkan energi kinetis atau aliran dari

    panas hasil pembakaran bahan bakar. Bagian utama dari turbin gas engine adalah:

    Kompresor

    Ruang bakar

    Turbin

    3. Kompresor

    Kompresor berfungsi untuk menghisap udara sekaligus memampatkan udara ke dalam

    ruang bakar.

    3.1.3 Ruang Bakar Udara yang dimampatkan oleh kompresor selanjutnya dibakar bersama bahan bakar pada

    ruang bakar ini. Di ruang bakar ini terdapat injektor yang berfungsi menyemprotkan bahan

    bakar dan terdapat busi yang berfungsi menyalakan campuran udara dan bahan bakar.

    3.1.4 Turbin Turbin terdiri dari sudu-sudu turbin yang berfungsi merubah enerji kinetis yang berupa

    arus udara menjadi energi gerak putar. Selanjutnya energi gerak ini yang dipakai sebagai

    penggerak mula.

  • Gambar 3.13 Turbin gas dengan 1 turbin

    Gambar 3.14 Turbin gas dengan 2 turbin

    Gambar 3.15 Model gas turbin

    Gambar 3.16 Mesin gas turbin

    4. Motor Listrik

  • Prinsip kerja motor listrik adalah merubah energi listrik menjadi energi gerak, dengan

    memanfaatkan prinsip prinsip kemagnetan.

    Jika pada sebuah penghantar dialiri arus listrik maka disekeliling penghantar itu akan

    muncul medan magnet, jika medan magnet itu berada pada daerah medan magnet yang lain

    maka akan saling mempengaruhi sesuai dengan sifat kemagnetan itu sendiri.

    Gambar 3.17 Prinsip motor listrik

    Pada magnet yang sama kutubnya akan saling tolak menolak sedangkan yang tidak

    senama akan saling tarik menarik, prinsip inilah yang dimanfaatkan pada matar listrik,

    sedangkan untuk dapat berputar maka kutub magnetnya harus mengalami perubahan, maka

    digunakanlah mekanisme komutator dengan sikat arangnya atau dengan pengatur secara

    elektronik

    Gambar 3.18 Prinsip kerja motor listrik

    Gambar 3.19 Contoh motor listrik

    5. Generator Listrik Di dalam penghantar yang mengalami perubahan kuat medan magnet, maka pada saat

    perubahan tsb, terjadi tegangan listrik. Tegangan ini disebut induksi magnet

  • Gambar 3.20 Prinsip generator

    Pada penghantar akan terjadi tegangan induksi, jika penghantar memotong garis garis

    gaya magnet atau garis garis gaya magnet memotong panghantar

    Tegangan induksi akan semakin besar jika :

    Penghantar semakin cepat memotong garis garis gaya magnet

    Garis garis gaya magnet semakin padat (medan magnet kuat)

    Panjang penghantar yang aktif di dalam penghantar semakin besar

    Gambar 3.21 Prinsip kerja generator

    Jika kumparan di dalam medan magnet berputar secara terus menerus, maka pada

    kumparan akan dibangkitkan gaya gerak listrik

    Melalui cincin geser dan sikat arang arus mengalir secara terus menerus dari kumparan

    yang berputar ke pemakai (lampu)

  • F. MEMBACA GAMBAR TEKNIK

    1. Pengertian

    Membaca gambar teknik adalah suatu kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam

    dunia teknologi secara umum dan khususnya pada kegiatan industri manufaktur di dalam

    hal ini ada dua komponen pokok yang saling tergantung pada Membaca Gambar Teknik

    yaitu seorang perencana (designer) dan pelaksana (teknisi).

    Dengan kemajuan teknik, maka menggambar secara teknik sedikit demi sedikit

    meningkat sampai tingkata sekarang ini. Perluasan Industri memaksa membuat dan

    pengertian dari gambar teknik yang lebih luas lagi. Tujuan dari gambar kerja adalah untuk

    memudahkan pengerjaan barang-barang pabrik (industri manufaktur) dan untuk

    menghilangkan baqhan-bahan yang tidak perlu. Dengan materi-materi ini maka diharapkan

    mengerti akan bentuk, ukuran dan lain sebagainya. Diharapkan pengguna buku informasi

    ini akan dapat pengertian/persepsi yang sama anta penyedia dan pengguna gambar teknik

    ini.

    Komponen yang tersebut di atas akan berinteraksi satu sama lainnya melalui media

    gambar teknik, gambar teknik adalah suatu media yang akan menjembatani dua komponen

    tersebut. Biasanya antara perencana dengan pelaksana tidak akan berhubungan langsung,

    dimana satu sama lainnya mempunyai tugas masing-masing, namun demikian keduanya

    haruslah memahami apa yang menjadi ketentuan atau aturan yang ada di gambar teknik.

    Oleh karena itu maka kedua komponen tersebut di atas harus mengerti dan memahami apa

    yang menjadi aturan atau ketentuan sehingga komunikasi tidak lagi dibutuhkan suatu

    komunikasi lisan yang di definisikan Gambar teknik adalah suatu alat komunikasi

    antara perencana dengan pelaksana.

    Alat komunikasi antara perencana dengan pelaksana yang berupa gambar kerja

    harus pula dapat dimengerti oleh kedua belah pihak, karena itu tiap-tiap pelaksana ataupun

    dapat dikatakan orang-orang teknik harus dapat setidak-tidaknya Membaca Gambar.

    Agar seseorang dapat membaca sesuatu gambar kerja, maka harus mempelajari segala

    ketentuan, aturan serta normalisasi yang sudah diatur dalam suatu standarisasi (ISO). Yang

    berlaku secara universal karena gambar teknik tidak terpengaruh atas bahasa apapun,

    seperti gambar kerja yang dibuat oleh suatu negara lain seperti gambar kerja yang

    diproduksi oleh Jepang/Korea yang mempunyai huruf berbeda dengan kita, akan tetap

  • dapat kita buat .

    1. Untuk menggambar yang baik dibutuhkan peralatan gambar yang baik

    adalah :

    3.1.1. Meja/papan gambar

    3.1.2. Jangka

    3.1.3. Pensil gambar

    3.1.4. Penghapus

    3.1.5. Pena gambar

    3.1.6. Segi tiga siku-siku.

    2. Ukuran kerta gambar :

    Standar Lebar Panjang Tepi

    kiri

    Tepi

    lain

    A0 841 1189 20 10

    A1 594 841 20 10

    A2 420 594 20 10

    A3 297 420 20 10

    A4 210 297 20 5

    A5 148 210 20 5

    A6 105 148 20 5

  • 3. Kolom Etiket

    4. Skala

    Skala adalah suatu aturan untuk mempermudah dalam proses pembuatan

    gambar, skala yang menurut aturan adalah :

    3.4.1. Skala dengan ukuran sebenarnya

    3.4.2. Skala dengan ukuran yang diperbesar

    3.4.3. Skala dengan ukuran yang diperkecil

  • 5. Macam macam garis

    Penggunaan selanjutnya secara khusus adalah sebabagi berikut:

    Garis kontinu tebal : Lapisan las, simbol las, lingkaran

    Garis kontinu tipis : Garis penunjuk, lipatan pinggir, bagian menyilang.

    Garis titik garis tebal : Simbol batas pengerasan

    Garis titik garis tipis :Jari-jari roda gigi, lubang lingkaran, toleransi mesin,

    perpanjangan lengan

  • 6. Standar huruf dan angka

    3.6.1. Tingg huruf dan angka menurut standar

    2.5 3.5 5 7 10 14 20

    7. Benda kerja plat dalam satu pandangan

  • 3.7.1.1.Satuan mm dalam angka ukuran tidak perlu

    dicantumkan, sedangkan satuan ukuran lainnya

    harus/perlu dicantumkan

    3.7.1.2.Anak panah berbentu segi tiga sama kaki yang

    dihitamkan panjang

    3.7.1.3.Garis-garis ukur harus mempunyai jarak kira-kira 10

    mm dari garis benda tepi gambar dan 7 mm dari

    garis ukur garis ukr yang paralel. Ukuran

    ditempatkan 1mm diatas garis ukur dan harus di

    tengah tengah dan teratur. Garis ukuran hanya

    boleh terputus jika ruang kecil untuk dapat

    memasukkan ukuran. Garis perpanjangan dilebihkan

    1 2 mm melebihi garis ukur.

    3.7.1.4.Angka dan garis ukuran harus terbaca, baik

    horizontal maupun vertikal. Untuk ukuran ukuran

    kecil, seperti dibawah 10 mm, tanda panah

    ditempatkan diluar arah ukur. Jika jarak untuk

    penempatan angka ukuran antara garis perpanjangan

    atau tepi gambar tidak cukup, ukuran ditempatkan

    diatas tanda panah ukuran.

    3.7.1.5.Pengukuran dimulai dari basis, ukuran yang terkecill

    ditempatkan paling dekat terhadap benda kerja.

    3.7.1.6. Benda kerja simetris diukur simetris terhadap garis sumbu yang dilebihkan 2 3 mm dari tepi gambar.

    Benda kerja plat bisa dilukiskan dalam satu sudut

    pandang. Ketebalan benda kerja dapat dicantumkan

    di dalam gambar atau di luarnya.

    ( Contoh t = 2 mm )

    3.7.1.7. Garis garis ukur tidak boleh dilukiskan berhimpitan dengan garis benda ataupun dengan

    perpanjangan garis benda ( a ). Angka ukuran tidak

    boleh terpotong oleh garis sumbu, jika dibutuhkan

    garis sumbu harus diputus.

  • 8. Benda bulat dalam satu pandangan

    3.8.1.1. Pusat lingkaran terletak pada perpotongan garis sumbu, garis sumbu selalu berpotongan pada bagian

    garisnya. Garis sumbu selalu dimulai dan diakhiri

    dengan garis. Garis sumbu yang pendek

    disederhanakan dengan garis tipis kontinu. Ukuran

    diameter dibatasi oleh dua anak panah pada

    lingkarannya atau digambar pada garis perpanjangan

    dari lingkaran. Pada keadaan seperti ini simbol

    diameter tidak dicantumkan.

    3.8.1.2. Untuk lingkaran lingakaran yang sangat kecil, ukuran diameter ditempatkan dengan satu anak

    panah penunjuk yang diarahkan ke pusat lingkaran.

    Simbol diameter ( 7/10 h ) dilukiskan didepan

    ukuran. Penggunaan yang sama jika hanya satu anak

    panah ukuran yang dapat digambarkan. Jika ruang

    gambar kecil, ukuran diameter dapat ditempatkan

    bersama dengan panah ukuran, diluar garis benda.

    3.8.1.3. Jika ada beberapa diameter lubang dengan ukuran yang sama, dapat dicantumkan hanya satu ukuran

    saja. Garisgaris sumbu dapat dipergunakan sebagai

    garis perpanjangan, digambarkan diluar garis benda

    dengan garis kontinu tipis. Ukuran jarak antar

    lubang selalu diambil dari titik pusat lingkaran.

    3.8.1.4. Jari jari lingkaran disimbolkan dengan R dan hanya mempunyai satu tanda panah penunjuk

    diarahkan kebusur lingkaran dan melalui titik pusat

    lingkaran. Pada kondisi tertentu titik pusat lingkaran

    dapat dihilangkan.

    3.8.1.5. Jika ukuran radiusnya besar, sedangkan ruang gambarnya sempit, maka penunjukan R seperti pada

    gambar samping, yaitu titik pusatnya diperpendek.

    3.8.1.6. Pada pengukuran lubang yang mempunyai suaian, pemberian ukurannya adalah jarak antara titk pusat

    lubang dan lebar lubang.

  • 9. Gambar tiga dimensi Gambar perspektif

    .

    3.9.1.1. Perspektif paralel Sudut : 45

    0

    Lebar : skala 1 : 1

    Tinggi : skala 1 : 1

    Panjang : skala 1 : 2

    3.9.1.2. Perspektif dimetrik Sudut : = 42

    0 dan =

    70

    Lebar : skala 1 : 1

    Tinggi : skala 1 : 1

    Panjang : skala 1 : 2

    3.9.1.3. Perspektif isometrik Sudut : = 30

    0 dan = 30

    0

    Lebar : skala 1 : 1

    Tinggi : skala 1 : 1

    Panjang : skala 1 : 1

    dimetrik (di = dua) isometrik (iso = sama)

    Skala dua skla berbeda Semua skala sama

    Kegunaan dominan tampak depan Keseluruhan

    Pembuatan gambar perspektif hendaknya diawali dengan membuat gambar dasar dengan

    bentuk kubus sesuai dengan bentuk perspektif, kemudian batu dikembangkan menjadi

    bentuk benda kerja.

  • 10. Penyajian benda-benda tiga dimensi secara titik tarik

    Jika antara benda dengan titik penglihatan tetap diletakkan pada sebuah bidang

    vertikal atau bidang gambar, maka pada bidang gambar ini akan terbentuk bayangan dari

    benda. Bayang tersebut dinamakan gambar perspektif. Gambar perspektif adalah gambar

    serupa dengan gambar benda yang dilihat dengan mata biasa (seolah-olah seperti benda

    yang sebenarnya). Ini banyak digunakan dalam bidang arsitektur, dan merupakan

    pandangan tunggal yang terbaik. Hanya dalam penggambarannya sangat sulit dan rumit

    dari pada cara penggambaran yang lain. Untuk gambar teknik dengan baian-bagian yang

    rumit dan kecil cara ini tidaklah menguntungkan, oleh karena itu cara ini jarang dipakai

    pada teknik mesin.

    Dalam gambar perspektif garis-garis sejajar pada benda bertemu pada satu titik

    dalam ruang, yang dinamakan titik hilang. Ada tiga macam gambar perspektif yaitu

    perspektif satu titik (perspektif sejajar); perspektif dua titik (perspektif sudut) dan

    perspektif tiga titik (perspektif miring) sesuai dengan jumlah titik hilang yang dipakai.

    Seperti yang terlihat pada gambar di atas.

    11. Proyeksi ortogonal (gambar pandangan majemuk)

    Gambar proyeksi ortogonal dipergunakan untuk memberikan informasi yang

    selengkap mungkin dan tepat dari suatu benda tiga dimensi. Untuk mendapatkan hasil

    demikian bendanya diletakkan dengan bidang-bidangnya sejajar dengan bidang proyeksi,

    terutama sekali bidang yang penting diletakkan sejajar dengan bidang proyeksi vertikal.

    Proyeksi ortogonal pada umumnya tidak memberikan gambaran lengkap dari

  • benda hanya dengan satu projeksi saja. Oleh karena itu diambil beberapa bidang proyeksi,

    biasanya diambil tiga bidang tegak lurus, juga dapat ditambah dengan bidang lain sebagai

    gambar bantu pelengkap jika diperlukan keberadaannya. Benda diproyeksikan secara

    ortogonal pada tiap-tiap bidang proyeksi untuk memperlihatkan benda tersebut pada

    bidang-bidang dua dimensi. Dengan menggabungkan gambar-gambar proyeksi tersebut

    maka diperoleh gambaran jelas dari benda yang dimaksud. Cara penggambaran demikian

    disebut proyeksi ortogonal.

    Cara menggambarkan dapat dilihat seperti gambar di bawah ini. Antara benda dan

    titik penglihatan tak terhinggan diletakkan sebuah bidang tembus pandang sejajar dengan

    bidang yang akan digambar. Pada gambar di bawah ini bidang tembus pandang diambil

    vertikal. Apa yang dilihat pada bidang tembus pandang ini merupakan gambar proyeksi

    dari benda tersebut. Jika benda tersebut dilihat dari depan, maka gambar pada bidang

    tembus pandang ini disebut pandangan depan. Dengan cara demikian benda tadi dapat

    diproyeksikan pada bidang proyeksi horizontal, pada bidang proyeksi vertikal sebelah kiri

    atau kanan, dan masing-masing gambar disebut pandangan atas dan pandangan kiri atau

    kanan.

    Tiga, empat atau lebih gambar demikian digabungkan dalam satu kertas gambar,

    dan terdapatlah suatu susunan gambar yang memberikan gambaran jelas dari benda yang

    dimaksud.

  • Susunan pandangan-pandangan dapat dilihat gambar di bawah ini dimana gambar-

    gambar tersebut akan dibahar pada pokok bahan berikutnya.

    12. Gambar Proyeksi

    Pada gambar teknik mesin, teristimewa pada gambar kerja dipergunakan cara

    proyeksi ortoganal yang sudah dibahas sepintas pada pokok bahasan terdahulu.

    Bidang-bidang proyeksi yang paling banyak digunakan adalah bidang horizonta

    dan bidang vertikal, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Bidang-bidang utama

    membagi seluruh ruang dalam empat kwadran. Bagian ruang di atas bidang horizontal

    dan di depan bidang vertikal disebut kwadran pertama. Bagian ruang di atas bidang

    horizontal dan di belakang bidang vertikal disebut kwadran kedua. Kwadran ketiga adalah

    bagian ruang yang terletak di bawah bidang horizontal dan di depan bidang vertikal, serta

    kwadran ke empat adalah bagian ruang yang terletak di bawah bidang horizontal dan di

    belakang bidang vertikal.

    Jika benda yang digambar diletakkan di kwadran pertama, dan diproyeksikan pada

    bidang-bidang proyeksi, maka cara proyeksi ini disebut proyeksi bidang kwadran

    pertama atau cara proyeksi sudut pertama. Jika bendanya diletakkan pada kwadran ke

    tiga, macara proyeksi ini disebut proyeksi kwadran ketiga atau proyeksi sudut ke tiga.

    Sedangkan untuk kwadran yang lainnya tidak digunakan dalam membuat gambar proyeksi

    Gambar-gambar pandangan pada umumnya digambar menurut cara sudutpertama

    dan ketiga.

  • 13. Cara proyeksi sudut pertama

    Benda yang tampak di bawah ini gambar (a) diletakkan di depan bidang-bidang

    proyeksi seperti pada gambar (b). Ia diproyeksikan pada bidang belakang menurut garis

    penglihatan A, dan gambarnya adalah gambar pandangan depan. Tiap garis atau tepi benda

    tergambar sebagai titik atau garis pada proyeksi. Pada gambar (b) tampak juga proyeksi

    benda bidang bawah menurut arah B, dan menurut arah C, padang bidang proyeksi sebelah

    kanan, menurut arah D pada bidang proyeksi sebelah kiri, menurut arah E pada bidang

    proyeksi atas dan meurut arah F pada bidang depan.

    Jika Proyeksi-proyeksi, seperti pada gambar (b), telah dibuat semuanya, hasilnya

    kurang berguna, karena bidang-bidang proyeksinya disusun di dalam tiga dimensi. Oler

    karena itu mereka harus diletakkan dalam satu lembar kertas gambar dalam dua dimensi.

  • Proyeksi sudut pertama atau Proyeksi eropah

    Bidang-bidang proyeksi dimisalkan merupakan suatu kubus tertutup gambar (b) di

    atas kemudian dibuka seperti gambar (c) di atas sehingga semua sisi terletak pada bidang

    vertikal.

    Susunan gambar proyeksi harus demikian hingga dengan pandangan depan A

    sebagai patokan, pandangan atas B terletak di bawah, pandangan kri C terletak di sebelah

    kanan, pandangan kanan D terletak disebelah kiri, pandangan bawah E terletak di atas, dan

    pandangan belakang F terletak di sebelah kti atau kanan. Hasil lengkapnya dapat dilihat

    pada gambar (d) di atas.

    Dalam gambar, garis-garis tepi, yaitu garis-garis batas antara bidang-bidang

    proyeksi dan garis-garis proyeksi tidak digambar.

    Gambar proyeksi demikian disebut gambar proyeksi sudut pertama. Cara ini

    disebut juga Cara E karena cara ini telah banyak digunakan di negara-negara Eropa

    seperti Jerman, Swis, Prancis dan lain-lainnya.

    14. Cara proyeksi sudut ketiga.

  • Benda yang akan digambar diletakkan dalam peti kubus dengan sisi tembus pandang

    sebagai bidang-bidang proyeksi seperti gambar di bawah ini (a). Pada tiap-tiap bidang

    proyeksi akan tampak gambar pandangan dari benda menurut arah penglihatan, yang

    ditentukan oleh anak panah.

    Proyeksi sudut ketiga atau proyeksi amerika

    Pandangan depan dalam arah A dipilih sebagai pandangan depan. Pandangan-

    pandangan yang lain diproyeksikan pada bidang-bidang lainnya menurut gambar (a) di

    atas. Sisi-sisi kubus dibuka menjadi satu bidang proyeksi depan menurut arah anak panah

    yang terdapat pada gambar (b) di atas. Hasil lengkapnya dapat dilihat pada gambar (c) di

    atas. Dengan pandang depan A sebagai patokan, pandangan atas B diletakkan di atas,

    pandangan kri C di sebelah kiri, pandangan kanan D diletakkan di sebelah kanan,

    pandangan bawah E diletakkan di bawah, dan pandangan belakang F diletakan di sebelah

    kiri atau kanan.

    Susunan proyeksi ini disebut proyeksi sudut ketiga, dan disebut juga dengan cara

    A karena banyak dipakai di Amerika dan negara lainnya seperti Jepang, Canada, Australia

    dan negaran-negara lainnya.

    15. Pengenalan cara-cara proyeksi dan lambangnya.

    Jika hasil-hasli gambar proyeksi sudut pertama dan proyeksi sudut ketiga

  • dibandingkan, maka akan terlihat bahwa gambar yang satu merupakan kebalikannya yang

    lain, dilihat dari segi susunannya. Oleh karena itu perbedaannya sangat penting untuk

    diperhatikan. Harus dicatat bahwa dua cara proyeksi ini jangan dipakai bersamaan dalam

    satu gambar.

    Dalam standar DIN ISO 5456-2(1998-04) telah ditetapkan bahwa kedua cara

    proyeksi boleh dipergunakan. Untuk keseragaman, semua gambar dalam ISO digambar

    menurut proyeksi sudut pertama.

    Jika pada gambar telah ditentukan cara proyeksi yang dipakai, maka cara yang

    dipakai harus dujelaskan pada gambar dengan menggunakan simbol/lambag seperti di

    bawah ini.

    16. Benda kerja dengan garis bayang-bayang

    3.16.1. Garis bayang-bayang digambarkan sebagai garis

    putus-putus dengan ketebalan 7/10 dari garis

    benda. Panjang masing-masing garis tergantung

    pada ukuran gambar. Agar memberikan

    gambaran garis celahnya dibuat sedikit kecil (1-

    1/5 mm).

    3.16.2. Garis putus=putus dimulai dan diakhiri dengan

    garis pada tepi gambar.

    3.16.3. Pada perubahan dari garis benda ke garis bayang-

  • bayang harus diawali dan diakhiri dengan celah.

    3.16.4. Garis putus-putus selalu dipertemukan dengan

    garis (membuat sudut yang utuh).

    3.16.5. Garus bayang-bayang yang bersilangan harus

    berpotongan pada garis.

    3.16.6. Garis bayang-bayang yang sejajar berjarak dekat

    celahnya dibuat/dilukis dengan saling menutupi.

    3.16.7. Jika garis bayang-bayang dan garis sumbu

    berhimpitan, maka yang digambar adalah garis

    bayang-bayang.

    Garis ukuran tidak dapat dicantumkan pada garis bayang-

    bayang

    17. Benda kerja dengan dengan pandangan depan

    3.17.1. Ukurlah panjang sisi a !

    Hasil : Panjang sisi a pada tampak depan adalah 50mm,

    pada tampak samping 30mm, pada tampak atas 40

    mm. Jadi, sisi ini kelihatan lebih pendek pada

    tampak samping dan tamoak atas

    3.17.2. Sisis yang terlihat akan lebih pendik jika jarak

    antara titik akhir dengan mata lebih jauh.

    3.17.2.1. Kemiringan ditentukan oleh dua ukuran papa sisi

    kiri dan kanan akan menghasilkan sudut.

    3.17.2.2. Kemiringan dapat juga ditentukan oleh sudut.

  • 3.17.2.3. Biasanya panjang sisi miring tidak diukur, kecuali

    jika diperlukan untuk membuat mantel.

    3.17.2.4. Garis ukuran sudut digambarkan dengan busur

    lingkaran, besarnya sudut dicantumkan di

    atasnya.

    3.17.2.5. Ukuran sudut pada daerah arsir dituliskan dengan

    pembacaan dari sebelah kiri.

    3.17.2.6. Penyederhanaan ukuran dapat dituliskan dengan

    menggunakan simbol:

    = Lingkaran

    = Bujur sangkar

    18. Benda kerja silindris

    3.18.1. Penggambaran suatu silindris atau benda kerja

    simetris lainnya, didasarkan garis garis sumbu.

    3.18.2. Benda kerja yang sederhana hanya digambat

    tampak depannya saja (satu pandangan), simbol

    diameter ditempatkan di depan angka ukuran.

    3.18.3. Jika gambar kerja dibuat dua pandangan, ukuran

    diameter ditempatkan pada pandangan lingkaran.

    3.18.4. Besarnya jarak antara dua sumbu benda silindris,

    diletakkan pada jarak kedua garis sumbu.

    3.18.5. Usahakan agar garis-garis ukuran tidak termasuk

  • di dalam daerah arsiran, Jika tidak dapat dihindari

    maka ukuran gambar harus dapat dibaca dari

    sebelah kiri.

    3.18.6. Silinder sederhana yang panjangan

    penggambarannya dapat diperpendek dengan

    menggunakan garis pemutus digambar dengan

    garis bebas dengan garis tipis dan bidangnya

    diarsir.

    3.18.7. Daerah terjadinya pemotongan diarsir

    3.18.8. Yang paling sederhana adalah pemotongan

    dengan garis bebas.

    19. Gambar proyeksi benda silindris yang terpotong

    3.19.1. Gambar proyeksi pandangan depan dan atas dari

    benda silindris yang terpotong arah aksial bagian

    atasnya.

    3.19.2. Gambar proyeksi pandangan sampingnya

  • 3.19.3. Garis potong yang tidak terlihat pada gambar

    proyeksinya, harus dilukiskan/digambar dengan

    garis bayang-bayang.

    20. Benda kerja bentuk piramid

    3.20.1. Dua buah pandangan umumnya cukup untuk

    menggambarkan suatu benda piramid.

    Satu pandangan cukup untuk menggambarkan

    piramit dengan dasar alas bujur sangkar.

    3.20.2. Kemiringan/pendakian suatu daerah dapat

    dinyatakan sebagai perbandungan kemiringan

    atau bisa dalam prosentase. Sudut kemiringan

    dapat juga dicantumkan dengan simbol

    Pendakian = B - b = 20 10 = 1 : 4

    L 40

    Tan = 20 10 = 1

    40 4

  • 3.20.3. Tingkat ketirusan dari model piramid adalah

    perbandingan dari perbedaan lebar terhadap

    panjang piramid.

    Derajat ketirusan = B - b = 40 20 = 1 : 2

    L 40

    Ketirusan diperlihatkan dengan simbol

    3.20.4. Daerah bidang datar pada pandangan

    diperlihatkan dengan garis diagonal tipis, jika

    tidak dimunculkan pada pandangan berikutnya.

    3.20.5. Menggambar panjang garis sebenarnya dari

    proyeksi suatu garis.

    21. Potongan seluruhnya

    3.21.1. Gambar perpektif dari suatu benda kerja yang

    dipotong seluruhnya.

    Daerah penampang yang dipotong diarsir, yang

    berlubang tidak diarsir.

    3.21.2. Garis arsir adalah garis tipis yang tidak terputus

    dengan sudut 45o terhadap garis sumbu atau garis

    tepi benda.

    Terhadap : garis vertikal dan horizontal

    garis sumbu dan garis tepi benda

  • 3.21.3. Daerah penampang yang lebih kecil, diarsir

    dengan jarak yang lebih rapat.

    3.21.4. Daerah penampang yang sangat sempit

    dihitamkan. Daerah yang dihitamkan dari

    beberapa penampang yang berbeda dipisahkan

    (diberi jarak) gap antara dua benda kerja

    (gambar kerja)

  • benda masif/pejal

    3.22.5. Benda benda no. 4 bisa dipotong dengan cara

    dipotong sebagian (potongan lokal) pada bagian

    yang perlu dilakukan pemotongan, digambar

    dengan garis bebas tipis

    3.22.6. Camfer adalah gabungan ukuran linier dan

    ukuran sudut 450 , camfer yang lain dituliskan

    dua ukuran, yaitu ukuran linier dan ukuran

    sudutnya

    23. Gambar Ulir

    3.23.1. Diameter ulir luar digambar dengan garis tebal, diameter dalam/inti dengan garis tipis. Jarak

    antaragaris tebal dan garis tipis menunjukkan

    kedalamn ulir.

    Diameter dalam = diameter luar x 0,8

    3.23.2. Diameter dalam ulir digambar 3/4 lingkaran,1/4 bagian yang dikosongkan penempatannya

    disebelah kiri.

    3.23.3. Ujung baut umumnya digambar melengkung atau model kerucut. Jari jari lengkungan kira kira

    sama dengan diameter luar. Bentuk kerucut atau

    camfer dibuat mulai dari diameter dalam ulir

    dengan sudut 450.

    3.23.4. Diameter dalam ulir dalam, digambar dengan garis tebal satu lingkaran penuh, sedangkan

    diameter luar ulir digambar dengan 3/4 lingkaran,

    1/4 bagian yang dikosongkan penempatannya

    disebelah kiri atas.

  • 3.23.5. Gambar ulir yang tidak tampak, digambar dengan garis putus putus, kedua lingkaran digambar

    penuh .

    3.23.6. Batas akhir ulir digambarkan dengan garis tebal, pada ulir yang terpotong penuh akhir ulirnya

    digambar putus putus.

    3.23.7. Penempatan ukuran ulir: a) Ukuran ulir ditempatkan pada diameter luar

    ulir, dicantumkan didepan angka ukuran.

    Misalnya : M 10; M 10 x 1,5; W 2; W 104

    x1/6

    R 4; Tr 20 x 4;Rd 16 x 1/6

    S 12 x 2,2 kiri (ulir ganda)

    b) Panjangnya ulir

    c) Panjang poros ulir luar; panjang

    24. Gambar mur dan baut

    3.24.1. Gambar ketiga pandangan proyeksi (tampak depan, atas, dan samping) dari kepala baut

    heksagonal.

    e = ukuran maksimum dari sudut ke sudut

    s = lebar mulut kunci

    e = s. 1,155

    s = e. 0,866

    3.24.2. Pada mur, sebagai pasangan dari baut kepala, dibuat dua camfer. Setelah pencamferan,

    ketajaman sudut hanya terlihat pada tampak

    samping.

    Pada tampak samping dan tampak depan, ulir

    tidak perlu digambar.

    3.24.3. Pada penggambaran, sederhana kurva camfer dan

  • ujung ulir dihilangkan.

    k = 0,7 . d (tinggi kepala baut)

    m= 0,8 . d (tinggi mur)

    d = diameter nominal baut

    3.24.4. Baut, mur, dan cincin tidak perlu digambar sebagai potongan.

    3.24.5. jika garis ulir dalam dan ulir luar terpasang, yangdigambarkan adalah ulir luar.

    25. Toleransi Linier

    3.25.1. Toleransi diperhitungkan terhadap ukuran nominal. Toleransi ditulis dengan standar ukuran

    tulisan 2,5 mm. Penyimpangan maksimum ditulis

    diatas, penyimpangan minimum ditulis dibawah.

    Angka nominal tanda plus (+) dan minus (-)

    penting. Anka toleransi dituliskan satu kali

    (digabungkan). Toleransi nol boleh dihilangkan,

    jika tidak akan salah pengertian.

    3.25.2. Dalam gambar kerja gabungan (terpasang) penulisan ukuran untuk bagian lubang (borehole)

    selalu dituliskan disebelah bawahnya,

  • umpamanya : lubang dalam (borohole), poros

    (shaft), bagian (part), dan sebagainya.

    3.25.3. Jika hanya satu toleransi yang perlu untuk tiap uuran, disebabkan batas toleransi yang lain = 0,

    maka hanya satu garis ukuran yang digambarkan.

    3.25.4. Ukuran ukuran umum yang ditulis tanpa toleransi, berarti bahwa nilai toleransi ukuran

    tersebut besarnya senilai yang tercantum dalam

    tabel.Menurut DIN 7168, terdapat 4 tingkat

    ketelitian, yaitu:

    Sangat halus, sedang, kasar dan sangat kasar

    Tingkat ketelitiannya tidak dicantumkan pada

    penggambaran

    26. Tanda pengerjaan

    3.26.1. Simbol dasar terdiri dari dua garis dengan panjang yang tidak sama (perbandingan 1:2) yang

    membentuk sudur 60o satu sama lain. Simbol

    digunakan hanya jika diberikan keterangan untuk

    memperjelas cara pengerjaan benda kerja

    tersebut.

    H1 = 5 mm; H2 = 10 mm.

    Ketebalan garis = 0.35 mm; tinggi huruf = 3.5

    mm.

    3.26.2. Spesifikasi tersendiri dari permukaan ditambahkan dengan simbol:

    a) Nilai kekasaran Ra dalam m atau tingkat kekasaran N1 N12.

    b) Metoda produksi, perlakuan permukaan, pelapisan (penunjuk pengerjaan)

    c) Penunjuk jarak/panjang dalam mm. d) Bentuk alur permukaan. e) Kelebihan ukuran untuk pengerjaan lanjut.

    3.26.3. Spesifikasi ditulis pada garis tambahan, dari sisi yang lebih panjang

  • 3.26.4. Simbol dan huruf harus dapat dibaca dari bawah atau dari kanan. Dua permukaan dapat

    digabungkan dengan tanda panah penunjuk ke

    arah bidang permukaan. Simbol dan tanda panah

    ditempatkan pada permukaan benda atau pada

    garis perpanjangannya.

    3.26.5. Sombol tanda pengerjaan dicantumkan satu kali, pada bidang permukaan benda atau pada garis

    perpanjangannya.

    3.26.6. Jika semua permukaan kekasarannya sama, simbol pengerjaannya dicantumkan diluar benda

    kerja/gambar kerja. Tanda pengerjaan yang

    sifatnya khusus seluruhnya dapat ditambahkan.

    3.26.7. Tanda pengerjaan paling luar menyatakan bahwa permukaan benda adalah Ra =6.3 atau yang tidak

    ada pencantuman tanda pengerjaan berari

    kekasarannya adalah Ra=6.3

    Tanda pengerjaan di dalam kurung, dalam

    gambar kerjanya harus dicantumkan pada

    permukaan gambar kerja/benda kerja yang sesuai

    dengan peruntukkannya.

    3.26.8. Penulisan simbol secara khusus, yang ditulis terpisah, dapat dilaksanakan apabila penulisannya

    mengganggu gambar atau tidak ada ruang untuk

    menuliskannya.

    27. Tanda pengerjaan

    Kelas

    kekasaran

    N1 N2 N3 N4 N5 N6 N7 N8 N9 N10 N11 N12

    Nilai

    kekasaran

    0.025 0.05 0.1 0.2 0.4 0.8 1.6 3.2 6.3 12.5 25 50

  • .

    Ilustrasi Penandaan Simbol Jenis

    tumpuan

    T-tumbuk

    Kampuh I

    Las tumpu

    Kampuh V

    Kampuh

    1/2V

    Kampuh V

    ganda

    Kampuh Y

    Kampuh - U

  • BAB II

    TEKNIK OTOMOTIF

    A. SISTEM BAHAN BAKAR BENSIN

    Karburator berfungsi untuk mencampur bahan bakar dan udara pada ruang pencampur yang

    kemudian campuran tersebut dialirkan ke ruang bakar untuk pembakaran. Perbandingan

    antara udara dan bensin untuk memperoleh campuran yang ideal adalah 1 kg bensin dengan

    15 kg udara ( Stochiometri). Jika jumlah udara lebih kecil 15 kg udara maka campurannya

    kaya sedangkan jika jumlah udara lebih besar 15 kg udara disebut campuran kurus Ditinjau

    dari alirannya dibedakan arus naik,arus turun dan arus mendatar.

    1. Sistem Kelengkapan Bahan Bakar

    1. Tangki, tempat menampung bensin 2. Ventilasi udara, menjaga agar tekanan dalam tangki tetap atmosfir 3. Saringan bensin, membersihkan bensin dari kotoran 4. Pompa bensin, memindahkan bensin dari tangki ke karburator 5. Sistem pelampung, mengatur Sistem-sistem pada karburator terdiri dari:

    System idle dan perpindahan( low system) mengatur perbandingan campuran saat kendaraan

    pada beban rendah.

    System utama dengan koreksi udara (high system) mengatur perbandingan campuran saat

    kendaraan pada beban tinggi. System koreksi udara mengatur jumlah aliran bensin saat

    kecepatan udara tinggi supaya perbandingan campuran tidak terlalu kaya.

    Sytem percepatan (acceleration system) menambah jumlah bensin saat katup gas dibuka tiba-

    tiba.

    Ssystem pengaya (power system) menambah bensin pada saluran utama tingkat pertama saat

    beban penuh putaran rendah dan tinggi.

    System pelampung( float system) mengatur tinggi permukaan bensin pada ruang pelampung

    sehingga konstan.

    System cuk(choke system) menambahkan bensin saat motor distarter supaya motor mudah

    dihidupkan pada temperature dingin.

  • 2. Gangguan yang sering terjadi pada karburator adalah Karburator banjir penyebabnya:

    Tinggi permukaan bensin pada ruang pelempung terlalu tinggi.

    Katup jarum pelampung aus.

    Tekanan pemompaan bensin terlalu tinggi.

    Pelampung bocor( yang terbuat dari logam).

    Motor tidak bisa hidup saat idle.

    Jet bensin idle tersumbat

    Jet utama tersumbat

    Katup solenoid tidak berfungsi

    Saluran system idle tersumbat

    Dsb.

    Motor tidak ada tenaga (power)

    Diameter jet utama terlalu kecil

    Filter udara tersumbat

    Tinggi permukaan bensin pada ruang pelampung terlalu rendah

    Dsb.

    B. SISTEM BAHAN BAKAR DIESEL

    Penemu motor diesel adalah seorang dari Jerman, bernama Rudolf Diesel . Ia mendapat hak

    paten untuk mesin Diesel pada tahun 1892, tetapi mesin Diesel tsb, baru dapat dioperasikan

    dengan baik pada tahun 1897.

    Tujuan Rudolf Diesel

    Menaikkan rendemen motor (rendemen motor bensin ~ 30%, rendemen motor Diesel ~ 40 - 51%)

    Mengganti sistem pengapian dengan sistem penyalaan diri, karena sistem pengapian motor bensin pada waktu itu kurang baik

    Mengembangkan sebuah mobil yang dapat dioperasikan dengan bahan bakar lebih murah dari pada bensin

    Keuntungan motor diesel dibandingkan motor bensin

    - Daya motor dan momen putar lebih tinggi - Pemakaian bahan bakar lebih irit - Harga bahan bakarnya lebih murah

  • 1. Perlengkapan sistem bahan bakar Diesel

    Nama Bagian:

    1. Tangki bahan bakar 2. Saringan kasa pada pompa pengalir 3. Advans saat penyemprotan 4. Saringan halus 5. Pompa injeks

    6. Governor 7. Nosel 8. Busi pemanas

    Cara pembentukan campuran

    Pada motor diesel hanya udara saja yang dihisap dan dikompresikan, bahan bakar dan udara

    dicampur didalam silinder

    Cara penyalaan

    Setelah udara dikompresikan bahan bakar disemprotkan kedalam ruang bakar sehingga

    terjadi pembakaran.

    Persyaratan terjadinya penyalaan

    1. Tekanan udara yang dikompresikan mencapai 1,5 4 Mpa sehingga temperatur naik

    700 900C

    2. Bahan bakar harus berkabut dengan halus 3. Perbandingan campuran harus sehomogen mungkin 3. Bahan bakar yang sesuai mempunyai sifat-sifat sbb:

    Mudah menyala (nilai oktan tinggi) dan bersifat melumasi

  • Cara penyemprotan dan pembentukan campuran

    1. Injeksi tak langsung bahan bakar diinjeksikan pada ruang bakar(kamar muka, kamar pusar)

    2. Injeksi langsung bahan bakar diinjeksikan langsung pada ruang bakar (biasanya ruang bakar pada puncak torak) bentuk ruang bakarnya adalah bentuk bak, bola, setengah bola

    dan bentuk hati.

    Contoh injeksi langsung bentuk bak

    Bentuk ruang bakar:

    Ruang bakar ada didalam

    silinder biasanya dipuncak

    torak

    Macam-macamnya :

    - bentuk bak - bentuk bola - bentuk setengah bola - bentuk hati

    2. Cara kerja :

    bahan bakar disemprotkan kedalam ruang bakar di dalam silinder. Nosel injeksi biasanya

    mempunyai beberapa lubang pada umumnya digunakan pada motor besar 3000cc keatas

    Keuntungan :

    Tanpa pemanas mula, efisien dan daya tinggi dan pemakaian irit

    Kerugian :

    Suara lebih keras karea terdiri dari beberapa lubang

    Pompa injeksi dan injektor mahal, karena tekanan penyemprotan lebih tinggi

    2. Injeksi tak langsung (contoh: kamar pusar

    Bagian-bagian:

    1. Injektor 2. Busi pijar 3. Ruang bakar 4. Saluran penghubung

    Bentuk ruang bakar:

    Ruang bakar berada diluar silinder

    Macam-macamnya:

    Ruang bakar kamar pusar

    Ruang bakar kamar muka

  • Cara kerja

    Udara dikompresikan ke dalam ruang bakar karena saluran penghubung menuju tangensial ke

    dalam ruang bakar, maka udara menerima pusaran/olekan

    yang mempermudah pembentukan campuran pada saat bahan bakar disemprotkan

    Oleh karena itu tekanan injektor bisa lebih rendah

    dan nosel cukup dengan satu lubang. Digunakan pada motor-motor kecil 2000cc ke bawah

    Keuntungan :

    - Suara lebih halus dari pada injeksi langsung

    - Perlengkapan injeksi lebih murah karena tekanan penyemprotan lebih rendah

    Kerugian

    - Pakai busi panas

    - Effisiensi dan dayanya kurang dari pada injeksi langsung

    Gangguan-gangguan pada motor diesel

    Sebelum menentukan gangguan pada motor diesel ada beberapa langkah awal yang harus

    dipenuhi antara lain motor starter harus berputar dengan baik dan pompa injeksi juga harus

    dalam keadaan baik. Pada motor injeksi tak langsung penyebab motor tidak bisa hidup adalah

    tidak adanya tegangan pada busi pemanas dan supply bahan bakarnya terhambat. Sedang

    pada motor system injeksi langsung harus diperiksa pada sirkulasi pada rangkaian bahan

    bakarnya dan kondisi mekanis motor seperti timing penyemprotan, tekanan kompresi dan saat

    penyemprotan. Selain itu adanya udara yang masuk pada sirkuit bahan bakar merupakan

    penyebab motor diesel tidak dapt hidup.

    Servis Engine dan komponennya

    Langkah dalam melaksanakan servis engine antara lain memeriksa celah katup, tes tekanan

    kompresi,memeriksa system pengapian, kondisi baterai,ketegangan sabuk

    penggerak,pemeriksaan kondisi oli motor dan pemeriksaan pada system kelistrikan motor.

    Klasifikasi oli motor SAE

    (SAE : Society of Automotiv Engineers)

    Indeks Keterangan

    SAE 10

    SAE 20

    Encer sekali, digunakan untuk sistem hidrolis

    SAE 30

    SAE 40

    Umumnya digunakan untuk kendaraan

    SAE 50 Digunakan jika temperatur tinggi sekali (Arab)

    SAE 90 Umumnya digunakan untuk komponen sistem penggerak

    Oli multigrade

    Viskositas oli bukan tetap : semakin tinggi temperatur semakin encer oli motor. Pada oli

    multigrade diberi zat tambahan yang mengatasi efek ini

    Klasifikasi mutu API

    (API : America Proteleum Institute)

  • Indeks mutu API merupakan petunjuk penggunaan oli motor

    Motor bensin

    Indeks Keterangan

    SA , SB Tugas ringan, untuk motor daya rendah

    SC , SD Tugas biasa, untuk kebanyakan kendaraan

    SE , SF Tugas sangat berat, untuk motor daya tinggi _

    Motor Diesel

    Indeks Keterangan

    CA Tugas ringan, untuk motor daya rendah

    CB , CC

    Tugas biasa, untuk kebanyakan kendaraan

    CD , CE Tugas berat untuk motor turbo

    Alasan pergantian oli

    Lama kelamaan mutu oli berkurang karena :

    1. Oksidasi Ditimbulkan karena reaksi oksigen dengan hidrokarbon yang terkandung dalam minyak

    pelumas lumpur/endapan.

    2. Kelemahan bahan tambahan Bahan tambahan tidak menambah daya pelumasan, tapi hanya memberi bahan tambahan

    yang tertentu saja

    3. Kotoran

    Kotoran-kotoran berupa abu atau karbon, bercampur dengan minyak pelumas

    gumpalan karbon

    C. KOPLING

    Kopling berfungsi untuk memutus dan menghubungkan putaran motor ke input tranmisi.

    Jenis kopling dua yaitu jenis kopling kering plat tunggal kebanyakan digunakan pada

    kendaraan roda empat dan jenis kopling basah plat ganda digunakan pada sepeda motor

    1. Gaya gesek kopling plat tunggal

    - Gaya reaksi sama besar dengan gaya tekan

    - Kedua penampang plat kopling menerima gaya tekan

    - Nilai gesek antara kanvas dan permukaan gesek 0,25

    - Luas penampang kanvas tidak mempengaruhi gaya gesek

  • 2. Kopling basah plat banyak

    - Seluruh penampang, plat kopling mendapat tekanan dan nilai gesek kanvas (kena oli)

    0,15

    Gangguan pada kopling biasanya tenaga motor berkurang karena ketebalan plat kopling

    sudah aus, bantalan penekan aus ditandai jika pedal kopling ditekan ada suara dari bantalan

    penekan dan jika pedal dilepas tidak bersuara. Pemeriksaan apakah plat kopling sudah aus

    atau belum dengan cara menghidupkan motor kemudian memasukan gigi tertinggi dengan

    menekan pedal kopling dan melepas pelan-pelan seperti kendaran mulai dijalankan dalam

    keadaan handrem ditarik, maka apabila motor mati berarti kopling amasih bagus dan apabila

    motor tetap hidup berarti plat kopling sudah aus dan harus diganti

    D. SISTEM TRANSMISI

    Macam-macam Transmisi

    1. Transmisi Manual

    - Dengan gigi geser (sliding gear)

    Gigi 1

    Gigi 2

    Roda gigi A D dihubungkan, B C lepas (putaran output rendah/lambat)

    Roda gigi B C dihubungkan, A D lepas (putaran output tinggi/cepat)

  • Gigi 1 : Kopling dihubungkan ke roda gigi D (putaran output rendah)

    Gigi 2 : Kopling dihubungkan ke roda gigi C (putaran output cepat)

    Transmisi biasa dengan roda gigi geser

    1 = Poros kopling 2 = Poros utama 3 = Poros bantu

    4 = Garpu pemindah 5 = Roda gigi balik

    Gigi 1 = Roda gigi geser C dihubungkan dengan F, maka A D dan F C berhubungan

    (output lam

    Gigi 2 = Roda gigi geser B dihubungkan dengan E (C dilepas) maka A D dan E B

    berhubungan

    Gigi 3 = Roda gigi geser B dihubungkan dengan A (C dilepas) maka poros output dan input

    seporos (putaran input dan output sama)

    Gigi R = Roda gigi geser C dihubungkan dengan H (B dilepas) maka A D dan G H C

    berhubungan (putaran input dan output berlawanan)

  • 2. Transmisi Otomatis

    Perbedaan Tranmisi biasa dan otomatis

    Transmisi Biasa Transmisi Otomatis

    Cara pemindahan gigi :

    - Pengemudi harus memindah gigi secara manual

    - Untuk memindah gigi harus tekan kopling dan memutuskan aliran tenaga

    Perawatan/Perbaikan :

    - Sederhana untuk memperbaiki - Kekurangan oli merusak komponen-

    komponen transmisi

    Bila mobil mogok :

    - Mobil bisa digandeng Secara langsung

    Harga murah

    - Pemutusan aliran tenaga secara mekanis

    - Pemindahan gigi pada poros secara mekanis

    Satu pasang gigi berhubungan dengan

    poros input dan poros output

    - Salah satu gigi dihubungkan secara kaku terhadap poros

    - Pemilihan gigi oleh pengemudi secara manual

    - Pemindahan gigi secara Otomatis

    Aliran tenaga tidak diputuskan

    Sulit untuk memperbaiki

    - Kekurangan oli, transmisi Tidak berfungsi

    - Mobil yang digandeng harus melepas poros propeler

    - Harga mahal

    - Pemindahan gaya terjadi selama poros

    engkol (poros input transmisi ) berputar x

    1000 rpm

    - Gaya dipindahkan oleh aliran oli

    - Perpindahan gigi dengan menghubungkan salah satu komponen gigi planet dengan

    rumah, poros input atau poros output

    Semua gigi berhubungan dengan poros

    input atau poros output

    - Salah satu gigi ditahan (hubungan antara gigi dan rumah transmisi)

    - Gigi ditahan oleh rem - Pemilihan gigi/berpindah secara

    otomatis, sesuai dengan putaran (posisi

    katup gas)

    Tekanan oli dalam transmisi otomatis selalu

    sesuai dengan putaran mesin

    - Tekanan oli dialirkan ke rem yang diinginkan oleh kotak pengatur

    Fungsi dan Cara Kerja torque converter

    1. Stator (sudut antar)

  • 2. Roda turbin 3. Roda pompa 4. Penahan satu arah

    Fungsi :

    - Memindah momen mesin keporos input transmisi - Menambah momen antara roda pompa dan roda turbin pada saat putaran roda pompa >

    putaran roda turbin

    - Faktor pengalihan momen 2,5 momen keluar 2,5 momen masuk - Menyesuaikan putaran mesin dan poros propeller pada saat terjadi perubahan gigi

    Cara Kerja

    Oli menghubungkan roda pompa dan roda turbin Gaya dari roda pompa dipindahkan keroda

    turbin oleh oli, oli sebagai media perantara

    Stator berfungsi sebagai penambah momen pada saat mobil dijalankan.

    Kontruksi set gigi planet

    - Pada umumnya

    - Pada unit transmisi

    Fungsi:

    - untuk mendapatkan perbandingan putaran (I) yang berbeda-beda

    Cara Kerja

  • - Menghubungkan salah satu komponen set gigi planet dengan rumah (mengerem salah satu putaran poros).

    - Semua gigi selalu terhubung - Tidak perlu memindah gigi - Tidak perlu sinkronisasi

    E. SISTEM PENGGERAK BELAKANG

    1. Deferential/Final drive

    Kegunaan diferensial Menyeimbangkan/mengatur putaran roda kiri dan kanan pada saat

    membelok

    1. Poros penggerak (pepeller) 2. Roda gigi pinion (drive pinion) 3. Roga gigi korona (ring gear)

    4. Rumah diferensial 5. Poros aksel 6. Roda

    Bagian-bagian di dalam rumah diferensial

    a. Rumah dudukan poros roda gigi planet b. Roda gigi matahari c. Roda gigi planet

  • Kerja Diferensial Saat Kendaraan Berjalan Lurus

    Saat kendaraan berjalan lurus gaya

    putar roda kiri dan kanan adalah

    sama

    Kerja Diferensial Saat Kendaraan

    Membelok

    l

    Pada saat kendaraan belok ke kanan putaran roda

    kanan tertahan (perlambatan) sedangkan gaya

    putar mengarah ke roda kiri sehingga roda kiri

    terjadi percepatan. Gangguan kebanyakan pada

    gardan adalah penyetelan preload dan backlash

    yang salah disebabkan oleh keausan bantalan

    poros pinion

  • 2. Penyetelan diferensial

    1. Tinggi pinion Untuk mendapatkan posisi gigi pinion yang tepat terhadap gigi roda korona

    2. Pre load pinion Agar keausan bantalan tidak menyebabkan kebebasan bantalan

    3. Celah bebas gigi roda korona Roda korona dapat berputar dengan baik/halus dan tidak menimbulkan

    Suara persentuhan gigi atau suara dengung

    4. Pre- load bantalan rumah diferensial Agar keausan bantalan tidak menimbulkan kebebasan bantalan/gerak aksial roda korona

    5. Memeriksa persinggungan gigi Untuk mendapatkan posisi permukaan kontak gigi pinion dan roda korona benar (di

    tengah-tengah) sehingga suara halus dan keausan kecil

    F. POROS PROPELER

    Penggunaan : Pada kendaraan penggerak roda belakang dengan motor didepan arah

    memanjang (konstruksi standart)

    1. Konstruksi: 2. Garpu penghubung :

    3. Poros :

    4. Penghubung luncur :

    5. Timbangan balans :

    Bentuk garpu dan berlubang sebagai dudukan/tumpuan

    penghubung salib

    Bentuk pipa dengan maksud mengurangi berat tetapi tidak

    mengurangi kekuatannya.

    Bentuk pejal dan pipa yang terhubung melalui alur-alur dan

    dapat bergeser sepanjang alur tersebut

    Bentuk plat yang di las titik terhadap poros propeler untuk

    menghindari gaya sentrifugal

    Bahan : Baja yang dikeraskan dengan ketelitian yang sangat tinggi

  • Penghubung Salib Tunggal

    1. Poros penggerak 4. Cincin penahan/pengunci

    2. Garpu penghubung 5. Salib penghubung

    3. Bantalan 6. Nipel pelumas

    Penggunaan : Penghubung poros propeler terhadap poros output transmisi dan penggerak

    aksel

    Pelumasan : Menggunakan vet yang dimasukkan melalui nipel

    Sifat- sifat

    Kecepatan sudut tidak stabil

    - Dengan Satu penghubung salib

    A = Flens out put transmisi

    B = Penghubung salib

    C = Poros propeler

    - Flens output transmisi berputar dengan kecepatan stabil

    - Para penghubung salib terdapat 4 tumpuan yang membentuk sudut

    - Poros propeler tidak dapat berputar dengan kecepatan stabil

    - Jika poros propeler dihubung langsung dengan flens roda maka putaran roda juga tidak

    stabil

  • 2. Jenis-jenis kontruksi rear axel

    1. Penggerak roda belakang

    - Motor di depan

    Keuntungan: Kerugian:

    Kenyamanan pada jalan aspal baik

    Pada jalan lumpur roda penggerak cepat

    slip, jika tidak cukup beban pada aksel

    belakang

    - Contoh pemakaian Pada banyak kendaraan (konstruksi standart)

    - Motor di belakang

    Keuntungan: Kerugian:

    Pada jalan lumpur traksi baik

    Kenyamanan kurang pada jalan aspal

    Contoh pemakaian: VW kodok (lama),Bis MB dll.

    2. Penggerak roda depan

    - Motor memanjang

    Keuntungan: Kerugian:

    - Keamanan tinggi jika roda penggerak slip, mobil masih stabil

    - Traksi baik, jika tidak terdapat banyak beban

    - Traksi jelek jika terdapat banyak beban

    pada aksel belakang

    - Motor pemakaian: Konstruksi lama misal: Renault

    - Motor melintang

  • Keuntungan: Kerugian:

    - Menghemat tempat - Penggerak sudut tidak diperlukan (arah

    putaran motor sama dengan arah putar

    aksel)

    - Traksi jelek jika terdapat banyak beban pada aksel belakang

    Contoh pemakaian: pada kebanyakan kendaraan

    G. SISTEM REM

    Rem merupakan bagian kendaraan yang penting dalam mendukung aspek keamanan

    berkendaraan, maka rem harus :

    - Dapat menghentikan kendaraan dengan cepat - Dapat melaksanakan pengereman sesuai kehendak sopir

    Fungsi rem :

    - Rem kaki : - Untuk mengurangi sampai menghentikan kendaraan

    - Rem kaki harus berfungsi untuk semua roda

    - Rem tangan : - Untuk memacetkan putaran roda ( misal pada saat parkir )

    - Berfungsi juga sebagai rem cadangan ( misal dalam perjalanan rem kaki

    tidak berfungsi )

    1. Macam-macam rem

    1. Rem Tromol :

  • 2. Rem Cakram

    Master silinder

    Konstruksi dan nama bagian-bagian silinder master :

  • Bagian-bagian :

    1. Silinder 2. Cairan rem 3. Lubang penambahan 4. Lubang kompensasi 5. Saluran ke silinder roda 6. Katup 7. Pegas katup

    8. Sil karet primer 9. Cincin pelindung 10. Lubang pengisian 11. Torak 12. Sil karet sekunder 13. Reservoir 14. Lubang ventilase

    Penguat Tenaga Rem ( Boster )

    Boster adalah perlengkapan tambahan pada sistem rem yang berfungsi untuk memperbesar

    gaya pengereman.

    Komponen- komponen Boster :

    1. Karet diafargma 2. Katup udara

    5. Katup pemgontrol vakum 6. Tuas reaksi

  • 3. Katup vakum 4. Tuas pendorong

    7. Torak boster 8. Tuas pendorong

    Rem tangan

    - Tarik lengan untuk mengoperasikan rem tangan

    - Tekan knop untuk melepas rem tangan

    H. KEPALA SILINDER

    Kegunaan : - Untuk menutup blok silinder dan sebagai tutup ruang bakar

    - Sebagai dudukan dari katup-katup, busi ,injektor, poros kam, saluran gas

    masuk dan keluar, saluran air pendinginan dan pelumasan.

    Bagian-bagiannya:

    1. Pegas katup

    2. Batang katup

    3. Pengantar katup

    4. Ruang pendingin

    5. Busi

    6. Saluran masuk

    7. Dudukan katup

    8. Ruang bakar

    9. Paking kepala silinder

    Pembebanan

    Kepala silinder mendapat pembebanan tekanan dan tempertur tinggi

  • akibat dari hasil pembakara bahan bakar di dalam silinder motor.

    Bahan kepala silinder

    Untuk menahan tekanan hasil pembakaran dan panas yang timbul, maka kepala silinder

    harus: kuat, keras, dan tahan panas

    1. Macam-macam bahan kepala silinder

    1. Besi tuang

    - Mempunyai kekuatan tekan yang tinggi

    - Keras

    - Dapat meredam suara dan getaran

    - Pemuaian kecil

    2. Campuran aluminium

    - Dapat memindahkan panas dengan baik Maka : - Kecenderungan knocking turun

    - Perbandingan kompresi bisa tringgi

    - Pemuaian besar Masalah : Kerapatan paking kepala silider berkurang

    - Dudukan dan pengantar katup harus dibuat dari logam yang keras, untuk mengatasi keausan.

    - Ringan. Macam-macam pendinginan kepala silinder

    Kepala silinder harus didinginkan, karena kepala silinder langsung bersinggunga dengan gas

    hasil pembakaran

    Melepas kepala silinder

    - Lepas baut kepala silinder. Perhatikan urutannya

    - Periksa keretakan kepala silinder disekitar dudukan katup buang, jika oli tercampur

    dengan air pendingin (seperti susu)

    Pembersihan

    - Bersihkan permukaan berpaking dengan skrap dan sikat kawat - Perhatikan lubang-lubang ulir baut kepala silinder pada blok silinder.

    Lubang-lubang tersebut harus bersih. Tiup dengan angin

    - Cuci kepala silinder dan perlengkapannya dengan solar Pemeriksaan

    - Periksa permukaan kepala silinder dari keausan/retak - Periksa kelurusan permukaan kepala silinder

  • - - Periksa kelurusan permukaan blok silinder

    Kriteria : B maks. 0,1 mm

    A maks. 0,05 mm

    Pemasangan kembali

    - Pasang paking-paking. Beri vet, jika permukaan paking tidak dilapisi bahan sintetis. Perhatikan tanda TOP pada paking. Kadang-kadang ada ring karet yang perlu dipasang

    pada lubang-lubang air pendingin.

    - Beri pelumas pada baut-baut kepala silinder Perhatikan urutan pengencangan baut silinder (momen pengencangan lihat buku data)

    Pngencangan dilakukan 2 tahap. Tahap 1 : 2/3 momen diijinkan

    Perhatikan ukuran pengencangan unit tuas penekan katup (momen pengerasan lihat buku

    data)

    Pengencangan dilakukan 2 tahap. Tahap 1 : 2/3 momen diijinkan

    Jangan terlalu keras !

  • Penyetelan katup setelah pengencangan baut kepala silinder

    - Jangan lupa pembuangan udara pada sistem pendinginan

    Petunjuk

    - Kepala silinder yang bocor/kepala silinder yang retak menunjukkan pembebanan panas yang terlalu tinggi. Periksa radiator, termostat dan pompa air. Kemungkinan lain, saat

    pengapian terlalu awal, atau campuran terlalu kurus

    - Biasanya baut-baut kepala silinder harus dikencangkan lagi setelah 10003000 km. Setelah pekerjaan tersebut, celah katup berkurang dan harus distel lagi

    I. KARBURATOR

    1.Susunan karburator sepeda motor

  • Bagian-bagian

    1. Nosel utama 2. Jet utama 3. Sekrup penyetel udara 4. Katup cuk 5. Jet udara sistem utama 6. Lubang idle

    7. Saluran udara idle 8. Jarum 9. Kabel gas 10. Jet idle 11. Katup gas (torak gas) 12. Pegas pengembali

    Cara kerja : Putaran idle (Stasioner)

    Katup gas (torak tertutup membuka) :

    - Vakum besar terjadi dibelakang torak bensin terisap dari ruang pelampung jet idle Sebelum bensin keluar dari lubang idle, terjadi pencampuran awal dengan udara (udara

    melalui saluran idle)

    - Selanjutnya terjadi pencampuran lagi dengan udara pada ruang pencampur (udara melalui celah torak)

    - Penyetelan udara dilakukan melalui sekrup penyetel udara

    - Sekrup diputar ke arah dalam campuran kaya

    - Sekrup diputar kearah luar campuran kurus - Putaran idle distel melalui sekrup penyetel gas

    2. Macam-macam sistem karburator sepeda motor

    Sistem pelampung

    Fungsi : menyetabilkan tinggi permukaan

    bensin

    Sistem utama

    Fungsi : mengatur jumlah campuran pada

    beban menengah s/d beban penuh

    Sistem idle

    Sistem Cuk

  • Fungsi : membentuk/mengatur campuran

    pada saat idle s/d beban rendah

    Fungsi : membentuk campuran kaya agar

    motor mudah dihidupka (waktu

    temperatur dingin)

    Cara kerja : Beban menegah

    Katup gas terbuka - , jarum membuka nosel utama

    Vakum pada celah torak mengisap bensin dari ruang pelampung sistem utama bekerja

    Pencampuran awal terjadi pada lubang-lubang koreksi udara sistem utama

    Pencampuran selanjutnya pada ujung nosel utama (ruang pencampur)

    Sistem idle masih bekerja (berangsur-angsur berkurang)

    Cara kerja : Beban penuh

    Posisi katup gas terbuka - terbuka penuh

    Nosel utama terbuka penuh

    Aliran udara pada venturi besar vakum pada venturi mencapai maksimum sesuai aliran

    udara

    Sistem utama bekerja penuh

    Idle tidak bekerja lagi

    Gangguan pada sepeda motor

    Diagnosis Gangguan

    Kebocoran oli pada ruang

    bakar

    Gas buang berwarna

    putih

    Jet idle tersumbat

    Saluran idle tersumbat

    Jet udara idle tersumbat

    Motor tidak bisa idle

    Jet utama tersumbat

    Torak udara macet

    Karburator longgar

    Motor tidak bisa hidup

    Diameter jet utama terlalu

    besar

    Permukaan bensin pada ruang

    pelampung terlalu tinggi

    Bahan bakar motor boros

    Kebocoran kompresi

    Jet utama terlalu kecil

    Jarumkatup gas macet

    Tenaga motor kurang

    Celah kopling terlalu longgar

    Kanvas kopling aus

    Sulit memindahkan gigi

    Daya motor berkurang

    Gigi tingkat kecepatan aus

    Bushing garpu pemindah gigi

    aus

    Saat pemindahan gigi

    bersuara

    Sulitmemindahkan gigi

  • J. SISTEM KEMUDI

    1. Fungsi Sistem Kemudi

    Sistem kemudi atau Steering system berfungsi untuk mengendalikan arah kendaraan

    sesuai kehendak pengemudi. Umumnya yang dikendalikan adalah kedua roda depan,

    meskipun dewasa ini telah dikembangkan dengan sistem pengendalian ke empat roda.

    Walaupun demikian, kendaraan harus dapat dikendalikan dengan mudah agar roda tidak

    terseret saat kendaraan sedang berbelok.

    Untuk maksud tersebut pada tahun 1818, Rudolf Ackerman menemukan suatu cara,

    yaitu bila kendaraan dibelokkan maka seluruh roda yang menyebabkan kendaraan berbelok

    harus mempunyai satu titik putar saja, dengan demikian roda mudah berbelok (tidak terpaksa)

    dan roda tidak terseret. Dasar dari prinsip ini adalah bahwa titik putar roda jika diperpanjang

    dengan tie rod end (penghubung gerakan roda kiri dan kanan) harus tepat terletak di

    pertengahan antara roda belakang kiri dan kanan.

  • Mekanisme steering indenpendent suspension

    2. Mekanisme Sistem Kemudi

    Pada dasarnya mekanisme steering system dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu

    mekanisme steering system yang digunak untuk indenpendent suspension dan mekanisme

    steering system yang digunakan untuk rigid suspension.

    Mekanisme steering rigid suspension.

    \\

  • 2. Mekanisme Steering Independent Suspension.

    1. Pitman Arm.

    Pitman arm digunakan pada steering gear box yang menggunakana jenis recirculating ball

    and nut seperti pada kendaraan ST 100 atau SJ 410. Pitman arm ini berfungsi untuk

    menghubungkan gerakan sector shaft ke darg link. Gerakan sector shaft berupa gerakan putar

    dari drag link menjadi gerakan aksial.

    2. Drag Link

    Selanjutnya gerakan dan pitman arm ini dihubungkan ke center arm (intermediate arm)

    melalui drag link. Dengan demikian, drank link ini berfungsi untuk menghubungkan pitman

    arm ke knuckle arm (rigid suspenssion), me